Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
إِنَّ
sesungguhnya
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
يَكۡفُرُونَ
(mereka) kafir
بِـَٔايَٰتِ
kepada ayat-ayat
ٱللَّهِ
Allah
وَيَقۡتُلُونَ
dan mereka membunuh
ٱلنَّبِيِّـۧنَ
para Nabi
بِغَيۡرِ
bukan/tanpa
حَقّٖ
kebenaran
وَيَقۡتُلُونَ
dan mereka membunuh
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
يَأۡمُرُونَ
(mereka) menyuruh
بِٱلۡقِسۡطِ
dengan keadilan
مِنَ
dari
ٱلنَّاسِ
manusia
فَبَشِّرۡهُم
maka beritakanlah mereka
بِعَذَابٍ
dengan siksa
أَلِيمٍ
yang pedih
إِنَّ
sesungguhnya
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
يَكۡفُرُونَ
(mereka) kafir
بِـَٔايَٰتِ
kepada ayat-ayat
ٱللَّهِ
Allah
وَيَقۡتُلُونَ
dan mereka membunuh
ٱلنَّبِيِّـۧنَ
para Nabi
بِغَيۡرِ
bukan/tanpa
حَقّٖ
kebenaran
وَيَقۡتُلُونَ
dan mereka membunuh
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
يَأۡمُرُونَ
(mereka) menyuruh
بِٱلۡقِسۡطِ
dengan keadilan
مِنَ
dari
ٱلنَّاسِ
manusia
فَبَشِّرۡهُم
maka beritakanlah mereka
بِعَذَابٍ
dengan siksa
أَلِيمٍ
yang pedih
Terjemahan
Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar) dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira yaitu azab yang pedih.
Tafsir
(Sesungguhnya orang-orang yang kafir akan ayat-ayat Allah dan membunuh) pada satu qiraat yuqatiluuna yang berarti memerangi (nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan membunuh orang-orang yang menyuruh berlaku adil di antara manusia) mereka ini ialah orang-orang Yahudi. Diriwayatkan bahwa mereka telah membunuh 43 orang nabi kemudian mereka dicegah oleh 170 orang pengikut-pengikut nabi tersebut namun akhirnya mereka pun dibunuh oleh mereka pada saat yang sama (maka gembirakanlah mereka) artinya beritahukanlah mereka (akan adanya siksa yang pedih) yang menyakitkan. Menyebutkan 'gembirakanlah' adalah sebagai penghinaan bagi mereka, dan khabar 'inna' dimasuki oleh fa, karena isimnya inna yang berupa isim maushul mirip dengan syarat.
Tafsir Surat Ali-'Imran: 21-22
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka sampaikanlah kepada mereka kabar gembira bahwa mereka akan menerima azab yang pedih.
Mereka itu adalah orang-orang yang sia-sia amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong.
Ayat 21
Allah mencela kaum ahli kitab karena mereka telah melakukan dosa-dosa dan hal-hal yang diharamkan disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Allah di masa lampau dan juga di masa sekarang, yaitu ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka oleh rasul-rasul-Nya.
Mereka melakukan demikian karena keangkuhan mereka terhadap para rasul, keingkaran mereka terhadap para rasul, serta meremehkan kebenaran dan menolak untuk mengikuti para rasul. Selain itu yang lebih parah lagi mereka berani membunuh sebagian dari para nabi ketika menyampaikan syariat dari Allah buat mereka, tanpa sebab dan kesalahan yang dibuat oleh para nabi terhadap mereka, hanya karena para nabi itu menyeru mereka kepada kebenaran.
“Dan mereka membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil.” (Ali Imran: 21)
Perbuatan seperti itu merupakan perbuatan yang sangat takabur (sombong). Seperti yang diungkapkan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya, yaitu: Takabur (sombong) ialah menentang kebenaran dan meremehkan orang lain.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abuz Zubair Al-Hasan ibnu Ali ibnu Muslim An-Naisaburi yang tinggal di Mekah, telah menceritakan kepadaku Abu Hafs Umar ibnu Hafs, yakni Ibnu Sabit dan Zurarah Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Hamzah, telah menceritakan kepada kami Abul Hasan maula Bani Asad, dari Makhul, dari Abu Qubaisah ibnu Zi-b Al-Khuza'i, dari Abu Ubaidali ibnul Jarrah yang menceritakan: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orangnya yang paling keras mendapat azab di hari kiamat nanti?" Nabi ﷺ menjawab, "Seorang lelaki yang membunuh seorang nabi atau orang yang memerintahkan kepada kebajikan dan melarang kemungkaran." Kemudian Nabi ﷺ membacakan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka sampaikanlah kepada mereka kabar gembira bahwa mereka akan menerima azab yang pedih.” (Ali Imran: 21); Setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai Abu Ubaidah, orang-orang Bani Israil telah membunuh empat puluh tiga orang nabi dalam satu saat dari permulaan siang hari, maka bangkitlah seratus tujuh puluh orang lelaki dari kalangan Bani Israil, lalu mereka melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar terhadap orang-orang yang telah membunuh para nabi, maka kaum Bani Israil membunuh semua orang yang melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar itu di penghujung siang hari itu juga; mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah ﷻ (dalam ayat ini).”
Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Abu Ubaid Al-Wassabi yaitu Muhammad ibnu Hafs, dari Ibnu Humair, dari Abul Hasan maula Bani Asad, dari Makhul dengan lafal yang sama. Dari sahabat Ibnu Mas'ud, disebutkan bahwa orang-orang Bani Israil pernah membunuh tiga ratus orang nabi pada permulaan siang hari, lalu mereka mendirikan pasar sayur-mayur mereka pada penghujung siang harinya.
Demikianlah menurut yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Karena itulah ketika mereka (Bani Israil) menentang kebenaran dan bersikap angkuh terhadap manusia, maka Allah membalikkan mereka menjadi hina dan nista dalam kehidupan di dunia ini, dan kelak mereka akan mendapat azab yang menghinakan di hari akhirat. Maka Allah ﷻ berfirman: “Maka sampaikanlah kepada mereka kabar gembira bahwa mereka akan menerima azab yang pedih.” (Ali Imran: 21) Yakni azab yang pedih lagi menghinakan.
Ayat 22
“Mereka itu adalah orang-orang yang sia-sia amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak akan memperoleh penolong.” (Ali Imran: 22).
Setelah ayat sebelumnya menjelaskan penolakan Yahudi yang didasarkan atas kedengkian, maka ayat ini menunjukkan sebagian perilaku buruk mereka. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, dari kaum Yahudi, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis berupa alam raya, dan membunuh para nabi tanpa dalih sedikit pun yang bisa dianggap hak atau benar, dan juga membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka sampaikanlah kepada mereka kabar gembira, sebagai bentuk penghinaan, yaitu azab yang pedih di akhirat kelak. Jika demikian, maka mereka itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, tidak memberi manfaat sedikit pun, di dunia dan di akhirat, dan mereka juga tidak memperoleh penolong dari azab Allah di akhirat kelak.
Dalam ayat ini Allah mencela sikap orang Yahudi di zaman para rasul sebelum Nabi Muhammad, yang dengan taklid buta mengikuti perbuatan nenek moyang mereka. Padahal sesungguhnya mereka sudah mengetahui kesalahan dan kejahatan nenek moyang mereka.
Dengan keterangan ayat ini, bertambah jelaslah keburukan orang Yahudi. Sukar bagi mereka mencari alasan untuk membersihkan diri dengan menyatakan beriman. Kejahatan mereka yang terbukti dalam sejarah, menyebabkan mereka mendapat celaan dan kutukan.
Orang Yahudi di zaman Rasulullah ﷺ dianggap ikut bersalah, karena mereka tidak menunjukkan sikap tidak setuju terhadap kejahatan nenek moyang mereka. Di samping membunuh para nabi, orang Yahudi zaman dahulu juga telah membunuh para hukama' (orang-orang bijaksana), yaitu yang disebut dalam ayat ini sebagai "orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil". Mereka terdiri dari cerdik pandai, yang menjadikan keadilan itu sebagai tiang keutamaan.
Martabat para hukama' di dalam memberikan petunjuk di bawah martabat para nabi dan demikian pula pengaruh mereka. Membunuh hukama' berarti membunuh akal dan menghancurkan keadilan. Hal ini merupakan dosa besar dan sangat merugikan. Karena itu Allah memberikan peringatan kepada orang Yahudi bahwa mereka akan menerima azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Siapakah yang lebih berhak menerima azab yang pedih itu kalau bukan mereka yang kejam lagi melampaui batas dalam berbuat kejahatan, seperti membunuh para nabi dan para cerdik pandai?.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
HAKIKAT ISLAM
“Allah telah menjelaskan bahwa tiada Tuhan selain Dia."
(pangkal ayat 18)
Syahida kita artikan menjelaskan. Dengan segala amal ciptaan-Nya ini, pada langit dan bumi, pada lautan dan daratan, pada tumbuh-tumbuhan dan binatang, dan segala semat-semesta, Allah telah menjelaskan bahwa hanya Dia yang Tuhan, hanya Dia yang mengatur. Maka, segala yang ada ini adalah penjelasan atau kesaksian dari Allah, menunjukkan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah."Demikianpun malaikat!' dalam keadaan mereka yang gaib itu; semuanya telah menyaksikan, telah memberikan syahadah bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Oleh sebab itu, di dalam tangan kita sendiri kita telah mendapat salah satu bekas syahadah dari malaikat.
"Dan orang-orang yang berilmu" pun telah menyampaikan sya-hadahnya pula bahwa tidak ada Tuhan me-lainkan Allah. Bertambah mendalam ilmu, bertambah menjadi kesaksianlah dia bahwa alam ini ada ber-Tuhan dan Tuhan itu hanya satu, yaitu Allah, dan tidak ada Tuhan yang lain sebab yang lain adalah makhluk-Nya belaka."Bahwa Dia berdiri dengan keadilan", yakni setelah Allah menyaksikan dengan qudrat-iradat-Nya, dan malaikat menyaksikan dengan ketaatannya, dan manusia yang berilmu menyaksikan dengan penyelidikan akalnya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah maka timbul pulalah kesaksian bahwa Allah itu berdiri dengan keadilan. Bahwa Tuhan mencipta alam dengan perseimbangan dan Allah menurunkan perintah-Nya dengan adil serta seimbang.
Adil ciptaan-Nya atas seluruh alam sehingga manusia berjalan dengan teratur, tidak lain adalah karena adil pertimbangannya. Adil pula perintah dan syari'at yang ditutunkan-Nya, sehingga seimbang dunia dengan akhirat, ruhani dengan jasmani. Kata qisthi mengandung akan maksud adil, seimbang, setimbang; semuanya bisa kita dapati di mana-mana dengan teropong ilmu pengetahuan.
“Tidaklah ada Tuhan selain dari Dia. Mahagagah lagi Bijaksana."
(ujung ayat 18)
Hendaklah menarik perhatian kita tentang kedudukan mulia yang diberikan Allah kepada ulil ‘ilmi, yaitu orang-orang yang mempunyai ilmu di dalam ayat ini. Setelah Tuhan menyatakan kesaksian-Nya yang tertinggi sekali bahwa tiada Tuhan selain Allah dan kesaksian itu datang dari Allah sendiri maka Allah pun menyatakan pula bahwa kesaksian tertinggi itu pun diberikan oleh Malaikat. Setelah itu, kesaksian itu pun diberikan pula oleh orang-orang yang berilmu. Artinya, tiap-tiap orang yang berilmu, yaitu orang-orang yang menyediakan akal dan pikirannya buat menyelidiki keadaan alam ini, baik di bumi maupun di langit, di laut dan di darat, di binatang dan di tumbuh-tumbuhan, niscaya manusia itu akhirnya akan sampai juga, tidak dapat tidak, kepada kesaksian yang murni, bahwa memang tidak ada Tuhan melainkan Allah.
“Sesungguhnya, yang agama di sisi Allah ialah Islam."
(pangkal ayat 19)
Kata ad-din biasa kita artikan ke dalam bahasa kita dengan agama. Ada yang menyebut agama dan ada juga menyebut agama. Adapun arti ad-din itu menurut asli Arabnya ialah tha'at ‘tunduk' dan juga ‘balasan'. Sebab itu, Yaumid-Din berarti Hari Pembalasan. Maka, di dalam ta'rif syari'at, segala perintah yang dipikulkan oleh syara' kepada hamba yang telah baligh, tetapi berakal (mukallaf), itulah dia agama. Kata Islam adalah mashdar, asal kata. Kalau telah menjadi fi'il madhi (perbuatan), dia menjadi aslama. Artinya dalam bahasa kita ialah menyerah diri. Pokok asal sekali ialah hubungan tiga huruf s-I-m yang artinya selamat sejahtera. Menjadi juga menyerah, damai, dan bersih dari segala sesuatu. Kalau disebut dalam bahasa Arab salaman li rajulin, artinya ialah sesuatu kepunyaan seorang laki-laki yang tidak berserikat dengan yang lain. Maka, setelah memahami arti dari kata ad-din dan al-lslam sebagaimana yang diutarakan di atas, dapatlah dipahamkan maksud ayat ini, “Sesungguhnya, yang agama di sisi Allah ialah Islam" Atau lebih dapat ditegaskan bahwa yang benar-benar agama pada sisi Allah hanyalah semata menyerahkan diri kepada-Nya saja. Kalau bukan begitu, bukanlah agama.
Oleh karena itu, sekalian agama yang diajarkan nabi-nabi yang dahulu, sejak Adam lalu kepada Muhammad, termasuk Musa dan Isa, tidak lain daripada Islam. Beliau-beliau mengajak manusia supaya Islam, menyerah diri dengan tulus ikhlas kepada Allah, percaya kepada-Nya, kepada-Nya saja. Itulah Islam. Sekalian manusia yang telah sampai menyerah diri kepada Allah yang Tunggal, tidak bersekutu yang lain dengan Dia, walaupun dia memeluk agama apa, dengan sendirinya dia telah mencapai Islam. Syari'at nabi-nabi bisa berubah ka-rena perubahan zaman dan tempat, tetapi hakikat agama yang mereka bawa hanya satu: Islam.
“Akan tetapi, tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab itu melainkan sesudah didatangkan kepada mereka ilmu, lantaran pelanggaran batas di antara mereka"
Dengan sambungan ayat ini, kita dapat memahamkan bahwasanya masing-masing manusia dengan akal murni dan ilmunya sendiri bisa mencapai dasar percaya kepada keesaan Allah, bisa sampai kepada suasana pe-nyerahan diri kepada Allah Yang Mahakuasa dengan sendirinya. Sehingga, kelak apabila dicocokkannya hasil penyerahan diri (Islam) dengan wahyu, tidak akan berapa selisihnya lagi. Akan tetapi, timbul kesulitan bukan pada mereka, melainkan pada orang-orang yang keturunan Kitab, yang Yahudi dan Nasrani, sesudah mereka mendapat ilmu, ialah karena agama sudah diikat dengan ketentuan-ketentuan pendeta. Sehingga, bukan lagi agama Allah, melainkan agama pendeta. Misalnya, pikiran murni manusia telah mencapai kesimpulan bahwa Allah itu memang pasti Esa, tetapi pendeta memutuskan bahwa itu tidak benar! Yang benar ialah mesti diakui bahwa Allah itu beranak atau bahwa Nabi Isa bukan saja anak Allah, tetapi dia pun Allah atau satu dari tiga oknum.
“Dan barangsiapa yang kufur terhadap ayat-ayat Allah," yaitu tidak menerima ketentuan-ketentuan dari Allah bahwasanya hakikat agama hanyalah satu, yaitu menyerahkan diri kepada Allah Yang Maha Esa, persatuan manusia di dalam pokok kepercayaan, dan memandang bahwa tujuan segala rasul Allah hanyalah satu, yaitu membawa manusia dari gelap gulita syirik kepada sinar tauhid,
“Maka sesungguhnya Allah adalah amat cepat perhitungan-Nya."
(ujung ayat 19)
Pada tafsir dari ayat 212 surah al-Baqarah telah diterangkan apa artinya “Allah cepat sekali mengambil tindakan", yaitu apabila langkah telah salah dari permulaan, akibatnya akan segera terasa.
“Maka jika mereka membantah engkau, katakanlah, ‘Aku telah menyeiah diri kepada Allah, demikian juga orang-orang yang mengikutiku.'"
(pangkal ayat 20)
Artinya, kalau orang-orang Ahlul Kitab itu, baik mereka Yahudi yang tinggal di Madinah maupun tetamu yang datang dari Najran itu, kalau mereka masih saja berbantah dengan engkau, katakanlah dengan terus terang bahwasanya engkau dan orang-orang yang menjadi pengikutmu telah mempunyai suatu pendirian yang bulat, yaitu menyerah diri kepada Allah, tegasnya: ISLAM. Pendirian kami telah jelas. Orang-orang yang mempergunakan akalnya pasti sampai kepada penyerahan diri kepada Allah.
Sekarang, Rasulullah pula disuruh menanyakan kepada mereka, “Dan tanyakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Kitab itu!" Baik mereka Yahudi yang telah menerima dan mengerti kitab Taurat maupun dia orang Nasrani yang mengakui telah menerima kitab Injil. Teranglah sudah bahwa inti sejati dari kitab-kitab itu ialah mengajak manusia agar berserah diri kepada Allah."Dan kepada orang-orang yang ummi" yaitu orang-orang Arab sendiri yang tidak memeluk Yahudi atau Nasrani, tidak menerima Taurat ataupun Injil, tetapi mengakui bahwa mereka menerima ajaran Nabi Ibrahim, sedangkan Nabi Ibrahim pun mengakui penganut agama “Menyerah Diri"; tanyakanlah kepada mereka semuanya, “Sudahkah kamu menyerah diri? Sudahkah mereka Islam? Sudahkah mereka kembali kepada ajaran agama dan kitab mereka yang asli, tidak dihambat-hambat oleh penafsiran yang berbeda-beda, keputusan pendeta atau pihak kekuasaan?" “Maka jika mereka telah menyerah diri maka sesungguhnya telah mendapat petunjuklah mereka." Artinya, tidaklah ada lagi beda antara kami dan kamu."Dan jika mereka berpaling maka tidak lain kewajiban engkau hanyalah menyampaikan" jangan berhenti-henti menyampaikan seruan itu agar mereka kembali kepada pokok asli agama, menyerah diri kepada Allah. Dan, tegas, kewajiban Rasul ini pula yang terpikul ke atas pundak kita pengikutnya yang datang di belakang, yaitu tidak berhenti-henti menyampaikan, menyerukan, dakwah dan tablig.
“Dan Allah adalah amat memandang kepada hamba-Nya"
(ujung ayat 20)
***
“Sesungguhnya, orang-orang yang kufur kepada perintah-perintah Allah" tidak mau menerima kebenaran, ditutupnya telinga dan hatinya, “dan membunuh nabi-nabi dengan tidak benar," sebagaimana yang kerap kali telah dilakukan oleh orang Yahudi kepada nabi-nabi mereka sendiri. Berpuluh nabi-nabi yang tidak mereka senangi mereka bunuh. Dan, telah mereka bunuh pula Nabi Zakaria dan putranya Nabi Yahya, bahkan mereka coba pula hendak menarik tangan pihak penguasa supaya Nabi Isa al-Masih pun dibunuh, tetapi Isa al-Masih dipelihara oleh Allah, Meskipun orang Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah penyerahan diri itu tidak lain ialah kepatuhan dan taat; mengerjakan yang diperintahkan dan menghentikan yang dilarang. Penyerahan itu menjadi bulat kepada yang satu, itulah tauhid, itulah dia islam yang sejati. Siapa yang tidak insaf, mereka pun menyerah diri kepada thaghut dan setan.
(ayat 21)
“Maka beri ancamanlah mereka dengan siksa yang pedih."
Ancaman siksa yang pedih pada orang-orang yang berjiwa demikian rendah, yang karena tidak sanggup menolak seruan yang benar dengan kebenaran pula, lalu dengan secara hina membenarkan pendirian yang salah, sampai membunuh segala, dijelaskan pada ayat selanjutnya,
“Itulah orang-orang yang telah percuma amal-amal mereka."
(pangkal ayat 22)
Sehingga “arang habis, besi binasa" sebab amal yang berhasil adalah yang timbul dari hati yang tulus, bukan dari hati yang penuh kebencian."Di dunia dan di akhirat." Dalam dunia, segala amal mereka percuma, gagal dan gugur, bekasnya tidak akan ada. Kalau di dunia sudah tidak ada, niscaya di akhirat pun kosong, malahan adzab siksalah yang akan mereka derita.
“Dan tidak ada bagi mereka orang-orang yang akan menolong."
(ujung ayat 22)
Siapa orang yang akan dapat menolong kalau siksaan Allah telah datang? Siapa yang akan dapat menolong kalau satu bangunan telah diruntuh sendiri oleh Allah? Siapa yang akan dapat membela orang yang jatuh lantaran salahnya sendiri?
Seorang sopir mobil mengantuk. Di suatu tikungan jalan ada tertulis “awas kalau hujan licin", tetapi tidak dipedulikannya tulisan peringatan itu, mobil dijalankannya juga dengan acuh tak acuh, tiba-tiba di tempat yang menurun dia slip sehingga jatuh londong-pondong masuk lurah yang dalam. Siapa yang akan dapat menolong pada waktu itu sehingga dia tidak jadi jatuh?
“Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah diberi sebagian dari Kitab."
(pangkal ayat 23)
Maksud diberi “sebagian dari Kitab" ialah bahwa mereka telah memahamkan “sebagian" dari isi Kitab, kadang-kadang mereka hafal di luar kepala sebagian besar ayatnya atau keseluruhannya, tetapi “sebagian" itu sajalah yang dia dapat dari Kitab itu. Adapun maksud yang lebih terkandung dalam Kitab itu mereka tidak mengerti. Yang dimaksud ini ialah orang-orang Yahudi, yang mengetahui sebagian dari kitab Taurat.
“(Ketika) diajak mereka kepada Kitab Allah supaya memutuskan di antara mereka, kemudian berpaling sebagian dari mereka, padahal mereka membelakang."
(ujung ayat 23)
Menurut riwayat dari Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, pada suatu ketika Rasulullah ﷺ masuk ke rumah tempat orang Yahudi mempelajari agama mereka, mengajak mereka kepada jalan Allah. Maka, bertanyalah kepada beliau dua orang pemuka Yahudi yang ada di sana di waktu itu, yaitu an-Nu'man bin ‘Amr dan al-Haris bin Zaid, “Engkau datang membawa agama apa, ya Muhammad?" Nabi ﷺ, lalu menjawab, “Aku datang dengan agama Ibrahim dan peraturannya" Maka kedua penanya itu bertanya pula, “Tetapi Ibrahim adalah Yahudi." Dengan tegas, Nabi ﷺ menyambut ucapan mereka itu, “Mari kita ambil Taurat Dia kita jadikan alat pemutus di antara kita dalam soal ini. Apa betulkah Yahudi agama Ibrahim atau Islami" Tetapi kedua orang itu tidak mau. Demikian salah satu riwayat tentang sebab-sebab turun ayat ini.
“Yang demikian ialah karena mereka berkata, 'Sekali-kali kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan beberapa hari saja.'"
(pangkal ayat 24)
Ayat ini adalah lanjutan dari ayat yang sebelumnya tadi, dua orang pemuka Yahudi berani mengatakan Nabi Ibrahim adalah orang Yahudi, tetapi ketika diajak kembali mengambil keputusan dan mencari keterangan itu dalam Taurat sendiri, mereka tidak mau. Mereka bahkan berpaling, membelakang. Membuktikan bahwa mereka telah berdusta besar. Mengapa mereka berani berdusta sebesar itu? Ialah karena ada kepercayaan pada mereka: kita orang Yahudi ini meskipun berdusta sedikit untuk mempertahankan diri, tidaklah mengapa, sebab kalau kita masuk neraka, asal kita terang orang Yahudi, hanya sebentar saja kita di dalam, kita pun segera dikeluarkan. Ini karena orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang utama di sisi Allah, bukan sebagai bangsa-bangsa dan suku-suku yang lain sebab mereka hina di bawah kita, sedangkan kita adalah “kaum pilihan Allah".
Dari mana timbulnya pendirian yang salah ini? Lanjutan ayat telah memberikan jawabannya,
“Karena mereka telah ditipu dalam hal agama mereka, oleh kenangan-kenangan (pemimpin-pemimpin) mereka."
(ujung ayat 24)
Kembali lagi kepada apa yang telah disebutkan di atas, yaitu pemuka-pemuka agama lagi memberikan tafsiran yang salah kepada pengikut-pengikut mereka, sehingga agama telah dipermurah-murah demikian rupa. Kalau inti sari agama tidak lagi menjadi perhatian dan kalau kegunaan agama untuk memperbaiki pribadi tidak dipedulikan lagi, timbullah tafsir-tafsir yang bukan-bukan terhadap agama. Agama yang tadi untuk keselamatan seluruh manusia yang mematuhinya, telah dijadikan hak monopoli oleh suatu golongan; dia pun telah berubah menjadi semacam “kebangsaan". Pemelukagama kami adalah umat yang paling mulia walaupun perintahnya tidak pernah dikerjakan. Demikianlah nasib orang Yahudi atau orang Islam sendiri kalau agama hanya tinggal serosong. Ada orang Islam berkata, “Kalau kita orang Islam masuk neraka, kita hanya sebentar saja di dalam, lantas segera dipindahkan ke surga. Sebab, kita umat Muhammad ini adalah umat yang istimewa di sisi Allah. Lain dengan pemeluk agama lain. Orang Yahudi atau Nasrani, walaupun bagaimana baik mereka itu, pasti masuk neraka dan kekal dalam neraka. Kita orang Islam tidak! Bagaimana pun jahatnya, walaupun tidak pernah shalat, tidak pernah puasa, kerjanya hanya mencuri dan berbuat jahat, sebab dia Islam, dia akan masuk surga juga!"
Kalau hanya hingga begini pendirian kita sebagai Muslim, apakah ubah kita dengan Yahudi yang disebut di ayat itu? Dan apa sebab Yahudi-berpendapat demikian? Sebab mereka hanya menurutkan apa yang diajarkan guru dan tidak hendak menyelidiki lagi. Padahal apabila derajat iman orang yang sudah tinggi dan zuhud serta tunduknya kepada Ilahi telah sampai tempatnya yang layak, tidaklah berani mereka berkata demikian
Kemudian datanglah ayat yang mengajak mereka kembali berpikir sungguh-sungguh tentang keadaan yang sebenarnya akan dihadapi,
“Bagaimanakah hal mereka (kelak) apabila Kami kumpulkan mereka pada hari yang tidak diragu-ragukan lagi padanya."
(pangkal ayat 25)
Sedang hari itu pasti datang. Lebih lama hidup, artinya lebih memastikan bahwa pintu gerbang maut untuk menemui hari itu sudah bertambah dekat. Kelamaan hidup hanyalah menunda kekalahan."Dan disempurnakan bagi tiap-tiap seorang apa yang mereka usahakan." Yang akan disempurnakan itu ialah ganjaran, setimpal dengan amal yang diusahakan. Baik diganjari dengan baik, jahat diganjari dengan jahat, atau ditimbang dengan sangat halus mana yang lebih berat, yang baikkah atau yang jahat?
“Padahal mereka tidak akan dianiaya."
(ujung ayat 25)
"The True Value of This Earthly Life
Allah says;
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالَانْعَامِ وَالْحَرْثِ
Beautified for men is the love of things they covet; women, children, Qanatir Al-Muqantarah of gold and silver, branded beautiful horses (Muﷺwamah), cattle and fertile land.
Allah mentions the delights that He put in this life for people, such as women and children, and He started with women, because the test with them is more tempting.
For instance, the Sahih recorded that the Messenger said,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاء
I did not leave behind me a test more tempting to men than women.
When one enjoys women for the purpose of having children and preserving his chastity, then he is encouraged to do so.
There are many Hadiths that encourage getting married, such as,
وَإِنَّ خَيْرَ هذِهِ الاْإُمَّةِ مَنْ كَانَ أَكْثَرَهَا نِسَاء
Verily, the best members of this Ummah are those who have the most wives.
He also said,
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَة
This life is a delight, and the best of its delight is a righteous wife.
The Prophet said in another Hadith,
حُبِّبَ إِلَيَّ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَة
I was made to like women and perfume, and the comfort of my eye is the prayer.
Aishah, may Allah be pleased with her, said,
""Nothing was more beloved to the Messenger of Allah than women, except horses,""
and in another narration,
""...than horses except women.""
The desire to have children is sometimes for the purpose of pride and boasting, and as such, is a temptation. When the purpose for having children is to reproduce and increase the Ummah of Muhammad with those who worship Allah alone without partners, then it is encouraged and praised.
A Hadith states,
تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الاُْمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَة
Marry the Wadud (kind) and Walud (fertile) woman, for I will compare your numbers to the rest of the nations on the Day of Resurrection.
The desire of wealth sometimes results out of arrogance, and the desire to dominate the weak and control the poor, and this conduct is prohibited. Sometimes, the want for more money is for the purpose of spending it on acts of worship, being kind to the family, the relatives, and spending on various acts of righteousness and obedience; this behavior is praised and encouraged in the religion.
Scholars of Tafsir have conflicting opinions about the amount of the Qintar, all of which indicate that;
the Qintar is a large amount of money, as Ad-Dahhak and other scholars said.
Abu Hurayrah said
""The Qintar is twelve thousand Uwqiyah, each Uwqiyah is better than what is between the heavens and earth.""
This was recorded by Ibn Jarir.
The desire to have horses can be one of three types.
Sometimes, owners of horses collect them to be used in the cause of Allah, and when warranted, they use their horses in battle. This type of owner shall be rewarded for this good action.
Another type collects horses to boast, and out of enmity to the people of Islam, and this type earns a burden for his behavior.
Another type collects horses to fulfill their needs and to collect their offspring, and they do not forget Allah's right due on their horses.
This is why in this case, these horses provide a shield of sufficiency for their owner, as evident by a Hadith that we will mention, Allah willing, when we explain Allah's statement,
وَأَعِدُّواْ لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُم مّن قُوَّةٍ وَمِن رّبَاطِ الْخَيْلِ
And make ready against them all you can of power, including steeds of war. (8:60)
As for the Muﷺwamah horses, Ibn Abbas said that;
they are the branded, beautiful horses.
This is the same explanation of Mujahid, Ikrimah, Sa`id bin Jubayr, Abdur-Rahman bin Abdullah bin Abza, As-Suddi, Ar-Rabi bin Anas and Abu Sinan and others.
Makhul said,
the Muﷺwamah refers to the horse with a white spotted faced, and the horse with white feet.
Imam Ahmad recorded that Abu Dharr said that the Messenger of Allah said,
لَيْسَ مِنْ فَرَسٍ عَرَبِيَ إِلاَّ يُوْذَنُ لَهُ مَعَ كُلِّ فَجْرٍ يَدْعُو بِدَعْوَتَيْنِ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنَّكَ خَوَّلْتَنِي مِنْ بَنِي ادَمَ فَاجْعَلْنِي مِنْ أَحَبِّ مَالِهِ وَأَهْلِهِ إِلَيْهِ أَوْ أَحَبَّ أَهْلِهِ وَمَالِهِ إِلَيْه
Every Arabian horse is allowed to have two supplications every dawn, and the horse supplicates, `O Allah! You made me subservient to the son of Adam. Therefore, make me among the dearest of his wealth and household to him, or,make me the dearest of his household and wealth to him.
Allah's statement,
وَالَانْعَامِ
Cattle,
means, camels, cows and sheep.
.
وَالْحَرْثِ
And fertile land,
meaning, the land that is used to farm and grow plants.
Allah then said,
ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
This is the pleasure of the present world's life,
meaning, these are the delights of this life and its short lived joys.
وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَأبِ
But Allah has the excellent return with Him.
meaning, the best destination and reward.
The Reward of the Those Who Have Taqwa is Better Than All Joys of This World
This is why Allah said
قُلْ أَوُنَبِّيُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ
Say:""Shall I inform you of things far better than those!""
This Ayah means, ""Say, O Muhammad, to the people, `Should I tell you about what is better than the delights and joys of this life that will soon perish!""'
Allah informed them of what is better when He said,
لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الَانْهَارُ
For those who have Taqwa there are Gardens (Paradise) with their Lord, underneath which rivers flow,
meaning, rivers run throughout it.
These rivers carry various types of drinks:honey, milk, wine and water such that no eye has ever seen, no ear has ever heard, and no heart has ever imagined.
خَالِدِينَ فِيهَا
Therein (is their) eternal (home),
meaning, they shall remain in it forever and ever and will not want to be removed from it.
وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ
And Azwajun Mutahharatun (purified mates or wives),
meaning, from filth, dirt, harm, menstruation, post birth bleeding, and other things that affect women in this world.
وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ
And Allah will be pleased with them.
meaning, Allah's pleasure will descend on them and He shall never be angry with them after that. This is why Allah said in in Surah Bara`ah,
وَرِضْوَنٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
But the pleasure of Allah is greater. (9:72)
meaning, greater than the eternal delight that He has granted them.
Allah then said,
وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
And Allah is All-Seer of the (His) servants.
and, He gives each provisions according to what they deserve.
قُلْ أَوُنَبِّيُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ
Say:""Shall I inform you of things far better than those!""
This Ayah means, ""Say, O Muhammad, to the people, `Should I tell you about what is better than the delights and joys of this life that will soon perish!""'
Allah informed them of what is better when He said,
لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الَانْهَارُ
For those who have Taqwa there are Gardens (Paradise) with their Lord, underneath which rivers flow,
meaning, rivers run throughout it.
These rivers carry various types of drinks:honey, milk, wine and water such that no eye has ever seen, no ear has ever heard, and no heart has ever imagined.
خَالِدِينَ فِيهَا
Therein (is their) eternal (home),
meaning, they shall remain in it forever and ever and will not want to be removed from it.
وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ
And Azwajun Mutahharatun (purified mates or wives),
meaning, from filth, dirt, harm, menstruation, post birth bleeding, and other things that affect women in this world.
وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ
And Allah will be pleased with them.
meaning, Allah's pleasure will descend on them and He shall never be angry with them after that. This is why Allah said in in Surah Bara`ah,
وَرِضْوَنٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
But the pleasure of Allah is greater. (9:72)
meaning, greater than the eternal delight that He has granted them.
Allah then said,
وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
And Allah is All-Seer of the (His) servants.
and, He gives each provisions according to what they deserve.
The Supplication and Description of Al-Muttaqin
Allah describes the Muttaqin, His pious servants, whom He promised tremendous rewards,
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا امَنَّا
Those who say:""Our Lord! We have indeed believed,""
in You, Your Book and Your Messenger.
فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا
so forgive us our sins,
because of our faith in You and in what You legislated for us. Therefore, forgive us our errors and shortcomings, with Your bounty and mercy,
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
and save us from the punishment of the Fire.
Allah then said
الصَّابِرِينَ
(They are) those who are patient,
while performing acts of obedience and abandoning the prohibitions.
وَالصَّادِقِينَ
those who are true,
concerning their proclamation of faith, by performing the difficult deeds.
وَالْقَانِتِينَ
and obedient,
meaning, they submit and obey Allah,
وَالْمُنفِقِينَ
those who spend,
from their wealth on all the acts of obedience they were commanded, being kind to kith and kin, helping the needy, and comforting the destitute.
وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالَاسْحَارِ
and those who pray and beg Allah's pardon in the last hours of the night.
and this testifies to the virtue of seeking Allah's forgiveness in the latter part of the night.
It was reported that when Yaqub said to his children,
سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيَ
(I will ask my Lord for forgiveness for you) (12:98) he waited until the latter part of the night to say his supplication.
Furthermore, the Two Sahihs, the Musnad and Sunan collections recorded through several Companions that the Messenger of Allah said,
يَنْزِلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالى فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إِلى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الاْخِرُ فَيَقُولُ
هَلْ مِنْ سَايِلٍ فَأُعْطِيَهُ
هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ
هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ
Every night, when the last third of it remains, our Lord, the Blessed, the Superior, descends to the lowest heaven saying,
""Is there anyone to ask Me, so that I may grant him his request?
Is there anyone to invoke Me, so that I may respond to his invocation?
Is there anyone seeking My forgiveness, so that I may forgive him?""
The Two Sahihs recorded that Aishah said,
""The Messenger of Allah performed Witr during the first part, the middle and latter parts of the night. Then, later (in his life), he would perform it (only) during the latter part.""
Abdullah bin Umar used to pray during the night and would ask,
""O Nafi! Is it the latter part of the night yet?""
and if Nafi said, ""Yes,"" Ibn Umar would start supplicating to Allah and seeking His forgiveness until dawn.
This Hadith was collected by Ibn Abi Hatim."
Those who disbelieve in the signs of God and slay (yaqtuloona, is also read as yuqaatiloona, 'they fight against') the prophets without right, and slay those who enjoin to equity, to justice, and these are the Jews, who are reported to have killed forty-three prophets and to have been forbidden this by a hundred and seventy devout worshippers among them, each of whom was killed immediately. So give them good tidings, let them know, of a painful chastisement. The use of 'good tidings' here is meant as a sarcastic ridicule of them (the faa' [of fa-bashshirhum, so give them good tidings] is considered part of the predicate of inna because its noun, that is, its relative clause, resembles a conditional [sc. in yakfuroona, 'if they disbelieve.', fabashshirhum, 'then, give them good tidings.']).
In the earlier part of the Surah, the text mostly beamed at the Christians. In verse 20, 'those who have been given the Book' includes both Christians and Jews. Now, verses 21-22 here, talk about some of the unusual doings of Jews. Ruh al-Ma'ani while commenting on this verse reports a hadith from the Holy Prophet ﷺ as narrated by Ibn Abi Hatim ؓ . While explaining this verse, he said that Bani Isra'i1 slew forty three prophets at one and the same time. One hundred and seventy pious, elders stood up asking them to uphold justice. They slew them as well on the same day. (Bayan a1-Qura'n)
In verse 21, 'those who disbelieve the verses of Allah' refers to Jews who did not believe in the Injil انجیل and the Qur'an. 'Slay the Prophets (علیہم السلام) unjustly means that they know that they are doing so without justice. 'Those who bid justice' are people who teach moderation in deeds and morals.
Because of this whole set of their terrible deeds, verse 22 says that all their good deeds have gone waste both here and there, and when they are punished, they will find no one to assist them.








