Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
أَلَمۡ
tidakkah
تَرَ
kamu perhatikan
إِلَىٰ
kepada
رَبِّكَ
Tuhanmu
كَيۡفَ
bagaimana
مَدَّ
Dia memanjangkan
ٱلظِّلَّ
bayang-bayang
وَلَوۡ
dan jika
شَآءَ
Dia menghendaki
لَجَعَلَهُۥ
niscaya dia menjadikannya
سَاكِنٗا
tetap diam
ثُمَّ
kemudian
جَعَلۡنَا
Kami jadikan
ٱلشَّمۡسَ
matahari
عَلَيۡهِ
atasnya
دَلِيلٗا
bukti/petunjuk
أَلَمۡ
tidakkah
تَرَ
kamu perhatikan
إِلَىٰ
kepada
رَبِّكَ
Tuhanmu
كَيۡفَ
bagaimana
مَدَّ
Dia memanjangkan
ٱلظِّلَّ
bayang-bayang
وَلَوۡ
dan jika
شَآءَ
Dia menghendaki
لَجَعَلَهُۥ
niscaya dia menjadikannya
سَاكِنٗا
tetap diam
ثُمَّ
kemudian
جَعَلۡنَا
Kami jadikan
ٱلشَّمۡسَ
matahari
عَلَيۡهِ
atasnya
دَلِيلٗا
bukti/petunjuk
Terjemahan
Tidakkah engkau memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan sekiranya Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikannya (bayang-bayang itu) tetap, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk,
Tafsir
(Apakah kamu tidak memperhatikan) yakni tidak melihat (kepada) ciptaan (Rabbmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang) mulai dari tenggelamnya matahari sampai dengan hendak terbitnya (dan kalau Dia menghendaki) yakni Rabbmu (niscaya Dia menjadikan bayang-bayang itu tetap) artinya tidak hilang sekalipun matahari terbit (kemudian Kami jadikan matahari atasnya) yakni bayang-bayang atau gelap itu (sebagai petunjuk) karena seandainya tidak ada matahari maka niscaya bayang-bayang atau gelap itu tidak akan dikenal.
Tafsir Surat Al-Furqan: 45-47
Apakah kamu tidak memperhatikan (ciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau Dia menghendaki, niscaya Dia sanggup menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu, kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan. Dialah yang menjadikan untukmu malam sebagai pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.
Ayat 45
Mulai dari bagian ini Allah ﷻ menjelaskan dalil-dalil yang menunjukkan keberadaan dan kekuasaan-Nya yang sempurna, bahwa Dialah yang menciptakan segala sesuatu yang beraneka ragam lagi kontradiksi itu. Untuk itu Allah ﷻ berfirman:
“Apakah kamu tidak memperhatikan (ciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang?” (Al-Furqan: 45)
Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abul Aliyah, Abu Malik, Masruq, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, An-Nakha'i, Ad-Dahhak, Al-Hasan, dan Qatadah telah mengatakan bahwa hal itu terjadi di antara terbitnya fajar sampai dengan terbitnya matahari.
“Dan kalau Dia menghendaki, niscaya Dia sanggup menjadikan tetap bayang-bayang itu.” (Al-Furqan: 45)
Yaitu tetap dan tidak hilang, seperti yang disebutkan oleh Allah ﷻ dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untuk kalian malam itu terus-menerus’.” (Al-Qasas: 71).
Adapun firman Allah ﷻ: “Kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu.” (Al-Furqan: 45)
Artinya, seandainya matahari tidak terbit atas bayang-bayang itu, tentulah bayang-bayang itu tidak akan ada; karena sesungguhnya sesuatu itu tidak dikenal melainkan melalui lawannya.
Qatadah dan As-Saddi mengatakan bahwa matahari sebagai petunjuk yang mengiringi dan mengikutinya hingga sinar matahari berada di atasnya.
Ayat 46
Firman Allah ﷻ: “Kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan.” (Al-Furqan: 46)
Menurut suatu pendapat, damir yang ada pada ayat kembali kepada bayang-bayang. Sedangkan menurut pendapat yang lain, kembali kepada matahari. Yang dimaksud dengan yasiran ialah perlahan-lahan. Menurut Ibnu Abbas artinya cepat, sedangkan menurut Mujahid tersembunyi.
As-Saddi mengatakan tarikan yang tersembunyi, sehingga tiada bayangan lagi di muka bumi melainkan yang ada di bawah atap atau di bawah pohon, karena matahari menyinari semua yang ada di atas bumi. Ayyub ibnu Musa mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “dengan tarikan yang perlahan-lahan.” (Al-Furqan: 46) Yakni sedikit demi sedikit.
Ayat 47
Firman Allah ﷻ: “Dialah yang menjadikan untuk kalian malam sebagai pakaian.” (Al-Furqan:47)
Maksudnya, menyembunyikan wujud dan menutupinya. Sama dengan yang disebutkan oleh Allah ﷻ dalam ayat yang lain melalui firman-Nya: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (Al-Lail: 1).
Firman Allah ﷻ: “Dan tidur untuk istirahat.” (Al-Furqan: 47)
Yaitu menghentikan semua gerakan untuk istirahat agar tubuh menjadi segar kembali. Karena sesungguhnya semua anggota tubuh dan panca indra mengalami kelelahan akibat banyak bergerak dalam melakukan aktivitas di siang hari mencari penghidupan. Apabila malam hari tiba dan suasana menjadi tenang, maka menjadi tenang pula semua gerakan dan beristirahat, lalu datanglah rasa kantuk, kemudian tertidur. Tidur merupakan istirahat bagi tubuh dan roh sekaligus.
“Dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (Al-Furqan: 47).
Manusia melakukan aktivitasnya di siang hari untuk mencari penghidupannya lewat usaha serta kerjanya, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untuk kalian malam dan siang, supaya kalian beristirahat pada malam itu dan supaya kalian mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari).” (Al-Qasas: 73), hingga akhir ayat.
Pada ayat-ayat di bawah ini dijelaskan enam fenomena alam seluruh sebagai bukti kekuasaan dan anugerah Allah. Ke enam fenomena tersebut adalah suasana teduh, terjadinya malam dan siang, kisaran angin, turunnya hujan, tidak bercampurnya air tawar dan air asin, dan terciptanya manusia dari air mani. Tidakkah engkau, wahai Rasul, memperhatikan penciptaan Tuhanmu, dengan mata kepalamu atau dengan pikiranmu, akan besarnya kekuasaan Tuhanmu dan anugerah-Nya yang demikian besar kepada makhluk-Nya, bagaimana Dia memanjangkan dan memendekkan bayang-bayang atau keteduhan yaitu situasi antara terang benderang dan gelap, hal itu terjadi setelah terbit fajar sampai terbit matahari, dan waktu setelah matahari terbenam sebelum gelapnya malam. Dan sekiranya Dia Allah menghendaki untuk melakukan sebaliknya, niscaya Dia jadikannya bayang-bayang dan suasana teduh itu tetap, tidak bergeser dari tempatnya. Jika hal itu terjadi, semua makhluk akan menderita. Jika matahari terus menerus menyoroti bumi, manusia dan makhluk lainnya akan terbakar. kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk akan adanya bayang-bayang dan situasi teduh tersebut. Jika tidak ada matahari, tidak akan terjadi bayang-bayang di bumi. Inilah fenomena alam yang harus direnungkan oleh manusia, bahwa dibelakang semua gerakan alam seluruh ada Zat yang sangat berkuasa yaitu Allah. 46. Lalu Allah menjelaskan fenomena alam berikutnya yaitu: kemudian Kami menariknya bayang-bayang itu, kepada Kami sesuai dengan kebijakan Kami, sedikit demi sedikit, tidak sekaligus sesuai dengan kecepatan gerakan matahari yang demikian cermat dan terukur. Suasana teduh di pagi hari digantikan oleh terangnya cahaya matahari. Kemudian pada saat sore hari, diwaktu matahari bergerak ke ufuk barat, sedikit demi sedikit, sorot matahari digantikan oleh suasana redup dan teduh kembali dalam rentang waktu yang sangat pendek, sampai datang waktu malam yang gelap gulita.
Pada ayat ini, Allah memerintahkan rasul-Nya supaya memperhatikan ciptaan-Nya, bagaimana Dia memanjangkan dan memendekkan bayang-bayang dari tiap-tiap benda yang terkena sinar matahari, dari mulai terbit sampai terbenam. Allah sengaja menjadikan panas dari terik cahaya matahari. Kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan bayang-bayang itu tetap, tidak berpindah-pindah. Allah menjadikan bayang-bayang itu memanjang atau memendek untuk dipergunakan manusia sebagai pengukur waktu, seperti di Mesir mempergunakan alat yang diberi nama al-Misallat untuk mengukur waktu pada siang hari dan menentukan musim-musim selama setahun. Sejak dahulu kala, bangsa Arab pun telah mempergunakan alat yang diberi nama al-Mazawil untuk menentukan waktu salat dengan bayang-bayang. Mereka dapat memastikan tibanya waktu Zuhur bila bayangan jarumnya sudah berpindah dari arah barat ke timur, dan tiba waktu Asar bila bayangan setiap benda yang berdiri sudah menyamainya. Hanya Imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa bayangan itu harus dua kali dari panjang benda itu sendiri. Jadi jelas bahwa menurut ayat ini, Allah menjadikan bayang-bayang dari sinar matahari sebagai petunjuk waktu.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Demikianlah selalu manusia diberi ancaman karena kesalahan yang mereka perbuat. Kecelakaan yang menimpa dirinya adalah karena kesalahannya sendiri. Aniaya dan kezaliman tidak pernah dilakukan oleh Tuhan. Perutusan Nabi-nabi dan Rasul-rasul adalah alamat kasihan Tuhan atas hamba-hambaNya.
Kemudian itu pada ayat 45 ini kembali Tuhan membujuk RasulNya dan membujuk, setiap pejuang yang menuruti langkah-langkah Rasul itu tentang perjuangan hidup ini."Tidakkah engkau lihat, hai UtusanKu betapa Tuhan memanjangkan bayang-bayang dan jikalau Dia mau niscaya dijadikannya bayang-bayang itu tetap. Kemudian itu dijadikanNya Matahari menjadi tanda. (46) Kemudian itu Kami tarik dia kepada Kami sedikit demi sedikit."
Pengembaraan di padang pasir yang begitu luas, perjalanan berhari-hari dengan kafilah (caravan) dalam terik panasnya matahari, akan terasalah betapa nyamannya alam keliling jika bertemu dengan tempat berteduh. Entah berjumpa pohon rindang atau awan melindungi diri. Renungkanlah perjalanan hidup itu, menempuh panas terik dan bayangan tempat berteduh. Menempuh siang yang panas, kemudian itu kegelapan malam dan perteduhan yang lama. Jika fajar telah menyingsing seakan-akan tertegunlah keteduhan itu sesaat seketika sebelum matahari terbit. Alangkah tenang perasaan di pagi Subuh. Dan apabila matahari telah terbit, panjanglah bayangan kita menuju ke Barat. Beransur demi beransur panas naik, karena matahari telah naik. Sampai di pertengahan siang, buntarlah bayang-bayang, dan letailah tulang, dan cacaulah ragi kain. Kemudian matahari tadi pun condong ke Barat dan bayang-bayang kita pun condonglah ke Timur.
Selalu setiap hari kita bergelut dengan, bayang-bayang kita. Namun demikian jaranglah kita memperhatikan betapa pengaruh perjalanan matahari kepada bayaruf-bayang dan kepada “hidup, “jaranglah kita memperhatikan bahwa pergelaran keeoriddiigan bayangan adalah “ayat" jua dari kekuasaan Tuhan. Bahwa hidup kita tiada terlepas daripada pergantian masa yang menuruti peraturan yang telah tertentu jutaan dan jutaan tahun.
“Jikalau Dia mau niscaya dijadikanNya bayang-bayang itu tetap." Jikalau Dia mau, niscaya dihentikanNya perjalanan matahari itu seketika. Atau kalau Dia mau, terhentilah bumi mengedari matahari — lindungan bayang-bayang bulan, itu pun mencemaskan kita. Dan kalau itu terjadi, kacaulah hidupmu. Gambarkanlah dalam fikiran betapa gerangan perasaan kita jika gerhana terjadi, jika cahaya matahari dihambat sampai ke bumi oleh bayang-bayang bulan, sehingga seluruh bumi menjadi gelap.
Sadarkah engkau betapa pentingnya bayang-bayang dan keteduhan untuk hidupmu? Bukankah dalam perjalanan musafir yang jauh, bila bertemu sebuah Oase (wadi) yang banyak kayu-kayuan, kamu pun berteduh ke tempat itu untuk melepaskan lelah? Sadarkah engkau bahwa engkau sendiri pun perlu kepada khemah untuk mencari keteduhan? Bahkan engkau pun mendirikan rumah untuk berteduh? Dengan bayang-bayang dan keteduhan engkau memulihkan kembali kekuatanmu yang telah hilang karena teriknya panas. Dan “Matahari adalah dalil pertanda satu-satunya dari kejadian itu."
“Kemudian itu Kami tarik dia kepada Kami, dengan tarikan yang beransur, sedikit demi sedikit." Sehingga kamu tidak merasainya. Baik tarikan di waktu fajar menjelang siang, ataupun seketika matahari terbenam ke ufuk Barat.
Gambarkanlah bagaimana kalau bayangan itu tidak ada? Misalnya hari siang terus? Bumi berhenti beredar? Apa artinya hidupmu lagi?
Maka dalam perjalanan melakukan tugas hidup, ayat ini menyadarkan kita bahwa musim panas bergilir dengan musim dingin, panas terik bergilir dengan keteduhan, sehingga terbitlah dalam pepatah pantun orang tua-tua:
Gaba-gaba di halaman tangsi,
dibuat anak rang paseban;
Sabar-sabar menahan hati,
hujan dan panas berbalasan.
Insaflah bahwa Tuhan Maha Kuasa menahan matahari itu sejenak dalam peredarannya, karena alam ini kecil saja di hadapan kebesaran kudrat iradat Tuhan. Dengan ingat kepada yang demikian, engkau pun meneruskan perjalanan. Walaupun dahaga menimpa diri, tak lama akan bertemulah sumur tua, dan kamu akan minum, dan di sana ada tempat bertemu.
Setelah Tuhan memperingatkan betapa pentingnya bayangan dan keteduhan. Tuhan peringatkan lagi edaran siang dan malam, dan pentingnya pula sebagai segi hidup manusia, pada ayat 47: “Dan Dia yang telah menjadikan malam itu untuk kamu menjadi pakaian, dan tidur untuk istirahat dan siang untuk bangkit bangun kembali."
Alangkah halus ibarat yang dinyatakan Tuhan pada ayat ini. Apabila segala tenaga dan energi kita telah kita tumpahkan bagi kepentingan hidup kita di siang hari, bertani, berniaga, berusaha, berkantor, beipejabat dan belajar. Berjuang ke medan hidup dipelopori oleh cita dan cinta, beransur sebagai beransur turunnya matahari, tenaga pun mulai habis dan hari pun mulai senja, kita kembali ke rumah kita. Kita tinggalkan segala haru-hari yang membisingkan kepala, dan hari pun mulai malam. Cahaya matahari berganti dengan cahaya lampu-lampu. Dengan tidak disadari maka keteduhan malam menenteramkan kembali jiwa raga kita. Kita bercengkerama dengan anak dan dengan istri. Kita bertawajjuh dan bermunajat. kepada Tuhan mensyukuri nikmatNya. Dan semuanya itulah pakaian (libaas) yang sejati.
Pakaian-pakaian yang kita pakai siang hari telah kotor kena keringat dan telah kita tanggalkan. Dan bila hari telah malam, kita mulai melekatkan pakaian yang bersih; bersih lahir dan batin. Kita hidup bersenyum simpul dengan isteri teman hidup kita. Kita adalah pakaiannya dan dia adalah pakaian kita.
“Mereka adalah pakaian bagi kamu dan kamu adalah pakaian bagi mereka."
Kita mulai menyalinkan kasih-sayang dengan anak dan keturunan kita. Suatu syair Arab menyatakan;
“Anak-anak kita itu adalah limpa kita sendiri, yang berjalan di atas bumi."
Dan di atas dari itu semuanya ialah pakaian untuk Rohani kita. Rohani ini kita beri pakaian yang bersih malam-malam, yaitu dengan penguatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita mensyukuri rezeki yang telah diberikan dan mengharap pada hari yang selanjutnya diberi kekuatan yang baru. Takwa kepada Allah adalah pakaian, untuk hidup dan untuk mati.
Jika seseorang tidak memakai pakaian takwa,
niscaya telanjanglah dia walaupun dia berpakaian.
Dan kata syair yang lain:
Jika hati seseorang tidak dipenuhi oleh rasa benci,
apa jua pun pakaian yang dipakainya, indah juga kelihatan.
Setelah itu kita pun tidur. Urat-urat saraf kita telah istirahat, hati kita senang sebab merasa bahwa hutang kepada Tuhan telah terbayar, tanggungjawab telah dilaksanakan dan tugas telah dipikul sekedar tenaga yang ada. Mata pun ter-picing, tidur pun nyenyak... sampai kedengaran suara azan Subuh dan kita dipanggil menghadap Tuhan, karena akan bekerja lagi, sebab siang sudah mendatang. Kita pun bangkit dengan tenaga yang baru. Segala puji bagi Allah.
Pada ayat ini dapatlah kita camkan betapa hidup manusia tidak pisah dengan pergantian siang dan malam dan edaran falak selanjutnya. Akan terasalah bahwa insan tidak dapat memisahkan hidupnya dari alam sekelilingnya. Dan lebih nyata lagi sari wahyu itu dengan ayat yang selanjutnya (48): “Dan Dialah yang mengirim angin membawa khabar baik di hadapan rahmatNya."
Bukan saja di padang pasir terik di Tanah Arab, pengaruh ayat ini dapat dirasakan. Di negeri kita, daerah Khatul-lstiwa ini pun dapatlah dirasakan pengaruhnya. Pada daerah-daerah yang ﷺahnya berbandarkan langit, sudah ditentukan waktu akan turun ke ﷺah, padahal hujan belum juga turun. Tahun demi tahun musim tetap berganti, namun setiap petani masih saja merasa cemas hujan belum juga turun. Tiba-tiba kelihatanlah awan mendung mengandung hujan; maka kita lihatlah pada wajah petani mengandung kegembiraan, rasa harap-harap cemas. Belum lagi hujan turun, rahmat sudah terasa dalam tangan, padi akan baik tumbuhnya di tahun ini, berlipat-ganda hasil bumi, sumur-sumur tidak akan kering lagi. Sehingga binatang ternak pun diberi pengertian dengan nalurinya bahwa mendung awan kiriman Tuhan yang akan menurunkan hujan itu adalah rahmat adanya.
Kemudian, “Kami turunkan dari langit air yang bersih." Hujan pun turun, sejuk dingin, kelayuan hilang baik pada orang ataupun pada binatang, ataupun pada tumbuh-tumbuhan."Supaya Kami hidupkan suatu negeri yang telah mati, dan Kami beri minum segala makhluk, baik binatang atau manusia yang banyak itu."
Bila hujan telah turun, walaupun hanya sejam dua jam, bahkan kadang-kadang hanya seperempat jam saja, kelihatan desa yang telah mati menjadi hidup kembali. Kegembiraan terbayang pada segala mata.
Tafsir ayat ini dibuat pada pagi hari Arba'tanggal 17 Juli 1963, 26 Safar 1383. Sudah hamper sebulan di Jakarta tidak turun hujan, segalanya kelihatan lesu, kebetulan penyaringan air di Pejompongan rusak pula, sehingga air saluran untuk rumah-rumah penduduk terpaksa dibatasi, sumur mulai kering, bahkan aliran listrik pun sebab air yang menekan mesin listrik telah kurang pula tenaganya. Tiba-tiba pada malamnya hujan sejenak, kira-kira setengah jam. Setelah hari pagi, tanam-tanaman di hadapan rumah kelihatan menghijau, membayangkan kegembiraan, dan rumput di halaman Mesjid Agung Al-Azhar menyangkat muka, menengadah langit mengucap, syukur!
Renungkanlah olehmu hai Insan! Jika tadi bayang-bayang dan keteduhan, pergelaran di antara siang dan malam, adalah sebahagian dari yang menentukan hidupmu, maka air pun adalah membawa hidup bagi sekalian makhluk:
,
“Dan Kami jadikan dari sebab air se gala sesuatu menjadi hidup."
Maka pada ayat 50 ditekankan lagi oleh sari wahyu itu:
“Dan sesungguhnya telah Kami edarkan (hujan itu) di antara mereka agar mereka kenangkan."
Agar mereka ingat bahwasanya kekacauan sedikit saja dari turunnya hujan itu akan sangat besarlah pengaruhnya atas kehidupan mereka dan sandang pangan mereka. Tetapi awaslah hendak dikata, “Engganlah kebanyakan manusia memikirkan dan mengenangkan itu, mereka lebih suka mengingkarinya."
Setelah itu maka pada ayat 51 Tuhan menerangkan bahwa kalau Dia mau, Dia sanggup mengirim utusan-utusanNya untuk setiap desa, untuk memberikan aricaman kepada manusia yang lalai. Manusia yang tidak menaruhkan perhatiannya akan hubungan hidupnya dengan alam sekelitingnya itu, dengan panas dan keteduhan, dengan siang pengganti malam dan dengan hujan turun ke bumi. Tetapi meskipun Tuhan berkuasa mengirim Rasul untuk setiap desa, diutusNya jualah SEORANG RASUL, penutup sekalian Rasul, yang ukuran peribadinya bukan untuk sebuah desa, tetapi untuk seluruh dunia. Dan untuk segala zaman, bukan semata untuk satu zaman. itulah dia Muhammad s.a.w.
Ilmu Allah Ta'ala yang meliputi segala ruang dan segala waktu itu telah menentukan bahwa tidak perlu lagi untuk setiap desa seorang Rasul. Rasul yang seorang ini sudahlah, menjadi pilihan (mushtafaa) untuk seluruh dunia. Kalau setiap satu desa disediakan satu utusan, niscaya kaliber ukuran jiwa “Nabi Desa" itu hanya sebesar desa itu pula. Timbulnya ayat ini adalah sebagai sanggahan kepada orang-orang desa yang berjiwa kecil, yang megah dengan desanya, lalu tidak mau tahu dengan kebesaran Rasul s.a.w. Islam bukanlah untuk mempersempit daerah untuk hidup, tetapi memperluas medan untuk jihad. Apatah lagi kian seabad demi seabad, dunia ini pun telah kecil karena hubungan tambah mudah.
Maka datanglah ayat 52, sebagai perangsang penghasung kepada Rasul utama untuk dunia itu. Muhammad s.a.w. “Jangan engkau tunduk kepada orang-orang kafir itu."
Artinya, jangan engkau bimbang, ukuranmu bukan ukuran desa, engkau adalah rahmat untuk seluruh Alam; “Teruskan jihad dan perjuangan ini, dan senjata yang akan engkau pakai dalam perjuangan yang engkau tempuh itu tidak lain ialah al-Qur'an itu sendiri."
Al-Qur'an Wahyu llahi. Kalamullah, untuk seluruh dunia. Berjuanglah engkau dengan semangat yang besar menegakkan al-Qur'an itu selama hayatmu dikandung badan, dan jika pun datang waktunya panggilanKu, engkau mati, namun suara al-Qur'an itu akan terus membahana di atas permukaan bumi.
Maka amatlah berkesan ayat 52 ini, wahyu kepada Muhammad s.a.w., tetapi besar kesannya atas jiwa kita sebagai penyambut waris Muhammad. Kita pun mempunyah tugas melanjutkan jihad dengan al-Qur'an ini, jihad yang besar. Jihad yang tidak mengenal telah. Apabila kita renungkan dengan seksama, sadarlah kita akan nilai hidup kita dan mission sacre (Tugas Such) kita sebagai Muslim dalam alam ini. Sebagaimana kata seorang penyair:
Tegaklah memperjuangkan keyakinanmu dalarn hidup ini, -karena hidup itu ialah keyakinan dan perjuangan.
Setelah kita mengetahui tugas hidup itu, kita pun mendapat diri kita sendiri. Dan mencari diri sendiri itu adalah pekerjaan yang terhitung sukar dalam alam ini. Tetapi apabila kita telah mengenal tugas kita, kita pun mencapailah ketenteraman yang kita cari. Kita pun tidak kehilangan pegangan lagi. Dengan pedoman demikian, yaknh berjuang menegakkan Kalimat Allah, menegakkan al-Qur'an, kita meneruskan perjaaanan. Maka datanglah ayat 53, memberi Ingat dan menyuruh kita merenung lagi keadaan alam sekeliling kita.
“Dan Dialah yang mencampurkan dua taut, yang ini tawar sejuk, yang itu asin pahit, dan di antara keduanya ada pembatas dan penghalang yang tidak bisa dilalui."
Air sungai yang tawar enak diminum, sejuk menguras melepas dahaga, telah beribu tahun mengalir ke lautan yang airnya asin pahit. Setiap waktu air laut yang asin mendidih naik dipanaskan oleh cahaya matahari atau dibawa angin dahsyat, namun sampai di udara air yang asin itu disaring oleh awan dan dia jatuh ke bumi sebagai hujan, telah tawar sejuk pula dan hilang asinnya. Namun apabita kita pergi ke kuala kita melihat air asin dan air tawar bertemu, namun batas daerah air asin dengan daerah air tawar nampak juga. Kalau di Tanah Arab orang memperhitungkan sungai Nil, Eufrat dan Dajlah, maka di negeri kita Indonesia terdapat berpuluh sungai-sungai besar di pulau-pulau yang besar-besar pula; namun Samudera Indonesia tetap asin dan Danau Toba tetap tawar.
Bagaimana jadinya kaiau di atas sernuanya itu tidak diakui ada yang mengatur yaitu Tuhan Allah? Bukankah ini pertanda bahwa bagi Alam ada Tuhan yang mengatur?
Sudah banyak dalam ayat inh membicarakan air; air hujan yang turun, air tawar daratan dan air asin lautan, maka disuruh lagi kita memperhatikan suatu masalah air yang lain. Yaitu bahwa: “Dia pula yang menjadikan manusia daripada air juga." Alangkah pentingnya air!
Setetes air mani mengandung berjuta bibit untuk dijadikan manusia. Dan manusia itu, yang berasal dari air telah memenuhi bumi ini abad demi abad. Biarpun dia raja perkasa, ataupun dia rakyat hina-dina, adakah insan yang tidak berasal dan air? Manusia yang asal dari air itu berkawin berketurunan, semenda-menyemenda, beripar, berbesan, bermenantu, bermertua.
Setelah air mani, mencipta manusia dan manusia itu hidup, Siapakah yang menghubungkan setetes air mani itu dengan yang dinamai hidup? Mungkinkah tercipta hidup ini daripada sesuatu yang mati? Mungkinkah ADA sesuatu daripada yang tidak ada?
Kalau jiwamu mati tak berisi, kosong dan melompong, tidaklah ada perhatianmu kepada hal itu. Hujan, laut dan ... mani. Kemudian itu hidup!
Maka datanglah ayat 55: “Kamu menyembah kepada yang selain Allah." Kamu menyembah berhala, padahal berhala itu kamu sendiri yang membuatnya."Dan berhala itu tidaklah sanggup memberi manfaat dan mudharat, dan tidaklah sanggup menciptakan hujan, mengasinkan atau mentawarkan air. Bahkan tidak sanggup memberi hidup pada setetes mani. Alangkah bodohmu!
“Bahkan orang-orang yang kafir dan ingkar itu mencoba menolong syaitan guna menentang Tuhan."
Demi merenung susunan ayat ini, terasalah bahwa Islam adalah menyadarkan akal kita buat bangkit. Menyadarkan pertalian manusia dengan alam kelilingnya, kemudian itu pertalian mereka dengan Tuhan Allah Yang Maha Esa. Setiap orang disuruh sadar, disuruh mempergunakan fikiran. Dan pada ayat-ayat itu pun nyata akan lebih mendalamlah terhunjam Iman dalam hati kalau kita menuntut Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Falak, Ilmu tentang-Manusia dan sekalian macam cabang Ilmu Pengetahuan. Sebab ilmu membawa kita kepada Iman.
Frightening the Idolators of Quraysh
Allah tells:
وَلَقَدْ اتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَا مَعَهُ أَخَاهُ هَارُونَ وَزِيرًا
فَقُلْنَا اذْهَبَا إِلَى الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِأيَاتِنَا فَدَمَّرْنَاهُمْ تَدْمِيرًا
And indeed We gave Musa the Scripture, and placed his brother Harun with him as a helper; And We said:Go you both to the people who have denied Our Ayat.
Then We destroyed them with utter destruction.
Allah threatens the idolators who denied and opposed His Messenger Muhammad and He warns them of the punishment and painful torment He sent upon the previous nations who rejected their Messengers.
Allah begins by mentioning Musa, upon him be peace, whom He sent along with his brother Harun as a helper -- i.e., as another Prophet who helped and supported him -- but Fir`awn and his chiefs denied them both:
دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلِلْكَـفِرِينَ أَمْثَـلُهَا
Allah destroyed them completely, and similar (awaits) the disbelievers. (47:10)
And when the people of Nuh denied him, Allah destroyed them likewise, for whoever denies one Messenger denies all the Messengers, because there is no difference between one Messenger and another. If it had so happened that Allah had sent all His Messengers to them, they would have denied them all.
Allah says
وَقَوْمَ نُوحٍ لَّمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ
And Nuh's people, when they denied the Messengers,
although Allah sent only Nuh to them, and he stayed among them for 950 years, calling them to Allah and warning them of His punishment,
وَمَا امَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ
(And none believed with him, except a few. (11:40)
For this reason Allah
أَغْرَقْنَاهُمْ
drowned them all and left no one among the sons of Adam alive on earth apart from those who boarded the boat,
وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ ايَةً
and We made them a sign for mankind.
meaning a lesson to be learned.
This is like the Ayah,
إِنَّا لَمَّا طَغَا الْمَأءُ حَمَلْنَـكُمْ فِى الْجَارِيَةِ
لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَأ أُذُنٌ وَعِيَةٌ
Verily, when the water rose beyond its limits, We carried you in the boat. That We might make it a remembrance for you, and the keen ear may understand it. (69:11-12)
which means:`We left for you ships that you ride upon to travel across the depths of the seas, so that you may remember the blessing of Allah towards you when He saved you from drowning, and made you the descendants of those who believed in Allah and followed His commandments.'
..
وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا
And We have prepared a painful torment for the wrongdoers.
Allah further tells
وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ
And (also) `Ad and Thamud, and the Dwellers of Ar-Rass,
We have already discussed their story, which is referred to in more than one Surah, such as Surah Al-A`raf, and there is no need to repeat it here.
As for the Dwellers of Ar-Rass, Ibn Jurayj narrated from Ibn Abbas about the Dwellers of Ar-Rass that:
they were the people of one of the villages of Thamud.
Ath-Thawri narrated from Abu Bukayr from Ikrimah that:
Ar-Rass was a well where they buried (Rassu) their Prophet.
وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا
and many generations in between.
means nations, many more than have been mentioned here, whom We destroyed.
Allah said
وَكُلًّ ضَرَبْنَا لَهُ الاَْمْثَالَ
And for each We put forward examples,
meaning, `We showed them the proof and gave them clear evidence,'
as Qatadah said, They had no excuse.
وَكُلًّ تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا
and each (of them) We brought to utter ruin.
means, `We destroyed them completely.'
This is like the Ayah,
وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِن بَعْدِ نُوحٍ
And how many generations (Qurun) have We destroyed after Nuh! (17:17)
Generations (Qurun) here refers to nations among mankind.
This is like the Ayah,
ثُمَّ أَنشَأْنَا مِن بَعْدِهِمْ قُرُوناً ءَاخَرِينَ
Then, after them, We created other generations (Qurun). (23:42)
Some defined a generation as being 120 years, or it was said that a generation was one hundred years, or eighty, or forty, etc. The most correct view is that a generation refers to nations who are one another's contemporaries, living at the same time. When they go and others succeed them, this is another generation, as it was recorded in the Two Sahihs:
خَيْرُ الْقُرُونِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُم
The best of generations is my generation, then the one that follows it, then the one that follows that
وَلَقَدْ أَتَوْا عَلَى الْقَرْيَةِ الَّتِي أُمْطِرَتْ مَطَرَ السَّوْءِ
And indeed they have passed by the town on which was rained the evil rain.
refers to the town of the people of Lut, which was called Sodom, and the way in which Allah dealt with it, when He destroyed it by turning it upside down and by sending upon it the rain of stones of baked clay, as Allah says:
وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِم مَّطَراً فَسَأءَ مَطَرُ الْمُنذَرِينَ
And We rained on them a rain. And how evil was the rain of those who had been warned! (26:176)
وَإِنَّكُمْ لَّتَمُرُّونَ عَلَيْهِمْ مُّصْبِحِينَ
وَبِالَّيْلِ أَفَلَ تَعْقِلُونَ
Verily, you pass by them in the morning. And at night; will you not then reflect! (37:137-138)
وَإِنَّهَا لَبِسَبِيلٍ مُّقِيمٍ
And verily, they were right on the highroad. (15:76)
وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُّبِينٍ
They are both on an open highway, plain to see. (15:79)
Allah says:
أَفَلَمْ يَكُونُوا يَرَوْنَهَا
Did they not then see it!
meaning, so that they might learn a lesson from what happened to its inhabitants of punishment for denying the Messenger and going against the commands of Allah.
بَلْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ نُشُورًا
Nay! But they used not to expect any resurrection.
means, the disbelievers who passed by it did not learn any lesson, because they did not expect any resurrection, i.e., on the Day of Judgement
How the Disbelievers mocked the Messenger
Allah tells:
وَإِذَا رَأَوْكَ إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلاَّ هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولاًإ
And when they see you, they treat you only in mockery (saying):Is this the one whom Allah has sent as a Messenger!
Allah tells us how the disbelievers mocked the Messenger when they ﷺ him. This is like the Ayah,
وَإِذَا رَاكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلاَّ هُزُواً
And when the disbelievers see you, they take you not except for mockery, (21:36)
which means that they tried to find faults and shortcomings in him.
Here Allah says:
وَإِذَا رَأَوْكَ إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلاَّ هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولاًإ
And when they see you, they treat you only in mockery (saying):
Is this the one whom Allah has sent as a Messenger!
i.e., they said this by way of belittling and trying to undermine him, so Allah put them in their place, and said:
وَلَقَدِ اسْتُهْزِىءَ بِرُسُلٍ مِّن قَبْلِكَ
And indeed Messengers before you were mocked at. (6:10
إِن كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ الِهَتِنَا
He would have nearly misled us from our gods,
They meant:`he nearly turned us away from worshipping idols, and he would have done so, had we not been patient and persevered in our ways.'
لَوْلَا أَن صَبَرْنَا عَلَيْهَا
had it not been that we were patient and constant in their worship!
So Allah said, warning and threatening them:
وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ
And they will know, when they see the torment...
مَنْ أَضَلُّ سَبِيلً
who it is that is most astray from the path!
They took Their Desires as their gods and were more astray than Cattle
Then Allah tells His Prophet that if Allah decrees that someone will be misguided and wretched, then no one can guide him except Allah, glory be to Him
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
Have you seen him who has taken as his god his own vain desire!
meaning, whatever he admires and sees as good in his own desires becomes his religion and his way.
As Allah says:
أَفَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءَ عَمَلِهِ فَرَءَاهُ حَسَناً فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَأءُ
Is he then, to whom the evil of his deeds is made fair seeming. So that he consider it as good. Verily, Allah sends astray whom he wills. (35:8)
أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلً
Would you then be a guardian over him!
Ibn Abbas said:
During the Jahiliyyah, a man would worship a white rock for a while, then if he ﷺ another that looked better, he would worship that and leave the first.
Then Allah said
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ
Or do you think that most of them hear or understand!
إِنْ هُمْ إِلاَّ كَالاَْنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلً
They are only like cattle -- nay, they are even farther astray from the path.
meaning, they are worse than grazing cattle. Cattle only do what they were created to do, but these people were created to worship Allah Alone without associating partners with Him, but they worship others with Him, even though evidence has been established against them and Messengers have been sent to them.
Evidence of the existence of the Creator and the extent of His Power
Here Allah begins explaining the evidence for His existence and His perfect power to create various things and pairs of opposites.
Allah says:
أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ
Have you not seen how your Lord spread the shadow.
Ibn Abbas, Ibn Umar, Abu Al-Aliyah, Abu Malik, Masruq, Mujahid, Sa`id bin Jubayr, An-Nakha`i, Ad-Dahhak, Al-Hasan, Qatadah, As-Suddi and others said,
This refers to the period from the beginning of the dawn until the sun rises.
وَلَوْ شَاء لَجَعَلَهُ سَاكِنًا
If He willed, He could have made it still,
meaning, immobile, never changing.
This is like the Ayat:
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِن جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الَّيْلَ سَرْمَداً
Say:Tell me! If Allah made the night continuous for you... (28:71)
ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلً
but We have made the sun its guide.
means, were it not for the sun rising, it would not be there, for a thing can only be known in contrast to its opposite.
Qatadah and As-Suddi said,
The sun is a guide which follows the shade until the shade disappears.
ثُمَّ قَبَضْنَاهُ إِلَيْنَا قَبْضًا يَسِيرًا
Then We withdraw it towards Ourselves -- a gradual withdrawal.
This refers to the shade.
يَسِيرًا
(gradual) meaning slowly.
As-Suddi said:
A gentle, concealed, withdrawal until there is no shade left on earth except under a roof or a tree, and the sun is shining on whatever is above it.
قَبْضًا يَسِيرًا
(a gradual withdrawal).
Ayub bin Musa said:
Little by little.
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا
And it is He Who makes the night a covering for you,
It covers and conceals all things.
This is like the Ayah:
وَالَّيْلِ إِذَا يَغْشَى
By the night as it envelops. (92:1)
وَالنَّوْمَ سُبَاتًا
and the sleep a repose,
means, a halt to movement so that bodies may rest. For the faculties and limbs get tired from their constant movement during the day when one goes out to earn a living. When night comes, and it becomes quiet, they stop moving, and rest; so sleep provides a rejuvenation for both the body and the soul.
وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا
and makes the day Nushur.
meaning, people get up and go out to earn a living and attend to their business.
This is like the Ayah:
وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُواْ فِيهِ وَلِتَبتَغُواْ مِن فَضْلِهِ
It is out of His mercy that He has made for you the night and the day that you may rest therein and that you may seek of His bounty... (28:73
This is also part of His complete power and supreme authority
Allah says:
وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ
And it is He Who sends the winds as heralds of glad tidings, going before His mercy;
Allah sends the winds as heralds of glad tidings, i.e., they bring the clouds behind them.
The winds are of many different types, depending on the purpose for which they are sent. Some of them form the clouds, others carry the clouds or drive them, and others come ahead of the clouds as heralds announcing their coming. Some of them come before that to stir up the earth, and some of them fertilize or seed the clouds to make it rain.
Allah says:
وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاء مَاء طَهُورًا
and We send down pure water from the sky,
meaning, as a means of purifying it.
Abu Sa`id said,
It was said:O Messenger of Allah, can we perform Wudu' with the water of the well of Buda`ah, for it is a well in which rubbish and the flesh of dogs are thrown.
He said:
إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْء
Water is pure and nothing makes it impure.
This was recorded by Ash-Shafi`i and Ahmad, who graded it Sahih, and also by Abu Dawud and At-Tirmidhi, who graded it Hasan, and by An-Nasa'i.
His saying
لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَّيْتًا
That We may give life thereby to a dead land,
means, a land that waited a long time for rain. It is devoid of vegetation or anything at all. When the rain comes to it, it becomes alive and its hills are covered with all kinds of colorful flowers, as Allah says:
فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَأءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ
but when We send down water to it, it is stirred to life and growth... (41:39)
His saying:
وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا
and We give to drink thereof many of the cattle and men that We had created.
means, so that animals such as cattle can drink from it, and people who are in desperate need of water can drink from it and water their crops and fruits.
This is like the Ayah:
وَهُوَ الَّذِى يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُواْ
And He it is Who sends down the rain after they have despaired, (42:28)
فَانظُرْ إِلَى ءَاثَـرِ رَحْمَةِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْىِ الاٌّرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَأ
Look then at the effects of Allah's mercy, how He revives the earth after its death. (30:50)
His saying
وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا
And indeed We have distributed it among them in order that they may remember,
means, `We cause rain to fall on this land and not on that, and We cause the clouds to pass over one land and go to another, where We cause sufficient rain to fall so that its people have plenty, but not one drop falls on the first land.'
There is a reason and great wisdom behind this.
Ibn Abbas and Ibn Mas`ud, may Allah be pleased with them said:
One year does not have more rain than another, but Allah distributes the rain as He wills. Then he recited this Ayah:
وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُورًا
And indeed We have distributed it (rain or water) amongst them in order that they may remember the grace of Allah, but most men refuse (out of) ingratitude.
meaning, so that they may be reminded, when Allah brings the dead earth back to life, that He is able to bring the dead and dry bones back to life, or that those from whom rain is withheld are suffering this because of some sin they have committed, so that they may give it up.
فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُورًا
but most men refuse (out of) ingratitude.
Ikrimah said,
This refers to those who say that rain comes because of such and such a star.
This view of Ikrimah is similar to the authentic Hadith recorded in Sahih Muslim;
one day after a night's rain, the Messenger of Allah said to his Companions:
أَتَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ
Do you know what your Lord says?
They said:Allah and His Messenger know best.
He said:
قَالَ
أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُوْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَاكَ مُوْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَاكَ كَافِرٌ بِي مُوْمِنٌ بِالْكَوْكَب
He says:
This morning some of My servants became believers in Me, and some became disbelievers. As for the one who said, `We have been given rain by the mercy and grace of Allah,' he is a believer in Me and a disbeliever in the stars. As for the one who said, `We have been given rain by such and such a star,' he is a disbeliever in Me and a believer in the stars.
The universality of the Prophet's Message, how He was supported in His Mission and Allah's Blessings to Mankind
Allah says:
وَلَوْ شِيْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا
And had We willed, We would have raised a warner in every town.
`Calling them to Allah, but We have singled you out, O Muhammad, to be sent to all the people of earth, and We have commanded you to convey the Qur'an,'
لااٌّنذِرَكُمْ بِهِ وَمَن بَلَغَ
that I may therewith warn you and whomsoever it may reach. (6:19)
وَمَن يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الاٌّحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ
but those of the sects that reject it, the Fire will be their promised meeting place. (11:17)
لِّتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا
that you may warn the Mother of the Towns and all around it. (42:7)
قُلْ يَأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
Say:O mankind! Verily, I am sent to you all as the Messenger of Allah... (7:158)
In the Two Sahihs it is reported that the Prophet said:
بُعِثْتُ إِلَى الاَْحْمَرِ وَالاَْسْوَد
I have been sent to the red and the black.
And:
وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّة
A Prophet would be sent to his own people, but I have been sent to all of mankind.
Allah says
فَلَ تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ
So obey not the disbelievers, but strive hard against them with it.
meaning, with the Qur'an.
This was the view of Ibn Abbas.
جِهَادًا كَبِيرًا
with the utmost endeavour.
This is like the Ayah,
يَأَيُّهَا النَّبِىُّ جَـهِدِ الْكُفَّـرَ وَالْمُنَـفِقِينَ
O Prophet! Strive hard against the disbelievers and the hypocrites, (9:73)
Allah says
وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ
And it is He Who has let free the two seas, this is palatable and sweet, and that is salty and bitter;
means, He has created the two kinds of water, sweet and salty. The sweet water is like that in rivers, springs and wells, which is fresh, sweet, palatable water.
This was the view of Ibn Jurayj and of Ibn Jarir, and this is the meaning without a doubt, for nowhere in creation is there a sea which is fresh and sweet.
Allah has told us about reality so that His servants may realize His blessings to them and give thanks to Him. The sweet water is that which flows amidst people. Allah has portioned it out among His creatures according to their needs; rivers and springs in every land, according to what they need for themselves and their lands.
وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ
and that is salty and bitter;
meaning that it is salty, bitter and not easy to swallow.
This is like the seas that are known in the east and the west, the Atlantic Ocean and the Straits that lead to it, the Red Sea, the Arabian Sea, the Persian Gulf, the China Sea, the Indian Ocean, the Mediterranean Sea, the Black Sea and so on, all the seas that are stable and do not flow, but they swell and surge in the winter and when the winds are strong, and they have tides that ebb and flow. At the beginning of each month the tides ebb and flood, and when the month starts to wane they retreat until they go back to where they started. When the crescent of the following month appears, the tide begins to ebb again until the fourteenth of the month, then it decreases.
Allah, may He be glorified, the One Whose power is absolute, has set these laws in motion, so all of these seas are stationary, and He has made their water salty lest the air turn putrid because of them and the whole earth turn rotten as a result, and lest the earth spoil because of the animals dying on it. Because its water is salty, its air is healthy and its dead are good (to eat), hence when the Messenger of Allah was asked whether sea water can be used for Wudu', he said:
هُوَ الطَّهُورُ مَاوُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُه
Its water is pure and its dead are lawful.
This was recorded by Malik, Ash-Shafi`i and Ahmad, and by the scholars of Sunan with a good (Jayyid) chain of narration.
وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا
and He has set a barrier and a complete partition between them.
meaning, between the sweet water and the saltwater.
بَرْزَخًا
(a barrier),
means a partition, which is dry land.
وَحِجْرًا مَّحْجُورًا
(and a complete partition),
means, a barrier, to prevent one of them from reaching the other.
This is like the Ayat:
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ
بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لاَّ يَبْغِيَانِ
فَبِأَىِّ ءَالاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
He has let loose the two seas meeting together. Between them is a barrier which none of them can transgress. Then which of the blessings of your Lord will you both deny! (55:19-21)
أَمَّن جَعَلَ الاٌّرْضَ قَرَاراً وَجَعَلَ خِلَلَهَأ أَنْهَاراً وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِىَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزاً أَءِلـهٌ مَّعَ اللهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Is not He Who has made the earth as a fixed abode, and has placed rivers in its midst, and placed firm mountains therein, and set a barrier between the two seas! Is there any god with Allah! Nay, but most of them know not! (27:61)
And Allah says
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاء بَشَرًا
And it is He Who has created man from water,
means, He created man from a weak Nutfah, then gave him shape and formed him, and completed his form, male and female, as He willed.
فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا
and has appointed for him kindred by blood, and kindred by marriage.
in the beginning, he is someone's child, then he gets married and becomes a son-in-law, then he himself has sons-in-law and other relatives through marriage. All of this comes from a despised liquid,
Allah says:
وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا
And your Lord is Ever All-Powerful to do what He wills.
Have you not seen, contemplated, the work of, your Lord, how He extends the [twilight] shadow?, from the point of daybreak to the point of sunrise. For had He, your Lord, willed, He would have made it still, everpresent so that it does not disappear with the rising of the sun. Then We made the sun an indicator of it, [of] the shadow; were it not for the sun the shadow would not have been known.
Commentary
Relationship between causes and effects and their being subject to Allah's will
The above verses describe complete and total omnipotence of Allah Ta’ ala and His bounties and favors showered on human kind. This also proves Oneness of Allah and that no one can share His right of worship.
أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ (Have you not turned your vision to your Lord, how He prolonged the shadow? - 25:45). Sunlight and shade are such blessings of God that without them it would not have been possible for mankind to survive and carry on its day to day functions. If there is sunlight all the time, it will create problems not only for humans but for all living things. On the other hand, if there is shade all the time, then also neither man nor other living creatures can survive. Allah Ta’ ala has created these two blessings by His limitless power and made them beneficial for the mankind. At the same time Allah Ta’ ala, through His infinite wisdom, has tied up all created things with specific causes in the sense that these things come into existence only when such causes are available, and if they are absent, these things do not exist. Similarly, if the causes are strong and available in abundance, the existence of their effects is also strong and abundant, and vice versa. Creation of crops and grass is dependent upon availability of land, water and air. Similarly, light is dependent on availability of the sun and the moon. Rain is dependent on clouds and air. Then there is such a strong bond between these causes and effects that it binds them together in such a way that there has not been the slightest deviation in the working of things even after the passage of centuries. For instance look at the solar system. This system has been working for centuries, yet there has not been the minutest change or deviation in its working, nor has there been a split of a second's difference in the movements of the entire system. Neither there is any change in the movements of the sun and the moon nor do they require any overhauling or repair work. They are moving along their orbits since the origin of the universe at a defined speed. One can calculate their movements with precision and predict their positions in advance for centuries.
This marvelous system of causes and effects was, in fact, a masterpiece of Allah's creation and a solid proof of His boundless power and infinite wisdom, but it was this firmness of the system which ultimately made people neglectful of Allah's power. When they perceived that all the 'effects' in this universe are linked with some visible causes, they confined their eyes to these visible causes only and started believing them to be the original creator of all these events. The real power of the Creator which was the original cause of all causes remained hidden behind the covers of visible causes only. The prophets are sent and the divine books are revealed to remind human beings that they must rise above this shortsightedness, and see behind the cover of these apparent causes and the omnipotence of their creator who is in fact running and controlling the whole system. This is the only way to discover the real truth about this universe. The verses under consideration are meant to point out to this reality.
In the verse أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ (Have you not turned your vision to your Lord, how He prolonged the shadow? - 25:45). People are reminded of the perfect solar system and the benefits people draw from it. It is a common experience to see the sun rising from the east when the shades are long. Then with the passage of time they are shortened and at noon become the shortest. Then again as the sun moves toward west the shades start lengthening and before the sunsets become the longest. In this whole process the entire humanity draws unlimited benefits from sunlight and its shades, and clearly realizes that there are the effects of the movements of the sun between East and West, but little attention is paid to the question as to who has created this sun and who has bound it to a well - planned system. Answer to this question cannot be found by one's eyes, but it can be perceived by the insight of heart and mind.
If He so willed, Allah would have made sunlight and shades stationary so that where there was sunlight it would have stayed as such, and where there was shade it would have remained such forever. Just think of the problems it would have brought about. But in His Wisdom He has not done so and instead created things which are beneficial and useful for humanity. The next verse وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا (and if He so willed, He would have made it stand still - 45) means exactly that.
In order to explain the phenomenon of lengthening and shortening of shades, it is stated in the verse قَبَضْنَاهُ إِلَيْنَا قَبْضًا يَسِيرًا (46) that is "We pulled it toward Us in a gradual manner." It is well known that Allah Ta’ ala is beyond the purview of body or direction and hence there is no question of the shade being pulled toward Him. What it means is that shortening of the shades takes place by His Supreme Power.








