يُوسُف ٨٨
- فَلَمَّا maka ketika
- دَخَلُواْ mereka masuk
- عَلَيۡهِ kepadanya (Yusuf)
- قَالُواْ mereka berkata
- يَٰٓأَيُّهَا hai
- ٱلۡعَزِيزُ Al Aziz/yang mulia
- مَسَّنَا telah menimpa kami
- وَأَهۡلَنَا dan keluarga kami
- ٱلضُّرُّ kesengsaraan
- وَجِئۡنَا dan kami datang
- بِبِضَٰعَةٖ dengan barang-barang
- مُّزۡجَىٰةٖ tak berharga
- فَأَوۡفِ maka sempurnakanlah
- لَنَا untuk kami
- ٱلۡكَيۡلَ sukatan
- وَتَصَدَّقۡ dan bersedekahlah
- عَلَيۡنَآۖ atas/kepada kami
- إِنَّ sesungguhnya
- ٱللَّهَ Allah
- يَجۡزِي memberi balasan
- ٱلۡمُتَصَدِّقِينَ orang-orang yang bersedekah
Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata, "Wahai Al-Aziz! Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga, maka penuhilah jatah (gandum) untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang yang bersedekah."
(Maka ketika mereka masuk ke tempat Yusuf mereka berkata, "Hai Al-Aziz! Kami dan keluarga kami ditimpa kesengsaraan) yakni kelaparan (dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga) artinya barang-barang yang buruk; setiap orang yang melihatnya pasti akan menolaknya karena mutunya sangat rendah sekali. Disebutkan bahwa barang-barang tersebut berupa dirham-dirham palsu atau barang-barang lainnya (maka sempurnakanlah) genapkanlah (sukatan untuk kami dan bersedekahlah kepada kami) bertoleransilah terhadap kami sekali pun barang-barang kami rendah mutunya (sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.") artinya Allah memberi mereka pahala. Akhirnya Nabi Yusuf merasa belas kasihan kepada mereka timbullah rasa sayangnya. Kemudian Nabi Yusuf berbicara secara terus terang terhadap mereka untuk menyingkapkan tabir antara dirinya dan mereka.
Tafsir Surat Yusuf: 87-88
"Hai anak-anakku, pergilah kalian, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.”
Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata, "Hai Al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah takaran untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah."
Ayat 87
Allah ﷻ menceritakan tentang Nabi Ya'qub, bahwa Ya'qub memerintahkan kepada anak-anaknya untuk pergi ke negeri itu untuk mencari berita tentang Yusuf dan saudaranya Bunyamin. Lafaz tahassus digunakan untuk mencari berita kebaikan, sedangkan tajassus digunakan untuk mencari berita keburukan. Ya'qub memberi semangat kepada mereka, bahwa janganlah mereka berputus asa dari rahmat Allah ﷻ. Dengan kata lain, janganlah kalian putus harapan dari rahmat Allah dalam menghadapi tantangan dan meraih cita-cita yang dituju. Karena sesungguhnya tiada yang berputus harapan dari rahmat Allah kecuali hanyalah orang-orang kafir.
Ayat 88
Firman Allah ﷻ: "Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf." (Yusuf: 88)
Bentuk lengkapnya adalah seperti berikut: “Bahwa lalu mereka berangkat dan masuk ke negeri Mesir, kemudian masuk ke tempat Yusuf.”
Mereka berkata, "Hai Al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan." (Yusuf: 88)
Yakni musim kering, paceklik, dan minimnya bahan makanan pokok.
"Dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga." (Yusuf: 88)
Maksudnya, kami membawa barang yang tak berharga sebagai penukaran dari takaran yang kami kehendaki. Demikianlah menurut pendapat Mujahid, Al-Hasan dan lain-lain.
Menurut Ibnu Abbas, makna muzjatin ialah barang-barang bekas yang tidak berharga lagi, seperti baju bekas, tali dan lain-lain. Menurut riwayat lain yang bersumberkan darinya, dirham yang buruk yang nilai tukarnya kurang dari aslinya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah dan As-Saddi. Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa yang dimaksud adalah uang dirham yang sudah cacat.
Abu Saleh mengatakan, yang dimaksud adalah buah sanubar dan biji hijau. Ad-Dahhak mengatakan, yang dimaksud adalah barang-barang yang sudah tak laku lagi untuk dijadikan alat pertukaran. Abu Saleh mengatakan bahwa mereka datang dengan membawa biji Al-Batm yang berwarna hijau dan buah sanubar. Orang yang memiliki barang yang tak berharga ini ditolak karena nilai barangnya sudah tidak ada lagi.
Firman Allah ﷻ menceritakan tentang ucapan mereka: "Maka sempurnakanlah takaran untuk kami." (Yusuf: 88)
Yakni berikanlah kepada kami dengan harga yang tak berarti ini takaran seperti yang pernah engkau berikan kepada kami sebelumnya.
Menurut qiraat ibnu Mas'ud disebutkan fa-auqir rikabana watasaddaq alaina, yakni penuhilah muatan kami dan bersedekahlah kepada kami.
Ibnu Juraij mengatakan bahwa bersedekahlah kepada kami dengan mengembalikan saudara kami kepada kami.
Sa'id ibnu Jubair dan As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: "Dan bersedekahlah kepada kami." (Yusuf: 88) Mereka mengatakan, bersedekahlah kepada kami dengan menerima barang yang tak berharga ini dan memaafkannya.
Sufyan ibnu Uyaynah pernah ditanya, "Apakah sedekah pernah diharamkan atas seseorang dari kalangan para nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ?" Maka Sufyan ibnu Uyaynah menjawab, "Tidakkah engkau pernah mendengar firman-Nya: 'Maka sempurnakanlah takaran untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah'.” (Yusuf: 88). Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir, dari Al-Haris, dari Al-Qasim, dari Sufyan ibnu Uyaynah.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu'awiyah, dari Usman ibnul Aswad, bahwa ia pernah mendengar Mujahid ketika ditanya, "Apakah makruh bila seseorang mengatakan dalam doanya, 'Ya Allah, bersedekahlah kepadaku'?" Mujahid menjawab, "Ya, sesungguhnya sedekah itu hanyalah bagi orang yang mencari pahala (sedangkan Allah tidak memerlukannya).
Anak-anak Nabi Yakub lalu mempersiapkan diri untuk kembali berangkat ke Mesir. Keberangkatan mereka kali ini bukan semata untuk menyelidiki keberadaan Nabi Yusuf, melainkan juga untuk memperoleh bahan makanan karena saat itu cadangan makanan mereka
sudah menipis. Maka setelah menempuh perjalanan yang melelahkan,
sampailah mereka di Mesir, dan ketika mereka masuk ke tempat Nabi Yusuf, mereka berkata, Wahai Al-Aziz yang mulia! Kami dan keluarga kami
di Kanaan telah ditimpa kesengsaraan karena paceklik berkepanjangan
dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga untuk ditukar dengan bahan makanan. Hanya itu yang kami miliki, maka kami
bermohon, wahai Al-Aziz yang mulia, penuhilah jatah gandum untuk
kami, dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan
yang berlipat ganda kepada orang yang bersedekah. Nabi Yusuf terenyuh mendengar cerita dan melihat kondisi saudarasaudaranya. Dia lalu berkata, Tahukah kamu perbuatan buruk apa yang
telah kamu perbuat terhadap Yusuf dahulu dan saudaranya, Bunyamin,
karena kamu tidak menyadari akibat perbuatan jahat-mu itu'.
Dalam ayat ini diterangkan bahwa setelah saudara-saudara Yusuf menerima anjuran dari ayahnya untuk kembali ke Mesir, mereka lalu berangkat. Sesampainya di Mesir, mereka masuk ke istana Yusuf dengan segala kerendahan diri. Mereka ingin mengetahui kebenaran keyakinan ayahnya yang pernah mengatakan bahwa al-Aziz itu adalah Yusuf. Mereka berkata kepada al-Aziz bahwa mereka ditimpa musibah kelaparan sehingga mereka menjadi kurus dan lemah karena kekurangan makanan, sedangkan keluarga mereka tidak sedikit. Mereka mengadukan halnya itu kepada al-Aziz, dengan maksud untuk mengetahui keadaan Yusuf dan Bunyamin. Mereka juga mengemukakan bahwa mereka datang membawa dagangan yang jelek dan rendah mutunya, sehingga mungkin tidak ada pedagang yang mau menawarnya. Mereka berharap agar al-Aziz mau menolong mereka dengan menyempurnakan takaran dagangannya tanpa mempertimbangkan kejelekannya. Kekurangan yang harus mereka bayar kepadanya agar disedekahkan saja kepada mereka.
Allah membalas budi baik seseorang yang suka bersedekah dan Dia pulalah yang akan mengganti segala apa yang telah disedekahkan dan diinfakkan itu, sebagaimana firman-Nya:
Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik. (Saba/34: 39).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SABAR YANG INDAH DARI YA'QUB
Kesabaran bukanlah artinya tidak ada perasaan. Kesabaran ialah kesanggupan me-ngendalikan perasaan ketika sedih menimpa. Ini nampak pada sikap-sikap hidup Nabi Ya'qub pada saat itu.
Tengah bercakap dengan anak-anaknya yang telah membuat hatinya kecewa yang kedua kali dengan hilang pula Bunyamin, dan pengharapannya bahwa semua anak-anak itu, terutama Yusuf tidaklah mati.
“Dan berpalinglah dia dari mereka sambil berkata: “Wahai dukacitanya aku atas Yusuf Sehingga putihlah kedua belah matanya tontonan sedih, tetapi dia tahan."
(ayat 84)
Di sini Allah menggambarkan kepada kita betapa hebatnya perjuangan batin Nabi Ya'qub yang telah tua itu. Dia tetap bersabar, tetap menahan perasaan. Batin kuat tetapi jasmani sudah lemah, sehingga lantaran teguh menahan, jasmani terutama mata tidak kuat menahannya, sehingga menjadi putihlah selaput mata, dari sebab air mata yang tertahan-tahan turun, atau tidak ada air mata yang akan dikeluarkan lagi.
Maka nyatalah bahwa kesedihan itu tetap ada, tetapi berperang dalam hati. Adakah se-orang ayah yang tidak akan sedih kehilangan anak yang dicintai? Nabi kita Muhammad ﷺ menangis ketika putranya yang paling bungsu Ibrahim meninggal dalam sarat menyusu, anak beliau dengan istri sahayanya, Mariah orang Kopti itu. Menangis beliau, sehingga ada sahabat yang bertanya, “Menangis engkau ya utusan Allah?" Beliau jawab, “Hati bersedih, air mata pun titik, tetapi tidak ada kata yang keluar dari mulutku, melainkan yang diridhai Allah jua." Dan kebetulan pada saat mengebumikan putra yang tercinta itu, gerhanalah matahari. Maka ada sahabat yang menyangka gerhana matahari adalah karena putra Rasul meninggal. Dalam kesedihan itu sempat juga junjungan kita Muhammad ﷺ berpidato pendek menyatakan bahwa gerhana matahari adalah salah satu dari pertanda kebesaran Allah di alam, yang tidak ada hubungannya dengan kematian seseorang.
Melihat ayahnya berpaling meninggalkan mereka dan pergi dengan mengeluh ingatkan Yusuf, yang telah lama menyebabkan mata beliau jadi putih, “Mereka berkata,
“Demi Allah! Selalu engkau teringat Yusuf, sehingga jadilah engkau sakit-sakit, atau akan jadi engkau dari orang-orang yang binasa."
(ayat 85)
Demikianlah anak-anak itu mencoba menenangkan ayah mereka. Begini saja ayah terus, bertahun-tahun lamanya, sampai badan ayah pun sudah sakit-sakit, sampai mata ayah pun sudah putih, sudah rabun tidak kuat penglihatan lagi. Kami takut ayah akan meninggal dalam makan hati berulam jantung, atau mana tahu, entah terjatuh ayah di tempat yang berbahaya karena mata tidak melihat, sedang kami tidak tahu.
“Dia berkata: “Aku hanya mengadukan kesusahanku dan kesedihanku kepada Allah, dan aku tahu dari Allah apa yang tidak kamu ketahui."
(ayat 86)
Di sinilah rahasia kesedihan yang larat itu. Sebab beliau telah diberi tahu dengan ilham ataupun dengan wahyu oleh Allah, bahwa Yusuf masih hidup, tetapi Allah belum memberitahukan di mana Yusuf sekarang. Kalau sekiranya sudah pasti Yusuf meninggal, tidaklah dia akan sampai demikian sengsara oleh kedukaan, tidaklah matanya akan sampai putih. Itulah yang beliau bayangkan kepada anak-anaknya itu. Allah memberitahu kepadaku apa yang kamu tidak mengetahui.
Dan dia tidak mengeluhkan nasibnya kepada orang lain, sebab orang lain tidak akan dapat melepaskannya dari kesedihan itu. Hanya kepada Allah, kepada Allah jua dia memohon dilepaskan dari kesedihan dan kesusahan itu.
Tidak berapa lama kemudian. Nabi Ya'qub pun berkatalah kepada anak-anaknya itu,
“Wahai anak-anakku! Pergilah, dan selidikilah rahasia tentang Yusuf dan saudaranya."
(pangkal ayat 87)
Dengan perintah beliau seperti ini kepada anak-anaknya, bertambah tampaklah kepastian dalam hati beliau bahwa mereka masih ada. Dan bila dia sebut Yusuf dan saudaranya, padahal Bunyamin terang tertawan di Mesir, sudah mulai rupanya agak terang-terang remang dalam pikirannya bahwa Yusuf itu ada di Mesir. Anak-anak yang bukan Nabi seperti ayahnya niscaya belum juga mengerti akan hal itu, dan sebagai anak-anak yang patuh kepada orang tua, niscaya akan melaksanakan apa yang dikehendaki oleh ayah mereka. Dan beliau tegaskan lagi,
“Dan janganlah kamu putus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidaklah putus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang tidak berkepercayaan"
(ujung ayat 87)
Itulah pegangan beliau, dan pegangan itu pula yang diberikannya kepada anak-anaknya. Jangan berputus asa dari rahmat Allah! Carilah terus!
Mungkin perkataan ayah mereka yang seperti ini mulai menimbulkan pemikiran di antara mereka masing-masing, sebab mereka di waktu itu sudah orang-orang yang dewasa, yang telah berusia lebih 40 tahun pada umumnya, mungkin timbul pertanyaan dalam hati, barangkali Yang Dipertuan Muda di Mesir itulah agaknya yang Yusuf. Mengapa harga gandum mereka dikembalikan? Mengapa Bunyamin ditahan? Mengapa sambutannya atas mereka tampak mengandung kasih sayang? Mungkin telah ada yang merasa begini, tetapi belum berani mengatakannya, takut kalau-kalau ini hanya persangkaan saja. Kalau tidak, alangkah hinanya mereka, orang-orang dusun menyatakan bahwa Yang Dipertuan Muda Mesir saudara mereka. Dalam perasaan yang demikian, mereka berangkat kembali ke Mesir, melaksanakan kehendak ayah mereka, mencari Yusuf dan saudaranya. Apakah lagi musim kemarau yang tujuh tahun itu, ketika itu sudah sampai di puncak sengsaranya, persediaan makanan di dusun-dusun tambah lama tambah kering dan harta benda atau uang untuk pembeli makanan ke Mesir, makin kurang. Dalam keadaan begitu, mereka berangkat.
Teringatlah penulis tafsir ini, keadaan di Minangkabau pada beberapa negeri sesudah agresi Belanda yang kedua, karena hutan rusak, orang telah menjual seng atap rumah, atau tempat tidur, atau piring, mangkuk, untuk pembeli beras.
“Maka tatkala mereka masuk kepadanya, mereka berkata: “Wahai Yang Mulia Telah ditimpa kami dan ahli kami oleh sengsara."
(pangkal ayat 88)
Persediaan gandum yang kami beli telah habis pula."Dan (sekarang) datanglah kami membawa barang yang tidak berharga." Kami tahu bahwa bagi Yang Mulia barang-barang ini tidaklah ada harganya, tetapi bagi kami hanya inilah yang tinggal.
“Lantaran itu isilah sukaran kami dan bersedekahlah kepada kami; sesungguhnya Allah akan membalas orang-orang yang bersedekah."
(ujung ayat 88)
Sesungguhnya dengan perkataan demikian, kalau sekiranya orang lain tidaklah akan tahan air mata Yusuf mendengarnya lagi, tetapi sebagai orang besar, dia masih sanggup menahan diri.
“Dia berkata: “Adakah kamu teringat, apa yang telah kamu perbuat kepada Yusuf dan saudaranya, ketika kamu masih bodoh?"
(ayat 89)
Cara susunan pertanyaan menunjukkan bahwa dia ditanyakan dengan tidak mengandung marah, melainkan telah mengandung maaf, sebab disebutkan bahwa ketika mereka berbuat begitu, mereka masih bodoh. Janji Allah kepada Yusuf, sebaik dia dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya itu, bahwa kelak hal itu akan disebutnya kepada mereka, sekarang telah dipenuhi. (Lihat kembali ayat 15). Benar-benar mereka tidak sadar ketika itu bahwa akan beginilah yang bertemu.
Disebutnya juga dia dan saudaranya karena dengan hilangnya Yusuf, Bunyamin menjadi sepi sendirian, apalah lagi ibu mereka Rakhel telah meninggal dunia sesudah melahirkan Bunyamin.
“Mereka berkata: “Apakah kiranya engkau ini Yusuf?"
(pangkal ayat 90)
Mulai timbul kesadaran dalam hati, atau lanjutan dari sangka-sangka yang telah agak tumbuh demi mendengar peringatan bapak mereka, tetapi niscaya mereka bertanya dahulu, tidak datang berkata saja, “Engkau rupanya yang Yusuf!" Takut kalau-kalau tidak, dan mereka bertambah hina.
Allah, Tuhanku! Yang berbicara itu sekarang adalah pertalian darah, cinta kasih yang sebenarnya dalam hati sanubari orang ber-dunsanak, bila rasa dendam bersaudara, yang cabik-cabik bulu ayam. Yusuf pun tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan lagi, sebab semuanya ini adalah saudara kandungnya, belahan dirinya."Dia jawab: “Akulah Yusuf dan ini adalah saudaraku." Adik kandungku, Bunyamin!
“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia atas kami. Dan sesungguhnya barangsiapa yang takwa dan sabar, maka Allah tidaklah akan menyia-nyiakan ganjaran bagi orang-orang yang berbuat kebajikan"
(ujung ayat 90)
Yang berkata itu sekarang bukan lagi Yang Dipertuan Muda Negeri Mesir saja, dan yang berkata itu sekarang bukan lagi semata-mata Yusuf yang telah hilang lebih seperempat abad. Yang berkata sekarang lebih dari keduanya itu, ialah Rasul Allah yang yakin akan pertolongan Allah, rasul Allah yang empat kali disebut bahwa dia seorang yang suka berbuat kebaikan (Muhsinin), baik waktu diasuh di rumah induk semangnya (ayat 21), atau setelah dimasukkan ke dalam penjara, disaksikan sendiri oleh teman-temannya sepenjara, (ayat 36), atau setelah dia menjadi wakil raja (ayat 56), malahan dirasakan kebaikannya itu oleh saudara-saudaranya itu, sehingga karena itu memohon mereka agar, demi kebaikannya itu, sudilah melepaskan adik mereka Bunyamin dan mengambil salah seorang mereka jadi gantinya (ayat 78). Selalu berbuat kebaikan dalam suka dan duka, dalam mewah dan sengsara, dalam menghadapi ujian batin yang berat, sekarang mengakuilah dia bahwa keteguhannya mempertahankan kebaikan itulah yang menyebabkan mereka bertemu kembali (ayat 90).
Sekarang jelaslah sudah, memang dialah Yusuf. Aku Yusuf, ini adalah saudaraku! Untuk menambahkan yakin, dan saudara-saudaranya itu pun telah yakin, keraguan telah hilang. Benarlah ayah mereka rasul Allah, patutlah beliau tetap merasa Yusuf belum mati, Yusuf masih ada. Tetapi, alangkah rendah rasanya diri mereka ketika itu. Mereka telah bersalah besar kepada Yusuf, dan sekarang Yusuf telah bertemu di dalam keadaan yang berbeda sama sekali, telah duduk di atas puncak singgasana kemuliaan.
“Mereka berkata: “Demi Allah! Sesungguhnya Allah telah melebih-muliakan engkau atas kami, dan meskipun kami ini adalah bersalah semua"
(ayat 91)
Saudara yang hilang lebih seperempat abad sudah bertemu, dan ayah mereka telah akan merasa gembira jika mereka pulang kembali, tetapi mereka sendiri adalah orang-orang yang bersalah, terhadap saudara kandung yang sekarang telah mencapai kedudukan amat tinggi. Perhatikanlah susunan wahyu Ilahi itu, mereka langsung mengaku salah. Mereka hanya menyerah sekarang! Nasib mereka bergantunglah kepada kehendak Yusuf saja. Kalau mereka dihukum lantaran itu, adalah hal yang patut, dan mereka tidak akan menyesal. Tetapi mereka sudah puas, sebab ayah tidak akan bersusah hati lagi. Tetapi Yusuf, rasul Allah, Yang Dipertuan Muda Mesir yang telah banyak menderita dan banyak merasa bahagia, yang mengakui bahwa semua kebahagiaan adalah lantaran takwa dan sabar, lantaran sudi selalu berbuat kebaikan, akan tetaplah melanjutkan takwa dan sabar dan berbuat kebaikan itu.
“Dia berkata: ‘Tidak ada apa-apa atas kamu mulai hari ini, mudah-mudahan diampuni Allah akan kamu, dan Dia adalah Yang Sepenyayang-penyayang dari sekalian orang yang penyayang,"
(ayat 92)
Alangkah indahnya sambutan Yusuf ini, betapalah saudara-saudaranya tidak akan terharu mendengarkan jawaban itu. Mulai sehari itu jangan disebut-sebut juga soal itu, yang telah lampau biarlah hilang dalam lipatan masa lampau, dan mulai hari ini kita menghadapi zaman depan, Allah akan memberi ampun kamu wahai saudara-saudaraku, jika sekiranya di dunia ada orang-orang yang penyayang, maka Allah lebih penyayang dari sekalian orang-orang yang penyayang itu. Ditutupnya hal itu dengan penuh rasa sayang. Kemudian itu dilanjutkannya perkataannya, sambil memberikan sehelai baju atau kemeja yang bekas dipakainya dan belum dicuci.
“Bawalah kemejaku ini dan kenakanlah dia ke atas muka bapakku, nanti dia akan datang dengan mata tenang."
(pangkal ayat 93)
Dengan kata demikian sudah jelas bahwa bapaknya akan dimintanya datang ke Mesir, kepadanya, dengan mata yang tidak buta lagi, sebab baju itu akan menyembuhkannya, dan dilanjutkannya pula perkataan khusus terhadap kepada sekalian saudaranya itu,
“Dan bawalah kepadaku keluargamu semuanya,"
(ujung ayat 93)
Dapatlah agaknya kita merasai betapa jadinya suasana pada saat itu. Niscaya kedua belas orang bersaudara telah berkumpul, termasuk Bunyamin dan Raubin (atau yang lain) yang tinggal di Mesir dan tak mau pulang itu. Mereka sekarang tinggal menentukan hari akan berangkat kembali ke bumi Kana'an, menjemput ayah dan ibu, menjemput anak-anak dan istri mereka, cucu-cucu dari Nabi Ya'qub, untuk berpindah berbondong ke negeri Mesir. Yang menurut kitab Perjanjian Lama (Kejadian Pasal 46 ayat 26), adalah 66 orang banyaknya. Dan kelak jika telah dijumlahkan dengan Yusuf dan dua orang anaknya dan istrinya, menjadi 70 oranglah semuanya (ayat 27).
"Yaqub orders His Children to inquire about Yusuf and His Brother
Allah tells what Yaqub said to his children:
يَا بَنِيَّ اذْهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُواْ مِن رَّوْحِ اللّهِ
إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
""O my sons! Go you and inquire about Yusuf and his brother, and never give up hope of Allah's mercy. Certainly no one despairs of Allah's mercy, except the people who disbelieve.""
Allah states that Yaqub, peace be upon him, ordered his children to go back and inquire about the news of Yusuf and his brother Binyamin, in a good manner, not as spies. He encouraged them, delivered to them the good news and ordered them not to despair of Allah's mercy.
He ordered them to never give up hope in Allah, nor to ever discontinue trusting in Him for what they seek to accomplish.
He said to them that only the disbelieving people despair of Allah's mercy.
Yusuf's Brothers stand before Him
Allah said next
فَلَمَّا دَخَلُواْ عَلَيْهِ
Then, when they entered unto him,
when they went back to Egypt and entered upon Yusuf,
قَالُواْ يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ
they said:""O Aziz! A hard time has hit us and our family...""
because of severe droughts and the scarcity of food,
وَجِيْنَا بِبِضَاعَةٍ مُّزْجَاةٍ
and we have brought but poor capital,
means, `we brought money for the food we want to buy, but it is not substantial,' according to Mujahid, Al-Hasan and several others.
Allah said that they said next,
فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ
so pay us full measure,
meaning, `in return for the little money we brought, give us the full measure that you gave us before.'
Ibn Mas`ud read this Ayah in a way that means,
""So give the full load on our animals and be charitable with us.""
Ibn Jurayj commented,
""So be charitable to us by returning our brother to us.""
And when Sufyan bin Uyaynah was asked if the Sadaqah (charity) was prohibited for any Prophet before our Prophet, he said,
""Have you not heard the Ayah,
فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ
وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَأ إِنَّ اللّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ
so pay us full measure and be charitable to us. Truly, Allah does reward the charitable.""
Ibn Jarir At-Tabari collected this statement."
And so when they entered to him, they said, 'O Court officer, misfortune, hunger, has befallen us and our family; and we have come with reject merchandise, refused by any person who sees it, because of its worthlessness - it consisted of counterfeit dirhams or something else - so fill up, complete, for us the measure and be charitable to us, by overlooking the worthlessness of our merchandise; truly God requites the charitable', He rewards them: he [Joseph] thus took pity on them and he was overtaken by compassion [for them] and removed the partition between them and himself.
Commentary
Mentioned in the verses appearing above is the remaining part of the story of Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) and his brothers. It tells us that Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) asked his sons to go and search Yusuf (علیہ السلام) and his brother. So they travelled to Egypt for a third time - because they knew that Benyamin was there and they had to try to get him released first. As for Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) ، though his presence in Egypt was not known to them but, when the time comes for something to happen, human plans too start falling in place, unconsciously and without an intentional effort. This is confirmed by a Hadith which says: When Allah Ta’ ala intends to do something, He makes its causes get together automatically. Therefore, to search Yusuf (علیہ السلام) too, the very travel to Egypt was appropriate, though taken up unconsciously. Then, they needed food grains, after all. And yet another factor was that they hoped to see the ` Aziz of Misr on the pretext of their request for food grains, when they could put forward their plea for the release of Benyamin.
The first verse (88) begins with the words: فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ قَالُوا (And when they came to him, they said...). It means: When the brothers of Yusuf (علیہ السلام) reached Egypt as ordered by their father and met the ` Aziz of Misr, they talked to him in a flattering tone. Presenting their need and helplessness, they told the ` Aziz that they and their family were suffering because of the famine, so much so that they did not have even adequate funds to purchase food grains. Compelled by circumstance, they had brought a capital which was not good enough for that purpose. Thus, their request was that, given his generosity, he should accept whatever they had and give them the full measure of grains as is usually given against things of good value. Not being their right in any way, they pleaded that the grains should be given to them as if given in charity because ` Allah rewards the charitable.'
What was this ` capital of very little worth'? The Qur'an and Hadith have not clarified it. The sayings of the commentators differ. Some say that they were bad dirhams which were not acceptable in the open market. Others say that this comprised of household articles. This expression - ` capital of very little worth' - is a translation of the meaning of the word: مُّزْجَاةٍ ('muzjatin' ) which really means something which does not move on its own, but has to be moved by someone else forcefully.
When Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) heard these submissive words from his brothers and ﷺ their broken-down condition, he was naturally coming to a point where he would have no option but to disclose the truth as it was. And the drift of events was showing that the restriction placed by Allah Ta` ala on Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) that he would not disclose the truth of the matter about himself was not going to be there anymore for the time had come close when it would be taken back. Based on a narration of Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ ، it has been reported in Tafsir al-Qurtubi and Mazhari that Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) had, on this occasion, sent a letter in writing and had addressed it to the ` Aziz of Misr. The letter said:
"From Ya` qub Safi Allah Ibn Ishaq Dhabih Allah Ibn Ibrahim Khalil Allah to the ` Aziz of Misr. After offering praise to Allah: Our entire family is known for hardships and trials. My grandfather, Ibrahim Khalil Allah was tested through the fire of Nimrud. Then, my father, Ishaq was put to a hard test. Then, I was tested through a son of mine whom I held very dear - to the limit that I lost my eyesight when separated from him. After that, there was his younger brother, a source of comfort for me in my grief, whom you arrested on a charge of theft. And let me tell you that we are the progeny of prophets. Never have we committed a theft, nor has there ever been a thief among our children. And peace on you!"
When Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) read this letter, he trembled and broke into tears and decided to let his secret out. To start with, he first asked his brothers if they remembered what they had done with Yusuf and his brother at a time when they were ignorant, unable to distinguish between good and bad, and quite neglectful of acting with foresight.
When his brothers heard his question, they were dumbfounded. What has the ` Aziz of Misr got to do with the story of Yusuf (علیہ السلام) ? Then, they recollected the dream seen by young Yusuf (علیہ السلام) the interpretation of which was that he would achieve some high rank and they would have to bow down before him. Could it be that this ` Aziz of Misr is none else but Yusuf (علیہ السلام) himself? Then, as they exerted and deliberated a little more, they recognized him by some signs. Still, to confirm it further, they asked him: