Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
وَعَادٗا
dan (kaum) Ad
وَثَمُودَاْ
dan Tsamud
وَقَد
dan sungguh
تَّبَيَّنَ
telah nyata
لَكُم
bagi kalian
مِّن
dari
مَّسَٰكِنِهِمۡۖ
tempat tinggal mereka
وَزَيَّنَ
dan menjadikan memandang baik
لَهُمُ
bagi/kepada mereka
ٱلشَّيۡطَٰنُ
syaitan
أَعۡمَٰلَهُمۡ
perbuatan mereka
فَصَدَّهُمۡ
lalu ia menghalangi mereka
عَنِ
dari
ٱلسَّبِيلِ
jalan
وَكَانُواْ
dan adalah mereka
مُسۡتَبۡصِرِينَ
orang-orang yang berpandangan tajam
وَعَادٗا
dan (kaum) Ad
وَثَمُودَاْ
dan Tsamud
وَقَد
dan sungguh
تَّبَيَّنَ
telah nyata
لَكُم
bagi kalian
مِّن
dari
مَّسَٰكِنِهِمۡۖ
tempat tinggal mereka
وَزَيَّنَ
dan menjadikan memandang baik
لَهُمُ
bagi/kepada mereka
ٱلشَّيۡطَٰنُ
syaitan
أَعۡمَٰلَهُمۡ
perbuatan mereka
فَصَدَّهُمۡ
lalu ia menghalangi mereka
عَنِ
dari
ٱلسَّبِيلِ
jalan
وَكَانُواْ
dan adalah mereka
مُسۡتَبۡصِرِينَ
orang-orang yang berpandangan tajam
Terjemahan
Juga (ingatlah) kaum 'Ād dan Samud, sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam.
Tafsir
(Dan) Kami binasakan (kaum Ad dan Tsamud) lafal tsamuuda dapat pula dibaca tsamuudan dengan memakai harakat tanwin, maksudnya adalah nama kabilah (dan sungguh telah nyata bagi kalian) kebinasaan mereka (dari puing-puing tempat tinggal mereka) di daerah Al-Hijr dan negeri Yaman. (Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka) seperti kekafiran dan kemaksiatan (lalu ia menghalangi mereka dari jalan) yang benar (sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam) yakni memiliki pandangan tentang perkara hak itu tetapi mereka tidak mau mengikutinya.
Tafsir Surat Al-'Ankabut: 38-40
Dan (juga) kaum Aad dan Samud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (bukti puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam, dan (juga) Qarun, Fir'aun, dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi, mereka berlaku sombong di (muka) bumi dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.
Ayat 38-39
Allah ﷻ menceritakan tentang umat-umat yang mendustakan rasul-rasul, bahwa Allah telah membinasakan mereka dengan berbagai macam azab sebagai pembalasan Allah ﷻ terhadap mereka. 'Ad adalah kaum Nabi Hud a.s. Mereka tinggal di daerah Ahqaf (bukit-bukit pasir) yang letaknya dekat dengan Hadramaut di negeri Yaman. Samud adalah kaum Nabi Saleh, mereka tinggal di kota Al-Hijr yang letaknya dekat dengan Wadil Qura. Orang-orang Arab mengenal benar tempat-tempat tinggal mereka karena mereka biasa melaluinya dalam perjalanan niaga mereka. Qarun pemilik harta yang berlimpah dan kunci-kunci perbendaharaan yang berat-berat, saking banyaknya hartanya. Juga Fir'aun Raja Mesir di masa Nabi Musa berikut patihnya (yaitu Haman), keduanya adalah bangsa Mesir yang kafir kepada Allah dan rasul-Nya.
Ayat 40
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya.” (Al-'Ankabut: 40.
Yaitu siksaan yang ditimpakan kepada masing-masing sesuai dengan dosanya.
“Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil.” (Al-'Ankabut: 40).
Mereka adalah kaum Ad, itu karena mereka mengatakan, "Siapakah yang lebih kuat daripada kami?" Maka datanglah angin puyuh yang sangat dingin lagi sangat kuat tiupannya; angin tersebut menerbangkan semua batu kerikil dan menerbangkan mereka tinggi-tinggi ke udara, lalu mereka dijatuhkan dengan kepala di bawah sehingga hancurlah kepala mereka, yang tertinggal adalah badan mereka saja tanpa kepala, seakan-akan keadaan mereka bagaikan pokok-pokok kurma yang tumbang.
“Dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur.” (Al-'Ankabut: 40).
Mereka adalah kaum Samud. Hujah Allah telah ditegakkan terhadap mereka dan bukti kebenaran telah ditampakkan kepada mereka melalui unta betina yang muncul dari sebuah batu besar, sesuai dengan apa yang dimintakan oleh mereka kepada Nabi Saleh. Tetapi sekalipun demikian mereka tetap tidak beriman, bahkan mereka tetap tenggelam di dalam kekafiran dan perbuatan mereka yang melampaui batas.
Mereka juga mengancam Nabi Saleh bersama orang-orang yang beriman kepadanya, bahwa Saleh dan para pengikutnya akan diusir oleh mereka dari negerinya dan akan dirajam dengan batu. Maka datanglah pekikan keras yang mengguntur menimpa mereka sehingga mereka tiada bersuara lagi dan binasalah mereka semuanya.
“Dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi.” (Al-'Ankabut: 40).
Dia adalah Qarun yang kelewat batas, bersikap sewenang-wenang, zalim, serta durhaka kepada Allah ﷻ. Dia berjalan di muka bumi dengan langkah-langkah yang sombong dan angkuh serta bertindak sewenang-wenang, dan ia menduga bahwa dirinya lebih utama daripada orang lain serta berjalan dengan penuh kebanggaan dan keangkuhan, maka Allah membenamkan dirinya berikut rumahnya ke dalam bumi. Dia terus terbenam ke dalam bumi sampai hari kiamat.
“Dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan.” (Al-'Ankabut: 40).
Dia adalah Fir'aun dan patihnya yang bernama Haman beserta bala tentaranya, semuanya ditenggelamkan dalam waktu yang singkat, tiada seorang pun dari mereka yang selamat.
“Dan Allah sekali-kali tidak hendak menzalimi mereka.” (Al-'Ankabut: 40) dalam perbuatan-Nya terhadap mereka.
“Akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (Al-'Ankabut: 40).
Sesungguhnya Kami melakukan hal itu terhadap mereka hanyalah sebagai balasan yang setimpal terhadap apa yang dilakukan oleh diri mereka sendiri.
Tafsir yang telah kami kemukakan di atas sesuai dengan makna lahiriah konteks ayat; ungkapan ini dinamakan Al-laf dan nasyr. Yaitu pada mulanya Allah menyebutkan perihal umat-umat yang mendustakan, kemudian berfirman:
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya.” (Al-'Ankabut: 40).
Yaitu masing-masing dari mereka yang telah disebutkan di atas.
Sesungguhnya kami sengaja mengingatkan hal ini karena ada riwayat Ibnu Jarir yang menyebutkan bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil.” (Al-'Ankabut: 40). Yaitu kaum Nabi Lut. “Dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan.” (Al-'Ankabut: 40). Yaitu kaum Nabi Nuh. Riwayat ini munqati' dari Ibnu Abbas, karena sesungguhnya Ibnu Juraij tidak menjumpai masa Ibnu Abbas. Kemudian Allah pun menyebutkan dalam surat ini perihal kebinasaan kaum Nuh oleh banjir besar dan kaum Lut oleh azab dari langit. Lalu disebutkan keterangan dengan panjang lebar lagi terinci dengan adanya perbedaan antara tafsir ini dengan tafsir yang sebelumnya.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil.” (Al-'Ankabut: 40) Bahwa yang dimaksud adalah kaum Nabi Lut. “Dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur.” (Al-'Ankabut: 40) Bahwa yang dimaksud adalah kaumnya Nabi Syu'aib. Pendapat ini pun jauh dari kebenaran karena alasan yang telah disebutkan di atas, dan hanya Allah-lah yang lebih mengetahui.
-.
Akan tetapi, sebagaimana halnya kaum Nabi Lut, umat Nabi Syuaib pun durhaka dan tidak mau menerima nasihat Nabi Syuaib. Mereka malah mendustakannya. Oleh karena itu, berlakulah sunah Allah. Ketika mereka dengan terang-terangan mengingkari Syuaib setelah diberi peringatan berulang-ulang, maka tibalah waktunya Allah mengazab mereka. Bumi tempat kediaman mereka diguncang oleh gempa yang menggetarkan dan menghancurkan tanah kediaman mereka. Mereka mati jungkir balik dan ditelan bumi, tanpa bergerak lagi. Cerita lebih lengkap tentang Nabi Syuaib telah disebutkan pula oleh Tuhan dalam ayat-ayat lain, yaitu pada Surah Al-A'raf/7: 88-93, Hud/11: 87-94, dan asy-Syu'ara'/26: 176-190.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Dan ke negeri Madyan," diutus Allah, “saudara mereka sendiri Syu'aib." (pangkal ayat 36). Kerapkali dijelaskan di dalam al-Qur'an bahwa Nabi yang diutus kepada suatu kaum ialah saudara mereka sendiri. Bukan orang lain. Dia bercakap dengan bahasa mereka sendiri. Dia mengenal adat kebiasaan mereka, suka-duka mereka. Nabi kita Muhammad s.a.w. diutus pada mulanya kepada kaumnya jua, yaitu Quraisy pada khustisnya dan Arab pada umumnya. Tetapi maksud risalat beliau adalah merata bagi seluruh ummat manusia di muka bumi ini. Sedang kaumnya yang mulai didatanginya itu adalah sebagai pengawas atau pelapor pertama yang kelak di atas namanya akan turut menyebarkan agama ini ke seluruh Tanah Arab, sambung-bersambung menaklukkan Kerajaan Romawi Timur, Kerajaan Persia, memasuki India, menye-berangi Lautan Tengah memasuki Semenanjung Iberia dan menduduki tanah Spanyol buat lamanya 700 tahun.
Oleh sebab itu tepatlah jika dikatakan bahwa Nabi-nabi yang dahulu itu diutus kepada kaumnya masing-masing dalam daerah terbatas, karena hubungan dunia masih sulit, dan Nabi Muhammad diutus buat seluruh alam.
“Maka berkatalah dia:" Yaitu Nabi Syu'aib, “Hai kaumku! Sembahlah olehmu akan Allah," sebagai tanda syukur dan terimakasih atas nikmat dan rahmat yang telah dilimpah-kurniakanNya kepada kamu sekalian; “Dan haraplah olehmu akan hari yang akhir," yaitu hidup yang sesudah mati. Karena kehidupan bukanlah sehingga dunia ini saja. Segala perbuatan kita di dunia ini akan dinilai kelak di akhirat. Mengharap hari yang akhir maksudnya ialah mengharap ridha Allah, mengharap kurnianya dan takut akan siksanya. Pekerjaan baik yang kita amalkan sekarang akan membawa bahagia di hari itu Sebaliknya pekerjaan jahat yang kita kerjakan sekarang akan menerima siksaannya pula di hari itu."Dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dalam keadaan mengacau." (ujung ayat 36).
Kalimat Ta'tsau yang kita artikan dengan berkeliaran, ialah perjalanan hidup di dunia yang tidak mempunyai arah. Tidak ada hubungan ibadah dengan Allah dan tidak pula ada hubungan kasih-sayang dengan sesama manusia. Oleh heboh, sibuk, ke hilir, ke mudik, belayar di lautan, bertebaran di daratan, beterbangan di udara dengan kapal udara, tetapi tidak mempunyai tujuan selain kepentingan diri sendiri, keuntungan diri sendiri. Tidak mem-perdulikan apakah mencari keuntungan diri sendiri itu akan merugikan orang lain. Orang mencari kekayaan dengan menghisap darah orang lain. Si kaya bersenang-senang dengan memeras keringat si miskin. Suatu bangsa ingin besar dengan menindas bangsa yang lain. Maka timbullah dendam yang lemah kepada yang kuat, timbullah perebutan rezeki yang tidak mengenal damai. Kesudahannya timbullah cemburu-mencemburui di antara sesama manusia. Akhirnya timbullah peperangan, bunuh-membunuh, hina-menghinakan. Celaka bagi yang kalah!
Di antara perjalanan berkeliaran ke sana ke mari orang di negeri Madyan yang akhirnya merusak itu ialah yang terkenal dengan berbuat curang pada timbangan dan katian. Fikiran siang malam hanya asal kaya saja. Halal dan haram tidak perduli. Apakah merugikan orang lain, tidak difikirkan. Sebagai nasihat yang pernah diberikan kepada orang yang berkeliaran di muka bumi mencari untung itu: “Janganlah menyakut di air keruh!" Dengan kontan dia menjawab: “Kalau air tidak dikeruh lebih dahulu, bagaimana akan dapat menangkap ikan. Di air yang jernih ikan itu tidak mau ditangguk."
“Maka mereka dustakanlah dia." (pangkal ayat 37). Seruan dari Nabi Syu'aib itu tidak mau mereka menerimanya, bahkan mereka dustakan. Di dalam Surat Hud dan Surat al-A'raf dan Surat asy-Syu'ara' kisah perjuangan Nabi Syuaib hendak memberi keinsafan bagi kaumnya itu diceriterakan lebih panjang, atau ceritera yang sebahagian berisi rayuan halus dia mengajak kaumnya supaya sadar, sampai Nabi kita Muhammad s.a.w. memberi gelar Nabi Syu'aib itu “Khathibul Anbiya"‘, yaitu ahli pidato di antara Nabi-nabi. Di dalam Surat 11, Hud ayat 87 digambarkan Tuhan bagaimana keras serangan kata kaum itu kepada Nabi Syu'aib, sampai mereka mencemuh, menanyakan apakah lantaran dia tekun sembahyang itu maka dia berani berkata demikian lantang kepada mereka? Apakah lantaran dia orang sembahyang, orang yang mengaku diri seorang shalih dia lelah berani mencela-cela menegur mereka, mencela agama yang mereka pusakai dari nenek-moyang dan mencela pula perbuatan mereka dengan hartabenda mereka sendiri?
Alhasil tidaklah mereka terima baik seruan Nabi mereka itu. Nabi yang timbul dalam kalangan mereka sendiri. Bahkan mereka cemuhkan.
Maka datanglah azab Allah!
“Lalu mereka ditarik oleh gempa gegaran dahsyat." Terjadi gempa bumi yang amat dahsyat, bergoyang seluruh bumi tempat mereka dtam.'Mungkin karena tanah longsor di balik kulit bumi, atau tanah bergeser dari tempatnya, atau gunung berapi meletus ke dalam."Maka jadilah mereka di dalam kampung halaman mereka mayat-mayat yang bergelimpangan." (ujung ayat 37).
Azab siksaan bagaimana pula yang akan diderita oleh manusia moden yang berjalan berkeliaran di muka bumi membuat kerusakan. Mempergunakan alat-alat penyangkutan moden, dengan kapal laut, kapal udara, dari benua ke benua, menyebarkan racun-racun narkotik, candu, opium, ganja, marijuana, yang dijual dengan keuntungan berlipat-ganda, berjuta-juta dolar. Yang telah meracun angkatan muda yang diharapkan menyambung kehidupan manusia di dunia ini?
Siksaan Tuhan yang mana pula yang akan diderita oleh orang-orang yang berkeliaran ke kampung-kampung, mencari gadis-gadis dusun yang miskin dan melarat, dibujuk, dirayu, ditipu, lalu dibawa ke kota-kota besar untuk memuaskan nafsu laki-laki yang hidupnya sudah sebagai kehidupan binatang? Melepaskan hawanafsu, bahkan lebih jahat dari binatang? Sebab mereka per-niagakan manusia untuk memperkaya diri sendiri? Siksa yang mereka terima ialah jatuhnya martabat manusia jadi binatang. Menjadi kera-kera dan babi-babi. Yang asal perutnya kenyang, air pelembahan pun mereka minum juga, barang najis pun mereka makan. Peradaban pun musnah!
“Dan ‘Ad dan Tsamud." (pangkal ayat 38). ‘Ad kaum yang didatangi Nabi Shalih, Tsamud kaum yang didatangi Nabi Hud “Sesungguhnya sudah jelaslah bagi kami tempat-tempat kediaman mereka." Yang diperkamu di sini ialah kaum Quraisy di Makkah. Bagi mereka sudah jelas waktu itu bekas-bekas negeri tempat kediaman kaum ‘Ad dan Tsamud itu. Kaum ‘Ad yang didatangi oleh Nabi Hud adalah di ujung Selatan Tanah Arab, di Hadramaut yang sekarang. Tsamud agak sebelah ke Utara, di Wadil-Qura, di antara Hejaz dan Syam. Kedua temapt itu terletak di dekat jalan kafilah perniagaan Quraisy dalam pengembaraan mereka berniaga ke Syam atau ke wilayah Yaman."Syaitan telah menghias-hiaskan kepada mereka perbuatan-perbuatan mereka." Perbuatan yang buruk dihiaskan atau dipujikan oleh syaitan sampai dikatakan baik. Akhirnya pandangan mereka kepada hidup itu bertukar. Pedoman hidup mereka ambii dari ajaran syaitan, bukan dari ajaran Tuhan. Kian lama kian merosot dan kian jauh melangkah ke dalam kebobrokan."Maka dia telah menghambat mereka dari jalan Allah." Sehingga seisi kedua negeri itu tidak lagi hendak berlomba berbuat yang baik, melainkan berpacu ke dalam kejahatan; “Padahal mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam." (ujung ayat 38). Padahal mereka bukanlah orang bodoh-bodoh Tetapi kepintaran, pandangan tajam dan keahlian tidak dapat lagi menolong buat melepaskan mereka daripada keruntuhan. Karena yang berpengaruh ialah propaganda yang datang dari syaitan. Misalkan saja dan perbandingkan dengan masyarakat zaman moden yang sudah terlalu jauh batas hidup di antara yang terlalu kaya dengan yang terlalu miskin. Orang-orang kaya itu pun kadang-kadang telah merasai bahwa jalan yang mereka tempuh ini adalah salah. Tetapi mereka tidak ada keberanian jiwa lagi buat membangkitkan diri dari kemerosotan itu. Dalam masyarakat demikian suara Nabi-nabi sudah pasti jadi bahan ejekan. Orang terpaksa berlomba memperlihatkan diri lebih “moden" dari kawannya yang lain, takut akan dicap terlalu “fanatik".
“Dan Qarun dan Fir'aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan beberapa penjelasan." (pangkal ayat 39).
Tiga nama ini, Qarun, Fir'aun dan Haman adalah nama-nama yang amat penting yang berhadapan dengan Nabi Musa. Besar kemungkinan bahwa Tuhan mendahulukan menyebut nama Qarun, padahal dalam hal kekuasaan bukanlah dia setinggi Fir'aun, ialah karena pada mulanya dia adalah kaum Musa sendiri. Dari Bani Israil tentunya. Mula jadi pengikut yang setia Nabi Musa. Tetapi kemudian setelah dia kaya dia menyisihkan diri dan menyombong. Orang yang dahulunya beriman, kemudian meninggalkan iman karena pengaruh harta, jauh lebih buruk dari orang yang kafir sejak semula sebagai Fir'aun itu. Adapun Haman, dia pun orang penting di samping Fir'aun. Dia salah seorang pembesar negara. Dia pelaksana perintah Fir'aun. Dia pernah melaksanakan perintah Fir'aun supaya membuat suatu bangunan tinggi, yang dari puncak bangunan itu Fir'aun bermaksud hendak memerangi Tuhan yang selalu disebut-sebut Musa."Namun mereka menyombong di muka bumi “ Ketiganya adalah orang-orang yang sombong, membesarkan diri. Qarun sombong mentang-mentang dia telah kaya. Fir'aun sombong mentang-mentang dia raja, yang berkuasa tidak ada batas. Haman sombong, karena dia dianggap orang kepercayaan Fir'aun. Karena sombongnya itu lupalah mereka akan kebesaran Allah dan kecilnya diri manusia di hadapan kekuasaan Allah itu."Dan tidaklah mereka terluput." (ujung ayat 39).
Ujung ayal ini amat penting diperhatikan. Karena di dunia ini memang banyak manusia, betapa pun besar kesalahannya, dia bisa terluput dari tuntutan karena pangkatnya atau karena kayanya, atau karena rajanya. Di dunia ini si kecil maling ayam akan lekas tertangkap dan lama ditahan, sampai berbulan, bahkan bertahun, menunggu keputusan hukuman. Tetapi kalau orang-orang kaya yang bersalah betapa pun besar kesalahannya, kerapkali mulut undang-undang dapat ditutupnya dengan kekayaan. Kaiau penguasa yang bersalah, tidak ada orang yang berani menuntut. Orang-orang seperti itu mudah saja luput dari tuntutan, luput dari pengadilan dan luput dari hukuman. Namun berhadapan dengan Tuhan tidaklah seorang karena kayanya sebagai Qarun, atau rajanya sebagai Fir'aun atau kebesarannya sebagai Haman akan luput dari tuntutan. Hukuman setimpal akan diterimanya. Mereka adalah hamba Allah yang kecil, sekecil tungau, bahkan lebih kecil karena dia bersalah.
“Maka tiap-tiapnya itu Kami siksa mereka karena dosanya, “ (pangkal ayat 40). Artinya, masing-masing akan menerima azab siksaan Tuh/tn menurut dosanya, Karena Tuhan itu adil. Hanyalah orang berbuat baik yang diberi pahala berlipat-ganda tidak seimbang dengan kebajikan yang dia kerjakan. Adapun orang yang berbuat dosa, siksaannya tidaklah lebih dari seukuran kiulosaln-nya."Maka di antara mereka ada yang Kami kirim ke atas mereka hujan batu." Itulah kaum ‘Ad yang menantang Allah dengan pertanyaannya: “Siapa yang lebih kuat dari kami?" (Surat 41, Fushshilat, 15). Maka datanglah angin besar yang sangat lebih kuat dari mereka. Angin itu sangat kencang dan sangat dingin, sambil membawa debu tebal. Mereka semua diterbangkan oleh angin itu, kemudian ditimbun oleh debu, dan ada yang terhempas ke batu, ter-campak tersingkir. Ada yang dari sangat kerasnya angin, ada sesuatu yang diterbangkannya, kena leher mereka, lalu pisah kepala dengan badan. Mayat pun bergelimpangan.
“Dan di antara mereka ada yang Kami siksa dengan suara pekikan keras." Yaitu kaum Tsamud, ummat Nabi Shalih. Mereka mungkiri janji, mereka sembelih unta Allah, dan telah mereka buat pula komplot hendak membunuh Nabi Allah sendiri. Setelah mereka makan beramai-ramai daging unta besar itu, mereka ditimpa penyakit hebat. Hari pertama muka kuning. Hari kedua muka merah. Hari ketiga muka hitam. Di akhir hari ketiga itu kedengaran sorak atau pekik yang sangat keras, keras sekali! Saking kerasnya pecah telinga mereka mendengarkan, mendesak darah ke kepala, lalu ranap mati semua.
“Dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi." Yaitu Qarun yang sombong dengan kekayaannya itu, sebagaimana telah diwahyukan Tuhan tersebut lebih panjang dalam Surat 28 yang telah lalu, al-Qashash.
“Dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan." Yaitu Fir'aun dan Haman yang tenggelam dalam lautan Qulzum setelah dilaluinya lautan yang dibelah yang disediakan Tuhan buat Musa dan kaumnya, bukan buat mereka.
“Dan tidaklah Allah hendak menganiaya mereka." Artinya bahwa segala azab siksaan yang telah mereka terima itu bukanlah karena Aflah semata-mata hendak menganiaya. Allah tidak ada kepentingan dengan menganiaya. Hukum yang Allah jatuhkan adalah semata-mata keadilan; “Melainkan adalah mereka terhadap diri mereka sendiri yang aniaya." (ujung ayat 40).
Dan semua siksaan itu yang mereka terima itu lebih dahulu sudah diperingatkan oleh Tuhan dengan perantaraan Rasul-rasulNya. Jalan kepada kejahatan itu selalu dilarang oleh Tuhan. Kepada yang'baik jua yang la suruh-kan. Sebenarnya Tuhan kasihan kepada hambaNya. Tetapi kalau yang bersalah tidek dihukum karena kasihan, apalah artinya kebajikan yang diperbuat oleh hambaNya yang taat?
Shu`ayb and His People
Allah tells:
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا فَقَالَ
And to Madyan, We sent their brother Shu`ayb. He said:
Allah tells us that His servant and Messenger Shu`ayb, peace be upon him, warned his people, the people of Madyan, and commanded them to worship Allah Alone with no partner or associate, and to fear the wrath and punishment of Allah on the Day of Resurrection.
He said:
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَارْجُوا الْيَوْمَ الاْاخِرَ
O my people! Worship Allah and hope for the last Day,
Ibn Jarir said:
Some of them said that this meant:Fear the Last Day.
This is like the Ayah,
لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الاٌّخِرَ
for those who look forward to (meeting with) Allah and the Last Day. (60:6)
وَلَا تَعْثَوْا فِي الاَْرْضِ مُفْسِدِينَ
and commit no mischief on the earth as mischief-makers.
This is forbidding them to make mischief on earth by spreading corruption, which means going around doing evil to people. They used to cheat in weights and measures, and ambush people on the road; this is in addition to their disbelief in Allah and His Messenger. So Allah destroyed them with a mighty earthquake that convulsed their land, and the Sayhah (shout) which tore their hearts from their bodies, and the torment of the Day of Shade, when their souls were taken. This was the torment of a great day.
We have already examined their story in detail in Surah Al-A`raf, Surah Hud and Surah Ash-Shu`ara'
فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ
And they denied him; so the earthquake seized them,
فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
and they lay, prostrate in their dwellings.
Qatadah said, They were dead.
Others said that they were thrown on top of one another
The Destruction of Nations Who rejected Their Messengers
Allah tells:
وَعَادًا وَثَمُودَ وَقَد تَّبَيَّنَ لَكُم مِّن مَّسَاكِنِهِمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ
وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَلَقَدْ جَاءهُم مُّوسَى بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الاَْرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ
And `Ad and Thamud! And indeed (their destruction) is clearly apparent to you from their (ruined) dwellings. Shaytan made their deeds fair seeming to them, and turned them away from the path, though they were intelligent.
And Qarun, Fir`awn, and Haman.
And indeed Musa came to them with clear Ayat, but they were arrogant in the land, yet they could not outstrip Us.
Allah tells us about these nations who disbelieved in their Messengers, and how He destroyed them and sent various kinds of punishments and vengeance upon them.
`Ad, the people of Hud, peace be upon him, used to live in the Ahqaf (curved sand-hills), near Hadramawt, in the Yemen.
Thamud, the people of Salih, lived in Al-Hijr, near Wadi Al-Qura. The Arabs used to know their dwelling place very well, and they often used to pass by it.
Qarun was the owner of great wealth and had the keys to immense treasures.
Fir`awn, the king of Egypt at the time of Musa, and his minister Haman were two Coptics who disbelieved in Allah and His Messenger, peace be upon him.
Allah tells
فَكُلًّ أَخَذْنَا بِذَنبِهِ
So, We punished each for his sins,
their punishments fit their crimes.
فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا
.
of them were some on whom We sent a Hasib,
This was the case with `Ad, and this happened because they said:Who is stronger than us! So, there came upon them a violent, intensely cold wind, which was very strong and carried pebbles which it threw upon them. It carried them through the air, lifting a man up to the sky and then hurling him headlong to the ground, so that his head split and he was left as a body without a head, like uprooted stems of date palms.
وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ
and of them were some who were overtaken by As-Sayhah,
This is what happened to Thamud, against whom evidence was established because of the she-camel who came forth when the rock was split, exactly as they had asked for. Yet despite that they did not believe, rather they persisted in their evil behavior and disbelief, and threatening to expel Allah's Prophet Salih and the believers with him, or to stone them. So the Sayhah struck them, taking away their powers of speech and movement.
وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ الاَْرْضَ
and of them were some whom We caused the earth to swallow,
This refers to Qarun who transgressed, he was evil and arrogant. He disobeyed his Lord, the Most High, and paraded through the land in a boastful manner, filled with self-admiration, thinking that he was better than others. He showed off as he walked, so Allah caused the earth to swallow him and his house, and he will continue sinking into it until the Day of Resurrection.
وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا
and of them were some whom We drowned.
This refers to Fir`awn, his minister Haman and their troops, all of whom were drowned in a single morning, not one of them escaped.
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ
It was not Allah Who wronged them,
in what He did to them,
وَلَكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
but they wronged themselves.
that happened to them as a punishment for what they did with their own hands.
And, We destroyed, 'aad, and Thamood (may be fully declined, or not [as diptotes], denoting both the district or the tribe [respectively])- it is indeed evident to you, their destruction, from their [former] dwellings, in al-Hijr and in Yemen. For Satan adorned for them their deeds, of disbelief and disobedience, and thus barred them from the Way, the way of truth, though they had been discerning, perceptive people.
Commentary
The stories of the earlier people, that are mentioned in these verses briefly, have been related in detail in the previous Surahs. For instance, the story of Shu'aib and those of ` Ad and Thamud have been related in Surahs Al-A` raf and Hud, and the incidents of Qarun, Haman, and the Pharaoh have just passed in Surah Al- Qasas.
وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ (They were people of insight - 29:38). This word is derived from Istibsar, which means sight; and Mustabsir is used for observer. The meaning of this sentence is that those who insisted on infidelity and shirk (associating partner with Allah) and got themselves involved in perdition and Allah's wrath were no fools or insane. They were very clever having insight, but their intelligence and sagacity was confined to mundane considerations. They did not realize that there would be a day of reckoning for all good and bad actions, when there would be complete justice, because the cruel and the oppressors move about in this world without hindrance, but those oppressed and afflicted are compelled to endure injustice. The day this injustice will finish and justice will be the order of the day is called the Hereafter. They are at a loss to comprehend this bit.
The same subject is coming ahead in Surah Ar-Rum, where it is said يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ (They know what is superficial of the worldly life, but of the Hereafter they are negligent. - 30:7). .
Some commentators have interpreted the meaning of وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ (They were people of insight) that these people did have faith in their heart and did understand well the necessity of the Day of Judgment, but the mundane considerations had compelled them to reject it.








