ٱلْحَجّ ١٨
- أَلَمۡ tidaklah
- تَرَ kamu ketahui
- أَنَّ bahwasanya
- ٱللَّهَ Allah
- يَسۡجُدُۤ bersujud
- لَهُۥۤ kepada-Nya
- مَن orang/apa
- فِي di
- ٱلسَّمَٰوَٰتِ langit(jamak)
- وَمَن dan orang/apa
- فِي di
- ٱلۡأَرۡضِ bumi
- وَٱلشَّمۡسُ dan matahari
- وَٱلۡقَمَرُ dan bulan
- وَٱلنُّجُومُ dan bintang-bintang
- وَٱلۡجِبَالُ dan gunung-gunung
- وَٱلشَّجَرُ dan pohon-pohon
- وَٱلدَّوَآبُّ dan binatang melata
- وَكَثِيرٞ dan kebanyakan
- مِّنَ dari
- ٱلنَّاسِۖ manusia
- وَكَثِيرٌ dan kebanyakan
- حَقَّ haq/kebenaran/ketetapan yang telah pasti
- عَلَيۡهِ atasnya
- ٱلۡعَذَابُۗ azab
- وَمَن dan barang siapa
- يُهِنِ menghinakan
- ٱللَّهُ Allah
- فَمَا maka tidak
- لَهُۥ baginya
- مِن dari
- مُّكۡرِمٍۚ kemuliaan
- إِنَّ sesungguhnya
- ٱللَّهَ Allah
- يَفۡعَلُ Dia berbuat
- مَا apa
- يَشَآءُ۩ Dia kehendaki
Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, (demikian) juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia (yang sujud). Tetapi banyak (juga manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barangsiapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki.
(Apakah kamu tiada melihat) tiada mengetahui (bahwa kepada Allah bersujud makhluk yang ada di langit dan makhluk yang ada di bumi dan matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pohon-pohon dan hewan-hewan yang melata) semuanya tunduk dan patuh menuruti apa yang dikehendaki-Nya (dan sebagian besar daripada manusia?) adalah orang-orang Mukmin, yaitu dengan bertambah perasaan rendah diri dalam sujud salat mereka. (Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya) mereka adalah orang-orang kafir, karena mereka membangkang tidak mau bersujud, sedangkan sujud itu adalah pertanda iman. (Dan barang siapa yang dihinakan Allah) disengsarakan-Nya (maka tidak seorang pun yang memuliakannya) yang akan membahagiakannya. (Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki) seperti menghinakan dan memuliakan.
Tafsir Surat Al-Hajj: 18
Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, dan binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barang siapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
Allah ﷻ menceritakan bahwa Dia semata yang berhak disembah, tiada sekutu bagi-Nya, sesungguhnya bersujud kepada-Nya segala sesuatu karena kebesaran-Nya dengan sukarela dan terpaksa. Dan sujud segala sesuatu itu sesuai dengan caranya sendiri-sendiri, seperti yang dijelaskan oleh firman-Nya: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedangkan mereka merendahkan diri.” (An-Nahl: 48). Dan dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:
“Apakah kamu tiada mengetahui bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi.” (Al-Hajj: 18).
Baik dari kalangan malaikat yang ada di segala penjuru langit; juga semua makhluk hidup yang ada di bumi seluruhnya terdiri atas manusia, jin, hewan, dan burung-burung.
“Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.” (Al-Isra: 44).
Firman Allah ﷻ: “Matahari, bulan, dan bintang-bintang.” (Al-Hajj: 18). Sesungguhnya hal ini disebutkan sebagai pengukuhan akan kehambaan semuanya, karena sesungguhnya matahari, bulan, dan bintang-bintang ada yang menyembahnya. Maka Allah menjelaskan melalui ayat ini bahwa kesemuanya itu bersujud kepada Penciptanya, dan semuanya itu mempunyai Tuhan yang mereka semua tunduk kepada-Nya. “Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya.” (Fushshilat: 37), hingga akhir ayat.
Di dalam kitab Shahihain disebutkan melalui Abu Zar r.a. bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya: "Tahukah kamu, ke manakah matahari ini pergi?” Abu Zar menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya matahari ini pergi dan bersujud di bawah Arasy, kemudian ia diperintahkan lagi (untuk terbit). Dan sudah dekat masanya akan diperintahkan kepadanya, ‘Kembalilah kamu dari arah kamu datang' (yakni terbit dari arah barat)."
Di dalam kitab musnad dan kitab sunan Abu Daud serta Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah mengenai hadis gerhana disebutkan sebagai berikut: “Sesungguhnya matahari dan bulan, kedua-duanya adalah makhluk Allah. Dan sesungguhnya tidaklah keduanya mengalami gerhana karena matinya seseorang dan tidak pula karena hidup (kelahiran)nya seseorang. Tetapi bila Allah ﷻ menampakkan diri-Nya pada sesuatu dari makhluk-Nya, maka tunduklah sesuatu itu kepada-Nya.”
Abul Aliyah mengatakan, tiada suatu bintang pun yang ada di langit, tiada pula matahari dan bulan, melainkan jatuh menyungkur bersujud kepada Allah ﷻ hingga terbenam. Kemudian tidaklah berangkat, melainkan setelah mendapat izin (dari Allah) baginya (untuk berangkat). Lalu ia mengambil jalan ke arah kanan untuk kembali ke tempat terbitnya. Adapun mengenai gunung-gunung dan pohon-pohon, maka sujud keduanya melalui bayangannya yang condong ke arah kanan dan ke arah kiri.
Disebutkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa seorang lelaki datang, lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi malam aku bermimpi dalam tidurku melihat diriku seakan-akan sedang salat di balik sebuah pohon. Ketika aku sujud, pohon itu ikut sujud bersamaku, dan aku dengar pohon itu mengucapkan doa berikut: 'Ya Allah, catatkanlah sujudku ini untukku di sisi Engkau sebagai suatu pahala, dan hapuskanlah dariku karenanya suatu dosa, dan jadikanlah sujudku ini sebagai suatu simpanan di sisi Engkau bagiku, dan terimalah sujudku ini dariku sebagaimana Engkau telah menerimanya dari hamba-Mu Daud'.
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, "Lalu Rasulullah ﷺ membaca ayat sajdah dan bersujud, dan ternyata saya dengar beliau mengucapkan doa seperti doa yang telah diceritakan oleh lelaki itu tentang ucapan pohon tersebut."
Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah, dan Imam Ibnu Hibban telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya masing-masing. Yang dimaksud dengan dawab dalam ayat ini ialah semua jenis hewan. Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Imam Ahmad telah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ melarang menjadikan punggung hewan kendaraan sebagai mimbar, sebab banyak hewan kendaraan yang lebih baik atau lebih banyak zikirnya kepada Allah ﷻ daripada penunggangnya.
Firman Allah ﷻ: “Dan sebagian besar dari manusia.” (Al-Hajj: 18).
Yakni sebagian besar dari mereka sujud kepada Allah dengan taat dan ikhlas seraya menyembah-Nya.
“Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya.” (Al-Hajj: 18).
Yaitu mereka yang menolak dan enggan bersujud kepada Allah karena kesombongannya.
“Dan barang siapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Al-Hajj: 18).
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Syaibah Ar-Ramli, telah menceritakan kepada kami Al-Qaddah dari Ja'far ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari Ali yang menceritakan bahwa pernah disampaikan kepada Ali, sesungguhnya di tempatnya ada seorang lelaki yang membicarakan tentang masyi'ah (kehendak).
Maka Ali r.a. berkata kepada lelaki itu, "Hai hamba Allah, jawablah pertanyaanku ini. Allah menciptakanmu sebagaimana yang Dia kehendaki ataukah sebagaimana yang kamu kehendaki?" Lelaki itu menjawab, "Tidak, bahkan sebagaimana yang Dia kehendaki." Ali bertanya, "Allah membuatmu sakit sebagaimana yang Dia kehendaki ataukah sebagaimana kamu kehendaki?" Ia menjawab, "Tidak, bahkan sebagaimana yang Dia kehendaki" Ali bertanya, "Allah menyembuhkanmu sebagaimana yang Dia kehendaki ataukah sebagaimana yang kamu kehendaki?" Ia menjawab, "Tidak, bahkan menurut apa yang Dia kehendaki." Ali bertanya, "Dia memasukkanmu menurut apa yang Dia kehendaki ataukah menurut apa yang kamu kehendaki?" Ia menjawab, "Tidak, bahkan menurut apa yang Dia kehendaki (ke surgakah atau ke neraka)." Kemudian Ali r.a. berkata, "Demi Allah, seandainya kamu mengatakan selain itu, tentulah aku akan memukul bagian tubuhmu yang ada kedua matanya (kepala) dengan pedang."
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Apabila anak Adam membaca ayat sajdah, maka setan menjauh seraya menangis dan mengatakan, "Celakalah (aku), anak Adam diperintahkan untuk bersujud, laiu ia bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku diperintahkan untuk sujud dan aku membangkang, maka bagiku neraka." (Riwayat Muslim)
Imam Ahmad mengatakan telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id maula Bani Hasyim dan Abu Abdur Rahman Al-Muqri. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah; ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musyarrih ibnu Ha'an Abu Mus'ab Al-Ma'afiri, ia mengatakan bahwa ia pernah mendengar Uqbah ibnu Amir berkata, "Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah surat Al-Hajj melebihi surat lainnya berkat kedua ayat sajdah yang ada padanya?' Rasulullah ﷺ menjawab, 'Ya, benar. Maka barang siapa yang tidak bersujud pada keduanya, janganlah ia membaca keduanya'."
Abu Daud dan Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui hadis Abdullah ibnu Lahi'ah dengan sanad yang sama, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa sanad hadis ini tidak kuat dan masih diragukan. Karena sesungguhnya Ibnu Lahi'ah telah menjelaskan dalam hadis ini bahwa dia hanya mendengarnya, dan kebanyakan pendapat tentang dirinya dari kalangan ulama mengatakan bahwa dia orang yang suka memalsu hadis.
Abu Daud di dalam kitab Marasil-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Amr ibnus Sarh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Mu'awiyah ibnu Saleh, dari Amir ibnu Jasyb, dari Khalid ibnu Ma'dan rahimahullah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Surat Al-Hajj mempunyai kelebihan di atas semua surat Al-Qur'an karena dua ayat sajdah(nya).” Kemudian Imam Abu Daud mengatakan bahwa memang hadis ini disebutkan dalam kitab musnad, tetapi melalui jalur lain, sedangkan predikatnya tidak sahih.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Isma'ili mengatakan: Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Abu Amr, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Gayyas, telah menceritakan kepadaku Nafi' yang mengatakan, Abul Jahm pernah menceritakan kepadanya bahwa Umar r.a. melakukan sujud dua kali dalam surat Al-Hajj saat ia berada di Al-Jabiyah. Setelah itu ia mengatakan bahwa sesungguhnya surat Al-Hajj ini mempunyai kelebihan berkat kedua ayat sajdahnya.
Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkan melalui hadis Al-Haris ibnu Sa'id Al-Itqi, dari Abdullah ibnu Manin, dari Amr ibnul As, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengajarkan kepadanya lima belas ayat sajdah di dalam Al-Qur'an, tiga di antaranya terdapat di dalam surat mufassal, dua dalam surat As-Sajdah, Hal ini merupakan bukti-bukti yang satu sama lain saling memperkuat.
Apakah kamu tidak memperhatikan semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi bersujud kepada Allah, tunduk dan patuh kepada hukum alam ciptaan Allah seperti matahari, bulan, dan bintang yang setia beredar pada porosnya. Dan juga gunung-gunung, pepohonan, dan hewan-hewan melata, semuanya menjalani kehidupan secara alamiah mematuhi hukum alam yang berlaku. Dan demikian juga, banyak di antara manusia yang mematuhi hukum Allah karena kesadarannya, tetapi lebih banyak lagi manusia yang pantas mendapatkan azab Allah di dunia maupun akhirat, karena sikapnya yang menolak agama Allah. Barang siapa dihinakan Allah, karena sikap mereka yang lebih hina dari binatang, maka terhadap manusia yang bersikap demikian, tidak seorang pun yang akan memuliakannya selain Allah. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki, memuliakan yang layak dimuliakan atau menghinakan yang menutup diri dari petunjuk Allah. 19. Pada ayat 17 Surah al-'ajj disebutkan enam golongan manusia, orang beriman, Yahudi, Nasrani, Sabiin, Majusi, dan orang-orang musyrik. Mereka sebenarnya terbagi dua. Inilah dua golongan, mukmin dan kafir, yang bertengkar tentang keyakinan. Mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka bagi orang kafir yang menolak prinsip tauhid dari lima golongan di atas, akan dibuatkan untuk mereka di akhirat pa-kaian-pakaian dari api neraka yang membalut tubuh mereka. Selain itu, ke atas kepala mereka di dalam neraka itu akan disiramkan air yang mendidih hingga tubuh mereka terkelupas.
Sujud dalam ayat ini berarti mengikuti kehendak dan mengikuti hukum-hukum yang telah digariskan dan ditetapkan Allah. Dapat pula berarti menghambakan diri, beribadat dan menjalankan segala yang diperintahkan Allah dan menjauhi semua yang dilarang. Sujud bila dihubungkan dengan makhluk Tuhan selain dari manusia, jin dan malaikat berarti tunduk mengikuti kehendak dan hukum-hukum atau kodrat yang ditentukan Allah, mereka tidak dapat lepas dari ketentuan-ketentuan itu, baik secara sukarela maupun terpaksa. Sedang bagi manusia, jin dan malaikat, sujud berarti taat dan patuh kepada hukum-hukum Allah, taat melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya.
Pada ayat ini Allah menegaskan lagi kekuasaan-Nya terhadap semua makhluk, yaitu semua yang di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang- bintang, gunung-gunung, tumbuh-tumbuhan dan semua binatang melata tunduk dan mengikuti aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang diberikan-Nya.
Allah menciptakan jagat raya ini dan mengaturnya dengan hukum dan ketentuan-Nya. Seperti adanya garis edar pada tiap-tiap planet yang ada di ruang angkasa. Tiap-tiap planet mengikuti garis edar yang telah ditentukan. Jika ia keluar dari garis edarnya itu maka ia akan berbenturan dengan planet-planet yang lain. Demikian pula tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang tumbuh menjadi besar dan berkembang mengikuti ketentuan-ketentuan Allah.
Dalam tafsir al-Maragi disebutkan bahwa dalam ayat ini disebut matahari, bulan, bintang-bintang dan sebagainya secara khusus adalah untuk mengingatkan bahwa makhluk-makhluk itu termasuk makhluk yang disembah manusia selain Allah, seperti penduduk Himyar menyembah matahari, Bani Kinanah menyembah bulan, bintang Syi`ra disembah oleh Bani Lahm, bintang Surayya disembah oleh orang thayyai, penduduk Mesir kuno menyembah patung anak sapi atau burung Ibis. Seakan-akan ayat ini menegaskan bahwa semuanya itu tidak pantas disembah karena semuanya itu termasuk makhluk-makhluk Tuhan yang mengikuti kehendak dan hukum-hukum Allah. Hanya Allah saja yang berhak disembah.
Allah menerangkan bahwa banyak manusia yang beriman, taat dan patuh kepada Allah dengan benar, karena merasakan kebesaran dan kekuasaan atas diri mereka. Karena itu mereka beribadat dengan sungguh-sungguh, melaksanakan semua perintah Allah dan menghentikan semua larangan-Nya. Mereka melakukan semua perbuatan yang menyebabkan Allah sayang kepada mereka, sehingga Allah memberikan pahala dan memuliakan mereka. Ada pula manusia yang tidak beriman dengan benar kepada Allah atau tidak mau merasakan kebesaran dan kekuasaan-Nya, ia melakukan perbuatan-perbuatan yang menyebabkan Allah marah kepadanya, karena itu mereka pantas mendapat kemurkaan dan kehinaan dari Allah.
Siapa yang mendapat kehinaan dan murka Allah akan masuk neraka, tidak ada seorang pun yang dapat membela dan melepaskannya dari azab Allah, karena segala kekuasaan berada di tangan Allah. Sebaliknya Allah memuliakan orang yang beriman dengan benar, berbuat baik, Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Segala Sesuatu Sujud
“Apakah tidak engkau lihat." (pangkal ayat 18). Artinya cobalah lihat dan perhatikan: “Bahwasanya Allah itu, bersujud kepadaNya siapa yang ado di semua langit itu, dan siapa yang ada di bumi." Arti yang asal dari sujud ialah tunduk, atau patuh menuruti apa yang ditentukan oleh yang ditunduki dan dipatuhi itu. Pada menyatakan penghuni semua langit dan bumi dipakai kalimat man yang artinya siapa. Dalam pemakaian bahasa kata siapa itu biasanya kita pakai untuk manusia atau malaikat atau jin atau syaitan Iblis. Tidaklah terpakai kata siapa untuk binatang atau ikan dan burung. Untuk yang bernyawa yang lain kita pakai apa! Oleh sebab itu maka ada orang yang memakai ayat ini untuk jadi alasan bahwa di langit-langit atau di bintang-bintang ada juga agaknya makhluk berakal menyerupai manusia, sebagai diiayaratkan di ayat ini. Tetapi karena maksud semula ayat ini bukan untuk menunjukkan bahwa ada makhluk menyerupai manusia di bintang-bintang lain, dan maksud pertama ayat ialah memberi ingat manusia bahwa semua isi langit dan bumi patuh kepada Tuhan, maka tujuan ayat sajaiah yang kita pentingkan lebih dahulu; “Dan matahari dan bulan dan bintang-bintang." Tentu saja makna sujud matahari, bulan dan bintang-bintang itu dapat kita perhatikan pada kepatuhannya menuruti penntah Tuhan, sebagai tersebut di dalam Surat 36, Yasin. ayat 38. 39 dan 40:
“Dan matahari berjalan pada tempat ketetapannya yang ditentukan untuknya. Demikian ditentukan oleh Yang Maha Perkasa. Maha Mengetahui. Dan dari hal bulan, telah Kami bataskan pula baginya tempat-tempat persinggahan, sampai dia kembali ke dalam keadaan sebagai mayang tua. Matahari tidaklah pantas baginya mencapai bulan dan malam tidaklah mendahului siang, dan semuanya adalah mengembara dalam cakrawala." (Yasin: 36-40)
Semua makhiuk besar itu mesti sujud kepada ketentuan Tuhan itu, begitu juga bintang-bintang, catat dan ingatlah tanggat berapa pada bufan apa menurut perjalanan matahari kita meirhal kelompok bintang itu, niscaya bintang itu juga, di tempat juga yang akan kita dapati di tempat yang sama pada bulan dan tanggal yang sama. Sehingga dengan demikian kita dapat memperhitungkan bilangan tahun dan hitungan masa. "Dan gunung-gunung dun pohon kayu." Sujudnya gunung-gunung dapat kita lihat pada kepatuhannya menjadi pasak bumi, menahan angin, menghambat awan agar berkumpul akan menjadi hujan buat menurunkan air ke bumi, supaya mengalir menjadi sungai. Air yang menjadi sungai menjamin hidup. Manusia membangun kebudayaan di pinggir sungai yang besar-besar, dan sungai mengalir dari gunung. Karena kesuburan tanah, tumbuhlah pohon-pohon kayu-Betapa pentingnya kayukayu yang besar-besar itu bagi manusia, sudahlah semua kita memakluminya. Tumbuhnya pohon kayu, mIsalnya pohon beringin yang besar dan rindang asalnya ialah dan buah beringin yang kecil sebesar ujung )an. Kalau tidak dan sujud atau kepatuhan menuruti peraturan yang ditakdirkan Allah, artinya yang telah ditentukan dan diatur oleh Allah, tidaklah dia akan jadi pohon kayu.
Bila kita perhatikan pertumbuhan pohon-pohon kayu itu dari mulai biji buahnya yang halus kecil, misalnya pohon ketapa, pohon getah, pohon mangga, sungguh ta'jublah kita dengan kekuasaan Tuhan. Bahasanya pohon nyiur tinggi melambai di tepi pantai ialah daripada zat putih lunak di dalam tempurung yang keras diselimuti dan dibungkus oleh sabut yang tebal. Bagaimana perjalanan yang ditempuhnya dart zat putih sampai jadi pohon tinggi melambai sungguh-sungguh suatu kesujudan, atau kepatuhan."Dan segala yang melata dan banyak dan manusia." Bahwasanya segala binatang yang melata atau merangkak di alas bumi ini pun sujud kepada Tuhan, dapatlah kita perhatikan mIsalnya pada lebah membuat sarang dengan bergotong-royong di puncak-puncak bukit, di dahan-dahan kayu besar, di bubungan rumah. Dapat kita perhatikan pada kawanan semut membuat lobang dan dapat kita perhatikan pada segala jenia yang lain. Karena ‘ad-dawab' artinya segala yang melata di bumi ini nyata sekali diatur Tuhan dan dia patuh kepada peraturan itu; artinya semuanya sujud.
Diceritakan orang tentang burung penguin di kutub, yang berbondang beratus-ratus ke pinggir dataran salju lalu beberapa ekor melompat ke laut.
Maka yang melompat itu disambar oleh ikan. Dengan disambarnya yang terjun ke air itu oleh ikan, mengertilah yang tinggal bahwa salju di sana sudah tidak membeku lagi, sebab ikan-ikan sudah datang.
Perhatikaniah binatang melata yang lebih dekat kepada kita, yaitu lawah yang betinanya dapat bertelur, sebuah telur saja berwama putih. Tetapi di dalam sebuah telur berwama putih itu tersimpan beratus yang akan jadi anaknya. Menunggu telur itu akan menetas, si induk tidak dapat bergerak. Maka bertenggerlah induk Jawah itu ke atas punggung jantannya. Lalu dihisapnya tubuh lawah jantan itu, sedang di antara badannya dengan badan jantan yang dia hisap itu terletak telur yang sedang dieraminya itu. Teranglah bahwa lawah jantan itu, atau kasanya suami si betina itu telah nyata mati, artinya mengurbankan diri buat lekas menetasnya telur. Setelah beberapa jam datam keadaan demikian menetaslah telur itu dan keluarlah beratus ekor anak lawah dan sebuah kantong putih itu. Turunlah induk dart atas badan jantannya yang hanya tinggal kerosong. Sebab seluruh isi badannya telah dihisap habis oleh si induk dari kuduknya.
Keajaiban-keajaiban seperti ini akan kita temui juga pada binatang-binatang melata yang lain. Semuanya patuh, atau sujud kepada peraturan yang telah diaturkan Tuhan.
Tetapi dikatakan di lanjutan ayat: “Dan banyak yang dari manusia." Tidak dikatakan seluruh manusia, bahkan ditegaskan lagi: “Dan hari yak yang pasti atas mereka azhab."
Artinya memang adalah di antara manusia yang sujud kepada Tuhan yang patuh akan perintahnya. Bahkan sebagai inakhluk yang diberi Allah akal dan fikiran diberi manusia petunjuk dan hidayat, diutus kepada mereka Rasul-rasul, dikirim kepada mereka kitab-kitab, maka mereka patuhilah petunjuk itu, mereka sujud kepada Tuhan. Tetapi banyak pula di antara mereka hanya memperturutkan hawanafsunya raja, tidak patuh kepada perintah, tidak sujud kepada Tuhan. Sebab itu, mereka tidaklah dapat mengelakkan diri dari azhab siksaan Tuhan, karena Tuhan itu Maha Kuasa bertindak dan mempunyai peraturan yang keras tidak dapat dielakkan. "Dan barangsiapa yang dihinakan oleh Allah, niscaya tidak adalah baginya yang akan memuliakan." Tegasnya barangsiapa yang tidak mau sujud kepada Allah, ia pasti tunduk ke bawah peraturannya, yaitu jatuh hina karena durhaka: “Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Ia kehendaki." (ujung ayat 18). Dan manusia atau alam sekalian tidaklah dapat melepaskan diri dari kehendak Allah.
Allah will judge between the Sects on the Day of Resurrection
Allah says:
إِنَّ الَّذِينَ امَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِيِينَ وَالنَّصَارَى وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Verily, those who believe, and those who are Jews, and the Sabians, and the Christians, and the Majus, and those who worship others besides Allah; truly, Allah will judge between them on the Day of Resurrection.
Verily, Allah is over all things a Witness.
Allah tells us about the followers of these various religions, the believers (Muslims) and others such as the Jews and Sabians.
We have already seen a definition of them in Surah Al-Baqarah and have noted how people differ over who they are. There are also the Christians, Majus and others who worship others alongside Allah. Allah will (
يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
judge between them on the Day of Resurrection) with justice;
He will admit those who believed in Him to Paradise and will send those who disbelieved in Him to Hell, for He is a Witness over their deeds, and He knows all that they say and all that they do in secret, and conceal in their breast
Everything prostrates to Allah
Allah tells us that He alone, with no partner or associate, is deserving of worship. Everything prostrates to His might, willingly or unwillingly, and everything prostrates in a manner that befits its nature, as Allah says:
أَوَ لَمْيَرَوْاْ إِلَىخَلَقَ اللَّهُ مِن شَىْءٍ يَتَفَيَّأُ ظِلَـلُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالْشَّمَأيِلِ سُجَّدًا لِلَّهِ وَهُمْ
Have they not observed things that Allah has created:(how) their shadows incline to the right and to the left, making prostration unto Allah, and they are lowly. (16:48)
And Allah says here:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الاَْرْضِ
See you not that whoever is in the heavens and whoever is on the earth prostrate themselves to Him,
means, the angels in the regions of the heavens, and all the living creatures, men, Jinn, animals and birds.
وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ
and there is not a thing but glorifies His praise. (17:44)
وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ
and the sun, and the moon, and the stars,
These are mentioned by name, because they are worshipped instead of Allah, so Allah explains that they too prostrate to their Creator and that they are subjected to Him.
لَا تَسْجُدُواْ لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُواْ لِلَّهِ الَّذِى خَلَقَهُنَّ
Prostrate yourselves not to the sun nor to the moon, but prostrate yourselves to Allah Who created them. (41:37)
In the Two Sahihs it was recorded that Abu Dharr said,
The Messenger of Allah said to me,
أَتَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ الشَّمْسُ
Do you know where this sun goes?
I said, `Allah and His Messenger know best.'
He said,
فَإِنَّهَا تَذْهَبُ فَتَسْجُدُ تَحْتَ الْعَرْشِ ثُمَّ تَسْتَأْمِرُ فَيُوشِكُ أَنْ يُقَالَ لَهَا ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِيْت
It goes (sets) and prostrates beneath the Throne, then it awaits the command. Soon it will be told,
Go back the way whence you came.
وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ
and the mountains, and the trees,
Ibn Abbas said, A man came and said,
`O Messenger of Allah, I ﷺ myself in a dream last night, as if I was praying behind a tree. I prostrated, and the tree prostrated when I did, and I heard it saying,
O Allah, write down a reward for me for that, and remove a sin from me for that, store it with You for me and accept it from me as You accepted from Your servant Dawud.'
Ibn Abbas said,
The Messenger of Allah recited an Ayah mentioning a prostration, then he prostrated, and I heard him saying the same words that the man had told him the tree said.
This was recorded by At-Tirmidhi, Ibn Majah, and Ibn Hibban in his Sahih.
وَالدَّوَابُّ
Ad-Dawabb,
means all the animals.
It was reported in a Hadith recorded by Imam Ahmad that;
the Messenger of Allah forbade using the backs of animals as platforms for speaking, for, perhaps the one who was being ridden was better and remembered Allah more than the one who was riding.
وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ
and many of mankind,
means, they prostrate willingly, submitting themselves to Allah of their own free will.
وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ
But there are many (men) on whom the punishment is justified.
means, those who refuse prostration, are stubborn and arrogant.
وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاء
And whomsoever Allah disgraces, none can honor him. Verily, Allah does what He wills.
It was recorded that Abu Hurayrah said,
The Messenger of Allah said:
إِذَا قَرَأَ ابْنُ ادَمَ السَّجْدَةَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي يَقُولُ
يَا وَيْلَهُ أُمِرَ ابْنُ ادَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّار
When the son of Adam recites the Ayat containing the prostration, the Shaytan withdraws weeping and says,
Ah! Woe (to me)! the son of Adam was commanded to prostrate and he prostrated, so Paradise is his; I was commanded to prostrate and I refused, so I am doomed to Hell.
This was recorded by Muslim.
In his book Al-Marasil, Abu Dawud recorded that Khalid bin Ma`dan, may Allah have mercy upon him, reported that Allah's Messenger said,
فُضِّلَتْ سُورَةُ الْحَجِّ عَلَى سَايِرِ الْقُرْانِ بِسَجْدَتَيْن
Surah Al-Hajj has been favored over the rest of the Qur'an with two prostrations.
Al-Hafiz Abu Bakr Al-Isma`ili recorded from Abu Al-Jahm that;
Umar did the two prostrations of (Surah) Al-Hajj when he was in Al-Jabiyah, and he said,
This Surah has been favored with two prostrations.
The Reason for Revelation
Allah tells:
هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ
These two opponents dispute with each other about their Lord;
It was recorded in the Two Sahihs that Abu Dharr swore that this Ayah --
هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ
(These two opponents dispute with each other about their Lord;)
was revealed concerning Hamzah and his two companions, and Utbah and his two companions, on the day of Badr when they came forward to engage in single combat.
This is the wording of Al-Bukhari in his Tafsir of this Ayah.
Then Al-Bukhari recorded that Ali bin Abi Talib said,
I will be the first one to kneel down before the Most Merciful so that the dispute may be settled on the Day of Resurrection.
Qays (sub-narrator) said, Concerning them the Ayah was revealed:
هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ
(These two opponents dispute with each other about their Lord),
He (Qays) said,
They are the ones who came forward (for single combat) on the day of Badr:
Ali, Hamzah and Ubaydah
vs.,
Shaybah bin Rabi`ah, Utbah bin Rabi`ah and Al-Walid bin `Utbah.
This was reported only by Al-Bukhari.
Ibn Abi Najih reported that Mujahid commented on this Ayah,
Such as the disbeliever and the believer disputing about the Resurrection.
According to one report Mujahid and Ata' commented on this Ayah,
This refers to the believers and the disbelievers.
The view of Mujahid and Ata' that this refers to the disbelievers and the believers, includes all opinions, the story of Badr as well as the others. For the believers want to support the religion of Allah, while the disbelievers want to extinguish the light of faith and to defeat the truth and cause falsehood to prevail.
This was the view favored by Ibn Jarir, and it is good.
The Punishment of the Disbelievers
Allah says:
فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّن نَّارٍ
then as for those who disbelieved, garments of fire will be cut out for them,
meaning, pieces of fire will be prepared for them.
Sa`id bin Jubayr said:
Of copper, for it is the hottest of things when it is heated.
يُصَبُّ مِن فَوْقِ رُوُوسِهِمُ الْحَمِيمُ
يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ
boiling water will be poured down over their heads. With it will melt (or vanish away) what is within their bellies, as well as (their) skins.
meaning, when the boiling water --which is water that has been heated to the ultimate degree- is poured down over their heads.
Ibn Jarir recorded from Abu Hurayrah that the Prophet said:
إِنَّ الْحَمِيمَ لَيُصَبُّ عَلَى رُوُوسِهِمْ فَيَنْفُذُ الْجُمْجُمَةَ حَتَّى يَخْلُصَ إِلَى جَوْفِهِ فَيَسْلُتَ مَا فِي جَوْفِهِ حَتَّى يَبْلُغَ قَدَمَيْهِ وَهُوَ الصِّهْرُ ثُمَّ يُعَادُ كَمَا كَان
The boiling water will be poured over their heads and will penetrate their skulls until it reaches what is inside, and what is inside will melt until it reaches their feet. This is the melting, then he will be restored to the state he was before.
It was also recorded by At-Tirmidhi, who said it is Hasan Sahih.
This was also recorded by Ibn Abi Hatim, who then recorded that Abdullah bin As-Sariy said,
The angel will come to him, carrying the vessel with a pair of tongs because of its heat. When he brings it near to his face, he will shy away from it. He will raise a hammer that he is carrying and will strike his head with it, and his brains will spill out, then he will pour the brains back into his head. This is what Allah says in the Ayah:
يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ
With it will melt what is within their bellies, as well as (their) skins.
وَلَهُم مَّقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ
And for them are hooked rods of iron.
Ibn Abbas said,
They will be struck with them, and with each blow, a limb will be severed, and they will cry out for oblivion.
كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا
Every time they seek to get away therefrom, from anguish, they will be driven back therein,
Al-A`mash reported from Abu Zibiyan that Salman said,
The fire of Hell is black and dark; its flames and coals do not glow or shine.
Then he recited:
كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا
Every time they seek to get away therefrom, from anguish, they will be driven back therein,
وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ
Taste the torment of burning!
This is like the Ayah:
وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُواْ عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ
and it will be said to them:Taste you the torment of the Fire which you used to deny. (32:20)
The meaning is that they will be humiliated by words and actions.
Have you not seen, [have you not] realised, that to God prostrate whoever is in the skies and whoever is in the earth, together with the sun and the moon, and the stars and the mountains, and the trees and the animals, that is, how they are submissive to Him in what He wills of them, as well as many of mankind?, namely, the believers, [who prostrate to Him] in addition to their submissiveness [to Him] when prostrating in prayer. And for many the chastisement has become due, and these are the disbelievers, for they refuse to prostrate, [an action] which is contingent on belief. And he whom God abases, [he whom] He makes unprosperous, there is none to give him honour, [none] to make him fortunate. Indeed God does whatever He will, in the way of abasing or giving honour.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.