ٱلْحَجّ ١٧
- إِنَّ sesungguhnya
- ٱلَّذِينَ orang-orang yang
- ءَامَنُواْ (mereka) mu'min
- وَٱلَّذِينَ dan orang-orang yang
- هَادُواْ (mereka) Yahudi
- وَٱلصَّـٰبِـِٔينَ dan orang-orang Shabi-in
- وَٱلنَّصَٰرَىٰ dan orang-orang Nasrani
- وَٱلۡمَجُوسَ dan orang-orang Majusi
- وَٱلَّذِينَ dan orang-orang yang
- أَشۡرَكُوٓاْ (mereka) musyrik
- إِنَّ sesungguhnya
- ٱللَّهَ Allah
- يَفۡصِلُ Dia memisahkan
- بَيۡنَهُمۡ diantara mereka
- يَوۡمَ hari
- ٱلۡقِيَٰمَةِۚ kiamat
- إِنَّ sesungguhnya
- ٱللَّهَ Allah
- عَلَىٰ atas
- كُلِّ segala
- شَيۡءٖ sesuatu
- شَهِيدٌ menyaksikan
Sesungguhnya orang-orang beriman, orang Yahudi, orang Sabiin, orang Nasrani, orang Majusi dan orang musyrik, Allah pasti memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat. Sungguh, Allah menjadi saksi atas segala sesuatu.
(Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi) mereka adalah pemeluk agama Yahudi (orang-orang Shabi'in) salah satu sekte dari orang-orang Yahudi (orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang Musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat) yaitu dengan memasukkan orang-orang yang beriman ke dalam surga dan mencampakkan orang-orang selain mereka ke dalam neraka. (Sesungguhnya Allah terhadap segala sesuatu) yang diperbuat mereka (Maha Menyaksikan) mengetahuinya secara nyata.
Tafsir Surat Al-Hajj: 17
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Sabi-in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi, dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.
Allah ﷻ menyebutkan para pemeluk agama-agama tersebut yang berbeda-beda, terdiri atas orang-orang mukmin dan orang-orang selain mereka dari kalangan orang-orang Yahudi dan orang-orang Sabi-in. Dalam tafsir surat Al-Baqarah telah dijelaskan definisi masing-masing dari mereka serta perbedaan pendapat tentang mereka, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi, dan orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah di samping Allah.
Maka sesungguhnya Allah “akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat.” (Al-Hajj: 17) dengan adil. Dia akan memasukkan orang yang beriman kepada-Nya ke dalam surga, dan akan memasukkan orang yang kafir kepada-Nya ke dalam neraka. Karena sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan semua perbuatan mereka, Maha Mencatat ucapan mereka serta Maha Mengetahui semua rahasia dan apa yang tersimpan di dalam hati mereka.
Dalam kehidupan dunia perbedaan agama dan keyakinan itu kadang-kadang tidak terlihat pengaruhnya terhadap keberhasilan dan kegagalan hidup, tetapi berbeda dengan di akhirat. Sesungguhnya orang-orang beriman, orang Yahudi, orang Sabiin, orang Nasrani, orang Majusi dan orang musyrik, nasib mereka di akhirat berbeda. Allah pasti memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat, orang beriman mendapat rida Allah dan masuk surga, sedangkan orang-orang yang tidak ber-iman mendapat murka Allah dan masuk neraka. Sungguh, Allah menjadi saksi atas segala sesuatu yang terjadi pada diri mereka selama hidup di dunia. 18. Apakah kamu tidak memperhatikan semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi bersujud kepada Allah, tunduk dan patuh kepada hukum alam ciptaan Allah seperti matahari, bulan, dan bintang yang setia beredar pada porosnya. Dan juga gunung-gunung, pepohonan, dan hewan-hewan melata, semuanya menjalani kehidupan secara alamiah mematuhi hukum alam yang berlaku. Dan demikian juga, banyak di antara manusia yang mematuhi hukum Allah karena kesadarannya, tetapi lebih banyak lagi manusia yang pantas mendapatkan azab Allah di dunia maupun akhirat, karena sikapnya yang menolak agama Allah. Barang siapa dihinakan Allah, karena sikap mereka yang lebih hina dari binatang, maka terhadap manusia yang bersikap demikian, tidak seorang pun yang akan memuliakannya selain Allah. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki, memuliakan yang layak dimuliakan atau menghinakan yang menutup diri dari petunjuk Allah.
Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa semua orang yang beriman, Yahudi, shabi`in, Nasrani, Majusi dan musyrik, akan diberi keputusan yang adil oleh Allah pada hari Kiamat.
Orang-orang yang beriman dalam ayat ini ialah orang-orang yang beriman kepada apa yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ, yaitu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul yang telah diutus-Nya, hari Kiamat dan kepada adanya kadar baik dan kadar buruk. Yang dimaksud dengan orang-orang Yahudi ialah anak cucu Nabi Yakub as yang berkembangbiak di Mesir kemudian dibawa kembali oleh Nabi Musa as ke Palestina. Mereka adalah pengikut Nabi Musa as dan ajaran-ajarannya termuat dalam kitab Taurat. shabi`in ialah orang-orang yang mengakui keesaan Allah tetapi mereka bukan mukmin, bukan Yahudi dan bukan pula Nasrani. Orang-orang Nasrani ialah pengikut-pengikut Nabi Isa as dengan kitab suci mereka Injil. Dan mereka yang syirik, yaitu yang menyembah selain Allah, baik berupa benda, manusia atau berhala, seperti yang disembah kaum musyrikin Mekah sebelum Islam. Terhadap semua golongan di atas Allah akan memberikan keputusan dengan adil di hari Kiamat, siapa yang benar-benar mengikuti Allah dan Rasul-rasul-Nya selama hidup di dunia, dan siapa pula yang mengada-ada sesuatu dalam agama Allah dan siapa pula yang mengingkari agama Allah itu.
Keadilan yang sebenarnya belum didapat lagi oleh manusia selama hidup di dunia yang fana ini. Betapa banyak orang yang dengan kehendak hatinya mengubah-ubah agama Allah lalu dipaksakannya agama itu agar diikuti oleh orang-orang lain. Betapa banyaknya agama-agama yang menyimpang dari ajaran Allah, tetapi agama itu dapat hidup dan subur dengan pengikut-pengikutnya yang banyak, sehingga jika dilihat sepintas lalu agama itulah yang benar dan diridai Allah, sebaliknya agama Allah sendiri hanya dianut oleh mereka yang terhimpit kemiskinan serta tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun atau tertindas di dalam negerinya, seakan-akan agama itu bukanlah agama yang diridai Allah. Semuanya itu belum memperoleh keadilan yang sebenarnya selama hidup di dunia. Karena itu di akhirat nanti Allah akan memberikan keadilan yang sesungguhnya. Semuanya akan mendapat balasan sesuai dengan iman, amal dan perbuatan yang telah dikerjakannya.
Menetapkan keputusan dengan adil dan melaksanakan keadilan itu bukanlah suatu yang mustahil bagi Allah, karena Allah Mahakuasa terhadap semua makhluk-Nya, Dia menyaksikan dan mengetahui segala perbuatan dan apa saja yang terjadi atas makhluk, baik yang nampak maupun yang tidak nampak, baik yang besar atau pun yang kecil, bahkan Dia mengetahui segala yang tergores di dalam hati.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Syurga untuk yang Beriman
“Sesungguhnya Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal shalih ke dalam syurga-syurga." (pangkal ayat 14). Tiap-tiap pandangan hidup Muslim ini selalu disisipkan Tuhan dalam peringatannya kepada kita. Yaitu bahwa iman atau kepercayaan yang tersimpan dalam jiwa tidak boleh terpisah dengan amal dan perbuatan yang baik. Sebab iman tidak patut menimbulkan amal yang tidak baik. Dan ketika menerangkan tentang ganjaran di akhirat itu selalu pula dikatakan jannatin yang berarti banyak syurga, bukan satu syurga saja: “Yang mengalir dari bawahnya sungai-sungai." Di bawahnya atau di dekatnya! Yang membayangkan bahwa di sana itu kelak adalah kesuburan dan ketenteraman belaka, sebab cukup persediaan air dan indah.
“Sesungguhnya Allah akan berbuat apa yang Dia kehendaki." (ujung ayat 14). Ujung ayat memberikan bayangan kepada orang yang beriman bahwa nikmat yang akan diterimanya di syurga-syurga itu tidaklah ada batasnya. Apa yang dia inginkan dapat raja dikabulkan oleh Tuhan:
“Ganjaran yang diberikan adalah sesuai dengan keikhlasan amal yang dikerjakan."
“Barangsiapa yang menyangka bahwa tidaklah akan ditolong dia oleh Allah di dalam dunia dan di akhirat." (pangkal ayat 15). Yang dituju oleh ayat ini iatah orang-orang yang tidak mau percaya akan kebenaran ajaran dan ajakan yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w.
Maka yang dimaksud dengan kata dia itu ialah Muhammad. Mereka tidak juga mau yakin bahwa agama ini adalah benar. Sebab itu Muhammad tidaklah akan ditolong di dunia ini; artinya agamanya tidaklah akan berkembang. Di akhirat pun tidak akan ditolong, sebab akhirat itu tidak ada. Maka untuk membayangkan kemurkaan Tuhan kepada si penolak itu, dikatakanlah pada lanjutan ayat: “Hendaklah dia ikatkan seutas tali ke langit." Artinya biarlah si penentang itu mengambil seutas tali, belitkan tali itu ke leher, dan ujungnya diikatkan ke langit, yaitu kepada peran di loteng rumahnya sendiri; “Lalu potonglah!" Arti lebih kasar lagi, ambillah tali, menggantung dirilah! “Kemudian lihatlah! Apakah dapat rencana buruknya itu menghilangkan apa yang menyakitkan hatinya itu?" (ujung ayat 15).
Kalau diambil arti sepintas lalu saja, tidaklah mungkin orang yang telah mati menggantung diri akan dapat melihat, bahwa tipudayanya menghambat menghalangi perkembangan usaha yang dibencinya. Sebab itu, di sanalah tersembunyi arti halus sabda Tuhan. Maka artinya, lebih baik kalian menggantung diri saja kalau kebenaran ini akan kalian benci juga, karena Kalau kalian masih hidup, hati kalian akan bertambah sakit melihat perkembangan agama ini.
Ibnu Abbas menafsirkan: “Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah tidak akan menolong Muhammad serta kitabnya (al-Qur'an) dan agamanya (Islam), pergi sajalan membunuh diri kalau kejayaan Muhammad itu menyakitkan hatinya. Karena Allah pasti menolong Rasul-rasulNya dan prang-orang yang beriman, sebagai tersebut dalam Surat 40 Ghafir ayat 51:
“Sesungguhnya Kami pasti akan menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada masa di dunia ini dan pada hari akan berdiri." (yaitu di hari kiamat).
Adapun menyuruh menggantung diri itu pukulan keras dengan kata-kata kepada mereka yang tidak mau mengerti itu, yang sekali kali perlu juga dipakai dalam rangka memberi ancaman keras, sebagai terdapat dalam Surat 3, Aali ‘Imran, ayat 119:
“Inilah kamu, kamu suka kepada mereka, tetapi mereka tidak suka kepada kamu, dan kamu percaya kepada semua kitab-kitab. Dan apabila mereka bertemu dengan kamu, mereka berkata: “Kami pun beriman." Tetapi apabila mereka telah sendiri, mereka gigit jari-jari mereka saking bencinya kepada kamu. Katakanlah: “Matilah kamu dengan kebenaran kamu itu."
“Dan seperti itulah, telah Kami turunkan kepadanya keterangan-keterangan yang jelas." (pangkal ayat 16). Yaitu bahwa telah Kami turunkan kepadanya, yaitu wahyu yang dinamai al-Qur'an. Dia adalah keteranganketerangan yang jelas untuk menjadi tuntunan bagi manusia, untuk setamat dunia dan akhirat: “Dan bahwasanya Allah akan memberikan petunjuk siapa yang Dia kehendaki." (ujung ayat 16).
Ujung ayat menunjukkan bahwa sementara al-Qur'an telah turun dan keterangan-keterangan telah diberikan dengan sejelas-jelasnya, namun yang akan beroleh.petunjuk ialah orang yang dikehendaki Allah jua. Dapatlah dilihat dan dibuktikan sendiri, banyak orang yang dapat mengartikan al-Qur'an namun tidak dapat hidayat. Ada pula orang yang baru beberapa kali mendengar artinya, dia pun tertarik dan beriman.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman," (pangkal ayat 17). Maksud orang-orang yang beriman ialah yang telah mengaku beriman kepada Allah dan RasulNya -Muhammad s.a.w. dan beriman pula kepada wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w Tegasnya orang yang telah mengaku Islam. "Dan orang-orang yang Yahudi," yaitu yang menyebut diri mereka Yahudi, percaya kepada Nabi Musa ‘alaihis-salam dan saudaranya Harun ‘alaihis-salam, dan yang mengakui Yahudi itu pun masih ada sampai sekarang. "Dan orang-orang Shabi'in." Di dalam menafsirkan ayat 62 dari Surat 2, al-Baqarah (Tafsir Al-Azhar Juzu' 1) telah kita jelaskan arti shabi'in. Artinya semula ialah orang yang meninggalkan agama nenek-movangnya. Kaum Musyrikin Quraisy pernah menuduh Nabi Muhammad Shabi dari agama nenek-moyang sebab telah meninggalkan menyembah berhala. Setengah ahli tafsir mengatakan Shabi'in ialah pecahan dan agama Nasrani. Yang mulanya menuhankan Isa Almasih. kemudian mendlrikan agama sendiri dan menyembah malaikat. Kita pun maklum bahwa agama Nasrani itu telah banyak pecahbelahnya, seumpama yang kita lihat pada perpecahan Katholik dengan Protestan Dan Protestan telah terpecah pula kepada berbagai sekte, yang masing-masing membatalkan yang lain: “Dari orang-orang Nasrani" dengan segala macam belahan sektenya itu: “Dan orang-orang Majusi," orang Majusi ialah pemuja api, agama Zarasustra anutan orang Iran (Mesir) sebelum Islam, yang percaya bahwa alam ini dikuasai oleh dua kekuatan, yaitu terang dan gelap, terang dilambangkan dengan api, sebab itu api disembah. Di antara keduanya, terang (ahura mazda) dan gelap (ahriman) selalu berperang, selalu bertempur. Tetapi yang menang pada akhinya ialah terang, dan gelap pasti kalah. Sebab itu mereka wajib bersyukur dan menyembah kepada terang, sebab terang itulah yang benar, mereka lambangkan dia dengan api.
Sisa Majusi itu masih diriapati di Bombay. Api pujaan yang mereka bawa dari Iran ketika Islam jelah mendesak mereka pada abad ketujuh Masehi masih menyala dalam kuil mereka dan masih mereka sembah.
“Dan orang-orang yang mempersekutukan," yaitu orang-orang musyrikin penyembah berhala yang masih ada di Hejaz ketika ayat ini turun, dan sampai sekarang pun masih ada penyembah berhala dan patung-patung di manamana."Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereko di hari kiamat." Segala pemeluk agama itu, termasuk orang-orang yang telah mengakuinya Islam, ‘bahkan mereka disebut nomor satu, perkaranya semua akan dipertimbangkan Allah dengan langsung di hari kiamat, keputusan akan diberikan seadil-adilnya sesudah pemeriksaan yang seteliti-telitinya. Kalau mereka dihukum, tidaklah hukuman dijatuhkan dengan aniaya: “Sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu adalah menyaksikan." (ujung ayat 17). Sebab itu tidaklah orang dapat mencan dalih buat berlepas diri di hari itu.
Allah will judge between the Sects on the Day of Resurrection
Allah says:
إِنَّ الَّذِينَ امَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِيِينَ وَالنَّصَارَى وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Verily, those who believe, and those who are Jews, and the Sabians, and the Christians, and the Majus, and those who worship others besides Allah; truly, Allah will judge between them on the Day of Resurrection.
Verily, Allah is over all things a Witness.
Allah tells us about the followers of these various religions, the believers (Muslims) and others such as the Jews and Sabians.
We have already seen a definition of them in Surah Al-Baqarah and have noted how people differ over who they are. There are also the Christians, Majus and others who worship others alongside Allah. Allah will (
يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
judge between them on the Day of Resurrection) with justice;
He will admit those who believed in Him to Paradise and will send those who disbelieved in Him to Hell, for He is a Witness over their deeds, and He knows all that they say and all that they do in secret, and conceal in their breast
Everything prostrates to Allah
Allah tells us that He alone, with no partner or associate, is deserving of worship. Everything prostrates to His might, willingly or unwillingly, and everything prostrates in a manner that befits its nature, as Allah says:
أَوَ لَمْيَرَوْاْ إِلَىخَلَقَ اللَّهُ مِن شَىْءٍ يَتَفَيَّأُ ظِلَـلُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالْشَّمَأيِلِ سُجَّدًا لِلَّهِ وَهُمْ
Have they not observed things that Allah has created:(how) their shadows incline to the right and to the left, making prostration unto Allah, and they are lowly. (16:48)
And Allah says here:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الاَْرْضِ
See you not that whoever is in the heavens and whoever is on the earth prostrate themselves to Him,
means, the angels in the regions of the heavens, and all the living creatures, men, Jinn, animals and birds.
وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ
and there is not a thing but glorifies His praise. (17:44)
وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ
and the sun, and the moon, and the stars,
These are mentioned by name, because they are worshipped instead of Allah, so Allah explains that they too prostrate to their Creator and that they are subjected to Him.
لَا تَسْجُدُواْ لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُواْ لِلَّهِ الَّذِى خَلَقَهُنَّ
Prostrate yourselves not to the sun nor to the moon, but prostrate yourselves to Allah Who created them. (41:37)
In the Two Sahihs it was recorded that Abu Dharr said,
The Messenger of Allah said to me,
أَتَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ الشَّمْسُ
Do you know where this sun goes?
I said, `Allah and His Messenger know best.'
He said,
فَإِنَّهَا تَذْهَبُ فَتَسْجُدُ تَحْتَ الْعَرْشِ ثُمَّ تَسْتَأْمِرُ فَيُوشِكُ أَنْ يُقَالَ لَهَا ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِيْت
It goes (sets) and prostrates beneath the Throne, then it awaits the command. Soon it will be told,
Go back the way whence you came.
وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ
and the mountains, and the trees,
Ibn Abbas said, A man came and said,
`O Messenger of Allah, I ﷺ myself in a dream last night, as if I was praying behind a tree. I prostrated, and the tree prostrated when I did, and I heard it saying,
O Allah, write down a reward for me for that, and remove a sin from me for that, store it with You for me and accept it from me as You accepted from Your servant Dawud.'
Ibn Abbas said,
The Messenger of Allah recited an Ayah mentioning a prostration, then he prostrated, and I heard him saying the same words that the man had told him the tree said.
This was recorded by At-Tirmidhi, Ibn Majah, and Ibn Hibban in his Sahih.
وَالدَّوَابُّ
Ad-Dawabb,
means all the animals.
It was reported in a Hadith recorded by Imam Ahmad that;
the Messenger of Allah forbade using the backs of animals as platforms for speaking, for, perhaps the one who was being ridden was better and remembered Allah more than the one who was riding.
وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ
and many of mankind,
means, they prostrate willingly, submitting themselves to Allah of their own free will.
وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ
But there are many (men) on whom the punishment is justified.
means, those who refuse prostration, are stubborn and arrogant.
وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاء
And whomsoever Allah disgraces, none can honor him. Verily, Allah does what He wills.
It was recorded that Abu Hurayrah said,
The Messenger of Allah said:
إِذَا قَرَأَ ابْنُ ادَمَ السَّجْدَةَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي يَقُولُ
يَا وَيْلَهُ أُمِرَ ابْنُ ادَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّار
When the son of Adam recites the Ayat containing the prostration, the Shaytan withdraws weeping and says,
Ah! Woe (to me)! the son of Adam was commanded to prostrate and he prostrated, so Paradise is his; I was commanded to prostrate and I refused, so I am doomed to Hell.
This was recorded by Muslim.
In his book Al-Marasil, Abu Dawud recorded that Khalid bin Ma`dan, may Allah have mercy upon him, reported that Allah's Messenger said,
فُضِّلَتْ سُورَةُ الْحَجِّ عَلَى سَايِرِ الْقُرْانِ بِسَجْدَتَيْن
Surah Al-Hajj has been favored over the rest of the Qur'an with two prostrations.
Al-Hafiz Abu Bakr Al-Isma`ili recorded from Abu Al-Jahm that;
Umar did the two prostrations of (Surah) Al-Hajj when he was in Al-Jabiyah, and he said,
This Surah has been favored with two prostrations.
The Reason for Revelation
Allah tells:
هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ
These two opponents dispute with each other about their Lord;
It was recorded in the Two Sahihs that Abu Dharr swore that this Ayah --
هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ
(These two opponents dispute with each other about their Lord;)
was revealed concerning Hamzah and his two companions, and Utbah and his two companions, on the day of Badr when they came forward to engage in single combat.
This is the wording of Al-Bukhari in his Tafsir of this Ayah.
Then Al-Bukhari recorded that Ali bin Abi Talib said,
I will be the first one to kneel down before the Most Merciful so that the dispute may be settled on the Day of Resurrection.
Qays (sub-narrator) said, Concerning them the Ayah was revealed:
هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ
(These two opponents dispute with each other about their Lord),
He (Qays) said,
They are the ones who came forward (for single combat) on the day of Badr:
Ali, Hamzah and Ubaydah
vs.,
Shaybah bin Rabi`ah, Utbah bin Rabi`ah and Al-Walid bin `Utbah.
This was reported only by Al-Bukhari.
Ibn Abi Najih reported that Mujahid commented on this Ayah,
Such as the disbeliever and the believer disputing about the Resurrection.
According to one report Mujahid and Ata' commented on this Ayah,
This refers to the believers and the disbelievers.
The view of Mujahid and Ata' that this refers to the disbelievers and the believers, includes all opinions, the story of Badr as well as the others. For the believers want to support the religion of Allah, while the disbelievers want to extinguish the light of faith and to defeat the truth and cause falsehood to prevail.
This was the view favored by Ibn Jarir, and it is good.
The Punishment of the Disbelievers
Allah says:
فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّن نَّارٍ
then as for those who disbelieved, garments of fire will be cut out for them,
meaning, pieces of fire will be prepared for them.
Sa`id bin Jubayr said:
Of copper, for it is the hottest of things when it is heated.
يُصَبُّ مِن فَوْقِ رُوُوسِهِمُ الْحَمِيمُ
يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ
boiling water will be poured down over their heads. With it will melt (or vanish away) what is within their bellies, as well as (their) skins.
meaning, when the boiling water --which is water that has been heated to the ultimate degree- is poured down over their heads.
Ibn Jarir recorded from Abu Hurayrah that the Prophet said:
إِنَّ الْحَمِيمَ لَيُصَبُّ عَلَى رُوُوسِهِمْ فَيَنْفُذُ الْجُمْجُمَةَ حَتَّى يَخْلُصَ إِلَى جَوْفِهِ فَيَسْلُتَ مَا فِي جَوْفِهِ حَتَّى يَبْلُغَ قَدَمَيْهِ وَهُوَ الصِّهْرُ ثُمَّ يُعَادُ كَمَا كَان
The boiling water will be poured over their heads and will penetrate their skulls until it reaches what is inside, and what is inside will melt until it reaches their feet. This is the melting, then he will be restored to the state he was before.
It was also recorded by At-Tirmidhi, who said it is Hasan Sahih.
This was also recorded by Ibn Abi Hatim, who then recorded that Abdullah bin As-Sariy said,
The angel will come to him, carrying the vessel with a pair of tongs because of its heat. When he brings it near to his face, he will shy away from it. He will raise a hammer that he is carrying and will strike his head with it, and his brains will spill out, then he will pour the brains back into his head. This is what Allah says in the Ayah:
يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ
With it will melt what is within their bellies, as well as (their) skins.
وَلَهُم مَّقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ
And for them are hooked rods of iron.
Ibn Abbas said,
They will be struck with them, and with each blow, a limb will be severed, and they will cry out for oblivion.
كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا
Every time they seek to get away therefrom, from anguish, they will be driven back therein,
Al-A`mash reported from Abu Zibiyan that Salman said,
The fire of Hell is black and dark; its flames and coals do not glow or shine.
Then he recited:
كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا
Every time they seek to get away therefrom, from anguish, they will be driven back therein,
وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ
Taste the torment of burning!
This is like the Ayah:
وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُواْ عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ
and it will be said to them:Taste you the torment of the Fire which you used to deny. (32:20)
The meaning is that they will be humiliated by words and actions.
Truly those who believe, and those of Jewry, namely, the Jews, and the Sabaeans, a sect from among them, and the Christians, and the Magians and the polytheists - God will indeed judge between them on the Day of Resurrection, by admitting the believers into the Paradise, and all others into the Hellfire. Assuredly God, over all things, [the things] which they do, is Witness, Knowing them a knowledge of direct vision ('ilm mushaahada).
Commentary
In verse 17 it is stated that Allah will decide among the believers and non-believers of different faiths on the Day of Resurrection, because He knows everything. What that decision would be, has been related in the Qur'an at several places, namely that the good Muslims will enjoy a life of everlasting peace and comfort, while the infidels would be condemned to a life of eternal perdition. In the next verse, by using the word "Sajdah" (prostration), it has been declared that all created things, be they living things, minerals or plants, are in obedience and thus submit to the Supreme authority of Allah Ta’ ala, thereby mentioning two groups of humans in this respect of 'submission'. One, which obeys Allah and therefore is included amongst the creatures who 'prostrate' to Him, and the other one which is rebellious and refuses to bow before Him, meaning, refusing to submit to His Will. The word "Sajdah" (prostration) has been used here in the broader sense of 'submission' to the will of Allah and obeying His commands, because all created things act upon this submission in their own way. Human beings perform Sajdah by touching the ground with the forehead, while in the case of other created things their Sajdah constitutes their faithful performance of the functions assigned to them by Allah.
The truth about all created things obeying Allah
Genetically, the entire universe and all created things therein are under, the control and subject to the Will of their Creator by virtue of an inherently programmed guidance (guidance of Takwin) by Allah. The 'submission' in this sense is pre-determined, involuntary and instinctive. There is no created being which can escape this universal law of creation, be it a Muslim or a non-believer, a living thing or dead, mineral or plant. The smallest particle and the highest mountain cannot make the slightest movement without His Will. There is, however, another kind of submission to Allah, when a person offers homage to Him voluntarily and without constraint. This is what distinguishes a believer from a non-believer. A believer is obedient and sincere in his submission to Allah, whereas a non-believer repudiates His existence. As this verse deals with the difference between a Muslim and a kafir (infidel), it is more likely that reference to 'Sajdah' (prostration) does not refer to pre-destined and instinctive obedience alone but covers the voluntary submission as well. Let it not be supposed that only human beings and Jinns who possess intelligence can offer voluntary and unconstrained submission, and animals, plants and minerals being devoid of reason cannot exercise voluntary and intentional obedience. Indeed it can be proved from the text of the Qur'an that every created thing has reason, intellect and intent, and the difference lies only in degree. Human beings and Jinns possess a perfect level of intelligence, which makes them liable to a strict adherence to the laws governing what is permissible and what is forbidden. As regards other creatures, Allah has given them intelligence according to their needs. Animals possess the highest degree of intelligence after humans, then come plants and last of all are the minerals. The intelligence among the animals can easily be perceived, and that possessed by plants can also be observed if one applies one's mind to the task. However, the intelligence given to the minerals is so little and concealed that it is not easily discernible, though Allah has said clearly that they not only possess intelligence but also have the capacity to decide things. The Qur'an says about the sky and the earth قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ (They said, "We come willingly."41:11) that is, when Allah commanded the sky and the earth that they must submit to His Will either by their free choice or by force, they both replied that they accepted His authority by their own voluntary choice. At another place the Qur'an says وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّـهِ , (and there are still others which fall down in fear of Allah. - 2:74) which means that there are rocks, which fall down in fear of Allah Ta’ ala. Similarly, there are numerous traditions which provide evidence of mountains conversing with one another, or other created things showing signs of intelligence. Therefore, the homage mentioned in this verse for which the word Sajdah (Prostration) has been used means the voluntary homage. The interpretation of this verse would, then, be that except for the human beings and Jinns all other created things voluntarily and willingly submit to the Divine Authority. It is only the human beings and Jinns who are divided into two factions, namely those who bow in submission to the Will of Allah, and those who deny His authority and refuse to submit to Him and are, therefore, despised. Allah knows best.