Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
يَقُولُونَ
(mereka) berkata
رَبَّنَآ
ya Tuhan kami
إِنَّنَآ
sesungguhnya kami
ءَامَنَّا
kami telah beriman
فَٱغۡفِرۡ
maka ampunilah
لَنَا
bagi/untuk kami
ذُنُوبَنَا
segala dosa kami
وَقِنَا
dan peliharalah kami
عَذَابَ
siksa
ٱلنَّارِ
neraka
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
يَقُولُونَ
(mereka) berkata
رَبَّنَآ
ya Tuhan kami
إِنَّنَآ
sesungguhnya kami
ءَامَنَّا
kami telah beriman
فَٱغۡفِرۡ
maka ampunilah
لَنَا
bagi/untuk kami
ذُنُوبَنَا
segala dosa kami
وَقِنَا
dan peliharalah kami
عَذَابَ
siksa
ٱلنَّارِ
neraka
Terjemahan
(Yaitu) orang-orang yang berdoa, "Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka."
Tafsir
(Yakni orang-orang yang) menjadi na`at atau badal dari 'orang-orang' yang sebelumnya (berdoa,) "Wahai (Tuhan kami! Sesungguhnya kami telah beriman) membenarkan-Mu dan rasul-Mu (maka ampunilah semua dosa kami dan lindungilah kami dari siksa neraka.").
Tafsir Surat Ali-'Imran: 16-17
(Yaitu) orang-orang yang berdoa, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka,"
(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.
Ayat 16
Allah menggambarkan sifat-sifat hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yaitu orang-orang yang telah dijanjikan beroleh pahala yang berlimpah. Untuk itu Allah berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman’." (Ali Imran: 16)
Yakni beriman kepada-Mu dan kitab-kitab-Mu serta rasul-rasul-Mu.
“Maka ampunilah segala dosa kami.” (Ali Imran: 16)
Yaitu karena iman kami kepada Engkau, juga kepada apa yang telah Engkau syariatkan buat kami, maka kami memohon semoga Engkau mengampuni kami atas dosa-dosa dan kelalaian kami dalam urusan kami berkat anugerah dan rahmat-Mu.
“Dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 16)
Ayat 17
Kemudian dalam ayat berikutnya Allah berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 17)
Maksudnya, sabar dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan semua hal yang diharamkan.
“Orang-orang yang benar.” (Ali Imran: 17)
Yakni percaya kepada apa yang diberitakan kepada mereka berkat iman mereka, yang hal ini direalisasikan oleh mereka dalam sikap berteguh hati dalam mengerjakan amal-amal yang berat.
“Orang-orang yang tetap taat.” (Ali Imran: 17)
Al-qunut artinya taat dan patuh, yakni orang-orang yang tetap dalam ketaatannya.
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya.” (Ali Imran: 17)
Yaitu menafkahkan sebagian dari harta mereka di jalan-jalan ketaatan yang diperintahkan kepada mereka, silaturahmi, amal taqarrub, memberikan santunan, dan menolong orang-orang yang membutuhkannya.
“Dan orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur.” (Ali Imran: 17)
Ayat ini menunjukkan keutamaan beristighfar di waktu sahur.
Menurut suatu pendapat, sesungguhnya Nabi Ya'qub a.s. ketika berkata kepada anak-anaknya, yang perkataannya disitir oleh firman-Nya: “Aku akan memohonkan ampunan kepada Tuhanku untuk kalian”. (Yusuf: 98) Nabi Ya'qub menangguhkan doanya itu sampai waktu sahur.
Telah disebutkan di dalam kitab Shahihain dan kitab-kitab sunnah serta kitab-kitab musnad lain yang diriwayatkan melalui berbagai jalur dari sejumlah sahabat Rasulullah ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “(Rahmat) Allah turun pada tiap malam ke langit dunia, yaitu di saat malam hari tinggal sepertiganya, lalu Dia berfirman, ‘Apakah ada orang yang meminta, maka Aku akan memberinya? Apakah ada orang yang berdoa, maka Aku memperkenankannya? Dan apakah ada orang yang meminta ampun, maka Aku memberikan ampunan kepadanya’," hingga akhir hadits.
Al-Hafidzh Abul Hasan Ad-Daruqutni mengkhususkan bab ini dalam sebuah juz tersendiri. Ia meriwayatkan hadits ini melalui berbagai jalur. Di dalam kitab Shahihain dari Siti Aisyah disebutkan bahwa setiap malam Rasulullah ﷺ selalu melakukan shalat witir, mulai dari awal, pertengahan, dan akhir malam; dan akhir dari semua witir adalah di waktu sahur.
Disebutkan bahwa sahabat Abdullah ibnu Umar melakukan shalat (sunat di malam hari), kemudian bertanya, "Wahai Nafi, apakah waktu sahur telah masuk?" Apabila dijawab, "Ya," maka ia mulai berdoa dan memohon ampun hingga waktu subuh. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami ibnu Waki', telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Hurayyis ibnu Abu Matar, dari Ibrahim ibnu Hatib, dari ayahnya yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar seorang lelaki yang berada di salah satu bagian dalam masjid mengucapkan doa berikut: “Ya Tuhanku, Engkau telah memerintahkan kepadaku, maka aku taati perintah-Mu; dan ini adalah waktu sahur, maka berikanlah ampunan untukku.” Ketika ia melihat lelaki itu, ternyata dia adalah sahabat Ibnu Mas'ud.
Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa kami (para sahabat) bila melakukan shalat (sunat) di malam hari diperintahkan untuk melakukan istighfar di waktu sahur sebanyak tujuh puluh kali.
Setelah ayat sebelumnya menjelaskan bahwa Allah mengetahui siapa yang berhak memperoleh keberuntungan besar, yakni orangorang bertakwa, maka ayat ini menjelaskan ciri-cirinya. Yaitu orangorang yang berdoa, Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman terhadap apa yang Engkau serukan kepada kami, maka ampunilah dosa-dosa kami atas ketidakmampuan kami untuk me-ngendalikan hawa nafsu kami, sehingga kurang menghiraukan seruan-Mu, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, dan lindungilah kami, dengan segala kekurangan dan dosa-dosa kami, dari azab neraka. Mereka itu adalah orang-orang yang sabar, baik dalam menjalankan ketaatan, di saat tertimpa musibah, maupun dalam meninggalkan larangan, orang-orang yang benar dalam sikap dan perkataannya, orangorang yang senantiasa dalam ke-taat-an secara khusyuk, orang-orang yang selalu menginfakkan harta mereka, baik pada saat lapang maupun sempit (Lihat: Surah a'li Imra'n/3: 134) dan orang-orang yang senantiasa memohon ampunan terutama pada waktu sebelum fajar yakni masuknya waktu subuh.
Sifat-sifat orang yang bertakwa yaitu orang yang hatinya sudah merasakan nikmatnya iman, orang yang bergetar lidahnya mengucapkan pengakuan iman ini ketika berdoa dan beribadah. Mereka memelihara diri dari berbuat maksiat, tunduk kepada Allah dengan khusyuk serta memohon kepada-Nya, "Wahai Tuhan kami, kami benar-benar telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan kepada Rasulullah dengan iman yang meresap ke dalam lubuk hati kami, yang membimbing akal pikiran kami, dan menguasai pekerjaan-pekerjaan badaniah kami. Maka wahai Tuhan kami, hapuslah dosa-dosa kami dengan ampunan-Mu dan jauhkanlah kami dari azab neraka. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Doa agar terhindar dari azab neraka dikhususkan, karena orang yang dibebaskan dari azab neraka berarti telah mendapat kemenangan dan tempat kembali yang terbaik. Yang dimaksud dengan iman dalam pengakuan orang-orang yang bertakwa ini ialah iman yang murni, yang terwujud pada kemampuan memelihara diri daripada kemaksiatan, serta banyak berbuat kebajikan.
Ulama salaf telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan iman itu meliputi iktikad, ucapan dan perbuatan. Iman inilah yang memberi bimbingan kepada akal dan perbuatan manusia yang sesuai dengan fitrahnya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Diperhiaskan bagi manusia kesukaan kepada barang yang diingini."
(pangkal ayat 14)
Zuyyina, artinya diperhiaskan. Maksudnya, segala barang yang diingini itu ada baiknya dan ada buruknya, tetapi apabila keinginan telah timbul, yang kelihatan hanya eloknya saja dan lupa akan buruk atau susahnya. Hubb, artinya kesukaan atau cinta. Syahwat, yaitu keinginan-keinginan yang menimbulkan selera yang menarik nafsu buat mempunyainya. Maka, disebutlah di sini enam macam hal yang manusia sangat menyukainya karena ingin mempunyai dan menguasainya, sehingga yang tampak oleh manusia hanyalah keuntungannya saja, sehingga manusia tidak memedulikan kepayahan buat mencintainya.
“(Yaitu) dari hal perempuan dan anak laki-laki, dan berpikul-pikul emas dan perak, dan kuda kendaraan yang diasuh, dan binatang-binatang ternak, dan ﷺah ladang." Itulah enam macam yang sangat disukai, diinginkan, dan dengan berbagai macam usaha manusia ingin mempunyainya.
Pertama: Perempuan
Sudah ditakdirkan oleh Allah bahwa tiap-tiap orang laki-laki apabila bertambah kedewasaannya bertambah pulalah keinginannya hendak mempunyai teman hidup orang perempuan. Apabila syahwat kepada perempuan itu sedang tumbuh dan mekar maka seluruh tubuh orang perempuan itu laksana besi berani buat menumbuhkan syahwat si laki-laki hendak mempunyainya.
Kedua: Anak Laki-Laki
Di ayat ini disebut banin ditonjolkan kesukaan karena ingin mempunyai anak, terutama anak laki-laki, termasuk hal yang dihiaskan pula bagi manusia. Dia menjadi yang kedua sesudah kesukaan syahwat perempuan, Anak adalah hasil utama dan pertama dari hubungan dengan perempuan tadi. Kalau syahwat kepada perempuan pada kulitnya karena syahwat faraj atau setubuh, pada batinnya ialah karena kerinduan mendapat keturunan. Sekali lagi kita katakan, “Allah Adil!" Pada yang pertama disebutkan bahwa laki-laki menginginkan perempuan, tetapi pada yang kedua diterangkan bahwa laki-laki menginginkan anak laki-laki. Jika di sini tidak disebut menginginkan anak perempuan, karena yang akan menginginkannya bukan lagi ayahnya, melainkan ibunya.
Ketiga: Dan Berpikul-Pikul Emas dan Perak
Yaitu, kekayaan. Manusia semuanya mempunyai keinginan memiliki kekayaan emas dan perak. Di dalam ayat disebut emas dan perak karena memang ukuran (standar) kekayaan yang sebenarnya ialah emas-perak. Walaupun satu waktu kita hidup dengan uang kertas, tetapi uang kertas itu mesti mempunyai sandaran (dekking) emas di dalam bank. Tidak akan tercapai banyak maksud kalau tidak ada uang. Kita mempunyai keinginan banyak hendaknya uang itu, malahan di dalam ayat disebut berpikul-pikul karena sangat banyaknya. Keinginan mempunyai kekayaan itu tidaklah ada batasnya. Dari kecil sampai besar, dari muda sampai tua, dari hidup sampai mati, tidak ada manusia menginginkan kekayaan dengan terbatas. Manusia ingin harta satu juta. Tapi setelah satu juta, kalau bertambah lagi menjadi 100 juta, manusia masih ingin 1.000 juta.
Keempat: Dan Kuda Kendaraan yang Diasuh
Di zaman dahulu, di kala ayat ini diturunkan, yang diasuh dan diberi pelana serta sanggurdi, ialah kuda. Disikati bulunya dan diistimewakan makannya, sehingga sampai kepada zaman kita sekarang ini amat masyhurlah kuda tunggang Arab di seluruh dunia. Mempunyai kuda tangkas itu pun menjadi satu keinginan, dihiaskan Tuhan kesukaan mempunyainya. Dia alat penghubung dari satu tempat ke tempat lain. Dia kendaraan istimewa di dalam perang dan di dalam damai. Di zaman kita sekarang, mundurlah kuda kendaraan yang dipingit dan naiklah kepen-tingan kendaraan bermotor. Dia menjadi alat perlengkapan hidup di zaman modern sehingga mobil tidak lagi barang mewah, tetapi barang penting, Jalan-jalan raya di seluruh dunia telah diubah pembuatannya dari seratus tahun yang lalu, di zaman memakai gerobak dan pedati. Maka, dihiaskanlah dalam hail manusia keinginan memakai kendaraan.
Kelima: Dan Binatang-Binatang Ternak
Kalau kendaraan bermotor alat penting dalam kehidupan kota maka binatang ternak amat penting pada kehidupan di padang-padang yang luas, sebab pengikut Nabi Muhammad ﷺ bukan orang kota saja. Pada kehidupan suku-suku Badwi, hitungan kekayaan ialah pada binatang ternak. Berapa puluh ekor unta, kerbau, dan lembunya, berapa ratus ekor kambing dan domba serta biri-birinya. Di negeri kita sendiri kekayaan kaum Muslimin di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok ditentukan oleh beberapa puluh atau beberapa ekor memelihara lembu dan berapa pengirimnya ke Jawa atau ke Singapura dalam setahun.
Keenam: Dan ﷺah Ladang
Kekayaan dari perkebunan dan pertanian Teringatlah kita akan luas-luasnya ﷺah di Sindenreng dan Wajo di Sulawesi. Teringat kita perkebunan karet di Kalimantan. Akan tetapi, sebelum mengukurnya kepada negeri kita, teringatlah kita betapa luas-luasnya kebun di sekeliling Kota Madinah di zaman dahulu. Teringat kita bagaimana setelah kaum Muslimin menyeberang ke Andalusia (Spanyol) mereka memperbaiki pengairan (irigasi) yang sampai sekarang sudah lima ratus tahun mereka meninggalkan negeri itu, bekas tangan mereka masih ada. Terkenang kita bagaimana jasa kaum Muslimin memajukan pertanian di India ketika mereka berkuasa (Kerajaan Mongol).
Kadang-kadang mereka tidak mengiri-menganan lagi, menumpahkan seluruh tujuan hidup untuk itu, untuk keenamnya atau untuk salah satu dari keenamnya, atau sebagian dari keenamnya. Sehingga, kadang-kadang mereka asyik dengan itu, manusia pun lupa akan yang lebih penting. Oleh sebab itu,. Allah berfirman memberi peringatan dengan lanjutan ayat, “Yang demikian itulah perhiasan hidup di dunia" Tegasnya, bahwasanya semuanya itu hanyalah perhiasan hidup di dunia, niscaya usianya akan habis untuk itu, sedangkan perhiasan untuk di akhirat kelak dia tidak sedia. Padahal di belakang hidup yang sekarang ini ada lagi hidup yang akan dihadapi. Sesudah dunia adalah akhirat. Allah lebih tegaskan lagi,
“Namun, di sisi Allah ada (lagi) sebaik-baik tempat kembali."
(ujung ayat 14)
Di ujung ayat diterangkan bahwa ada lagi yang lebih penting, entah berapa ribu kali lebih penting dari perhiasan dunia itu, ialah sebaik-baik tempat kembali yang disediakan oleh Allah. Sebab, selama-lama hidup di dunia kita pasti kembali juga kepada Allah. Allah menyediakan bagi kita sebaik-baik tempat kembali itu. Apakah sebaik-baik tempat kembali itu?
Katakanlah, ‘Sukakah kamu Aku ceritakan kepada kamu apa yang lebih baik dari yang demikian?'"
(pangkal ayat 15)
Yang lebih dari perempuan, anak-anak, emas-perak, kuda kendaraan, binatang ternak, dan ﷺah-ladang itu? “Ialah surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan istri-istri yang suci." Semuanya ini beribu kali lebih baik daripada yang dihiaskan kepada kamu dari yang enam perkara itu. Dibandingkan dengan yang akan kamu terima kelak itu, belum ada arti sepeser pun apa yang kamu jadikan perhiasan dunia itu.
Maka, sebagai kunci atau inti sari dari surga, atau martabat yang di atas sekali di dalam surga itu, diterangkan lagi oleh Allah,"Dan keridhaan dari Allah." Keridhaan dari Allah, inilah yang sebenar puncak nikmat surga.
"Dan Allah adalah melihat akan hamba-hamba-Nya."
(ujung ayat 15)
Dengan adanya ujung ayat begini, teranglah bahwa tidak ditutup mati sama sekali segala keinginan perhiasan dunia itu. Boleh terus, tetapi ingatlah bahwa Allah telah melihat gerak-gerikmu. Bekerjalah, carilah, tetapi jangan kamu lupakan bahwa kamu tidak lepas dari penglihatan Allah. Orang-orang yang begini ialah orang-orang yang sadar akan hidupnya di dunia dan sadar pula akan hidupnya di akhirat kelak. Sebab itu, datanglah sambungan ayat,
“(Yaitu) orang-orang yang berkata, ‘Ya, Tuhan kami! Sesungguhnya, kami telah beriman. Oleh karena itu, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan peliharakanlah kami dari siksaan neraka."
(ayat 16)
Dengan pengakuan telah beriman, cara hidupmu diubah. Tidak lagi semata-mata mengejar “perhiasan dunia", tetapi mengingat lagi akan perjuangan kelak di kemudian hari dengan Allah. Lantaran telah beriman, meng-akuilah bahwa di zaman yang sudah-sudah memang hidup itu hanya ingat dunia saja, sebab itu memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang telah lalu itu dan memohonkan lagi kepada Allah peliharakanlah kiranya dari siksaan neraka itu. Sebab, dengan adanya iman di dalam hati kami, kami telah mendapat suluh dan telah jelas oleh kami jalan yang akan ditempuh. Cuma kadang-kadang mendapat gangguanlah kami dari hawa nafsu kami dan perdayaan setan.
“(Yaitu) orang-orang yang sabar dan orang-orang yang jujur dan orang-orang yang sungguh-sungguh taat dan orang-orang yang membelanjakan harta dan orang-orang yang memohon ampun di ujung malam."
(ayat 17)
Di ayat ini Tuhan menunjukkan lima syarat yang harus dipenuhi supaya iman itu menjadi sempurna.
Pertama: Sabar, karena gangguan di dalam menegakkan iman itu akan banyak dan permohonan itu kadang-kadang belum segera dikabulkan Allah, bahkan kadang-kadang kesetiaan iman itu mendapat ujian yang khas dari Allah sendiri. Kalau tidak sabar, perjuangan iman akan patah di tengah jalan.
Kedua: Jujur atau dalam bahasa Arabnya shadiq, artinya benar dan membenarkan. Benar ke luar dan ke dalam, tidak berubah yang di mulut dengan yang di hati, membenarkan segala apa pun yang dituntunkan Nabi ﷺ, yang diwahyukan Allah dengan kata dan perbuatan. Dan, mereka buktikan dengan perbuatan apa yang dibenarkan oleh hati.
Ketiga: Qanit, yaitu sungguh taat mengerjakan apa yang diperintahkan dan menghentikan yang dilarang. Meletakkan di muka serta mendahulukan kehendak Allah dan Rasul daripada kehendak sendiri.
Keempat: Membelanjakan harta, yaitu dermawan, sudi bersedekah, suka berzakat, tidak bakhil, memberikan bantuan kepada fakir dan miskin, dan amal-amal kebaikan yang lain.
Kelima: Memohon ampun di ujung malam, yaitu melatih diri sehingga menjadi kebiasaan bangun di ujung malam, yaitu di waktu sahur untuk shalat tahajjud, yang sudah nyata bahwa dalam shalat itu kita akan selalu memohonkan ampun kepada Allah di waktu berdiri, duduk, dan di antara duduk sujud. Dua pada waktu sahur atau ujung malam, atau parak-siang itu, sehabis shalat dapat pula makan sahur, bersedia untuk mengerjakan puasa tathawwu besoknya.
"The True Value of This Earthly Life
Allah says;
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالَانْعَامِ وَالْحَرْثِ
Beautified for men is the love of things they covet; women, children, Qanatir Al-Muqantarah of gold and silver, branded beautiful horses (Muﷺwamah), cattle and fertile land.
Allah mentions the delights that He put in this life for people, such as women and children, and He started with women, because the test with them is more tempting.
For instance, the Sahih recorded that the Messenger said,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاء
I did not leave behind me a test more tempting to men than women.
When one enjoys women for the purpose of having children and preserving his chastity, then he is encouraged to do so.
There are many Hadiths that encourage getting married, such as,
وَإِنَّ خَيْرَ هذِهِ الاْإُمَّةِ مَنْ كَانَ أَكْثَرَهَا نِسَاء
Verily, the best members of this Ummah are those who have the most wives.
He also said,
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَة
This life is a delight, and the best of its delight is a righteous wife.
The Prophet said in another Hadith,
حُبِّبَ إِلَيَّ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَة
I was made to like women and perfume, and the comfort of my eye is the prayer.
Aishah, may Allah be pleased with her, said,
""Nothing was more beloved to the Messenger of Allah than women, except horses,""
and in another narration,
""...than horses except women.""
The desire to have children is sometimes for the purpose of pride and boasting, and as such, is a temptation. When the purpose for having children is to reproduce and increase the Ummah of Muhammad with those who worship Allah alone without partners, then it is encouraged and praised.
A Hadith states,
تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الاُْمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَة
Marry the Wadud (kind) and Walud (fertile) woman, for I will compare your numbers to the rest of the nations on the Day of Resurrection.
The desire of wealth sometimes results out of arrogance, and the desire to dominate the weak and control the poor, and this conduct is prohibited. Sometimes, the want for more money is for the purpose of spending it on acts of worship, being kind to the family, the relatives, and spending on various acts of righteousness and obedience; this behavior is praised and encouraged in the religion.
Scholars of Tafsir have conflicting opinions about the amount of the Qintar, all of which indicate that;
the Qintar is a large amount of money, as Ad-Dahhak and other scholars said.
Abu Hurayrah said
""The Qintar is twelve thousand Uwqiyah, each Uwqiyah is better than what is between the heavens and earth.""
This was recorded by Ibn Jarir.
The desire to have horses can be one of three types.
Sometimes, owners of horses collect them to be used in the cause of Allah, and when warranted, they use their horses in battle. This type of owner shall be rewarded for this good action.
Another type collects horses to boast, and out of enmity to the people of Islam, and this type earns a burden for his behavior.
Another type collects horses to fulfill their needs and to collect their offspring, and they do not forget Allah's right due on their horses.
This is why in this case, these horses provide a shield of sufficiency for their owner, as evident by a Hadith that we will mention, Allah willing, when we explain Allah's statement,
وَأَعِدُّواْ لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُم مّن قُوَّةٍ وَمِن رّبَاطِ الْخَيْلِ
And make ready against them all you can of power, including steeds of war. (8:60)
As for the Muﷺwamah horses, Ibn Abbas said that;
they are the branded, beautiful horses.
This is the same explanation of Mujahid, Ikrimah, Sa`id bin Jubayr, Abdur-Rahman bin Abdullah bin Abza, As-Suddi, Ar-Rabi bin Anas and Abu Sinan and others.
Makhul said,
the Muﷺwamah refers to the horse with a white spotted faced, and the horse with white feet.
Imam Ahmad recorded that Abu Dharr said that the Messenger of Allah said,
لَيْسَ مِنْ فَرَسٍ عَرَبِيَ إِلاَّ يُوْذَنُ لَهُ مَعَ كُلِّ فَجْرٍ يَدْعُو بِدَعْوَتَيْنِ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنَّكَ خَوَّلْتَنِي مِنْ بَنِي ادَمَ فَاجْعَلْنِي مِنْ أَحَبِّ مَالِهِ وَأَهْلِهِ إِلَيْهِ أَوْ أَحَبَّ أَهْلِهِ وَمَالِهِ إِلَيْه
Every Arabian horse is allowed to have two supplications every dawn, and the horse supplicates, `O Allah! You made me subservient to the son of Adam. Therefore, make me among the dearest of his wealth and household to him, or,make me the dearest of his household and wealth to him.
Allah's statement,
وَالَانْعَامِ
Cattle,
means, camels, cows and sheep.
.
وَالْحَرْثِ
And fertile land,
meaning, the land that is used to farm and grow plants.
Allah then said,
ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
This is the pleasure of the present world's life,
meaning, these are the delights of this life and its short lived joys.
وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَأبِ
But Allah has the excellent return with Him.
meaning, the best destination and reward.
The Reward of the Those Who Have Taqwa is Better Than All Joys of This World
This is why Allah said
قُلْ أَوُنَبِّيُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ
Say:""Shall I inform you of things far better than those!""
This Ayah means, ""Say, O Muhammad, to the people, `Should I tell you about what is better than the delights and joys of this life that will soon perish!""'
Allah informed them of what is better when He said,
لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الَانْهَارُ
For those who have Taqwa there are Gardens (Paradise) with their Lord, underneath which rivers flow,
meaning, rivers run throughout it.
These rivers carry various types of drinks:honey, milk, wine and water such that no eye has ever seen, no ear has ever heard, and no heart has ever imagined.
خَالِدِينَ فِيهَا
Therein (is their) eternal (home),
meaning, they shall remain in it forever and ever and will not want to be removed from it.
وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ
And Azwajun Mutahharatun (purified mates or wives),
meaning, from filth, dirt, harm, menstruation, post birth bleeding, and other things that affect women in this world.
وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ
And Allah will be pleased with them.
meaning, Allah's pleasure will descend on them and He shall never be angry with them after that. This is why Allah said in in Surah Bara`ah,
وَرِضْوَنٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
But the pleasure of Allah is greater. (9:72)
meaning, greater than the eternal delight that He has granted them.
Allah then said,
وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
And Allah is All-Seer of the (His) servants.
and, He gives each provisions according to what they deserve.
قُلْ أَوُنَبِّيُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ
Say:""Shall I inform you of things far better than those!""
This Ayah means, ""Say, O Muhammad, to the people, `Should I tell you about what is better than the delights and joys of this life that will soon perish!""'
Allah informed them of what is better when He said,
لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الَانْهَارُ
For those who have Taqwa there are Gardens (Paradise) with their Lord, underneath which rivers flow,
meaning, rivers run throughout it.
These rivers carry various types of drinks:honey, milk, wine and water such that no eye has ever seen, no ear has ever heard, and no heart has ever imagined.
خَالِدِينَ فِيهَا
Therein (is their) eternal (home),
meaning, they shall remain in it forever and ever and will not want to be removed from it.
وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ
And Azwajun Mutahharatun (purified mates or wives),
meaning, from filth, dirt, harm, menstruation, post birth bleeding, and other things that affect women in this world.
وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ
And Allah will be pleased with them.
meaning, Allah's pleasure will descend on them and He shall never be angry with them after that. This is why Allah said in in Surah Bara`ah,
وَرِضْوَنٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
But the pleasure of Allah is greater. (9:72)
meaning, greater than the eternal delight that He has granted them.
Allah then said,
وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
And Allah is All-Seer of the (His) servants.
and, He gives each provisions according to what they deserve.
The Supplication and Description of Al-Muttaqin
Allah describes the Muttaqin, His pious servants, whom He promised tremendous rewards,
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا امَنَّا
Those who say:""Our Lord! We have indeed believed,""
in You, Your Book and Your Messenger.
فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا
so forgive us our sins,
because of our faith in You and in what You legislated for us. Therefore, forgive us our errors and shortcomings, with Your bounty and mercy,
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
and save us from the punishment of the Fire.
Allah then said
الصَّابِرِينَ
(They are) those who are patient,
while performing acts of obedience and abandoning the prohibitions.
وَالصَّادِقِينَ
those who are true,
concerning their proclamation of faith, by performing the difficult deeds.
وَالْقَانِتِينَ
and obedient,
meaning, they submit and obey Allah,
وَالْمُنفِقِينَ
those who spend,
from their wealth on all the acts of obedience they were commanded, being kind to kith and kin, helping the needy, and comforting the destitute.
وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالَاسْحَارِ
and those who pray and beg Allah's pardon in the last hours of the night.
and this testifies to the virtue of seeking Allah's forgiveness in the latter part of the night.
It was reported that when Yaqub said to his children,
سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيَ
(I will ask my Lord for forgiveness for you) (12:98) he waited until the latter part of the night to say his supplication.
Furthermore, the Two Sahihs, the Musnad and Sunan collections recorded through several Companions that the Messenger of Allah said,
يَنْزِلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالى فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إِلى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الاْخِرُ فَيَقُولُ
هَلْ مِنْ سَايِلٍ فَأُعْطِيَهُ
هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ
هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ
Every night, when the last third of it remains, our Lord, the Blessed, the Superior, descends to the lowest heaven saying,
""Is there anyone to ask Me, so that I may grant him his request?
Is there anyone to invoke Me, so that I may respond to his invocation?
Is there anyone seeking My forgiveness, so that I may forgive him?""
The Two Sahihs recorded that Aishah said,
""The Messenger of Allah performed Witr during the first part, the middle and latter parts of the night. Then, later (in his life), he would perform it (only) during the latter part.""
Abdullah bin Umar used to pray during the night and would ask,
""O Nafi! Is it the latter part of the night yet?""
and if Nafi said, ""Yes,"" Ibn Umar would start supplicating to Allah and seeking His forgiveness until dawn.
This Hadith was collected by Ibn Abi Hatim."
Those (alladheena is either an adjectival qualification of, or a substitution for, the previous alladheena) who say: "O, Our Lord, we believe, in You and in Your Prophet; so forgive us our sins, and guard us from the chastisement of the Hellfire".
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.








