إِبْرَاهِيم ١
- الٓرۚ Alif Lam Ra'
- كِتَٰبٌ kitab
- أَنزَلۡنَٰهُ Aku turunkan kepadanya
- إِلَيۡكَ kepadamu
- لِتُخۡرِجَ keluar
- ٱلنَّاسَ manusia
- مِنَ dari
- ٱلظُّلُمَٰتِ gelap
- إِلَى ke
- ٱلنُّورِ cahaya
- بِإِذۡنِ dengan izin
- رَبِّهِمۡ Tuhan mereka
- إِلَىٰ kepada
- صِرَٰطِ jalan
- ٱلۡعَزِيزِ Maha Kuasa
- ٱلۡحَمِيدِ Maha Terpuji
Alif Lām Rā`. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.
Ibrahim
(Alif laam raa) hanya Allahlah yang mengetahui maksudnya. Al-Qur'an ini adalah (Kitab yang Kami turunkan kepadamu) Muhammad (supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan) dari kekafiran (kepada cahaya) yaitu agama Islam. (Dengan izin) perintah (Rabb mereka) lafal an-nuur diterangkan secara jelas pada ayat berikut ini: (yaitu ke jalan) tuntunan (Tuhan Yang Maha Perkasa) Maha Menang (lagi Maha Terpuji.) Yang Maha Terpuji.
Tafsir Surat Ibrahim: 1-3
Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena azab yang sangat pedih,
(Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.
Ayat 1
Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan tafsir mengenai huruf-huruf terpisah yang terdapat dalam permulaan banyak surat.
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu.” (Ibrahim: 1)
Maksudnya, ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, Muhammad. Yang dimaksud ialah Al-Qur'an yang merupakan Kitab yang paling mulia, yang diturunkan Allah ﷻ dari langit kepada rasul yang paling mulia. Allah telah mengutusnya di bumi ini kepada semua penduduknya, baik yang berbangsa Arab maupun 'Ajam (non-Arab).
“Supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang.” (Ibrahim: 1)
Dengan kata lain, sesungguhnya Kami mengutusmu hai Muhammad dengan membawa Kitab (Al-Qur'an) ini tiada lain untuk mengeluarkan manusia dari kesesatan menuju jalan petunjuk dan kebenaran, seperti yang diungkapkan oleh Allah ﷻ dalam ayat lain melalui firman-Nya:
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran).” (Al-Baqarah: 257), hingga akhir ayat.
“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur'an) supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya.” (Al-Hadid: 9)
Fiman Allah ﷻ: “Dengan izin Tuhan mereka.” (Ibrahim: 1)
Artinya, Dialah yang memberi petunjuk kepada orang yang telah ditakdirkan-Nya untuk mendapat petunjuk melalui Rasul-Nya yang diutus untuk membawa perintah-Nya. Rasul memberi mereka petunjuk:
“Menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa.” (Ibrahim: 1)
Yakni Yang Maha Perkasa, tiada yang dapat menandingi dan tiada yang dapat mengalahkan-Nya, bahkan Dia Maha Mengalahkan semuanya.
“Lagi Maha Terpuji.”(Ibrahim: 1)
Allah Maha Terpuji dalam semua perbuatan, perkataan, syariat, perintah, dan larangan-Nya; lagi Mahabenar dalam berita-Nya.
Firman Allah ﷻ: “Allah Yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi.” (Ibrahim: 2)
Sebagian ulama tafsir membacanya dengan bacaan rafa' dianggap sebagai kalimat baru, sedangkan ulama lainnya membacanya dengan bacaan jar karena mengikuti sifat Allah, yaitu lafaz Al-Hamid. Perihalnya sama dengan firman Allah ﷻ dalam ayat lain, yaitu: “Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi’.” (Al-A'raf: 158), hingga akhir ayat.
Ayat 2
Firman Allah ﷻ: “Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena azab yang sangat pedih.” (Ibrahim: 2)
Maksudnya, kecelakaanlah bagi mereka pada hari kiamat nanti sebab mereka menentangmu dan mendustakanmu, hai Muhammad. Kemudian Allah menyebutkan bahwa mereka lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, yakni mereka mendahulukan kepentingan dunia dan menjadikannya di atas segalanya. Mereka bekerja untuk kehidupan duniawinya dan melupakan akhirat mereka, dan mereka meninggalkan urusan akhiratnya di belakang mereka.
Ayat 3
“Dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (Ibrahim: 3).
Yang dimaksud dengan jalan Allah ialah mengikuti rasul-rasul.
“Dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok.” (Ibrahim: 3)
Yakni mereka menghendaki agar jalan Allah bengkok, tidak lurus, dan terhambat; padahal jalan Allah itu lurus, tiada membahayakannya sikap orang-orang yang menentangnya, tidak pula orang-orang yang menghinanya. Mereka yang menginginkan demikian berada dalam kebodohan dan kesesatan yang jauh dari kebenaran. Tiada kebaikan yang diharapkan bagi mereka selama mereka bersikap demikian.
Surah ar-Ra'd diakhiri dengan penegasan bahwa Allah dan orangorang yang diberi Al-Kitab akan menjadi saksi atas kebenaran risalah
Nabi Muhammad. Sebagai sambungannya, Surah Ibrahim ini lalu diawali dengan penjelasan bahwa Allah menurunkan Al-Qur'an kepada
Nabi Muhammad untuk mengajak manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Allah. Alif Laam Raa'. Ini adalah Kitab Al-Qur'an
yang Kami turunkan kepadamu, wahai Nabi Muhammad, agar engkau
mengeluarkan manusia dari kegelapan kemusyrikan kepada cahaya tauhid
yang terang-benderang, dengan izin Tuhan, yaitu menuju jalan Tuhan Yang
Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Allah Yang Mahaperkasa itulah yang memiliki apa saja yang ada di langit
dan apa saja yang ada di bumi. Bukti-bukti tentang wujud, keesaan, dan
kekuasaan Allah berulang kali dijelaskan, tetapi masih banyak orang
yang mengingkari. Oleh sebab itu, celakalah bagi orang yang ingkar kepada Tuhan karena mereka pasti akan mendapat siksaan yang sangat berat.
Surah ini dimulai dengan "Alif Lam Ra". (Lihat tafsirnya pada jilid pertama pada judul "mafatihus suwar".) Dalam firman Allah ﷻ sesudah Alif Lam Ra menjelaskan maksud dan tujuan diturunkannya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad. Allah menurunkan Al-Qur'an kepada Rasulullah agar petunjuk dan peraturan-peraturan yang dibawa Al-Qur'an itu dapat menjadi tuntunan dan bimbingan kepada umatnya. Dengan petunjuk itu mereka dapat dikeluarkan dari kegelapan ke cahaya yang terang-benderang, atau dari kesesatan dan kejahilan ke jalan yang benar dan mempunyai ilmu pengetahuan serta peradaban yang tinggi, sehingga mereka memperoleh rida dan kasih sayang Allah ﷻ di dunia dan di akhirat.
Penegasan tentang fungsi Al-Qur'an ini sangat penting sekali, apalagi jika dihubungkan dengan ayat-ayat yang lalu, di mana Allah ﷻ telah menyebut-kan adanya orang-orang yang mengingkari Al-Qur'an, baik sebagian, maupun keseluruhannya.
Selanjutnya dalam ayat ini diterangkan bahwa Rasulullah hanya dapat menjalankan tugas tersebut di atas dengan izin dan bantuan dari Allah ﷻ, dengan cara memberi kemudahan dan menguatkan tekad beliau dalam menghadapi segala rintangan. Al-Qur'an merupakan jalan yang dibentangkan Allah Yang Mahakuasa dan Maha Terpuji bagi Nabi Muhammad dan umatnya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SURAH IBRAAHIIM
(NABI IBRAHIM A.S.)
SURAH KE-14, 52 AYAT, DITURUNKAN DI MEKAH
(AYAT 1-52)
Dengan nama Allah Yang Maha Murah lagi Pengasih.
“Alif Laam Raa" — Tentang artinya sudah banyak kita bicarakan pada surah-surah yang lain.
“Inilah satu kitab yang Kami turnkan dia kepada engkau."
(pangkal ayat 1)
Yaitu inilah Kitab Al-Qur'an, sebagai wahyu dari Ilahi, diturunkan kepada engkau, ya Muhammad, Gunanya ialah “Supaya engkau keluarkan manusia dari gelap gulita kepada terang benderang
Denganmemakai kitabini sebagai pedoman, berusahalah engkau mengeluarkan manusia daripada gelap gulita kejahilan, kerusakan akhlak, kezaliman dan terutama tidak mengenal Allah, tidak mempunyai pendirian dan tujuan hidup; dari kegelapan yang demikian itulah mereka supaya dikeluarkan menuju kepada terang benderang, kepada nur, cahaya petunjuk Ilahi. Cahaya pengetahuan, cahaya tauhid dan makrifat, mengenal diri dan mengenal Allah, mengenal jalan mana di dalam hidup ini yang akan ditempuh. Maka isi kitab yang diturunkan sebagai wahyu itu tidaklah akan ada manfaatnya kalau sekiranya Muhammad, Nabi yang telah dipilih buat menyebarkannya itu tidak mempunyai kekerasan hati buat menyampaikannya."Denganizin 7bhanmerek«."Di sini tersimpanlah inti wahyu Ilahi tentang kewajiban Muhammad dan janji dari Allah. Kewajiban Muhammad ﷺ ialah menyampaikan wahyu ini, sesampai-sampainya, dengan tidak mengenal bosan dan mesti selalu sabar. Adapun datangnya petunjuk atau keluarnya manusia dari gelap gulita kepada terang benderang, adalah dengan izin Allah jua. Karena Allah-lah Yang Maha Kuasa membuka hati manusia. Yang penting permulaan sekali ialah sikap hidup Muhammad yang akan menjadi teladan, supaya selaras dengan kehendak Al-Qur'an itu. Dia adalah laksana suatu mercu-suar untuk dijadikan teladan oleh manusia yang haus akan cahaya. Yaitu menuju
“Kepada jalan (Tuhan) Yang Mahagagah, Maha Terpuji."
(ujung ayat 1)
Allah itu Mahagagah Perkasa menentukan jalannya. Jalan itu lurus, tidak boleh di-belokkan ke kiri dan ke kanan. Barangsiapa yang menyeleweng dari jalan itu akan dihukum oleh kegagahperkasaan Ilahi, celaka dia dalam perjalanan, baik sedang di atas dunia ataupun di akhirat. Dan Allah itu pun Maha Terpuji; karena Dia akan segera memberikan petunjuk dan bimbingan bagi barangsiapa yang menuruti jalan yang lurus itu. Dia akan lepas dari ruang yang gelap gulita dalam jiwa dan dalam budi. Dia akan diantarkan ke dalam suasana yang terang benderang dalam iman dan dalam hidup sehingga selamat dengan bimbingan Allah sendiri.
Maka kufur adalah gelap dan iman adalah cahaya. Kegelapan adalah dalam jiwa yang ragu-ragu, yang tidak ada pendirian dan tidak ada bimbingan wahyu. Terang adalah dalam keyakinan. Terang adalah karena hidup disuluhi oleh petunjuk dan hidayah Allah.
Tugas beliau ialah mengeluarkan manusia dari gelap kepada terang. Untuk seluruh ma-nusia, bukan semata-mata kaumnya saja. Gelap, ialah kejahilan dan terang ialah iman. Gelap ialah syirik, mempersekutukan yang lain dengan Allah, dan terang ialah tauhid; Mengakui tidak ada Tuhan melainkan Allah. Meskipun hari siang landang, bagi orang yang jiwanya gelap, atau otaknya gelap, sama sajalah keadaannya dengan malam. Maka tauhid itu adalah kecerdasan. Jalan yang terang itu ditempuh dengan izin Allah, artinya Allah-lah yang membuka jalan yang terang itu bagi hamba-hamba-Nya, yakni Allah Yang Mahagagah, lagi Maha Terpuji. Gagah Dia; sebab barangsiapa yang membelok dari jalan itu pasti dihukum-Nya dan Terpuji Dia. Sebab barangsiapa yang setia menuruti jalan itu akan diberi-Nya hidayah.
“(Yaitu) Allah, yang kepunyaan-Nyalah apa yang di semua langit dan apa yang di bumi."
(pangkal ayat 2)
Untuk menjelaskan bagi manusia bahwa untuk selamatnya sendiri manusia, harus me-ngerti bahwa dia tidak akan selamat menempuh jalan yang lain, selain dari jalan yang digariskan Allah. Mengelak ke jalan yang lain tidak bisa, sebab semua Dia yang empunya. Baik yang
di langit ataupun yang di bumi. Menentang kehendak Allah adalah pekerjaan sia-sia.
“Dan kecelakaanlah bagi orang-orang yang tidak mau percaya, dari adzab yang bersangaian."
(ujung ayat 2)
Ayat yang selanjutnya kelak membuka rahasia apa yang menjadi sebab maka orang tidak mau percaya, mengapa maka orang mau jadi kufur, sehingga kelak mereka akan ditimpa celaka adzab yang bersangatan itu.
“(Yaitu) orang-orang yang lebih mencintai akan hidup dunia ini melebihi akhirat, dan yang menghambat akan jalan Allah."
(pangkal ayat 3)
Kehidupan dunia ini terlalu mengikat hatinya, sehingga seluruh tenaga dan pikirannya hanya ditujukannya untuk dunia. Tidak dijadikannya kesempatan di dunia itu untuk kebahagiaannya di belakang hari, di akhirat. Boleh jadi ada juga kepercayaannya kepada Aliah, tetapi amat lemah karena rayuan hidup. Oleh sebab itu buruk dan baik baginya hanyalah diukur dengan kepentingan dirinya sendiri dalam keduniaan itu. Mungkin dia suka berbuat yang baik, tetapi hanya sekedar buat mencari pujian keduniaan. Menempuh jalan Allah yang sungguh-sungguh dia tidak mau, karena itu akan merugikan bagi dunianya, malahan kalau dunianya akan rugi, dia tidak keberatan menghambat dan menghalangi jalan Allah itu. Kemudian bila bertambah dia lupa akan hari akhirat dan bertambah sombongnya penghalangannya kepada jalan Allah itu akan bertambah lagi."Dan yang mau supaya dia bengkok." Artinya dia mulai berusaha supaya orang yang menempuh jalan yang benar itu berhenti dari kebenaran, dan menuruti kehendaknya. Tinggalkan jalan itu dan turuti jalannya yang sesat!
“Itulah orang-orang yang di dalam kesesatan yang jauh."
(ujung ayat 3)
Artinya kian lama dia kian jauh dari jalan yang benar. Sebab pembelokan sedikit saja, walaupun satu titik kecil di permulaan langkah, akibat ujungnya sudahlah sangat jauh dari tujuan bermula, dan hanyutlah dia tidak dapat dipanggil kembali lagi.
“Dan tidaklah Kami mengutus akan seorang Rasul melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya dia jelaskan kepada mereka."
(pangkal ayat 4)
Nabi Muhammad adalah salah seorang dari rasul-rasul itu, dan dia diutus untuk seluruh manusia, seperti yang disebut pada ayat 1 tadi. Tetapi karena yang mula sekali didatanginya dari antara seluruh manusia itu ialah kaumnya kaum Quraisy yang memakai bahasa Arab, maka dengan bahasa Arab itulah beliau diutus, dan dengan bahasa Arab itulah AI-Qur'an diturunkan."Supaya dia jelaskan kepada mereka." Dan setelah mendengar penjelasan wahyu dalam bahasa mereka itu, sampai seterang-terangnya, mudahlah kelak menyebarkan bahasa itu kepada bangsa bangsa yang berbahasa lain. Karena maksud ialah menggali isinya yang penuh cahaya itu.
“Maka disesatkan oleh Allah siapa yang Dia kehendaki dan diberi-Nya petunjuk siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia adalah Maha Gagah, Maha Bijaksana."
(ujung ayat 4)
Dengan sambungan firman Allah itu, hilanglah kemusykilan setengah orang. Yaitu kalau memang Nabi Muhammad ﷺ itu diutus untuk seluruh manusia mengapa Al-Qur'an tidak diturunkan dalam segala bahasa, mengapa kebetulan bahasa Arab yang dipentingkan. Kalau sekiranya wahyu dalam permulaan turunnya itu, yang diserahkan menyampaikannya kepada seorang Rasul dari satu bangsa, yaitu bangsa Arab dan bahasa Arab, diwahyukan dalam berbagai bahasa, niscaya pecahlah pimpinan. Perkara bahasa bahkan sampai kepada zaman kita sekarang ini masih saja menjadi soal musykil dalam beberapa negara. Kalau Nabi Muhammad ﷺ, diutus untuk seluruh dunia dengan memakai bahasa kaumnya, yaitu bahasa Arab, adalah hal itu soal yang sewajarnya bagi kesatuan umat yang dipimpinnya. Umat itu yang wajib mencari dia dan mengikut dia, tidak dia yang mesti berpusing-pusing mempelajari terlebih dahulu bahasa Persia, bahasa India, bahasa Spanyol, bahasa Romawi, bahasa Ibrani dan lain-lain yang ada pada masa itu. Tetapi dalam kenyataan langkah kemajuan Islam, bahasa Arab itulah yang merata ke seluruh dunia sebagai bahasa kesatuan dari satu agama, yang di zaman sekarang tidak kurang dari 900 juta pemeluknya. Menjadi suatu bahasa yang bersifat internasional. Maka Allah sesatkan barangsiapa yang Dia kehendaki, walaupun dia orang Arab dan memakai bahasa Arab, dan diberi-Nya petunjuk siapa yang Dia kehendaki, walaupun bahasa aslinya bukan bahasa Arab. Dari zaman ke zaman muncul orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dengan Al-Qur'an bahasa Arab itu, bahasa Nabi Muhammad ﷺ, walaupun mereka bukan asli orang Arab. Kita sebut saja yang terdekat di tanah Indonesia ini seumpama Syekh Nawawi Banten, Syekh Abdush Shamad Palembang, Syekh Ahmad Khathib Minangkabau, semua itu adalah ulama Islam bangsa Indonesia di abad-abad kedelapan belas dan sembilan belas, menyebarkan karangan mereka tentang Islam dalam bahasa Arab, itulah bukti bahwa Allah memang Mahagagah, sehingga dengan kekuat-an-Nya sendiri dibela-Nya bahasa itu 14 abad sampai sekarang, dan Mahabijaksana, sehingga rahmat keimanan itu dilimpahkan-Nya pula ke seluruh bangsa manusia yang percaya kepada risalah Muhammad, baik Arab, atau Ajam, atau Hindi, atau Indonesia; Alhamdulillah.
“Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan ayat-ayat Kami."
(pangkal ayat 5)
Ayatini sebagai rangkaian dari ayatsebelum-nya, bahwa Muhammad diutus dengan memakai bahasa kaumnya, maka dahulu dari dia pun Allah telah mengutus pula Nabi Musa, niscaya dengan lidah kaumnya pula, dan membawa tanda-tanda, ayat-ayat atau mukjizat. Maksud kedatangan Musa itu pun sama dengan maksud kedatangan Muhammad sebagai tersebut pada ayat 1, yaitu “Bahwa engkau keluarkan kaum engkau dari gelap gulita kepada terang benderang." Gelap gulita penindasan Fir'aun kepada kebebasan dan penindasan menyembah Allah Yang Maha Esa, Gelap gulita perbudakan dan penghinaan menjadi kaum yang bebas merdeka di bawah pimpinan nabinya sendiri. Karena memandang manusia atau benda yang lain sebagai Tuhan yang berkuasa pula di samping Allah adalah suatu kegelapan dalam jiwa, yang wajib diganti dengan terang benderang ruhari: “Dan peringat-kanlah mereka dengan hari-hari Allah." Hari-hari Allah ialah suka duka yang telah ditempuh dalam kehidupan, masa pasang naik dan pasang turun, masa penindasan dan kelepasan dari penindasan itu. Berapa banyak yang telah ditempuh oleh Bani Israil, sejak dari masa masih dalam perbudakan di Mesir sampai kepada terlepas dari belahnya lautan di Laut Qulzum, sampai ke seberang dan percobaan iman karena perdayaan Samiri yang menipu menyuruh menyembah berhala ‘Ijil. Bagaimana pula Allah menurunkan Taurat-Nya untuk mengatur kehidupan mereka, baik dalam urusan agama ataupun dalam urusan masyarakat.
Suka dan duka Ayyamillah atau Hari-hari Allah ini perlu diingat; supaya di waktu senang jangan sampai lupa daratan.
“Sesungguhnya pada yang demikian adalah tanda-tanda bagi tiap-tiap orang yang sabar, lagi bersyukur."
(ujung ayat 5)
"Tafsir of Surah Ibrahim
Describing the Qur'an and warning Those Who defy it
Allah says,
الَر
Alif-Lam-Ra.
Previously we discussed the meaning of the separate letters that appear in the beginnings of some Surahs.
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ
(This is) a Book which We have revealed unto you...
Allah says, `This is a Book that We have revealed to you, O Muhammad. This `Book', is the Glorious Qur'an, the most honored Book, that Allah sent down from heaven to the most honored Messenger of Allah sent to all the people of the earth, Arabs and non-Arabs alike,
لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
in order that you might lead mankind out of darkness into light,
We sent you, O Muhammad, with this Book in order that you might lead mankind away from misguidance and crookedness to guidance and the right way,'
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءامَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَـتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَأوُهُمُ الطَّـغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَـتِ
Allah is the Wali (Protector or Guardian) of those who believe. He brings them out from darkness into light.
But as for those who disbelieve, their Awliya (supporters and helpers) are Taghut (false deities), they bring them out from light into darkness. (2:257)
and,
هُوَ الَّذِى يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ ءَايَـتٍ بَيِّنَـتٍ لِّيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمَـتِ إِلَى النُّورِ
It is He Who sends down manifest Ayat to His servant that He may bring you out from darkness into light. (57:9)
Allah said next,
بِإِذْنِ رَبِّهِمْ
by their Lord's leave,
He guides those whom He destined to be guided by the hand of His Messenger, whom He sent to guide them by His command,
إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ
to the path of the All-Mighty,
Who can never be resisted or overpowered. Rather, Allah is Irresistible above everything and everyone else,
الْحَمِيدِ
the Praised.
Who is glorified and praised in all His actions, statements, legislation, commandments and prohibitions and Who only says the truth in the information He conveys.
Allah's statement
اللّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الَارْضِ
Allah to Whom belongs all that is in the heavens and all that is in the earth!,
is similar to,
قُلْ يَأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِى لَهُ مُلْكُ السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ
Say:""O mankind!
Verily, I am sent to you all as the Messenger of Allah - to Whom belongs the dominion of the heavens and the earth. (7:158)
Allah's statement,
وَوَيْلٌ لِّلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ
And woe unto the disbelievers from a severe torment.
means, `woe to them on the Day of Judgment because they defied you, O Muhammad, and rejected you.'
Allah says
الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الاخِرَةِ
Those who prefer the life of this world to the Hereafter,
Allah described the disbelievers as preferring the life of the present world to the Hereafter, coveting the former life and working hard for its sake. They have forgotten the Hereafter and abandoned it behind their backs,
وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ
and hinder (men) from the path of Allah,
from following the Messengers,
وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا
and seek crookedness therein,
they seek to make Allah's path crooked, even though it is straight itself and does not deviate on account of those who defy or betray it. When the disbelievers do this, they become engulfed in ignorance and misguidance far away from truth, and therefore, there is no hope that they will gain guidance and correctness while on this state.
أُوْلَـيِكَ فِي ضَلَلٍ بَعِيدٍ
they are far astray."
Ibrahim (Prophet Abraham may peace be upon him)
Meccan, except for the two verses 28 and 29, which are Medinese; it consists of 52, 54 or 55 verses.
Alif laam raa': God knows best what He means by these [letters]. This Qur'aan is, a Book We have revealed to you, O Muhammad may peace and salutation be upon him, that you may bring forth mankind from darkness, [from] unbelief, into light, [into] faith, by the leave, by the command, of their Lord (ilaa'l-noor, 'into light', may be substituted by [the following ilaa siraat]), to the path, the way, of the Mighty, the Victor, the Praised, the One who is [constantly] praised.
Commentary
The Surah and Its Subjects
Beginning here is Surah Ibrahim, the fourteenth Surah of the Holy Qur'an. This Surah is Makki. It was revealed before Hijrah with the exception of some verses about which difference exists whether they are Makki or Madani.
In the beginning of the Surah, there is a description of the attributes of the mission of messengers and prophets which is followed by the theme of Tauhid, the Oneness of Allah, and its proofs. It was in this connection that the story of Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) was introduced and it was in this context that the Surah was named: Surah Ibrahim.
The Surah opens with the words: الر ۚ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ (Alif, Lam, Ra. This is a book We have sent down to you, that you may take the people out of (all sorts of) darkness into the light with the will of their Lord). The initial letters - Alif, Lam, Ra - are from among the Isolated Letters (al-huruf al-Muqatta’ at) about which it has been said time and again that there is a standard policy and practice pursued by the most righteous elders in this matter. Their method is the safest and totally doubt-free. It tells us that we should firmly believe and have faith that whatever they mean or signify is true - but, stay away from launching deeper investigations into their meanings.
In the sentence which follows immediately: كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ (This is a book sent down to you), it is appropriate and clearly justified in terms of the syntactical construction that it should be taken as the predicate of the word: ھَذَا (hadha: this) understood here, and the sentence should mean that 'this is a book which We have sent down to you.' By attributing the revelation of the book to Allah Ta’ ala here, and the address to the Holy Prophet ﷺ a hint has been released which points out to two things. First, it says that this book is great as it was revealed by Allah Ta` ala Himself, and then it is suggestive of the personal high station of the Holy Prophet ﷺ as he has been made its first addressee.
Said in the next sentence was: لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ (that you may take the people out of (all sorts of) darkness into the light with the will of their Lord). The word: النَّاسَ (an-nas : people) is used for human-kind. It means all human beings who are present or will come in the future. The word: الظُّلُمَاتِ (az-zulumat), the plural of ظُلُمَات (zulmah) which means darkness is well-known. Here, 'zulumat ' refers to the darkness of Kufr (infidelity, disbelief) and Shirk (the ascribing of partners to Allah) and the darkness of evil deeds - and the word: النُّورِ (an-nur) means light, the light of faith. Therefore, the word: الظُّلُمَاتِ (az-zulumat: many a darkness) has been used here in its plural form, because there are many kinds and shades of Kufr and Shirk. And similarly, there are countless evil deeds too. But, the word: النُّورِ (an-nur: the light of faith) has been introduced in the singular form, because faith and truth are one and the same. The sense of the verse is: We have sent this book to you so that, through it, you may deliver all peoples of the world from the multiple forms of darkness of Kufr and Shirk and evil deeds, and bring them out into the light of faith and truth, with the will of their Lord. Here, the particular use of the expression: رَبِّهِمْ (Rabbihim : their Lord) indicates that there is no other reason or intention behind this universal blessing of Allah Ta` ala, but that He would let human beings of the world be de-livered from every such darkness through His Book and Messenger. Indeed, it is the compassion and mercy which the Creator and Master of the entire humankind has, under the imperative of His being their Lord, always kept beaming on them. Otherwise, Allah Ta ala owes nothing to anyone, nor there is a right due against Him, nor is there anyone who can force Him to do anything.
Guidance is an Act of God
In this verse, taking people out from darkness into the light has been declared to be the act of the Holy Prophet ﷺ ، although giving Hidayah or guidance is, in reality, an act of Allah Ta` ala alone - as it has been said in another verse of the Qur'an: إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّـهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ that is, you cannot, on your own, give guidance to anyone, but it is Allah alone who gives guidance to whom He wills - 28:56). Therefore, by adding: بِإِذْنِ رَبِّهِمْ (with the will of their Lord), this doubt was eliminated because the sense the verse now carries is: This act of bringing people out from the darkness of Kufr and Shirk into the light of faith and good deeds is, though not in your hands originally, but it shall be with the will and permission of Allah Ta’ ala that you could do so.'
Rules of Guidance
This verse tells us that there is only one way all children of Adam, the humankind on this earth, can be rescued from the evil layers of darkness into light, and the only alternative which can save humanity from the dual destruction in this world and in the Hereafter is no other but that of the Holy Qur’ an. The closer people come towards it, the luckier they would find themselves to be. They will find peace and security and relief and happiness in their present life as well as in the life to come with success at its best. And similarly, the farther they remain from it, the more exposed they shall be to living self-destruct lives both in this world, and in the Hereafter.
Not elaborated within the words of the verse is the manner in which the Holy Prophet ﷺ will deliver people from the many kinds of darkness and bring them into the light through the Qur'an. But, this much is fairly evident that the usual method of correcting a people through a book is that the teachings of that book be spread out among those people and they be convinced to abide by it.
The Recitation of the Holy Qur'an too is a Standing Objective in its own right
Apart from what has been stated above, there is yet another characteristic of the Holy Qur'an, that is, its recitation and the reading of its words, even without understanding them, registers a positive effect on the human self. It helps its reciter to stay safe against evils. At least in the case of Kufr and Shirk, no matter how attractive their traps may be, a reciter of the Qur'an, even though he may be reciting it without under-standing it, can never fall into those traps. This has been witnessed in the current history during the Hindu movement of Shudhi Sanghtan. In this mass effort to convert Muslims, some of those who fell a victim to their trap were strangers even to the recitation of the Qur’ an. In our day, Christian missionaries maintain an inviting network fortified by many incentives and rewards in almost every region where Muslims live. But, their success, if any, is restricted only to households and families which are heedless even to the recitation of the Qur'an - whether because of illiteracy and ignorance among them, or because of the perverted influence of what passes as new education (pseudo-westernized).
Perhaps, it is to point out to this spiritual influence that wherever the Holy Qur'an has described the basic functions of the Holy Prophet t, Recitation (Tilawah) has been mentioned separately and ahead of the need to teach its meanings: يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ (3:164; 62:2). It means that the Holy Prophet has been sent to accomplish three tasks. The first task is the recitation of the Holy Qur'an, and it is obvious that Tilawah or Recitation is related to words. As for meanings, they are understood, not recited. The second task is to cleanse people pure from evils. And the third task is to teach the Holy Qur'an, and Wisdom, that is, teach the Sunnah of the Messenger of Allah ﷺ .
In short, the Holy Qur’ an is a Book of Guidance the basic purpose of which, no doubt, is to understand its meaning and act in accordance with it. It is also clear that its essential effect is to reform the whole human life, but along with it, the reciting of its words too, brings about a distinct effect in the correction and strengthening of the human self, though in an invisible manner.
As partly stated a little earlier, this verse attributes the act of bringing people out from all sorts of darkness into the light with the will of their Lord to the Holy Prophet ﷺ . In order to further refine the explanation, it can now be said that by this attribution, it has also been established that the giving of guidance is though the act of Allah Ta’ ala in re-ality - but, it cannot be received or acquired without the medium of the Holy Prophet ﷺ . The fact is that only that sense or interpretation of the Holy Qur'an is trustworthy which has been communicated to us by the Holy Prophet ﷺ through his word or deed. Any interpretation contrary to it is not reliable. at has been said in the last sentence of verse 1: إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (to the path of the Mighty, the Praiseworthy,) which goes on to verse 2: اللَّـهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ (Allah, the One to whom belongs what is in the heavens and what is in the earth) refers back to the statement appearing in the beginning of verse 1. It is obvious that the mention of darkness and light in the above verse is not referring to the darkness and light which could be seen with naked eyes as a physical phenomenon. Therefore, it was to make it clear that it refers to the way of Allah. Whoever adopts this way would not stray away like the one who walks in darkness, nor do his or her steps falter, nor do they fail to achieve the objective set. So, the way of Allah means the way walking on which human beings could reach their Creator and achieve the ultimate degree of success which is His pleasure.
It will be noticed that, at this place, the word: alJ1 (Allah) has been pre-ceded by two of His attributes: الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (Al-` Aziz and Al-Hamid ). Lexically, Al-` Aziz means Mighty, Overpowering - and Al-Hamid denotes the Being who is deserving of praise. By bringing these two attributes before the basic name of Allah Ta’ ala the hint given is that the Pure and Sacred Being to whom this way is going to lead is Mighty, and Overpowering too, and deserving of all praise as well. Therefore, one who takes to this way will never falter or stumble anywhere enroute, nor the effort made on it will ever go waste. In fact, one is certain to reach the destination - only if one does not abandon this way.