ٱلْكَهْف ١١٠
- قُلۡ katakanlah
- إِنَّمَآ sesungguhnya hanyalah
- أَنَا۠ aku
- بَشَرٞ seorang manusia
- مِّثۡلُكُمۡ seperti kamu
- يُوحَىٰٓ diwahyukan
- إِلَيَّ kepadaku
- أَنَّمَآ bahwa sesungguhnya hanyalah
- إِلَٰهُكُمۡ Tuhan kamu
- إِلَٰهٞ Tuhan
- وَٰحِدٞۖ satu/esa
- فَمَن maka barangsiapa
- كَانَ adalah
- يَرۡجُواْ mengharapkan
- لِقَآءَ perjumpaan
- رَبِّهِۦ Tuhannya
- فَلۡيَعۡمَلۡ maka hendaklah ia mengerjakan
- عَمَلٗا pekerjaan/amalan
- صَٰلِحٗا kebajikan/saleh
- وَلَا dan janganlah
- يُشۡرِكۡ ia persekutukan
- بِعِبَادَةِ dengan/dalam peribadatan
- رَبِّهِۦٓ Tuhannya
- أَحَدَۢا seseorang
Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa." Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya."
(Katakanlah, "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia) anak Adam (seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku, 'Bahwa sesungguhnya Rabb kalian itu adalah Tuhan Yang Esa.') huruf Anna di sini Maktufah atau dicegah untuk beramal oleh sebab adanya Ma, sedangkan huruf Ma masih tetap status Mashdarnya. Maksudnya; yang diwahyukan kepadaku mengenai keesaan Tuhan (Barang siapa mengharap) bercita-cita (perjumpaan dengan Rabbnya) setelah dibangkitkan dan menerima pembalasan (maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan di dalam beribadah kepada Rabbnya) yakni sewaktu ia beribadah kepada-Nya, seumpamanya ia hanya ingin pamer (dengan seorang pun").
Tafsir Surat Al-Kahfi: 110
Katakanlah, "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.
Imam Tabrani meriwayatkan melalui jalur Hisyam ibnu Ammar, dari Ismail ibnu Ayyasy, dari Amr ibnu Qais Al-Kufi, bahwa ia mendengar Mu'awiyah ibnu Sufyan berkata, "Ayat ini merupakan ayat yang paling akhir diturunkan." Selanjutnya ia mengatakan bahwa Allah ﷻ berfirman kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad ﷺ: "Katakanlah." (Al-Kahfi: 110) kepada orang-orang musyrik yang mendustakan kerasulanmu. "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian." (Al-Kahfi: 110) Maka barang siapa menyangka bahwa aku ini dusta, hendaklah ia mendatangkan hal yang sama dengan apa yang aku sampaikan ini. Karena sesungguhnya aku tidak mengetahui hal yang gaib menyangkut berita masa silam yang kusampaikan kepada kalian berdasarkan permintaan kalian, seperti kisah tentang para pemuda penghuni gua, dan kisah Zulqarnain. Kisah tersebut ternyata sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Seandainya bukan karena Allah yang telah memberitahukannya kepadaku, tentulah aku tidak mengetahuinya.
Dan sesungguhnya aku hanya memberitahukan kepada kalian bahwa: "Sesungguhnya Tuhan kalian itu." (Al-Kahfi: 110) yang aku seru kalian untuk menyembah-Nya. "Adalah Tuhan Yang Maha Esa." (Al-Kahfi: 110) tidak ada sekutu bagi-Nya. "Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya." (Al-Kahfi: 110) Yakni ingin memperoleh pahala dan balasan kebaikan-Nya. "Maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh." (Al-Kahfi: 110) Yaitu segala amal perbuatan yang sesuai dengan syariat Allah. "Dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (Al-Kahfi: 110) Yakni dengan mengerjakan amal semata-mata hanya karena Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Demikianlah syarat utama dari amal yang diterima oleh-Nya, yaitu harus ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan syariat yang telah dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui hadis Ma'mar, dari Abdul Karim Al-Jazari, dari Tawus yang mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mengerjakan banyak amal perbuatan karena menginginkan pahala Allah, tetapi aku suka juga bila amal perbuatanku terlihat oleh orang-orang." Rasulullah ﷺ tidak menjawab sepatah kata pun kepadanya, hingga turunlah ayat ini, yaitu firman Allah ﷻ : "Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya." (Al-Kahfi: 110). Hal yang sama diriwayatkan melalui Mujahid secara mursal, juga melalui Tabi'in lainnya yang tidak hanya seorang.
Al-A'masy mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Hamzah Abu Imarah maula (bekas budak) Bani Hasyim, dari Syahr ibnu Hausyab yang mengatakan bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepada Ubadah ibnu Samit r.a. Lelaki itu mengatakan, "Saya mau bertanya kepadamu, bagaimanakah pendapatmu tentang seorang lelaki yang shalat dengan mengharapkan pahala Allah, tetapi ia suka bila dipuji. Ia juga mengerjakan puasa karena mengharap pahala Allah, tetapi ia suka bila dipuji. Dan ia rajin bersedekah karena mengharapkan pahala Allah, tetapi ia suka dipuji. Dan ia mengerjakan ibadah haji karena mengharapkan pahala Allah, tetapi ia suka bila dipuji?". Ubadah menjawab, "Ia tidak mendapat apa-apa, karena sesungguhnya Allah ﷻ telah berfirman, 'Aku adalah sebaik-baik sekutu. Maka barang siapa yang melakukan suatu amal dengan mempersekutukan selain-Ku di dalamnya, maka amalnya itu buat sekutuKu, Aku tidak memerlukan amalnya'."
Imam Ahmad mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, telah menceritakan kepada kami Kasir ibnu Zaid, dari Rabih ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Sa'id Al-Khudri, dari ayahnya, dari kakeknya yang menceritakan, "Dahulu kami bergantian menjaga Rasulullah ﷺ hingga kami menginap di dekat rumahnya, karena barangkali beliau mempunyai suatu keperluan atau ada urusan penting di malam hari, maka beliau tinggal menyuruh kami. Orang-orang yang melakukan tugas berjaga cukup banyak. Pada suatu ketika kami yang bertugas sedang berbincang-bincang, Rasulullah ﷺ keluar dari rumahnya (karena mendengar pembicaraan kami), lalu beliau bersabda, 'Pembicaraan apakah yang sedang kalian bisikkan?'. Kami menjawab, 'Kami bertobat kepada Allah, hai Nabi Allah. Sesungguhnya kami sedang membicarakan tentang Al-Masih Dajjal, kami merasa takut terhadapnya'. Rasulullah ﷺ bersabda, 'Maukah kalian aku beritahukan hal yang seharusnya lebih kalian takuti daripada Al-Masih Dajjal menurutku?' Kami menjawab, 'Tentu kami mau.' Rasulullah ﷺ bersabda: 'Syirik tersembunyi, yaitu bila seseorang berdiri mengerjakan shalatnya karena ingin dilihat oleh orang lain'.
Imam Ahmad mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid ibnu Bahram yang mengatakan bahwa Syahr ibnu Hausyab bercerita bahwa Ibnu Ganam mengatakan: Ketika kami memasuki Masjid Al-Jabiyah bersama Abu Darda, kami bertemu dengan Ubadah ibnu Samit. Maka Ubadah memegangkan tangan kanannya ke tangan kiriku, dan tangan kirinya ke tangan kanan Abu Darda. Lalu ia berjalan keluar dengan diapit oleh kami berdua, sedangkan kami berbisik-bisik, hanya Allah-lah yang mengetahui apa yang kami bisikkan. Ubadah ibnu Samit berkata, "Jika usia seseorang dari kalian atau kalian berdua panjang, tentulah dalam waktu dekat kamu akan melihat seorang lelaki dari kalangan menengah qurra kaum muslim yang berbahasa sama dengan Nabi Muhammad ﷺ (yakni bahasa Arab). Lalu dia membacanya dan mengartikannya, serta menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Ia juga menempatkan masing-masing dari hukum yang dikandungnya pada tempat-tempatnya sesuai dengan latar belakang penurunannya. Sehingga kalian tidak dapat memberikan komentar apapun terhadapnya."
Ketika kami sedang asyik dalam keadaan berbincang-bincang, muncullah Syaddad ibnu Aus r.a. dan Auf ibnu Malik. Keduanya ikut bergabung dengan kami. Syaddad berkata, "Sesungguhnya hal yang paling saya khawatirkan akan menimpa kalian, hai manusia, adalah setelah saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Hal yang paling aku khawatirkan akan menimpa kalian adalah syahwat yang tersembunyi dan syirik'." Ubadah ibnu Samit dan Abu Darda berkata, "Ya Allah, ampunilah kami dengan ampunan yang luas. Bukankah Rasulullah ﷺ bersabda kepada kita bahwa setan telah putus asa untuk disembah di Jazirah Arab ini? Mengenai syahwat yang tersembunyi, kami telah mengetahuinya, yaitu syahwat duniawi, termasuk birahi kepada wanita dan ketamakan untuk memiliki dunia. Lalu apakah yang dimaksud dengan syirik yang engkau khawatirkan akan menimpa kami, hai Syaddad?". Syaddad menjawab, "Tentu kalian mengerti bila kalian melihat seorang lelaki mengerjakan shalatnya karena orang lain, atau ia berpuasa karena orang lain, atau dia bersedekah karena ingin dipuji orang lain. Bukankah dia telah berbuat syirik?" Kami menjawab, "Benar. Demi Allah, sesungguhnya orang yang shalat atau puasa atau bersedekah karena ingin dipuji oleh orang lain berarti telah berbuat syirik."
Syaddad berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang shalat dengan pamer, maka sesungguhnya dia telah musyrik. Barang siapa yang berpuasa karena pamer, sesungguhnya dia telah musyrik. Dan barang siapa yang bersedekah karena pamer, sesungguhnya dia telah musyrik."
Pada saat itu juga Auf ibnu Malik berkata, "Apakah Allah tidak mau menerima bagian dari apa yang dikerjakan karena mengharapkan pahalaNya dari amal itu, lalu menolak bagian dari amal itu yang pelakunya mempersekutukan Dia dengan yang lain?" Maka Syaddad saat itu juga menjawab bahwa dirinya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah berfirman, 'Aku adalah sebaik-baik pemberi terhadap orang yang berbuat syirik kepada-Ku. Barang siapa yang mempersekutukan Aku dengan sesuatu, maka sesungguhnya amal perbuatannya baik yang banyak maupun yang sedikit Aku berikan kepada temannya yang dia persekutukan dengan Aku karena Aku tidak memerlukannya’."
Menurut jalur periwayatan lain dari hadits ini diketengahkan oleh Imam Ahmad. Imam Ahmad mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepadaku Abdul Wahid ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Ubadah ibnu Nissi,.dari Syaddad ibnu Aus r.a., bahwa pada suatu hari kelihatan ia menangis. Lalu ada yang bertanya kepadanya, "Apakah yang menyebabkan kamu menangis?" Syaddad ibnu Aus menjawab bahwa yang menyebabkan dia menangis adalah suatu hal yang ia dengar dari Rasulullah ﷺ yang bersabda: "Aku merasa khawatir terhadap umatku sehubungan perbuatan syirik dan syahwat yang tersembunyi." Saya (Syaddad) bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah umatmu akan berbuat syirik sesudahmu?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Ya, tetapi sesungguhnya bukan karena mereka menyembah matahari, bukan karena menyembah rembulan, bukan karena menyembah batu, dan bukan karena menyembah berhala. Akan tetapi, (aku khawatirkan mereka) pamer dengan amal perbuatannya. Syahwat yang tersembunyi itu adalah bila seseorang dari kalian pada pagi harinya berpuasa, lalu timbullah suatu syahwat dalam dirinya, maka ia meninggalkan puasanya (dan mengerjakan apa yang diinginkan oleh syahwatnya)."
Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini melalui Al-Hasan Ibnu Zakwan, dari Ubadah ibnu Nissi dengan sanad yang sama.Tetapi Ubadah berpredikat daif, dan mengenai penerimaannya akan hadits ini dari Syaddad masih diragukan.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Ali ibnu Ja'far Al-Ahmar, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sabit, telah menceritakan kepada kami Qais ibnu Abu Husain, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Pada hari kiamat Allah berfirman, ‘Aku adalah sebaik-baik sekutu. Barang siapa yang mempersekutukan seseorang dengan-Ku, maka semua amalnya adalah untuk sekutunya’." Yakni hendaklah si pengamal itu meminta pahalanya kepada orang yang dipersekutukannya dengan Allah, bukan kepada Allah.
Imam Ahmad mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, bahwa ia mendengar Al-Ala menceritakan hadis berikut dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang menceritakan tentang apa yang akan difirmankan oleh Allah ﷻ (kelak di hari kiamat): "Aku adalah sebaik-baik sekutu. Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang di dalamnya ia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku berlepas diri darinya dan amalnya itu buat sekutunya." Ditinjau dari jalurnya hadis ini diriwayatkan secara munfarid oleh Imam Ahmad.
Imam Ahmad mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, dari Yazid ibnul Had, dari Amr, dari Mahmud ibnu Labid, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya hal yang sangat aku khawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik kecil." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?" Rasul ﷺ menjawab, "Riya (pamer), kelak di hari kiamat Allah akan berfirman saat memberikan pahala amal perbuatan manusia, 'Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian pamer kepadanya saat di dunia, dan lihatlah oleh kalian apakah kalian mendapati adanya pahala balasan (amal kalian) pada mereka'."
Imam Ahmad mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid ibnu Ja'far, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Ziyad ibnu Mina, dari Abu Sa'id ibnu Abu Fudalah Al-Ansari yang berpredikat sahabat, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila Allah telah menghimpunkan semua orang-orang terdahulu dan terkemudian pada hari yang tiada keraguan padanya (hari kiamat), terdengarlah suara seruan yang mengatakan, ‘Barang siapa yang mempersekutukan Aku dengan seseorang dalam suatu amalnya yang seharusnya karena Allah, hendaklah ia meminta pahala (amalnya) dari selain Allah. Karena sesungguhnya Allah tidak memerlukan amal yang dihasilkan dari kemusyrikan’." Imam At-Tirmidzi dan Ibnu Majah mengetengahkan hadits ini melalui Muhammad ibnul Bursani dengan sanad yang sama.
Imam Ahmad mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul Malik, telah menceritakan kepada kami Bakkar telah menceritakan kepadaku ayahku (Abdul Aziz ibnu Abu Bakrah), dari Abu Bakrah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang ingin didengar, maka Allah menjadikannya terkenal dengannya; dan barang siapa yang pamer, maka Allah akan memamerkan (amal)nya."
Imam Ahmad mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Firas, dari Atiyyah, dari Abu Sa'id Al-Khudri, dari Rasulullah ﷺ yang bersabda: "Barang siapa yang pamer, maka Allah akan memamerkan amalnya; dan barang siapa yang ingin didengar (amalnya), maka Allah menjadikan (amal)nya terkenal."
Imam Ahmad mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id dari Syu'bah, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Murrah, bahwa di rumah Abu Ubaidah ia mendengar seorang lelaki mengatakan bahwa ia mendengar Abdullah ibnu Amr menceritakan hadits berikut dari Ibnu Umar yang mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang amalnya ingin didengar oleh orang lain, maka Allah menjadikannya terkenal di kalangan semua makhluk-Nya, lalu Allah mengecilkan dan menghinakannya." Maka Abdullah menangis mencucurkan air matanya.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Yahya Al-Aili, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Gassan, telah menceritakan kepada kami Abu Imran Al-Juni, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Amal-amal perbuatan Bani Adam dihadapkan kepada Allah ﷻ pada hari kiamat terhimpun di dalam buku-buku catatan amal yang telah dilak. Lalu Allah berfirman, "Lemparkanlah yang ini dan terimalah yang itu." Para malaikat berkata, "Wahai Tuhanku, demi Allah, kami tidak melihat selain kebaikan." Allah berfirman, "Sesungguhnya amal perbuatannya itu bukan karena mengharapkan ridha-Ku. Pada hari ini Aku tidak mau menerima suatu amal perbuatan kecuali amal yang diniatkan untuk memperoleh ridha-Ku." Kemudian Al-Haris ibnu Gassan mengatakan bahwa Abu Imran Al-Juni riwayat hadisnya banyak diambil oleh sejumlah ulama, dia adalah seorang yang berpredikat tsiqah, seorang ulama Basrah, yang tidak ada celanya (dalam periwayatan hadis).
Ibnu Wahb mengatakan: Telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Iyad, dari Abdur Rahman Al-A'raj, dari Abdullah ibnu Qais Al-Khuza'i, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang berdiri karena pamer dan harga diri, ia terus menerus dalam murka Allah sampai dia duduk."
Abu Ya'la mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Dinar, dari Ibrahim Al-Hijri, dari Abul Ahwas, dari Auf ibnu Malik, dari Ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang mengerjakan shalatnya dengan baik karena dilihat orang lain, dan mengerjakannya dengan buruk bila sendirian, maka hal ini merupakan suatu penghinaan yang dia lakukan terhadap Tuhannya melalui shalatnya itu."
Ibnu Jarir mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Abu Amir Ismail ibnu Amr As-Sukuni, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ayyasy, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Qais Al-Kindi, bahwa ia mendengar Mu'awiyah bin Abu Sufyan membaca ayat berikut, yaitu firman-Nya: "Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya." (Al-Kahfi: 110) Bahwa sesungguhnya ayat ini merupakan ayat yang paling akhir diturunkan. Atsar ini mengandung kemusykilan, karena sesungguhnya ayat ini berada di akhir surat Al-Kahfi, sedangkan surat Al-Kahfi seluruhnya diturunkan di Mekah. Barangkali Mu'awiyah bermaksud bahwa sesudahnya tidak ada ayat lain yang diturunkan untuk me-mansukh (merevisi)nya, dan tidak ada pula ayat lain yang merubah hukumnya, melainkan ia tetap muhkam. Sehingga pengertian ini agak kabur di mata sebagian para perawi yang akhirnya ia meriwayatkan dengan makna sesuai dengan pemahamannya sendiri. Hanya Allah yang mengetahui kebenarannya.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnul Hasan ibnu Syaqiq, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Syamil, telah menceritakan kepada kami Abu Qurrah, dari Sa'id ibnul Musayyab, dari Umar ibnul Khattab yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa di suatu malam membaca firman-Nya, ‘Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya’ (Al-Kahfi: 110), hingga akhir ayat, maka untuknya ada nur (cahaya) yang kelihatan jelas dari Adn sampai ke Mekah, di dalam nur itu penuh dengan para malaikat." Hadits berpredikat garib (aneh).
110. Allah memerintah Nabi untuk menjelaskan jati dirinya. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah diwahyukan kepadaku sesuai kehendak Allah bahwa sesungguhnya Tuhan kamu yang menjadi tujuan ibadah adalah Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan-Nya. Maka, barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya dan menghendaki ganjaran atas amal perbuatannya di akhirat kelak, maka hendaklah dia selalu mengerjakan kebajikan dan menjauhi semua hal keji dan mungkar serta janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya. Hendaklah dia beribadah kepada-Nya dengan tulus, bukan karena ria, dan dilandasi niat untuk menggapai rida-Nya. '1. Bila Surah al-Kahf ditutup dengan penegasan tentang luasnya ilmu Allah dan perintah untuk berbuat kebajikan dan bertauhid dalam ibadah kepada-Nya, maka Surah Maryam mengingatkan kembali manusia tentang ilmu Allah lainnya yang terkandung dalam berbagai ayat Al-Qur'an, seperti K'f H' Y' 'Ain S'd. Makna sesungguhnya dari ayat ini hanya diketahui oleh Allah. Tujuannya adalah menggugah perhatian manusia tentang Al-Qur'an yang penuh hikmah dan tuntunan.
Katakanlah kepada mereka, "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, mengakui bahwa semua ilmuku tidak sebanding dengan ilmu Allah, aku mengetahui sekedar apa yang diwahyukan Allah kepadaku, dan tidak tahu yang lainnya kecuali apa yang Allah ajarkan kepadaku. Allah telah mewahyukan kepadaku bahwa, "Yang disembah olehku dan oleh kamu hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya." Oleh karena itu barangsiapa yang mengharapkan pahala dari Allah pada hari perjumpaan dengan-Nya, maka hendaklah ia tulus ikhlas dalam ibadahnya, mengesakan Allah dalam rububiyah dan uluhiyah-Nya dan tidak syirik baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi seperti riya, karena berbuat sesuatu dengan motif ingin dipuji orang itu termasuk syirik yang tersembunyi. Setelah membersihkan iman dari kemusyrikan itu hendaklah selalu mengerjakan amal saleh yang dikerjakannya semata-mata untuk mencapai keridaan-Nya.
Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
Sesungguhnya Allah berfirman, "Saya adalah yang paling kaya di antara semua yang berserikat dari sekutunya. Dan siapa yang membuat suatu amalan dengan mempersekutukan Aku dengan yang lain, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya." (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berantai saleh, adalah bagi mereka surga-surga Firdaus kediamannya."
(ayat 107)
Maka selalulah kita bertemu dua sejoli hidup Mukmin itu, yaitu beriman dan beramal saleh. Iman kepercayaan dalam hati, amal saleh adalah bekas yang wajar dari iman. Dia dapat diumpamakan dengan gabungan dua kata menjadi satu, yaitu kebudayaan. Yang berasal dari budi yang terletak dalam sikap jiwa dan daya yang terletak pada kegiatan hidup. Dan sama juga dengan budi pekerti. Budi di nyawa, pekerti di sikap hidup. Tidak mungkin iman saja dengan tidak menghasilkan amal. Tidak mungkin amal saja, padahal tidak bersumber dari niat hati ikhlas. Dan ikhlas tidak akan ada, kalau tidak dari iman. Maka tempat yang telah disediakan Allah buat hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh itu ialah Jannatul Firdausi,
Maka terlukislah dalam ayat ini jannaatin dengan memanjangkan pada alif, yang berarti bukan satu surga melainkan banyak surga. Dan disebut pula nama surga itu, yaitu Firdaus. Dan tersebutlah di dalam sebuah hadits yang shahih yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim,
“Apabila, kamu hendak memohonkan surga, mohonkanlah surga Firdaus, karena dialah puncak surga dan tengah-tengah surga, dan dari sanalah mengalir sungai-sungai di dalam surga itu." (HR Bukhari dan Muslim)
Diterima di sana orang-orang beriman dengan penuh penghormatan, jauh dapat diban-dingkan dengan penerimaan dan penyambutan seorang tamu agung sebuah negara dengan mengadakan jamuan kenegaraan yang besar. Jauh dari itu!
“Kekal mereka di dalamnya, tidaklah mereka ingin berpindah lagi."
(ayat 108)
Kekal di dalamya, itu sudahlah terang. Tetapi diberi ujung kata oleh Allah bahwa mereka tidak ingin berpindah lagi dari sana. Sebab itu tidaklah dapat nikmat surga Jan-natun Na'im yang kekal itu dipersamakan dengan nikmat yang kita terima di dunia kita ini, namun lama-lama dia akan membosankan. Walaupun seseorang kaya raya, berkuasa, gagah perkasa, tinggal di dalam sebuah istana megah cukup lengkap apa yang diperlukan dalam istana itu, namun satu waktu dia pasti merasa bosan karena yang dilihat di keliling diri hanya itu ke itu juga. Sehingga orang itu ingin sekali-sekali keluar dari dalam istana megah itu bahkan kadang-kadang dia pun ingin juga hendak merasakan bagaimana hidup petani di pondok atau barung-barung yang miskin. Atau seperti Bani Israil setelah dilepaskan dari cengkeraman Fir'aun di Mesir dan mengembara di Padang Tih empat puluh tahun, disediakan makanan Manna dan Salwa, namun mereka pun akhirnya bosan juga. Mereka ingin kembali makan sayur dan bawang putih, kacang dan bawang merah. Bahkan sudah di tempat yang merdeka, telah lepas dari penjajahan, mereka masih saja ingat banyaknya sayur-sayuran tatkala mereka di Mesir tempo dulu. Sehingga Nabi Musa mengatakan, “Baliklah ke Mesir! Di sana akan kamu dapati apa yang kamu inginkan itu." Tidaklah demikian halnya lagi apabila manusia beriman dan beramal saleh itu telah sampai di dalam surga. Di sanalah mereka mendapat ketetapan yang sejati, tidaklah mereka ingin berpindah lagi!
“Katakanlah, Jika adalah tautan itu laksana tinta bagi kalimat-kalimat Tuhanku".
(pangkal ayat 109)
Kita telah sama tahu bahwa bumi yang bulat ini hanyalah seperlima saja yang tanah daratan. Sedang empat per lima adalah lautan belaka. Lautan Atlantik, Lautan Teduh, Lautan Hindi atau Indonesia. Misalkanlah semua dijadikan tinta buat mencatatkan kalimat-kalimat Allah, ketentuan-ketentuan Ilahi, kud-rat dan iradat-Nya, yang berlaku di semua langit dan di bumi dan semua bintang dan di angkasa yang luas tak tentu di mana batas dan ujungnya. Letakkanlah air lautan itu semuanya dijadikan tinta buat pencatat kalimat-kalimat Allah itu, bahkan ditambah air sebanyak itu lagi, sebagaimana tersebut di dalam surah Luqmaan ayat 27.
“Niscaya akan keninglah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, dan walaupun kita datangkan lagi sebanyak itu bantuan."
(ujung ayat 109)
Amannaa bih! Kita percaya dengan sepenuhnya firman Allah itu. Alam yang begini luasnya, sehingga daerah mana yang dapat dikuasai oleh manusia ataupun oleh penyelidikannya? Masa begini panjang, baik yang telah dilalui ataupun masa yang akan datang, hanya berapa saat saja manusia melalui masa itu di dunia ini?
Baru sedikit daerah yang diketahui, tenaga manusia sudah habis. Umurnya pun habis. Sedang alam masih penuh dengan rahasia.
Bukanlah manusia dilarang tersebab ayat ini buat melanjutkan penyelidikan. Bahkan teruskanlah menyelidikinya, supaya sampai keyakinan atas benarnya ayat ini. Sebagaimana suatu syair yang terkenal dari Imam Syafi'i,
Tiap-tiap Allah menambain ilmuku.
Bertambah yakinlah aku, bahwa aku ini masih bodoh!
Itulah pula sebabnya maka Allah menjelaskan di ayat yang lain,
“Hanyalah orang-orang yang berpengetahuan saja, dari antara hamba Allah itu yang akan takut kepada Allah" (Faathir: 28)
Sebagaimana kebiasaannya, Ilahi Rabbi telah menutup surah al-Kahf ini dengan penu-tupan yang indah sekali.
“Katakanlah, “Tidak tain, aku ini hanyalah manusia seperti kamu."
(pangkal ayat 110)
Disuruh katakan hal yang seperti ini, bahwa beliau, Muhammad ﷺ adalah manusia seperti kamu, dan ini selalu di mana kesempatan yang baik diulang-ulangkan, ialah supaya manusia jangan merasa terlalu jauh dari Nabinya. Sampai ada yang takut kepada beliau, gemetar ketika berhadapan wajah dengan beliau, dari sebab wibawa dan kebesarannya, lalu beliau bujuk. Tak usah engkau takut kepadaku, aku hanya seorang manusia seperti engkau juga, ibuku pun memakan balur sebagai ibumu juga! Kelebihanku hanya dalam satu hal, yaitu, “Diwahyukan kepadaku," sedang kamu tidak mendapat wahyu. Dan diwajibkan pula kepadaku menyampaikan wahyu yang aku terima itu kepadamu sekalian. Inti wahyu itu hanyalah satu perkara jua, “Bahwa Tuhan kamu hanyalah Allah Yang Esa!"
Inilah laksana pangkal tempat memulai pelayaran, atau inilah laksana daratan yang dituju. Hanya pada satu perkara, tidak berbilang. Allah itu Maha Esa adanya, tidak ada bersekutu dengan yang lain, tidak dia beranak dan tidak dia diperanakkan. Segala pengajian, segala rasul dan nabi yang diutus, segala kitab yang diturunkan, satu perkara inilah inti ajaran yang diwahyukan kepada mereka dan ditebarkan kepada umat mereka dan kepada manusia seluruhnya, Allah!
Diyakinkan dalam hati, dibulatkan pikiran buat mencernakan kepercayaan itu, dikerahkan logika dan mantik, rasa periksa dan karsa untuk mencapai satu pegangan hidup: Allah Satu!
Setelah keyakinan itu tertanam, hidup yang akan jadi pakaian, mati yang akan dijadikan tumpangan, maka tumbuhkanlah harapan hendak membaktikan diri kepada-Nya. Tanamkanlah dalam hati satu keyakinan lagi, yaitu setelah menempuh hidup yang sekarang kita pun mati. Namun di sebalik kematian itu terdapatlah al-Hayatul-Baqiyah, atau hidup yang kekal. Dan kita percaya dalam kehidupan yang kekal itulah kelak kita akan berjumpa dengan Dia! Itulah yang disebut Liqaa'."Maka barangsiapayang berharap hendak pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amalan yang saleh."
Di sini terdapat kata-kata berharap, sebagai makna dari yarjuu. Asal kata ialah dari rajaa' atau harapan.
Harapan itulah yang menjadi sebab ada gairah kita untuk hidup. Sebab kita yakin, kita iman, kita percaya, tegasnya jiwa kita tidak kosong dari harapan. Bahwa apa yang kita amalkan itu tidaklah akan terbuang tersia-sia, laksana air jatuh ke pasir. Dia tercatat sisi Allah dan disediakan penghargaan. Tetapi
“Dan jangan dia mempersekutukan dalam menyembah Tuhannya dengan sesuatu pun."
(ujung ayat 110)
Kalau kita telah mengaku inti Sari dari wahyu ialah bahwa Allah itu Maha Esa dan berdiri sendirinya, adakah patut menurut akal yangsehatkita beramal dengan menduakannya atau mempersekutukan-Nya dengan lain?
Kalau kita telah mengaku bahwa hanya Satu Tuhan Pencipta Alam, yang disebut Tauhid Rububiyah, mengapa kita akan menyembah atau memuja atau berbakti yang selain dari Dia. Yaitu Tauhid Uluhiyah?
Dan coba renungkan, Siapa “yang lain" itu? Padahal yang lain ini semuanya hanya terjadi karena dijadikan-Nya. Dia berkata, “Kun!", maka semuanya pun terjadilah!
Surah al-Kahf ditutup dengan keyakinan hidup ini. Mengakui Muhammad sebagai ma-nusia, hamba Allah, dan utusannya, tetapi penunjuk jalan bagi kita, menuju kepada tujuan yang Satu, tujuan yang Tunggal, Yang Maha Esa, Allah!
Dengan aqidah begini barulah kita tahu nilai hidup.
Karena pengaruh semangat dan cahaya dari aqidah ini, tujuh pemuda dan delapan dengan anjingnya berani meninggalkan hidup mewah, menyisihkan diri ke dalam sebuan gua di gunung, sampai ditidurkan 309 tahun lamanya.
Didorongkan oleh semangat ini pula Musa mencari guru yang lebih pintar daripada dia. Dan dia berani mengembara huqubaa, entah berlarat-larat bertahun-tahun tidak akan berhenti, sebelum bertemu dengan yang dicari.
Dan didorongkan oleh keyakinan ini pula Dzulqarnain tidak mabuk karena kemenangan menaklukkan negeri, malahan berjanji akan berlaku adil sehingga terlukislah keadilannya itu dari zaman menempuh zaman.
Dan dengan keyakinan ini pula, Insya Allah, engkau sendiri hai Faqiir, akan menyebut segala percobaan Tuhanmu Yang Esa, sebagai ujian atas kasihmu kepada-Nya.
Selesai pada Hari Sabtu
6 Ramadhan 1384
9 Januari 1965
Dalam tahanan di Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun.
"Hell will be displayed before the Disbelievers on the Day of Resurrection
Allah says:
وَعَرَضْنَا جَهَنَّمَ يَوْمَيِذٍ لِّلْكَافِرِينَ عَرْضًا
And on that Day We shall present Hell to the disbelievers, plain to view.
Allah tells us what He will do to the disbelievers on the Day of Resurrection. He will show Hell to them, meaning He will bring it forth for them to see its punishment and torment before they enter it. This will intensify their distress and grief.
In Sahih Muslim it is recorded that Ibn Mas`ud said,
""The Messenger of Allah said,
يُوْتَى بِجَهَنَّمَ تُقَادُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِسَبْعِينَ أَلْفَ زِمَامٍ مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَك
Hell will be brought forth on the Day of Resurrection, pulled by means of seventy thousand reins, each of which will be held by seventy thousand angels.
Then Allah says of them
الَّذِينَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِي غِطَاء عَن ذِكْرِي
(To) those whose eyes had been under a covering from My Reminder,
meaning, they neglected it, turning a blind eye and a deaf ear to it, refusing to accept guidance and follow the truth.
As Allah says:
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَـنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَاناً فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
And whosoever turns away blindly from the remembrance of the Most Gracious, We appoint for him a Shaytan to be a companion for him. (43:36)
And here Allah says:
وَكَانُوا لَا يَسْتَطِيعُونَ سَمْعًا
and they could not bear to hear (it).
meaning, they did not understand the commands and prohibitions of Allah.
Then He says
أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِن دُونِي أَوْلِيَاء
Do then those who disbelieved think that they can take My servants as Awliya' (protectors) besides Me!
meaning, do they think that this is right for them and that it is going to benefit them!
كَلَّ سَيَكْفُرُونَ بِعِبَـدَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدّاً
Nay, but they will deny their worship of them, and become opponents to them. (19:82)
إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلاً
Verily, We have prepared Hell as an entertainment for the disbelievers.
Allah says that He has prepared Hell as their abode on the Day of Resurrection
The Greatest Losers in respect of (Their) Deeds
Al-Bukhari recorded from Amr that Mus`ab who said:
""I asked my father -- meaning Sa`d bin Abi Waqqas -- about Allah's saying,
قُلْ هَلْ نُنَبِّيُكُمْ بِالاَْخْسَرِينَ أَعْمَالاً
Say:""Shall We tell you the greatest losers in respect of (their) deeds!""
`Are they the Haruriyyah?'
He said, `No, they are the Jews and Christians.
As for the Jews, they disbelieved in Muhammad, and
as for the Christians, they disbelieved in Paradise and said that there is no food or drink there, and
the Haruriyyah are those who break Allah's covenant after ratifying it.'
Sa`d used to call them Al-Fasiqin (the corrupt).
Ali bin Abi Talib, Ad-Dahhak and others said:
""They are the Haruriyyah,""
so this means, that according to Ali, may Allah be pleased with him, this Ayah includes the Haruriyyah just as it includes the Jews, the Christians and others.
This does not mean that the Ayah was revealed concerning any of these groups in particular; it is more general than that, because the Ayah was revealed in Makkah, before the Qur'an addressed the Jews and Christians, and before the Khawarij existed at all.
So the Ayah is general and refers to everyone who worships Allah in a way that is not acceptable, thinking that he is right in doing that and that his deeds will be accepted, but he is mistaken and his deeds will be rejected, as Allah says:
وُجُوهٌ يَوْمَيِذٍ خَـشِعَةٌ
عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ
تَصْلَى نَاراً حَامِيَةً
Some faces, that Day will be humiliated. Laboring, weary. They will enter in the hot blazing Fire. (88:2-4)
وَقَدِمْنَأ إِلَى مَا عَمِلُواْ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَأءً مَّنثُوراً
And We shall turn to whatever deeds they did, and We shall make such deeds as scattered floating particles of dust. (25:23)
وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَعْمَـلُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْأنُ مَأءً حَتَّى إِذَا جَأءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْياً
As for those who disbelieved, their deeds are like a mirage in a desert. The thirsty one thinks it to be water, until he comes up to it, he finds it to be nothing. (24:39)
And in this Ayah Allah says:
قُلْ هَلْ نُنَبِّيُكُمْ
Say:""Shall We tell you...""
meaning, `Shall We inform you;'
بِالاْاَخْسَرِينَ أَعْمَالاًا
the greatest losers in respect of (their) deeds.
Then Allah explains who they are, and says
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
Those whose efforts have been wasted in this life,
meaning, they did deeds that do not count, deeds that are not in accordance with the prescribed way that is acceptable to Allah.
وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
while they thought that they were acquiring good by their deeds.
means, they thought that there was some basis for their deeds and that they were accepted and loved
أُولَيِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَايِهِ
They are those who deny the Ayat of their Lord and the meeting with Him.
they denied the signs of Allah in this world, the proofs that He has established of His Oneness and of the truth of His Messengers, and they denied the Hereafter.
فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ
So their works are in vain,
فَلَ نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
and on the Day of Resurrection, We shall assign no weight for them.
means, `We will not make their Balance heavy because it is empty of any goodness.'
Al-Bukhari recorded that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said:
إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ وَقَالَ اقْرَءُوا إِنْ شِيْتُمْ
فَلَ نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
A huge fat man will come forward on the Day of Resurrection and he will weigh no more than the wing of a gnat to Allah. Recite, if you wish:
and on the Day of Resurrection, We shall assign no weight for them.
It was also recorded by Muslim
ذَلِكَ جَزَاوُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا
That shall be their recompense, Hell; because they disbelieved,
means, `We will punish them with that because of their disbelief and because they took the signs and Messengers of Allah as a joke, mocking them and disbelieving them in the worst way.'
وَاتَّخَذُوا ايَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا
and took My Ayat and My Messengers for jest.
The Reward of the Righteous Believers
Allah says:
إِنَّ الَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلاً
""Verily, those who believe and do righteous deeds, shall have the Gardens of Al-Firdaws for their entertainment.""
Allah tells us about His blessed servants, those who believed in Allah and His Messengers and accepted as truth what the Messengers brought.
He tells us that they will have the Gardens of Al-Firdaws (Paradise).
Abu Umamah said,
""Al-Firdaws is the center of Paradise.""
Qatadah said,
""Al-Firdaws is a hill in Paradise, at its center, the best of it.""
This was also narrated from Samurah and attributed to the Prophet,
الْفِرْدَوْسُ رَبْوَةُ الْجَنَّةِ أَوْسَطُهَا وَأَحْسَنُهَا
Al-Firdaws is a hill in Paradise, at its center, the best of it.
A similar report was narrated from Qatadah from Anas bin Malik, and attributed to the Prophet.
All of the preceding reports were narrated by Ibn Jarir, may Allah have mercy on him.
The following is in the Sahih,
إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَأَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّة
If you ask Allah for Paradise, then ask Him for Al-Firdaws, for it is the highest part of Paradise, in the middle of Paradise, and from it spring the rivers of Paradise.
نُزُلاً
(entertainment),
means offered to them as hospitality
خَالِدِينَ فِيهَا
Wherein they shall dwell (forever).
means, they will stay there and never leave.
لَاا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلاًا
No desire will they have for removal therefrom.
means, they will never choose or want anything else.
This Ayah tells us how much they love and desire it, even though one might imagine that a person who is to stay in one place forever would get tired and bored of it. But Allah tells us that despite this eternal stay, they will never choose to change or move from where they are.
The Words of the Lord can never be finished
Allah says:
قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِيْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Say:""If the sea were ink for the Words of my Lord, surely, the sea would be exhausted before the Words of my Lord would be finished, even if We brought like it for its aid.""
Allah says:`Say, O Muhammad, if the water of the sea were ink for a pen to write down the words, wisdom and signs of Allah, the sea would run dry before it all could be written down.
وَلَوْ جِيْنَا بِمِثْلِهِ
even if We brought like it.
means, another sea, then another, and so on, additional seas to be used for writing. The Words of Allah would still never run out.
As Allah says:
وَلَوْ أَنَّمَا فِى الاٌّرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَمٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَـتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
And if all the trees on the earth were pens and the sea (were ink), with seven seas behind it to increase it, yet the Words of Allah would not be exhausted. Verily, Allah is All-Mighty, All-Wise. (31:27)
Ar-Rabi` bin Anas said,
""The parable of the knowledge of all of mankind, in comparison to the knowledge of Allah, is that of a drop of water in comparison to all of the oceans.""
Allah revealed that:
قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي
Say:""If the sea were ink for the Words of my Lord, surely, the sea would be exhausted before the Words of my Lord would be finished,
Allah says that even if those oceans were ink for the Words of Allah, and all the trees were pens, the pens would be broken and the water of the sea would run dry, and the Words of Allah would remain, for nothing can outlast them. For no one can comprehend the greatness of Allah or praise Him as He deserves to be praised, except the One Who praises Himself.
Our Lord is as He says He is and He is beyond what we can say.
The blessings of this world, the beginning and end of it, in comparison to the blessings of the Hereafter, are like a mustard seed compared to the entire world.
Muhammad is a Human Being and a Messenger, and the God is One
Allah says to His Messenger Muhammad,
قُلْ
Say,
to these idolators who reject your message to them,
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ
I am only a man like you.
Whoever claims that I am lying, let him bring something like this that I have brought. For I did not know the Unseen, the matters of the past which you asked me about and I told you about, the story of the people of the Cave and of Dhul-Qarnayn, stories which are true -- I did not know any of this except for what Allah made known to me. And I tell you,
يُوحَى إِلَيَّ
It has been revealed to me,
أَنَّمَا إِلَهُكُمْ
.
that your God,
Who calls you to worship Him,
..
إِلَهٌ وَاحِدٌ
is One God,
with no partner or associate.
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ
So whoever hopes for the meeting with his Lord,
i.e., hopes for a good reward and recompense,
فَلْيَعْمَلْ عَمَلً صَالِحًا
let him work righteousness,
meaning, in accordance with the prescribed laws of Allah,
وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
and associate none as a partner in the worship of his Lord.
This is what is meant by seeking the pleasure of Allah alone with no associate or partner. These are the two basic features of acceptable deeds:their intent is for the sake of Allah alone, and are done in accordance with the way of the Messenger of Allah.
Imam Ahmad recorded that Mahmud bin Labid said that the Messenger of Allah said:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافَ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الاَْصْغَر
What I fear the most for you is the small Shirk.""
They said:What is the small Shirk, O Messenger of Allah!""
He said,
الرِّيَاءُ
يَقُولُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَزَىَ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً
Showing off (Ar-Riya').
Allah will say on the Day of Resurrection, when the people are rewarded or punished for their deeds, ""Go to the one for whom you were showing off in the world and see if you will find any reward with him.""
Imam Ahmad recorded that Abu Sa`id bin Abi Fadalah Al-Ansari, who was one of the Companions, said:
""I heard the Messenger of Allah say,
إِذَا جَمَعَ اللهُ الاَْوَّلِينَ وَالاْخِرِينَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ نَادَى مُنَادٍ مَنْ كَانَ أَشْرَكَ فِي عَمَلٍ عَمِلَهُ للهِ أَحَدًا فَلْيَطْلُبْ ثَوَابَهُ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْك
Allah will gather the first and the last on the Day of Resurrection, the Day concerning which there is no doubt. A voice will call out, ""Whoever used to associate anyone with Allah in the deeds which he did, let him seek his reward from someone other than Allah, for Allah is the least in need of any partner or associate.
It was also recorded by At-Tirmidhi and Ibn Majah.
This is the end of the Tafsir of Surah Al-Kahf. Praise be to Allah, the Lord of all that exists."
Say: 'I am only a human being, a son of Adam, like you; it has been revealed to me that your God is only One God (annamaa, the anna assimilated with the maa retains [its function of referring to] the verbal noun), in other words, the Oneness of the Divine is [what is being] revealed to me. So whoever hopes to encounter his Lord, through the Resurrection and the Requital, let him do righteous work and not associate with the worship of his Lord, that is to say, [let him not commit idolatry] in [performing] it by feigning [faith] before, anyone'.
Commentary
The cause of the revelation of the last verse of Surah al-Kahf: وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (and must not associate anyone in the worship of his Lord - 110), as mentioned in Hadith reports, shows that shirk at this place means hidden shirk, that is, hypocrisy (رِیَاء : riy' ).
One such narration from Sayyidna ` Abdullah ibn ` Abbas ؓ has been reported by Imam Hakim in al-Mustadrak as being sound on the criterion set forth by the two authorities, al-Bukhari and Muslim. According to the narration, one of the Muslims used to carry out Jihad in the way of Allah. Side by side, he wished that his soldiering and bravery in the cause be recognized and appreciated by the people. This verse was revealed about him (which tells us that one gets no thawab (reward) by having such an intention in Jihad).
In Kitabul-Ikhlas, Ibn Abi Hatim and Ibn Abi al-Dunya have reported from Tawus that a Sahabi stated before the Holy Prophet ﷺ : 'There are occasions when I am ready to worship, or to do some righteous deed, my aim thereby is nothing but the pleasure of Allah. But, along with it, I do have the wish that people would see me doing it.' Hearing this, he observed silence until the cited verse was revealed.
And in Abu Nu'aym and in the history of Ibn ` Asakir, it appears on the authority of Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ that whenever the Sahabi, Sayyidna Jundub ibn Zuhayr ؓ prayed, fasted or gave in charity and then ﷺ people admiring him for doing those deeds, he felt pleased about it and would then increase the frequency of those deeds. There-upon, this verse was revealed.
The gist of narrations given above is that the shirk prohibited in this verse is the hidden shirk of showing off (riya' ). And that a deed may though be for Allah alone but, along with it, should it become associated with some selfish motive of name, fame and recognition, then, this too will be a kind of hidden shirk, something that makes one's deed go waste, even harmful.
However, there are some other Sahih Ahadith which apparently seem to indicate otherwise. For example, Tirmidhi reports from Sayyidna Abu Hurairah ؓ that he submitted before the Holy Prophet ﷺ : 'There are times when I am on my prayer mat inside my house (making Salah) and, all of a sudden, there comes someone. I like it that he ﷺ me in that state. (Would that be riya'?) ' The Holy Prophet ﷺ said, '0 Abu Hurairah, may Allah have mercy on you. Then you get two rewards, one for the deed you were already doing in secret, and the other for what you did openly after the coming of that person. (This is no riya' ).'
And according to a narration of Sayyidna Abu Dharr al-Ghifari appearing in the Sahih of Muslim, the Holy Prophet ﷺ was asked, 'What do you say about a person who does some good deed, then hears people praising it?' The Holy Prophet ﷺ said, تِلکَ عَاجِلُ بُشرَی المُؤمِنِ : "This is instant good news for the believer." (that his deed was accepted with Allah and He had his servants praise it).
The apparent difference in these two kinds of narrations has been resolved and brought in agreement in Tafsir Mazhari. It says that the first kind of narrations about the cause of the revelation of the verse apply to a particular situation. This is when one associates his intention to please people or to earn a good name for himself along with the intention of seeking the pleasure of Allah through his deed to the extent that he further increases the frequency of that deed on being praised by people for it. This is, no doubt, hypocrisy (riya' ) and hidden shirk.
And the latter narrations, those from Tirmidhi and Muslim, concern another situation. This is when one has acted for the pleasure of Allah alone without any inclination of receiving publicity or praise for it and then Allah Ta’ ala, in His grace, gives him fame by making people praise him. If so, it has nothing to do with riya' (showing off). In fact, this is spontaneous good news for the believer (that his deed has found acceptance with Allah).
Riya' and its Evil Consequences: Stern Warnings of Hadith
Sayyidna Mahmud ibn Labid ؓ reports that the Holy Prophet ﷺ said, 'What I fear most about you is minor shirk.' The Sahabah ؓ asked: Ya Rasulallah, what is minor shirk?' He said, 'Riya" (to do something only to show people). (Reported by Ahmad in his Musnad)
After having reported this Hadith in Shu` ab-al-'Iman, Al-Baihaqi has also reported the remarks: 'On the day of Qiyamah, when Allah Ta’ ala will reward His servants for their deeds, He will ask the practitioners of riya' to go for their rewards to those they wanted to impress with their deeds and find out whether or not they have any for them.'
Sayyidna Abu Hurairah ؓ reports that the Holy Prophet ﷺ said, "Allah Ta` ala says 'I am free and above from associating with those associated with Me. Whoever does a good deed and then associates in it someone else with Me, then, I leave the entire deed for the one associated.' And, according to another narration, 'I withdraw from that deed making it exclusive for the person associated with me.' (Narrated by Muslim)
And Sayyidna ` Abdullah ibn ` Umar ؓ reports that he heard the Holy Prophet ﷺ saying, 'Whoever does a good deed to earn a fair name among people, then, Allah Ta’ ala too deals with him in a manner that he is disgraced before them.' (Narrated by Ahmad in Shu` ab-al-'Imn - from Tafsir Mazhari)
It appears in Tafsir al-Qurtubi that Sayyidna Hasan al-Basri (رح) was asked about ikhlas (unalloyed sincerity) and riya' (showing off). He said: Ikhlas requires that your good deeds remaining hidden should be what you like and the bad deeds remaining hidden should be what you do not like. After that, if Allah Ta’ ala discloses your deeds before the people, you should say, 'Ya Allah, all this is Your grace and favour, not the outcome of my deed and effort.'
And Tirmidhi reports from Sayyidna Abu Bakr ؓ that the Holy Prophet ﷺ once mentioned shirk by saying: ھُوَ فِیکُم اَخفٰی مِن دبِیبِ النَّمل (It is right there in you more stealthily than the soundless movement of an ant). Then, he added, 'I tell you something which, if you do, you will remain safe against all sorts of shirk, major or minor (riya' ). Make this prayer (dua three times every day:
اَللّٰھُمَّ اِنِّی اَعُوذُبِکِ اَن اُشرِکَ بِکَ وَ اَنَا اَعلَمُ وَاَستغفِرُکَ لِمَا لَا اَعلَمُ
0' Allah, I seek refuge with You lest I associate a partner with You while I know and I seek forgiveness from You for what I do not know.
Some Merits and Properties of Surah al-Kahf
Sayyidna Abu a1-Darda' ؓ reports that the Holy Prophet ﷺ said, "Whoever remembers to recite the first ten verses of Surah al-Kahf will remain safe against the fitnah (upheaval, trial) caused by Dajjal (anti-Christ). (Reported by Muslim, Ahmad, Abu Dawud and al-Nasa'i)
And Imam Ahmad, Muslim and al-Nasa'i have reported within this narration from Sayyidna Abu al-Darda' words to the effect that 'whoever remembers to recite the last ten verses of Surah al-Kahf will remain safe against the fitnah of Dajjal.'
And according to a narration of Sayyidna Anas ؓ ، the Holy Prophet ﷺ said, "Whoever recites the initial and the concluding verses of Surah al-Kahf will have light for him, from his feet up to his head. And whoever recites this Surah in full will have light for him, from the ground up to the sky." (Reported by Ibn al-Sunni, and Ahmad in his Musnad)
And as narrated by Sayyidna Abu Said ؓ ، the Holy Prophet ﷺ said, "Whoever recites Surah al-Kahf in full on the day of Jumu'ah will have light for him until the next Jumu'ah. (Reported and declared as Sahih by al-Hakim and al-Baihaqi in al-Da` awat - from Mazhari)
To Sayyidna ` Abdullah ibn ` Abbas ؓ someone said, 'I resolve in my heart to wake up in the later part of night and make Salah but sleep overtakes me.' Sayyidna ` Abdullah ibn ` Abbas ؓ said to him, 'recite the last verses of Surah al-Kahf - from: قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا (109) to the end of the Surah (110) - before you sleep. Then, the time you intend to wake up will be the time when Allah Ta’ a1a will wake you up.' (Reported by ath-Tha` alibi)
And according to the Musnad of al-Darimi, Zirr ibn Hubaish told ` Abdah, 'Anyone who sleeps after having recited these last verses will wake up at the time he or she intends to.' And ` Abdah says, 'we have tried this repeatedly. It happens just like that.'
An important word of advice
Ibn al-` Arabi quotes his Shaikh, Turtushi: 'Let not the hours of your dear life pass away confronting contemporaries and socializing with friends. Watch out! Allah Ta’ ala has concluded His statement on the following verse:
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
So the one who hopes to meet his Lord must do righteous deed
and must not associate anyone in the worship of his Lord - 110 (Al-Qurtubi)
Alhamdulillah
The Commentary on
Surah al-Kahf
End here.