Ayat
Terjemahan Per Kata
فَٱتَّقُواْ
maka bertakwalah kamu
ٱللَّهَ
Allah
وَأَطِيعُونِ
dan taatlah kepadaku
فَٱتَّقُواْ
maka bertakwalah kamu
ٱللَّهَ
Allah
وَأَطِيعُونِ
dan taatlah kepadaku
Terjemahan
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
Tafsir
(Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku).
Tafsir Surat Ash-Shu'ara': 160-164
Kaum Lut mendustakan rasul-rasul, ketika saudara mereka Lut berkata kepada mereka, "Mengapa kalian tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepada kalian, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepada kalian atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Allah ﷻ menceritakan tentang hamba dan Rasul-Nya Lut a.s. Dia adalah Lut ibnu Haran ibnu Azar yang berarti dia adalah keponakan Nabi Ibrahim a.s. Allah mengutusnya kepada suatu kaum yang besar di masa Nabi Ibrahim a.s.
masih hidup; mereka tinggal di Sadom dan kota-kota yang ada di sekitarnya yang dibinasakan oleh Allah, lalu Allah mengubah bekas tempat tinggal mereka menjadi danau yang baunya busuk lagi kotor. Letaknya adalah di negeri Al-Gaur yang bersebelahan dengan bukit-bukit Baitul Maqdis, juga bersebelahan dengan negeri Al-Kark dan Asy-Syawik. Nabi Lut menyeru mereka untuk menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan hendaknya mereka taat kepada rasul mereka yang diutus oleh Allah kepada mereka.
Nabi mereka melarang mereka melakukan perbuatan durhaka kepada Allah dan melarang melakukan perbuatan yang belum pernah ada seorang pun di dunia ini berani melakukannya selain mereka, yaitu menggauli laki-laki, bukan wanita."
163. Maka bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. dan taatlah kepadaku. Atas apa yang aku katakan padamu. 164. "Dan aku sekali-kali tidak minta imbalan kepadamu atas ajakan itu, imbalanku tidak lain hanyalah dari Tuhan pemelihara seluruh alam yang menjadikan aku sebagai utusan-Nya. " Setelah berdakwah secara umum, nabi Lut kemudian memasuki area dakwah yang lebih khusus lagi.
Penduduk kota Sodom (Sadum) adalah penduduk yang sangat buruk budi pekertinya. Mereka menyembah patung-patung di samping menyembah Allah. Oleh sebab itu, Nabi Lut menyeru mereka agar menyembah Allah semata, bertakwa kepada-Nya, dan mengikuti ajaran yang dibawanya. Sebagaimana halnya dengan Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Saleh, Nabi Lut pun telah menyampaikan kepada kaumnya bahwa ia adalah rasul yang benar-benar diutus kepada mereka untuk menyampaikan agama Allah. Ia tidak mengharapkan upah dari mereka sebagai imbalan dari seruan yang telah disampaikannya. Ia hanya mengharapkan upah dari Allah yang telah mengutusnya seperti juga para nabi yang lain.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Ayat 160
Sekarang diperingatkan lagi dari Nabi Luth dengan kaumnya: “Telah mendustakan pula kaum Luth akan Rasul-rasul." (ayat 160)
Mendustakan seorang Rasul sebagaimana telah kita maklumi pada tafsir-tafsir di atas tadi, sama artinya dengan mendustakan Rasul-rasul yang lain. Karena ujud ajaran yang dibawa oieh Rasul-rasul itu hanya satu jua, yaitu kebahagiaan ummat manusia, mendirikan akhlak yang mulia dan menjunjung tinggi peraturan-peraturan Allah. Dosa pelanggaran itu berbagai macam, yang membawa jatuhnya martabat manusia menjadi rendah, sehingga tugasnya sebagai makhluk pilihan Allah mereka sendiri yang menjatuhkan. Menurut tafsir-tafsir, demikian juga di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama disebutkan bahwa kaum yang didatangi oleh Luth a.s. itu ialah kaum di negeri Sadum dan Zammurah, atau Sodom dan Gamurrah.
Perbuatan mereka yang sangat jahat ialah apa yang sekarang dinamai orang Homo SexuAlitas; laki-laki bersetubuh dengan laki-laki.
Ayat 161
‘Tatkala berkata saudara mereka Luth; “Tidak jugakah kamu hendak bertakwa?" (ayat 161). Perbuatan jahat dan keji itu telah ditegur dengan keras oleh Nabi Luth: Belum jugakah kamu hendak kembali ke dalam jalan yang benar? Belum jugakah kamu hendak berhenti melakukan perbuatan yang keji itu?
Ayat 162
Lalu beliau terangkan pula: “Sesungguhnya aku ini adalah Utusan yang dipercaya untuk kamu." (ayat 162). Artinya: Tidaklah aku akan selancang itu memberi ingat kamu akan kesalahan dan kekejian ini kalau bukanlah aku membawa tugas sebagai Utusan Allah menyampaikan peringatan ini kepada kamu. Aku bukanlah musuh yang benci kepada kamu, melainkan saudara kamu sendiri. Jika hal ini aku sampaikan, bukanlah lantaran benci, melainkan lantaran kasih-sayang:
Ayat 163
“Maka takwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku."(ayat 163). Takwa atau takut dan memelihara segala perintah Allah adalah jalan satu-satunya untuk kamu selamat daripada bahaya, dan taat kepadaku ialah sebab aku adalah utusan yang di-perintahkan Allah memimpin kamu kepada jalan yang benar.
Ayat 164
"Dan tidaklah aku meminta upah kepadamu atas pekerjaan ini." (pangkal ayat 164). Meskipun pekerjaan berat. Karena sebahagian besar daripadamu tidaklah mau menerima seruanku itu. dan banyak pula yang salah terima menyangka bahwa pekerjaanku yang berat itu adalah karena mengharapkan upah, baik upah hartabenda maupun upah mendapat nama dan pujian setengah orang. Lalu aku merasa bangga: “Upahan buatku, tidak /ain hanyalah jaminan dari Allah Tuhan Sarwa sekalian alam." (ujung ayat 164).
Upah itu ialah kepuasan hati karena telah melakukan kewajiban dan tugas yang dipikulkan Allah dengan hati ridha. Meskipun seluruhnya belum berhenti, namun yang setengah daripada kamu tentu akan menerima juga seruanku ini. Penerimaan yang sebahagian itu sudah cukuplah untuk menjadi upah jerih yang disediakan oleh Tuhan sendiri. Seorang pembawa seruan kebenaran adalah kaya hatinya, sebab dia dekat dengan Tuhan. Ketenteraman jiwa itu saja sudah cukuplah untuk menjadi upah yang tidak ternilai harganya bagi seorang pejuang menegakkan ajakan Tuhan.
Ayat 165
“Adakah patut kamu menyetubuhi manusia yang laki-laki?" (ayat 165). Inilah kesalahan paling besar itu, kerusakan akhlak yang tiada taranya, termasuk penyakit jiwa.
Ayat 166
"Dan kamu tinggalkan isteri-isteri kamu yang telah disediakan Tuhan untufc kamu. Sungguhlah kamu ini suatu kaum yang telah melewati batas." (ayat 166). Sudah keterlaluan, sudah tidak dapat lagi mengekang hawa-nafsunya, sehingga terperosoklah dia keluar daripada batas kemanusiaan dan batas yang patut bagi laki-laki. Batas laki-laki yang normal, yang sihat jiwanya ialah jika dia masih bersyahwat menghadapi kaum perempuan, tegasnya isteri-nya sendiri yang telah disediakan Allah buat dia. Batas kemanusiaan yang telah ditentukan Tuhan ialah bahwa bagi laki-laki disediakan alat kelamin yang bersifat aktif dan menonjol, dan bagi perempuan disediakan Tuhan pula alat kelamin yang pasif dan menunggu.
Itulah batas Alami (Natuur) yang telah diberikan Tuhan terhadap seluruh haiwan termasuk manusia. Syahwat setubuh peraduan kelamin, laki-laki memasukkan alat kelaminnya kepada lubang kemaluan perempuan yang telah disediakan Tuhan itu ialah karena memelihara keturunan manusia Perpaduan di antara air mani kedua pihak bergabung menjadi satu, itulah yang dinamai Nuthjah. Menurut fithrah manusia atau haiwan itu, iaki-laki atau jantan mencari perempuan atau betina buat menjadi teman hidup, untuk berkasih-kasihan karena naluri (instink) ingin berketurunan. Sehingga burung-burung, binatang-binatang kecil, sampai katak di sawah, itik di pelimbahan, ayam di lesung, sapi di padang, kambing di penggembalaan, bersyahwat setubuh buat beranak. Itulah dia batas yang ditentukan Tuhan tentang jantan dan betina. Tetapi kalau laki-laki telah bersyahwat bersetubuh dengan sesamanya laki-laki, apakah yang akan dinamakan terhadap orang yang seperti ini? Menurut Ilmu Jiwa, inilah orang yang disebut Abnormal atau Psychopad. Sudah rusak kemanusiaannya.
Di dalam menafsirkan Surat-surat yang sudah terdahulu, sebagai Surat Hud, al-'Ankabut, al-A'raf dan lain-lain, telah panjang lebar kita menguraikan bencana kemanusiaan apabila penyakit ini telah berjangkit. Salah satu sebabnya yang terpenting, ialah karena kemewahan telah sangat memuncak. Dunia Arab sendiri di zaman kemewahannya, seketika banyak budak laki-laki yang dikebiri, padahal mereka masih muda-muda, beralih selera laki-laki mewah itu dari perempuan kepada laki-laki.
Dan termasuk juga dalam sebab timbulnya karena harga perempuan sudah terlalu murah. Pergaulan bebas yang menyebabkan orang bosan terhadap perempuan, lalu beralih perhatiannya kepada laki-laki muda. Salah satu hal yang sangat membuat malu bangsa Belanda di akhir penjajahannya di Indonesia ialah dengan tertangkapnya berpuluh pegawai-pegawai tinggi Belanda dan orang-orang yang telah dipandang sarjana, karena ternyata mereka mendirikan suatu perkumpulan rahasia “mencari" anak laki-laki, sampai berkirim-kiriman gambar anak-anak laki-laki buat dikirim kepada teman-teman seperkumpulan. Dan yang lebih busuknya lagi, anak-anak laki-laki itu sudah senang “dibetina-kan" sebagai demikian. Dan kalau dia sudah bernafsu pula, dia pun mencari laki-laki yang lebih muda dari dia, sehingga penyakit ini bisa “turun-temurun" dari si pelaku pertama kepada anak yang diperlakukannya demikian, dan sampai anak itu melakukannya pula kepada anak-anak lain yang lebih muda dari dia.
Ayat 167
Di dalam lanjutan ayat disebutkan bagaimana sambutan penduduk negeri Sadum itu terhadap seruan dan ancaman Nabi Luth: “Mereka berkata: “Sesungguhnya jika tidak engkau berhenti, hai Luth, engkau akan termasuk orang-orang yang dikeluarkan “ (ayat 167).
Jawaban mereka yang sangat kasar dan keras dan kurang ajar terhadap seorang Nabi Allah ini telah menunjukkan betapa telah bobroknya budi pekerti mereka dan menjadi bukti bahwa penyakit itu telah sangat mendalam, sehingga siapa saja yang berani menegur, dipandang musuh. Ayat ini pun membuktikan bahwa orang-orang yang berani menegur dan mencela perbuatan hina ini langsung diusir dari negeri itu. Ini membuktikan bahwa dengan sendirinya masih ada orang-orang yang mencela perangai buruk itu, tetapi tidak berani membuka mulut, karena kalau buka mulut nyata akan diusir atau dibuang dari negeri itu, boleh pergi ke negeri lain. Dari kalau sudah sampai mereka berani mengatakan kepada seorang Rasul Allah yang menegur perbuatan keji itu bahwa dia pun diancam kalau berani mengutik-utik kesalahan mereka itu bahwa dia pun akan termasuk orang yang dibuang; dapatlah kita mengambil kesimpulan bahwa penyakit keji ini adalah penyakit dari orang-orang yang berkuasa dalam negeri itu sendiri. Memang berkali-kali sejarah dapat membuktikan bahwasanya apabila moral dan akhlak Penguasa-penguasa Negara sudah sangat bejat, sehingga zina atau memburit itu telah merajalela di kalangan mereka, mudah saja mereka membuang, mengusir, menahan bertahun-tahun di dalam penjara barangsiapa yang berani menegur kebejatan moral itu. Dengan kata-kata begini nyatalah bahwa mereka telah mengancam Nabi Luth, bahwa kalau dia tidak berhenti menegur kerusakan akhlak mereka, Nabi Luth akan dibuang bersama-sama orang-orang lain yang telah dibuang. Kalau dia mau “selamat" dalam negeri itu, dia hendaklah menyesuaikan diri atau “tutup mulut" dalam 1,000 bahasa.
Tetapi-adakah seorang Nabi penegak kebenaran dapat diancam dengan buangan? Dapatkah seorang penegak kebenaran diancam dengan penjara? Dia bukan Nabi kalau dia tutup mulut. Demi Allah, kenabiannya akan luntur kalau dia mau “menyesuaikan diri"; akan berapalah lamanya dunia ini dipakai?
Ayat 168
“Berkata Luth: “Sungguh aku adalah termasuk orang yang sangat benci kepada perbuatanmu." (ayat 168).
Dengan perkataannya ini Nabi Luth telah menjelaskan hakikat kebenaran. Yaitu bahwasanya di dalam negeri itu khususnya dan di dunia ini umumnya masih ada manusia yang benci kepada kekejian itu, yang muntah perasaannya karena jijiknya. Dan dengan ini dia telah menentang. Dan dia telah menjelaskan selama mulutnya masih bisa bercakap, dia akan menentang perbuatan itu. Dan dia pun tahu bahwa jika celaannya itu masih diteruskannya juga, dia tidak akan terlepas dari bahaya ancaman orang-orang yang berkuasa dalam negeri itu. Oieh sebab dia adalah Utusan Allah dan melakukan tugas yang diperintahkan Allah, maka berserah dirilah dia kepada Allah, lalu dia berdoa:
Ayat 169
“Ya Tuhanku! Selamatkanlah kiranya akan daku dan pengikut-pengikutku daripada apa-apa yang mereka perbuat." (ayat 169).
Sebagai seorang Rasul yang diberi pimpinan dengan Wahyu, Nabi Luth telah tahu bahwa satu waktu negeri itu akan ditimpa malapetaka besar.
Karena kesalahan dan kesesatan manusia dan pelanggaran-pelanggaran-nya atas hukum-hukum Ilahi, pastilah akan mendapat balasan yang setimpal. Sebab itu jika siksaan Allah itu datang, beliau mohon kepada Allah agar dia dan pengikut-pengikutnya, yaitu orang-orang yang bersih dari penyakit itu jangan sampai kena percikan bahayanya.
Apa yang telah beliau sangka itu memanglah terjadi. Di dalam Surat-surat yang lain dijelaskan bahwa beberapa Malaikat datang ke negeri itu merupakan diri sebagai laki-laki muda yang manis-manis, menjadi tetamu dari Nabi Luth. Lalu mereka tuntut kepada Nabi Luth supaya tamu-tamu manis itu diserahkan kepada mereka, akan mereka setubuhi pula. Karena memang, penyelidikan Ilmu Jiwa membuktikan bahwa laki-laki yang ditimpa penyakit begini, sangatlah timbul syahwatnya melihat laki-laki muda (amrod), lebih daripada melihat gadis-gadis cantik. Padahal Malaikat itu datang memberitahu kepada Nabi Luth bahwa negeri itu akan dihancur-leburkan. Maka permohonan doa Nabi Luth diperkenankan Tuhan.
Ayat 170
“Maka telah Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya sekalian." (ayat 170). Di dalam beberapa tafsir yang juga telah kita tafsirkan pada Surat-surat yang lain, Malaikat Utusan Allah itu menyuruh Nabi Luth dan ahli-ahlinya atau pengikut-pengikutnya, termasuk anak-anak perempuannya dan menantu-menantunya, disuruh berangkat tengah malam menjelang Subuh. Sebab di waktu Subuh azab pun datang, negeri itu ditungyang-balikkan Tuhan dan dihujani oleh api, sehingga penduduknya habis terbakar.
Ayat 171
“Kecuali seorang perempuan tua; termasuklah dia dalam golongan orang-orang yang tinggal" (ayat 171). Di dalam ayat ini dan di dalam ayat lain yang menyebut kisah Nabi Luth ini tidak pemah disebut siapa perempuan itu, hanya dikatakan saja bahwa dia adalah perempuan tua. Tetapi pada akhir Surat at-Tahrim (Surat 66) yang diturunkan di Madinah, barulah Tuhan membukakan rahasia siapa perempuan tua itu. Rupanya dia adalah isteri dari Nabi Luth sendiri. Setengah ahli tafsir mengatakan bahwa di samping suaminya selalu berda'wah mengajak kaumnya untuk merubah perangai busuk itu, dia dengan diam-diam menjadi penganjurnya. Dan kata setengah tafsir, dia memberi peluang laki-laki menyetubuhi laki-laki, dan kata setengahnya pula dia ditimpa pula oleh penyakit itu, yaitu menyukai sesama perempuan. Maka berlakulah hukum Tuhan dengan adilnya. Walaupun dia isteri seorang Nabi, dia pun mendapat hukuman yang setimpal. Di waktu Nabi Luth dan para pengikutnya berangkat, dia tercecer seorang diri tinggal dalam kota dan turut hancur jadi abu.
Ayat 172
Dan ini bertambah jelas lagi pada ayat selanjutnya: “Kemudian itu Kami hancur-binasakanlah yang lain-lain." (ayat 172). Yaitu setelah Nabi Luth dan pengikut-pengikutnya selamat keluar dari negeri itu terkecuali perempuan tua yang ikut tinggal dengan penduduk negeri yang kena azab siksa itu. Mereka dihancur-leburkan oleh siksaan Allah.
Ayat 173
"Dan Kami hujani mereka dengan hujan (siksaan) Maka amat ngerilah hujan siksaan itu bagi mereka yang diancam itu." (ayat 173).
Berbagai ragamlah kata ahli-ahli tafsir menerangkan macamnya siksaan. Ada yang mengatakan bahwa sesudah penduduknya dihancurkan, negeri itu ditungyang-balikkan oleh Jibril, diangkat tinggi-tinggi, sehingga terdengar kokok ayam di langit, lalu dihancurkan ke bawah, habis musnah. Yang membuat tafsir ini adalah “ahli tafsir" yang menyangka bahwa di langit ada ayam berkokok.
Satu Ekspedisi Ilmu Pengetahuan dari satu Universitas di Amerika Syarikat, telah mencoba mencari dan menggali bekas negeri Sadum (Sodom) itu di dekat Laut Mati.
Ayat 174
Kemudian datanglah penutup kisah, sebagaimana yang terdahulu, “Sesungguhnya pada kejadian itu adalah suatu pengajaran, namun banyak juga di antara mereka tidak mau percaya." (ayat 174) Bahwa hal seperti ini bisa juga berulang, banyak juga orang tidak mau percaya. Padahal kisah ini dibicarakan berulang kali, ialah untuk pelajaran bangsa Belanda niscaya tidak percaya ayat ini sebelum mereka jatuh di Indonesia. Hanya beberapa bulan saja sesudah ditangkap berpuluh-puluh pegawai tinggi dan sarjana karena ditimpa penyakit kaum Luth atau Sodomis ini, memang terbakar pulalah kekuasaan mereka di Indonesia. Dan begitu juga di tempat lain dalam perulangan sejarah.
Ayat 175
“Dan sesungguhnya Tuhanmu itu, labh Yang Gagah, lagi Penyayang." (ayat 175).
Allah Maha Gagah, sehingga sewaktu-waktu dia dapat mendatangkan siksaannya dengan tiba-tiba. Tetapi orang yang taat menuruti petunjukNya janganlah khuatir, karena Tuhan adalah Maha Penyayang.