Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
وَقَوۡمَ
dan kaum
نُوحٖ
Nuh
لَّمَّا
tatkala
كَذَّبُواْ
mereka mendustakan
ٱلرُّسُلَ
rasul-rasul
أَغۡرَقۡنَٰهُمۡ
Kami tenggelamkan mereka
وَجَعَلۡنَٰهُمۡ
dan Kami jadikan mereka
لِلنَّاسِ
bagi manusia
ءَايَةٗۖ
ayat/pelajaran
وَأَعۡتَدۡنَا
dan Kami telah menyediakan
لِلظَّـٰلِمِينَ
bagi orang-orang yang zalim
عَذَابًا
azab
أَلِيمٗا
pedih
وَقَوۡمَ
dan kaum
نُوحٖ
Nuh
لَّمَّا
tatkala
كَذَّبُواْ
mereka mendustakan
ٱلرُّسُلَ
rasul-rasul
أَغۡرَقۡنَٰهُمۡ
Kami tenggelamkan mereka
وَجَعَلۡنَٰهُمۡ
dan Kami jadikan mereka
لِلنَّاسِ
bagi manusia
ءَايَةٗۖ
ayat/pelajaran
وَأَعۡتَدۡنَا
dan Kami telah menyediakan
لِلظَّـٰلِمِينَ
bagi orang-orang yang zalim
عَذَابًا
azab
أَلِيمٗا
pedih
Terjemahan
Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih;
Tafsir
(Dan) ingatlah (kaum Nuh tatkala mereka mendustakan Rasul-rasul) mereka mendustakan Nabi Nuh, mengingat Nabi Nuh tinggal bersama mereka dalam kurun waktu yang lama sekali, maka diungkapkan dalam ayat ini seolah-olah Nabi Nuh menduduki tempat Rasul-rasul. Atau karena dengan mendustakan Nabi Nuh maka seolah-olah mereka mendustakan Rasul-rasul lainnya yang membawa risalah yang sama dengan apa yang dibawa oleh Nabi Nuh, yaitu ajaran Tauhid (Kami tenggelamkan mereka) lafal ayat ini menjadi jawab dari Lamma (dan Kami jadikan cerita mereka bagi manusia) sesudah mereka (sebagai tanda) pelajaran (dan Kami telah menyediakan) di akhirat (untuk orang-orang yang zalim) yakni orang-orang kafir (azab yang pedih) siksaan yang sangat menyakitkan di samping azab yang telah mereka rasakan sewaktu hidup di dunia.
Tafsir Surat Al-Furqan: 35-40
Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai wazir (pembantu). Kemudian Kami berfirman kepada keduanya, "Pergilah kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami.” Lalu Kami membinasakan mereka sehancur-hancurnya. Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul, Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan (kisah) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih, dan (Kami binasakan) kaum Ad dan Tsamud dan penduduk Rass dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut. Dan Kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya. Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu; bahkan mereka itu tidak mengharapkan kebangkitan.
Ayat 35
Allah ﷻ berfirman seraya mengancam orang-orang yang mendustakan Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ. Mereka terdiri atas kalangan orang-orang musyrik kaumnya dan orang-orang yang menentangnya. Allah ﷻ memperingatkan mereka terhadap siksaan-Nya dan azab-Nya yang sangat pedih yang telah menimpa umat-umat terdahulu yang telah mendustakan rasul-rasul-Nya. Allah ﷻ memulainya dengan menyebutkan kisah Musa, bahwa Dia telah mengutusnya dan mengangkat saudara laki-lakinya yang bernama Harun sebagai nabi yang membantu, mendukung, dan menolongnya. Akan tetapi, Fir'aun dan bala tentaranya mendustakannya.
Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. (Muhammad: 10). Demikian pula yang telah dilakukan oleh Allah ﷻ terhadap kaum Nuh a.s. yang mendustakan Rasul-Nya. Barang siapa yang mendustakan salah seorang rasul Allah, berarti ia mendustakan semua rasul Allah, sebab tidak ada bedanya antara rasul yang satu dengan rasul yang lainnya.
Seandainya Allah menakdirkan untuk mengutus kepada mereka semua rasul, maka pastilah mereka akan mendustakan para rasul Allah itu. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
Ayat 37
“Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul.” (Al-Furqan: 37)
Allah ﷻ tidak mengutus kepada mereka selain Nuh a.s. saja. Ia tinggal di kalangan mereka selama sembilan ratus lima puluh tahun, seraya menyeru mereka untuk menyembah Allah ﷻ dan memperingatkan mereka tentang azab Allah (bila mereka tidak menaati seruannya). “Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (Hud: 40). Karena itulah Allah menenggelamkan mereka semuanya, sehingga tiada seorang pun dari mereka yang tersisa, dan tidak ada seorang Bani Adam pun yang ada di muka bumi tersisa kecuali orang-orang yang menaiki perahu Nuh a.s.
“Dan Kami jadikan (kisah) mereka itu pelajaran bagi manusia.” (Al-Furqan: 37).
Yakni pelajaran yang dijadikan sebagai peringatan bagi mereka, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung), Kami bawa (nenek moyang) kalian ke dalam kapal, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kalian dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.” (Al-Haqqah: 11-12). Kami biarkan kalian menaiki kapal menempuh ombak lautan agar kalian ingat nikmat Allah kepada kalian, bahwa kalian telah diselamatkan dari tenggelam, dan menjadikan kalian termasuk keturunan orang-orang yang beriman kepada-Nya dan membenarkan perintah-Nya.
Ayat 38
Firman Allah ﷻ: “Dan (Kami binasakan) kaum 'Ad dan Tsamud dan penduduk Rass.” (Al-Furqan: 38)
Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan kisah mengenai kaum Ad dan kaum Tsamud bukan hanya dalam satu surat, seperti dalam surat Al-A'raf, sehingga tidak perlu diulangi lagi dalam pembahasan ini. Adapun mengenai penduduk Rass, menurut Ibnu Juraij, dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa mereka adalah penduduk suatu kota dari kalangan kaum Tsamud.
Ibnu Juraij mengatakan, Ikrimah pernah mengatakan bahwa penduduk Rass bertempat tinggal di Falj, mereka adalah penduduk Yasin. Qatadah mengatakan bahwa Falj termasuk salah satu kota yang terletak di Yamamah. Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan berikut sanadnya melalui Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “dan penduduk Rass.” (Al-Furqan: 38) Rass adalah nama sebuah sumur yang terletak di Azerbaijan. As'-Sauri meriwayatkan dari Abu Bakar, dari Ikrimah, bahwa Rass adalah nama sebuah sumur; penduduk di sekitarnya mengebumikan nabi mereka di dalam sumur itu.
Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ka'b yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda, "Sesungguhnya manusia yang mula-mula masuk surga kelak di hari kiamat adalah seorang hamba berkulit hitam. Itu karena Allah ﷻ mengutus seorang nabi kepada penduduk suatu kota, tiada yang beriman dari kalangan penduduk kota itu kecuali hamba yang berkulit hitam tersebut. Kemudian penduduk kota menangkap nabi mereka, lalu membuat sebuah sumur. Selanjutnya mereka melemparkan nabinya ke dalam sumur itu, kemudian mulut sumur itu mereka tutup dengan batu besar.
Hamba itu setiap harinya berangkat mencari kayu, kemudian kayu itu ia panggul di atas pundaknya dan dijualnya kayu itu, hasilnya ia belikan makanan dan minuman. Kemudian ia membawa makanan dan minuman itu ke sumur tersebut. Lalu ia mengangkat batu besar itu dengan pertolongan dari Allah (hingga ia kuat mengangkatnya sendirian), kemudian ia mengulurkan makanan dan minuman itu ke dalam sumur.
Setelah selesai, ia mengembalikan batu itu seperti sediakala. Demikianlah yang dilakukan oleh si hamba itu setiap harinya selama masa yang dikehendaki oleh Allah. Lalu pada suatu hari seperti biasanya ia mencari kayu. Setelah beroleh kayu, ia mengumpulkannya dan mengikatnya. Ketika hendak memanggulnya, tiba-tiba rasa kantuk berat menyerangnya. Ia berbaring sebentar untuk istirahat dan tertidur, maka Allah menjadikannya tertidur selama tujuh tahun.
Setelah itu ia terbangun dan menjulurkan tubuhnya, lalu pindah ke sisi lambung yang lain, maka Allah menjadikannya tertidur lagi selama tujuh tahun berikutnya. Kemudian ia terbangun, lalu memanggul ikatan kayunya, sedangkan dia mengira bahwa dirinya hanya tidur selama setengah hari. Lalu ia datang ke kota dan menjual kayunya, lalu membeli makanan dan minuman seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Ia pergi menuju sumur tersebut yang di dalamnya terdapat seorang nabi yang disekap. Lalu ia mencarinya, tetapi ternyata ia tidak menjumpainya. Tanpa diketahuinya kaumnya telah sadar, lalu mereka mengeluarkan nabi itu dari dalam sumur tersebut, dan mereka beriman kepadanya serta membenarkannya. Lalu Nabi itu menanyakan kepada mereka perihal si budak hitam, apa saja yang dilakukannya? Mereka menjawab, 'Kami tidak mengetahui,' hingga akhirnya nabi itu wafat. Sesudah itu si budak hitam tersebut terbangun dari tidurnya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya budak hitam itu adalah orang yang mula-mula masuk surga.”
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Ibnu Humaid, dari Salamah, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Muhammad ibnu Ka'b secara mursal. Akan tetapi, di dalamnya terdapat garabah dan nakarah. Barangkali di dalam hadis terdapat idraj, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Ibnu Jarir mengatakan, tidak boleh menakwilkan bahwa mereka adalah penduduk Rass yang disebut di dalam Al-Qur'an, karena Allah telah menceritakan perihal mereka; bahwa Allah telah membinasakan mereka, sedangkan yang disebut di dalam hadis ini mereka beriman dan percaya kepada nabinya. Terkecuali jika ditakwilkan bahwa peristiwa itu terjadi setelah bapak-bapak mereka binasa, lalu keturunannya beriman kepada nabi mereka. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan penduduk Rass ialah orang-orang yang memiliki galian (parit), yaitu mereka yang disebut di dalam surat Al-Buruj. Hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui.
Firman Allah ﷻ: “Dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut.” (Al-Furqan: 38)
Yakni umat-umat yang jumlahnya berkali lipat daripada mereka yang telah disebutkan, semuanya telah Kami binasakan. Karena itulah disebutkan dalam firman selanjutnya:
Ayat 39
“Dan Kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan.” (Al-Furqan: 39)
Kami jelaskan kepada mereka hujah-hujah (alasan-alasan) dan Kami terangkan bukti-bukti kepada mereka. Seperti yang dikatakan oleh Qatadah, bahwa Kami hancurkan semua alasan dari mereka.
“Dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya.” (Al-Furqan: 39)
Yaitu Kami hancurkan mereka dengan sehancur-hancurnya, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dan berapa banyak kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan.” (Al-Isra: 17). Al-qarn artinya umat, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya: “Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain.” (Al-Mu-minun: 42). Sebagian di antara mereka mendefinisikannya bahwa satu kurun sama dengan seratus dua puluh tahun.
Menurut pendapat yang lain seratus tahun, menurut pendapat yang lainnya lagi delapan puluh tahun, ada pula yang mengatakan empat puluh tahun, dan banyak lagi pendapat lainnya yang berbeda-beda. Tetapi menurut pendapat yang kuat, yang dimaksud dengan qarn adalah umat yang ada di suatu kurun waktu (suatu zaman). Apabila mereka semuanya telah tiada, lalu diganti oleh generasi yang baru, maka generasi itu dinamakan qarn yang lain (generasi yang lain).
Seperti pengertian yang disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui salah satu sabda Nabi ﷺ yang mengatakan: “Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian orang-orang (generasi) yang sesudahnya, kemudian orang-orang (generasi) yang sesudahnya lagi.”
Ayat 40
Firman Allah ﷻ: “Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu).” (Al-Furqan: 40).
Yaitu kota kaum Nabi Lut kota Sadum yang telah dibinasakan oleh Allah; buminya dibalikkan, lalu dihujani dengan hujan batu dari Sijjil. Seperti yang disebut di dalam firman-Nya: “Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang diberi peringatan itu.” (Asy-Syu'ara: 173). “Dan sesungguhnya kalian (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi, dan di waktu malam. Maka apakah kalian tidak memikirkan?” (As-Saffat: 137-138. “Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).” (Al-Hijr: 76). Dan firman Allah ﷻ: “Dan sesungguhnya kedua kota itu benar-benar terletak di jalan umum yang terang.” (Al-Hijr: 79). Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
“Maka apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu.” (Al-Furqan: 40) yang karenanya lalu mereka mengambil pelajaran dari azab dan pembalasan Allah yang telah menimpa para penduduknya akibat mendustakan rasul-Nya dan menentang perintah-perintah Allah ﷻ, “bahkan mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan.” (Al-Furqan: 40). Yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang kafir yang melalui jalan tersebut tidak mengambil pelajaran dari apa yang mereka lihat, sebab mereka adalah orang-orang yang tidak mempercayai adanya hari berbangkit kelak di hari kiamat.
Allah juga menceritakan nasib dari kaumnya Nabi Nuh. Dan telah Kami binasakan kaum Nuh ketika mereka mendustakan Nabi Nuh yang telah berdakwah kepada mereka selama 950 tahun, namun yang beriman kepadanya hanya sebagian kecil saja. Mendustakan satu rasul berarti sama saja dengan mendustakan para rasul. Karena para utusan Allah adalah satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Kami tenggelamkam mereka setelah Kami genangi bumi mereka dengan banjir besar melebihi tingginya gunung-gunung mereka, dan Kami jadikan cerita mereka itu pelajaran bagi manusia. Azab Allah akan turun kembali dalam bentuk lain, jika ada kaum yang kembali mendustakan para nabi mereka. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; melebihi dari pada apa yang mereka duga. 38. dan telah Kami binasakan kaum 'Ad yaitu kaumnya nabi Hud di kawasan Yaman dan Samud yaitu kaum Nabi Saleh di Mada'in dan penduduk Rass yaitu penduduk sumur tempat seorang nabi di buang di dalamnya, atau pengikut Nabi Isa yang dimasukkan ke dalam parit lalu dibakar oleh raja yang musyrik serta banyak lagi generasi di antara kaum-kaum itu yang telah dibinasakan oleh Allah karena dosa-dosa mereka.
Demikian pula Allah telah membinasakan kaum Nuh yang telah mendustakan para rasul. Setelah Nabi Nuh menunaikan risalahnya dengan menyampaikan dakwah kepada kaumnya, tetapi yang beriman kepadanya hanya sedikit sekali, Allah lalu menenggelamkan mereka dengan topan dan banjir besar yang membinasakan semua manusia dan binatang kecuali yang berada dalam kapal Nabi Nuh. Allah menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran bagi umat manusia supaya mereka selalu ingat dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah menyelamatkan mereka dari bencana yang mengancam. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
Sesungguhnya ketika air naik (sampai ke gunung), Kami membawa (nenek moyang) kamu ke dalam kapal, agar Kami jadikan (peristiwa itu) sebagai peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (al-haqqah/69: 11-12).
Lalu Allah menerangkan akibat orang-orang yang mendustakan risalah Nabi dengan firman-Nya bahwa Ia telah menyediakan bagi orang-orang zalim siksa yang pedih. Ayat ini mengandung peringatan pada orang-orang Quraisy supaya mereka jangan sampai mendustakan kenabian Muhammad karena besar kemungkinan mereka pun akan ditimpa azab seperti umat-umat terdahulu yang telah mendustakan para rasul-Nya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Pejuang Yang Hak Dan Tantangan Atasnya
Sebagaimana telah tertulis di ayat-ayat yang pertama Surat ini, adalah hidup itu perjuangan, di antara yang hak dengan yang batil. Kedatangan Utusan-utusan Tuhan, Nabi-nabi dan Rasul-rasul adalah penjelasan garis pemisah di antara yang hak dengan yang batil itu. Garis pemisah itulah yang dimaksudkan yang terkandung di dalam kalimat Furqan. Di dalam menentukan garis pemisah itu, bukanlah mudah tugas yang dipikul oleh seorang Nabi. Kisah sekalian Nabi-nabi itu adalah tali rantai sambung-bersambung daripada suatu seruan yang hak dan perlawanan dan tantangan daripada orang yang menegakkan yang batil.
Pada ayat 35 dijelaskan lagi kepada Nabi Muhammad s.a.w. bahwa perjuangan yang hebat dan dahsyat ini telah ditempuh oleh Nabi Musa. Dia diutus
Tuhan Allah membawa sebuah Kitab, yang berarti perintah, yaitu Kitab Taurat. Untuk membantu pekerjaannya yang sulit jtS^Tuhan Allah telah menyangkat pula saudara Nabi Musa itu sendiri, Nabi Harun menjadi Wazirnya, atau pembantunya yang utama. Mereka diperintahkan datang kepada kaum yang men-dustakan ayat-ayat dan peringatan Tuhan. Itulah Fir'aun dengan sekalian malaaihi, sekalian penyokong penganutnya atau regimnya, menurut istilah orang sekarang. Kekuasaan Fir'aun itu tegak atas kekafiran, yaitu menolak kata yang benar, kalau kebenaran itu akan mengyanggu kekuasaannya.
Adalah suatu pekerjaan yang sulit untuk menyampaikan seruan kepada orang yang telah mendinding hati sendiri dengan kekafiran. Dia terlebih dahulu telah berprasangka sebelum mendengar seruan. Tetapi pejuang-pejuang yang diutus istimewa untuk menghadapi itu, yaitu Musa dan Harun, tidaklah boleh berhati kecil atau patah semangat. Bertambah orang yang kafir itu membantah bertambah lebih keraslah hendaknuaTkedua Rasul itu berusaha dan bekerja.
Apa sebab? Sebabnya ialah karena Tuhan kasih kepada hambaNya. Dalam hakikat yang sejati; Tuhan pun kasih kepada Fir'aun itu, ataupun kepada orang-orang yang kafir itu. Sebab Tuhan telah menentukan suatu aturan pasti, bahwasanya orang yang kafir, zalim, aniaya dan ingkar pada akhir akibat, mesti jatuh kepada kehancuran. Suatu waktu dia akan mencapai apa yang di zaman sekarang disebut “Klimaks". Dalam pepatah orang kita tersebut ‘Terlalu paniang iadi patah'". Itu sebab maka Tuhan mengutus Utusan kepada manusia. Musa dan Harun selalu memperingatkan bahaya, tetapi Fir'aun selalu pula membantah dan ingkar, akhirnya dia hancur runtuh, bukan dari sebab tidak sampai kepadanya seruan dan bukan pula karena kelalaian Musa dan Harun, tetapi dari kesalahan Fir'aun sendiri.
Di ayat 36 diterangkan pula contoh yang lain, yaitu kaum Nabi Nuh. Lama sebelum Fir'aun. Mereka pun berbuat demikian pula. Seruan kebenaran yang dibawa oleh Utusan-utusan Tuhan mereka dustakan. Mendustakan bukan saja mulut berkata: “Engkau berdusta “ Bahkan sikap perbuatan yang tidak meng-acuhkan kebenaran, walaupun tidak dikatakan dengan mulut, adalah mendustakan juga. Akibatnya pun demikian pula. Tuhan menyuruh Nuh membuat bahtera karena bahaya besar akan datang kalau seruan Tuhan tidak juga diperhatikan. Mereka sambut ajakan naik bahtera itu dengan ejekan. Akhirnya bahtera dengan Nabi dan orang-orang yang beriman terlepas dari bahaya dan orang-orang yang menampik itu tenggelam belaka ke dasar laut. Sayangnya dalam yang tenggelam itu termasuk pula anak kandung Nabi Nuh sendiri."Hukum Besi" Ilahi tidaklah memilih bulu.
Hukum itu pun berlaku kepada kaum ‘Ad yang mengingkari seruan Nabi Hud, dan hukum itu pun berlaku kepada kaum Tsamud yang menolak seruan Nabi Shalih. Hukum itu pun berlaku kepada kaum yang empunya sumur tua, bahkan hukum itu pun berlaku kepada kaum-kaum yang lain dari kurun-kurun yang lain yang banyak sekali.
Kaum ‘Ad diajak Hud kepada jalan yang benar agar desa dan negeri mereka beroleh rahmat dan kesuburan, gemah npah loh jinawi, namun mereka hanya rintang dengan kemewahan. Kaum Tsamud diberi Allah tanda ke-benaranNya dengan melahirkan unta dari liang batu; unta itu mereka bunuh. Kaum yang empunya sumur tua pun demikian, didatangi oleh seorang Nabi mengajak kepada kebenaran. Nabi itu mereka tangkap dan mereka masukkan ke dalam Sumur tua itu, lalu mereka timbun dari atas. Begitu pula laku perangai kurun yang lain di tempat lain atau di waktu yang lain.
“Semua itu" -kata Tuhan pada ayat 39 -"Kami jadikan tamsil ibarat untuk engkau", hai utusan Kami, supaya engkau peringatkan pula kepada kaummu di Makkah itu. Hukum Tuhan itu adalah Hukum Besi. Manusia tidak akan diazab kalau tidak dari salahnya sendiri. Satu kaum, satu ummat, satu bangsa ataupun~satu generasi, kurun demi kurun di dalam hidup di dunia ini, harus tunduk kepada kebenaran sejarah itu.
Barangsiapa yang menyeleweng daripada garis kebenaran dan keadilan, mesti binasa. Azab Tuhanjtu datang adalah menuruti garis yang telah ditentukan, yang tidak ada kekuasaan manusia buat mengalihkannya."Lalang tidaklah menumbuhkan padi."
Hal ini bukanlah semata-mata dongeng, melainkan satu kenyataan Mereka orang Quraisy itu tidaklah mendengar semata-mata dongeng saja, bahkan dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri bekas kehancuran ummat yang menentang kebenaran. Mereka telah selalu pergi balik di antara Makkah dan Syam karena berniaga. Di tengah jalan mereka melalui suatu bekas runtuhan negeri Sadum (dekat laut Mati), bertemu runtuhan dari satu negeri besar. Warta berita nenek-moyang telah menyatakan dari mulut ke mulut bahwa penduduk negeri Sadum itu hancur-lebur seketika negeri mereka dihujani dengan hujan batu yang panas sehingga mereka semuanya terbakar hangus. Mereka telah diberi peringatan berkali-kali oleh Nabi Luth. Budi mereka sangat rusak, mereka memperisteri sesama laki-laki. Segala seruan kebenaran mereka abaikan, tidak mereka acuhkan. Mereka tidak sanggup lagi mengendalikan hawanafsu. Datang waktunya, mereka pun hancur-lebur dan hancur-lebur pula negeri tempat tinggal mereka. Bekasnya masih dapat dilihat.
“Tidaklah mereka lihat bekas itu?" Bahkan kaum itu pun tidak ada peng-harapan akan hari kebangkitan kembali, hari nusyur. Tidak adanya kepercayaan akan hari kiamat, hari nusyur, hari kebangkitan dan hari pembalasan, menyebabkan jiwa tidak terkendali dan hanya memperturutkan apa yang terkenang di hati saja.
Sikap orang-orang yang membantah itu sangat berbahaya bagi diri mereka sendin. Di dalam ayat yang selanjutnya (41) dinyatakan sikap mereka itu: “Jika mereka melihat engkau (ya utusanKu), tidak ada tingkah laku mereka selain mengejek."
Mengejek adalah alamat dan kesat hati, kerendahan budi dan tidak ada rasa tanggungjawab. Mereka berkata: “Orang semacam inikah yang diutus menjadi Rasul?"
“Dia hanya hendak menyesatkan kita saja dari tuhan-tuhan yang kita puja. Kita mesti sabar (bertahan) atas semuanya itu." Demikianlah mereka.
Apabila seseorang telah berani menghina orang lain, padahal orang yang dihina itu datang membawa kata kebenaran, adalah alamat bahwa jiwa itu sangat nista. Dengan sendirinya kepada orang yang bertingkah laku yang demikian, azab siksa Ilahi pasti datang Maka kalau azab itu datang kelak, waktu itulah baru dia tahu siapakah sebenarnya yang menempuh jalan sesat. Nabi yang mengajaknya kepada kebenaran lalu diejeknya itukah, atau mereka sendiri.
Tuhan memberi ingat pada ayat yang sesudahnya (43) bahwa orang-orang itu adalah orang yang telah mempertahankan hawanafsunya sendiri. Bagi orang yang bertuhan kepada hawanafsunya itu. ukuran dan nilai kebenaran tidak ada. Jiwanya kosong, yang berbicara adalah perasaannya belaka. Sebab itu dia tidak mempunyai pertimbangan tentang buruk dan baik, tentang mudharat dan manfaat.
Hawa diambil dari kata yang berarti “angin" atau “udara". Sebab itu maka sifatnya kosong. Rumpunnya hanya semata-mata perasaan, disebut juga oleh orang asing “gevoel"; apa yang terasa dicakapkan. Orang Indonesia moden menyebutnya “sentiment".
Sikapnya angin-anginan. Kalau datang orang memuji-mujinya setinggi langit, kembang-kempislah hidungnya karena girang. Apa yarig diminta kepadanya ketika itu akan dapat saja. Tetapi kalau hatinya sudah benci, mukanya berubah sekali. Kekusutan perasaan dan hawanya itu membayang kepada mukanya. Apabila dia marah, dirinya tidak dapat dikendalikannya. Dia tidak dapat menguasai dirinya. Sebab hawanya telah menjadi Tuhannya.
“Adakah engkau lihat, hai utusanKu, bagaimana rupanya orang yang mempertuhan hawanya?"
Dengan orang yang seperti ini, amat susah berurusan. Apatah lagi tentang hal perubahan jiwa manusia iiu, menunjukinya jalan atau menginsafkannya, tidaklah Kami wakilkan kepada engkau. Kewajibanmu adalah menyampaikan. Engkau tidak boleh bosan-bosan di dalam menyampaikan itu, sebagaimana tidak boleh bosan-bosannya Nabi-nabi yang terdahulu daripada engkau. Karena apabila manusia telah terlepas dari cengkeraman “tuhan hawa", akan jernihlah kembali jiwanya dan akan timbullah hakikat Iman yang sejati.
“Apakah engkau sangka mereka mendengar atau berfikir?"
Tidak, mereka tidak mendengar atau berfikir Mereka hanya tahu makan dan minum dan kepuasan berkelamin. Hidupnya tidak mempunyai tujuan sebab itu tidak bernilai, “Bahkan mereka serupa dengan binatang, bahkan mereka lebih dari binatang." (ayat 44).
Memang, apabila orang telah memperturutkan. Kehendak hawanya dan nafsunya, cahaya ketuhanan kabur dalam hatinya. Hawa itulah yang menutup pendengaran dan penglihatannya, hawa membatas saluran penghubung di antara pendengarannya dengan hatinya. Sebab itu meskipun mata mereka melihat, tidak ada yang nampak. Meskipun telinga mendengar tidak ada yang masuk. Hati telah lama putus denganpancaindera. Maka lebih rendahlah dia dan binatang.
Dia insan, dipakainya sifat binatang, niscaya lebih rendah dia dari binatang. Binatang pun masih dapat dipuji karena kepatuhannya mengikuti perintah tuannya. Tetapi manusia yang telah kehilangan pangkalan fikiran waras siapa yang akan dipatuhinya? Manusia yang demikian sengsara batinnya, sebab sebagai manusia dia masih mempunyai akal. Dia melawan akalnya sendiri, sebab itu dia sengsara. Akan langsung jadi binatang pun dia tidak bisa.
Tuhan memberi peringatan kepada UtusanNya begitu berat tugas yang dihadapinya. Dia wajib jalan terus. Dia adalah Utusan, makhluk yang terpilih untuk memberi tuntunan bagi manusia, dan manusia adalah medan perjuangan di antara aslinya sebagai binatang dengan keinginan batinnya yang ingin naik ke tempat mulia, sebagai manusia.
Dengan kesepuluh ayat ini kita mendapat kesan yang mendalam betapa cinta kasih-sayang Tuhan kepada makhlukNya yang bernama Insan itu. Insan adalah Khalifah Ilahi di atas dunia ini. Mereka diberinya akal budi buat menyisihkan di antara yang, buruk dengan yang baik. Dia disuruh memakai akalnya buat menimbang segala perkara. Namun kasih cinta Tuhan itu tidak dicukupkanNya hanya hingga sekian saja, lalu diutusNya para UtusanNya, menunjukkan jalan. Ini adalah amat perlu, karena di dalam diri manusia itu selalu terjadi pertentangan di antara cita-cita yang tinggi dengan hawa dan nafsu, angkara dan murka. Sudah terang, apabila hawanafsu dan angkara murka itu tidak terkendali, Iman akan hancur ke dalam kehancuran dan derajatnya akan jatuh menjadi binatang. Sudah nyata bahwa hidupnya akan kusut dan masyarakatnya berkacau-balau, yang kuat menindas yang lemah dan yang kuasa menekan yang tidak berkuasa, padahal makhluk yang ditindas itu manusia juga, mempunyai pula nilai-nilai kemanusiaan yang dapat dipergunakan menghasilkan rahasia Tuhan dalam Alam, yang menurut istilah-istilah yang kita sebut sekarang mempunyai “Hak-hak Asasi Manusia".
Apabila kekuasaan mutlak Fir'aun tidak diberi Ilham oleh Wahyu Ilahi, alamat segala bangunan megah yang dia bangun hanyalah untuk kemegahan dirinya dengan mempergunakan tenaga “orang kecil". Karena merasa bahwa kuasanya tidak ada yang membatasi, dia akan bersikap lebih sombong, dan sekali kesombongan telah mempengaruhi jiwa, sudahlah sukar buat mengembalikannya kepada garis jalan yang lurus. Fir'aun akhirnya binasa. Ini adalah akibat yang wajar!
Kekuasaan para pemimpin dalam satu masyarakat, baik dia masyarakat kaum Nuh, atau masyarakat Fir'aun dan malaaihi (regimnya), atau masyarakat kaum ‘Ad yang tidak mengingat hari esok, atau masyarakat kaum Tsamud yang membunuh unta Tuhan karena angkuhnya, atau masyarakat kaum yang empunya sumur tua yang membenamkan Nabi mereka ke dalam sumur itu karena berani menegur kesalahan mereka, ataupun masyarakat Quraisy dengan Abu Jahal dan Abu Lahab dan lain-lainnya, jika terus-menerus menempuh jalan yang salah, mereka akan hancur. Yang hancur itu baik diri peri-badi, sebagai Fir'aun yang tenggelam dalam lautan Qubum. atau masyarakat itu sendiri sebagai kaum-kaum yang telah binasa itu.
Nabi Muhammad disuruh terus berusaha menyadarkan kaumnya dengan selalu memperingatkan langkah-langkah sesat yang telah ditempuh oleh ummat-ummat yang telah terdahulu tadi. Beliau tidak boleh bosan memberi ingatan. Hal-hal yang menyedihkan itu sedapat-dapatnya jangan kejadian lagi.
Karena kalau Tuhan menurunkan azabNya bukanlah sekali-kali karena Tuhan bersifat aniaya, melainkan bersifat adil, menurut aturan tertentu:
“Dan tidaklah pernah Allah akan berlaku zalim kepada mereka, melainkan mereka sendirilah yang berlaku zalim kepada diri mereka."
Dan sudah kehendak Tuhan pula, apabila bahaya itu datang, kerapkali bukan saja orang yang bertanggungjawab bermula yang kena, bahkan orang yang tak bersalah pun turut teraniaya:
“Dan awasi/ah olehmu suatu fitnah yang bukan saja khusus mengenai orang yang aniaya (bersalah), dan ketahuilah bahwasanya hukuman Tuhan itu sangat dahsyat."
Di sini kita pun mendapat pula suatu rahasia yang mendalam lagi. Yaitu bukan saja Tuhan yang kasih cinta kepada Insan, malahan Nabi Muhammad s.a.w. itu sendiri pun kasih cinta kepada ummat. Dalam perjalanan beliau melakukan Da'wah ke Thaif, beliau telah dilempari batu, sehingga mengalir darah sampai ke terompahnya karena bekas luka dilempar. Di tengah perjalanan pulang datanglah Malaikat Jibril menyatakan sesal atas kejadian itu dan dia bersedia jika Muhammad menghendaki, hendak menghancurkan negeri yang telah berlaku sangat rendah kepada Nabinya.
Tetapi Rasulullah s.a.w. telah menolak tawaran itu dan berkata bahwa yang diharapnya akan menerima petunjuk yang akan diberikan Tuhan kepadanya untuk disampaikan kepada kaumnya, bukanlah semata-mata daripada yang tua-tua, yang telah berat melepaskan kebiasaan yang lama. Beliau mengharapkan seruan ini akan diterima oleh anak cucu mereka, oleh generasi yang akan datang di belakang. Pada waktu itulah hati beliau terobat, karena di tengah jalan bertemu dengan seorang pemuda bangsa Ninive bersama ‘Adas, beragama Nasrani. Sedang Nabi berlindung di bawah sepohon kayu, dia pun datang. Dia dengarkan ajaran Nabi s. a. w. dan difahamkannya baik-baik lalu dia pun mengakui: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad hambaNya dan UtusanNya."
Dalam perjalanan pulang itu dia berdoa dengan penuh ‘khusyuk
“Ya Tuhanku, beri hidayat kiranya kaumku, karena mereka itu tidak mengetahui."
Memanglah patut kalau jiwa yang sebesar itu diangkat Tuhan menjadi Nabi Akhir Zaman, tidak ada Nabi sesudahnya lagi.
Frightening the Idolators of Quraysh
Allah tells:
وَلَقَدْ اتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَا مَعَهُ أَخَاهُ هَارُونَ وَزِيرًا
فَقُلْنَا اذْهَبَا إِلَى الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِأيَاتِنَا فَدَمَّرْنَاهُمْ تَدْمِيرًا
And indeed We gave Musa the Scripture, and placed his brother Harun with him as a helper; And We said:Go you both to the people who have denied Our Ayat.
Then We destroyed them with utter destruction.
Allah threatens the idolators who denied and opposed His Messenger Muhammad and He warns them of the punishment and painful torment He sent upon the previous nations who rejected their Messengers.
Allah begins by mentioning Musa, upon him be peace, whom He sent along with his brother Harun as a helper -- i.e., as another Prophet who helped and supported him -- but Fir`awn and his chiefs denied them both:
دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلِلْكَـفِرِينَ أَمْثَـلُهَا
Allah destroyed them completely, and similar (awaits) the disbelievers. (47:10)
And when the people of Nuh denied him, Allah destroyed them likewise, for whoever denies one Messenger denies all the Messengers, because there is no difference between one Messenger and another. If it had so happened that Allah had sent all His Messengers to them, they would have denied them all.
Allah says
وَقَوْمَ نُوحٍ لَّمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ
And Nuh's people, when they denied the Messengers,
although Allah sent only Nuh to them, and he stayed among them for 950 years, calling them to Allah and warning them of His punishment,
وَمَا امَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ
(And none believed with him, except a few. (11:40)
For this reason Allah
أَغْرَقْنَاهُمْ
drowned them all and left no one among the sons of Adam alive on earth apart from those who boarded the boat,
وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ ايَةً
and We made them a sign for mankind.
meaning a lesson to be learned.
This is like the Ayah,
إِنَّا لَمَّا طَغَا الْمَأءُ حَمَلْنَـكُمْ فِى الْجَارِيَةِ
لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَأ أُذُنٌ وَعِيَةٌ
Verily, when the water rose beyond its limits, We carried you in the boat. That We might make it a remembrance for you, and the keen ear may understand it. (69:11-12)
which means:`We left for you ships that you ride upon to travel across the depths of the seas, so that you may remember the blessing of Allah towards you when He saved you from drowning, and made you the descendants of those who believed in Allah and followed His commandments.'
..
وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا
And We have prepared a painful torment for the wrongdoers.
Allah further tells
وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ
And (also) `Ad and Thamud, and the Dwellers of Ar-Rass,
We have already discussed their story, which is referred to in more than one Surah, such as Surah Al-A`raf, and there is no need to repeat it here.
As for the Dwellers of Ar-Rass, Ibn Jurayj narrated from Ibn Abbas about the Dwellers of Ar-Rass that:
they were the people of one of the villages of Thamud.
Ath-Thawri narrated from Abu Bukayr from Ikrimah that:
Ar-Rass was a well where they buried (Rassu) their Prophet.
وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا
and many generations in between.
means nations, many more than have been mentioned here, whom We destroyed.
Allah said
وَكُلًّ ضَرَبْنَا لَهُ الاَْمْثَالَ
And for each We put forward examples,
meaning, `We showed them the proof and gave them clear evidence,'
as Qatadah said, They had no excuse.
وَكُلًّ تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا
and each (of them) We brought to utter ruin.
means, `We destroyed them completely.'
This is like the Ayah,
وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِن بَعْدِ نُوحٍ
And how many generations (Qurun) have We destroyed after Nuh! (17:17)
Generations (Qurun) here refers to nations among mankind.
This is like the Ayah,
ثُمَّ أَنشَأْنَا مِن بَعْدِهِمْ قُرُوناً ءَاخَرِينَ
Then, after them, We created other generations (Qurun). (23:42)
Some defined a generation as being 120 years, or it was said that a generation was one hundred years, or eighty, or forty, etc. The most correct view is that a generation refers to nations who are one another's contemporaries, living at the same time. When they go and others succeed them, this is another generation, as it was recorded in the Two Sahihs:
خَيْرُ الْقُرُونِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُم
The best of generations is my generation, then the one that follows it, then the one that follows that
وَلَقَدْ أَتَوْا عَلَى الْقَرْيَةِ الَّتِي أُمْطِرَتْ مَطَرَ السَّوْءِ
And indeed they have passed by the town on which was rained the evil rain.
refers to the town of the people of Lut, which was called Sodom, and the way in which Allah dealt with it, when He destroyed it by turning it upside down and by sending upon it the rain of stones of baked clay, as Allah says:
وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِم مَّطَراً فَسَأءَ مَطَرُ الْمُنذَرِينَ
And We rained on them a rain. And how evil was the rain of those who had been warned! (26:176)
وَإِنَّكُمْ لَّتَمُرُّونَ عَلَيْهِمْ مُّصْبِحِينَ
وَبِالَّيْلِ أَفَلَ تَعْقِلُونَ
Verily, you pass by them in the morning. And at night; will you not then reflect! (37:137-138)
وَإِنَّهَا لَبِسَبِيلٍ مُّقِيمٍ
And verily, they were right on the highroad. (15:76)
وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُّبِينٍ
They are both on an open highway, plain to see. (15:79)
Allah says:
أَفَلَمْ يَكُونُوا يَرَوْنَهَا
Did they not then see it!
meaning, so that they might learn a lesson from what happened to its inhabitants of punishment for denying the Messenger and going against the commands of Allah.
بَلْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ نُشُورًا
Nay! But they used not to expect any resurrection.
means, the disbelievers who passed by it did not learn any lesson, because they did not expect any resurrection, i.e., on the Day of Judgement
How the Disbelievers mocked the Messenger
Allah tells:
وَإِذَا رَأَوْكَ إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلاَّ هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولاًإ
And when they see you, they treat you only in mockery (saying):Is this the one whom Allah has sent as a Messenger!
Allah tells us how the disbelievers mocked the Messenger when they ﷺ him. This is like the Ayah,
وَإِذَا رَاكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلاَّ هُزُواً
And when the disbelievers see you, they take you not except for mockery, (21:36)
which means that they tried to find faults and shortcomings in him.
Here Allah says:
وَإِذَا رَأَوْكَ إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلاَّ هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولاًإ
And when they see you, they treat you only in mockery (saying):
Is this the one whom Allah has sent as a Messenger!
i.e., they said this by way of belittling and trying to undermine him, so Allah put them in their place, and said:
وَلَقَدِ اسْتُهْزِىءَ بِرُسُلٍ مِّن قَبْلِكَ
And indeed Messengers before you were mocked at. (6:10
إِن كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ الِهَتِنَا
He would have nearly misled us from our gods,
They meant:`he nearly turned us away from worshipping idols, and he would have done so, had we not been patient and persevered in our ways.'
لَوْلَا أَن صَبَرْنَا عَلَيْهَا
had it not been that we were patient and constant in their worship!
So Allah said, warning and threatening them:
وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ
And they will know, when they see the torment...
مَنْ أَضَلُّ سَبِيلً
who it is that is most astray from the path!
They took Their Desires as their gods and were more astray than Cattle
Then Allah tells His Prophet that if Allah decrees that someone will be misguided and wretched, then no one can guide him except Allah, glory be to Him
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
Have you seen him who has taken as his god his own vain desire!
meaning, whatever he admires and sees as good in his own desires becomes his religion and his way.
As Allah says:
أَفَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءَ عَمَلِهِ فَرَءَاهُ حَسَناً فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَأءُ
Is he then, to whom the evil of his deeds is made fair seeming. So that he consider it as good. Verily, Allah sends astray whom he wills. (35:8)
أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلً
Would you then be a guardian over him!
Ibn Abbas said:
During the Jahiliyyah, a man would worship a white rock for a while, then if he ﷺ another that looked better, he would worship that and leave the first.
Then Allah said
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ
Or do you think that most of them hear or understand!
إِنْ هُمْ إِلاَّ كَالاَْنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلً
They are only like cattle -- nay, they are even farther astray from the path.
meaning, they are worse than grazing cattle. Cattle only do what they were created to do, but these people were created to worship Allah Alone without associating partners with Him, but they worship others with Him, even though evidence has been established against them and Messengers have been sent to them.
Evidence of the existence of the Creator and the extent of His Power
Here Allah begins explaining the evidence for His existence and His perfect power to create various things and pairs of opposites.
Allah says:
أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ
Have you not seen how your Lord spread the shadow.
Ibn Abbas, Ibn Umar, Abu Al-Aliyah, Abu Malik, Masruq, Mujahid, Sa`id bin Jubayr, An-Nakha`i, Ad-Dahhak, Al-Hasan, Qatadah, As-Suddi and others said,
This refers to the period from the beginning of the dawn until the sun rises.
وَلَوْ شَاء لَجَعَلَهُ سَاكِنًا
If He willed, He could have made it still,
meaning, immobile, never changing.
This is like the Ayat:
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِن جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الَّيْلَ سَرْمَداً
Say:Tell me! If Allah made the night continuous for you... (28:71)
ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلً
but We have made the sun its guide.
means, were it not for the sun rising, it would not be there, for a thing can only be known in contrast to its opposite.
Qatadah and As-Suddi said,
The sun is a guide which follows the shade until the shade disappears.
ثُمَّ قَبَضْنَاهُ إِلَيْنَا قَبْضًا يَسِيرًا
Then We withdraw it towards Ourselves -- a gradual withdrawal.
This refers to the shade.
يَسِيرًا
(gradual) meaning slowly.
As-Suddi said:
A gentle, concealed, withdrawal until there is no shade left on earth except under a roof or a tree, and the sun is shining on whatever is above it.
قَبْضًا يَسِيرًا
(a gradual withdrawal).
Ayub bin Musa said:
Little by little.
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا
And it is He Who makes the night a covering for you,
It covers and conceals all things.
This is like the Ayah:
وَالَّيْلِ إِذَا يَغْشَى
By the night as it envelops. (92:1)
وَالنَّوْمَ سُبَاتًا
and the sleep a repose,
means, a halt to movement so that bodies may rest. For the faculties and limbs get tired from their constant movement during the day when one goes out to earn a living. When night comes, and it becomes quiet, they stop moving, and rest; so sleep provides a rejuvenation for both the body and the soul.
وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا
and makes the day Nushur.
meaning, people get up and go out to earn a living and attend to their business.
This is like the Ayah:
وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُواْ فِيهِ وَلِتَبتَغُواْ مِن فَضْلِهِ
It is out of His mercy that He has made for you the night and the day that you may rest therein and that you may seek of His bounty... (28:73
This is also part of His complete power and supreme authority
Allah says:
وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ
And it is He Who sends the winds as heralds of glad tidings, going before His mercy;
Allah sends the winds as heralds of glad tidings, i.e., they bring the clouds behind them.
The winds are of many different types, depending on the purpose for which they are sent. Some of them form the clouds, others carry the clouds or drive them, and others come ahead of the clouds as heralds announcing their coming. Some of them come before that to stir up the earth, and some of them fertilize or seed the clouds to make it rain.
Allah says:
وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاء مَاء طَهُورًا
and We send down pure water from the sky,
meaning, as a means of purifying it.
Abu Sa`id said,
It was said:O Messenger of Allah, can we perform Wudu' with the water of the well of Buda`ah, for it is a well in which rubbish and the flesh of dogs are thrown.
He said:
إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْء
Water is pure and nothing makes it impure.
This was recorded by Ash-Shafi`i and Ahmad, who graded it Sahih, and also by Abu Dawud and At-Tirmidhi, who graded it Hasan, and by An-Nasa'i.
His saying
لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَّيْتًا
That We may give life thereby to a dead land,
means, a land that waited a long time for rain. It is devoid of vegetation or anything at all. When the rain comes to it, it becomes alive and its hills are covered with all kinds of colorful flowers, as Allah says:
فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَأءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ
but when We send down water to it, it is stirred to life and growth... (41:39)
His saying:
وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا
and We give to drink thereof many of the cattle and men that We had created.
means, so that animals such as cattle can drink from it, and people who are in desperate need of water can drink from it and water their crops and fruits.
This is like the Ayah:
وَهُوَ الَّذِى يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُواْ
And He it is Who sends down the rain after they have despaired, (42:28)
فَانظُرْ إِلَى ءَاثَـرِ رَحْمَةِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْىِ الاٌّرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَأ
Look then at the effects of Allah's mercy, how He revives the earth after its death. (30:50)
His saying
وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا
And indeed We have distributed it among them in order that they may remember,
means, `We cause rain to fall on this land and not on that, and We cause the clouds to pass over one land and go to another, where We cause sufficient rain to fall so that its people have plenty, but not one drop falls on the first land.'
There is a reason and great wisdom behind this.
Ibn Abbas and Ibn Mas`ud, may Allah be pleased with them said:
One year does not have more rain than another, but Allah distributes the rain as He wills. Then he recited this Ayah:
وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُورًا
And indeed We have distributed it (rain or water) amongst them in order that they may remember the grace of Allah, but most men refuse (out of) ingratitude.
meaning, so that they may be reminded, when Allah brings the dead earth back to life, that He is able to bring the dead and dry bones back to life, or that those from whom rain is withheld are suffering this because of some sin they have committed, so that they may give it up.
فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُورًا
but most men refuse (out of) ingratitude.
Ikrimah said,
This refers to those who say that rain comes because of such and such a star.
This view of Ikrimah is similar to the authentic Hadith recorded in Sahih Muslim;
one day after a night's rain, the Messenger of Allah said to his Companions:
أَتَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ
Do you know what your Lord says?
They said:Allah and His Messenger know best.
He said:
قَالَ
أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُوْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَاكَ مُوْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَاكَ كَافِرٌ بِي مُوْمِنٌ بِالْكَوْكَب
He says:
This morning some of My servants became believers in Me, and some became disbelievers. As for the one who said, `We have been given rain by the mercy and grace of Allah,' he is a believer in Me and a disbeliever in the stars. As for the one who said, `We have been given rain by such and such a star,' he is a disbeliever in Me and a believer in the stars.
The universality of the Prophet's Message, how He was supported in His Mission and Allah's Blessings to Mankind
Allah says:
وَلَوْ شِيْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا
And had We willed, We would have raised a warner in every town.
`Calling them to Allah, but We have singled you out, O Muhammad, to be sent to all the people of earth, and We have commanded you to convey the Qur'an,'
لااٌّنذِرَكُمْ بِهِ وَمَن بَلَغَ
that I may therewith warn you and whomsoever it may reach. (6:19)
وَمَن يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الاٌّحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ
but those of the sects that reject it, the Fire will be their promised meeting place. (11:17)
لِّتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا
that you may warn the Mother of the Towns and all around it. (42:7)
قُلْ يَأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
Say:O mankind! Verily, I am sent to you all as the Messenger of Allah... (7:158)
In the Two Sahihs it is reported that the Prophet said:
بُعِثْتُ إِلَى الاَْحْمَرِ وَالاَْسْوَد
I have been sent to the red and the black.
And:
وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّة
A Prophet would be sent to his own people, but I have been sent to all of mankind.
Allah says
فَلَ تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ
So obey not the disbelievers, but strive hard against them with it.
meaning, with the Qur'an.
This was the view of Ibn Abbas.
جِهَادًا كَبِيرًا
with the utmost endeavour.
This is like the Ayah,
يَأَيُّهَا النَّبِىُّ جَـهِدِ الْكُفَّـرَ وَالْمُنَـفِقِينَ
O Prophet! Strive hard against the disbelievers and the hypocrites, (9:73)
Allah says
وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ
And it is He Who has let free the two seas, this is palatable and sweet, and that is salty and bitter;
means, He has created the two kinds of water, sweet and salty. The sweet water is like that in rivers, springs and wells, which is fresh, sweet, palatable water.
This was the view of Ibn Jurayj and of Ibn Jarir, and this is the meaning without a doubt, for nowhere in creation is there a sea which is fresh and sweet.
Allah has told us about reality so that His servants may realize His blessings to them and give thanks to Him. The sweet water is that which flows amidst people. Allah has portioned it out among His creatures according to their needs; rivers and springs in every land, according to what they need for themselves and their lands.
وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ
and that is salty and bitter;
meaning that it is salty, bitter and not easy to swallow.
This is like the seas that are known in the east and the west, the Atlantic Ocean and the Straits that lead to it, the Red Sea, the Arabian Sea, the Persian Gulf, the China Sea, the Indian Ocean, the Mediterranean Sea, the Black Sea and so on, all the seas that are stable and do not flow, but they swell and surge in the winter and when the winds are strong, and they have tides that ebb and flow. At the beginning of each month the tides ebb and flood, and when the month starts to wane they retreat until they go back to where they started. When the crescent of the following month appears, the tide begins to ebb again until the fourteenth of the month, then it decreases.
Allah, may He be glorified, the One Whose power is absolute, has set these laws in motion, so all of these seas are stationary, and He has made their water salty lest the air turn putrid because of them and the whole earth turn rotten as a result, and lest the earth spoil because of the animals dying on it. Because its water is salty, its air is healthy and its dead are good (to eat), hence when the Messenger of Allah was asked whether sea water can be used for Wudu', he said:
هُوَ الطَّهُورُ مَاوُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُه
Its water is pure and its dead are lawful.
This was recorded by Malik, Ash-Shafi`i and Ahmad, and by the scholars of Sunan with a good (Jayyid) chain of narration.
وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا
and He has set a barrier and a complete partition between them.
meaning, between the sweet water and the saltwater.
بَرْزَخًا
(a barrier),
means a partition, which is dry land.
وَحِجْرًا مَّحْجُورًا
(and a complete partition),
means, a barrier, to prevent one of them from reaching the other.
This is like the Ayat:
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ
بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لاَّ يَبْغِيَانِ
فَبِأَىِّ ءَالاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
He has let loose the two seas meeting together. Between them is a barrier which none of them can transgress. Then which of the blessings of your Lord will you both deny! (55:19-21)
أَمَّن جَعَلَ الاٌّرْضَ قَرَاراً وَجَعَلَ خِلَلَهَأ أَنْهَاراً وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِىَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزاً أَءِلـهٌ مَّعَ اللهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Is not He Who has made the earth as a fixed abode, and has placed rivers in its midst, and placed firm mountains therein, and set a barrier between the two seas! Is there any god with Allah! Nay, but most of them know not! (27:61)
And Allah says
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاء بَشَرًا
And it is He Who has created man from water,
means, He created man from a weak Nutfah, then gave him shape and formed him, and completed his form, male and female, as He willed.
فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا
and has appointed for him kindred by blood, and kindred by marriage.
in the beginning, he is someone's child, then he gets married and becomes a son-in-law, then he himself has sons-in-law and other relatives through marriage. All of this comes from a despised liquid,
Allah says:
وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا
And your Lord is Ever All-Powerful to do what He wills.
And, mention, the people of Noah, when they denied the messengers, in denying Noah - it is as though he were many messengers given the length of time he remained among them; or [it is thus expressed in the plural] because to deny him is [equivalent] to denying all the other messengers, for they all came with the same [Message concerning] affirmation of God's Oneness - We drowned them (this is the response to lammaa, 'when') and made them a sign, a lesson, for mankind, thereafter, and We have prepared, in the Hereafter, for the evildoers, the disbelievers, a painful chastisement, in addition to what [chastisement] may befall them in this world.
Commentary
In the above verses it is mentioned that it had been the common practice of the people through the ages to rebuff the prophets and the message they had brought. In order to give weight to this assertion a few of the well known prophets are mentioned who were rejected by their people and then they were subjected to Allah's wrath and were annihilated completely. By drawing a parallel with the past generations it is elucidated that the pagans of Makkah would not listen to any reason as they were no better than the animals or even worse than that.
It is stated about the people of Sayyidna Nuh (علیہ السلام) that they had rejected the prophets, although they had neither seen the past prophets nor had they rejected them. at is actually meant here is that while denying Sayyidna Nuh (علیہ السلام) they had by implication rejected all the prophets, because the principals of religion expounded by all prophets are essentially the same. Hence rejection of one prophet is tantamount to rejection of all.
أَصْحَابَ الرَّسِّ (People of Rass - 25:38). In Arabic رَس (Rass) means unlined well. Neither Qur'an nor any authentic tradition describes these people in any detail. Whatever information is available about them is through Israelite traditions, which differ from one another. It is more likely that the remaining people of Thamud had settled down near a well. It is not mentioned in the Qur'an or any tradition as to how they were tormented. (Bayan u1-Qur'an)








