يُوسُف ١٠٠
- وَرَفَعَ dan dia menaikkan
- أَبَوَيۡهِ kedua ibu-bapaknya
- عَلَى diatas
- ٱلۡعَرۡشِ singgasana
- وَخَرُّواْ dan mereka tersungkur
- لَهُۥ kepadanya
- سُجَّدٗاۖ bersujud
- وَقَالَ dan (Yusuf) berkata
- يَٰٓأَبَتِ wahai ayahku
- هَٰذَا ini
- تَأۡوِيلُ tabir/pengertian
- رُءۡيَٰيَ mimpiku
- مِن dari
- قَبۡلُ sebelum/dahulu
- قَدۡ sesungguhnya
- جَعَلَهَا telah menjadikannya
- رَبِّي Tuhanku
- حَقّٗاۖ benar/kenyataan
- وَقَدۡ dan sesungguhnya
- أَحۡسَنَ Dia telah berbuat baik
- بِيٓ padaku
- إِذۡ ketika
- أَخۡرَجَنِي Dia mengeluarkan/membebaskan aku
- مِنَ dari
- ٱلسِّجۡنِ penjara
- وَجَآءَ dan Dia datangkan
- بِكُم dengan/untuk kalian
- مِّنَ dari
- ٱلۡبَدۡوِ dusun
- مِنۢ dari
- بَعۡدِ sesudah
- أَن akan
- نَّزَغَ mengganggu
- ٱلشَّيۡطَٰنُ syaitan
- بَيۡنِي antara aku
- وَبَيۡنَ dan antara
- إِخۡوَتِيٓۚ saudaraku
- إِنَّ sesungguhnya
- رَبِّي Tuhanku
- لَطِيفٞ Maha Lemah-lembut
- لِّمَا terhadap apa
- يَشَآءُۚ Dia kehendaki
- إِنَّهُۥ sesungguhnya Dia
- هُوَ Dia
- ٱلۡعَلِيمُ Maha Mengetahui
- ٱلۡحَكِيمُ Maha Bijaksana
Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, "Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.
(Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya) yakni Yusuf mendudukkan kedua orang tuanya sejajar dengannya (ke atas singgasananya.) tempat duduknya (Dan mereka merebahkan diri) yakni kedua orang tuanya dan semua saudara-saudaranya (kepada Yusuf seraya bersujud) yang dimaksud adalah sujud dengan membungkukkan badan bukannya sujud dalam arti kata meletakkan kening; cara itu merupakan penghormatan yang berlaku pada zamannya. (Dan berkata Yusuf, "Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu, sesungguhnya Rabbku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Rabbku telah berbuat baik kepadaku) terhadap diriku (ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara) Nabi Yusuf tidak menyinggung masalah sumur, hal ini sengaja ia lakukan demi menghormati saudara-saudaranya supaya mereka tidak malu (dan ketika membawa kalian dari dusun padang pasir) dari kampung padang pasir (setelah dirusak) dikacaukan (oleh setan hubungan antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui) tentang makhluk-Nya (lagi Maha Bijaksana.") di dalam pekerjaan-Nya. Kemudian ayah Nabi Yusuf (Yakub) bermukim bersama Yusuf selama dua puluh empat tahun atau tujuh belas tahun. Disebutkan bahwa masa perpisahan mereka delapan belas tahun lamanya atau empat puluh tahun atau delapan puluh tahun. Kemudian Nabi Yakub menjelang ajalnya, sebelum itu ia berwasiat kepada Nabi Yusuf supaya ia dikebumikan di dekat ayahnya, yaitu Nabi Ishak. Lalu Nabi Yusuf membawa jenazah ayahnya ke tempat yang diisyaratkannya dalam wasiat dan mengebumikannya di tempat tersebut. Setelah itu Nabi Yusuf kembali ke Mesir dan ia tinggal di negeri itu sesudah Nabi Yakub meninggal dunia selama dua puluh tiga tahun. Ketika urusannya telah sempurna kemudian ia mengetahui bahwa dirinya tidak akan abadi dalam keadaan demikian lalu hatinya menginginkan agar ia hijrah ke kerajaan yang abadi, yakni akhirat. Untuk itu berkata seraya berdoa:.
Tafsir Surat Yusuf: 99-100
Maka tatkala mereka masuk ke (negeri) Yusuf, Yusuf merangkul ibu bapaknya, dan dia berkata, "Masuklah kalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman."
Dan ia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, "Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kalian (keluar) dari dusun padang pasir, setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
Ayat 99
Allah ﷻ menceritakan kisah keberangkatan Ya'qub ke tempat Yusuf a.s. dan kedatangannya di negeri Mesir atas perintah Yusuf yang memerintahkan kepada saudara-saudaranya agar mendatangkan semua keluarga mereka ke negeri Mesir. Maka mereka membawa semua keluarga mereka dan berangkat meninggalkan negeri Kan'an tempat tinggal mereka menuju negeri Mesir.
Tatkala Yusuf a.s. mendapat berita bahwa mereka telah berada di dekat perbatasan Mesir, maka ia keluar untuk menyambut kedatangan mereka. Yusuf memerintahkan pula kepada semua pembantu dan orang-orang terkemuka negeri itu untuk menyambut kedatangan Nabi Allah Ya'qub a.s. Menurut satu pendapat, Raja Mesir pun ikut keluar menyambut kedatangannya; pendapat inilah yang mendekati kebenaran.
Kebanyakan kalangan ulama tafsir merasa kesulitan dalam menafsirkan firman Allah ﷻ yang mengatakan: "Yusuf memberikan tempat kepada ibu bapaknya dan berkata, ‘Masuklah kalian ke negeri Mesir’." (Yusuf: 99) Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa di dalam ayat ini terdapat taqdim dan ta'khir. Makna yang dimaksud ialah: Dan dia berkata: "Masuklah kalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman." (Yusuf: 99) Lalu ia memberikan tempat kepada kedua orang tuanya dan menaikkan mereka ke singgasana.
Tetapi Ibnu Jarir membantah penafsiran ini dengan bantahan yang cukup beralasan. Kemudian Ibnu Jarir memilih pendapat yang diriwayatkan oleh As-Saddi, yaitu Yusuf merangkul ibu bapaknya ketika menyambutnya; dan setelah mereka tiba di pintu gerbang kota, ia berkata kepada mereka: "Masuklah kalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman." (Yusuf: 99)
Akan tetapi, penafsiran ini pun masih perlu dipertanyakan kebenarannya, karena makna al-iwa hanyalah dipakai untuk pengertian memberikan tempat. Seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah ﷻ dalam ayat lain, yaitu: "Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya." (Yusuf: 69) Di dalam sebuah hadits disebutkan: "Barang siapa yang memberikan tempat kepada seorang ahli bid'ah," hingga akhir hadits. Dengan demikian, tiada keberatan bila dikatakan bahwa setelah mereka masuk ke tempat Yusuf dan Yusuf memberikan tempat kepada mereka, lalu ia berkata, "Masuklah kalian ke negeri Mesir"; dan Yusuf memberikan jaminan keamanan kepada mereka seraya berkata, "Tinggallah di negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman," yakni aman dari kesengsaraan dan paceklik yang selama ini menimpa kalian.
Menurut suatu pendapat - hanya Allah Yang Maha Mengetahui kebenarannya - sesungguhnya Allah melenyapkan musim paceklik selanjutnya dari penduduk negeri Mesir berkat kedatangan Nabi Ya'qub kepada mereka, sebagaimana dilenyapkan-Nya musim paceklik yang didoakan oleh Rasulullah ﷺ atas penduduk Mekah. Rasulullah ﷺ berdoa atas mereka: "Ya Allah, tolonglah aku dengan menimpakan musim paceklik atas mereka seperti musim pacekliknya Yusuf." Kemudian mereka (penduduk Mekah yang kafir) memohon kepada Nabi ﷺ dengan merendahkan diri melalui utusan mereka Abu Sufyan agar musim paceklik itu dilenyapkan dari mereka. Maka sisa musim paceklik itu dilenyapkan berkat doa Rasulullah ﷺ.
Firman Allah ﷻ: "Yusuf merangkul ibu bapaknya." (Yusuf: 99)
As-Saddi dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, sesungguhnya yang dimaksud dengan keduanya ialah ayah dan bibinya, karena ibu Nabi Yusuf telah meninggal dunia di masa lalu. Menurut Muhammad ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir, keduanya adalah ayah dan ibunya, kedua-duanya masih hidup. Ibnu Jarir mengatakan bahwa tiada suatu dalil pun yang menunjukkan bahwa ibu Nabi Yusuf telah meninggal dunia saat itu. Makna lahiriah Al-Qur'an menunjukkan bahwa ibu Nabi Yusuf masih hidup. Pendapat yang dibela oleh Ibnu Jarir ini merupakan pendapat yang dipilih karena sesuai dengan konteks ayat.
Ayat 100
Firman Allah ﷻ: "Dan Yusuf menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana." (Yusuf: 100)
Ibnu Abbas, Mujahid, dan lain-lain yang tidak hanya seorang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-arsy dalam ayat ini ialah singgasana. Yakni Yusuf mendudukkan kedua orang tuanya ke atas singgasananya bersama-sama dengan dia.
"Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya bersujud kepada Yusuf." (Yusuf: 100)
Maksudnya, kedua orang tuanya dan semua saudaranya yang jumlahnya ada sebelas orang bersujud kepada Yusuf.
Dan berkata Yusuf, "Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu." (Yusuf: 100)
Yakni mimpi yang pernah ia ceritakan kepada ayahnya jauh sebelum itu, yang disebutkan di dalam firman-Nya: "Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang." (Yusuf: 4), hingga akhir ayat. Hal ini masih diperbolehkan di dalam syariat mereka, bilamana memberikan salam penghormatan kepada orang besar, yakni boleh bersujud kepadanya. Hal ini diperbolehkan sejak zaman Nabi Adam sampai kepada syariat Nabi Isa a.s.
Kemudian dalam syariat Nabi Muhammad ﷺ hal ini diharamkan, dan hanya dikhususkan kepada Allah Tuhan sekalian alam. Demikianlah ringkasan dari apa yang dikatakan oleh Qatadah dan lain-lain.
Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ketika Mu'az tiba di negeri Syam, ia menjumpai mereka masih bersujud kepada uskup-uskup mereka. Ketika Mu'az bersujud kepada Rasulullah ﷺ, Rasulullah ﷺ bertanya, "Apakah yang engkau lakukan ini, hai Mu'az?" Mu'az menjawab, "Sesungguhnya aku melihat penduduk negeri Syam bersujud kepada uskup-uskup mereka, maka engkau lebih berhak untuk disujudi, wahai Rasulullah." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Seandainya aku memerintahkan kepada seseorang untuk bersujud kepada orang lain, tentu aku akan perintahkan kepada wanita untuk bersujud kepada suaminya, karena hak suaminya atas dirinya sangatlah besar."
Di dalam hadits lain disebutkan bahwa Salman bertemu dengan Nabi ﷺ di salah satu jalan kota Madinah; saat itu Salman baru masuk Islam, maka ia bersujud kepada Nabi ﷺ (sebagai penghormatan kepadanya). Nabi ﷺ bersabda membantah: "Hai Salman, janganlah kamu sujud kepadaku. Bersujudlah kepada Tuhan Yang Hidup, Yang tak pernah mati." Keterangan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa bersujud dalam penghormatan kepada seorang pembesar diperbolehkan dalam syariat mereka. Maka dari itu, mereka semuanya bersujud kepada Yusuf; dan saat itu juga Yusuf berkata: "Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan." (Yusuf: 100) Yakni inilah kenyataan dari mimpiku itu.
Penggunaan kata 'takwil dalam ayat ini ditujukan kepada pengertian kesimpulan dari suatu perkara atau kenyataannya, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah ﷻ dalam ayat yang lain: "Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur'an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur'an." (Al-A'raf: 53) Artinya, pada hari kiamat nanti akan datang kepada mereka apa yang telah dijanjikan kepada mereka, yaitu balasan kebaikan dan balasan keburukan (mereka).
Firman Allah ﷻ: "Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan." (Yusuf: 100)
Yakni menjadi kenyataan yang benar.
Lalu Yusuf menyebutkan nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya: "Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kalian (keluar) dari dusun padang pasir." (Yusuf: 100) Yaitu dari daerah pedalaman.
Ibnu Juraij dan lain-lain mengatakan bahwa mereka adalah penduduk daerah pedalaman yang bermata pencaharian beternak. Ibnu Juraij mengatakan, mereka tinggal di daerah pedalaman Palestina, bagian dari negeri Syam. Menurut pendapat lain mereka tinggal di Aulaj, lereng pegunungan Hasma; mereka adalah orang-orang pedalaman, beternak kambing dan unta.
"Setelah setan merusakkan hubungan antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki." (Yusuf: 100)
Maksudnya, apabila Dia menghendaki sesuatu perkara, maka Dia menetapkan baginya semua penyebab kejadiannya dan memutuskannya serta memudahkan terlaksananya.
"Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui." (Yusuf: 100)
Tentang kemaslahatan hamba-hamba-Nya.
"Lagi Maha Bijaksana." (Yusuf: 100) dalam ucapan, perbuatan, ketetapan, takdir dan semua yang dipilih dan yang dikehendaki-Nya.
Abu Usman An-Nahdi telah meriwayatkan dari Sulaiman, bahwa jarak masa antara mimpi Yusuf dan kenyataannya adalah empat puluh tahun. Abdullah ibnu Syaddad mengatakan bahwa masa itulah batas maksimal kenyataan suatu mimpi. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.
Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab As-Saqafi, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Al-Hasan yang mengatakan, "Jarak masa antara perpisahan dengan Nabi Yusuf sampai Nabi Ya'qub bertemu dengannya kembali adalah delapan puluh tahun."
Selama itu kesedihan selalu melanda hati Ya'qub a.s., dan air matanya selalu berlinangan mengalir ke pipinya tiada henti-hentinya. Tiada seorang hamba pun di muka bumi ini yang lebih disukai oleh Allah selain Nabi Ya'qub. Hasyim telah meriwayatkan dari Yunus, dari Al-Hasan, bahwa masa itu adalah delapan puluh tiga tahun. Mubarak ibnu Fudalah mengatakan dari Al-Hasan bahwa Yusuf dilemparkan ke dasar sumur ketika berusia tujuh belas tahun, dan menghilang dari pandangan ayahnya selama delapan puluh tahun.
Sesudah itu ia hidup selama dua puluh tiga tahun. Yusuf a.s. wafat dalam usia seratus dua puluh tahun. Qatadah mengatakan, masa perpisahan antara Ya'qub dan Yusuf adalah tiga puluh lima tahun. Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa menghilangnya Yusuf dari ayahnya adalah selama delapan belas tahun. Selanjutnya Ibnu Ishaq mengatakan, orang-orang ahli kitab menduga bahwa masa itu empat puluh tahun atau yang mendekatinya.
Ya'qub tinggal bersama Yusuf sesudah Ya'qub tiba di negeri Mesir adalah selama tujuh belas tahun, kemudian Allah mewafatkannya. Abi Ishaq As-Subai'i mengatakan dari Abu Ubaidah, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa kaum Bani Israil masuk ke negeri Mesir sebanyak tiga ratus enam puluh orang; ketika pergi meninggalkan Mesir, jumlah mereka mencapai enam ratus tujuh puluh ribu orang.
Abu Ishaq telah meriwayatkan dari Masruq, bahwa mereka masuk ke negeri Mesir dalam jumlah tiga ratus sembilan puluh orang yang terdiri atas kaum pria dan wanitanya. Musa ibnu Ubaidah telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, dari Abdullah ibnu Syaddad, bahwa keluarga Ya'qub berkumpul dengan Yusuf di negeri Mesir, sedangkan jumlah mereka ada delapan puluh enam orang termasuk anak-anak kecil, orang dewasa, kaum pria dan wanitanya. Ketika mereka pergi meninggalkan negeri Mesir, jumlah mereka mencapai enam ratus ribu orang lebih.
Dan ketika keluarga besar Nabi Yusuf sudah menempati ruangan
yang disediakan, dia menuntun dan menaikkan kedua orang tuanya ke atas
singgasana yang sudah disiapkannya. Dan mereka semua tunduk bersujud
memberi penghormatan kepadanya. Dan dia berkata kepada ayahnya,
Wahai ayahku! Inilah takwil dari mimpiku yang dahulu itu aku ceritakan
kepada engkau. Dan sesungguhnya Tuhanku yang selalu memelihara dan
melindungiku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku dengan menyempurnakan nikmat-Nya, antara
lain ketika Dia membebaskan aku dari penjara setelah difitnah, ketika
membawa kamu dari dusun menuju Mesir, dan setelah setan memerdaya
saudara-saudaraku sehingga merusak hubungan antara aku dengan saudara-saudaraku itu. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia
kehendaki dengan mengaturnya secara rapi. Sungguh, Dia Yang Maha
Mengetahui segala sesuatu, lagi Mahabijaksana dalam ketetapan-Nya. Nabi Yusuf kemudian berdoa, Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan yang tidak pernah aku
bayangkan sebelumnya, dan Engkau juga telah mengajarkan kepadaku
sebagian takwil mimpi. Wahai Tuhan Pencipta langit dan bumi, Engkaulah
Pelindungku yang selalu dekat denganku di dunia dan di akhirat, aku mohon kepada-Mu agar bila ajalku telah tiba, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim, dan gabungkanlah aku di akhirat kelak dengan orang-orang
yang saleh.
Ayat ini menjelaskan Yusuf kemudian mengangkat kedua orang tuanya dan mendudukkan mereka di atas singgasana sebagai penghormatan lebih daripada apa yang telah diperbuat kepada saudara-saudaranya. Mereka merebahkan diri seraya sujud memberi hormat kepada Yusuf, sebagaimana lazimnya orang-orang memberi hormat kepada raja dan para pembesar pada waktu itu. Yusuf lalu berkata, "Wahai ayahku! Inilah takbir mimpiku dahulu ketika saya masih kecil yang telah saya sampaikan kepada ayah dengan ucapan:
Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. (Yusuf/12: 4)
Lebih lanjut Yusuf berkata, "Allah ﷻ menjadikan mimpiku itu benar-benar terjadi, bukan khayalan. Sebelas bintang itu adalah saudara-saudaraku yang berjumlah sebelas orang, sedang matahari dan bulan adalah ayah dan ibuku." Dengan keluarga inilah Allah ﷻ memelihara keturunan Nabi Ishak, anak Nabi Ibrahim as, untuk mengembangkan agama tauhid di muka bumi ini. Selanjutnya Yusuf berkata kepada ayahnya, "Allah ﷻ telah berbuat baik kepadaku. Dia melepaskan aku dari penjara dan mengangkatku sebagai penguasa. Dia memindahkan ayah dari dusun padang pasir berpenghidupan sederhana dan kasar, ke negeri yang ramai, menikmati hidup yang bahagia, penyiaran agama yang benar, dan tolong menolong di dalam memajukan ilmu pengetahuan. Ini semua terjadi setelah setan memutus hubungan silaturrahim antara aku dan saudara-saudaraku sehingga rusaklah hubungan persaudaraan, dan timbullah rasa dengki dan buruk sangka antara kita. Sesungguhnya Allah ﷻ Maha Mengetahui segala sesuatu yang bagaimanapun halusnya, bersifat lemah lembut kepada hamba-hamba-Nya, dan menetapkan apa yang Dia kehendaki dengan kebijaksanaan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang menjadi maslahat bagi hamba-hamba-Nya. Tiada suatu hal yang tersembunyi bagi-Nya. Mahabijaksana di dalam segala hal, membalas orang-orang yang berbuat baik dengan kebaikan, dan kesudahan yang baik diberikan kepada orang-orang yang bertakwa."
.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
YA'QUB BERTEMU ANAKNYA, YUSUF
Pada hari yang telah ditentukan berangkatlah Ya'qub dan seluruh keluarganya. Istrinya (Lea), anak-anak, cucu-cucu dan menantu-me-nantunya, dan anak-anaknya yang perempuan dengan suami dan anak-anaknya pula. Yusuf sengaja datang mengalu-alukan beliau ke batas negeri Mesir dengan tanah Kana'an. (Mungkin di Gizzah yang sekarang ini).
“Maka tatkala telah masuk mereka kepada Yusuf, dipeluknyalah kedua ibu bapaknya, seraya berkata: ‘Masuklah ke Mesir, in syaa Allah, dalam keadaan aman.'"
(ayat 99)
Itulah saat yang diharap-harapkan dan sangat diyakini oleh Ya'qub pasti akan datang, sebab dia belum pernah merasa bahwa anaknya itu telah mati. Niscaya bertangis-tangisanlah mereka pada saat yang amat mengharukan itu. Adapun ibu, menurut banyak ahli-ahli tafsir ialah istri Ya'qub yang tua, kakak dari Rakhel ibu Yusuf, anak dari Laban, dan Laban adalah saudara laki-laki dari ibu Ya'qub. Istri yang tua ini bernama Lea, ibu dari Raubin. Segala barang diangkut dengan pedari-pedari yang sengaja dikirim Yusuf dari Mesir. Setelah musta'id mereka pun meneruskan perjalanan ke Mesir.
“Dan didudukkanlah kedua ibu bapaknya ke atas singgasana."
(pangkal ayat 100)
Yaitu singgasana kedudukan Yusuf sebagai Yang Dipertuan Muda Kerajaan Mesir. "Lalu mereka meniarap semua menghadapnya bersujud." Yang menurut syari'at pada masa itu agaknya tidak dilarang, karena semata-mata menyatakan hormat atau sangat terharu oleh perubahan keadaan yang sangat besar itu. Semuanya bersujud, sehingga Nabi Ya'qub dan istrinya pun turut bersujud.
“Dan berkatalah Dia: “Wahai bapakku! Inilah dia takwit mimpiku yang dahulu itu, telah dijadikan oleh Tuhanku menjadi kenyataan, dan Dia telah beibuat baik kepadaku, ketika Dia telah keluarkan daku dari dalam penjaga, dan didatangkanNya kamu semua dari dusun sesudah setan mengganggu di antaraku dan di antara saudara-saudaraku, sungguhlah Tuhanku itu lemah-lembut atas apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana"
(ujung ayat 100)
Pada ayat ini jelas dan nyata lagi ketinggian budi Yusuf. Dia hanya menyebut bahwa Allah telah menyelamatkannya keluar dari penjara, dan tidak disebutkannya bahwa Allah pun telah mengeluarkannya dari dalam sumur, supaya kenang-kenangan buruk di atara dia dengan saudara-saudaranya jangan timbul lagi, sebab itu akan mengurangi kegembiraan mereka dalam pertemuan yang amat berbahagia itu. Dan lebih dari itu, ialah hormat kepada Allah! Dan tidak disebutnya bahwa dari daiam penjara dia terus naik takhta Kerajaan sebagai Wazir Besar Raja Mesir, menunjukkan kerendahan hatinya di hadapan orang tuanya, karena meskipun bagaimana ketinggian pangkat yang diperolehnya, dia tidak lebih dari seorang anak yang selalu wajib berkhidmat dan hormat setinggi-tingginya kepada orang tua. Dia mensyukuri karena semua mereka itu telah datang dari dusun dan semua telah berkumpul ke Mesir, supaya hidup bersama-sama merasakan nikmat kemuliaan yang telah dirasakannya, dan tidak lagi akan menyusahkan perkara makanan yang pada masa itu masih sangat susah. Dan semua itu terjadi—katanya— setelah setan mengganggu di antara aku dengan saudara-saudaraku. Maka kesalahan saudara-saudaranya itu tidak dikatakannya salah mereka, melainkan salah setan belaka yang selalu mengganggu ketenteraman manusia. Tetapi semuanya itu tidak lain hanyalah berkat lemah lembut dan kasih mesra Allah terhadap hamba-Nya, Dia berbuat apa yang dihendaki-Nya, yang kadang-kadang tidak disangka-sangka oleh manusia. Sebab Allah itu Maha Mengetahui akan hamba-Nya dan Amat Bijaksana mengatur segala sesuatu, sehingga mengagumkan manusia.
Sejak waktu itu hiduplah mereka bersama di negeri Mesir. Menurut kitab Perjanjian Lama, hanya beberapa waktu saja Ya'qub tinggal dalam kota Mesir yang jaya itu. Tidak berapa lama kemudian Raja Mesir sendiri, karena menghormati Wazir Besarnya itu telah menganugerahi Ya'qub dan putra-putranya itu sebidang tanah yang luas untuk mereka hidup bercocok tanam dan beternak, karena demikianlah kebiasaan orang Ibrani yang mulia.
Dan setelah selamat segala kejadian ini, laksana langit sudahlah cerah dan angin ribut sudahlah tenang, dan bumi sudahlah subur, maka bersyukurlah Yusuf kepada Allah dengan ucapannya,
“Ya Tuhanku ! Sungguh telah Engkau anugerahkan kepadaku ..."
(pangkal ayat 101)
Kekuasaan yang demikian luasnya dan megahnya. Itulah nikmat dunia yang tiada taranya dan tiada aku sangka pada mulanya."Dan telah Engkau ajarkan kepadaku takwil dari kejadian-kejadian." Sehingga aku dapat mentakwilkan mimpi dan dapat menerka makanan sebelum dia terhidang dan keadaan yang lain-lain."Wahai yang Mencipta semua langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat." Semua kebenaran dunia ini, dan semua nikmat keruharian ini hanya dari Engkau datangnya. Hanya Engkau yang mengurniakannya. Tiada kalam yang dapat melukiskan dan tiada lidah yang dapat mengucapkan,'Terima/a/i akan daku sebagai Muslim" Artinya, jika datang saatnya aku sudah mesti meninggalkan dunia ini, terimalah aku Tuhanku, hamba-Mu yang lemah ini sebagai seorang Muslim, seorang yang telah menyerah kepada-Mu sebulatnya tiada yang lain.
“Dan hubungkantah daku dengan orang-orang yang saleh."
(ujung ayat 101)
Doa atau munajat yang amat mengharukan ini telah beliau ucapkan setelah kewajiban beliau sebagai Raja Muda atau Bendahara Negeri Mesir dilaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Tidak kurang dari lima belas tahun beliau telah bekerja keras siang dan malam, dan berhasil dengan gemilang, sehingga negeri Mesir terlepas dari bahaya kelaparan, malahan setelah musim kemarau yang tujuh tahun itu, dia menjadi negeri yang kaya dan dapat menjual makanan ke negeri-negeri lain yang berdekatan, sehingga tumpah ruah orang datang membeli makanan ke Mesir. Dan sehabis musim kemarau itu, Mesir menjadi negeri kaya, berkat usaha dari Bendahara, Raja Muda yang cerdik pandai mengatur pemerintahan itu. Dalam pada itu, tugas beliau sebagai rasul Allah tetap pula beliau jalankan. Terutama kepada orang-orang yang melarat, petani dan pengembala yang amat beliau kasihi dan tidak beliau pandang hina, walaupun beliau berpangkat tinggi. Cuma orang-orang kerajaan jua yang oleh karena diliputi oleh kemewahan banyak yang ragu-ragu, tetapi tidak berani membantah. Hal ini masih diingat oleh seorang besar Kerajaan Mesir, empat ratus tahun di belakang Yusuf, yaitu di zaman Nabi Musa. Tandanya zaman kejayaan Yusuf itu lama diingat orang yaitu Orang Besar keluarga Fir'aun yang telah menyatakan imannya dengan diam-diam kepada Musa. Dia memberi nasihat kepada kaumnya agar menerima seruan Musa itu, jangan ragu-ragu juga sebagaimana keraguan kepada Yusuf dahulu itu (Lihat surah al-Mu'min, ayat 34).
Satu hal lagi yang mengharukan hati kita bila membaca doa beliau ini, ialah keteguhan hati beliau menghadapi hidup. Beliau dimasukkan oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur, beliau diam dan tidak mengeluh, dan tidak berdoa menyatakan sedia mati saja, karena beliau ingin hidup, ingin berjasa. Kemudian beliau meringkuk dalam tahanan selama tujuh tahun, perkara tidak diperiksa, kesalahan tidak ada. Di sana pun beliau tidak mengeluh bersedia mati, karena ingin hidup, buat beramal dan berbuat baik. Setelah tua dan setelah kewajiban hidup beliau lunaskan, dan dikenal dalam segala penderitaan dan kesenangan sebagai seorang yang tetap berbuat baik, dan setelah bertemu kembali dengan ayahnya, barulah dia bermunajat kepada Allah,
“Jika telah tiba waktunya aku mesti menutup mata, ya Tuhanku, maka terimalah altu sebagai seorang Muslim. Dan hubungkan daku dengan orang-orang yang saleh."
Yaitu nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain. Sebagai penutup kisah yang sangat indah ini, berfirmanlah Allah kepada utusan-Nya, Nabi kita Muhammad ﷺ,
“Demikian itulah berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada engkau." (Wahai utus-an-Ku).
“Padahal tidaklah engkau ada di hadapan mereka, tatkala mereka menyatu-padukan soal mereka itu."
(pangkal ayat 102)
Yaitu sekalian saudara-saudara Nabi Yusuf bermufakat hendak membunuh atau hendak membuangnya jauh-jauh agar hilang dari mata orang tuanya, atau keputusan terakhir me-masukkannya ke dalam sumur.
“Padahal mereka tengah mengatur tipu-daya,"
(ujung ayat 102)
Tetapi kabar ini engkau ketahui selengkapnya, karena wahyu yang Aku turunkan kepada engkau jua adanya.
Sehingga tersebutlah dalam satu riwayat oleh al-Baihaqi dari jalan al-Kalbi dari Abu Shalih, dari keterangan Ibnu Abbas, bahwa suatu ketika seorang Ahbar (pendeta) Yahudi datang menziarahi Rasulullah ﷺ dan didengarnya beliau sedang membawa surah ini, dia sangat tercengang dan bertanya dari mana diterimanya riwayat itu, lalu Nabi Muhammad ﷺ menjawab, bahwa dia diterimanya dari Wahyu. Pendeta Yahudi itu tercengang, sebab kisah itu hampir sejalan dengan yang dalam Taurat, lalu dia pun menyatakan diri masuk Islam dan diajaknya pula beberapa orang temannya memeluk Islam. Maka masuk Islamlah mereka karena surah Yuusuf.
Berkata Abu Ishaq as-Sabi'i, yang diterimanya dari Masruq, dan Masruq menerima dari Abdullah bin Mas'ud, katanya, “Bani Israil masuk ke Mesir jumlahnya semua 63 manusia, kemudian setelah mereka keluar (dengan pimpinan Musa a.s.) berjumlah 670.000 orang." Ditambah lagi dengan riwayat Musa bin Ubaidah, dari Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi, dari Abdullah bin Syaddad, Datang Ya'qub sekeluarga menuruti Yusuf ke Mesir, semuanya 86 orang, kecil dan besar, laki-laki dan perempuan; dan kemudian mereka keluar (di zaman Musa) bilangan mereka 600.000 lebih. Tambahan lagi:
Di dalam kisah Yusuf ini Raja Mesir tidaklah disebut Fir'aun, melainkan “Malik" atau raja saja. Kemudian setelah zaman Nabi Musa barulah tersebut nama dan gelar raja-raja Mesir itu, yaitu Fir'aun.
Ahli-ahli penyelidik sejarah menyatakan bahwa di zaman dahulu itu, khususnya zaman Nabi Yusuf memang Mesir pernah diserang dan dikuasai oleh pengembara-pengembara dari Tanah Arab, yang dinamai kaum Hyksos. (Keterangan ini dapat dilihat dalam buku karangan saga, Sejarah Umat Islam Jilid I). Sebab itu maka di dalam kitab-kitab tafsir disebut nama Raja Mesir Zaman Yusuf tersebut, yang mengangkatnya menjadi Raja Muda atau Bendahara dengan panggilan “Yang Mulia" (al-Aziz) bahwa nama raja itu ar-Rayyan bin Al-Walid; yang menunjukkan bahwa dia adalah Raja Arab.
"Yusuf welcomes His Parents; His Dream comes True
Allah tells:
فَلَمَّا دَخَلُواْ عَلَى يُوسُفَ اوَى إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ
Then, when they came in before Yusuf, he took his parents to himself,
Yusuf had asked his brothers to bring all of their family, and they all departed their area and left Kana`an to Egypt. When Yusuf received news of their approach to Egypt, he went out to receive them.
The king ordered the princes and notable people to go out in the receiving party with Yusuf to meet Allah's Prophet Yaqub, peace be upon him. It is said that the king also went out with them to meet Yaqub.
Yusuf said to his family, after they entered unto him and he took them to himself,
وَقَالَ ادْخُلُواْ مِصْرَ إِن شَاء اللّهُ امِنِينَ
and said:""Enter Egypt, if Allah wills, in security.""
He said to them, `enter Egypt', meaning, `reside in Egypt', and added, `if Allah wills, in security', in reference to the hardship and famine that they suffered.
اوَى إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ
(and he took his parents to himself),
As-Suddi and Abdur-Rahman bin Zayd bin Aslam said that;
his parents were his father and maternal aunt, as his mother had died long ago.
Muhammad bin Ishaq and Ibn Jarir At-Tabari said,
""His father and mother were both alive.""
Ibn Jarir added,
""There is no evidence that his mother had died before then. Rather, the apparent words of the Qur'an testify that she was alive.""
This opinion has the apparent and suitable meaning that this story testifies to.
Allah said next
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ
And he raised his parents to Al-'Arsh,
According to Ibn Abbas, Mujahid and several others,
he raised them to his bedstead where he sat.
Allah said,
وَخَرُّواْ لَهُ سُجَّدًا
and they fell down before him prostrate.
Yusuf's parents and brothers prostrated before him, and they were eleven men,
وَقَالَ يَا أَبَتِ هَـذَا تَأْوِيلُ رُوْيَايَ مِن قَبْلُ
And he said:""O my father! This is the Ta'wil (interpretation) of my dream aforetime..."",
in reference to the dream that he narrated to his father before,
إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا
(I ﷺ (in a dream) eleven stars...). (12:4)
In the laws of these and previous Prophets, it was allowed for the people to prostrate before the men of authority, when they met them. This practice was allowed in the law of Adam until the law of `Isa, peace be upon them, but was later prohibited in our law.
Islam made prostration exclusively for Allah Alone, the Exalted and Most Honored. The implication of this statement was collected from Qatadah and other scholars.
When Mu`adh bin Jabal visited the Sham area, he found them prostrating before their priests. When he returned (to Al-Madinah), he prostrated before the Messenger of Allah, who asked him,
مَا هَذَا يَا مُعَاذُ
What is this, O, Mu`adh?
Mu`adh said, ""I ﷺ that they prostrate before their priests. However, you, O Messenger of Allah, deserve more to be prostrated before.""
The Messenger said,
لَوْ كُنْتُ امِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لاَِحَدٍ لَاَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا لِعِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا
If I were to order anyone to prostrate before anyone else (among the creation), I would have ordered the wife to prostrate before her husband because of the enormity of his right on her.)
Therefore, this practice was allowed in previous laws, as we stated.
This is why they (Yaqub and his wife and eleven sons) prostrated before Yusuf, who said at that time,
يَا أَبَتِ هَـذَا تَأْوِيلُ رُوْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا
O my father! This is the Ta'wil of my dream aforetime! My Lord has made it come true!
using the word, `Ta'wil', to describe what became of the matter, later on.
Allah said in another Ayah,
هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ تَأْوِيلَهُ يَوْمَ يَأْتِى تَأْوِيلُهُ
Await they just for its Ta'wil! On the Day the event is finally fulfilled..., (7:53)
meaning, on the Day of Judgement what they were promised of good or evil will surely come to them.
Yusuf said,
قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا
My Lord has made it come true!
mentioning that Allah blessed him by making his dream come true,
وَقَدْ أَحْسَنَ بَي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاء بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ
He was indeed good to me, when He took me out of the prison, and brought you (all here) out of the Bedouin life,
out of the desert, for they lived a Bedouin life and raised cattle, according to Ibn Jurayj and others.
He also said that they used to live in the Arava, Ghur area of Palestine, in Greater Syria.
Yusuf said next,
مِن بَعْدِ أَن نَّزغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاء
after Shaytan had sown enmity between me and my brothers. Certainly, my Lord is the Most Courteous and Kind unto whom He wills.
for when Allah wills something, He brings forth its reasons and elements of existence, then wills it into existence and makes it easy to attain,
إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ
Truly, He! Only He is the All-Knowing.
what benefits His servants,
الْحَكِيمُ
the All-Wise.
in His statements, actions, decrees, preordainment and what He chooses and wills."
And he raised his parents, he seated them next to him, upon the throne, and they fell down, that is, his parents and brothers, prostrating before him - a prostration that was [actually] a bowing down, not placing their foreheads down [on the ground]; this was their standard [form of] greeting at that time. Then he said, 'O father, this is the interpretation of my vision of old. Indeed my Lord has made it true. And indeed He has been gracious to me, since He brought me out of the prison - he did not say 'out of the well', in [a show of] magnanimity, lest his brothers feel ashamed - and has brought you from the desert after Satan had incited ill feeling, made trouble, between me and my brethren. Truly my Lord is Subtle in [bringing about] what He will. Truly He is the Knower, of His creatures, the Wise, in His actions. His father [Jacob] remained with him for 24 years, or for 17 years. The duration of his separation [from Joseph] had been 18, or 40, or 80 years. When death approached him, he charged Joseph to take him and bury him by his father [Isaac], and so he [Joseph] himself went and buried him there. He [Joseph] then returned to Egypt and remained [alive] for another 23 years.
Verse 100 opens with the words: وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ (And he raised his parents up on the throne), that is, Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) had his parents sit with him on the royal throne.
After that it was said: وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا (and they all fell before him in prostration), that is, the parents, and all brothers did sajdah before Sayyidna Yusuf I. Sayyidna ` Abdullah ibn ` Abbas ؓ has said that this prostration of gratitude was for Allah Ta` ala, and not for Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) . Others have said that a Sajdah or Sujud (prostration) as part of ` Ibadah (worship) when done for anyone other than Allah has always been forbidden in the Shari'ah of every prophet. But, the Sajdah of Ta` zim (veneration) was permissible in the religious codes of past prophets - which has been prohibited in the Shari’ ah of Islam on the basis that it is a source of Shirk. This is confirmed by Hadith reports from Al-Bukhari and Muslim that Sajdah (prostration) for anyone other than Allah is not Halal.
And when both his father and mother, and eleven of his brothers, prostrated before him simultaneously, he remembered the dream he had seen in his childhood, and he said: وَقَالَ يَا أَبَتِ هَـٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا : ` My father, here is the fulfillment of my early dream,' that 'the sun and the moon and eleven stars are prostrating to me,' and I am grateful that ` my Lord has made it come true.'
Rules and Points of Guidance
1. When his sons requested Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) to pray to Allah for their forgiveness, he said, ` I shall (soon) pray to my Lord to forgive you.' He did not make that du'a instantly. He delayed it.
One of the reasons given by commentators for this delay is that he first wanted to check with Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) whether or not he has forgiven them - because, unless the victim of injustice forgives, there is no forgiveness from Allah either. So, this being the state of affairs, the making of a prayer for forgiveness was not appropriate.
Pointed to here is a matter of sound principle - that no violation of the rights of the servants of Allah (Huquq al-ibad) gets to be forgiven unless the holder of the right receives his right back, or forgives it - only verbal repentance for it is not enough.
2. According to a narration of Sufyan al-Thawri (رح) when Yahuda brought in the shirt of Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) and put it over the face of his father, he asked: How is Yusuf? Yahuda told him that he was the king of Egypt. Sayyidna Yaqub (علیہ السلام) said: I am not asking if he is a prince or a pauper. I am asking how is he in his faith and deed. Then he told him about the qualities of his character and how God-fearing and chaste in conduct he was. This is how the noble prophets love and relate to their children. They are more concerned about the state of their spiritual life than they are with the state of their physical comfort. This is the model every Muslim should follow.
3. According to Hadrat Hasan (رح) ، when the carrier of the good news arrived with the shirt of his separated son, Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) wished to give him something in reward. But, life was hard, therefore, he apologized that there was no bread baked in the house for seven days and he could not give a material reward. However, he prayed that Allah Ta` ala makes the agony of death easy on him. Al-Qurtubi has said that this prayer was the best reward for him.
4. This event also tells us that the giving of a reward to someone who brings a good news is a practice of the blessed prophets. An event relating to Sayyidna Ka'b ibn Malik ؓ from among the noble Sahabah is well known. He had not participated in the battle of Taber for which he was reproached and punished - though his repentance was later ac-cepted. When the man with the good news of this acceptance came to him, he gave the dress he was wearing to him.
In addition to that, it also proves that inviting friends over meals on occasions of happiness is Sunnah. Sayyidna ` Umar ؓ when he completed his reading of Surah al-Baqarah, shared his happiness with others by inviting them to eat with him for which he slaughtered a camel.
5. The sons of Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) once the truth had come out in the open, asked for the forgiveness of their father and brother. This tells us that a person who has caused pain to someone, by word or action, or remains responsible for returning any right owed to him, then, it is obligatory on that person that he must pay back that right immediately, or have it forgiven by him.
Based on a narration of Sayyidna Abu Hurairah ؓ there is a report in the Sahib of Al-Bukhari that the Holy Prophet ﷺ said: A person who has someone's financial right due against him, or may have caused pain to him, by word or action, then, he must pay it back today, or get it off his shoulders by seeking forgiveness - before comes the day of Qiyamah where no one would have any property or wealth from which rights could be paid back. Therefore, his good deeds will be given to the victim of injustice and he will be left empty-handed. And if, he has no good deeds in his account, the sins of the other person will be put on his shoulders. May Allah protect us all from this.
Patience and Gratitude:
The Dignified Station of Sayyidna Yusuf (علیہ السلام)
To pick up the thread of the story, we see that Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) starts telling his parents things which happened to him. This is a point where it would be useful to stop for a while and think. Had someone in our day been subjected to go through all those hardships which were faced by Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) and had he been enabled to meet his parents after such a long trial of separation and disappointment, just imagine where would he begin his tale of woes, how would he cry and make others do the same, and how many days and nights would he spend in recounting the hardships faced by him? But, the two parties, the teller and the listener, are both no less than two messengers and prophets of Allah. Worth observing is their conduct in this matter. Here is the very dear separated son of Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) ، when he meets his father after having gone through the long period of so many hardships, see what he says:
وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي
He favoured me when He released me from the prison and brought you from the countryside after the Satan had caused a rift between me and my brothers - 100.
The hardships faced by Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) can be divided over three stages respectively: (1) The injustices of his brothers; (2) the separation from his parents; (3) the pain of the prison. What this great prophet of Allah has done is that, in his statement, he has changed the order of events as they had happened. He started from the prison. Then, he said nothing about how he had entered the prison and how he had suffered there. Rather, talked about how he was released from the prison and mentioned that too with words of gratitude for Allah Ta` ala. As a corollary of his release from the prison and his gratitude to Allah for it, he also told them that he has been in the prison for a certain time.
Worth noticing here is that Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) has mentioned his release from the prison. But, he has not said anything about the prison of the well in which his brothers had thrown him. He did not mention it even functionally, as in ` He released me from the prison - 100.' The reason is that he had already forgiven the mistake made by his brothers, and had said: لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ (No reproach upon you today - 92). There-fore, he did not consider it proper to mention the incident of the well in any form whatsoever, so that his brothers may not be put to shame. (Qurtubi)
After that, he was supposed to dwell on the long and trying separation from his parents, and talk about how they had affected him. But, he set all these things aside. He took up the last part of it and mentioned his meeting with the parents and said so by thanking Allah for it: ` and brought you from the countryside (al-badw) ' to this city of Egypt. There is a hint here to the blessing of Allah that He brought Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) from his home in the countryside, where conveniences of living are scarce, to a city with royal honours.
The first stage of the trials of Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) has not been mentioned yet. This concerns the injustices inflicted by his brothers on him. It is interesting that he sweeps the whole thing away as a handiwork of Satan and makes things come easy even by suggesting that his brothers were not of the kind who would do something like that. It was Satan who deceived them and caused this rift between them.
This is the elegance of prophets. Not only that they would be patient against pain and hardship, but that they would invariably find the occasion to be grateful to Allah under all conditions. Therefore, with prophets, there is no state of being in which they are not grateful to Allah Ta’ ala. This is contrary to what ordinary human beings would do. In their state of being, they would have thousands of blessings of Allah Ta’ ala being showered over them, yet they would not talk about them to anyone. And when they have some hardship overtake them at some time, they would go about crying over it all their lives. The Qur'an has complained about this human mind-set when it says:إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ (that is, human beings are, to their Rabb, very ungrateful -100:6).
After having reduced the tale of his trials in three words, Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) said:إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (Surely, my Lord does what He wills, in a subtle way. Surely, He is the All-Knowing, the All-Wise - 12:100).