ٱلنَّحْل ٩٧
- مَنۡ barang siapa
- عَمِلَ mengerjakan
- صَٰلِحٗا kebajikan/saleh
- مِّن dari
- ذَكَرٍ laki-laki
- أَوۡ atau
- أُنثَىٰ perempuan
- وَهُوَ dan dia
- مُؤۡمِنٞ orang yang beriman
- فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ maka sungguh Kami akan menghidupkan dia
- حَيَوٰةٗ penghidupan
- طَيِّبَةٗۖ yang baik
- وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ dan sungguh Kami akan memberi balasan mereka
- أَجۡرَهُم pahala mereka
- بِأَحۡسَنِ dengan yang lebih baik
- مَا apa
- كَانُواْ adalah mereka
- يَعۡمَلُونَ mereka kerjakan
Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik1 dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Catatan kaki
1 *463) Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal kebaikan harus disertai iman.
(Barang siapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik) menurut suatu pendapat dikatakan bahwa yang dimaksud adalah kehidupan di surga. Menurut pendapat yang lain dikatakan adalah kehidupan dunia, yaitu dengan mendapatkan rasa qana`ah atau menerima apa adanya atau ia mendapatkan rezeki yang halal (dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan).
Tafsir Surat An-Nahl: 97
Barang siapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik: dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.
Janji Allah ini ditujukan kepada orang yang beramal saleh. Yang dimaksud dengan amal saleh adalah amal perbuatan yang mengikuti petunjuk Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, baik dia laki-laki ataupun perempuan dari kalangan anak Adam, sedangkan hatinya dalam keadaan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dan bahwa amal yang dilakukannya itu merupakan amal yang diperintahkan serta disyariatkan dari sisi Allah. Maka Allah berjanji akan memberinya kehidupan yang baik di dunia, dan akan memberinya pahala yang jauh lebih baik daripada amalnya kelak di akhirat. Pengertian kehidupan yang baik ialah kehidupan yang mengandung semua segi kebahagiaan dari berbagai aspeknya.
Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan sejumlah ulama, bahwa mereka menafsirkannya dengan pengertian rezeki yang halal lagi baik.
Dari Ali ibnu Abu Talib, disebutkan bahwa dia menafsirkannya dengan pengertian al-qana'ah (bersyukur dan puas dengan apa yang diberikan kepadanya). Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ikrimah, dan Wahb ibnu Munabbih.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah kebahagiaan.
Al-Hasan, Mujahid, dan Qatadah mengatakan: “Tiada suatu kehidupan pun yang dapat menyenangkan seseorang kecuali kehidupan di dalam surga."
Ad-Dahhak mengatakan, makna yang dimaksud ialah rezeki yang halal dan kemampuan beribadah dalam kehidupan di dunia. Ad-Dahhak mengatakan pula bahwa yang dimaksud ialah mengamalkan ketaatan, dan hati merasa lega dalam mengerjakannya.
Tetapi pendapat yang benar tentang makna kehidupan yang baik ini menyatakan bahwa pengertian kehidupan yang baik mencakup semua yang telah disebutkan di atas.
Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Abu Ayyub, telah menceritakan kepadaku Syurahbil ibnu Syarik, dari Abu Abdur Rahman Al-Habli, dari Abdullah ibnu Umar bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sungguh beruntunglah orang yang telah masuk Islam dan diberi rezeki secukupnya serta Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana'ah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Abdullah ibnu Yazid Al-Muqri dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi dan Imam Nasai telah meriwayatkan melalui hadis Ummu Hani', dari Abu Ali Al-Juhani, dari Fudalah ibnu Ubaid yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh beruntunglah orang yang diberi petunjuk kepada Islam, sedangkan rezekinya secukupnya dan ia menerimanya dengan penuh rasa syukur.” Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadits ini berpredikat sahih.
Imam Ahmad mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Yahya, dari Qatadah, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sungguh Allah tidak akan menzalimi orang mukmin dalam membalas kebaikannya yang Dia berikan kepadanya di dunia dan Dia berikan pula pahalanya di akhirat. Adapun orang kafir, maka ia diberi balasan di dunia karena kebaikan-kebaikannya, hingga manakala ia sampai di akhirat, tiada suatu kebaikan pun yang tersisa baginya yang dapat diberikan kepadanya sebagai balasan kebaikan.” Hadis ini diketengahkan secara munfarid oleh Imam Muslim.
Barang siapa mengerjakan kebajikan sekecil apa pun, baik dia laki-laki
maupun perempuan, dalam keadaan beriman dan dilandasi keikhlasan,
maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik di dunia dan
akan Kami beri dia balasan di akhirat atas kebajikannya dengan pahala
yang lebih baik dan berlipat ganda dari apa yang telah mereka kerjakan. Usai menjelaskan pahala yang disiapkan-Nya sebagai balasan amal
saleh orang beriman, pada ayat ini Allah lalu menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an adalah salah satu dari amal saleh itu. Allah menyatakan,
Apabila engkau hendak membaca Al-Qur'an, mohonlah perlindungan dengan
tulus kepada Allah dengan mengucapkan kalimat a'udzu billa'hi minasy syaitho'nir rajim, baik secara keras maupun lirih, agar engkau dihindarkan
oleh Allah dari bisikan, rayuan, dan godaan setan yang terkutuk karena
dijauhkan dari rahmat Allah.
Kemudian Allah ﷻ dalam ayat ini berjanji bahwa Allah ﷻ benar-benar akan memberikan kehidupan yang bahagia dan sejahtera di dunia kepada hamba-Nya, baik laki-laki maupun perempuan, yang mengerjakan amal saleh yaitu segala amal yang sesuai petunjuk Al-Qur'an dan sunnah Rasul, sedang hati mereka penuh dengan keimanan.
Rasulullah bersabda:
Dari 'Abdullah bin 'Umar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup dan menerima dengan senang hati atas pemberian Allah. (Riwayat Ahmad)
Kehidupan bahagia dan sejahtera di dunia ini adalah suatu kehidupan di mana jiwa manusia memperoleh ketenangan dan kedamaian karena merasakan kelezatan iman dan kenikmatan keyakinan. Jiwanya penuh dengan kerinduan akan janji Allah, tetapi rela dan ikhlas menerima takdir. Jiwanya bebas dari perbudakan benda-benda duniawi, dan hanya tertuju kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mendapatkan limpahan cahaya dari-Nya.
Jiwanya selalu merasa puas terhadap segala yang diperuntukkan baginya, karena ia mengetahui bahwa rezeki yang diterimanya itu adalah hasil dari ketentuan Allah ﷻ Adapun di akhirat dia akan memperoleh balasan pahala yang besar dan paling baik dari Allah karena kebijaksanaan dan amal saleh yang telah diperbuatnya serta iman yang bersih yang mengisi jiwanya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Dan jikalau Allah menghendaki niscaya dijadikan-Nya kamu semuanya umat yang satu. Tetapi disesatkan-Nya semuanya yang dikehendaki-Nya dan diberi-Nya petunjuk barangsiapayang dikehendaki-Nya."
(pangkal ayat 93)
Dapatlah kita kira-kirakan sendiri bahwasanya Allah Ta'aala berkuasa membuat umat itu jadi umat yang satu, tidak ada pertikaian, tidak ada perselisihan. Tetapi yang demikian itu hanya sebentar saja, sebab Allah Ta'aala juga yang telah menakdirkan bahwa pikiran manusia itu, tidak sama. Ada yang sesat dan ada yang mendapat petunjuk. Di sini terjadilah ujian atas pikiran karena ada pergesekan dan peradukan di antara satu sama lain. Akhirnya yang benar juga yang menang. Untuk kelak ada ujiannya yang lagi. Demikian terus-menerus, sehingga dalam kehidupan itu manusia menentukan mutu, mana yang tahan uji dan mana yang hilang dibawa zaman.
“Dan sesungguhnya kamu akan ditanya atas barang sesuatu yang telah kamu kerjakan."
(ujung ayat 93)
Maka ujian mutu amal itu bukan hanya selesai sehingga di dunia ini saja, tetapi di akhirat kelak di hadapan Allah, akan ditanya dan dipertanggungjawabkan.
“Dan janganlah kamujadikan sumpah-sumpah kamu sebagai tipu daya antara kamu."
(pangkal ayat 94)
Ini adalah sebagai lanjutan dari urusan sumpah dan janji yang telah disebut di ayat-ayat di atas tadi. Khusus seruan Allah ini kepada kaum Muslimin, yang telah mengikat sumpah dan baiat akan setia membela Nabi ﷺ di negeri Mekah, walaupun musuh mereka akan kaum Quraisy besar jumlahnya ketika itu lagi kuat. Sedang golongan Mukmin mash sedikit dan lemah. Pegang teguh sumpah itu, sediakan harta dan jiwa untuk membelanya. Jangan sampai dijadikan tipu daya, dicarikan jalan keluar untuk terlepas dari ikatan sumpah itu."Kelak akan tergelincir kaki sesudah tegaknya dan akan kamu rasakan kejahatan lantaran kamu berpaling dari jalan Allah." Dengan menyatakan setia kepada Rasul, memilih pendirian yang suci dengan beriman kepada Allah, tegak di dalam hidup telah kukuh. Tetapi apabila digoyahkan pendirian itu dan dicari tipu daya jalan keluar pastilah tergelincir kaki dari tempat tegak itu dan terjerembab masuk bahaya kehancuran, dan sengsaralah yang akan dirasakan karena berpaling dan jalan Allah.
“Dan bagi kamu adalah adzab yang besar."
(ujung ayat 94)
Inilah pesan keras Allah menyuruh kaum Muslimin itu setia memegang sumpahnya, mengikat diri dengan disiplin yang keras, bersaksi kepada Allah, walaupun apa yang akan terjadi. Jangan sedikit pun ada rasa-rasa hendak mencari dalih melepaskan diri. Jangan sampai rasa segan musyrikin itu hilang kepada Muslimin karena mudah memungkiri janji. Pesan ini dikuatkan lagi dengan firman selanjutnya,
“Dan jangan kamu jual perjanjian Allah dengan harga sedikit."
(pangkal ayat 95)
Apa perjanjian kaum Mukminin dengan Allah? Ialah bahwa tiada akan menyembah sebarang Allah pun selain Dia. Bebas jiwa ini daripada pengaruh apa saja dan siapa saja. Tidak bisa dibeli orang dan tidak mau menjual, walaupun dengan harga berapa, karena semua harga selama di dalam dunia ini adalah sedikit. Tidak mau menukar Allah dengan berhala. Tidak mau mengganti Muhammad ﷺ, dengan pemimpin lain. Tidak mau menukar keyakinan islam dengan keyakinan lain. Walaupun untuk semuanya itu akan berapa dibayar orang. Tidak ada yang dapat menghargai keyakinan itu, sebab dia adalah kekayaan yang paling tinggi dalam hidup. Kalau itu yang hilang, punahlah semua. Tidak ada harga hidup lagi. Sebab itu dijelaskan di ujung ayat,
“Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagi kamu, jikalau kamu tahu."
(ujung ayat 95)
Taruhlah, lantaran menjual keyakinan kita diberi pangkat yang tinggi di dalam dunia. Akan berapa lama pangkat itu dipakai? Taruhlah diberi harta benda sepuas-puasnya; bagaimana kalau badan sakit-sakit atau jiwa sakit karena tekanan batin mendustai diri sendiri? Tetapi kalau dia tidak mau menjual perjanjian dengan Allah itu kepada manusia atau kepada iblis, maka kemuliaan dunia yang akan diterimanya ialah karena orang yang beriman akan melihat bahwa masih ada Mukmin seperti dia yang masih bertahan dengan perjanjian dengan Allah. Dan dia pasti akan mati, dan pasti menerima ganjarannya di hadapan Allah dengan tunai, dengan harga yang lebih mahal daripada bumi dan langit sekalipun.
Adapun selama di dunia ini, Allah tegaskan di lanjutan ayat,
“Apa yang di sisi kamu akan habis, tetapi apa yang di sisi Allah kekal adanya."
(pangkal ayat 96)
Di dalam batin kita ini selalu berjuang kehendak nafsu dengan kehendak iman. Untuk mempertahankan firman Allah yang telah diimani ini amat hebat batin kita berjuang, di antara kesempatan yang ada di hadapan mata, padahal kata Allah barang itu tiada kekal, dengan yang di sisi Allah, yang hanya tampak oleh mata batin. Dengan jelas Allah meneruskan firman-Nya,
“Dan akan Kami tunaikan untuk orang-orang yang sabar, ganjaran mereka dengan yang lebih baik dari apa yang pernah mereka kerjakan."
(ujung ayat 96)
Di sinilah terletak ujian itu, yaitu di antara janji Allah yang demikian jelas, dengan janji manusia atau iblis yang mendebarkan dada. Di sini orang yang lemah kerapkali jatuh.
AMAL SALEH LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
“Barangsiapayang beramal saleh dari laki-laki dan perempuan, sedang dia adalah beriman, maka akan Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik."
(pangkal ayat 97)
Pada pangkal ayat ini jelaslah dipertalikan di antara amal saleh atau perbuatan dan hasil-hasil pekerjaan yang baik dengan iman. Iman kepada Allah menimbulkan amal yang saleh. Pengakuan iman saja belumlah berarti sebelum dibuktikan oleh hasil pekerjaan yang baik.
Dan di dalam ayat ini juga dijelaskan lagi bahwa di dalam hal amal saleh dan iman itu samalah kedudukan di antara laki-laki degan perempuan. Masing-masing sama-sama sanggup menumbuhkan iman dalam hatinya dan masing-masing pun sanggup akan berbuat baik. Maka tidaklah kurang tanggung jawab orang perempuan daripada orang laki-laki di dalam menegakkan iman kepada Allah. Oleh sebab itu maka keduanya, laki-laki dan perempuan itu, dengan iman dan amal salehnya sama-sama dijanjikan Allah akan diberi kehidupan yang baik. Atau Hayatan Thay-yibah.
Menurut penafsiran Ibnu Katsir, kehidupan yang baik itu ialah ketenteraman jiwa, walau dari mana datangnya gangguan.
Menurut satu penafsiran yang disampaikan orang dari Ibnu Abbas dan satu jamaah dari ahli tafsir pula, kehidupan yang baik ialah mendapat rezeki yang halal lagi baik dalam hidup di dunia ini.
Menurut satu tafsiran dari Ali bin Abi Thalib, kehidupan yang baik ialah rasa tenang dan sabar menimpa berapa pun dan apa pun yang diberikan Allah, tidak merasa gelisah.
Menurut satu tafsir lagi dari Ali bin Abu Thalhah dan lbnu Abbas pula, kehidupan yang baik ialah as-Sa'adah rasa bahagia.
Satu riwayat dari ad-Dahhaak ialah rezeki yang halal dan kelezatan dan kepuasan beribadah kepada Allah dalam hidup, serta dada lapang terbuka.
Menurut JaTar ash-Shadiq, kehidupan yang baik ialah tumbuhnya ma'rifatullah, atau perkenalan akan Allah di dalam jiwa.
Semua penafsiran ini tidaklah berlawanan, malahan boleh dikatakan bahwa yang satu menggenapkan yang lain.
Dapatlah kita jadikan pegangan sebuah hadits,
“Beroleh kemenanganlah orang yang telah jadi Islam, mendapat rezeki sekadar cukup dan menerima senang apa yang diberikan Allah kepadanya." (HR Imam Ahmad dari lbnu Umar)
Menurut al-Mahayami, kehidupan yang baik ialah merasa berbahagia dengan amalnya di dunia ini, lebih daripada kesenangan orang yang berharta dan berpangkat dengan harta dan pangkatnya. Dan kebahagiaan perasaannya itu tidak dapat ditumbangkan oleh kesukaran hidupnya. Sebab dia merasa ridha menerima pembagian yang diberikan Allah kepadanya, sehingga harta benda tidaklah begitu dipen-tingkannya. Tetapi orang yang kafir meskipun telah ada harta dan pangkatnya, namun dia tidak juga pernah merasa bahagia, malahan bertambah lama bertambah rakus dan bertambah lama bertambah takut kalau-kalau yang telah ada akan susut atau habis. Dan orang yang diberikan kehidupan yang baik di dunia itu akan diberi pula ganjaran yang lebih baik di akhirat. Maka tidaklah dikatakan kepada mereka, “Segala kebajikan kamu telah habis di kala hidup di dunia saja, tidak ada sambungannya lagi di akhirat. Tetapi akan disempurnakan amalan yang kecil dengan pahala yang lebih besar." Sekian tafsiran al-Mahayami.
Al-Qasimi menyatakan pendapatnya pula dalam tafsirnya, “Buat saya kehidupan yang baik itu ialah yang memenuhi dada dengan kesejukan karena puas dengan yakin dan merasakan manisnya iman, ingin menemui apa yang telah dijanjikan Allah dan ridha menerima ketentuan (qadha) dari Allah. Lalu memerdekakan ruh dari apa yang memper-budaknya selama ini, merasa tenteram dengan hanya satu tuhan yang disembah dan mengambil cahaya (nur) dari rahasia ujud yang berdiri padanya, dan lain-lain kelebihan yang telah ditentukan pada tempatnya masing-masing. Inilah kehidupan yang baik di dunia.
Adapun di akhirat, maka untuknyalah pahala yang lebih baik dan ganjaran yang lebih sempurna." Sekian tafsiran al-Qasimi.
Itu sebabnya maka dijelaskan di ujung ayat,
“Dan akan Kami tunaikan kepada mereka pahala mereka dengan yang lebih bagus dari apa yang pernah mereka kerjakan."
(ujung ayat 97)
Sesungguhnya segala amalan baik (amal saleh) yang kita kerjakan dalam dunia ini, yang bersumber telaga dari iman kita kepada Allah, kalau kita pikirkan dalam-dalam, tidaklah sepadan dengan pahala dan ganjaran yang akan kita terima di akhirat kelak. Amat sedikitlah yang kita kerjakan itu dan berlipat ganda lebih besarlah pahala dan ganjaran yang akan kita terima. Dalam umur yang hanya sangat terbatas ini kita kerjakan perintah Allah sekadar ketentuan dan waktu yang ditentukan, padahal pahala yang akan kita terima adalah kekal tidak ada ujung. Camkanlah!
BERLINDUNG DARI PENGARUH SETAN
“Maka apabila engkau membaca Al-Qur'an, berlindunglah engkau kepada Allah, dari setan yang terkutuk."
(ayat 98)
Apabila akan memulai membaca Al-Qur-‘an, berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk, jangan sampai perhatian kita yang sedang dihadapkan kepada kalam Ilahi diganggu oleh perasaan lain, yang bukan-bukan, yang selalu diganggukan kepada kita oleh setan. Maka bacalah sebelum membaca Bismillahirrahmanirrahim.
“Berlindunglah aku kepada Allah, daripada setan terkutuk."
Semata-mata membaca Al-Qur'an saja, untuk memfasihkan lidah, membetulkan makhraj hurufnya, tidaklah dia akan berkesan kepada jiwa kita, kalau ketika membaca perhatian tiada tumpah kepadanya. Sebab itu maka tidaklah satu kemegahan kalau kita misalnya dalam sehari semalam dapat mengkhatamkan Al-Qur'an sekali atau dua kali, karena bertambah kerapkali khatamnya, bertambah nyata bahwa sudah terlalu cepat kita membaca, sehingga hanya lidah yang membaca dan perhatian tidak tertuju kepada isinya. Sedang lidah menyebut Al-Qur'an, tetapi hati tidak bertali dengan lidah, maka hati yang kosong itu bisa diisi oleh setan.
“Sesungguhnya dia itu, tidaklah ada kekuasaannya atas orang yang beriman."
(pangkal ayat 99)
Artinya, orang yang Mukmin tidak dapat dipengaruhinya. Tiap pengaruh kekuasaan setan akan masuk, si Mukmin sadar dan ingat kepada Allah, dan si setan pun lari,
“Dan yang kepada Allah mereka, mereka bertawakal."
(ujung ayat 99)
Benteng orang yang tawakal adalah sangat kuat, yaitu Allah sendiri. Setan tidak berani mendekat ke sana. Tetapi bila si Mukmin keluar dari dalam benteng itu, lalu bermain-main dan berlalai-lalat, maka setan pun datanglah mencederainya. Tetapi bila dia lekas lari masuk benteng, si setan tidak berani lagi mendekati pintu. Tawakal artinya menyerahkan diri seridha-ridhanya kepada Allah.
Kepada siapa setan itu dapat berkuasa? Ayat selanjutnya menjawab pertanyaan.
“Kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang menjadikan dia sebagai pelindung dan atas orang-orang yang mempersekutukan dia."
(ayat 100)
Orang-orang semacam itulah yang dapat dikuasai, diperintah dan diperbudak setan. Karena memang dia yang datang sendiri menyerahkan dirinya buat dilindungi oleh setan, dipimpin oleh setan. Memang dia sendiri yang dengan sukarela sendiri mempersekutukan Allah dengan yang lain, terutama dengan setan itu sendiri. Dia tidak menjadi hamba Allah lagi, sebab itu dia pasti diperhamba oleh yang lain. Sebab perhambaan itu—bagaimanapun manusia mengingkarinya —selama manusia masih hidup, dia pasti jadi hamba. Orang yang Mukmin membulatkan perhambaan itu kepada Allah. Orang yang tidak kenal Allah atau tidak mau mengenal Allah, dia pasti memperhambakan diri kepada yang lain, jadi budak setan, budak nafsu, budak pemimpin, budak harta, dan budak dari 1001 macam budak.
BANTAHAN MUSYRIKIN KARENA PERTUKARAN AYAT
“Dan apabila Kami takarkan satu ayat di tempat satu ayat, sedang Allah tahu apa yang diturunkan-Nya, berkatalah mereka." yaitu orang-orang musyrikin itu.
“Sesungguhnya engkau ini hanyalah seorang yang mengada-adakan saja. Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui."
(ayat 101)
Di dalam menurunkan syari'at, Allah memakai juga suatu cara yang bernama
“Berangsur-angsur menurunkan perataan sya-
At-Tadriju fit tasyn' Misalnya dari hal mengharamkan minuman yang memabukkan dan judi. Mula-mula seketika orang-orang bertanya tentang bahaya keduanya itu, datanglah ayat menjawab bahwa minuman keras dan judi ada juga manfaatnya dan ada juga mudha-ratnya, teiapi mudharatnya lebih besar dari manfaatnya (al-Baqarah ayat 219), Kemudian terjadilah hal yang kurang baik dipandang mata. Yaitu seorang sahabat Rasulullah ﷺ shalat. Dalam shalat itu dia membaca ayat dengan kacau balau sebab dia sedang mabuk karena habis minum tuak. Maka tibalah ayat melarang keras shalat kalau sedang mabuk. (an-Nisaa' ayat 43). Beberapa waktu kemudian timbullah perkelahian di antara orang-orang yang mabuk itu, sehingga dapat mengacaukan persaudaraan yang demikian murni di antara sesama Muslim. Maka tibalah ayat yang keras menerangkan bahaya minuman keras dan judi, dan disamaratakan dengan memberi hidangan kepada berhala dan meminta keizinan kepada berhala, semua itu adalah ajaran setan. Di akhir ayat diancam
“Maukah kamu berhenti apa tidak?" (al-Maa'idah: 91)
Maka dengan larangan pertama, yang menerangkan tuak dan judi ada manfaat dan ada mudharat, tetapi mudharatnya lebih besar, sudah ada larangan yang dapat dipikirkan oleh yang beriman. Kalau sesuatu pekerjaan yang mudharatnya lebih besar dari manfaatnya, masakan orang Mukmin masih mau berbuat?
Larangan kedua sudah lebih keras dari yang pertama. Orang yang telah tertanam imannya tidaklah akan mau lagi minum tuak kalau waktu shalat sudah dekat, bahkan ada yang berhenti minum minuman keras sama sekali, sebab baginya shalat lebih penting. Masakan dengan mabuk menghadap Allah. Tetapi larangan taraf ketiga, yang telah berisi ancaman itu, “mau berhenti apa tidak?" adalah larangan terakhir yang tidak dapat dilanggar lagi, sehingga bagi Muslim, tuak, judi, bangkai, darah dan daging babi, adalah hal-hal yang sangat dijauhi dan dibenci, yang kadang-kadang mendengar nama-nama itu saja mereka sudah jijik.
Oleh karena ada beberapa ayat yang turun secara teratur demikian, yang ketiga menggenapkan yang kedua, dan yang kedua menggenapkan yang pertama, berkatalah orang-orang musyrikin seperti yang dikatakan di dalam ayat ini terhadap Nabi ﷺ, “Sesungguhnya engkau ini hanyalah seorang yang mengada-adakan saja." Syari'at yang demikian teratur dari Allah, mereka katakan diada-adakan saja oleh Muhammad. Padahal “Allah tahu apa yang diturunkan-Nya." Maka di ujung ayat dijelaskan, “bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui.'' Dengan pengetahuan serba dangkal itu mereka hendak mengukur syari'at Nabi Muhammad ﷺ
“Katakanlah, “Dia tetak diturunkan oleh Ruhul Qudus dari Allah engkau dengan kebenaran."
(pangkal ayat 102)
Dia bukan seperti yang kamu tuduhkan, diada-adakan oleh Muhammad saja, tetapi dititahkan Allah kepada Ruhul Qudus. Ruh yang suci, yaitu salah satu sebutan terhadap malaikat karena dia suci dari sifat-sifat buruk yang ada pada kita jenis manusia ini. Dialah yang diperintahkan Allah menyampaikan wahyu itu kepada Muhammad ﷺ di atas nama Allah.
“Untuk menetapkan (pendirian) orang yang beriman, dan petunjuk, dan kabar gembina bagi Muslimin."
(ujung ayat 102)
Dia turun dengan kebenaran, dengan al-Haq yang dapat diuji. Dan dengan berpedoman kepada wahyu itu, orang-orang beriman pengikut Muhammad ﷺ bertambah tetap dan teguh pendiriannya, tidak dapat digoyahkan oleh siapa saja, dan dia petunjuk untuk mereka dalam menempuh jalan Allah. Dan dia pun memberi kabar gembira bagi orang Muslimin, orang yang telah berserah diri kepada Allah, bahwa mereka akan diberi rahmat surga kelak di akhirat.
TUDUHAN YANG TIDAK BERALASAN
Maka orang-orang musyrikin itu pun menyebarkan kabar pula, bahwa berita-berita yang dikatakan oleh Muhammad sebagai wahyu itu lain tidak hanyalah dipelajarinya kepada orang-orang Ajam (bukan Arab) yang berdiam di Mekah pada masa itu. Ahli riwayat ada yang mengatakan bahwa nama orang itu jabar. Nasrani masuk Islam. Kata yang lain namanya Ya'isy, yang pandai membaca kitab-kitab bahasa ‘Ajam. Kata yang lain pula dia berdua, nama yang seorang Yasar, dan seorang lagi Jabar, keduanya orang pulau Sicilia menjadi budak di Mekah dan pandai membuat pedang. Mereka mengerti membaca Taurat dan Injil. Kata kaum musyrikin itu, dari merekalah Muhammad belajar kitab-kitab itu dan diubahnya bahasanya, lalu dikatakannya wahyu.
Tuduhan itulah yang dipatahkan oleh ayat ini.
“Dan sesungguhnya Kami tahu bahwa mereka berkata, “Hanya manusia yang mengajarnya."
(pangkal ayat 103)
Bukan wahyu. Dia belajar kepada pandai besi orang Sitilia itu.
“Sedang lidah orang yang mereka cenderungi itu bahasa asing, dan ini adalah lidah Arab yang asli."
(ujung ayat 103)
Karena tidak mau percaya bahwa Al-Qur'an adalah wahyu Allah. Mereka katakan bahwa wahyu itu dipelajari oleh Muhammad kepada pandai besi orang Sicilia yang telah bertahun-tahun tinggal di Mekah itu. Penduduk Mekah banyak kenal kepada pandai besi itu. Semua orang tahu bahwa petah lidahnya bercakap dalam bahasa Arab, sebab masih terbawa oleh bahasa negerinya, laksana orang Cina totok tinggal di Indonesia, walaupun sudah bertahun-tahun, petah lidahnya kaku dan bahasanya salah, seumpama rumah saya, dalam bahasa Indonesia mereka ucapkan “owe punya lumah". Bagaimana kaum musyrikin itu menuduh Nabi Muhammad ﷺ belajar wahyu kepada orang Sicilia? Lidah atau bahasa Al-Qur'an adalah bahasa Arab yang terang dan fasih, menurut jalan bahasa yang mengagumkan mereka sendiri, mengatasi susunan syair yang selama ini mereka banggakan. Itukah yang dipelajari Muhammad kepada orang-orang ‘Ajam pandai besi ahli membuat pedang di Mekah itu? Bukankah dengan wahyu-wahyu itu Allah berkali-kali memerintahkan Rasul-Nya menentang mereka, coba kemukakan susun kata dan isi yang dapat menandingi wahyu Ilahi itu, walaupun menurut ukuran sependek-pendek surah. Inikah yang di-pelajari Muhammad kepada orang Sicilia yang empunya hapar besi membuat pedang itu? Dengan perbandingan pemakaian bahasa ini saja tertolaklah tuduhan yang tidak masuk akal itu. Setelah itu berfirmanlah Allah,
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, tidaklah akan diberi petunjuk oleh Allah, dan untuk mereka adalah adzab yang pedih."
(ayat 104)
"
Righteous Deeds and their Reward
Allah says:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُوْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Whoever does righteous deeds - whether male or female - while he (or she) is a believer; then We will certainly give them a good life, and We will certainly grant them their rewards in proportion to the best of what they used to do.
This is a promise from Allah to those Children of Adam, male or female, who do righteous deeds - deeds in accordance with the Book of Allah and the Sunnah of His Prophet, with a heart that believes in Allah and His Messenger, while believing that these deeds are commanded and enjoined by Allah.
Allah promises that He will give them a good life in this world and that He will reward them according to the best of their deeds in the Hereafter.
The good life includes feeling tranquility in all aspects of life.
It has been reported that;
Ibn Abbas and a group (of scholars) interpreted it to mean good, lawful provisions.
It was reported that Ali bin Abi Talib interpreted as;
contentment.
This was also the opinion of Ibn Abbas, Ikrimah and Wahb bin Munabbih.
Ali bin Abi Talhah recorded from Ibn Abbas that;
it meant happiness.
Al-Hasan, Mujahid and Qatadah said:
""None gets (this) good life (mentioned) except in Paradise.""
Ad-Dahhak said:
""It means lawful provisions and worship in this life.""
Ad-Dahhak also said:
""It means working to obey Allah and finding joy in that.""
The correct view is that a good life includes all of these things. as found in the Hadith recorded by Imam Ahmad from Abdullah bin `Amr that the Messenger of Allah said:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا اتَاه
He who submits (becomes a Muslim) has succeeded, is given sufficient provisions, and is content with Allah for what he is given.
It was also recorded by Muslim."
Whoever acts righteously, whether male or female, and is a believer, him verily We shall revive with a goodly life. This is said to be life in the Paradise; or it is life on earth, [when it is] one of contentedness or one of wholesome (halaal) provision. And We shall surely pay them their reward according to the best of what they used to do.
Commentary
What is 'good life'?
According to the majority of commentators, the expression 'good life' used here means a pure and pleasing life in the present world while some Tafsir authorities have taken it to mean life in the Hereafter. And a closer look at the explanation given by the majority would also show that it does not mean that such a person will never encounter poverty or sickness. Instead, it means that a believer - even if he ever faces poverty or pain - has two things with him which shield him from becoming disturbed. First comes his habit of remaining content with the available (qana’ ah), the hallmark of a simple life. This thing works in straitened circumstances as well. Secondly, there is this belief of his, the belief that he is going to receive the great and eternal blessings of the Hereafter in return for whatever poverty or pain he has suffered from. Poised counter to this is the condition of a disbeliever and sinner. If such a person faces poverty and pain, he has nothing to hold him together and give him solace and comfort. In this state, he is likely to lose his sanity, even think of committing suicide. And in case he was affluent, his greed would not let him sit peacefully. When the drive for more wealth makes him a millionaire, the dreams of becoming a billionaire would keep spoiling his peace.
As for righteous believers, says Ibn ` Atiyyah, Allah Ta’ ala blesses them with a life full of pleasure, contentment and gracefulness right here in this world as well, something that never changes whatever the condition. That their life will be graceful while they enjoy health and ex-tended means is all too obvious, particularly so on the ground that they just do not have the greed to keep their wealth increasing unnecessarily, an urge that keeps harassing one under all circumstances. And even if they have to face lean days or sickness of some sort, they always have a strong support to fall back on. They are perfect believers in the promises made by Allah. They have strong hopes of seeing ease after hardship and comfort after pain. These strengths never let their life become grace-less. It is like the work of a farmer who has made his farm ready for crops. No matter how much pain he takes in working to see his crops grow, yet he welcomes all that for the sake of the comfort he is going to have. In a short time, he is certain, he is going to have the best of return for what he has done. A businessman or a wage earner would do the same. They would face all sorts of hardship in their job, even a little disgrace once in a while. But, they brave through everything and remain happy and hopeful. They believe that their business will bring profit and their job, a salary. The believer too believes that he is getting a return for every hardship and when comes the life of the Hereafter, his return for every hardship will come to him in the form of blessings that are great and everlasting. As for the life of the present world, it is not such a big deal as compared to that of the Hereafter. Therefore, a believer finds it easy to remain patient against worldly variations in living conditions.
Thus, these conditions never make a believer suffer from anxiety, apprehension and boredom. This is the 'good life' a believer is blessed with in cash, on the spot, right here in this world.