ٱلْمُؤْمِنُون ٢٧
- فَأَوۡحَيۡنَآ maka Kami wahyukan
- إِلَيۡهِ kepadanya
- أَنِ agar
- ٱصۡنَعِ buatlah
- ٱلۡفُلۡكَ perahu
- بِأَعۡيُنِنَا dengan pengawasan Kami
- وَوَحۡيِنَا dan wahyu/petunjuk Kami
- فَإِذَا maka apabila
- جَآءَ telah datang
- أَمۡرُنَا perintah kami
- وَفَارَ dan telah memancar
- ٱلتَّنُّورُ tanur
- فَٱسۡلُكۡ maka masukkanlah
- فِيهَا didalamnya (perahu ini)
- مِن dari
- كُلّٖ tiap-tiap
- زَوۡجَيۡنِ sepasang/sejodoh
- ٱثۡنَيۡنِ dua
- وَأَهۡلَكَ dari keluargamu
- إِلَّا kecuali
- مَن orang
- سَبَقَ lebih dahulu
- عَلَيۡهِ atasnya
- ٱلۡقَوۡلُ perkataan/ketetapan
- مِنۡهُمۡۖ diantara mereka
- وَلَا dan jangan
- تُخَٰطِبۡنِي kamu bicarakan dengan Aku
- فِي dalam/tentang
- ٱلَّذِينَ orang-orang yang
- ظَلَمُوٓاْ (mereka) zalim
- إِنَّهُم sesungguhnya mereka
- مُّغۡرَقُونَ mereka ditenggelamkan
Lalu Kami wahyukan kepadanya, "Buatlah kapal di bawah pengawasan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam (kapal) itu sepasang-sepasang dari setiap jenis, juga keluargamu, kecuali orang yang lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa siksaan) di antara mereka. Dan janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.
(Lalu Kami wahyukan kepadanya, "Buatlah bahtera) yakni perahu (di bawah pengawasan Kami) maksudnya di bawah penilikan dan pengawasan Kami (dan wahyu Kami) yaitu perintah Kami (maka apabila perintah Kami datang) yakni perintah untuk membinasakan mereka (dan tanur telah memancarkan air) dapur pembuat roti telah memancarkan air, sebagai pertanda bagi Nabi Nuh (maka masukkanlah ke dalam bahtera itu) naikkanlah ke dalamnya (dari tiap-tiap jenis) hewan (sepasang) jantan dan betina. Lafal Itsnaini adalah Maf'ul, sedangkan huruf Min berta'alluq kepada lafal Usluk. Menurut suatu kisah disebutkan, bahwa Allah ﷻ mengumpulkan bagi Nabi Nuh segala macam jenis binatang liar dan burung-burung, serta hewan-hewan lainnya. Kemudian Nabi Nuh memukulkan tangannya kepada tiap-tiap jenis, tangan kanannya mengenai jenis jantan dan tangan kirinya mengenai jenis betina, kemudian ia menaikkan semuanya ke dalam bahtera. Menurut Qiraat yang lain lafal kulli dibaca Kullin; berdasarkan qiraat ini lafal Zaujaini menjadi Maf'ul dan lafal Itsnaini berkedudukan mengukuhkan maknanya (dan juga keluargamu) istri dan anak-anakmu (kecuali orang yang telah lebih dahulu ketetapan azab atasnya di antara mereka) yaitu istri dan anaknya yang bernama Kan`an, lain halnya dengan anak-anaknya yang lain, yaitu Sam, Ham dan Yafits, Nabi Nuh mengangkut mereka bersama dengan istri-istri mereka ke dalam bahtera. Di dalam surah Hud telah disebutkan melalui firman-Nya, 'Dan muatkan pula orang-orang yang beriman. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.' (Q.S. Hud, 40). Menurut suatu pendapat dikatakan, bahwa jumlah mereka ada enam orang laki-laki berikut istri mereka. Menurut pendapat yang lain dikatakan, bahwa semua orang yang ada di dalam bahtera jumlahnya tujuh puluh delapan orang; separuh laki-laki dan yang separuh lagi perempuan. (Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim) yaitu orang-orang yang kafir, biarkanlah mereka binasa (karena sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan).
Tafsir Surat Al-Mu'minun: 26-30
Nuh berdoa, "Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakan aku.” Lalu Kami wahyukan kepadanya, "Buatlah kapal di bawah pengawasan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam kapal itu sepasang dari tiap-tiap (jenis) dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas kapal itu, maka ucapkanlah, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim.” Dan berdoalah, "Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat. Sesungguhnya pada (kejadian) itu benar-benar terdapat beberapa tanda (kebesaran Allah), dan sesungguhnya Kami menimpakan azab (kepada kaum Nuh itu).
Ayat 26
Allah ﷻ menceritakan tentang Nabi Nuh a.s., bahwa dia berdoa kepada Tuhannya untuk meminta tolong kepada-Nya terhadap kaumnya. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firmannya: “Maka dia mengadu kepada Tuhannya: ‘Aku ini adalah orang yang dikalahkan. Oleh sebab itu, menangkanlah aku’.” (Al-Qamar: 10). Dan dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:
“Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakan aku.” (Al-Mu'minun: 26)
Maka pada saat itu juga Allah memerintahkan kepada Nuh untuk membuat perahu besar dengan pembuatan yang kuat dan kokoh atas bimbingan Allah, dan hendaknya Nuh memuatkan ke dalam kapalnya itu sepasang dari tiap-tiap jenis, baik manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya yang berpasangan. Hendaknya pula Nuh membawa keluarganya (yang beriman) ke dalam kapalnya itu.
Ayat 27
“Kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka.” (Al-Mu'minun: 27)
Yakni orang-orang yang telah ditakdirkan oleh Allah akan binasa. Mereka adalah dari kalangan keluarga Nuh yang tidak beriman kepadanya, seperti anak dan istrinya. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.
Firman Allah ﷻ: “Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (Al-Mu'minun: 27)
Yaitu di saat kamu menyaksikan turunnya hujan yang lebat, janganlah sekali-kali kamu merasa kasihan terhadap kaummu, jangan pula kamu merasa sayang kepada mereka, lalu kamu mengharapkan agar azab itu ditangguhkan dari mereka dan mengharapkan mereka beriman. Karena sesungguhnya Aku telah menetapkan bahwa mereka adalah orang-orang yang ditenggelamkan disebabkan kezaliman dan kekafiran mereka. Kisah mengenai hal ini secara panjang lebar telah dikemukakan dalam tafsir surat Hud. Jadi tidak perlu diulangi lagi dalam tafsir surat ini.
Ayat 28
Firman Allah ﷻ: “Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas kapal itu, maka ucapkanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim’." (Al-Mu'minun: 28)
Semakna dengan apa yang telah disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dan menjadikan untuk kalian kapal dan binatang ternak yang kalian tunggangi. Supaya kalian duduk di atas punggungnya, kemudian kalian ingat nikmat Tuhan kalian apabila kalian telah duduk di atasnya; dan supaya kalian mengucapkan, ‘Maha Suci Tuhan Yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami’." (Az-Zukhruf: 12-14)
Nabi Nuh a.s.melaksanakan perintah ini, seperti yang dijelaskan di dalam firman-Nya: “Dan Nuh berkata, ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya’." (Hud: 41)
Ayat 29-30
Adapun firman Allah ﷻ: “Dan berdoalah, ‘Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat’." (Al-Mu'minun: 29) dan firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya pada (kejadian) itu benar-benar terdapat beberapa tanda (kebesaran Allah).” (Al-Mu'minun: 30).
Artinya, sesungguhnya pada kejadian itu yakni diselamatkan-Nya kaum mukmin dan dibinasakan-Nya orang-orang kafir benar-benar terdapat tanda-tanda dan bukti-bukti yang jelas yang menunjukkan kebenaran para nabi tentang apa yang mereka sampaikan dari Allah ﷻ Yang Maha Berbuat terhadap segala sesuatu yang dikehendaki-Nya lagi Maha Mengetahui segala sesuatu.
Firman Allah ﷻ: “Dan sesungguhnya Kami menimpakan azab (kepada kaum Nuh itu).” (Al-Mu'minun: 30)
Yakni benar-benar mencoba hamba-hamba-Nya dengan mengutus para rasul kepada mereka.
Allah memperkenankan doa Nabi Nuh tersebut. Lalu Kami wahyukan kepadanya, 'Buatlah kapal untuk menyelamatkan dirimu dan para pengikutmu, yang prosesnya di bawah pengawasan dan petunjuk Kami. Maka apabila perintah dan siksa yang Kami siapkan untuk kaummu yang kafir datang, engkau pun telah menyelesaikan perahu itu, dan tanur yakni dapur telah memancarkan air, maka masukanlah ke dalam kapal itu sepasang-sepasang, yakni jantan dan betina, dari setiap jenis hewan, dan naikkan juga keluargamu, kecuali orang yang lebih dahulu ditetapkan sebagai penerima siksa Kami di antara mereka. Dan janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim. Jangan kaumohon agar mereka diselamatkan, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan, dan tidak ada yang dapat mengubah ketetapan-Ku. 28-29. Melanjutkan arahan-Nya kepada Nabi Nuh, Allah berfirman, 'Dan apabila engkau dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas kapal, maka ucapkanlah, 'Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari kejahatan dan gangguan orang-orang kafir yang zalim. ' Dan berdoalah pula terutama ketika engkau turun dari bahtera itu, 'Ya Tuhanku, tempatkanlah aku di kapal ini atau di mana pun yang Engkau kehendaki pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat dan pemberi kemuliaan bagi hamba-Mu. '.
Setelah doa Nuh diperkenankan, maka Allah mewahyukan kepada-nya, agar ia mulai membuat perahu di bawah pengawasan dan petunjuk wahyu-Nya, supaya perahu itu kokoh dan tidak mudah mengalami kerusakan dan supaya Nuh mengetahui teknik pembuatannya, sebab pembuatan sebuah perahu yang besar dan kukuh tentu saja memerlukan keahlian. Apabila perintah Allah sudah datang untuk membinasakan kaumnya dengan topan yang besar, dan tanda-tandanya sudah tampak, yaitu tannur tempat membakar roti di bawah tanah sudah mulai memancarkan air, maka Allah menyuruh Nabi Nuh memasukkan ke dalam perahu itu sepasang jantan dan betina dari tiap-tiap jenis binatang. Dalam perahu dibuat bertingkat-tingkat. Tingkat yang paling bawah untuk binatang buas seperti singa, harimau, dan sebagainya. Di tingkat kedua binatang ternak seperti: sapi, kambing, dan sebagainya. Di tingkat ketiga semua jenis burung sepasang-pasang dan di tingkat yang paling atas sekali Nabi Nuh dengan sekalian keluarganya yang selamat, di antaranya tiga orang putranya: Sam, Ham dan Yafis. Adapun putra beliau yang bernama Kanan termasuk orang yang tenggelam, karena ia tidak mau ikut bersama ayahnya.
Dengan dimasukkannya setiap jenis binatang yang ada pada waktu itu, maka perahu Nuh merupakan kebun binatang yang lengkap. Semua binatang yang tidak masuk ke dalam perahu dan orang kafir yang tidak mengikuti ajakan Nabi Nuh ditenggelamkan dalam topan besar itu, sesuai dengan ancaman Allah bahwa mereka akan ditimpa azab. Allah sebelumnya melarang Nuh supaya jangan memberitahukan rencana Allah dan maksud pembuatan perahu kepada orang-orang yang zalim itu, karena mereka semuanya akan ditenggelamkan.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Dan Sesungguhnya telah Kami utus Nuh kepada kaumnya. Maka dia pun berkata: Hai kaumku, berbaktiiah kamu semuanya kepada Allah. Sebab tidak ada bagimu Tuhan yang lain, selain Dia." (pangkal ayat 23).
Perhatikanlah dengan seksama urutan datangnya Wahyu. Mula-mula diceritakan dari hal air, kebun buah-buahan, tanam-tanaman, binatang temak. Kehidupan dan kesuburan, semuanya bergantung sangat kepada turunnya hujan. Binatang temak sebagai kuda dan unta dapat dijadikan kendaraan pengangkut manusia, sama juga halnya dengan kapal yang belayar pula mengangkut manusia di lautan. Maka setelah terbayang dalam fikiran keadaan laut dan kapal, barulah diceritakan perjuangan Nabi Muhammad. Dan memang, perjuangan Nabi Nuh kelaknya akan menerangkan lagi tentang air hujan dan menerangkan lagi tentang kapal.
Maka pokok pertama dari ajaran yang beliau bawa kepada kaumnya ialah memberi ingat bahwa Tuhan yang lain tidak ada, yang Tuhan hanyalah Allah. Hujan tidak turun, makanan tidak terjamin, binatang temak tak berkembang biak dan angkutan yang menghubungkan di antara dserah dengan dserah tidak akan lancar, kalau bukan kurnia dari Tuhan Allah Yang Esa. Manusia haruslah menginsafi itu. Kalau dia telah sadar akan keesaan Ilahi, fikirannya tidak pecah lagi di dalam menginsafi itu. Kalau dia telah sadar akan keesaan Ilahi, fikirannya tidak pecah lagi di dalam menghadapi tugas hidup. Pengakuan akan Kesatuan Tuhan, niscaya menimbulkan kesatuan bakti, yaitu kesatuan ibadat. Karena memang tidak sesuatu pun yang patut disembah dan dibakti, kecuali Tuhan Allah.
“Apakah kamu tidak juga mau takwa?" (ujung ayat 23). Apakah kamu tidak sadar, bahwasanya keadaan bIsa berubah-ubah, dalam sekejap mata? Tidakkah kamu tidak sadar bahwasanya nikmat yang telah diberikan Tuhan hari ini dapat dicabutnya kembali besok? Adakah sesuatu dalam dunia ini yang tetap? “Takwa" artinya memelihara dan menyadari, kadang-kadang timbul takut, sehingga kerapkali dengan bergegas saja orang mengartikan takwa dengan takut, padahal dia lebih meliputi daripada semata-mata “takut".
Kalau takwa bertali dengan “wiqayah", yaitu memelihara hubungan baik dengan Tuhan. Karena apabila telah ada hubungan yang baik dengan Tuhan, apa pun yang akan datang menimpa diri, namun kita tidak akan merasa cemas lagi.
itu, tidaklah segera dapat sambutan yang baik. Penyeru kebenaran di dalam dynia ini tidaklah mudah mencapai maksudnya. Sebab kebenaran itu tidaklah selalu mania. Kadang-kadang betapa pun besar seruan yang dibawa, ditawar orang terlebih dahulu, siapa yang mengatakan, siapa yang membawa dan bagaimana kedudukannya (posisiNya) dalam masyarakat. Oleh sebab itu datanglah terusan ayat:
“Maka berkatalah satu golongan yang kafir dari kaumnya: Orang ini hanyalah manusia serupa kamu juga, yang ingin hendak melebihkan dirinya di atas kamu. Kalau betul-betul Allah yang menghendaki, tentu malaikatlah yang dlturunkanNya. Tidaklah pernah kita mendengar ucapan-ucapan semacam ini sejak nenek-moyang kita yang dahulu(ayat 24).
Coba perhatikan ayat ini: Mereka tidak membicarakan isi seruan. Mereka tidak mengaji apa yang diaerukan oleh Nabi Nuh, kebenaran atau kesalahan-, nya. Yang mereka kaji hanyalah bahwa seorang yang bernama Nuh hendak melebihi mereka, hendak mengatasi mereka, “hendak mencari nama". Padahal mereka adalah orang-orang bangﷺan, kedudukan yang menentukan di dalam negeri. Sekarang datang saja seorang yang belum mempunyai “sejarah", membawa-bawa pula soal Ketuhanan. Bukanlah isi seruannya yang salah, tetapi orang yang membawa seruan, itulah yang kurang pantas. Kalau benar seman ini memang atas kehendak Allah, alangkah baik dan tepatnya kalau yang diutus itu Malaikat dari langit, supaya kami bIsa segan dan hormat kepadanya. Adapun kalau utusan itu masih manusia juga, walaupun dari mana datangnya, tidak seorang juga yang dapat kami segani, sebab kedudukan (posisi) mereka dalam masyarakat tidak ada yang melebihi kami. Dan lagi sejak nenek-moyang kami dulu-dulu, belum ada orang yang berani membuka-buka soal yang seperti ini. Ini adalah satu kelancangan. Siapakah orangnya Nuh itu, yang begitu berani melintasi orang tua-tua dan orang-orang yang berkedudukan tinggi di kalangan masyarakat?
“Dia itu, tidak lain hanyalah seorang yang ditimpa gila. Maka tunggulah hingga datang waktunya.(ayat 25).
Begitulah mereka menilai Nabi Nuh. Dia membawa suara baru, kata mereka yang begitu besar dan pongah, dan tidak diukunya terlebih dahulu dengan dirinya sendiri. Tidak ada yang berani mengeluarkan kata-kata begini, kalau orang tahu akan dirinya. Orang yang tidak tahu dirilah yang bermulut lancang. Dan kelancangan adalah alamat gila. Lebih baik kita tunggu perkembangan selanjutnya.
Ayat ini memberi kita pelajaran yang mendalam tentang dasar-dasar ilmu masyarakat. Suatu masyarakat yang telah membeku dengan susunannya yang lama dan bobrok akan dipertahankan dengan keras dan berici menerima perubahan.
“Berkata dia: Tuhan, tolong kiranya akan daku, karena mereka telah mendustakan daku." (ayat 26).
Dia sendiri sebagai manusia, tidaklah mempunyai daya apa-apa. Dia pun insaf betapa besar yang dihartapinya. Kekuatannya sebagai manusia tidaklah ada. Dia tidak mempunyai daya sendiri. Tunjukkanlah kepadanya kelanjutan langkah yang harus ditempuh. Kalau petunjuk itu datang, sebagai seorang Utusan Ilahi, sebagai seorang yang beriman, sekali-kali dia tidak akan mengelak., Ketentuan Tuhan pun datanglah.
The Story of Nuh, Peace be upon Him; and his people
Allah tells;
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ
And indeed We sent Nuh to his people,
Allah tells us about Nuh, peace be upon him, whom He sent him to his people to warn them of the severe punishment of Allah and His severe vengeance on those who associated partners with Him, defied His commands and disbelieved His Messengers:
فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَ تَتَّقُونَ
and he said:O my people! Worship Allah! You have no other God but Him. Will you not then have Taqwa!'
Meaning, Do you not fear Allah when you associate others in worship with Him
فَقَالَ الْمَلَُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ
But the chiefs of his people who disbelieved said:
The chiefs or leaders of his people said:
مَا هَذَا إِلاَّ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ
He is no more than a human being like you, he seeks to make himself superior to you.
meaning, `he is putting himself above you and trying to make himself great by claiming to be a Prophet, but he is a human being like you, so how can he receive revelation when you do not!'
وَلَوْ شَاء اللَّهُ لَاَنزَلَ مَلَيِكَةً
.
Had Allah willed, He surely could have sent down angels.
meaning, `if Allah had wanted to send a Prophet, He would have sent an angel from Him, not a human being.
..
مَّا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي ابَايِنَا الاَْوَّلِينَ
Never did we hear such a thing among our fathers of old.
We have never heard of such a thing -- i.e., sending a man to our forefathers' -- their predecessors in times past
إِنْ هُوَ إِلاَّ رَجُلٌ بِهِ جِنَّةٌ
He is only a man in whom is madness,
means, `he is crazy in his claim that Allah has sent him and chosen him from among you to receive revelation.'
فَتَرَبَّصُوا بِهِ حَتَّى حِينٍ
so wait for him a while.
means, `wait until he dies, put up with him until you are rid of him.
Allah tells us that Nuh, peace be upon him, invoked his Lord to help him against his people,
Allah tells;
قَالَ رَبِّ انصُرْنِي بِمَا كَذَّبُونِ
He (Nuh) said:O my Lord! Help me because they deny me.
as Allah mentions in another Ayah:
فَدَعَا رَبَّهُ أَنُّى مَغْلُوبٌ فَانتَصِرْ
Then he invoked his Lord (saying):I have been overcome, so help (me)! (54:10)
Here he says:
رَبِّ انصُرْنِي بِمَا كَذَّبُونِ
(O my Lord! Help me because they deny me).
فَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا فَإِذَا جَاء أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ فَاسْلُكْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ
So, We revealed to him:Construct the ship under Our Eyes and under Our revelation. Then, when Our command comes, and (water) gushes forth from the oven, take on board of each kind two, and your family,
At that point, Allah commanded him to build a boat and to make it strong and firm, and to carry therein of every kind two, i.e., a male and a female of every species of animals, plants and fruits etc. He was also to carry his family,
إِلاَّ مَن سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ مِنْهُمْ
except those thereof against whom the Word has already gone forth.
meaning, those whom Allah had already decreed were to be destroyed. These were the members of his family who did not believe in him, such as his son and his wife.
And Allah knows best.
وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ
And address Me not in favor of those who have done wrong. Verily, they are to be drowned.
means, `when you witness the heavy rain falling, do not let yourself be overcome with compassion and pity for your people, or hope for more time for them so that they may believe, for I have decreed that they will be drowned and will die in their state of disbelief and wrongdoing.'
The story has already been told in detail in Surah Hud, and there is no need to repeat it here
فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنتَ وَمَن مَّعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ
And when you have embarked on the ship, you and whoever is with you, then say:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
`All the praise be to Allah, Who has saved us from the people who are wrongdoers.'
This is like the Ayah:
وَالَّذِى خَلَقَ الَازْوَجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الْفُلْكِ وَالاٌّنْعَـمِ مَا تَرْكَبُونَ
لِتَسْتَوُواْ عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُواْ نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُواْ سُبْحَـنَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَـذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ
وَإِنَّأ إِلَى رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ
and has appointed for you ships and cattle on which you ride:In order that you may mount on their backs, and then may remember the favor of your Lord when you mount thereon, and say:Glory to Him Who has subjected this to us, and we could never have it (by our efforts). And verily, to Our Lord we indeed are to return! (43:12-14)
So, certainly, Nuh adhered to what he was commanded, as Allah says elsewhere:
وَقَالَ ارْكَبُواْ فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا
And he said:Embark therein:in the Name of Allah will be its (moving) course and its (resting) anchorage... (11:41)
So Nuh mentioned Allah at the beginning of his journey and at the end, and Allah said:
وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلاً مُّبَارَكًا وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ
And say:`My Lord! Cause me to land at a blessed landing place, for You are the Best of those who bring to land.
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَايَاتٍ
Verily in this, there are indeed Ayat,
means in this event, which is the saving of the believers and the destruction of the disbelievers there are signs, i.e., clear evidence and proof that the Prophets speak the truth in the Message they bring from Allah, may He be exalted, and that Allah does what He wills, and He is able to do all things and knows all things.
وَإِن كُنَّا لَمُبْتَلِينَ
for sure We are ever putting (men) to the test.
means, `We try Our servants by means of sending the Messengers.
So We revealed to him [saying], 'Build the Ark, the ship, under Our watch, under Our observation and protection, and [by] Our revelation, Our command. Then, when Our command comes, that they be destroyed, and the oven, of the baker, gushes, with water - and this was Noah's sign - bring into it, admit into the ship, of every kind [of animal] two mates, a male and a female, that is, [two] of every species thereof (ithnayn is an object; min, 'of', is semantically connected to usluk, 'bring into [it]'). According to the story God, exalted be He, gathered all the beasts of prey and the birds and other [animals] for Noah. As he [Noah] pushed forth his hands into each species, his right hand would fall upon a male and the left upon a female, whereafter he would take them on board the ship (a variant reading [for min kuli, 'of every'] is min kullin, 'of every [kind]', in which case zawjayni, '[two] mates', becomes a direct object, with ithnayn, 'two', [being repeated] for emphasis thereof); together with your family - his wife [?] and children - except for those against whom the Word has already gone forth, that they be destroyed, namely, his wife and his son Canaan (Kan'aan), unlike Shem (Saam), Ham (Haam) and Japheth (Yaafith) whom, together with their three wives, he carried on board. In soorat Hood [the following is mentioned where Noah is told who he should carry in the ship]: '. and those who believe.' And none believed with him except a few [Q. 11:40]. It is said that these were six men and their wives. Moreover it is said that all those who were on the ship numbered seventy eight, half of them were men and half were women. And do not plead with Me concerning those who have done wrong, those who have disbelieved, that I should refrain from destroying them. They shall indeed be drowned.
وَفَارَ التَّنُّورُ (And the oven gushes forth - 23:27). The word تَّنُّور means oven which is used for making flat, round bread, and is also used in the sense of the whole earth. According to some people تَّنُّور is a specific oven in the Kufah mosque, while others believe that it was somewhere in Syria. Sayyidna Nuh (علیہ السلام) was informed by Allah that when water began boiling forth from the تَّنُّور (oven) that would be the sign of the coming of the Deluge (Mazhari). The story of Sayyidna Nuh (علیہ السلام) ، the Deluge and his Ark has been reported in some earlier Surahs (See Volume 4, p. 626 to 643).