Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
فَبَدَأَ
maka (Yusuf) mulai
بِأَوۡعِيَتِهِمۡ
dengan karung-karung mereka
قَبۡلَ
sebelum
وِعَآءِ
karung/wadah
أَخِيهِ
saudaranya
ثُمَّ
kemudian
ٱسۡتَخۡرَجَهَا
ia mengeluarkannya (piala/tempat minum)
مِن
dari
وِعَآءِ
karung/wadah
أَخِيهِۚ
saudaranya
كَذَٰلِكَ
demikianlah
كِدۡنَا
Kami mengatur
لِيُوسُفَۖ
untuk Yusuf
مَا
tidak
كَانَ
ada
لِيَأۡخُذَ
ia mengambil/menghukum
أَخَاهُ
saudaranya
فِي
didalam/menurut
دِينِ
peraturan/undang-undang
ٱلۡمَلِكِ
raja
إِلَّآ
kecuali
أَن
bahwa
يَشَآءَ
menghendaki
ٱللَّهُۚ
Allah
نَرۡفَعُ
Kami tinggikan
دَرَجَٰتٖ
derajat
مَّن
siapa/orang
نَّشَآءُۗ
Kami kehendaki
وَفَوۡقَ
dan diatas
كُلِّ
tiap-tiap
ذِي
memiliki
عِلۡمٍ
pengetahuan
عَلِيمٞ
Maha Mengetahui
فَبَدَأَ
maka (Yusuf) mulai
بِأَوۡعِيَتِهِمۡ
dengan karung-karung mereka
قَبۡلَ
sebelum
وِعَآءِ
karung/wadah
أَخِيهِ
saudaranya
ثُمَّ
kemudian
ٱسۡتَخۡرَجَهَا
ia mengeluarkannya (piala/tempat minum)
مِن
dari
وِعَآءِ
karung/wadah
أَخِيهِۚ
saudaranya
كَذَٰلِكَ
demikianlah
كِدۡنَا
Kami mengatur
لِيُوسُفَۖ
untuk Yusuf
مَا
tidak
كَانَ
ada
لِيَأۡخُذَ
ia mengambil/menghukum
أَخَاهُ
saudaranya
فِي
didalam/menurut
دِينِ
peraturan/undang-undang
ٱلۡمَلِكِ
raja
إِلَّآ
kecuali
أَن
bahwa
يَشَآءَ
menghendaki
ٱللَّهُۚ
Allah
نَرۡفَعُ
Kami tinggikan
دَرَجَٰتٖ
derajat
مَّن
siapa/orang
نَّشَآءُۗ
Kami kehendaki
وَفَوۡقَ
dan diatas
كُلِّ
tiap-tiap
ذِي
memiliki
عِلۡمٍ
pengetahuan
عَلِيمٞ
Maha Mengetahui
Terjemahan
Maka mulailah dia (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan (bejana raja) itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami mengatur (rencana) untuk Yusuf. Dia tidak dapat menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.
Tafsir
(Maka mulailah Yusuf dengan karung-karung mereka) yaitu memeriksanya (sebelum memeriksa karung saudaranya sendiri) supaya mereka tidak menaruh rasa curiga terhadapnya (kemudian dia mengeluarkan piala raja itu) yakni tempat minum raja. (dari karung saudaranya.) Selanjutnya Allah berfirman mengisahkan (Demikianlah) tipu muslihat itu (Kami atur untuk mencapai maksud Yusuf) artinya, Kami ajarkan kepadanya tentang siasat untuk mengambil saudara sekandungnya (Tiada patut) Yusuf (menghukum saudaranya) dengan menjadikannya sebagai budak karena terbukti telah mencuri (menurut undang-undang raja) sesuai dengan ketentuan raja Mesir, karena hukuman bagi pencuri menurut undang-undang raja Mesir ialah dipukuli dan dikenai denda sebanyak dua kali lipat harga barang yang dicurinya, bukannya dijadikan sebagai budak (kecuali Allah menghendaki-Nya) yakni menghendaki supaya Yusuf menghukum saudaranya sesuai dengan ketentuan syariat Nabi Yakub. Artinya Nabi Yusuf tidak dapat menghukumnya kecuali Allah menghendaki melalui wahyu-Nya supaya Nabi Yusuf menghukum saudaranya itu sesuai dengan syariat yang berlaku pada mereka (Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki) melalui ilmu seperti yang Kami lakukan terhadap Yusuf. Lafal ayat ini dapat dibaca secara idhafah, yaitu menjadi darajaati man nasyaau, dan dapat pula dibaca darajaatin man nasyaau (dan di atas tiap-tiap orang berpengetahuan itu) di antara semua makhluk (ada lagi yang Maha Mengetahui.) artinya yang lebih mengetahui daripadanya sehingga rentetannya selesai pada Allah ﷻ
Tafsir Surat Yusuf: 73-76
Saudara-saudara Yusuf menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya kalian mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah pencuri."
Mereka berkata, "Tetapi apa balasannya jika ternyata kalian berdusta?
Mereka menjawab, "Balasannya adalah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya). Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim."
Maka mulailah Yusuf memeriksa karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.
Ayat 73
Ketika mereka menuduh saudara-saudara Yusuf mencuri, maka saudara-saudara Yusuf berkata kepada mereka:
“Demi Allah, sesungguhnya kalian mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah pencuri.” (Yusuf: 73)
Dengan kata lain, sesungguhnya kalian telah mengecek dan mengetahui kami sejak kalian mengenal kami. Karena mereka mengetahui dan menyaksikan dari sepak terjang saudara-saudara Yusuf perilaku yang baik.
“Sesungguhnya kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah orang-orang yang mencuri.” (Yusuf: 73) Maksudnya, watak dan tabiat kami bukanlah watak pencuri.
Ayat 74
Maka penyeru itu berkata kepada mereka: “Tetapi apa balasannya.” (Yusuf: 74)
Yakni balasan bagi pencuri jika memang ternyata ada di antara kalian yang mencuri.
“Jika kalian berdusta.” (Yusuf: 74)
Yaitu hukuman apakah yang pantas bagi si pencuri, jika kami mendapati ada di antara kalian yang telah mengambil piala itu?
Ayat 75
Mereka menjawab, "Balasannya adalah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya). Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim." (Yusuf: 75)
Demikianlah hukum yang berlaku di dalam syariat Nabi Ibrahim a.s., yaitu bahwa si pencuri diserahkan nasibnya kepada orang yang dicuri. Dan hal inilah yang diinginkan oleh Yusuf a.s. Untuk menyembunyikan tujuannya, Yusuf memulai pemeriksaan terhadap karung-karung mereka sebelum karung milik saudara kandungnya.
Ayat 76
“Kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya.” (Yusuf: 76)
Dan Yusuf menetapkan hukum atas mereka berdasarkan pengakuan dan ketetapan mereka sendiri, serta sekaligus mengharuskan bagi mereka menuruti ketentuan hukum yang diyakini oleh mereka (yaitu syariat Nabi Ibrahim a.s.). Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
“Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf.” (Yusuf: 76) Cara ini merupakan siasat yang disukai dan diridai Allah, karena mengandung hikmah dan maslahat yang diperlukan.
Firman Allah ﷻ: “Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja.” (Yusuf: 76)
Artinya, hukuman yang dijatuhkan oleh Yusuf terhadap saudaranya bukanlah berdasarkan undang-undang raja yang berlaku. Demikianlah menurut Ad-Dahhak dan lain-lain. Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi Yusuf agar memberikan keputusan terhadap saudara-saudaranya dengan keputusan yang mereka ketahui dari syariat mereka sendiri. Hal ini dipuji oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya selanjutnya :
“Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki.” (Yusuf: 76)
Ayat ini serupa dengan firman Allah ﷻ dalam ayat lain: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)
Adapun firman Allah ﷻ: “Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.” (Yusuf: 76) Al-Hasan Al-Basri mengatakan, tiada seorang alim pun melainkan di atasnya ada orang yang lebih alim lagi, hingga hal ini berakhir sampai kepada Allah ﷻ.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Sufyan As-Sauri, dari Abdul A'Ia As-Sa'Iabi, dari Sa'id ibnu Jubair yang menceritakan, "Ketika kami sedang berada di hadapan Ibnu Abbas, maka Ibnu Abbas menceritakan suatu hadits yang menakjubkan. Kemudian ada seorang lelaki yang karena takjubnya lalu berkata, 'Segala puji bagi Allah, di atas tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang lebih alim (daripadanya).' Ibnu Abbas berkata, 'Seburuk-buruk ucapan adalah apa yang kamu katakan’." Maksudnya Allah Maha Mengetahui di atas semua orang yang berpengetahuan.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.” (Yusuf: 76) Maksudnya, orang ini lebih alim (berpengetahuan) daripada yang lainnya; dan ada lagi yang lebih berpengetahuan darinya, sedangkan Allah di atas semua orang yang berpengetahuan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.” (Yusuf: 76) hingga pengetahuan ini sampai kepada Allah, dan hanya dari Allah-lah pengetahuan itu, lalu dipelajari oleh para ulama; dan hanya kepada-Nyalah ilmu pengetahuan kembali.
Menurut qiraat sahabat Abdullah ibnu Mas'ud disebutkan ‘wafauqa kulli ‘alimin 'alim,’ yang artinya 'dan di atas tiap-tiap orang yang alim ada lagi Yang Maha Alim'.
Para pembantu Nabi Yusuf menyepakati tawaran anak-anak Nabi Yakub. Maka mulailah dia, salah satu pembantu Nabi Yusuf, memeriksa
karung-karung mereka, yakni saudara-saudara tiri Nabi Yusuf, sebelum
memeriksa karung Bunyamin, saudara kandung-nya sendiri. Setelah
cukup lama menggeledah dengan teliti, kemudian dia (pembantu Nabi
Yusuf ) mengeluarkan piala itu dari karung Bunyamin, saudara kandungnya. Demikianlah cara Kami, yakni Allah, mengatur rencana untuk Yusuf
agar ia dapat tetap bersama saudara kandungnya, Bunyamin. Dia (Nabi
Yusuf ) tidak dapat menghukum saudara kandung-nya menurut undangundang raja Mesir, kecuali Allah menghendakinya, yakni hukuman yang
diusulkan oleh saudara-saudara tirinya sendiri. Kami angkat derajat
orang yang Kami kehendaki; dan ketahuilah bahwa di atas setiap orang
yang berpengetahuan pasti ada orang-orang yang lebih mengetahui, dan di
atas semua itu ada Allah Yang Maha Mengetahui. Betapa terperanjat saudara-saudara Nabi Yusuf menerima kenyataan bahwa piala ditemukan dalam karung Bunyamin. Untuk menutupi
malu, mereka berkata, Jika dia, Bunyamin, benar-benar mencuri, maka
sungguh sifat buruk itu sama dengan sifat buruk saudara kandungnya,
Nabi Yusuf. Sebelum itu saudara kandung-nya pun pernah pula mencuri.
Maka saat mendengar ucapan itu, Nabi Yusuf merasa jengkel, tetapi ia
dapat menyembunyikan kejengkelan itu dalam hatinya dan tidak ditampakkannya kepada mereka. Dia hanya berkata dalam hati, Kedudukanmu
justru lebih buruk karena kamu telah berbohong kepada ayah kamu,
mencuri, dan menganiaya Yusuf dengan memasukkannya ke dalam
sumur. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan dan apa
yang kamu sembunyikan.
Setelah kafilah kembali lagi ke Mesir dan menghadap Yusuf, ia mulai memeriksa karung-karung mereka semuanya dan yang terakhir diperiksa adalah karung Bunyamin. Sengaja beliau berbuat demikian untuk menutupi taktiknya. Kemudian Yusuf menemukan piala yang hilang itu dari karung Bunyamin. Dengan cara demikian Allah mengatur taktik Yusuf untuk mencapai maksudnya. Yusuf sama sekali tidak bermaksud menghu-kum saudaranya menurut undang-undang kerajaan kecuali jika Allah menghendakinya. Beliau sengaja membuat taktik ini untuk sekedar menguji akhlak saudara-saudaranya dan bukan untuk menyakiti Bunyamin, karena ia terlebih dahulu telah diberitahu tentang rencana tersebut. Allah meninggikan derajat orang-orang yang dikehendaki-Nya, baik berupa ilmu maupun keimanan dan memperlihatkan pula jalan kebenaran untuk mencapai maksudnya, seperti Allah telah mengangkat derajat Yusuf di atas saudara-saudaranya. Di atas setiap orang yang berpengetahuan ada lagi yang lebih mengetahui. Hanya Allah yang Maha Mengetahui.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SIASAT NABI YUSUF UNTUK MENAHAN BUNYAMIN
“Dan tatkala mereka telah masuk (ke negeri Mesir) menurut yang diperintahkan kepada mereka oleh bapak mereka."
(pangkal ayat 68)
Yaitu supaya masuk dari pintu yang terpisah-pisah, jangan berombongan-rombong-an."Tidaklah dia dapat melepaskan mereka dari (kehendak) Allah sesuatu pun." Artinya, kalau misalnya Allah menghendaki mereka mendapat malapetaka, tidak jugalah akan terhalang lantaran itu, “Kecuali karena keinginan pada diri Ya'qub yang Dia sampaikan, dan sesungguhnya dia" yaitu Ya'qub— “adalah mempunyai pengetahuan, karena yang Kami ajarkan kepadanya." Aliah menegaskan bahwasanya peringatan-peringatan yang diberikan Ya'qub kepada anaknya supaya berhati-hati dalam perjalanan dan jangan masuk dari satu pintu, adalah dari ilmu yang diberikan Allah kepadanya. Satu di antara ilmu itu ialah bagaimana pengaruh penglihatan mata dari setengah orang, yang dapat meng-goncangkan jiwa orang yang dilihatnya, yang dinamai penyakit ‘ain. Ya'qub telah berusaha dan menyuruh anak-anaknya berhati-hati, meskipun orang tidak boleh lupa, bahwa kalau Allah hendak mendatangkan bahaya, walaupun telah masuk dari pintu yang telah terpisah pisah, namun bahaya itu akan datang juga.
“Tetapi amat banyaklah manusia yang tidak mengetahui."
(ujung ayat 68)
Amat banyak manusia yang tidak mengetahui atau tidak insaf bahwa segala sesuatunya adalah ketentuan Allah, dan manusia hanya berikhtiar belaka. Di samping usaha manusia adalah lagi garis qadar yang gaib, yang kadang-kadang apa yang direncanakan manusia itu berbeda daripada yang ditujunya semula, karena takdir Allah menghendaki lain.
“Dan tatkala mereka telah masuk kepada Yusuf, dipeluknyalah saudaranya. Dia berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah saudaramu, maka janganlah engkau berkecit hati atas apa yang telah mereka perbuat."
(ayat 69)
Dengan secara ringkas demikian Al-Qur'an menerangkan betapa pertemuan adik dan kakak yang telah terpisah lebih dari 25 tahun. Tidaklah dapat lagi Yusuf menyimpan rahasia batinnya kepada adik kandungnya yang satu ibu dengan dia itu, Bunyamin. Kabarnya perkataan itu disampaikannya kepada Bunyamin dengan secara rahasia di tempat yang terpencil. Dan karena keduanya bukan lagi kanak-kanak, melainkan orang-orang yang telah dewasa, sama-sama pandailah mereka menyimpan rahasia itu sementara, supaya saudara-saudara yang lain jangan tahu hal itu lebih dahulu. Waktu itu diberinya pula nasihat dan pesan kepada adiknya, Bunyamin itu supaya dia jangan berkecil hati atas perbuatan saudara-saudaranya memisahkan mereka dengan perbuatan yang amat jahat dua puluh lima tahun yang telah lalu itu. Karena betapa pun jua, mereka adalah saudara-saudara kandung mereka. Apatah lagi rencana jahat yang telah mereka lakukan itu, oleh Allah telah diakibatkan dengan akibat yang baik, yang tidak disangka-sangka oleh manusia. Dia melarang adiknya berkecil hati, anggap saja hal itu sudah tidak ada, besarkan jiwa. Karena betapa jua pun, namun telah dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri, bahwa kakak kandungnya yang dimasukkan ke dalam sumur, yang dikatakan telah mati ditelan serigala masih hidup dan sekarang adalah Wakil Mutlak Raja Mesir. Waktu itu pulalah—kata ahli tafsir— Yusuf mengatakan kepada Bunyamin bahwa dia akan mengatur siasat agar Bunyamin tinggal dengan dia, tidak kembali lagi ke dusun, bahkan ayah dan bundanya dan saudara-saudaranya itulah kelak yang akan disuruh datang ke Mesir semua, supaya terlepas dari kemiskinan hidup di dusun.
Sebagaimana janji Yusuf, mereka semuanya telah disambut dengan baik seperti sambutan yang dahulu, sebab kehendak Yusuf membawa Bunyamin mereka penuhi. Niscaya berbesar hatilah mereka semuanya menerima sambutan itu, sampai mereka diizinkan pulang kembali setelah dikatakan bahwa harga gandum yang dikembalikan itu memang disengaja, sebagai hadiah bagi mereka. Dan setelah segala unta angkutan mereka dimuat lagi dengan gandum yang baru, mereka telah boleh pulang kembali ke kampung mereka.
“Maka tatkala dia sediakan perbekalan mereka."
(pangkal ayat 70)
Artinya, segala unta-unta atau keledai-keledai itu telah selesai dimuati gandum."Di letak-kannya piala itu pada beban saudaranyaPiala, yang juga diambil menjadi sukatan penyukat gandum, dengan diam-diam diperintahkan oleh Yusuf supaya dimasukkan ke dalam beban kepunyaan saudaranya, Bunyamin. Dan setelah musta'id semuanya, mereka pun mulailah hendak berangkat meninggalkan Mesir menuju dusun mereka. Tetapi belum sampai kafilah itu keluar pintu kota, mereka dikejar oleh pegawai-pegawai Yusuf.
“Kemudian berserulah seorang penyeru: “Wahai kafilah, sungguh kamu ini pencuri-pencuri."
(ujung ayat 70)
Niscaya terkejutlah mereka mendengar se-ruanyang amat aneh itu. Mereka dituduh mencuri.
“Mereka bertanya sambil menghadap kepada mereka."
(pangkal ayat 71)
Kepada orang-orang yang diperintahkan mengejar itu. Dan tertegunlah perjalanan karenanya.
“Apa barang kamu yang hilang?"
(ujung ayat 71)
“Mereka jawab: “Kami kehilangan piala Regal Dan untuk barangsiapa yang mendapatkannya adalah."
(pangkal ayat 72)
Akan diberi hadiah yaitu “Satu pikulan unta." Dan akan diberi tambahan lagi sebagai hadiah cuma-cuma gandum yang akan mereka bawa pulang.
“Dan aku yang menjadi tanggungannya"
(ujung ayat 72)
Demikianlah kata dari yang menyeru itu. Mendengar tuduhan yang sangat berbahaya itu,
“Mereka jawab: “Demi Allah, sesungguhnya kamu pun tahu, tidaklah kami ini datang hendak berbuat kacau di negeri ini, dan tidaklah kami-kami ini pencuri."
(ayat 73)
Adakan mencuri yang akan kami kerjakan, padahal karena kekurangan gandum di negeri kami, kami datang disuruh ayah kami kemari membeli gandum dan harganya telah kami bayar dengan baik, dan Yang Dipertuan Muda pun sayang kepada kami, sampai harga gandum kali yang pertama dipulangkan kembali kepada kami. Tidaklah kami akan berlaku sejahat itu, mengacau dalam negeri ini, melakukan pekerjaan hina demikian, dan tidaklah kami ini pencuri-pencuri.
“Mereka," pegawai-pegawai yang diperintahkan Yusuf mengejar itu — “berkata: “Maka apakah batasannya jika (ternyata) kamu beidusta?"
(ayat 74)
Dengan tidak berpikir panjang lagi, karena memang tidak merasa bahwa mereka mencuri."Mereka jawab:
“Balasannya ialah barangsiapa yang didapati (benda itu) di kendaraannya, maka dia itulah batasannya."
(pangkal ayat 75)
Yaitu kalau barang itu bertemu dalam beban salah seorang di antara mereka yang sebelas itu, maka dia sendiri boleh ditawan dan dijadikan tangkapan atau budak oleh Yang Dipertuan Muda. Dan kata mereka selanjutnya,
“Demikianlah akan kami batasi orang yang Zalim."
(ujung ayat 75)
Dia itu adalah zalim, merusak dan mengacau hubungan yang begitu baik dengan Orang Besar Mesir, berbuat hina mencuri barang kerajaan, sehingga saudara-saudaranya mendapat malu. Semua mufakat menjawab demikian, karena semuanya merasa tidak ada mereka yang mencuri.
Mereka pun dibawalah kembali menghadap Yang Dipertuan Muda atau Bendahara Yusuf, akan diperiksa dan dibuka barang mereka satu demi satu.
“Maka dia mulai memeriksa di dalam bungkusan-bungkusan mereka sebelum bungkusan saudaranya."
(pangkal ayat 76)
Niscaya dengan hati berdebar masing-masing menunggu giliran dan berbesar hati karena sejak dari Raubin sampai Yahuda, Simeon dan lain-lain, sepuluh orang, tidak ada bertemu piala atau sukat raja dalam bungkusan mereka."Kemudian dia keluarkan dari bungkusan saudaranya ." Bungkusan Bunyamin. Alangkah gemas dan murka mereka semuanya kepada Bunyamin, yang terang terbukti memang piala raja terdapat di dalam bungkusannya."Demikianlah Kami aturkan tipu daya buat Yusuf' Artinya, tipu daya itu adalah dengan ilham Allah juga. ‘Tidaklah dapat dia mengambil saudaranya dalam peraturan Raja." Sebab dalam peraturan raja ketika itu, seorang yang terbukti mencuri akan segera dimasukkan ke dalam penjara, entah berapa bulan atau berapa tahun menurut besar kecilnya nilai barang yang dicuri. Tetapi dengan takdir Allah ﷻ, mulut dari saudara-saudara Yusuf telah terlanjur saja mengatakan bahwa barangsiapa yang terdapat dalam bungkusannya piala raja itu, jadikanlah dia budak atau tawanan Paduka Tuan. Artinya orang-orang yang bersangkutan sendiri yang menyediakan dirinya jadi budak tawanan. Maka setelah barang itu bertemu dalam bungkusan Bunyamin, kehendak dari mereka-mereka itulah yang dilakukan, bukan peraturan raja yang memestikan pencuri dimasukkan ke dalam penjara."Kecuali menurut yang dikehendaki Allah." Dan lantaran itu, Bunyamin dengan secara resmi menjadi tawanan Yusuf dan berdiam dengan dia, dan peraturan raja tidak terlanggar, dan pada batinnya Bunyamin sekarang teiah hidup dalam istana dengan derajat yang tinggi. Sebab itu maka lanjutan firman Allah, “Kami angkatkan derajat barangsiapa yang Kami kehendaki." Dicabutlah Bunyamin dari hidup sengsara dan dinaikkan ke dalam kemuliaan yang dikecap oleh abangnya.
"Dan di atas dari tiap-tiap orang yang mempunyai ilmu, ada (lagi) yang lebih mengetahui."
(ujung ayat 76)
Mungkin ujung ayat ini menunjukkan bahwa di atas dari siasat Yusuf yang dia sendiri belum menyangka sama sekali bahwa abang-abangnya akan memberi jawaban seperti demikian, yaitu siapa yang terdapat mencuri boleh dijadikan budak tawanan. Rupanya demikian jawaban mereka, sehingga siasat yang belum sempurna dari ilmu pengetahuan Yusuf dilebihi oleh Allah Yang Maha Mengetahui dengan yang lebih baik lagi. Sehingga adiknya tidak masuk penjara karena tertuduh mencuri, yang akan sulit juga baginya mempergunakan pengaruhnya buat mengeluarkan. Malahan sekarang akan duduk bersama dia di dalam istananya yang indah.
Tetapi sangatlah kecewa, gemas dan murka abang-abangnya itu kepada Bunyamin. Mereka tidak menyangka sama sekali bahwa adiknya yang dipingit oleh ayahnya itu akan mencuri, padahal dia dibawa ke Mesir dengan mengikat sumpah terlebih dahulu dengan ayah mereka. Maka dengan tidak disadari timbullah dendam lama mereka, dendam yang ditanamkan karena perlainan ibu, yang sewaktu-waktu selalu timbul, walaupun orang-orangnya sudah dewasa. Gejala jiwa benci yang tertanam sejak kecil itu, dengan tidak disadari timbul kembali karena merasa sangat malu dari perbuatan yang mereka yakin benar-benar dibuat oleh Bunyamin. Maka terloncatlah dari mulut mereka kata-kata menghina.
“Mereka berkata: Jika dia mencuri, maka sesungguhnya telah mencuri pula saudaranya sebelum ini."
(pangkal ayat 77)
Satu tuduhanyangsangattidakbertanggung jawab dan sangat dusta. Yusuf tidak pernah mencuri. (Ada beberapa riwayat penafsiran ahli tafsir yang mencoba hendak membenarkan tuduhan mereka ini, kata penafsir itu: Di waktu kecil Yusuf memang pernah mencuri berhala kepunyaan saudara perempuan bapaknya. Tetapi riwayat ahli tafsir ini hanya dicari-cari saja untuk memenuhi tafsir, asal ganjil). Ini adalah kata-kata bohong dari saudara-saudara Yusuf, yang dahulu pun telah berani berbohong besar mencelup kemeja Yusuf dengan darah kambing, lalu dikatakannya darah Yusuf. Tetapi Yusuf tenang saja mendengar tuduhan yang hina itu, supaya siasat yang direncanakannya jangan sampai gagal."Tetapi disimpan saja oleh Yusuf (kata-kata itu) dalam dirinya, dan tidak dinyatakannya kepada mereka."Sebab dia sebagai rasul Allah dan sebagai Orang Besar, dari satu keraja-an besar telah mempunyai rencana sendiri, yang tidak mau digagalkan oleh soal-soal kecil yang demikian. Cuma dia sambut saja dengan.
“Dia berkata: “Kamu adalah sejahat-jahat kedudukan dan Allah adalah lebih mengetahui apa yang kamu terangkan itu."
(ujung ayat 77)
Yaitu, mereka turut membenamkan saudara mereka setelah ternyata salah, dan tidak membela, adalah sejahat-jahat kedudukan! Satu laku yang hina. Apatah lagi menyebut pula saudaranya yang lain.
"Yusuf had His Golden Bowl placed in Binyamin's Bag; a Plot to keep Him in Egypt
Allah tells:
فَلَمَّا جَهَّزَهُم بِجَهَازِهِمْ جَعَلَ السِّقَايَةَ فِي رَحْلِ أَخِيهِ
ثُمَّ أَذَّنَ مُوَذِّنٌ
So when he furnished them forth with their provisions, he put the bowl in his brother's bag. Then a crier cried:
After Yusuf supplied them with their provisions, he ordered some of his servants to place his silver bowl (in Binyamin's bag), according to the majority of scholars.
Some scholars said that the king's bowl was made from gold.
Ibn Zayd added that according to Ibn Abbas, Mujahid, Qatadah, Ad-Dahhak and Abdur-Rahman bin Zayd,
the king used it to drink from, and later, measured food grains with it since food became scarce in that time,
Shu`bah said that Abu Bishr narrated that Sa`id bin Jubayr said that Ibn Abbas said that;
the king's bowl was made from silver and he used it to drink with. Yusuf had the bowl placed in Binyamin's bag while they were unaware, and then had someone herald,
أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ
O you (in) the caravan! Surely, you are thieves
قَالُواْ وَأَقْبَلُواْ عَلَيْهِم
They, turning towards them, said:
They looked at the man who was heralding this statement and asked him,
مَّاذَا تَفْقِدُونَ
قَالُواْ نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ
""What is it that you have lost""
They said:""We have lost the bowl of the king..."",
which he used to measure food grains,
وَلِمَن جَاء بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ
and for him who produces it is a camel load;
as a reward,
وَأَنَاْ بِهِ زَعِيمٌ
and I will be bound by it.
as assurance of delivery of the reward
After Yusuf's servants accused his brothers of theft,
قَالُواْ تَاللّهِ لَقَدْ عَلِمْتُم مَّا جِيْنَا لِنُفْسِدَ فِي الَارْضِ وَمَا كُنَّا سَارِقِينَ
They said:""By Allah! Indeed you know that we came not to make mischief in the land, and we are no thieves!
`Ever since you knew us, you, due to our good conduct, became certain that,
مَّا جِيْنَا لِنُفْسِدَ فِي الَارْضِ وَمَا كُنَّا سَارِقِينَ
(we came not to make mischief in the land, and we are no thieves!).
They said, `Theft is not in our character, as you came to know.'
Yusuf's men said
قَالُواْ فَمَا جَزَاوُهُ
They said:""What then shall be the penalty of him,
in reference to the thief, if it came out that he is one of you,
إِن كُنتُمْ كَاذِبِينَ
if you are (proved to be) liars.
They asked them, `What should be the thief's punishment if he is one of you!'
قَالُواْ جَزَاوُهُ مَن وُجِدَ فِي رَحْلِهِ فَهُوَ جَزَاوُهُ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ
They said:""His penalty should be that he, in whose bag it is found, should be held for the punishment. Thus we punish the wrongdoers!""
This was the law of Prophet Ibrahim, peace be upon him, that the thief be given as a slave to the victim of theft. This is what Yusuf wanted, and this is why he started with their bags first before his brother's bag, to perfect the plot
فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاء أَخِيهِ
So he (Yusuf) began (the search) in their bags before the bag of his brother.
ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِن وِعَاء أَخِيهِ
Then he brought it out of his brother's bag.
Therefore, Yusuf took Binyamin as a slave according to their judgement and the law which they believed in.
So Allah said;
كَذَلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ
Thus did We plan for Yusuf.
and this is a good plot that Allah likes and prefers, because it seeks a certain benefit using wisdom and the benefit of all.
Allah said next,
مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ
He could not take his brother by the law of the king,
as a captive, for this was not the law of king of Egypt, according to Ad-Dahhak and several other scholars.
Allah only allowed Yusuf to take his brother as a captive after his brothers agreed to this judgement beforehand, and he knew that this was their law.
إِلاَّ أَن يَشَاء اللّهُ
except that Allah willed it.
This is why Allah praised him when He said,
نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مِّن نَّشَاء
We raise to degrees whom We will,
just as He said in another Ayah,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمْ
Allah will exalt in degree those of you who believe. (58:11)
Allah said next,
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
but over all those endowed with knowledge is the All-Knowing.
Al-Hasan commented,
""There is no knowledgeable person, but there is another person with more knowledge until it ends at Allah the Exalted and Most Honored.""
In addition, Abdur-Razzaq recorded that Sa`id bin Jubayr said, that we were with Ibn Abbas when he narrated an amazing Hadith.
A man in the audience said, `All praise is to Allah! There is an all-knowing above every person endowed with knowledge.'
Ibn Abbas responded, `Worse it is that which you said! Allah is the All-Knowing and His knowledge is above the knowledge of every knowledgeable person.'
Simak narrated that Ikrimah said that Ibn Abbas said about Allah's statement,
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
(but over all those endowed with knowledge is the All-Knowing (Allah),
""This person has more knowledge than that person, and Allah is above all knowledgeable persons.""
Similar was narrated from Ikrimah.
Qatadah said,
""Over every person endowed with knowledge is a more knowledgeable person until all knowledge ends with Allah. Verily, knowledge started from Allah, and from Him the scholars learn, and to Him all knowledge returns.""
Abdullah bin Mas`ud read the Ayah this way,
وَفَوْقَ كُلِّ عاَلِمٍ عَلِيمٌ
""And above every scholar, is the All-Knower (Allah)."
And so he began with their sacks, and searched them, before his brother's sack, lest he be accused [of the theft]; then he pulled it, the drinking-cup, out of his brother's sack. God, exalted be He, says: Thus, [through such] contrivance, did We contrive for Joseph, [thus] We taught him how to devise a plot to take his brother; he, Joseph, could not have taken his brother, as a slave, on account of theft, according to the king's law, [according] to the laws of the king of Egypt - since his [a thief's] requital according to his law would have been a beating and a penalty of twice [the value of] the stolen item, but not enslavement - unless God willed, for him to be taken according to the law of his father [Jacob]; in other words, he was only able to take him with God's will, by God's inspiring him to ask his brothers [about the nature of requital] and their responding according to [what is decreed by] their customary practice. We raise by degrees whom We will (read with a genitive annexation, darajaati man nashaa', or [simply] with nunation, darajaatin man nashaa'), in terms of knowledge, as [We did] with Joseph; and above every man of knowledge, from among creatures, is one who knows better, better than him [and so on] until it ends with God, exalted be He.
Said in verse 75 was: فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ أَخِيهِ , that is, to cover up the real plan, the state officials first searched through the baggage of all brothers. They did not open Benyamin's baggage first lest that causes any doubts.
Then, as said in the first sentence of the next verse (76): ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِن وِعَاءِ أَخِيهِ , Benyamin's baggage was opened up last of all and recovered from it was the ` bowl of the king.' At that sight, all brothers were put to shame. They started chiding Benyamin for having disgraced them.
After that, it was said: كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ ۖ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّـهُ , that is, ` this is how We planned for Yusuf.' He could have not arrested his brother under the Egyptian Imperial Law because, according to their law of theft, there was a corporal punishment for the thief after which he was to be released against the payment of twice the cost of the stolen property. But, here, he had already found out the law of theft operative in the Shari'ah of Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) . According to this law, detaining Benyamin with him became correct and valid. So, also granted through the wisdom and will of Allah Ta’ ala was this wish of Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) .
Said in the last sentence of the verse is: نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ (We elevate in ranks whom so We will [ as, in this event, the ranks of Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) were elevated over his brothers ]. And above every man who has knowledge, there is someone more knowledgeable).
It means that Allah has given precedence to some over others in terms of knowledge. Take the highest of the high in knowledge, there is someone more knowledgeable than him. And if there is someone with a knowledge which is superior to the knowledge of the best among the creation of Allah, then, we have the 'Ilm of Allah jalla thana'uh which is the highest of all forever.
Rulings and points of guidance
Some injunctions and rulings deduced from the present verses are given below:
The statement: وَلِمَن جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ (and whoever brings it back shall deserve a camel-load) in verse 72 proves that it is valid to make a general announcement that a particular award or remuneration will be paid to anyone who performs a particular act. This is very much like the cur-rent custom of announcing rewards for the arrest of absconding criminals or for the return of lost properties. Though, this form of transaction does not fall under the juristic definition of Ijarah (hiring), but, in the light of this verse, the justification for this also stands proved. (Qurtubi)
2. The words: وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ (and I stand surety for it) appearing at the end of verse 72 tell us that one person can become the guarantor of financial rights on behalf of another person. The related ruling, according to the majority of Muslim jurists, provides that the creditor has the authority to recover his property from the person legally in debt, or from the guarantor, as he chooses. However, if it is recovered from the guarantor, the guarantor would have the right to recover from the person legally in debt whatever cash or property has been taken from him. (Qurtubi)
3. The sentence: كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ (This is how We planned for Yusuf) in verse 76 tells us that it is permissible, for a valid reason recognized by Shari’ ah, to change the form of a transaction in a way that it brings a change in its legal status. According to the terminology of the fuqaha' (jurists) it is called 'Hilah Shar` iah' (i.e. a lawful device to avoid a real hardship). However, the condition is that such an action should not cause the invalidation of the injunctions of the Shari’ ah. If so, all such devices are, by the consensus of Muslim jurists, Haram and unlawful - for example, finding an excuse to avoid paying Zakah, or to embark on an unnecessary journey before or during Ramadan simply to seek an excuse for not fasting. This is universally Haram. The hunt for such excuses and devices has brought Divine punishment on some nations, and the Holy Prophet ﷺ has prohibited the use of such stratagems. The entire Muslim Ummah agrees that they are Haram, forbidden and unlawful. Acting upon them does not go on to make whatever is done as permissible. In fact, what falls on the doer is a twofold sin - firstly, that of the original impermissible act; secondly, that of the impermissible device which amounts, in a way, to cheating Allah and His Rasul. That all such hiyal or strategems are impermissible has been proved by Imam Al-Bukhari in his Kitab al Hiyal.








