ٱلْقَصَص : ٣٠

  • فَلَمَّآ maka tatkala
  • أَتَىٰهَا dia mendatanginya/api
  • نُودِيَ dia dipanggil
  • مِن dari
  • شَٰطِيِٕ pinggir
  • ٱلۡوَادِ lembah
  • ٱلۡأَيۡمَنِ sebelah kanan
  • فِي di
  • ٱلۡبُقۡعَةِ tempat
  • ٱلۡمُبَٰرَكَةِ yang diberkati
  • مِنَ dari
  • ٱلشَّجَرَةِ pohon kayu
  • أَن bahwa
  • يَٰمُوسَىٰٓ wahai musa
  • إِنِّيٓ sesungguhnya Aku
  • أَنَا Aku
  • ٱللَّهُ Allah
  • رَبُّ Tuhan
  • ٱلۡعَٰلَمِينَ semesta alam
Maka ketika dia (Musa) sampai ke (tempat) api itu, dia diseru dari (arah) pinggir sebelah kanan lembah, dari sebatang pohon, di sebidang tanah yang diberkahi, "Wahai Musa! Sungguh, Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam!1
Catatan kaki
1 *609) Di tempat dan saat itulah Nabi Musa -'alaihissalām- mulai diangkat menjadi rasul.
(Maka tatkala Musa sampai ke tempat api itu, dia diseru dari arah pinggir) yakni sebelah (lembah yang kanan) yang berada di sebelah kanan Nabi Musa (pada tempat yang diberkahi) bagi Musa untuk mendengarkan Kalam Allah di tempat itu (dari sebatang pohon) lafal ayat ini menjadi Badal dari lafal Syathi' berikut pengulangan huruf Jar-nya, disebabkan pohon itu tumbuh di pinggir lembah; pohon itu adalah pohon anggur, atau pohon 'Ulaiq, atau pohon 'Ausaj (yaitu) huruf An adalah An Mufassarah bukan An Mukhaffafah ("Hai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Allah, Rabb semesta alam).