ٱلْحَجّ ٤٧
- وَيَسۡتَعۡجِلُونَكَ dan mereka minta disegerakan kepadamu
- بِٱلۡعَذَابِ dengan azab
- وَلَن dan tidak
- يُخۡلِفَ menyalahi
- ٱللَّهُ Allah
- وَعۡدَهُۥۚ janji-Nya
- وَإِنَّ dan sesungguhnya
- يَوۡمًا sehari
- عِندَ di sisi
- رَبِّكَ Tuhanmu
- كَأَلۡفِ seperti seribu
- سَنَةٖ tahun
- مِّمَّا dari apa
- تَعُدُّونَ kamu hitung
Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.
(Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya) untuk menurunkan azab itu, maka Dia menurunkannya dalam perang Badar. (Sesungguhnya sehari di sisi Rabbmu) hari-hari di akhirat disebabkan pedihnya azab (adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kalian hitung) dapat dibaca Ya'udduuna dan Ta'udduuna, yakni menurut perhitungan tahun-tahun di dunia.
Tafsir Surat Al-Hajj: 47-48
Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung. Dan berapa banyak kota, yang penduduknya berbuat zalim, yang Aku tangguhkan azab-Ku kepadanya, kemudian Aku azab mereka dan hanya kepada-Kulah kembalinya (segala sesuatu).
Ayat 47
Allah ﷻ berfirman kepada Nabi-Nya: “Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan.” (Al-Hajj:47).
Yakni orang-orang kafir yang atheis lagi mendustakan Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan hari kemudian meminta kepada Nabi ﷺ agar azab itu disegerakan menimpa mereka. Pengertian ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata ‘Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih’." (Al-Anfal: 32). Dan firman Allah ﷻ: “Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan pada kami sebelum hari hisab (perhitungan)’.” (Shad: 16)
Adapun firman Allah ﷻ: “Padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya.” (Al-Hajj: 47)
Yaitu janji yang telah diikrarkan-Nya, bahwa Dia akan menegakkan hari kiamat dan mengadakan pembalasan terhadap musuh-musuh-Nya serta memuliakan kekasih-kekasih-Nya.
Al-Asmu'i mengatakan bahwa ketika ia berada di majelis Abu Amr ibnul Ala, tiba-tiba datanglah Amr ibnu Ubaid dan berkata, "Hai Abu Amr, apakah Allah akan menyalahi mi'ad (ancaman)-Nya?" Abu Amr ibnul Ala menjawab, "Tidak," seraya menyebutkan ayat yang menyangkut ancaman-Nya. Maka Amr ibnu Ubaid berkata kepadanya, "Apakah kamu bukan orang Arab? Sesungguhnya orang-orang Arab menilai bahwa mencabut kembali suatu janji merupakan perbuatan tercela, sedangkan mencabut suatu ancaman merupakan perbuatan yang mulia. Tidakkah kamu pernah mendengar ucapan seorang penyair yang mengatakan: 'Hendaklah anak pamanku dan tetangga-tetanggaku merasa gentar dengan pembalasanku, dan aku tidak akan segan-segan mengadakan pembalasan terhadap orang yang mengintimidasi. Sesungguhnya aku jika mengancam atau berjanji, benar-benar akan menyalahi (mencabut) ancamanku dan menunaikan janjiku'.”
Firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kalian hitung.” (Al-Hajj: 47).
Yakni Allah ﷻ tidak akan menyegerakan azab-Nya, karena sesungguhnya seribu tahun bagi makhluk-Nya sama halnya dengan satu hari bagi-Nya bila dikaitkan dengan keadaan-Nya. Sebab Dia Maha Kuasa untuk melakukan pembalasan, dan bahwa sesungguhnya tiada suatu pun yang dapat luput dari azab-Nya, sekalipun Dia menangguhkannya. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
Ayat 48
“Dan berapa banyak kota, yang penduduknya berbuat zalim, yang Aku tangguhkan azab-Ku kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Kulah kembalinya (segala urusan).” (Al-Hajj: 48).
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepadaku Abdah ibnu Sulaiman, dari Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Orang-orang fakir kaum muslim memasuki surga lebih dahulu daripada orang-orang kaya dalam jarak setengah hari (yang lamanya sama dengan) lima ratus tahun (menurut perhitungan kita di dunia).”
Imam Turmuzi dan Imam Nasai meriwayatkan melalui hadis As-Sauri dari Muhammad ibnu Amr dengan sanad yang sama; Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.
Ibnu Jarir telah meriwayatkannya secara mauquf dari Abu Hurairah, untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyah, telah menceritakan kepada kami Sa'id Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Samir ibnu Nahar yang mengatakan bahwa Abu Hurairah pernah mengatakan bahwa orang-orang fakir kaum muslim memasuki surga sebelum orang-orang kaya dalam jarak setengah hari.
Ketika saya tanyakan kepada Abu Hurairah, "Berapa lamakah setengah hari itu?" Abu Hurairah berkata, "Tidakkah kamu pernah membaca Al-Qur'an?" Saya jawab, "Ya, pernah." Selanjutnya Abu Hurairah membaca firman-Nya: “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kalian hitung.” (Al-Hajj: 47).
Abu Daud di dalam akhir kitab Malahim-nya, bagian dari kitab sunannya, mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Usman, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Safwan, dari Syuraih ibnu Ubaid, dari Sa'd ibnu Abu Waqqas, dari Nabi ﷺ yang bersabda: “Sesungguhnya aku berharap semoga umatku tidak lemah di sisi Tuhan mereka karena diperlambat oleh-Nya selama setengah hari.” Ketika ditanyakan kepada Sa'd, "Berapa lamakah setengah hari itu?" Sa'd menjawab, "Lima ratus tahun."
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Israil, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kalian hitung.” (Al-Hajj: 47). Yakni hari-hari yang telah ditetapkan oleh Allah setelah Dia menciptakan langit dan bumi.
Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Ibnu Basysyar, dari Ibnul Mahdi. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Ikrimah. Imam Ahmad telah mengetengahkannya di dalam kitabnya yang berjudul Ar-Raddu 'Alal Jahmiyyah. Mujahid mengatakan bahwa makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (As-Sajdah: 5).
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Arim ibnu Muhammad ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, dari Yahya ibnu Atiq, dari Muhammad ibnu Sirin, dari seorang lelaki dari kalangan Ahli Kitab yang telah masuk Islam. Ia mengatakan bahwa sesungguhnya Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kalian hitung.” (Al-Hajj: 47). Dan Dia menjadikan usia dunia enam hari dan menjadikan hari kiamat pada hari ketujuhnya. “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kalian hitung.” (Al-Hajj: 47). Sesungguhnya telah berlalu masa enam hari itu, sekarang kalian berada di hari yang ketujuhnya. Perumpamaannya sama dengan seorang wanita yang telah hamil tua dan telah tiba masa melahirkan kandungannya, tetapi tidak diketahui secara tepat bilakah saat kelahirannya itu akan terjadi.
Karena mata hati mereka buta dan telinga mereka tertutup, dan mereka dengan sombong dan menantang meminta kepadamu, Muhammad, agar azab yang dijanjikan kepada orang-orang kafir itu disegerakan di dunia ini. Mereka tidak mengetahui bahwa Allah tidak akan pernah menyalahi janji-Nya bahwa azab yang pedih bagi orang-orang kafir itu akan diberikan di akhirat. Dan sungguh, jika mereka menyadari bahwa sehari di sisi Tuhanmu di akhirat seperti seribu tahun menurut perhitunganmu di dunia sehingga merasakan azab sehari saja di dalam neraka sebanding dengan seribu tahun di dunia. Betapa dah-syatnya azab Allah, mengapa mereka menantang'48. Tantangan orang kafir agar disegerakan pemberian azab bagi me-reka dijawab Allah dengan berfirman, "Dan perhatikanlah, berapa banyak negeri yang Aku tangguhkan penghancurannya, meskipun penduduknya meminta agar azab yang dijanjikan itu disegerakan "Karena penduduknya berbuat zalim, tidak beriman, menghina, dan mengusir utusan Allah, kemudian Aku azab mereka saat mereka merasa aman dari azab-Ku. Dan hanya kepada-Kulah tempat kembali setiap orang dalam kehidupan sesudah mati, baik yang beriman maupun yang kufur.
Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang musyrik Mekah yang mendustakan ayat-ayat Allah, mengingkari seruan Nabi Muhammad ﷺ, tidak percaya kepada adanya hari Kiamat, mereka meminta kepada Nabi Muhammad ﷺ agar kepada mereka ditimpakan pula azab seperti yang telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu. Permintaan itu mereka lakukan, karena yakin bahwa azab itu tidak akan datang.
Permintaan mereka dijawab Allah bahwa azab yang mereka minta itu pasti datang, karena hal itu merupakan Sunnatullah. Allah sekali-kali tidak akan memungkiri janji-Nya. Hanya saja azab itu ditimpakan kepada mereka pada waktu yang telah ditentukan Allah, tidak menurut waktu yang mereka kehendaki. Waktu kedatangan azab itu hanya Allah sajalah yang mengetahuinya, sebagaimana waktu kedatangan azab kepada umat-umat ter- dahulu, yang datang secara tiba-tiba, tanpa diketahui oleh seorang pun darimana dan kapan azab itu datang.
Sebagaimana firman Allah:
Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? (al-A'raf/7: 97-98)
Jika orang-orang musyrik Mekah merasa bahwa telah lama masa berlalu, tetapi azab yang dijanjikan itu belum datang, sehingga mereka berpendapat bahwa azab itu tidak akan datang lagi, maka hendaklah mereka ingat bahwa seribu tahun menurut perasaan mereka adalah sama dengan sehari di sisi Allah. Karena itu hendaklah mereka ingat bahwa Allah pasti menepati janji-Nya setelah berjalan waktu yang lama menurut perasaan mereka. Allah melambatkan kedatangan azab itu bukanlah berarti bahwa Dia telah menyalahi janji yang telah dijanjikan-Nya.
Secara saintis, Ayat ini mensiratkan konsep relativitas waktu. Sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Albert Einstein melalui Teori Relativitas. Sebelumnya, selama hampir 200 tahun, dunia fisika didominasi oleh fisika Newton yang menyatakan bahwa waktu adalah konstan; satu jam adalah sama di mana pun dalam kondisi apa pun.
Contoh berikut akan memberikan ilustrasi tentang konsep waktu yang konstan. Misalkan, Hamzah dan Wildan telah menyamakan waktu di jam tangannya masing-masing. Kemudian, dengan menggunakan sebuah peﷺat yang memiliki kecepatan yang tinggi, mendekati kecepatan cahaya, Hamzah berangkat meninggalkan Wildan. Setelah satu jam (menurut jam tanganya) Hamzah kembali dari perjalanannya dan menemui Wildan. Maka, Newton akan mengatakan bahwa Wildan pun akan merasakan bahwa dia telah menunggu Hamzah selama satu jam. Jam tangan Wildan akan menunjukkan waktu yang sama dengan jam tangan Hamzah.
Einstein tidak akan sependapat dengan hal ini. Menurut dia, waktu adalah relatif, bergantung pada kecepatan bergerak dari seseorang atau sesuatu. Jika Hamzah yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya merasa telah meninggalkan Wildan selama satu jam (menurut jam di tangannya), maka jam tangan Wildan akan menunjukkan bahwa Hamzah telah pergi selama 10 jam. Jika Hamzah pergi pada pukul 8 pagi, maka ketika dia kembali, jam tangan Hamzah akan menunjukkan waktu pukul 9 pagi, sementara jam tangan Wildan akan menunjukkan jam 18.00 atau jam 6 sore. Demikian pula, apabila pada saat Hamzah dan Wildan sama-sama berumur 20 tahun, kemudian Hamzah bepergian meninggalkan Wildan dengan kecepatan mendekati cahaya selama 5 tahun (menurut waktu Hamzah), maka pada saat mereka bertemu, Hamzah akan berumur 25 tahun, sementara Wildan telah berumur 70 tahun. Demikianlah waktu bersifat relatif.
Al-Qur'an telah mengisyaratkan hal ini semenjak 14 abad yang lalu. Allah mengatur urusan dari langit ke bumi dan kembali lagi ke langit dengan kecepatan yang sangat tinggi sedemikian sehingga semua ini hanya berlangsung satu hari yang lamanya sama dengan 1000 tahun menurut hitungan waktu kita. Relativitas waktu seperti ini juga terdapat dalam as-Sajdah/32:5; al-Ma'arij/70: 4.
Dalam ayat ini, satu hari setara dengan 50.000 tahun. Hal ini bisa saja terjadi, bergantung kepada kecepatan bergerak dari malaikat.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Sebagai penawar dan pembujuk jika kaum musyrikin itu mendustakan Nabi, maka datanglah ayat ini:
“Dan jika mereka dustakan engkau." (pangkal ayat 42). Mereka tidak mau percaya kepada seruan yang engkau bawa, bahkan kadang-kadang mereka cemuhkan: “Maka sesungguhnya telah mendustakan pula sebelum mereka kaum Nuh dan ‘Ad" (yaitu kaum Nabi Hud) “dan Tsamud." (yaitu kaum Nabi Shalih). (ujung ayat 42).
“Dan kaum Ibrahim." (pangkal ayat 43). Yaitu bangsa Kaldan sebelum Nabi Ibrahim meninggalkan negeri itu, “dan kaum Luth." (ujung ayat 43). Luth kemenakan dari Nabi Ibrahim. Kaumnya ialah penduduk Sadum (Sodom) yang laki-laki suka bersetubuh dengan sesama laki-laki.
“Dan penduduk Madyan." (pangkal ayat 44). Yang diutus Tuhan kepada mereka Nabi Syu'aib. Penduduk yang terkenal berniaga dan berlaku curang di dalam timbangan dan ukuran. "Dan telah diriustakan (pula) Musa." Tentang Nabi Allah Musa tidaklah disebut dalam ayat ini bahwa beliau diriustakan oleh kaumnya. Sebab yang mendustakan adalah Raja Fir'aun: “Maka Aku perlambat (waktu) bagi orang-orang yang tidak percaya itu." Maksudnya ialah bahwa tidaklah segera Allah menjatuhkan hukum dan siksaan kepada kaumkaum yang mendustakan itu. Kadang-kadangdirasakan, terutama oleh orang yang menderita atau silau melihat kemegahan, orang-orang yang durhaka itu, Mengapa Tuhan tidak juga bertindak menghancurkan mereka. Padahal mereka telah nyata mendurhaka kepada Tuhan. "Kemudian aku siksa mereka." Biasa= nya siksaan datang dengan tiba-tiba. Di saat mereka tidak menyangka. Di saat mereka di puncak kemegahan.
Kalimat yang dipakai uniuk menyatakan siksaan yang diriatangkan itu ialah … yang arti asalnya ialah “Aku ambil mereka" atau “Aku cabut", atau “Aku sentakkan mereka". "Maka betapa jadiriya pembatasanKu." (ujung ayat 44). Peringatan yang berupa pertanyaan tentang betapa dahsyatnya pembalasan atau siksaan Tuhan itu. Kaum Nuh ditenggelamkan seturuhnya. Kaum ‘Ad dimusnahkan oleh angin punting beliung. Kaum Tsamud dihancurkan dengan, suara malaikat yang amat dahsyat. Kaum Luth ditunggang-balikkan negerinya. Penduduk Matiyan hancur lebur karena mendengar pekik dahsyat juga. Fir'aun yang mendustakan Nabi Musa itu tenggelam bersama dengan tentaranya di daiam lautan Qulzum, yang dibukakan Tuhan untuk menyeberangkan dan ditutup Tuhan kembali buat menenggelamkan Fir'aun.
Lalu di atas selanjutnya Tuhan memberi peringatan bahwa yang menerima pukulan Tuhan itu bukan negeri-negeri dan kaum-kaum yang disebut itu saja:
“Dan berapa banyak dari negeri-negeri, telah Kami binasakan dianya." (pangkal ayat 45). Dengan keterangan demikian nyatalah bahwa negeri-negeri yang dibinasakan Tuhan itu bukanlah sekedar yang tersebut di dalam al-Qur'an itu saja. Dan hal ini adalah sebagai yang tersebut di dalam Surat 40 (Ghafir) ayat 78, bahwa Nabi-nabi dan Rasul-rasul itu ada yang diuraikan kisahnya dalam al-Qur'an dan ada yang tidak: “Sedang mereka berlaku zalim," berbuat dosa dan maksiat, menempuh jalan yang tidak benar. "Maka robohlah dia atas atap-atapnya," tinggallah bekas-bekas runtuhan dari negeri atau kota-kota yang dahulunya. Sehingga yang diriapati di belakang hanya bekas-bekas tembok, atau tonggak-tonggak dari bangunan yang dahulunya kuat dan megah. "Dan sumur yang dangkal." tidak ada orangnya lagi, karena telah punah mati, hingga sumur tua yang telah ditinggalkan manusia di tengah padang tekukur sapi itulah yang tinggai jadi bukti bahwa di sana dahulu ada manusia: “Dan istana yang tinggi menjulang." (ujung ayat 45). Istana-Istana tempat dahulu raja-raja besar bersemayam. Yang tinggal hanya runtuhan.
“Apa tidakkah mereka mengembara di bumi." (pangkal ayat 46). Pangkal ayat ini berupa pertanyaan tetapi isinya ialah anjuran agar mengembara, me lawat banyak di muka bumi, terutama untuk melihat bekas-bekas hukuman Tuhan kepada manusia yang mendurhakai Tuhan. "Lalu ada pada mereka hati yang dapat mereka berfikir dengan dia, atau telinga-telinga yang mereka mendengar dengan dia." Arhnya dalam pengembaraan melihat-lihat di bumi itu, sediakaniah hati dan pasanglah telinga. Dengar apa yang diceritakan orang tentang apa yang dilihat itu, lalu renungkan dalam hati dan ingat kebesaran Tuhan,
“Aku lihat masa beredar berbagai wama. Dukacita tak tetap sukacita pun tidak. Raja-raja membangun mahligai istana. Raja-raja tidak kekal, istana pun tidak."
“Tetapi sesungguhnya ini bukanlah kebutaan pada penglihatan." Artinya bukan sedikit orang yang mengembara di muka bumi, namun kebesaran, Tuhan tidak kelihatan olehnya, walaupun matanya nyalang. Sebab yang buta bukan mata; “Melainkan kebutaan hati yang ada dalam dada." (ujung ayat 46). Kalau hati yang buts, dia tidak dapat menerima dan membanding apa yang nampak oieh mata. Mata dan telinga hanya alat mengontak hati sanubari dengan tempat Ifakta keliling kita; alam insan, hidup dan pencipta! Karena tiaptiap peribadi kita, barulah bertumbuh jadi manusia sejati bilamana kontak kita selalu ada dengan yang empat itu: alam, insan, hidup dan pencipta.
Kalau hati buta karena ilmu tidak ada maka diridirig runtuhan kota-kota lama itu akan mati. Baru dia “hidup" kalau dibaca dengan ilmu.
“Mereka mendesak engkau agar mempercepat datang azhab itu." (pangkal ayat 47). Kaum musyrikin atau kafir di Makkah itu seketika Rasulullah s.a.w. menyampaikan ancaman-ancaman Tuhan kepada orang yang tidak mau percaya, mereka telah menantang. Mereka berkata: “Kalau azhab itu memang ada mengapa tidak sekarang saja?" Mana Tuhanmu itu, Muhammad! Suruhlah turunkan azhab itu sekarang! “Dan tidaklah sekali-kali Allah akan memungkiri janjiNya." Artinya bahwa yang telah dijanjikan Tuhan itu pasti terjadi selama kamu masih saja menentang Tuhan! Dan azhab itu tidak akan datang kalau kamu taubat dan menuruti jalan yang benar."Dan sesungguhnya satu hari di sisi Tuhan engkau, samalah dengan seribu tahun dari apa yang kamu hitung." (ujung ayat 47).
Demikianlah mereka itu menggesa-gesa, padahal bagi Tuhan perhitungan itu lain. Seribu tahun hitungan edaran matahari bagi manusia, bagi Tuhan hanya hitungan sehari. Di sInilah perlunya ilmu untuk suluh hati. Kita mIsalkan runtuhan kota Athena atau Parsipolia, atau galian Mohenyo Daro, atau runtuhan kota Pompey. Kita hitung dalam hitungan perjalanan matahari, telah berlaku 2000 atau 3000 atau 4000 tahun, namun dalam perhitungan jalan sejarah baru seakan-akan dua tiga hari yang lalu. Orang merasa kesal akan kezaliman pemerintahan Stalin, Hitler, Mussolini di separuh pertama abad ke-20, padahal dalam masa 1000 tahuh sudah seratus timbul orang-orang semacam itu. Namun mereka naik dan mereka jatuh. Mereka lahir, mereka gagah, kemudian mati! Kadang-kadang tulangnya pun jadi lapuk mumuk tidak berubah dengan tulang makhluk yang lain!
“Dan berapa banyak negeri yang Aku lambatkan waktunya." (pangkal ayat 48). Artinya lambat menurut pandangan orang yang telah lama menunggu. Mereka diberi kesempatan sementara waktu memperturutkan kehendak hawa nafsunya. Mereka lama baru insaf bahwa hidup itu menanti mati. Mereka bersenang-senang. Mereka diberi kesempatan. "Padahal dia telah berbuat aniaya," segala peraturan mereka langgar, perintah tidak dilaksanakan. Larangan tidak dihentikan. "Kemudian itu Aku siksa dia." Aku cabut segala nikmat dengan tiba-tiba, aku datangkan siksaan. Pada waktu itu tidak ada seorang pun yang dapat mempertahankan diri. "Dan kepada Akulah semua akan kembali." (ujung ayat 48). Tidak ada raja tidak ada rakyat. Tidak ada kaya tidak ada miakin. Tidak ada yang kuat tidak ada yang lemah. Semuanya kembali kepada Tuhan. Di situ terasa sekali betapa kecilnya manusia itu:
“Berapa banyak gunung-gunung telah diriaki puncaknya oleh orang. Orang-orang itu pun turun, namun gunung tetap gunung."
Seorang gagah perkasa merebut kuasa. Seluruhnya hendak dikuasainya. Ajal datang dia mall. Negeri yang dia tinggalkan tetap itu juga dan begitu. Laut dan daratnya, gunung dan lembah jadi saksi, bahwa yang dikuasai orang itu tidak ada, yang ada hanyalah kekuasaan Allah.
The Disbelievers Demand for the Punishment
Allah tells His Prophet:
وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ
And they ask you to hasten on the torment!
meaning, these disbelievers who disbelieve in Allah and His Book and His Messenger and the Last Day.
This is like the Ayat:
وَإِذْ قَالُواْ اللَّهُمَّ إِن كَانَ هَـذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِندِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِّنَ السَّمَأءِ أَوِ ايْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
And (remember) when they said:O Allah! If this is indeed the truth from You, then rain down stones on us from the sky or bring on us a painful torment. (8:32)
وَقَالُواْ رَبَّنَا عَجِّل لَّنَا قِطَّنَا قَبْلَ يَوْمِ الْحِسَابِ
They say:Our Lord! Hasten to us Qittana (our punishment) before the Day of Reckoning! (38:16)
وَلَن يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ
And Allah fails not His promise.
means, His promise to bring about the Hour and wreak vengeance upon His enemies, and to honor His close friends.
وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ
And verily a day with your Lord is as a thousand years of what you reckon.
means, He does not hasten, for what is counted as a thousand years with His creation is as one day with Him, and He knows that He is able to exact revenge and that He will not miss a thing, even if He delays and waits and postpones.
Hence He then says:
وَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ أَخَذْتُهَا وَإِلَيَّ الْمَصِيرُ
And many a township did I give respite while it was given to wrongdoing. Then I seized it (with punishment). And to Me is the (final) return (of all).
Ibn Abi Hatim recorded from Abu Hurayrah that the Messenger of Allah said:
يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الاَْغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِايَةِ عَام
The poor among the Muslims will enter Paradise half a day before the rich -- five hundred years.
This was recorded by At-Tirmidhi and An-Nasa'i from the Hadith of Ath-Thawri from Muhammad bin `Amr.
At-Tirmidhi said, Hasan Sahih.
Abu Dawud recorded at the end of Book of Al-Malahim in his Sunan from Sa`d bin Abi Waqqas that the Prophet said:
إِنِّي لَاَرْجُو أَنْ لَا تَعْجِزَ أُمَّتِي عِنْدَ رَبِّهَا أَنْ يُوَخِّرَهُمْ نِصْفَ يَوْم
I hope that it will not be too much for my Ummah if Allah delays them for half a day.
It was said to Sa`d, What does half a day mean?
He said, Five hundred years.
The Recompense of the Righteous and the Unrighteous
Allah said to His Prophet, when the disbelievers asked him to hasten on the punishment for them:
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
Say:O mankind!
I am (sent) to you only as a plain warner.
meaning, `Allah has sent me to you to warn you ahead of the terrible punishment, but I have nothing to do with your reckoning. Your case rests with Allah:
if He wills, He will hasten on the punishment for you; and if He wills, He will delay it for you. If He wills he will accept the repentance of those who repent to Him; and if He wills, He will send astray those who are decreed to be doomed. He is the One Who does whatsoever He wills and wants and chooses.
لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
There is none to put back His judgement and He is swift at reckoning. (13:41)
إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
فَالَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
I am (sent) to you only as a plain warner. So those who believe and do righteous good deeds,
means, whose hearts believe and whose actions confirm their faith.
لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
for them is forgiveness and Rizq Karim.
means, forgiveness for their previous bad deeds, and a great reward in return for a few good deeds.
Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi said,
When you hear Allah's saying:
وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
(Rizq Karim) this means Paradise.
وَالَّذِينَ سَعَوْا فِي ايَاتِنَا مُعَاجِزِينَ
But those who strive against Our Ayat to frustrate them,
Mujahid said,
To discourage people from following the Prophet.
This was also the view of Abdullah bin Az-Zubayr, to discourage.
Ibn Abbas said,
To frustrate them means to resist the believers stubbornly.
أُوْلَيِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
they will be dwellers of the Hellfire.
This refers to the agonizingly hot Fire with its severe punishment, may Allah save us from it.
Allah says:
الَّذِينَ كَفَرُواْ وَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَـهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُواْ يُفْسِدُونَ
Those who disbelieved and hinder (men) from the path of Allah, for them We will add torment to the torment because they used to spread corruption. (16:88
How the Shaytan threw some Falsehood into the Words of the Messengers, and how Allah abolished that
Allah says:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلاَّ إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ ايَاتِهِ
وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Never did We send a Messenger or a Prophet before you but when he did recite (the revelation or narrated or spoke), Shaytan threw (some falsehood) in his recitation (of the revelation).
But Yansakh Allah that which Shaytan throws in. Then Allah establishes His revelations. And Allah is All-Knower, All-Wise:
At this point many of the scholars of Tafsir mentioned the story of the Gharaniq and how many of those who had migrated to Ethiopia came back when they thought that the idolators of the Quraysh had become Muslims, but these reports all come through Mursal chains of narration and I do not think that any of them may be regarded as Sahih. And Allah knows best.
Al-Bukhari narrated that Ibn Abbas said,
فِي أُمْنِيَّتِهِ
(in his recitation (of the revelation),
When he spoke, the Shaytan threw (some falsehood) into his speech, but Allah abolished that which the Shaytan threw in.
ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ ايَاتِهِ
Then Allah establishes His revelations.
Ali bin Abi Talhah reported that Ibn Abbas said,
إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ
(when he did recite (the revelation), Shaytan threw (some falsehood) in it).
When he spoke, the Shaytan threw (some falsehood) into his speech.
Mujahid said:
إِذَا تَمَنَّى
(when he did recite),
When he spoke.
It was said that it refers to his recitation, whereas,
إِلاَّ أَمَانِىَّ
(but they trust upon Amani),
means they speak but they do not write.
Al-Baghawi and the majority of the scholars of Tafsir said:
تَمَنَّى
(he did recite),
Reciting the Book of Allah.
أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ
(Shaytan threw (some falsehood) in it),
In his recitation.
Ad-Dahhak said:
إِذَا تَمَنَّى
(when he did recite),
When he recited.
Ibn Jarir said,
This comment is more akin to interpretation.
فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ
But Yansakh Allah that which Shaytan throws in.
The meaning of the word Naskh in Arabic is to remove or lift away.
Ali bin Abi Talhah reported that Ibn Abbas said,
This means, Allah cancels out that which the Shaytan throws in.
وَاللَّهُ عَلِيمٌ
And Allah is All-Knower,
means, He knows all matters and events that will happen, and nothing whatsoever is hidden from Him.
حَكِيمٌ
All-Wise.
means, in His decree, creation and command, He has perfect wisdom and absolute proof, hence He says
لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِّلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ
That He (Allah) may make what is thrown in by Shaytan a trial for those in whose hearts is a disease,
meaning, doubt, Shirk, disbelief and hypocrisy.
Ibn Jurayj said:
لِّلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ
those in whose hearts is a disease,
The hypocrites, and
وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ
and whose hearts are hardened.
means the idolators.
وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ
And certainly, the wrongdoers are in an opposition far-off.
means, far away in misguidance, resistance and stubbornness, i.e., far from the truth and the correct way
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُوْمِنُوا بِهِ
And that those who have been given knowledge may know that it is the truth from your Lord, so that they may believe therein,
means, `so that those who have been given beneficial knowledge with which they may differentiate between truth and falsehood, those who believe in Allah and His Messenger, may know that what We have revealed to you is the truth from your Lord, Who has revealed it by His knowledge and under His protection, and He will guard it from being mixed with anything else.' Indeed, it is the Wise Book which,
لااَّ يَأْتِيهِ الْبَـطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
Falsehood cannot come to it from before it or behind it, (it is) sent down by the All-Wise, Worthy of all praise (Allah). (41:42)
فَيُوْمِنُوا بِهِ
(so that they may believe therein),
means, that they may believe that it is true and act upon it.
فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ
and their hearts may submit to it with humility.
means, that their hearts may humble themselves and accept it.
وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ امَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
And verily, Allah is the Guide of those who believe, to the straight path.
means, in this world and in the Hereafter. In this world, He guides them to the truth and helps them to follow it and to resist and avoid falsehood; in the Hereafter, He will guide them to the straight path which leads to the degrees of Paradise, and He will save them from the painful torment and the dismal levels of Hell
The Disbelievers will remain in Doubt and Confusion
Allah tells:
وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ
And those who disbelieved, will not cease to be in doubt about it,
Allah tells us that the disbelievers will remain in doubt concerning this Qur'an.
This was the view of Ibn Jurayj and was the view favored by Ibn Jarir.
حَتَّى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً
until the Hour comes suddenly upon them,
Mujahid said:
By surprise.
Qatadah said:
بَغْتَةً
(suddenly),
means, the command of Allah will catch the people unaware. Allah never seizes a people except when they are intoxicated with pride, enjoying a life of luxury, and they think that the punishment will never come upon them, but Allah does not punish anyone except the evildoers.
أَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيمٍ
or there comes to them the torment of Yawm `Aqim.
Mujahid said,
Ubay bin Ka`b said:`Yawm `Aqim means the day of Badr.'
Ikrimah and Mujahid said:
Yawm `Aqim means the Day of Resurrection, following which there will be no night.
This was also the view of Ad-Dahhak and Al-Hasan Al-Basri.
Allah says
الْمُلْكُ يَوْمَيِذٍ لِّلَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ
The sovereignty on that Day will be that of Allah. He will judge between them.
This is like the Ayat:
مَـلِكِ يَوْمِ الدِّينِ
The Only Owner of the Day of Recompense. (1:4)
الْمُلْكُ يَوْمَيِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَـنِ وَكَانَ يَوْماً عَلَى الْكَـفِرِينَ عَسِيراً
The sovereignty on that Day will be the true (sovereignty), belonging to the Most Gracious (Allah), and it will be a hard Day for the disbelievers. (25:26)
فَالَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
So those who believed and did righteous good deeds,
means, their hearts believed in Allah and His Messenger, and they acted in accordance with what they knew; their words and deeds were in harmony.
فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ
in Gardens of Delight.
means, they will enjoy eternal bliss which will never end or fade away
وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِأيَاتِنَا
And those who disbelieved and denied Our Ayat,
means, their hearts rejected and denied the truth; they disbelieved in it and resisted the Messengers and were too proud to follow them.
فَأُوْلَيِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
for them will be a humiliating torment.
means, in recompense for arrogantly turning away from the truth.
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَخِرِينَ
Verily, those who scorn My worship they will surely enter Hell in humiliation! (40:60)
And they ask you to hasten the chastisement, even though God would never break His promise, of sending down the chastisement [upon them] - and so He sent it down on the day of Badr. And truly a day with your Lord, of the days of the Hereafter, on account of the [severity of the] chastisement, is like a thousand years of your counting (read ta'uddoona, or ya'uddoona, 'their counting'), in this world.
How the Day of Resurrection will be equal to one thousand years by our reckoning
In this verseإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ (22:47) means that one day with your Lord is like one thousand years of what you count. This verse can be interpreted in two ways. The first meaning is that the verse refers to the Day of Resurrection and the events which will take place on that day will be so horrifying and of such extreme severity that the day will appear never to end, as if it was equal to one thousand years according to our reckoning. Many commentators have interpreted this verse accordingly.
The other meaning of the verse is that the Day of Resurrection will in actual fact be so long that it will stretch up to one thousand years of this world. This view is supported by a saying of the Holy Prophet ﷺ as reported in Musnad of Ahmad and Tirmidhi on the authority of Sayyidna Abu Hurairah ؓ that the Holy Prophet ﷺ once addressed the poor people of the muhajirin (i.e. those who migrated from Makkah) and said, ` I give you good news about the full refulgence on the Day of Resurrection and that you will be admitted to heaven half a day before the rich and the wealthy, and a day in the Hereafter will be of one thousand years, hence the poor will enter the heaven five hundred years before the wealthy'. Tirmidhi has classified this hadith as 'hasan'. (Mazhari)
A doubt and its explanation
There is a verse in Surah Al-Ma'arij which says that the day with your Lord will be equal to fifty thousand years كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ. (Whereof the measure is fifty thousand yours - 70:4) This can also be explained by applying either of the two explanations of the present verse and in the first case since every person will suffer different levels of severity, to some it will appear as if he has suffered pain for one thousand years, while to others the period will appear equal to fifty thousand years. If, however, the second explanation is applied to this verse, then there would appear to be a contradiction between the verses where one verse equates the Day of Resurrection to one thousand years and the other to fifty thousand years. But this so-called contradiction has been reconciled by Sayyidna Ashraf ` Ali Thanavi (رح))in his commentary Bayan ul-Qur'an, by saying that this difference may be due to different horizons. Just as we see in our world that the length of day and night is different on different horizons, (on zero latitude it is of 24 hours while at the latitude of 900 it is one year. Likewise it is possible that the length of the Day of Resurrection would be different on different horizons, and if its length right below the day line is one thousand years because of miraculously slow rotation of sun or earth), the areas falling 50 times far from it may have a day 50 times more in length. And Allah knows best.