إِبْرَاهِيم ٣٤
- وَءَاتَىٰكُم dan Dia memberikan kepadamu
- مِّن dari
- كُلِّ segala
- مَا apa
- سَأَلۡتُمُوهُۚ kamu mohonkan kepadaNya
- وَإِن dan jika
- تَعُدُّواْ kamu menghitung
- نِعۡمَتَ nikmat
- ٱللَّهِ Allah
- لَا tidak (dapat)
- تُحۡصُوهَآۗ menghitungnya
- إِنَّ sesungguhnya
- ٱلۡإِنسَٰنَ manusia
- لَظَلُومٞ sungguh sangat zalim
- كَفَّارٞ sangat ingkar
Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).
(Dan Dia telah memberikan kepada kalian dari segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya) sesuai dengan keperluan kalian (Dan jika kalian menghitung nikmat Allah) pemberian nikmat-Nya kepada kalian (tidaklah dapat kalian menghitungnya) kalian tidak akan mampu menghitung-hitungnya. (Sesungguhnya manusia itu) yang dimaksud adalah orang kafir (sangat lalim dan sangat ingkar) artinya banyak berbuat aniaya terhadap dirinya dengan cara melakukan maksiat dan banyak ingkar terhadap nikmat Rabbnya.
Tafsir Surat Ibrahim: 32-34
Allah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untuk kalian; dan Dia telah menundukkan bahtera bagi kalian supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya dan Dia telah menundukkan (pula) bagi kalian sungai-sungai.
Dan Dia telah menundukkan (pula) bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagi kalian malam dan siang.
Dan Dia telah memberikan kepada kalian (keperluan kalian) dari segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya. Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat ingkar (nikmat Allah).
Ayat 32
Allah ﷻ menyebutkan nikmat-nikmat-Nya yang telah Dia berikan kepada makhluk-Nya, bahwa Dia telah menciptakan bagi mereka langit yang berlapis-lapis sebagai atap yang dipelihara-Nya, dan bumi yang menjadi hamparannya. “Dan menurunkan air hujan dari langit. Maka Kami tumbuhkan dengan air itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.” (Thaha: 53) Yakni buah-buahan yang bermacam-macam dan hasil tanaman yang beraneka ragam warna, bentuk, rasa, bau, dan manfaatnya.
Allah menundukkan bahtera sehingga bahtera dapat mengapung di atas air laut dan berlayar menempuhnya dengan seizin Allah. Allah menundukkan laut untuk membawa bahtera agar orang-orang yang safar menempuh jalan laut dapat bepergian dari suatu daerah ke daerah yang lain guna mengangkut kebutuhan mereka dari suatu daerah ke daerah yang lain (impor dan ekspor). Allah juga menundukkan sungai-sungai yang membelah bumi, lalu mengalir dari suatu daerah ke daerah yang lain, sebagai rezeki buat hamba-hamba-Nya berupa air minum, pengairan, dan kegunaan-kegunaan lainnya yang bermanfaat bagi mereka.
Ayat 33
“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya).” (Ibrahim: 33)
Artinya, keduanya terus-menerus beredar pada garis edarnya malam dan dan siang hari tanpa henti-hentinya. “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Yasin: 40) Allah ﷻ berfirman: “Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang; (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah, Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-A'raf: 54)
Matahari dan bulan silih berganti, malam dan siang hari saling berebutan; adakalanya siang hari mengambil sebagian waktu malam hari hingga menjadi bertambah panjang. Begitu pula malam hari, adakalanya ia mengambil sebagian waktu dari siang hari sehingga siang hari pendek waktunya dan malam hari panjang. “Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan; masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah, Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Az-Zumar: 5)
Ayat 34
Firman Allah ﷻ: “Dan Dia telah memberikan kepada kalian (keperluan kalian) dari segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya.” (lbrahim: 34)
Dengan kata lain, Allah menyediakan bagi kalian segala sesuatu yang kalian perlukan dalam semua keadaan sesuai dengan apa yang kalian mohonkan kepada-Nya.
Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah dari semua yang kalian mohonkan kepada-Nya dan yang tidak kalian mohonkan kepada-Nya. Sebagian ulama membacanya dengan bacaan yang artinya "Dan Dia telah memberikan kepada kalian keperluan kalian dari segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya dan yang tidak kalian mohonkan kepada-Nya".
Firman Allah ﷻ: “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian menghitungnya.” (Ibrahim: 34)
Allah ﷻ menceritakan sisi ketidakmampuan hamba-hamba-Nya untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka, terlebih lagi untuk menunaikan syukurnya.
Talq ibnu Habib telah mengatakan bahwa sesungguhnya hak Allah itu jauh lebih berat daripada apa yang dikerjakan oleh hamba-hamba-Nya sebagai rasa syukurnya. Dan sesungguhnya nikmat-nikmat Allah itu jauh lebih banyak daripada apa yang dihitung-hitung oleh hamba-hamba-Nya, tetapi mereka melakukan tobatnya di pagi hari, dan di sore hari mereka bertobat pula. Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengucapkan doa berikut: “Ya Allah, bagi Engkaulah segala puji yang tidak pernah tercukupkan, tidak pernah terpisahkan, dan tidak pernah pula tertinggalkan, wahai Tuhan kami.”
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan di dalam kitab Musnad-nya: Telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abu Haris, telah menceritakan kepada kami Daud ibnul Muhabbar, telah menceritakan kepada kami Saleh Al-Murri, dari Ja'far ibnu Zaid Al-Abdi, dari Anas, dari Nabi ﷺ yang bersabda "Kelak dikeluarkan tiga diwan (catatan) bagi anak Adam pada hari kiamat, yaitu diwan yang di dalamnya tercatatkan amal salehnya, diwan yang didalamnya tercatatkan dosa-dosanya, dan diwan yang di dalamnya tercatatkan nikmat-nikmat Allah ﷻ yang telah diberikan kepadanya. Lalu Allah berfirman kepada nikmat-Nya yang paling kecil, yang menurut Al-Bazzar Ismail Ibnu Haris adalah diwan yang di dalamnya tercatatkan nikmat-nikmat-Nya, 'Ambillah upahmu dari amal salehnya.’ Maka ia mengambil semua amal salehnya, lalu menjauh dan berkata, 'Demi Keagungan-Mu, aku masih belum cukup, tetapi yang tertinggal hanyalah dosa-dosanya dan catatan nikmat-nikmat-Mu.' Apabila Allah menghendaki merahmatinya, maka Dia berfirman, 'Hai hamba-Ku, sekarang Aku lipat gandakan kebaikan-kebaikanmu dan Aku maafkan keburukan-keburukanmu.' Menurut Al-Bazzar Ismail ibnul Haris, Allah mengatakan, 'Aku anugerahkan nikmat-nikmat-Ku kepadamu (tanpa balasan)'." Predikat hadis ini garib (asing), dan sanadnya daif (lemah).
Di dalam kitab atsar disebutkan bahwa Daud a.s. pernah berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku dapat bersyukur kepada Engkau, sedangkan syukurku kepada-Mu termasuk nikmat dari-Mu pula yang Engkau berikan kepadaku?" Maka Allah menjawab melalui firman-Nya, "Sekarang engkau, hai Daud, telah bersyukur kepada-Ku; karena kamu telah mengakui akan kelalaianmu dalam menunaikan rasa syukurmu kepada-Ku atas nikmat-nikmat-Ku yang Kuberikan kepadamu."
Imam Syafii rahimahullah mengatakan, "Segalapuji bagi Allah, yang salah satu dari nikmat-Nya tidak dapat disyukuri kecuali berkat adanya nikmat baru yang mendorong seseorang untuk bersyukur kepada-Nya." Salah seorang penyair mengatakan: “Seandainya setiap anggota tubuhku dapat berbicara memuji-Mu sebab kebaikan yang telah Engkau berikan kepadaku, niscaya lebihan rasa syukurku kepada-Mu merupakan nikmat yang paling besar yang dianugerahkan oleh-Mu kepadaku.”
Dan Dia telah memberikan kepadamu berbagai nikmat untuk keperluan hidup kamu sebagai anugerah atas segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu berupaya menghitung nikmat Allah tersebut, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh banyak
nikmat yang telah Allah karuniakan, tetapi banyak sekali manusia yang
mengingkari nikmat-nikmat itu. Mereka sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah. Masih berkaitan dengan nikmat Allah, dijelaskan pula bahwa Nabi
Ibrahim memohon kepada Allah agar anak cucunya diberi nikmat dan
dihindarkan dari menyembah berhala. Dan ingatlah, ketika Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah, Ya Tuhan, jadikanlah negeri Mekah ini negeri
yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku hingga akhir zaman
agar tidak menyembah berhala.
Sebagai nikmat Allah juga ialah Dia telah menyediakan bagi manusia segala yang diperlukannya, baik diminta atau tidak, karena Allah telah menciptakan langit dan bumi ini untuk manusia. Dia menyediakan bagi manusia segala sesuatu yang ada, sehingga dapat digunakan dan dimanfaatkan kapan dikehendaki. Kadang-kadang manusia sendiri tidak mengetahui apa yang menjadi keperluan pokoknya, dimana tanpa keperluan itu, ia tidak akan hidup atau dapat mencapai cita-citanya. Keperluan seperti itu tetap dianugerahkan Allah kepadanya sekalipun tanpa diminta. Ada pula bentuk keperluan manusia yang lain yang tidak mungkin didapat kecuali dengan berusaha dan berdoa, karena itu diperlukan usaha manusia untuk memperolehnya.
Sangat banyak nikmat Allah ﷻ yang telah dilimpahkan-Nya kepada manusia, sehingga jika ada yang ingin menghitungnya tentu tidak akan sanggup. Oleh karena itu, hendaknya setiap manusia mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah ﷻ dengan jalan menaati segala perintah-Nya dan tidak melakukan hal-hal yang menjadi larangan-Nya. Mensyukuri nikmat Allah yang wajib dilakukan oleh manusia itu bukanlah sesuatu yang diperlukan oleh Allah ﷻ Allah Mahakaya, tidak memerlukan sesuatupun dari manusia, tetapi kebanyakan manusia sangat zalim dan mengingkari nikmat yang telah diberikan kepadanya.
.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Apakah tidak engkau lihat orang-orang yang telah mengganti nikmat Allah dengan kufur dan telah menempatkan kaum mereka dalam kebinasaan."
(ayat 28)
Sebagai lanjutan secara halus dan tidak langsung daripada ayat yang sebelumnya tentang kalimah thayyibah, maka Allah menyuruh Rasul-Nya dan orang yang Mukmin memerhatikan akibat dari orang yang mengganti nikmat Allah dengan kufur, menukar terang dengan gelap, yaitu sebagai contoh yang ada pada masa itu, ialah pemuka-pemuka Quraisy itu. Negeri Mekah tempat mereka tinggal sejak Nabi Ibrahim telah dilimpahi nikmat karunia Ilahi, menjadi pusat perhatian manusia di sekitar Tanah Arab di waktu itu, sebagaimana akan tersebut kelak dalam doa Nabi Ibrahim (ayat 35 sampai ayat 40). Dan Ka'bah telah berdiri sebagai lambang dari umat yang bertauhid, makanan dan buah-buahan berlimpah-limpah. Tetapi setelah Muhammad ﷺ diutus Allah di negeri itu untuk mengajak mereka kembali kepada kepercayaan yang asli, pusaka agama harif Nabi Ibrahim, telah mereka tentang dengan sekuat-kuatnya. Mereka pertahankan berhala dan mereka pegang teguh adat-adat buruk jahiliyyah. Sampai mereka mengusir Rasul dari negeri itu. Bagaimana jadinya? Sampailah puncak tantangan mereka itu kepada perlawanan bersenjata dalam Peperangan Badar. Di sanalah tujuh puluh orang pemuka-pemuka mereka yang menentang itu, tewas binasa. Mereka itulah yang bertanggung jawab membawa kaum mereka kepada negeri kehancuran. Baik kehancuran duniawi tersebab kekalahan, atau kehancuran di akhirat masuk neraka.
Meskipun ayat ini diturunkan di Mekah dan Peperangan Badar terjadi setelah Rasulullah ﷺ dan para sahabat Muhajirin hijrah ke Madinah, namun dia telah membayangkan akibat pasti yang akan ditempuh oleh suatu pimpinan yang salah,
“Neraka Jahannamlah yang akan mereka masuki, dan itulah seburuk-buruk tempat ketetapan."
(ayat 29)
Nabi Muhammad ﷺ telah membawa ajaran untuk melepaskan manusia dari gelap-guiita kejahilan dan kezaliman, kepada terang benderang tauhid, yang dimisalkan sebagai Pohon yang Baik, tetapi mereka lebih senang kepada yang gelap. Tetapi mereka memilih kayu yang buruk,
“Dan mereka adakan bagi Allah sekutu-sekutu, untuk mereka menyesatkan dari jalan-Nya"
(pangkal ayat 30)
Inilah pangkal segala bala dan bencana. Karena mempertahankan kemusyrikan mereka telah berkurban dengan sia-sia, mati dengan tidak mempunyai nilai. Sebab yang dipertahankan bukanlah perkara yang benar, dan jalan yang ditempuh bukan jalan Allah, melainkan jalan setan."Katakanlah"— olehmu wahai Rasul,
— “Bersenang -senanglah kamu." — sementara “Karena sesungguhnya tempat kembali kamu ialah ke neraka."
(ujung ayat 30)
Itulah ancaman yang diberikan kepada kaum itu, kaum yang memimpin kepada jalan yang salah. Ujung terakhir dari perjalanan itu, tidak lain melainkan neraka.
Dengan demikian dapatlah orang yang beriman menahankan bahwasanya iman yang telah mereka dapat itu hendaklah diperlihat baik-baik dan dipupuk, jangan disia-siakan. Tunjukkanlah kehidupan sebagai Mukmin, supaya nampak jelas perbedaan di antara hidup yang beroleh nur, cahaya, karena iman, dengan hidup yang menganjurkan masuk neraka itu!
Maka berfirman Allah kepada Rasul-Nya,
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku Yang beriman supaya mereka mendirikan shalat."
(pangkal ayat 31)
Setelah Allah menyatakan betapalah jadinya orang-orang yang menukar janji Allah ke-bahagiaan hidup dunia dan akhirat itu dengan neraka Jahannam, karena tidak mau menerima ajakan kebenaran, maka Allah menyuruh Rasul-Nya menyampaikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman supaya mereka teguh memegang ajaran Allah, agar mereka selamat. Pertama sekali janganlah disia-siakan shalat, mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah menurut yang diajarkan oleh Rasul supaya jiwa mereka selamat."Dan membelanjakan apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka." Jangan bakhil! Sebab harta benda yang didapat itu sebagai anugerah dari Allah, hendaklah dialirkan pula kepada hal yang memberi manfaat, baik membantu fakir dan miskin atau berbuat amal yang saleh, sehingga rezeki yang diberikan Allah itu ada faedahnya bagi diri sendiri."Secara sembunyi-sembunyi dan terang-terang." Sembunyi-sembunyi kalau sekiranya pemberian yang diberikan itu dapat menyinggung perasaan orang yang diberi dan terang-terang kalau sekiranya akan menjadi perlombaan sama-sama berbuat baik menegakkan amalan yang berfaedah bagi bersama.
“Sebelum datang Suatu hari yang tidak ada jual-beli padanya dan tidak pula ada kawan-kawan."
(ujung ayat 31)
Artinya, baiklah di waktu hidup ini beramal, baik menguatkan shalat kepada Allah atau melebarkan rezeki yang dianugerahkan Allah. Karena jika telah mati kelak, terutama di kampung akhirat, derma-menderma itu tidak berguna lagi. Teman, sahabat-sahabat, kawan karib atau sebagainya tidak akan ada faedahnya untuk diberi atau menerima daripadanya pemberian. Sebab dunia inilah kampung tempat beramal, dan akhirat tempat menerima hasilnya.
Perhatikanlah di sini, bahwa pesan yang utama terlebih dahulu ialah shalat. Karena shalat itulah pokok utama dan pertama pertalian kita dengan Allah. Shalat membuka hati buat menghubungkan silaturahim dengan sesama manusia. Terutama bila kita ingat keutamaan shalat berjamaah, membanyakkan bertemu dengan orang, sehingga hati terbuka buat berkasih sayang dengan sesama manusia. Orang yang suka memencil sendirian itulah yang kerapkali ditimpa penyakit mementingkan diri sendiri, yang akhir kelaknya membawa penyakit bakhil. Dan bakhil adalah permulaan dari syirik, yaitu mempersekutukan Allah dengan harita yang dianugerahkan oleh Allah.
Dengan membaca sampai ke ujung ayat bertambah pahamlah kita bahwa ayat ini benar-benar ditujukan kepada orang yang telah mengaku beriman. Ayat ini memang pesan Allah kepada Mukmin, pesan kasih sayang yang disuruh sampaikan kepada Rasul-Nya, bahwa kalau sekiranya iman atau agama itu disia-siakan, terutama shalat dilalaikan, kedua bakhil, kikir, enggan mengeluarkan harta bagi kepentingan umum atau membantu orang yang patut dibantu, niscaya akan disuruh mempertanggungjawabkan juga di hadapan Allah di akhirat nanti. Pada waktu itu tidak ada jual beli. Dan tidak pula laku berkawan-kawan. Artinya, mentang-mentang kita bersahabat dengan seorang yang saleh misalnya, lalu dengan perantaraan orang yang saleh itu kita minta kepada Allah supaya hukum diringankan. Keduanya tidak mungkin, karena kita tidak akan membawa harta benda ke akhirat. Uang dunia akan tinggal di dunia dan tidak laku di akhirat. Harta yang laku ketika itu ialah amal itu sendiri, yang telah kita kirimkan terlebih dahulu, sebagai-mana tersebut dalam surah al-Baqarah ayat 100,
“Dan dirikanlah olehmu shalat dan bayarkanlah zakat. Karena apa yang kamu dahulukan untuk diri kamu dari amal baik, nanti akan kamu dapati dianya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah, atas apa-apa yang kamu amalkan, adalah amat Melihat." (al-Baqarah: 100)
Tak ubahnya kehidupan akhirat itu dengan perjalanan ke negeri lain di zaman sekarang (ketika tafsir ini disusun). Uang negeri kita tidak laku di luar negeri, walaupun kita membawanya satu keranjang. Supaya kita dapat berbelanja di negeri lain itu, hendaklah tukarkan terlebih dahulu uang kita kepada salah satu bank dengan persetujuan pemerintah, dan terima tanda pembayaran. Di luar negeri, dengan mengemukakan tanda pembayaran (deviezen) itu, barulah bank di sana mengeluarkan ganti uang kita dengan uang negeri itu. Maka harta dunia ini tidak laku lagi di akhirat, kalau tidak ditukarkan dari sekarang. Itulah sebabnya maka jika kita meninggal dunia, tidak perlu dimasukkan ke dalam kubur kita harta benda. Cukup tiga lapis kafan saja, karena perbelanjaan di sana sudah kita kirim terlebih dahulu. Dan telah disimpan baik-baik oleh Allah menunggu kita datang. Tanda penerimaan pun sudah ada dalam catatan Allah.
Perhatikanlah ayat ini, untuk memikirkan kebodohan kita beragama, kalau ada orang yang mati, lalu berebut warisnya membayar fidyah shalat, dan terjadi tawar menawar dengan lebai yang mengurus jenazah karena ada orang yang mengatakan bahwa shalat yang tinggal bisa dibayar dengan beras! Atau bisa dimintakan doa oleh orang yang diupah membaca surah Yaasiin di kuburan, Ma syaa Allah!
“Allah-lah Yang menciptakan semua langit dan bumi, dan yang menurunkan ai, dari langit, maka keluarlah dengan sebabnya buah-buahan akan jadi rezeki bagi kamu."
(pangkal ayat 32)
Lintuh rasanya tulang, lunglai segala persendian apabila Allah memperingatkan ini kepada kita. Betapa pun lengah dan lalai makhluk, betapa pun mereka melupakan Allah, bahkan kadang-kadang mempersekutukan-Nya dengan yang lain, namun hujan turun juga dan bumi pun subur, pohon-pohon berbuah. Kita hanya tinggal memetik buah.
Kehidupan manusia di seluruh dunia sangat bergantung kepada turunnya air hujan; kesuburan bumi yang akan mendatangkan hasil, demikian juga makanan bagi manusia sendiri dan binatang-binatang ternak. Bahaya besar menimpa suatu negara kalau sekiranya di sana terjadi kemarau panjang, sehingga manusia kelaparan dan binatang ternak pun habis mati. Sedang zaman modern yang disebut tergantung kepada industri itu pun masih menghendaki hujan. Misalkan saja Pabrik Wool (bulu) yang akan dijadikan orang pakaian, yang begitu besar di benua Australia, akan terkaparlah segala pabrik itu kalau sekiranya hujan lama tidak turun sehingga binatang ternak habis mati. Manusia sendiri pun bagaimana majunya di zaman modern ini, masih saja menghendaki memakan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang segar. Gandum, beras, dan segala makanan yang menghasilkan vitamin dan kalori, semua pada akhirnya bergantung kepada hujan. Maka diatur Allah langit yang berada di atas kita, lalu menurunkan hujan, dan bumi menampungnya dan makhluk hidup di atasnya.
“Dan Dia mudahkan untuk kamu kapal, supaya dia belayar di lautan dengan perintah-Nya." Menghubungkan kamu dari benua ke benua, pulau ke pulau, mencari sesamamu manusia, tukar menukar kepentingan. Berlayar kapal itu, baik menunggu angin yang selesai atau dengan mesin dan stoom atau motor. Semuanya belayar dengan perintah dan izin Allah. Artinya, nakhoda sendiri pun belum berani belayar kalau belum siap, dan persiapan yang sebenarnya ialah keizinan dari Allah.
“Dan Dia mudahkan untuk kamu sungai-sungai."
(ujung ayat 32)
Maka pada ujung ayat ini, bahwa Allah memudahkan sungai-sungai untuk manusia, mengingatkan kita akan pentingnya sungai sebagai urat nadi kehidupan, kemajuan, kebudayaan, sejak manusia mengenal pergaulan dalam alam ini. Teringatlah kita apa yang dihasilkan oleh Sungai Nil di Mesir, Sungai Furat dan Dajlah di Irak; Sungai Indus dan Gangga di India. Dan sejak zaman modern betapa peranan sungai di Eropa Barat, seperti Rhin, Donaw, dan lain-lain. Dan sungai-sungai itu pulalah yang dituju oleh nenek moyang bangsa Melayu dan Kepulauan Indonesia ketika berpindah dari India Belakang berpuluh abad yang lalu. Allah telah memudahkan sungai-sungai untuk tamaddun manusia.
Pembicaraan tentang sungai-sungai dalam Al-Qur'an ini menambah iman kita bahwa Nabi Muhammad ﷺ diutus buat seluruh manusia dan seluruh benua. Bukan buat kaumnya saja. Sebab di Hejaz, (Mekah dan Madinah) tidak ada sungai-sungai.
“Dan Dia mudahkan untuk kamu matahari dan bulan yang tetap (beredar)"
(pangkal ayat 33)
Sehingga ketetapan peredaran matahari dan bulan itu membuka pikiran bagi kita untuk menilai waktu; menghitung jam, hari, bulan dan tahun, untuk jadi peringatan dari
masa-masa yang kita lalui dalam hidup ini.
“Dan Dia mudahkan untuk kamu malam dan siang."
(ujung ayat 33)
Dengan peredaran malam dan siang, kita pun dapat membagi hari dalam bekerja. Malam kita istirahat mengumpul kekuatan lahir dan batin, dan kita Tahajjud. Dan siang kita bekerja keras mencari rezeki, menuntut ilmu, mengatur masyarakat, dan beribadah kepada Allah.
“Dan Dia datangkan kepada kamu dari tiap-tiap apa yang kamu minta."
(pangkal ayat 34)
Artinya, sebagaimana dikuatkan juga oleh ayat-ayat yang lain, semuanya yang kita per-lukan di dalam hidup kita, telah disediakan oleh Allah, asal kita memakai pikiran kita mencarinya dan mempergunakannya. Karena kadang-kadang ada juga barang yang ada di sekitar kita, ada faedahnya bagi kita, tetapi kita tidak mempergunakan pikiran buat menyelidiki akan gunanya, sehingga terbuang percuma saja. Oleh sebab itu bunyi ayat “apayang kamu minta," boleh juga diartikan “Apa yang kamu tanyakan." (Saaltumuhu). Tanyakan kepada Allah, dengan mengadakan penyelidikan seksama, niscaya barang-barang yang tadinya kita sangka tidak berguna, akan ternyata ada gunanya."Dan jika kamu hitunglah nikmat Allah, tidaklah akan dapat kamu bilang dia." Misalnya telah dihitung sampai seratus. Maka sampai di seratus itu diadakan satu tanda, setiap sampai seratus satu tanda; ataupun setiap sampai seribu diadakan satu tanda. Akhirnya tanda-tanda bilangan yang banyak itu pun tidak akan dapat dijumlahkan lagi, lantaran banyaknya nikmat. Cobalah sekali-sekali menghitung nikmat Allah pada dirimu sendiri, sejak engkau lahir ke dunia, sampai kini. Dapatkah engkau jumlahkan? Pasti tidak! Namun demikian,
“Sungguh manusia itu sangat zalim dan tidak kenal terima kasih."
(ujung ayat 34)
"Describing Some of Allah's Tremendous Favors
Allah says;
اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالَارْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الَانْهَارَ
Allah is He Who has created the heavens and the earth and sends down water (rain) from the sky, and thereby brought forth fruits as provision for you; and He has made the ships to be of service to you, that they may sail through the sea by His command; and He has made rivers (also) to be of service to you.
Allah mentions some of the favors He has done for His creatures, such as creating the heavens as a protective ceiling and the earth as a bed.
He also sends down rain from the sky and, in its aftermath brings forth a variety of vegetation, fruits and plants of different colors, shapes, tastes, scents and uses.
Allah also made the ships sail on the surface of the water by His command and He made the sea able to carry these ships in order that travelers can transfer from one area to another to transport goods.
Allah also created the rivers that flow through the earth from one area to another as provision for the servants which they use to drink and irrigate, and for other benefits
وَسَخَّر لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَايِبَينَ
And He has made the sun and the moon, both constantly pursuing their courses, to be of service to you;
rotating by night and by day,
وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
and He has made the night and the day to be of service to you.
Allah said in other Ayat,
لَا الشَّمْسُ يَنبَغِى لَهَأ أَن تدْرِكَ القَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
It is not for the sun to overtake the moon, nor does the night outstrip the day. They all float, each in an orbit. (36:40)
and,
يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالاٌّمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَـلَمِينَ
He brings the night as a cover over the day, seeking it rapidly, and (He created) the sun, the moon, the stars subjected to His command. His is the creation and commandment. Blessed is Allah, the Lord of all that exists! (7:54)
The sun and the moon rotate in succession, and the night and the day are opposites, each taking from the length of the other or giving up some of its length,
يُولِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ
(Allah) merges the night into day, and merges the day into night. (35:13)
and,
وَسَخَّـرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُـلٌّ يَجْرِى لاًّجَـلٍ مُّسَـمًّى أَلا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ
And He has subjected the sun and the moon. Each running (on a fixed course) for an appointed term. Verily, He is the Almighty, the Oft-Forgiving. (39:5)
Allah said next
وَاتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ
And He gave you of all that you asked for,
He has prepared for you all that you need in all conditions, and what you ask Him to provide for you,
وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لَا تُحْصُوهَا
.
and if you (try to) count the blessings of Allah, never will you be able to count them.
Allah states that the servants are never able to count His blessings, let alone thank Him duly for them.
..
إِنَّ الاِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
Verily, man is indeed an extreme wrongdoer, ungrateful.
In Sahih Al-Bukhari it is recorded that the Messenger of Allah used to supplicate;
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ غَيْرَ مَكْفِيَ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا
O Allah! All praise is due to You, without being able to sufficiently thank You, nor ever wish to be cutoff from You, nor ever feeling rich from relying on You; our Lord!
It was reported that Prophet Dawud, peace be upon him, used to say in his supplication,
""O Lord! How can I ever duly thank You, when my thanking You is also a favor from You to me""
Allah the Exalted answered him, ""Now, you have thanked Me sufficiently, O Dawud,""
meaning, `when you admitted that you will never be able to duly thank Me."
And He gives you of all that you ask of Him, according to your [individual] best interests. And if you were to enumerate God's graces, meaning His bestowal of graces, you could never number it, you would not be able to count it. Lo! man, the disbelieving [man], is verily a wrong-doer and unthankful!, ever wronging his own soul through [acts of] disobedience and ungratefulness towards God's grace.
Then, in the first sentence of verse 34, it was said: وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ (And He gave you whatever you asked for) - though, what Allah Tad is pleased to give does not depend on being asked by someone for, the truth of the matter is, that we had never asked for our existence itself. This is what He gave to us in His infinite grace without the asking.
Similarly, who had raised hands of prayer that the skies, the earth, the moon, the sun and so many things other than them be created for us? The Master just gave all this to us without our asking for them. Therefore, Al-Qadi Al-Baydawi has explained the meaning of this statement by saying: 'Allah Ta’ ala given you everything which is worth asking for, even if you have not actually asked for it'. But, should it be that the meaning intended here is what the words literally suggest, still then, it poses no problem - for what man generally asks for is usually given to him anyway. However, wherever that which he asks for is not given to him in the outward form it was sought, then, in that there is some expedient consideration for the person asking or for the rest of the world, something he does not know about. But, He who is All-Knowing and All-Aware, He knows that, should that which he is asking for were to be given to him, it would become for him or for his family or for the whole world - a curse. In a situation like this, not giving what has been asked for becomes, in itself, a great blessing. But man, because of his lack of knowledge, cannot realize that, therefore, he feels disappointed.
In the next sentence of verse 34, it was said: وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا (And if you count the bounties of Allah, you cannot count them all) that is, even if all human beings combined together were to count them, they would still remain uncountable. A human being is, as is, a little world, per se. In his or her eyes, nose, ears, hands, feet and in every joint, rather in every muscle and vein, hidden there are endless blessings through which this wonderful walking plant pulsating with hundreds of very delicate micro-machines keeps busy doing all sorts of things. Then, we have the mind-boggling range of Divine creations, up, on and down our earth, in seas and mountains which, despite the revealing research done in modern times and despite the devotion of thousands of experts who have spent their lives trying to determine such life forms, still remain undocumented or unidentified. Then, there is our own concept of Divine blessings whereby we tend to take things which are generally considered as blessings in a positive and perceptible way. In fact, blessings are not re-stricted by such a definition. If we remain safe from diseases, hardships, pain, loss and sorrows, that is a standing blessing in its own right. A person may suffer from so many diseases or discomforts of body and soul in this life and he or she could hardly be expected to keep a count of all that. From this we can guess that it is just impossible for anyone to count out the full array of the blessings, bounties and favours of Allah Ta` ala.
Justice demanded that, in return for these countless blessings, equally countless acts of obedience to Allah and equally countless demonstrations of gratitude to Him should have been made mandatory. But, Allah Ta` ala, in His infinite grace, showed leniency towards intrinsic human weakness. The option granted was: When man looks at reality and con-fesses that fulfilling the demands of the obligatory gratitude is not within his control, then, this very confession has been declared to be sufficient as the alternate of the ideal fulfillment of the obligation of gratitude - as was said by Allah Ta’ ala when Sayyidna Dawud (علیہ السلام) made a similar confession: اَلاٰنَ قد شکرت یا داؤد which means that his making this confession is sufficient to show his gratefulness.
At the end of the verse (34), it was said:إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ (Surely, man is very unjust, very ungrateful). It means that he should face hardship with patience, keep his words and feelings free from any complaint thinking that the fate he faces has come from a wise Master and that too, being in His infinite Wisdom is nothing but a blessing, and when he is blessed with what is good and comforting, let him be thankful for it from his heart both verbally and practically - as is the dictate of justice. But, common human habit works differently from this norm. A little discomfort or pain would make them lose patience and go about broadcasting their problem. And if they find some blessing or a little wealth, they would get intoxicated with it and forget all about Allah Ta’ ala, their Benefactor. Therefore, in a verse appearing earlier (5), the attribute of sincere believers has been identified as Sabbar (very patient) and Shakur (very grateful).