ٱلْعَادِيَات ٨
- وَإِنَّهُۥ dan sesungguhnya dia
- لِحُبِّ benar-benar cinta
- ٱلۡخَيۡرِ kebaikan (harta)
- لَشَدِيدٌ sungguh sangat
dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan.
(Dan sesungguhnya karena cintanya kepada kebaikan) maksudnya cinta atas harta benda (dia sangat bakhil) artinya lantaran sangat mencintai harta, jadilah ia seorang yang amat bakhil atau kikir.
Tafsir Surat Al-'Adiyat: 1-11
Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu di tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat pelit karena cintanya kepada harta. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.
Ayat 1
Allah ﷻ bersumpah dengan menyebut kuda apabila dilarikan di jalan Allah (jihad), maka ia lari dengan kencangnya dengan suara dengus napasnya yang keras saat lari.
Ayat 2
“Dan kuda yang mencetuskan api (dengan pukulan kuku kakinya). (Al-'Adiyat: 2) Yakni suara detak kuku kakinya ketika menginjak batu-batuan, lalu keluarlah percikan api darinya.
Ayat 3
“Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi.” (Al-'Adiyat: 3)
Yaitu mengadakan serangan di waktu pagi hari, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau mengadakan serangan di waktu subuh; maka apabila beliau mendengar suara azan di kabilah yang akan diperanginya, beliau mengurungkan niatnya. Dan apabila beliau ﷺ tidak mendengar suara azan di kabilah tersebut, maka dilaksanakannyalah niatnya.
Ayat 4
Firman Allah ﷻ: “Maka ia menerbangkan debu.” (Al-'Adiyat: 4)
Maksudnya, debu di tempat kuda-kuda mereka sedang beraksi di kancah peperangan.
Ayat 5
“Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.” (Al-'Adiyat: 5)
Kuda-kuda tersebut berada di tengah-tengah kancah peperangan (mengobrak-abrik barisan musuh).
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abdah, dari Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya: “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah.” (Al-'Adiyat: 1) Yaitu unta menurut Ali. Menurut Ibnu Abbas kuda. Dan ketika apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas itu sampai ke telinga Ali, maka ia berkata, "Dalam Perang Badar kami tidak memiliki kuda." Ibnu Abbas menjawab, bahwa sesungguhnya hal tersebut hanyalah berkenaan dengan pasukan khusus yang dikirimnya.
Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Abu Sakhr, dari Abu Mu'awiyah Al-Bajali, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan kepadanya bahwa ketika aku sedang berada di Hijir Isma'il, tiba-tiba datanglah kepadaku seorang lelaki yang bertanya mengenai makna firman-Nya: “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah.” (Al-'Adiyat: 1) Maka aku menjawab, bahwa makna yang dimaksud adalah kuda ketika digunakan untuk menyerang di jalan Allah, kemudian di malam hari diistirahatkan dan mereka membuat makanan (memasak makanan)nya, dan untuk itulah maka mereka menyalakan api (dapur)nya buat memasak.
Setelah itu lelaki tersebut pergi meninggalkan diriku menuju ke tempat Ali berada, yang saat itu berada di tempat minum air zamzam (dekat sumur zamzam). Lalu lelaki itu menanyakan kepada Ali makna ayat tersebut, tetapi Ali balik bertanya, "Apakah engkau pernah menanyakannya kepada seseorang sebelumku?" Lelaki itu menjawab, "Ya, aku telah menanyakannya kepada Ibnu Abbas, dan ia mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah kuda ketika menyerang di jalan Allah." Ali berkata, "Pergilah dan panggillah dia untuk menghadap kepadaku."
Ketika Ibnu Abbas telah berada di hadapan Ali, maka Ali berkata, "Apakah engkau memberi fatwa kepada manusia dengan sesuatu yang tiada pengetahuan bagimu mengenainya. Demi Allah, sesungguhnya ketika mula-mula perang terjadi di masa Islam (yaitu Perang Badar), tiada pada kami pasukan berkuda kecuali hanya dua ekor kuda. Yang satu milik Az-Zubair dan yang lainnya milik Al-Miqdad. Maka mana mungkin yang dimaksud dengan al-'adiyati dabhan adalah kuda. Sesungguhnya yang dimaksud dengan al-'adiyati dabhan ialah bila berlari dari 'Arafah ke Muzdalifah dan dari Muzdalifah ke Mina."
Ibnu Abbas mengatakan bahwa lalu ia mencabut ucapannya itu dan mengikuti pendapat yang dikatakan oleh Ali. Dan berdasarkan sanad ini dari Ibnu Abbas dapat disebutkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan bahwa menurut Ali, al-'adiyati dabhan bila jarak yang ditempuhnya dari 'Arafah ke Muzdalifah; dan apabila mereka beristirahat di Muzdalifah, maka mereka menyalakan apinya (untuk memasak makanannya).
Al-Aufi dan lain-lainnya telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna yang dimaksud adalah kuda. Dan ada sejumlah ulama yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah kumpulan unta (yang digunakan untuk kendaraan perang di jalan Allah), di antara mereka adalah Ibrahim dan Ubaid ibnu Umair. Sedangkan ulama lainnya mengikuti pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, antara lain ialah Mujahid, Ikrimah, ‘Atha’, Qatadah, dan Adh-Dhahhak; dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
Ibnu Abbas dan ‘Atha’ mengatakan bahwa tiada yang mengeluarkan suara dengusan napas saat berlari kecuali hanya kuda dan anjing.
Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari ‘Atha’ bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas memperagakan tentang makna ad-dabhu, yaitu suara dengusan napas.
Kebanyakan ulama mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Dan kuda yang mencetuskan bunga api dengan pukulan (kuku kakinya).” (Al-'Adiyat: 2) Yaitu dengan kuku kakinya.
Menurut Qatadah apabila kuda-kuda itu menyalakan peperangan di antara para penunggangnya.
Telah diriwayatkan dari Mujahid dan Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “Dan kuda yang mencetuskan bunga api dengan pukulan (kuku kaki)nya.” (Al-'Adiyat: 2) Yaitu menyalakan api untuk tipu muslihat dalam peperangan. Menurut pendapat yang lain, menyalakan api bila kembali ke tempat tinggal mereka di malam hari. Menurut pendapat yang lainnya lagi, makna yang dimaksud ialah api para kabilah. Dan menurut orang yang menafsirkannya dengan kuda mengartikannya dengan pengertian menyalakan api di Muzdalifah.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang benar adalah yang pertama. Yaitu yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah kuda ketika memercikkan bunga api dari kuku kakinya saat berlari kencang dan beradu dengan batu-batuan.
Ayat 3
Firman Allah ﷻ: “Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi.” (Al-'Adiyat: 3)
Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah pasukan berkuda yang menyerang di pagi hari buta di jalan Allah. Menurut ulama yang menafsirkannya dengan unta, makna yang dimaksud ialah berangkat di waktu subuh dari Muzdalifah ke Mina.
Dan mereka semuanya mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
“Maka ia menerbangkan debu.” (Al-'Adiyat: 4)
Di tempat kuda-kuda dan unta-unta itu berada, baik dalam ibadah haji maupun dalam jihad, debu-debu beterbangan karenanya.
Ayat 5
Firman Allah ﷻ: “Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.” (Al-'Adiyat: 5)
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ‘Atha’, Ikrimah, Qatadah, dan Adh-Dhahhak (yang semuanya dari Ibnu Abbas) bahwa makna yang dimaksud ialah kumpulan pasukan musuh yang kafir.
Dapat pula ditakwilkan dengan pengertian bahwa kuda-kuda itu berkumpul di tengah-tengah tempat medan pertempuran. Dengan demikian, berarti lafal jam'ah di-nasab-kan menjadi hal (kata keterangan keadaan) yang menguatkan makna wasata. Abu Bakar Al-Bazzar sehubungan dengan hal ini telah meriwayatkan sebuah hadits yang gharib sekali. Untuk itu ia mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdah, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Jami', telah menceritakan kepada kami Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ mengirimkan pasukan berkuda, maka berlalulah masa satu bulan tanpa ada kabar beritanya.
Lalu turunlah firman Allah ﷻ: “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah.” (Al-'Adiyat: 1) Yakni menghentak-hentakkan kakinya dengan cepat dalam larinya. “Dan kuda yang mencetuskan bunga api dengan pukulan (kuku kaki)nya. (Al-'Adiyat: 2) Artinya, kuku kakinya memercikkan bunga-bunga api karena menginjak bebatuan, seperti halnya batu pemantik api apabila diadukan. “Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi.” (Al-'Adiyat: 3) Yaitu menyerang musuh di pagi buta dengan serangan yang mengejutkan. “Maka ia menerbangkan debu.” (Al-'Adiyat: 4) Yakni debu beterbangan karena injakan kuku kakinya. “Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.” (Al-'Adiyat: 5) Maksudnya, menyerbu ke tengah-tengah kantong musuh semuanya di waktu pagi buta.
Ayat 6
Firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar lagi tidak berterima kasih kepada Tuhannya.” (Al-'Adiyat: 6)
Inilah subjek sumpahnya, dengan pengertian bahwa sesungguhnya manusia itu benar-benar mengingkari nikmat-nikmat Tuhannya.
Ibnu Abbas, Mujahid, Ibrahim An-Nakha'i, Abul Jauza, Abul Aliyah, Abud Duha, Sa'id ibnu Jubair, Muhammad ibnu Qais, Adh-Dhahhak, Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan Ibnu Zaid telah mengatakan bahwa al-kanud artinya pengingkar. Al-Hasan mengatakan bahwa al-kanud artinya orang yang mengingat-ingat musibah dan melupakan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah, dari Israil, dari Ja'far ibnuz Zubair, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ sehubungan dengan makna firman-Nya: “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar lagi tidak berterima kasih kepada Tuhannya.” (Al-'Adiyat: 6) Beliau bersabda, bahwa al-kanud artinya orang yang makan sendirian dan memukul budaknya serta menolak kehadirannya.
Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya pula melalui jalur Ja'far ibnuz Zubair, tetapi dia orangnya tidak terpakai hadisnya, dan sanad hadits ini lemah pula. Ibnu Jarir telah meriwayatkannya pula melalui hadits Hiriz ibnu Usmam, dari Hamzah ibnu Hani', dari Abu Umamah secara mauquf.
Ayat 7
Firman Allah ﷻ: “Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya.” (Al-'Adiyat: 7)
Qatadah dan Sufyan Ats-Tsauri mengatakan bahwa sesungguhnya Allah benar-benar menyaksikan hal tersebut.
Dapat pula ditakwilkan bahwa damir yang ada merujuk kepada manusia, ini menurut Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi. Dengan demikian, berarti maknanya ialah sesungguhnya manusia itu benar-benar menyaksikan sendiri (mengakui) akan keingkaran dirinya melalui sepak terjangnya, yakni terlihat jelas hal itu dari ucapan dan perbuatannya, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya: “Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka sendiri mengakui bahwa mereka kafir.” (At-Taubah: 17)
Ayat 8
Firman Allah ﷻ: “Dan sesungguhnya dia sangat pelit karena cintanya kepada harta.” (Al-'Adiyat: 8)
Sungguh kecintaannya kepada harta benda benar-benar sangat dahsyat.
Sehubungan dengan makna ayat ini, ada dua pendapat; pendapat pertama mengatakan bahwa sesungguhnya manusia itu sangat mencintai harta. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa sesungguhnya karena kecintaannya kepada harta, dia menjadi seorang yang kikir. Kedua makna sama-sama benarnya. Kemudian Allah ﷻ menganjurkan kepada manusia untuk berzuhud terhadap duniawi dan menganjurkan mereka untuk menyukai pahala akhirat. Hal ini diungkapkan-Nya melalui peringatan terhadap mereka tentang apa yang akan terjadi sesudah kehidupan dunia ini, yaitu banyak peristiwa yang menakutkan yang akan dihadapinya.
Ayat 9
“Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur?” (Al-'Adiyat: 9)
Maksudnya, dikeluarkan orang-orang yang telah mati dari dalam kuburnya.
Ayat 10
“Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada.” (Al-'Adiyat: 10)
Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah apabila dinyatakan dan ditampakkan apa yang selama itu mereka sembunyikan dalam diri dan hati mereka.
Ayat 11
“Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.” (Al-'Adiyat: 11)
Tuhan mereka benar-benar mengetahui semua yang diperbuat dan yang dikerjakan oleh mereka, dan Dia kelak akan membalaskannya terhadap mereka dengan balasan yang sempurna; Dia tidak akan berbuat zalim sedikit pun terhadap seseorang.
Demikianlah akhir tafsir surat Al-'Adiyat, segala puji bagi Allah atas semua karunia yang telah dilimpahkan-Nya.
Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan. Kecintaan berlebihnya pada harta membuatnya materialistis, mengumpulkan harta dengan jalan apa pun, tidak peduli halan atau haram. Cintanya itu juga membuatnya bakhil dan cenderung menggunakannya untuk sesuatu yang tidak benar. 9. Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan dan dibangkitkan pada hari kiamat untuk mempertanggung-jawabkan amalnya,.
Allah menyatakan bahwa karena sangat sayang dan cinta kepada harta serta keinginan untuk mengumpulkan dan menyimpannya menyebabkan manusia menjadi sangat kikir, tamak, serta melampaui batas. Allah berfirman:
Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan. (al-Fajr/89: 20).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Setelah Allah bersumpah dengan memakai kuda dalam perang, yang gagah perkasa menyerbu musuh di tengah malam, sehingga dari ladam kuda itu timbul api dan bekas hebat serbuannya menimbulkan debu-duli; datanglah tujuan inti sumpah pada ayat yang keenam, yaitu
Ayat 6
“Sesungguhnya manusia terhadap Tuhannya tidaklah berterima kasih." (ayat 6)
Arti Kanuud ialah tidak berterima kasih, melupakan jasa. Berapa saja nikmat yang diberikan Allah, dia tidak merasa puas dengan yang telah ada itu, bahkan masih meminta tambah lagi. Nafsunya tidak pernah merasa cukup dan kenyang; yang ada tidak disyukurinya, bahkan dia mengomel mengapa sedikit; dan yang datang terlebih dahulu dilupakannya.
Ayat 7
“Dan sesungguhnya dia, atas yang demikian itu, adalah menyaksikan sendiri." (ayat 7)
Artinya, bahwasanya tingkah laku dan sikap hidup orang yang tidak berterima kasih kepada Allah itu mudah saja diketahui oleh orang lain, karena orang yang begitu tidaklah dapat menyembunyikan perangainya yang buruk itu.
Ayat 8
“Dan sesungguhnya dia, karena cintanya kepada harta, adalah terlalu." (ayat 8)
Yang dimaksud dengan terlalu di sini ialah sangat bakhil. Mana yang telah masuk tidak boleh keluar lagi. Takut didekati orang karena takut akan dimintai. Sampai kadang-kadang manis mulutnya kepada orang sampai caranya memburuk-burukkan diri supaya jangan diketahui bahwa dia kaya, Semuanya itu adalah menunjukkan ciri-ciri orang bakhil. Yang sangat padanya ialah mementingkan diri sendiri, lemah dalam hubungan kepada Allah dan kepada sesama manusia.
Ayat 9
“Apakah dia tidak tahu?" (pangkal ayat 9)
Apakah tidak sampai kepadanya pengajaran yang disampaikan oleh Rasul, bahwa hidup ini bukan hanya di dunia ini saja? Dan setelah manusia mati, harta bendanya itu tidak akan dibawa? Malahan kelak akan tiba masanya.
“Apabila dibongkar apa yang ada dalam kubur?" (ujung ayat 9)
Artinya bahwa semua makhluk yang telah mati akan dibangkitkan kembali dari kuburnya karena akan dihisab, karena akan diperhitungkan amalan yang telah dibawanya untuk hidupnya di akhirat. Dan akan ditanyai dari mana didapatnya hartanya yang banyak dan dipertahankannya mati-matian sampai menjadi bakhil itu, dan ke mana dibelanjakannya?
Ayat 10
“Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada-dada?" (ayat 10)
Maka segala rahasia yang tersembunyi selama hidup dahulu, entah harta benda yang banyak itu didapat dari menipu, mencuri, berbohong, laku curang, korupsi, manipulasi, semuanya akan terbongkar, sehingga jatuh hinalah diri di hadapan khalayak ramai di Padang Mahsyar.
Ayat 11
“Sesungguhnya Tuhan mereka, terhadap mereka, di hari itu adalah amat mengetahui." (ayat 11)
Tidaklah dapat berbohong lagi, atau bersenda-gurau dan main-main (lahwun wa la'ibun) seperti di dunia, karena semua rahasia sudah ada di tangan Allah.
Tafsir of Surah Al-Adiyat
Swearing by the Horses of War about the Ungratefulness of Man and His Zeal for Wealth
Allah swears
وَالْعَادِيَاتِ
ضَبْحًا
By the `Adiyat(steeds), snorting.
Allah swears by the horses when they are made to gallop into battle in His path (i.e., Jihad), and thus they run and pant, which is the sound that is heard from the horse when it runs.
فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا
Striking sparks of fire.
meaning, the striking of their hooves on the rocks, which causes sparks of fire to fly from them.
فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا
And scouring to the raid at dawn.
meaning, the raid that is carried out in the early morning time.
This is just as the Messenger of Allah used to perform raids in the early morning. He would wait to see if he heard the Adhan (call to prayer) from the people. If he heard it he would leave them alone, and if he didn't hear it he would attack.
Then Allah says,
فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا
And raise the dust in clouds the while.
meaning, dust at the place of the battle with the horses.
فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا
And penetrating forthwith as one into the midst.
means, then are all in the middle of that spot, together.
Allah's saying;
فَالْمُغِيرَتِ صُبْحاً
(And scouring to the raid at dawn), Ibn Abbas, Mujahid and Qatadah, all said,
This means the invasion of the horses in the morning in the way of Allah.
And His statement,
فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعاً
(And raise the dust in clouds the while),
This is the place in which the attack takes place. The dust is stirred up by it.
And His statement,
فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعاً
(And penetrating forthwith as one into the midst), Al-Awfi narrated from Ibn Abbas, Ata, Ikrimah, Qatadah and Ad-Dahhak that they all said,
This means into the midst of the disbelieving enemy.
Concerning Allah's statement,
إِنَّ الاِْنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ
Verily, man is ungrateful
لَكَنُودٌ
(Kanud) to his Lord.
This is the subject what is being sworn about, and it means that he (man) is ungrateful for the favors of His Lord and he rejects them.
Ibn Abbas, Mujahid, Ibrahim An-Nakhai, Abu Al-Jawza, Abu Al-Aliyah, Abu Ad-Duha, Sa`id bin Jubayr, Muhammad bin Qays, Ad-Dahhak, Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi` bin Anas and Ibn Zayd all said,
لَكَنُودٌ
Al-Kanud means ungrateful.
Al-Hasan said,
لَكَنُودٌAl-Kanud is the one who counts the calamities (that befall him) and he forgets Allah's favors.
Concerning Allah's statement,
وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ
And to that He bears witness.
Qatadah and Sufyan Ath-Thawri both said,
And indeed Allah is a witness to that.
It is also possible that the pronoun (He) could be referring to man. This was said by Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi. Thus, its meaning would be that man is a witness himself to the fact that he is ungrateful.
This is obvious in his condition, meaning this is apparent from his statements and deeds.
This is as Allah says,
مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَن يَعْمُرُواْ مَسَاجِدَ الله شَـهِدِينَ عَلَى أَنفُسِهِم بِالْكُفْرِ
It is not for the idolators, to maintain the Masajid (Mosques) of Allah, while they witness disbelief against themselves. (9:17)
Allah said;
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
And verily, he is violent in the love of wealth.
meaning, and indeed in his love of the good, which is wealth, he is severe.
There are two opinions concerning this.
One of them is that it means that he is severe in his love of wealth.
The other view is that it means he is covetous and stingy due to the love of wealth.
However, both views are correct.
The Threat about the Hereafter
Then Allah encourages abstinence from worldly things and striving for the Hereafter, and He informs of what the situation will be after this present condition, and what man will face of horrors.
He says,
أَفَلَ يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ
Knows he not that when the contents of the graves are poured forth,
meaning, the dead that are in it will be brought out.
وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ
And that which is in the breasts shall be made known,
Ibn Abbas and others have said,
This means what was in their souls would be exposed and made apparent.
إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَيِذٍ لَّخَبِيرٌ
Verily, that Day their Lord will be Well-Acquainted with them.
meaning, He knows all of that they used to do, and He will compensate them for it with the most deserving reward. He does not do even the slightest amount of injustice.
This is the end of the Tafsir of Surah Al-`Adiyat, and all praise and thanks are due to Allah.
And verily in the love of wealth he is avid, and is therefore niggardly with it.
Verse [ 100:8] وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (and in his love for wealth, he is very intense.) Literally, the word khair means 'any good thing'. Idiomatically, the word khair, in Arabic, means 'wealth' implying that 'wealth' is an embodiment of goodness and benefit. However, some type of wealth can involve man in untold misery. In the Hereafter, this will be the position of all wealth acquired through unlawful means. Sometimes, wealth in this world too can prove to be nuisance and disaster. Nonetheless, according to Arabic idiom, worldly goods in this verse have been described as khair as the same word in another verse [ 2:180] اِن تَرَکَ خَیراً "...he leaves some wealth...". In this verse as well the word khair means 'wealth'.
To recap, having taken oath by war-horses, the subject states two points: [ 1] man is ungrateful or he is a blamer of his Lord who remembers misfortunes and forgets His favours; and [ 2] he is passionate in his love for wealth. Both these points are evil, rationally as well as from the Shari'ah point of view. These statements warn man against these evils. The evil of ingratitude is quite obvious and needs no elaboration, but the evil of man's violent love for wealth is not that obvious, and needs some elaboration. Wealth is the axis of man's needs and necessities. Shari'ah has not only permitted its acquisition, but it has also made its acquisition obligatory to the degree of his needs. Therefore, what is condemned in the verse is either the 'intense' or excessive love for wealth that makes one neglectful to one's obligations, and oblivious of the divine injunctions, or the sense is that earning wealth, even saving it according to one's needs is though permissible, having its love in the heart is bad. Let us consider the following illustration: When man feels the need to answer the call of nature, he does it out of necessity. In fact, he makes arrangements for it, but he does not develop love or passion for it in his heart. Likewise, when he falls sick and takes medication, or even undergoes surgery, but he does not develop attachment for it in his heart. He does it only out of necessity. The believer should treat the wealth in this way: A believer should acquire wealth, as Allah has commanded him, to the extent of his need, save it, look after it and utilize it whenever and wherever necessary, but his heart should not be attached to it. How elegantly Maulana Rumi (رح) has put it in one of his verses!
آب اندر زیر کشتی پشتی است آب در کشتی ھلاک کشتی است
"As long as the water remains under the boat, it helps the boat [ to sail ];
but if the water seeps into the boat, it sinks it."
Likewise, as long as the wealth floats around the boat of heart, it would be useful; but when it seeps into the heart, it will destroy it. Towards the conclusion of the Surah a warning has been sounded against these two evil qualities of man for which he will be punished in the Hereafter.