إِبْرَاهِيم ٤٢
- وَلَا And (do) not
- تَحۡسَبَنَّ think
- ٱللَّهَ (that) Allah
- غَٰفِلًا (is) unaware
- عَمَّا of what
- يَعۡمَلُ do
- ٱلظَّـٰلِمُونَۚ the wrongdoers
- إِنَّمَا Only
- يُؤَخِّرُهُمۡ He gives them respite
- لِيَوۡمٖ to a Day
- تَشۡخَصُ will stare
- فِيهِ in it
- ٱلۡأَبۡصَٰرُ the eyes
And never think that Allāh is unaware of what the wrongdoers do. He only delays them [i.e., their account] for a Day when eyes will stare [in horror].
And do not suppose that God is heedless of what the evildoers, the disbelievers from among the people of Mecca, do. He but gives them respite, without chastisement, until a day when eyes shall stare wide-open, because of the terror of what they see (one says shakhasa basaru fulaan to mean 'he opened them [his eyes] and did not shut them');
Allah gives Respite to the Disbelievers and is never unaware of what They do
Allah says,
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّهَ غَافِلً عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
Consider not that Allah is unaware of that which the wrongdoers do,
Allah says, `O Muhammad, do not think that Allah is unaware of what the unjust disbelievers do. Do not think because Allah gave them respite and delayed their punishment that He is unaware or ignoring punishing them for what they do. Rather, Allah keeps full account of this for them and keeps it on record against them,
إِنَّمَا يُوَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الَابْصَارُ
but He gives them respite up to a Day when the eyes will stare in horror.
from the horror of the Day of Resurrection.
Allah next mentions how they will all be raised up from their graves and hurriedly gathered for the Day of Gathering
مُهْطِعِينَ
hastening forward,
in a hurry.
Allah said in other Ayat,
مُّهْطِعِينَ إِلَى الدَّاعِ
Hastening towards the caller. (54:8)
يَوْمَيِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِىَ لَا عِوَجَ لَهُ
On that Day mankind will follow strictly Allah's caller, no crookedness will they show him.) (20:108) until,
وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَىِّ الْقَيُّومِ
And (all) faces shall be humbled before the Ever Living, the Sustainer. (20:111)
Allah said:another Ayah,
يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ الاٌّجْدَاثِ سِرَاعاً
The Day when they will come out of the graves quickly. (70:43)
Allah said next,
مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ
with necks outstretched,
meaning, raising their heads up, according to Ibn Abbas, Mujahid and several others.
Allah said next,
لَا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ
their gaze returning not towards them,
meaning, their eyes are staring in confusion, trying not to blink because of the horror and tremendous insights they are experiencing, and fear of what is going to strike them, we seek refuge with Allah from this end.
This is why Allah said,
وَأَفْيِدَتُهُمْ هَوَاء
and their hearts empty.
meaning, their hearts are empty due to extreme fear and fright.
Qatadah and several others said that;
the places of their hearts are empty then, because the hearts will ascend to the throats due to extreme fear.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Stands for 'Qatiran', the original Qur’ anic word which means a highly inflammable oil extracted from the Pine-tree.
Commentary
Mentioned in Surah Ibrahim were some details of matters relating to prophets and their peoples, the evil end of those who opposed Divine in-junctions and, later on, Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) himself, who constructed the Baytullah, and for whose children Allah Ta’ ala made a community rise around them in Makkah al-Mukarramah, and provided for all its in-habitants perfect peace and extraordinary economic facilities, and it is his children, the Banu Ismail, who are the first addressees of the Glorious Qur'an and the Holy Prophet ﷺ .
In this last section of Surah Ibrahim, the same people of Makkah have been exhorted to take a lesson from what had happened to past peoples; and, in a nutshell, they have been warned that, should they still not return to their senses, they better be ready to face the horrendous punishment of the day of Qiyamah.
Initially, the first verse (42) is to comfort the Holy Prophet ﷺ and the oppressed of the world, then, it releases the threat of a severe punishment for all oppressors - that the unjust practitioners of crime should not become carefree because Allah Ta’ ala has given them respite. Let them not be deluded by the idea that Allah is not aware of their wrongdo-ings for which reason they are flourishing despite their crimes and for which reason nothing unwelcome happens to them, nor does any punishment visit them. This is not true. Instead of all that they presuppose, everything they are doing is all within the sight of Allah Ta’ ala, but He, in His mercy and wisdom, is giving them respite.
In this verse: وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّـهَ غَافِلًا And never think that Allah is unaware of what the wrongdoers are doing), the address is obviously to every such person whom his own negligence, and shaitan, have tricked to believe in something like that. And should it be that the Holy Prophet ﷺ himself is the addressee here, still then, the purpose of saying this would be to let the negligent of the community hear it and be warned - because, there exists just no possibility that the Holy Prophet ﷺ would, God forbid, ever think that Allah Ta’ ala is unaware or indifferent to what is happening.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Ibrahim: 42-43
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada hari itu mata (mereka) terbelalak,
Mereka datang bergegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedangkan mata mereka tidak berkedip dan hati mereka kosong.
Ayat 42
Firman Allah ﷻ: “Dan janganlah sekali-kali kamu menduga.” (Ibrahim: 42) Khitab atau pembicaraan ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. (Ibrahim: 42) Artinya, janganlah kamu mempunyai dugaan bahwa Allah melupakan orang-orang yang zalim dan membiarkan mereka tanpa menghukum mereka karena perbuatannya, hanya karena Allah menangguhkan ajal kebinasaan mereka. Bahkan Allah menghitung-hitung semua perbuatan zalim yang mereka lakukan dengan perhitungan yang sangat terperinci.
“Sesungguhnya Allah memberi tangguh mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (Ibrahim: 42)
Yaitu karena kedahsyatan dan kengerian serta huru-hara yang terjadi di hari kiamat. Kemudian Allah menceritakan perihal kebangkitan mereka dari kuburnya masing-masing serta ketergesa-gesaan mereka dalam menuju Padang Mahsyar. Untuk itu Allah ﷻ berfirman:
“Mereka datang bergegas.” (Ibrahim: 43)
Yakni dengan terburu-buru, sama dengan pengertian yang terdapat dalam ayat lainnya, yaitu:
“Mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu.” (Al-Qamar: 8)
“Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok.” (Thaha: 108) sampai dengan firman-Nya: “Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya).” (Thaha: 111) Dan firman Allah ﷻ: “(Yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat.” (Al-Ma'arij: 43), hingga akhir ayat.
Ayat 43
Firman Allah ﷻ: “Dengan mengangkat kepalanya.” (Ibrahim: 43)
Ibnu Abbas, Mujahid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah mereka mengangkat kepalanya.
“Sedangkan mata mereka tidak berkedip.” (Ibrahim: 43)
Artinya, pandangan mata mereka terbeliak tanpa berkedip barang sesaat pun karena banyak huru-hara, kengerian, dan hal-hal yang sangat menakutkan yang menimpa diri mereka; semoga Allah melindungi kita dari kengerian pada hari kiamat.
Dalam firman selanjutnya disebutkan: “Dan hati mereka kosong.” (Ibrahim: 43)
Yakni hati mereka kosong tidak ada apa-apanya karena rasa takut yang sangat hebat. Qatadah dan sejumlah ulama mengatakan bahwa rongga hati mereka kosong; karena hati itu bila telah menyesak sampai ke tenggorokan maka ia keluar dari tempatnya disebabkan rasa takut yang amat hebat. Sebagian ulama mengatakan bahwa hatinya telah rusak, tidak sadar akan sesuatu pun karena kedahsyatan peristiwa yang diberikan oleh Allah ﷻ. Kemudian Allah ﷻ berfirman kepada Rasul-Nya:
Usai mengisahkan doa-doa Nabi Ibrahim dalam beberapa ayat sebelumnya, pada ayat-ayat berikut Allah menegaskan betapa Dia tidak pernah lengah mengawasi perbuatan orang yang zalim dan durhaka. Dia
berfirman, Dan janganlah sekali-kali engkau atau siapa pun juga mengira bahwa Allah lengah sehingga lalai atau lupa dari menjatuhkan sanksi atas apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah hanya
sedang menangguhkan hukuman yang akan dijatuhkan-Nya kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak akibat dahsyatnya hari Pembalasan itu. Pada hari itu mereka datang dengan tergesa-gesa memenuhi panggilan
Allah dengan mengangkat kepalanya dan memandang dengan penuh cemas, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip karena takut dan hati mereka kosong karena tidak mampu lagi berpikir.
Disebutkan dalam sejarah bahwa orang musyrik Mekah selalu menghalang-halangi dan menentang Nabi Muhammad dan para sahabat dalam melaksanakan dakwah sebagaimana yang telah diperintahkan Tuhan kepada mereka. Semakin hari halangan dan rintangan itu semakin bertambah, bahkan sampai kepada penganiayaan dan pemboikotan. Banyak para sahabat yang dianiaya. Mereka tidak mau mengadakan hubungan jual-beli, hubungan persaudaraan dan hubungan tolong-menolong dengan kaum Muslimin. Demikian beratnya siksaan dan penganiayaan itu hampir-hampir para sahabat Nabi berputus asa. Sementara itu orang-orang musyrik kelihatannya seakan-akan diberi hati oleh Allah dengan memberikan kekuasaan dan kekayaan harta. Tindakan mereka semakin hari semakin membabi buta.
Dalam keadaan yang demikian, Allah memperingatkan Nabi Muhammad ﷺ dengan ayat yang menyatakan, "Wahai Muhammad, janganlah kamu menyangka Allah ﷻ lengah dan tidak memperhatikan tindakan dan perbuatan orang-orang musyrik Mekah yang zalim itu. Tindakan dan perbuatan mereka itu adalah tindakan dan perbuatan yang menganiaya diri mereka sendiri. Allah pasti mencatat segala perbuatan mereka. Tidak ada satupun yang luput dari catatannya. Semua tindakan dan perbuatan mereka itu akan diberi balasan yang setimpal. Allah akan memasukkan mereka ke dalam neraka yang menyala-nyala di akhirat nanti."
Dengan turunnya ayat ini, hati Nabi dan para sahabat menjadi tenteram. Semangat juang mereka bertambah. Mereka meningkatkan usaha mengembangkan agama Allah. Semakin berat tekanan dan penganiayaan yang dilakukan kaum musyrikin, semakin bertambah pula usaha mereka menyiarkan agama Islam, karena mereka percaya bahwa Allah pasti akan menepati janji-Nya.
Ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ, tetapi yang dimaksud ialah seluruh umat Nabi Muhammad, termasuk umatnya yang hidup pada masa kini. Oleh karena itu, kaum Muslimin tidak perlu terpengaruh oleh kehidupan orang-orang yang zalim yang penuh kemewahan dan kesenangan, seakan-akan mereka umat yang disenangi Allah. Semuanya itu hanyalah merupakan cobaan Tuhan dan sifatnya sementara, sampai kepada waktu yang ditentukan, yaitu hari yang penuh dengan huru-hara dan kesengsaraan, di suatu hari dimana mata manusia membelalak ketakutan menghadapi balasan yang akan diberikan Allah.
“Dan janganlah engkau kita bahwa Allah lengah dari apa yang dikerjakan oleh orang-orang yang zalim."
(pangkal ayat 42)
Oleh karena merasa kecewa melihatorang-orang yang zalim mengerjakan pekerjaan yang tidak diridhai oleh Allah, melanggar perintah-Nya, berbuat berbagai maksiat dan kedurhakaan, kadang-kadang orang yang beriman dan setia melakukan perintah Allah serasa tidak sabar. Kesewenang-wenangan orang yang zalim itu terlalu lambat rasanya dibiarkan Allah. Memang setiap perbuatan yang salah itu, dirasakan oleh orang yang membencinya terlalu lama. Sampai kadang-kadang timbul pertanyaan dalam hati, apakah keadaan yang tidak benar dan tidak adil ini dibiarkan saja oleh Allah? Mengapa Allah tidak bertindak? Perasaan yang demikian yang dijawab Allah dengan ayat ini. Allah menjelaskan, jangan dikira Allah lengah, sekali-kali Allah tidak lengah. Bahkan segala gerak-gerik orang yang zalim itu tidaklah lepas dari tilikan Allah.
“Cuma Dia mundurkan mereka kepada suatu hari, yang akan terbelalak padanya segala penglihatan."
(ujung ayat 42)
Artinya, segala sikap dan langkah yang dimulai dengan salah, tidaklah pada waktu itu juga tampak bahayanya atau balasan yang diterimanya. Perbuatan salah itu kelak akan mencapai puncaknya. Mereka kelak akan sampai kepada satu ketika yang mereka sendiri pun merasa tidak dapat surut lagi. Langkah itu mesti diteruskan atau dapat ditahari lagi. Seumpama seorang pengendali kendaraan bermotor tidak hati-hati di tempat yang berbahaya, lalu seliplah roda kendaraan itu dan meluncur masuk jurang. Waktu kendaraan itu meluncur, betapa pun dia hendak menahan kejatuhan, tidaklah ada kekuasaannya lagi. Kekuasaan atau kemudi telah lepas dari tangannya. Apabila kejatuhan dan kehancuran itu datang, terbelalaklah segala mata yang melihat; karena tidak dapat berbuat apa-apa lagi buat mencabutkan si zalim itu dari kecelakaan.
“Dalam keadaan terburu-buru dan menundukkan kepala mereka, tidak berkedip penglihatan mereka. Sedang hati mereka jadi kosong."
(ayat 43)
Inilah bayangan yang amat tepat dari suasana kegugupan yang menimpa apabila saat yang tidak disangka-sangka itu datang. Yaitu karena kezaliman telah sampai kepada akibat kecelakaannya. Matanya terbelalak karena kengerian. Dalam keadaan terburu-buru, berlari ke sana, melompat kemari, tidak terlihat mata orang lain sehingga menunduk saja. Terasa bahwa ini adalah akibat dari perbuatan yang salah, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa lagi, hati telah jadi kosong dari persediaan.
Bolehlah dikatakan bahwa ayat ini peringatan kepada Rasul dan para Mukminin pada perjuangan pertama di Mekah, bilamana mereka melihat berleluasanya pemuka-pemuka musyrikin melanggar perintah Allah, memuja berhala, menghalangi Islam dan berbuat segala perbuatan yang mungkar. Allah mengatakan bahwa itu hanya sementara, tidak akan lama. Pasti akan datang waktunya mereka akan kebingungan karena kehancuran yang tiba-tiba.
Dengan siasat yang luhur dari Nabi Muhammad ﷺdan kesabaran yang luar biasa, disertai ikhtiar yang tidak pernah kendur, maka bertemu tepatlah apa yang dikatakan Allah itu. Dalam Peperangan Badar, mulailah jatuh puncak yang pertama dari kemusyrikan. Dalam Perjanjian Hudaibiyah, siasat yang diatur musyrikin dengan gegabah dan pertimbangan yang salah, berakibat kekalahan. Dua tahun sesudah Hudaibiyah, karena mereka sendiri yang melanggar janji, yang telah diperbuat di Hudaibiyah itu, Mekah terpaksa diserang oleh Nabi ﷺ dengan 12.000 Mujahid Islam. Dan memang saat itulah yang ditunggu-tunggu. Benar-benarlah terbelalak mata, rusuh hati, berdebar jantung, “Panik" penduduk Mekah ketika negeri itu telah dimasuki oleh tentara Nabi Muhammad ﷺ di bawah pimpinan beliau sendiri; terpaksa tunduk dan menyerah, dan hati telah kosong, tidak ada yang akan dipertahankan lagi. Kebatilan mesti kalah. Tetapi jarak waktu di antara turunnya ayat ini dengan penaklukan Mekah itu memang lama, yaitu kurang lebih sepuluh tahun. Orang yang lemah hati niscaya gelisah menunggunya, tetapi apabila masa itu telah lewat, kenangan kepada zaman itu akan tetaplah menjadi kenangan yang menyenangkan. Dan masa sepuluh tahun terasa tidak lama lagi.
Kalau hal yang tersebut di atas menyebutkan orang yang zalim dalam keadaan duniawi yang menunggu saat kehancuran, maka pada ayat ini adalah pandangan yang lebih hebat dari itu. Yaitu apabila Kiamat datang atau sekecil-kecilnya ialah apabila panggilan maut datang! Sesal tiba, tapi waktu tidak ada lagi buat bertaubat. Lalu minta ampun, “Ya Tuhan kami! Janganlah dicabut nyawa kami dahulu, atau jangan dikiamatkan dahulu, berilah kami tempo sebentar, supaya kami perbaiki kesalahan kami ini, mohonlah supaya panggilan itu diundurkan, supaya kami taubat dan kami ikuti segala ajaran yang diberikan nabi-nabi dan rasul-rasul. Tetapi apa sambutan Allah? Bolehkah di saat demikian minta mundur? Allah berfirman,
“Bukankah kamu telah bersumpah sebelum ini, bahwa kamu tidak akan bergeser?"
(ujung ayat 44)
Dengan sombong kamu selalu mengatakan tidak akan bergeser pendirian dari yang lama, akan tetap bertahan pada yang batil.
Begitu gagah perkasa kamu mempertahankan kekafiran di kala itu, mengapa sekarang meminta mundur? Apakah artinya lagi permintaan mundur pada waktu sekarang? Seluas itu kesempatan yang diberikan selama ini, mengapa disia-siakan? Setelah ajalmu datang, saat yang tidak bisa dimundurkan walau satu detik, dan tidak dapat dipercepat walaupun satu detik, baru kamu mengakui hendak menyambut panggilan-Ku dan mengikuti ajaran nabi-nabi dan rasul-rasul. Permintaanmu itu percuma, tidak dapat dikabulkan.
“Dan peringatkanlah kepada manusia, akan haru yang akan datang kepada mereka adzab. Maka akan berkatalah orang-orang yang zalim: “Ya Tuhan kami! Mundurkanlah kami kepada suatu masa yang dekat, agar kami sambut panggilan-Mu dan kami ikuti Rasul-rasul."
(pangkal ayat 44)
“Dan kamu telah berdiam di tempat berdiamnya orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri."
(pangkal ayat 45)
Artinya, selalu kamu lalu di dekat bekas-bekas negeri yang telah binasa, yaitu bekas negeri kaum ‘Ad, bekas negeri kaum Tsamud, bekas negeri Madyan dan negeri Sadum dan Gamurrah."Dan jelaslah sudah bagi kamu betapa Kami telah perbuat atas mereka." Kalau kamu mempunyai akal dan pikiran, sudah patutlah kamu mengambil perhatian dan perbandingan dari negeri-negeri yang telah runtuh itu; yang runtuh karena kezaliman.
"Dan telah Kami adakan bagi kamu perumpamaan-perumpamaan,"
(ujung ayat 45)
Sudah cukup diadakan misal-misal dan perumpamaan-perumpamaan yang seharusnya menjadi perhatian kamu. Telah berturut, bertubi wahyu diturunkan Allah, dengan le-mah-iembut dan dengan keras, dengan perumpamaan dan perbandingan, dengan peringatan keras dan dengan kabar kegembiraan, tidak sebuah juga yang kamu sambut. Sekarang setelah napasmu telah mendaki kerongkongan dan Izrail telah hadir di pinggir pembaringanmu, kamu hendak taubat. Apa artinya lagi?
Kemudian berfirmanlah Allah membuka rahasia orang-orang yang kafir yang menentang kebenaran itu, yang masih saja bertahan dalam kekufurannya,
“Dan sesungguhnya mereka telah melakukan tipu daya."
(pangkal ayat 46)
Segala siasat tipu daya telah mereka atur dan susun buat menghambat jalan Islam dan buat menghalangi jalan Allah."Padahal di sisi Allah-lah tipu daya mereka itu." Sehingga manalah hasil tipu daya manusia di hadapan kebesaran Allah?
“Meskipun dengan tipu daya itu mereka hendak menghilangkan gunung."
(ujung ayat 46)
Alangkah tepatnya ujung ayat ini. Jika manusia yang kufur hendak melakukan tipu daya melawan Allah, walaupun rencananya itu demikian besar, letakkanlah besarnya itu sehingga dapat menggeser gunung, tidaklah ada artinya di hadapan Allah. Ukurlah kekuatan diri sendiri, dan tengoklah gunung. Bagi manusia gunung itu sudah besar, dan rencana menggeser gunung bagi manusia sudahlah satu rencana besar. Padahal siasat tipu daya itu sudah terlebih dahulu diketahui rencananya oleh Allah. Tenaga manusia akan habis dalam merencana, kekuatannya terbatas oleh umurnya, namun kehendak Allah tetap berjalan terus, dan kehendak-Nya itu jua yang berlaku. Laksana satu cerita lama di dalam setengah tafsir, bahwa seorang Raja Besar dalam zaman purba, kata orang Bukhtunashr, dan kata yang lain Raja Nimruz, memelihara seekor anak burung elang rajawali, sejak dari masih telur ditetaskan, selalu disuapi daging, dan setelah burung itu besar, raja itu menitahkan membuat satu keranda tempat duduk dua orang, lalu dipautkan kepada burung itu dan disuruh dia terbang, sedang raja duduk bersama seorang pengiringnya dalam keranda itu. Ke ujung paruh burung itu dipautkan segumpal daging. Maka terbanglah burung elang rajawali itu karena mengejar daging, dan raja duduk dalam keranda di atas punggung burung itu. Terbang tinggi-tinggi sangat tinggi. Hendak mengapa raja? Katanya dia hendak pergi melihat langit, benarkah ada Allah di sana. Dia ingin melihat. Bumi bertambah jauh, bahkan gunung-gunung bertambah kecil kelihatan di bawah, tetapi langit? Langit yang hendak dipanjat itu bertambah tinggi. Akhirnya burung pun payah, sebab langit bertambah tinggi juga. Dan akhirnya pulang saja kembali. Sampai di bawah, apa katanya? Langit bertambah tinggi, walaupun gunung telah bertambah kecil.
(Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang lalim) yakni orang-orang kafir dari kalangan penduduk Mekah. (Sesungguhnya Allah hanya memberi tangguh kepada mereka) tanpa diazab (sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak) karena ngerinya pemandangan yang mereka saksikan kala itu. Di dalam istilah bahasa atau lugah jika dikatakan bashara fulaanun syakhshan, artinya si polan melihat seseorang tanpa mengedipkan matanya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.