ٱلْإِسْرَاء ٩٨
- ذَٰلِكَ demikian itu
- جَزَآؤُهُم balasan mereka
- بِأَنَّهُمۡ karena sesungguhnya mereka
- كَفَرُواْ kafir/ingkar
- بِـَٔايَٰتِنَا dengan ayat-ayat kami
- وَقَالُوٓاْ dan mereka berkata
- أَءِذَا apakah bila
- كُنَّا adalah kami
- عِظَٰمٗا tulang-belulang
- وَرُفَٰتًا dan benda-benda yang hancur
- أَءِنَّا apakah sesungguhnya kami
- لَمَبۡعُوثُونَ pasti dibangkitkan
- خَلۡقٗا makhluk
- جَدِيدًا baru
Itulah balasan bagi mereka, karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata, "Apabila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?"
(Itulah balasan bagi mereka karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan karena mereka berkata) seraya ingkar terhadap adanya hari berbangkit ("Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?").
Tafsir Surat Al-Isra: 98-99
Itulah balasan bagi mereka, karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata, "Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?”
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Orang-orang yang zalim itu tidak menginginkan kecuali kekafiran.
Ayat 98
Allah ﷻ menyebutkan bahwa Kami bangkitkan mereka dalam keadaan buta, tuli, dan bisu sebagai pembalasan Kami terhadap mereka yang berhak menerimanya, karena mereka mendustakan “ayat-ayat Kami” (Al-Isra: 98), yaitu bukti-bukti dan hujah-hujah (argumentasi) Kami, serta mereka tidak percaya dengan adanya hari berbangkit
“Dan (karena mereka) berkata, ‘Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur’.” (Al-Isra: 98)
Yakni tulang belulang yang telah hancur luluh menjadi debu.
"Apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?” (Al-Isra: 98)
Maksudnya, apakah sesudah diri kami menjadi tulang-belulang yang telah hancur dan rapuh serta menyatu dengan tanah, lalu kami akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?
Maka Allah membantah ucapan mereka dengan mengingatkan mereka akan kekuasaan-Nya yang mampu melakukan hal itu, bahwa Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi. Kekuasaan-Nya untuk mengembalikan mereka menjadi hidup kembali jauh lebih mudah daripada menciptakan langit dan bumi, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih dahsyat daripada penciptaan manusia.” (Al-Mumin: 57)
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati?” (Al-Ahqaf: 33), hingga akhir ayat.
“Dan bukankah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Ya benar, Dia berkuasa. Dan Dia Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka terjadilah ia.” (Yasin: 81-82)
Ayat 99
Dan dalam surat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka.” (Al-Isra: 99)
Yakni pada hari kiamat nanti, Dia mampu mengembalikan tubuh mereka secara utuh dan menciptakan mereka dengan ciptaan yang baru sebagaimana permulaan Dia menciptakan mereka.
Firman Allah ﷻ: “Dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya?” (Al-Isra: 99)
Artinya, Allah telah menetapkan bagi kebangkitan mereka dari kuburnya masing-masing waktu yang ditentukan-Nya, dan pasti akan terjadi. Sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain: “Dan Kami hanya mengundurkannya sampai waktu yang tertentu saja.” (Hud: 104)
Firman Allah ﷻ: “Orang-orang yang zalim itu tidak menginginkan.” (Al-Isra: 99)
Yakni sesudah tegaknya hujah (alasan) atas diri mereka.
“Kecuali kekafiran.” (Al-Isra: 99)
Maksudnya, kecuali makin bertambah tenggelam ke dalam kebatilan dan kesesatan mereka.
Itulah neraka Jahanam balasan bagi mereka, disebabkan karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami, baik ayat-ayat yang diturunkan melalui wahyu, yakni Kitab Suci, maupun ayat-ayat yang terhampar di alam raya dan karena mereka menolak hari kebangkitan dengan
berkata, Apabila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang
hancur, bagaikan debu yang beterbangan apakah kami benar-benar akan
dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru'Allah menjawab pertanyaan mereka dengan menyatakan, Dan apakah mereka tidak memperhatikan, melihat dengan mata hatinya, bahwa
Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan segala keharmonisan
dan ketelitian sistemnya adalah Mahakuasa pula menciptakan yang serupa
dengan mereka, tidak sulit bagi Allah menjadikan kulit dan tulang belulang yang hancur menjadi makhluk yang baru, dan Dia telah menetapkan
waktu tertentu, yakni waktu kematian dan kebangkitan bagi mereka, yang
tidak diragukan lagi, walau sedikit pun kedatangannya' Maka orang zalim itu, yaitu orang-orang yang tidak percaya kepada ayat-ayat Kami
dan menolak hari kebangkitan, mereka tidak menolaknya kecuali dengan
kekafiran, meskipun telah jelas bukti-bukti dipaparkan kepada mereka.
Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang kafir itu diazab karena mengingkari ayat-ayat Allah dan hari kebangkitan dengan mengatakan, "Apakah mungkin kita dibangkitkan kembali, setelah kita mati, tubuh kita sudah hancur dan lumat bersama tanah, kemudian tulang-belulang kita berserakan menjadi bahagian yang terpisah-pisah. Apakah bagian-bagian tubuh itu dapat dikumpulkan dan dihidupkan kembali, sehingga kita menjadi makhluk hidup yang baru?".
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
MANUSIA DIRASULKAN KEPADA MANUSIA
“Dan tidak ada yang menghalangi manusia buat beriman, tatkala datang kepada mereka petunjuk, melainkan perkataan mereka, “Apakah Allah telah mengutus seorang manusia menjadi rasul."
(ayat 94)
Inilah lanjutan corak kekafiran mereka. Mereka tidak mau memerhatikan isi petunjuk yang dibawa rasul; benarkah petunjuk Allah itu atau salah. Berfaedahkah bagi diri mereka atau berbahaya. Tidak itu yang mereka perhatikan. Tetapi yang jadi keberatan mereka ialah: Mengapa yang dijadikan rasul itu manusia? Mengapa tidak malaikat?
Hanya manusia seperti mereka juga, bahkan tidak ada kelebihannya dari mereka. Tidak sanggup menciptakan mata air di padang pasir, tidak sanggup menciptakan kebun dengan airnya yang mengalir deras, tidak sanggup menciptakan rumah tempat tinggalnya sendiri dari emas, dan tidak pula sanggup menghadirkan Allah dan malaikat-malaikat di hadapan mereka untuk mereka lihat bermuka-muka. Sebab itu mereka tidak mau beriman. Hati sanubari mereka tidak terbuka buat menerima kebenaran. Rasul itu bukan malaikat, mereka tidak mau percaya. Lalu, Rasulullah ﷺ disuruh lagi memberi keterangan,
“Katakanlah, “Jikalau adalah di bumi ini malaikat berjalan-jalan dengan keadaan tenteram."
(pangkal ayat 95)
sebab mereka telah menggantikan tempat manusia di muka bumi dan setelah bumi ini yang menjadi tempat tinggal tetapnya,
“Niscaya Kami tmunkan kepada meieka seoiang malaikat dari langit sebagai rasul."
(ujung ayat 95)
Tetapi karena penghuni bumi ini masih manusia, niscaya manusia pulalah Rasul Allah kepada mereka. Dan sebagai orang yang pada dasarnya tidak mau percaya, tentu jika misalnya dikabulkan kehendak mereka, dikirim rasul dari malaikat, akan mereka sanggah juga. Sebab kehidupan malaikat yang tidak laki-laki dan tidak perempuan. Tentu mereka akan menyanggah pula, “Mengapa diutus makhluk yang tak dapat kami teladari?" Lantaran itu disuruhlah Nabi ﷺ menjelaskan.
Katakanlah,
“Cukuplah Allah menjadi saksi di antaraku dan di antara kamu, sesungguhnya adalah Dia terhadap hamba-Nya Maha Mengetahui, Maha Melihat."
(ayat 96)
Tegasnya kamu suka percaya atau tidak, namun aku tetap Rasul Allah. Risalah yang aku bawa adalah jelas dan pendirian kamu terhadap apa yang aku bawa itu sudah jelas pula. Di antara seruanku dengan sikap kamu sudah tidak dapat dipertemukan. Sekarang biarlah aku serahkan kepada Allah jadi saksi atas pertentangan aku dan kamu. Di dalam ayat ini Nabi ﷺ tidak memakai “di antara kita kedua belah pihak", melainkan di antara aku dengan kamu! Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat, siapa di antara aku dan kamu yang benar. Supaya lebih tegas bahwa memang pendirian berbeda. Kemudian itu diteruskan dengan ayat selanjutnya.
“Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah orang yang terpimpin. Dan barangsiapayang disesatkan-Nya, maka tidaklah ada bagi mereka pelindung-pelindung selain Dia."
(pangkal ayat 97)
Orang yang terpimpin ialah dipimpin oleh Allah. Diberi petunjuk menurut garis jalan yang telah teratur; ada rasul dan Al-Qur'an, jelas yang makruf, jelas pula yang mungkar. Tetapi orang-orang yang sesat karena salah memilih jalan, mereka akan bertemu jalan buntu; jalan tak ada ujung. Yang akan melindungi mereka pun tak ada. Pelindung satu-satunya hanya Allah, padahal Allah mereka belakangi. Lantas bagaimana akhirnya mereka? Allah lanjutkan, “Dan akan Kami kumpulkan mereka di hari Kiamat, diseret atas muka mereka." Artinya bukan kaki mereka yang berjejak di tanah, melainkan muka merekalah yang disulingkan lagi ke bawah, ditunggangbalikkan. Sebab selama hidup di dunia mereka pun menunggangbalikkan kebenaran jua. Seperti ditafsirkan oleh al-Qasyani, “Muka mereka yang ditekan ke tanah karena selama hidup dahulu perhatian mereka pun hanya kepada yang rendah dan hina." “Dalam keadaan buta, bisu, dan tuli." Mereka dijadikan buta karena di dunia mereka pun tidak mau mempergunakan mata untuk melihat kebenaran. Mereka jadi bisu, mulut terkunci, karena mulut itu selama di dunia tertutup tidak mau mengakui kebenaran, dan mereka menjadi tuli karena di dunia mereka tulikan telinga mereka, tidak mau mendengar seruan rasul."Tempat tinggal mereka ialah jahannam." Ke sanalah akibat kesudahan yang akan mereka tempuh. Karena ke jalan sana mereka menuju sejak hidup, sebab ingkar tidak mau diajak menuju jalan yang benar buat sampai ke surga.
“Tiap-tiap dia hendak padam, Kami tambah nyatanya."
(ujung ayat 97)
Ikhwal api neraka yang hampir padam ditambah nyalanya kembali ialah agar orang-orang yang tidak percaya itu mengerti bahwa bila api neraka itu telah hampir padam sesudah membakar kulit mereka, api itu dinyalakan kembali dan kulit mereka yang telah hangus diganti lagi dengan kulit yang baru, agar terus-menerus diadzab. Demikianlah menurut yang ditafsirkan oleh az-Zamakhsyari. Itulah sebabnya maka datang ayat 98 menjelaskan lagi sebab-sebab adzab siksaan begitu ngeri. Demikian itulah ganjaian meieka, lantaian meieka tidak peicaya kepada ayat-ayat Kami. Dan meieka beikata, Apakah setelah kita jadi tulang dan napuh kita akan dibangkitkan pula sebagai kejadian yang baru?
(ayat 98)
Kita akan dihidupkan kembali? Kita akan bernyawa pula sekali lagi? Padahal daging telah habis kembali jadi tanah, dan yang tinggal hanya tulang yang telah rapuh dan mumuk? Itulah yang akan dihidupkan? Tidak mungkin!
“Tidakkah mereka peihatikan bahwa Allah yang telah menjadikan semua langit dan bumi itu, beikuasa pula menciptakanyang sepeiti mereka?"
(pangkal ayat 99)
Di pangkal ayat 99 ini diajaklah mereka berpikir dan merenungkan serta membanding-banding. Sebab mereka adalah manusia yang diberi Allah akal buat berpikir. Tengoklah langit yang begitu luas dan besar, berlapis-lapis dengan bintang-bintangnya, dan tengok pula bumi tempat mereka hidup ini; alangkah besar luasnya semuanya itu! Kalau ditanyai, mereka mengaku bahwa semuanya itu Allah yang menciptakannya. Bandingkanlah semuanya Alam Malakut dengan manusia ini, yang disebut Alam Nasut, yang sangat kecil tak ada artinya. (Lihat surah al-Insaan ayat 1)."Dan menjadikan bagi mereka ajal yang tidak ada keraguan padanya." Dalam Allah menciptakan seluruh langit dan bumi itu ada peraturannya sendiri sehingga ada bintangyang mengelilingi matahari sehari semalam, yaitu bumi. Dan ada yang lima tahun sekali baru muncul dan ada pula yang beratus tahun, dan ada yang hanya tinggal bayangannya saja yang baru sampai ke bumi sedang bintangnya sudah berjuta tahun meninggalkan tempat itu. Semuanya itu adalah ajal, atau janji, atau aturan yang telah tentu. Kalau demikian dengan alam luas, apalah sukarnya bagi Yang Mahakuasa itu menjadikan manusia, lalu hidup dan kemudian dia pun mati dan kemudian dihidupkan lagi dalam alam lain, yang bernama alam akhirat? Kalau kamu pikirkan itu, niscaya kamu akan insaf dan sadar akan kecilnya insan dibanding dengan kekuasaan Ilahi.
“Tetapi enggan jualah orang-orang yang Zalim itu tidak mau percaya melainkan kufur."
(ujung ayat 99)
Tetapi apalah hendak dikata. Disuruh mempergunakan pikiran mereka tidak mau. Mereka lebih suka yang gelap daripada yang terang. Sebab itu kita kembali kepada ancaman Allah di ayat 97 bahwa yang mereka terima itu adalah akibat dari kesalahan mereka sendiri.
Malta tersebutlah dalam ayat yang selanjutnya,
“Katakanlah, ‘jikalau kamu memiliki peibendahaiaan lahmat Tuhanku."
(pangkal ayat 100)
Jikalau kamu misalnya diberi kekayaan oleh Allah, penuh perbendaharaan dan simpanan dan penaruhan kamu dengan emas perak sebagai rahmat dari Ilahi."Seketika itu niscaya kamu akan menahannya karena takut akan habis dibelanjakan." Ini adalah salah satu penyakit yang timbul dari kekufuran jua. Diterima rahmat Allah, tetapi ditelan sendiri, takut akan membagikan pula kepada orang lain.
Sebab itu penutup ayat benbunyi,
“Dan adalah manusia itu bakhil?
(ujung ayat 100)
Ini adalah naluri (insting) manusia. Untuk mengobatinya hanyalah satu, yaitu iman kepada Allah dan cinta kepada sesama manusia. Dan orang yang bakhil dengan tidak sadar telah tumbuh dalam dadanya sendiri satu berih dari syirik; mempersekutukan Allah. Oleh karena cintanya kepada harta yang dirahmatkan Allah, dia pun lalai dan lengah dan lupa kepada Allah yang memberikan rahmat.
"
Guidance and Misguidance are in the Hands of Allah
Allah tells:
وَمَن يَهْدِ اللّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ
And he whom Allah guides, he is led aright;
Allah tells us how He deals with His creation and how His rulings are carried out. He tells us that there is none who can put back His judgement, for whomever He guides cannot be led astray,
وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُمْ أَوْلِيَاء مِن دُونِهِ
and whomever He leaves astray can never find helpers other than Him.
to guide him.
As Allah says:
مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
He whom Allah guides, he is the rightly-guided; but he whom He sends astray, for him you will find no Wali (guiding friend) to lead him. (18:17)
The Punishment of the People of Misguidance
Allah tells:
وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى وُجُوهِهِمْ
and We shall gather them together on the Day of Resurrection on their faces,
Imam Ahmad recorded from Anas bin Malik that the Prophet was asked,
""O Messenger of Allah, how will the people be gathered on their faces!"" He said,
الَّذِي أَمْشَاهُمْ عَلَى أَرْجُلِهِمْ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُمْ عَلَى وُجُوهِهِم
The One Who made them walk on their feet is able to make them walk on their faces.
It was also reported (by Al-Bukhari and Muslim) in the Two Sahihs.
عُمْيًا
blind, (means, unable to see).
وَبُكْمًا
dumb, (means, unable to speak).
وَصُمًّا
deaf, (means, unable to hear).
They will be in this state as a punishment for the way they were in this world, blind, dumb and deaf to the truth. This will be their recompense when they are gathered on the Day of Resurrection, at the time when they need these faculties most of all.
مَّأْوَاهُمْ
their abode,
means, their destination.
جَهَنَّمُ كُلَّمَا خَبَتْ
will be Hell; whenever it abates,
Ibn Abbas said,
""(This means) calms down,""
Mujahid said,
""(It means) is extinguished,""
زِدْنَاهُمْ سَعِيرًا
We shall increase for them the fierceness of the Fire.
meaning, increasing its flames and heat and coals, as Allah says:
فَذُوقُواْ فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلاَّ عَذَاباً
So taste you (the results of your evil actions). No increase shall We give you, except in torment. (78:30)
Allah says:
ذَلِكَ جَزَاوُهُم بِأَنَّهُمْ كَفَرُواْ بِأيَاتِنَا
That is their recompense, because they denied Our Ayat,
Allah says:`This punishment, being resurrected blind, dumb and deaf, is what they deserve, because they disbelieved,
بِأيَاتِنَا
(Our Ayat), i.e., Our proof and evidence, and did not think that the resurrection could ever happen.'
وَقَالُواْ أَيِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا
and said:""When we are bones and fragments...""
meaning, when we have disintegrated and our bodies have rotted away,
أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا
shall we really be raised up as a new creation!
meaning, after we have disintegrated and disappeared and been absorbed into the earth, will we come back a second time Allah established proof against them and told them that He is able to do that, for He created the heavens and the earth, so raising them up again is easier for Him than that, as He says:
لَخَلْقُ السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ أَكْـبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ
The creation of the heavens and the earth is indeed greater than the creation of mankind; (40:57)
أَوَلَمْ يَرَوْاْ أَنَّ اللَّهَ الَّذِى خَلَقَ السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ وَلَمْ يَعْىَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَى أَن يُحْىِ الْمَوْتَى
Do they not see that Allah, Who created the heavens and the earth, and was not wearied by their creation, is able to give life to the dead. (46:33)
أَوَلَـيْسَ الَذِى خَلَقَ السَّمَـوتِ وَالاٌّرْضَ بِقَـدِرٍ عَلَى أَن يَخْلُقَ مِثْلَهُم بَلَى وَهُوَ الْخَلَّـقُ الْعَلِيمُ
نَّمَأ أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْياً أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ
Is not He Who created the heavens and the earth, able to create the like of them.
Yes, indeed! He is the All-Knowing Supreme Creator. Verily, His command, when He intends a thing, is only that He says to it, ""Be!"" and it is! (36:81-82)
And Allah says here
أَوَلَمْ يَرَوْاْ أَنَّ اللّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالَارْضَ قَادِرٌ عَلَى أَن يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ
See they not that Allah, Who created the heavens and the earth, is able to create the like of them.
meaning, on the Day of Resurrection, He will recreate and restore their bodies, as He created them in the first place.
وَجَعَلَ لَهُمْ أَجَلً لاَّ رَيْبَ فِيهِ
And He has decreed for them an appointed term, whereof there is no doubt.
means, He has set a time for them to be re-created and brought forth from their graves, an appointed time which must surely come to pass.
As Allah says:
وَمَا نُوَخِّرُهُ إِلاَّ لاًّجَلٍ مَّعْدُودٍ
And We delay it only for a term (already) fixed. (11:104)
فَأَبَى الظَّالِمُونَ
But the wrongdoers refuse,
-- after the proof has been established against them,
إَلاَّ كُفُورًا
(and accept nothing) but disbelief.
means, they persist in their falsehood and misguidance
Holding back is Part of Man's Nature
Allah says to His Messenger:
قُل لَّوْ أَنتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَايِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لاََّمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الاِنفَاقِ
Say:""If you possessed the treasure of the mercy of my Lord, then you would surely hold back for fear of spending,
""Tell them, O Muhammad, even if you had authority over the treasures of Allah, you would refrain from spending for fear of exhausting it.""
Ibn Abbas and Qatadah said,
""This means for fear of poverty,""
lest it run out, despite the fact that it can never be exhausted or come to an end. This is because it is part of your nature.
So Allah says:
وَكَانَ الانسَانُ قَتُورًا
and man is ever miserly.
Ibn Abbas and Qatadah said:
""(This means) stingy and holding back.""
Allah says:
أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِّنَ الْمُلْكِ فَإِذاً لاَّ يُوْتُونَ النَّاسَ نَقِيراً
Or have they a share in the dominion Then in that case they would not give mankind even a Naqira. (4:53),
meaning that even if they had a share in the authority of Allah, they would not have given anything to anyone, not even the amount of a Naqira (speck on the back of a date stone).
Allah describes man as he really is, except for those whom Allah helps and guides. Miserliness, discontent and impatience are human characteristics, as Allah says:
إِنَّ الاِنسَـنَ خُلِقَ هَلُوعاً
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعاً
وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعاً
إِلاَّ الْمُصَلِّينَ
Verily, man was created very impatient; irritable when evil touches him; and stingy when good touches him. Except those who are devoted to Salah (prayers). (70:19-22)
And there are many other such references in the Qur'an. This is an indication of the generosity and kindness of Allah.
In the Two Sahihs it says:
يَدُ اللهِ مَلَْى لَا يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالاَْرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَمِينِه
Allah's Hand is full and never decreases because of His giving night and day. Do you not see how much He has given since He created the heavens and the earth, yet that which is in His right hand never decreases."
That is their requital because they disbelieved Our signs and said, in denial of the Resurrection: 'What, when we are bones and fragments, shall we really be raised in a new creation?'
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.