إِبْرَاهِيم ٢٣
- وَأُدۡخِلَ dan dimasukkan
- ٱلَّذِينَ orang-orang yang
- ءَامَنُواْ (mereka)beriman
- وَعَمِلُواْ dan mereka beramal
- ٱلصَّـٰلِحَٰتِ kebajikan/saleh
- جَنَّـٰتٖ sorga
- تَجۡرِي mengalir
- مِن dari
- تَحۡتِهَا bawahnya
- ٱلۡأَنۡهَٰرُ sungai-sungai
- خَٰلِدِينَ mereka kekal
- فِيهَا di dalamnya
- بِإِذۡنِ dengan ijin
- رَبِّهِمۡۖ Tuhan mereka
- تَحِيَّتُهُمۡ penghormatan mereka
- فِيهَا didalamnya
- سَلَٰمٌ salam/sejahtera
Dan orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dimasukkan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam (surga) itu ialah salām.1
Catatan kaki
1 *426) Artinya selamat dari segala bencana.
(Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke alam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal) lafal khaalidiina menjadi hal daripada kalimat yang keberadaannya diperkirakan (di dalamnya dengan seizin Rabb mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu) dari Allah dan dari para malaikat, serta di antara sesama mereka (salaam.).
Tafsir Surat Ibrahim: 21
Dan mereka semuanya (di Padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong, "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikut kalian, maka dapatkah kalian menghindarkan kami dari azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab, "Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepada kalian. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh atau bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”
Firman Allah ﷻ: “Dan mereka semuanya (di Padang Mahsyar) akan berkumpul.” (Ibrahim: 21)
Yakni semua makhluk baik yang taat maupun yang durhaka berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Menang. Dengan kata lain, mereka berkumpul di suatu lapangan (Padang Mahsyar). Di tempat itu tiada sesuatu pun yang menutupi seorang pun.
“Maka berkatalah orang-orang yang lemah.” (Ibrahim: 21)
Mereka adalah orang-orang yang mengikuti pemimpin, panglima, dan pembesar mereka.
“Kepada orang-orang yang sombong.” (Ibrahim: 21) yang tidak mau menyembah Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan tidak mau taat kepada para rasul.
Orang-orang yang lemah itu berkata kepada mereka:
“Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikut kalian.” (Ibrahim: 21)
Maksudnya, dahulu manakala kalian memerintahkan sesuatu kepada kami, kami selalu taat dan mengerjakannya.
“Maka dapatkah kalian menghindarkan kami dari azab Allah (walaupun) sedikit saja?” (Ibrahim: 21)
Yakni dapatkah kalian menghindarkan, kami dari azab Allah seperti yang pernah kalian janjikan kepada kami di masa lalu? Maka para pemimpin mereka berkata kepada mereka:
“Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepada kalian.” (Ibrahim: 21)
Tetapi telah pasti atas diri kami azab Tuhan kami, serta takdir Allah telah menentukan kami dan kalian untuk menerimanya. Dan kepastian siksaan Allah telah ditetapkan atas orang-orang kafir.
“Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh atau bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (Ibrahim: 21)
Artinya, tiada keselamatan bagi kita dari apa yang sedang kita alami sekarang, baik kita bersabar ataupun mengeluh terhadapnya.
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa sesungguhnya sebagian dari penduduk neraka berkata kepada sebagian yang lain, "Marilah kalian semua, sesungguhnya penduduk surga memperoleh surga tiada lain berkat tangisan dan permohonan mereka dengan rendah diri kepada Allah ﷻ. Sekarang marilah kita menangis dan memohon dengan rendah diri kepada Allah." Lalu menangislah mereka seraya memohon kepada Allah dengan berendah diri.
Setelah mereka merasakan bahwa hal itu tidak bermanfaat, berkatalah mereka, "Sesungguhnya penduduk surga memperoleh surga tiada lain berkat kesabaran mereka, maka marilah kita bersabar." Kemudian bersabarlah mereka dengan kesabaran yang belum pernah terlihat mereka melakukannya. Akan tetapi, ternyata kesabaran mereka tidak bermanfaat pula. Maka saat itu juga mereka berkata: “Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh atau bersabar.” (Ibrahim: 21), hingga akhir ayat.
Menurut kami, makna lahiriah dari perdebatan yang terjadi di dalam neraka sesudah mereka berada di dalamnya sama saja pengertiannya dengan apa yang disebutkan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya:
“Dan (ingatlah) ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikut kalian, maka dapatkah kalian menghindarkan dari kami sebagian azab api neraka?’ Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, ‘Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka, karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-Nya)’.'' (Al-Mumin: 47-48)
“Allah berfirman, ‘Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kalian. Setiap sesuatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya, berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, ‘Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.’ Allah berfirman, ‘Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kalian tidak mengetahui.’ Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian, ‘Kalian tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan’." (Al-A'raf: 38-39)
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (Al-Ahzab: 67-68)
Adapun mengenai perdebatan mereka (penduduk neraka) di Padang Mahsyar, hal ini disebutkan oleh Allah ﷻ melalui firman-Nya: “Dan (alangkah) dahsyatnya kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Kalau tidaklah karena kalian, tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.’ Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, ‘Kamikah yang telah menghalangi kalian dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepada kalian? (Tidak), sebenarnya kalian sendirilah orang-orang yang berdosa.’ Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘(Tidak), sebenarnya tipu daya (kalian) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kalian menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.’ Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Saba': 31-33)
Demikianlah nasib buruk orang kafir di hari Pembalasan. Penyesalan
mereka tidak lagi berguna. Dan orang yang beriman kepada Allah dan
rasul-Nya dan membuktikan keimanan mereka dengan mengerjakan
kebajikan dimasukkan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawah pepohonan dan istana-nya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya dengan izin Tuhan mereka Yang Maha Pemurah. Ucapan
penghormatan yang mereka terima dari Allah, malaikat, dan sesama kaum mukmin dalam surga itu ialah salam. Usai mengumpamakan amal orang kafir dengan abu yang ditiup
angin kencang, pada ayat ini Allah beralih memberikan perumpamaan
bagi amal baik orang mukmin. Tidakkah kamu memperhatikan dan
merenungkan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat
yang baik (kalimat tauhid) seperti pohon yang baik, yaitu kurma. Akarnya
menghunjam tanah dengan kuat dan cabangnya menjulang tinggi ke
arah langit.
Pada ayat ini, Allah menyebutkan kembali kebahagiaan yang akan diperoleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan senantiasa beramal saleh, bahwa di akhirat kelak mereka akan ditempatkan di dalam surga, taman yang sangat indah yang di bawah pohon-pohonnya mengalir sungai-sungai yang jernih. Mereka akan tetap berada di dalamnya mengenyam kehidupan yang bahagia, dengan izin Allah sebagai balasan dari iman dan amal saleh mereka selama hidup di dunia. Di sana mereka saling mengucapkan, "Salam," yang berarti sejahtera dari segala bencana. Untuk kita yang masih hidup di dunia ini, agama Islam mengajarkan agar kita menggunakan ucapan selamat "Assalamualaikum" yang berarti "semoga anda senantiasa dalam kesejahteraan". Ini merupakan ajaran yang terbaik untuk mendidik manusia agar rela dan merasa senang bila orang lain beroleh kebahagiaan hidup dan kesejahteraan, sebagaimana ia merasa senang bila ia sendiri memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan itu, dan jauh dari rasa dengki dan hasad. Mengharapkan orang lain mendapat kesengsaraan atau kerugian dan mengharapkan lenyapnya kebahagiaan atau kebaikan dari seseorang adalah sifat yang sangat dibenci oleh agama Islam.
Dalam hubungan ini Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Tidak beriman seseorang di antara kamu, sampai ia cintai untuk saudaranya (sesama mukmin), apa yang ia cintai untuk dirinya. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)
.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Tidakkah engkau lihat, bahwasanya Allah telah menciptakan semua langit dan bumi dengan kebenaran?"
(pangkal ayat 19)
Coba lihat betapa teratur jalannya langit dan bumi itu, semuanya beredar dengan benar, tidak ada yang salah dan yang cacat. Semua seimbang dan setimbang, tidak ada yang patut dicela; apatah lagi kalau telah ada pengetahuan kita tentang rahasia yang ada di dalamnya. Tidak ada yang diciptakan dengan sia-sia.
“Jika Dia kehendaki, niscaya dihilangkan-Nya kamu dan didatangkan-Nya makhluk yangbanu."
(ujung ayat 19)
“Dan yang demikian itu bagi Allah, tidaklah sukar"
(ayat 20)
Hal itu dapatlah kita rasakan apabila kita memerhatikan langit dan bumi. Bumi ini sendiri demikian besarnya, sehingga berjuta-juta manusia, dan beribu macam binatang dapat hidup di dalamnya, namun dia hanya satu di antara berjuta-juta bintang di angkasa luas, yang berjuta di antaranya jauh lebih besar daripada bumi. Kalau demikian halnya apalah sukarnya bagi Allah Ta'aala buat menghapuskan sekelompok umat manusia dari muka bumi itu karena durhakanya kepada Allah, lalu mendatangkan makhluk baru akan gantinya. Apalah sukarnya bagi Allah menghapuskan makhluk yang bernama manusia itu sekaligus jika bumi tempatnya berdiam itu, hanya laksana pasir sebutir di samping bintang-bintang yang lain. Sungguhlah kedua ayat ini menyuruh manusia berpikir, di mana kedudukannya dalam alam ini dan apa yang mesti dikerjakannya selama hidupnya.
“Dan akan menghadaplah mereka sekalian kepada Allah."
(pangkal ayat 21)
Yaitu bila Kiamat datang semua akan menghadap Allah, bagi memperhitungkan per-buatan-perbuatan semasa hidup di dunia.
Si zalim, si aniaya, pemimpin palsu, manusia-manusia yang selama di dunia merasa dan bersikap seakan-akan hidup tidak akan mati-mati, pemuka yang merayu orang dengan berbagai rayuan yang menyesatkan; semuanya itu akan bersama di hadapan Allah, bersama-sama dengan orang lemah yang selama hidupnya di dunia hanyalah menjadi Pak Turut, bondong air, bondong dedak, yang bisa saja dibelok-belokkan ke mana-mana. Semuanya menghadaplah di hadapan Mahkamah Tinggi Ilahi. Di situlah timbul perhitungan atas sikap yang telah dilalui selama di dunia.
“Dan berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang membesarkan diri itu." Yaitu orang-orang yang lemah pendiriannya karena tidak mau mempergunakan akalnya, lalu dia menjadi Pak Turut saja kepada orang-orang yang terkemuka, yang dengan percakapan manis dan sombong telah mengajak si lemah tadi supaya mengikut mereka, walaupun ajakannya itu kepada kesesatan. Kadang-kadang orang-orang ini sebagai pemimpin agama atau kepala peme-rintahan atau pengadu untung. Setelah semuanya berdiri di hadapan Allah untuk menghadapi perhitungan, barulah si lemah tadi mengerti bahwa kepadanya diadakan pemeriksaan langsung, maka dia pun kehilangan daya karena di kala hidup, dia pun dalam hati kecilnya merasa bahwa ajakan orang-orang yang membesarkan diri itu adalah ajakan yang salah, tetapi dia demikian lemah semangatnya, sehingga menurut saja. Setelah sampai ke gelanggang bersoal jawab itu, bertemulah dia kembali dengan orang yang menyesatkannya itu, lalu katanya, “Sesungguhnya kami ini adalah pengikut kamu." Kalau tidak karena menuruti ajakan kamu, tidaklah nasib kami akan jadi begini."Maka bisakah kamu melepaskan kami agak sedikit pun dari adzab Allah?" Seakan-akan kita rasakan betapa suasana yang meliputi perasaan orang yang beragama hanya karena turut-turutan pada masa itu banyak bergantung kepada akar yang lapuk. Apakah jawab yang dapat diberikan oleh orang yang masa di dunia begitu dibesar-besarkan dan diagung-agungkan? Yang si lemah pribadi datang melindungkan diri kepadanya? Apakah yang dapat mereka jawabkan pada saat seorang manusia tidak ada kelebihannya dari yang lain kalau bukan karena amalnya yang baik?
“Mereka menjawab, “Kalau Allah memberi petunjuk kami, niscaya telah kami beri pe-tunjuk (pula) akan kamu." Di saat itulah mereka mengakui terus terang bahwa segala pengajaran yang mereka berikan kepada si lemah bodoh itu bukanlah petunjuk Allah kepada mereka, melainkan timbul dari per-dayaan hawa nafsu mereka sendiri, penipu karena merasa diri orang pandai, sehingga ada di antara mereka yang menjamin pengikutnya yang bodoh itu akan masuk ke surga asal mau menuruti apa yang dia ajarkan. Di sanalah baru mereka mengaku bahwa derajat mereka seperti yang diikut, sama saja dengan yang mengikut."Sama saja bagi kita, apakah kita bersusah hati atau kita bersabar." Pada saat sekarang setelah berhadapan dalam Mahkamah Allah sudah sama saja bagi kita, bersusah hati ataupun bersabar, namun adzab akan kita terima juga. Masing-masing menurut besar dan kecilnya kesalahan.
“Tidak ada lagi tempat kita lari."
(ujung ayat 21)
Ayat ini memberikan ketegasan bahwasanya dalam hai beragama, pakailah akal yang murni dan jangan salah memilih pemimpin. Pemimpin yang sebenarnya hanya Nabi, dialah yang akan mengeluarkan manusia dari gelap gulita kebodohan kepada terang benderang iman, berpedoman kepada ajaran kitab yang diwahyukan Allah.
“Dan berkatalah setan setelah hukum diputuskan"
(pangkal ayat 22)
Yaitu setelah Allah menjatuhkan keputus-an hukum-Nya tentang amal baik atau amal buruk seseorang."Sesungguhnya Allah telah berjanji dengan kamu, suatu perjanjian yang benar." Setan mengaku bahwa janji Allah itulah yang benar. Yaitu apabila diikuti suruhan dan dihentikanlaranganAllah,merekaakanselamat. Itulah janji yang benar. Tetapi si setan datang mengganggu."Dan aku pun telah berjanji dengan kamu, tetapi aku salahi janjiku dengan kamu itu." Artinya, janji yang aku kemukakan kepada kamu itu adalah janji yang palsu; yang buruk aku katakan baik, yang baik aku katakan buruk, lalu dia mengaku hal yang sebenarnya terus terang."Dan tidaklah ada bagiku kekuasaan atas kamu, melainkan setelah aku ajak kamu, kamu perkenankan ajakanku, maka janganlah kamu mencela aku, tetapi celalah dirimu (sendiri)." Sebab lantaran bodohmu kamu suka aku tipu.
Sekarang datanglah hari perhitungan yang sebenarnya, masing-masing kita menerima keputusan tentang kesalahan masing-masing di hadapan Allah."Tidaklah aku dapat menolong kamu, dan tidak pula kamu dapat menolong aku." Bertanggungjawablah kita masing-masing atas perbuatan kita tangan yang mencencang, bahulah yang memikul."Sesungguhnya aku kufur kepada pekerjaanmu menyekutukan daku dahulunya." Artinya pada hakikatnya aku sendiri tidaklah menyetujui perbuatanmu itu menyekutukan Allah dengan daku, karena menjalankan dua perintah dan melaksanakan dua perjanjian yang berlawan, yakni janji Allah yang benar beserta janjiku yang bohong. Maka datanglah peringatan Allah,
“Sesungguhnya orang-orang yang zalim."
— yang aniaya atas dirinya sendiri karena menuruti jalan yang salah — “Bagi mereka adalah adzab yang pedih."
(ujung ayat 22)
Demikianlah setan, kalau tidak demikian, tidak setan namanya. Di waktu di dunia dia merayu membawa manusia ke jalan yang salah, membuat janji-janjian yang palsu. Namun setelah datang hari pertanggungjawaban, dia berlepas diri. Maka terkatung-katunglah para pengikut, sebab si setan lebih dahulu telah menutup pintu, mengatakan bahwa kita sekarang tidak dapat tolong menolong lagi. Aku tak dapat menolong kamu dan kamu pun tak dapat menolong aku, marilah kita melepaskan diri masing-masing. Di saat itu baru dia mengaku terus terang bahwa janji yang benar ialah janji Allah. Adapun janji dan bujuk rayu yang dikemukakannya masa di dunia adalah hampa belaka dan dia sendiri yang lebih dahulu memungkirinya. Yang salah sebenarnya bukanlah aku, aku ini memang sudah sengaja tukang memperdayakan makhluk. Yang salah itu ialah kamu, mengapa kamu turutkan kataku. Sebab itu yang akan disesali janganlah pula aku, melainkan sesalilah dirimu sendiri.
Dia membasuh tangan — dan memang demikianlah setan — Setelah di saat itu baru dia mengaku bahwa dia tidak mengakui lagi apa yang dipersekutukan oleh orang-orang yang diperdayakannya itu. Dan di penutup perkataannya barulah dikatakannya keadaan yang sebenarnya, yaitu bahwa orang yang zalim adalah diancam oleh adzab siksaan yang pedih sekali.
Apa lagi tempat berpegang dari orang yang imannya hanya turut-turutan kepada orang lain dan hidupnya dikendalikan oleh setan.
Al-Qasyani menulis dalam tafsirnya, “Tatkala telah nyata kuasa kebenaran oleh setan keraguan, dan telah mendapat terang dari sinarnya mulailah dia tunduk dan menyerah. Mulailah dia mengakui bahwa hujjahkebenaran itu adalah pada Allah, bukan padanya. Dan seruan rayuannya kepada yang batil selama ini, dengan penipuan dan membuat perdayaan dengan hidup di dunia, adalah lemah dan kosong. Mulailah dia mengakui bahwa yang kekal itu ialah janji Allah, sesudahnya badan itu rusak, dan ganjaran atau siksaan sesudah hari kebangkitan kelak, adalah kebenaran sejati yang tidak diragukan lagi."Janjiku bahwa hidup ini hanya sehingga dunia saja adalah kosong." Yang akan mendapat penyesalan tidak lain ialah orang yang menerima pimpinan yang salah itu, yang tidak mempunyai alasan sama sekali. Yang menolak seruan-seruan yang benar dan tidak mempedulikannya." Sekian al-Qasyani.
Pada ayat-ayat ini Allah menjelaskan bahwa sampai kepada mahkamah perhitungan besar itu semua yang diikut akan berlepas diri. Baik guru atau pemimpin yang mengajarkan pengajian yang salah, atau setan yang memang musuh turun-temurun dari manusia. Bahkan setan-setan pada ayat ini pun ada juga ditafsirkan dengan manusia yang berperangai sebagai setan, merayu-rayu orang yang lemah dan tidak berpendirian, sehingga tersesat. Di saat yang penting itu, semua angkat bahu.
Maka kesan yang ditinggalkan oleh ayat-ayat ini, ialah bahwa janganlah beragama itu hanya turut-turutan, bahkan pakailah pertimbangan sendiri. Karena kalau tersesat, yang akan menanggungkan adalah diri sendiri pula. Sedang pelajaran asli dari rasul telah terbentang pada Al-Qur'an dan as-Sunnah beliau. Carilah guru yang jujur untuk mempelajari tuntunan agama yang benar itu.
“Dan dimasukkan orang-orang yang beriman dan beramal shalih ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dengan izin Tuhan mereka. Penghormatan mereka di dalamnya ialah “Salam!"
(ayat 23)
"Shaytan disowns His Followers on the Day of Resurrection
Allah tells:
وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الَامْرُ
And Shaytan will say when the matter has been decided:
Allah narrates to us what Iblis will say to his followers after Allah finishes with the judgement between His servants, sending the believers to the gardens of Paradise and the disbelievers to the lows (of the Fire).
Iblis, may Allah curse him, will stand and address the latter, in order to add depression to their depression, sorrow to their sorrow and grief to their grief.
He will declare,
إِنَّ اللّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ
`Verily, Allah promised you a promise of truth.
by the words of His Messengers that if you follow them, you will gain safety and deliverance. Truly, Allah's promise was true and correct news, while I promised you then betrayed you.'
وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ
And I too promised you, but I betrayed you.
Allah said in another Ayah,
يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمْ الشَّيْطَـنُ إِلاَّ غُرُوراً
He (Shaytan) makes promises to them, and arouses in them false desires; and Shaytan's promises are nothing but deceptions. (4:120)
وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ
I had no authority over you,
Shaytan will say, `I had no proof for what I called you to, nor evidence for what I promised you,
إِلاَّ أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي
except that I called you, and you responded to me.
even though the Messengers establish the proof and unequivocal evidences against you and affirmed the truth of what they were sent to you with. But you disobeyed the Messengers and ended up earning this fate,
فَلَ تَلُومُونِي
So blame me not, (today),
وَلُومُواْ أَنفُسَكُم
but blame yourselves,
because it is your fault for defying the proofs and following me in the falsehood that I called you to.'
Shaytan will say next,
مَّا أَنَاْ بِمُصْرِخِكُمْ
I cannot help you,
I cannot benefit, save, or deliver you from what you are suffering,
وَمَا أَنتُمْ بِمُصْرِخِيَّ
nor can you help me.
nor can you save me and deliver me from the torment and punishment I am suffering,
إِنِّي كَفَرْتُ بِمَأ أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ
I deny your former act of associating me (Shaytan) as a partner with Allah.
or because you associated me with Allah before,' according to Qatadah.
Ibn Jarir commented;
""I deny being a partner with Allah, the Exalted and Most Honored.""
This opinion is the most plausible, for Allah said in other Ayat,
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لاَّ يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَـمَةِ وَهُمْ عَن دُعَأيِهِمْ غَـفِلُونَ
وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُواْ لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُواْ بِعِبَادَتِهِمْ كَـفِرِينَ
And who is more astray than one who calls on others besides Allah, such as will not answer him till the Day of Resurrection, and who are (even) unaware of their calls to them!
And when mankind are gathered, they will become their enemies and will deny their worshipping. (46:5-6)
and,
كَلَّ سَيَكْفُرُونَ بِعِبَـدَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدّاً
Nay, but they (the so-called gods) will deny their worship of them, and become opponents to them. (19:82)
Allah said next,
إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Verily, there is a painful torment for the wrongdoers.""
إِنَّ الظَّالِمِينَ
(Verily, the wrongdoers),
who deviate from truth and follow falsehood, will earn a painful torment.
It appears that this part of the Ayah narrates the speech that Shaytan will deliver to the people of the Fire after they enter it, as we stated.
Amir Ash-Sha`bi said,
""On the Day of Resurrection, two speakers will address the people. Allah the Exalted will say to `Isa, son of Maryam,
أَءَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِى وَأُمِّىَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ
Did you say unto men:""Worship me and my mother as two gods besides Allah!"" (5:116)
until,
قَالَ اللَّهُ هَـذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّـدِقِينَ صِدْقُهُمْ
Allah will say:""This is a Day on which the truthful will profit from their truth."" (5:119)
Shaytan, may Allah curse him, will stand and address the people,
وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلاَّ أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي
I had no authority over you except that I called you, and you responded to me.
Allah after mentioning the final destination of the miserable ones, who earned the disgrace and torment and having to listen to Shaytan address them, then He mentioned the final destination of the happy ones.
Allah says
وَأُدْخِلَ الَّذِينَ امَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الَانْهَارُ
And those who believed and did righteous deeds, will be made to enter Gardens under which rivers flow,
wherever they wish them to flow and wherever they may be,
خَالِدِينَ فِيهَا
to dwell therein for ever,
and will never transfer or be transferred from it,
بِإِذْنِ رَبِّهِمْ تَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَمٌ
with the permission of their Lord. Their greeting therein will be:""Salam (peace!).""
Allah said in other Ayat,
حَتَّى إِذَا جَأءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَـمٌ عَلَيْكُـمْ
Till, when they reach it, and its gates will be opened and its keepers will say:""Salamun Alaykum (peace be upon you)!"" (39:73)
وَالمَلَـيِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِّن كُلِّ بَابٍسَلَـمٌ عَلَيْكُمُ
And angels shall enter unto them from every gate (saying):""Salamun Alaykum (peace be upon you)!"" (13:23-24)
وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَـماً
Therein they shall be met with greetings and the word of peace and respect. (25:75)
دَعْوَهُمْ فِيهَا سُبْحَـنَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَمٌ وَءَاخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَـلَمِينَ
Their way of request therein will be Subhanaka Allahumma (glory to you, O Allah) and Salam (peace!) will be their greetings therein (Paradise)!
And the close of their request will be:Al-Hamdu Lillahi Rabbil-'Alamin (all praise to Allah the Lord of that exists). (10:10)"
And those who believed and performed righteous deeds, they are admitted to the Paradises underneath which rivers flow, abiding (khaalideena is a circumstantial qualifier of an implied situation) therein by the leave of their Lord, their greeting therein, from God and from the angels, and between themselves: 'Peace!'.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.