ٱلْبَقَرَة ١٦٣
- وَإِلَٰهُكُمۡ dan Tuhanmu
- إِلَٰهٞ Tuhan
- وَٰحِدٞۖ satu/esa
- لَّآ tidak ada
- إِلَٰهَ Tuhan
- إِلَّا melainkan
- هُوَ Dia
- ٱلرَّحۡمَٰنُ Maha Pengasih
- ٱلرَّحِيمُ Maha Penyayang
Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
(Dan Tuhanmu) yang patut menjadi sembahanmu, (adalah Tuhan Yang Maha Esa) yang tiada bandingan-Nya, baik dalam zat maupun sifat, (tiada Tuhan melainkan Dia) (Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Ketika mereka menuntut buktinya, turunlah ayat,.
Tafsir Surat Al-Baqarah: 163
Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat 163
Melalui ayat ini Allah ﷻ menceritakan bahwa diri-Nya adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan tidak ada sekutu bagi-Nya, tiada yang sama dengan-Nya. Dia adalah Allah Yang Maha Esa yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, yang tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali hanya Dia, dan bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Tafsir kedua asma (nama) ini telah dikemukakan dalam permulaaan tafsir surat Al-Fatihah. Di dalam sebuah hadits: Dari Syahr ibnu Hausyab, dari Asma binti Yazid ibnus Sakan, dari Rasulullah ﷺ, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Nama Allah Yang Maha Agung terdapat di dalam dua ayat berikut, yakni firman-Nya: ‘Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang’.” (Al-Baqarah: 163).
“Alif Lam Mim. Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Hidup Kekal lagi senantiasa berdiri sendiri.” (Ali Imran: 1-2)
Kemudian Allah ﷻ menyebutkan sifat-Nya Yang Maha Esa melalui penciptaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, semua makhluk yang diciptakan dan diadakan-Nya, yang semuanya menunjukkan akan keesaan-Nya. Untuk itu Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, kapal yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak berbilang; tidak ada tuhan yang disembah dengan hak selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang Ketahuilah, sesungguhnya pada penciptaan langit dengan ketinggian dan keluasannya serta benda-benda angkasa di lingkupnya; dan bumi yang terhampar luas; pergantian malam dan siang dengan perubahan panjang-pendeknya dan kemanfaatan masing-masing; kapal dan perahu yang berlayar di laut dengan membawa muatan berupa manusia dan aneka ragam barang yang bermanfaat bagi manusia; apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan air itu dihidupkan-Nya bumi dengan berbagai macam tumbuhan setelah tanaman tersebut mati atau kering; apa yang Dia tebarkan di dalam dan di permukaan-nya berupa bermacam-macam binatang; dan perkisaran angin, baik yang semilir maupun yang kencang; dan awan yang menggumpal dan dikendalikan untuk bergelantungan antara langit dan bumi; semua itu sungguh merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mengerti, menggunakan akalnya untuk mengambil pelajaran.
.
Allah Tuhan yang Maha Esa, yang Maha Pemurah, Maha Penyayang. Dialah yang berhak disembah dan tidak boleh mempersekutukan-Nya dengan menyembah berhala-berhala dan lain sebagainya, seperti yang dilakukan oleh sebagian Ahli Kitab, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai tuhan selain Allah dan (juga) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan. (at-Taubah/9: 31).
Dialah yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, yang sangat luas dan banyak rahmat-Nya dan tidak boleh meminta pertolongan (dalam hal-hal yang di luar kesanggupan kodrat manusia) kecuali kepada-Nya, karena meminta rahmat dan pertolongan kepada selain-Nya adalah syirik dan berarti mengakui adanya kekuatan selain dari kekuasaan-Nya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
MENGENAL ALLAH DENGAN MEMPERHATIKAN ALAM
Sesudah Allah memberikan peringatan yang demikian keras bahwa kutuk laknat Allah dan Malaikat serta manusia akan datang timpa-bertimpa ke atas diri orang yang tidak mau percaya, yang sampai matinya tetap dalam kufur, Allah pada ayat ini mengemukakan pokok ajaran agama tentang Allah. Dengan demikian, orang diperingatkan lagi, janganlah hendaknya mereka sampai bertahan dalam kekafiran dan mati dalam kufur.
“Dan Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa."
(pangkal ayat 163)
Dialah Ilah, Tuhan Pencipta. Berdiri sendiri Dia dalam kekuasaan dan penciptaan-Nya, tidak bersekutu Dia dengan yang lain. Mustahil berbilang Allah itu, sebab kalau Dia berbilang, pecahlah kekuasaan. Mustahillah alam yang telah ada ini diciptakan oleh kekuasaan yang berbilang. Dia adalah Esa dalam sifat-Nya sebagai ilah, sebagai Tuhan Pencipta. Dia pun adalah Esa dalam sifat-Nya sebagai Pemelihara, sebagai Rabb."Tidak ada Tuhan melain-kan Dia!'
Apabila telah diketahui Tunggal-Nya dalam penciptaan-Nya maka hanya Dialah yang wajib disembah dan dipuja. Itulah yang bernama Tauhid Rububiyah. Setelah diakui bahwa Tunggal Dia dalam peme)iharaan-Nya atas alam maka hanya kepada-Nya sajalah tempat memohon pertolongan. Inilah yang disebut Tauhid Uluhiyah. Tersimpul keduanya di dalam ucapan,
“Hanya kepada Engkau saja Kami menyembah dan hanya kepada Engkau saja kami memohon pertolongan."
“Yang Mahamurah, Yang Maha Penyayang."
(ujung ayat 163)
Yang Mahamurah arti dari ar-Rahman; maka ar-Rahman adalah satu di antara sifat-Nya yang berhubungan dengan diri-Nya sebagai Ilah, sebagai Tuhan Pencipta. ar-Rahman adalah sifat tetap pada diri-Nya. Sehingga untuk kejelasan sifat tetap ar-Rahman itu, sifat ini selalu dimulai dengan memakai alif lam (Al). ar-Rahim ialah sifat-Nya dalam keadaan-Nya sebagai Rabb, sebagai Tuhan Pemelihara. Maka, membekaslah ar-Rahim Tuhan pada pemeliharaan.
Maka, datanglah ayat selanjutnya,
“Sesungguhnya, pada kejadian semua langit dan bumi."
(pangkal ayat 164)
Pertama sekali diperhatikanlah kejadian semua langit dan bumi; menghadap dan menengadahlah ke langit yang tinggi itu. Berlapis-lapis banyaknya, cuma mata kita dalam tubuh yang kecil ini hanya dapat melihatnya sedikit sekali. Sungguh pun sedikit yang dapat dilihat sudahlah sangat mengagumkan; langit itu membawa perasaan kita menjadi jauh dan rawan sekali. Mengagumkan dia pada malam hari dan menakjubkan dia pada siang hari. Di sana terdapat berjuta-juta bintang, tetapi hanya sedikit yang dapat dilihat dengan mata dan lebih banyak lagi yang tidak terlihat. Bumi adalah salah satu dari bintang-bintang yang banyak itu. Kita yang berdiam di bumi ini merasa bumi sudah besar, padahal dia hanya laksana sebutir pasir saja di antara bintang berjuta. Wahai, alangkah dahsyatnya kekuasaan Allah di langit. Tidak mungkin semuanya itu terjadi dengan sendirinya. Suatu masa lantaran kagumnya manusia pada bintang-bintang, ada yang menyangka itulah Allah. Ini menjadi bukti bahwa akal dan perasaan manusia sejak zaman purbakala telah merasakan bahwa tidaklah alam itu terjadi dengan sendirinya. Bertambah tinggi pengetahuan manusia tentang ilmu falak, bertambah manusia kagum tentang sangat teraturnya perjalanan cakrawala langit itu. Adanya peraturan memastikan pikiran sampai kepada adanya yang mengatur.
Setelah lama kita menengadah ke langit, marilah menekur ke bumi; pada kejadian bumi pun adalah hal yang menakjubkan. Takjub yang tidak akan selesAl-selesainya selama umur masih ada, selama akal masih berjalan, dan selama bumi itu masih terkembang. Dia hanya satu di antara berjuta bintang, tetapi alangkah banyaknya rahasia yang terpendam di dalamnya. Perhatian atas kejadian bumi adalah perhatian yang kedua. Bumi itu hanya seperempat daratan, yang tiga perempatnya adalah lautan. Dalam daratan yang seperempat itu berapa banyaknya rahasia kekayaan Ilahi yang terpendam dan berapalah baru yang diketahui oleh manusia. Dan, dalam lautan yang tiga perempat itu, baru berapa yang terukur dan baru berapa yang diketahui. Tiap terbuka rahasia yang baru, ternyatalah bahwa di belakangnya berlapis-lapis lagi rahasia kejadian yang lain. Untuk mengetahui itu, hanya akal manusia jua yang berguna. Beribu-ribu universitas didirikan bagi penyelidikan rahasia bumi, semuanya mengagumkan. Mungkinkah semuanya itu terjadi dengan kebetulan? Apakah adanya belerang, minyak tanah, emas, perak dan segala macam logam, garam, dan lain-lain itu terjadi tidak teratur? Ilmu telah mengatakan bahwa semuanya itu teratur. Kalau tidak teratur, tidaklah dia menjadi ilmu!
Kemudian, itu masuk kepada perhatian yang ketiga."Dan perubahan malam dan siang." Pergiliran bumi mengelilingi matahari dalam falaknya sendiri yang menimbulkan hisab atau hitungan yang tepat, sampai dapat membagi tahun, bulan, hari, jam, dan menit serta detik. Sampai dapat mengetahui peredaran musim dalam setahun, sampai manusia hidup di dunia mencocokkan diri dengan edaran malam dan siang itu, sampai manusia mencatat apa yang dinamakan sejarah, baik sejarah umat manusia seluruhnya maupun sejarah bangsa naik dan bangsa yang punah, atau sejarah orang-seorang, mulai lahirnya, hidup, dan matinya. Teratur edaran malam dan siang itu karena teratur peredaran bumi dan perjalanan matahari, sampai orang dapat menerka akan terjadi gerhana matahari seribu tahun lagi, bahkan seratus ribu tahun lagi. Dapat manusia memastikannya dengan ilmu, bukan urusan tenung yang gaib, karena sangat teraturnya. Mungkinkah peraturan yang seperti ini terjadi sendirinya dengan tidak ada yang mengatur?
Setelah itu, masuk kepada perhatian yang keempat, “Dan kapal yang berlayar di lautan membawa barang yang bermanfaat bagi manusia." Sesungguhnya, sejak zaman purbakala manusia telah tahu membuat kapal. Makanya, manusia berani membuat kapal walaupun pada mulanya sangat sederhana sekali, ialah karena kepada manusia telah diberikan pengetahuan tentang peredaran angin dan kegunaan laut. Dengan kapal itu manusia pun mengenal manusia di pulau dan benua lain dan terjadilah perhubungan antarmanusia karena pertukaran keperluan hidup, supaya ada pertukaran kepentingan hidup sehari-hari. Tadi diterangkan bahwa hanya seperempat bagian daratan dan tiga perempat bagian adalah lautan. Beribu kali kapal ditenggelamkan topan dan ombak yang besar, tetapi keinginan manusia hendak berlayar tidaklah padam. Di dalam Al-Qur'an, selain ayat ini, terdapat tidak kurang dari 23 kali sebutan kapal. Malahan di zaman Nabi Nuh telah dipergunakan kapal untuk pengangkutan besar-besaran. Ini menjadi bukti bahwa Al-Qur'an telah membayangkan kesanggupan manusia membuat yang lebih sempurna, sehingga di zaman sekarang berlayar dengan kapal-kapal sebagaimana Empress of Britain, Queen Elizabeth, Queen Mary, United States, dan lain-lain, adalah laksana berlayar dalam sebuah negeri. Sampai ada kapal yang mempunyai bioskop sendiri, pemandian besar, surat kabar harian sendiri, televisi sendiri, dan sebagainya. Selanjutnya, telah berpindah pula ke udara dengan berbagai penerbangan, sesudah terlebih dahulu menyelam ke dasar taut dengan kapal selam; sekarang bahkan telah ada kapal selam yang dijalankan dengan tenaga atom. Bagaimana manusia akan mencapai kemajuan yang sepesat ini dalam perkapalan sehingga hubungan dengan bagian-bagian dunia yang begini jauh sudah demikian rapatnya? Ialah karena kepada manusia diberikan ilmu tentang pelayaran. Dengan mendapat ilmu itu mengertilah manusia akan sebagian kecil dari rahasia alam. Kembalilah mereka kepada pokok pangkal, yaitu bahwa semuanya ini tidaklah terjadi dengan sia-sia atau kebetulan. Pasti ada pengaturannya.
Setelah itu, masuk pula kepada perhatian yang kelima, “Dan apa yang diturunkan Allah dari langit daripada air maka dihidupkan-Nya dengan (air) itu bumi sesudah matinya, seraya disebarkan-Nya padanya dari tiap-tiap jenis binatang." Di sini secara pendek diterangkan kepentingan air hujan, yaitu menghidupkan bumi yang telah mati. Bila hujan datang, bumi itu pun hidup kembali. Tumbuhlah segala macam tumbuh-tumbuhan karena adanya air. Hujan itu ada yang meresap ke bawah tanah, kelak menjadi telaga. Ada yang mengalir menjadi sungai-sungai bandar berkali untuk mengairi ﷺah dan ladang, dan alirannya yang terakhir melalui tempat yang rendah ialah ke laut. Kelak dari laut akan menguap lagi ke udara, untuk menyusun diri lagi menjadi hujan. Dengan adanya hujan atau turunnya air dapAllah segala-galanya hidup, baik tumbuh-tumbuhan maupun binatang berbagai jenis, termasuk manusia sendiri. Berusahalah manusia membuat irigasi, bendungan air, dam-dam besar. Bahkan, satu bendungan besar telah dikenal di negeri Saba' seribu tahun sebelum Nabi Muhammad ﷺ Dan, ada ayat yang khas membicarakannya dalam Al-Qur'an, bagaimana kemakmuran negeri itu ketika bendungan air masih dipelihara baik-baik dan bagaimana pula bangsa itu menjadi punah setelah bendungan itu tidak dipelihara lagi, sampai mereka mengembara kian kemari dibawa nasib.
Perhatian yang keenam ialah, “Dan peredaran angin" Yang kita sebut di zaman kita ini peredaran cuaca. Bahkan kepandaian manusia di zaman modern, dalam rangka penyelidikan geofisika, telah dapat mengetahui peredaran ke timur dan ke baratnya, ke utara dan ke selatannya, menentukan pada jam sekian akan keras angin, pada jam sekian udara agak panas sedikit, dan jam sekian akan turun hujan. Bagaimana usaha manusia akan dapat mengetahui sepasti itu, menjadi ilmu pengetahuan kalau bukan lantaran teraturnya. Siapakah pengatur itu? Niscaya adalah Allah!
Perhatian yang ketujuh, “Dan awan yang diperintah di antara langit dan bumi!' Pada ayat ini di antara angin dengan awan dipisahkan perhatiannya. Ini karena angin boleh dikatakan dekat kepada manusia setiap hari dan awan beredar pada cakrawala yang lebih tinggi. Dia diperintah atau diatur beredar ke sana dan beredar kemari, membagi-bagikan hujan dan pergantian suhu pada bumi. Bertambah modern hidup manusia bertambah penting perhatian kepada pergeseran awan itu, untuk menentukan penerbangan kapal terbang di udara.
Dan, di ujung sebagai kuncinya Allah berfirman,
“Adalah semuanya itu tanda-tanda bagi kaum yang benakal/'
(ujung ayat 164)
Pikirkanlah dan renungkan ketujuh soal yang dikemukakan Allah itu! Dia menghendaki kita mempergunakan akal. Dia menghendaki manusia menjadi sarjana dalam lapangan masing-masing. Mencari Allah setelah mempelajari alam.
"The Eternal Curse for Those Who hide Religious Commandments
Allah says;
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَـيِكَ يَلعَنُهُمُ اللّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّعِنُونَ
Verily, those who conceal the clear proofs, evidences and the guidance, which We have sent down, after We have made it clear for the People in the Book, they are the ones cursed by Allah and cursed by the cursers.
These Ayat sternly warn against those who hide the clear signs that the Messengers were sent with which guide to the correct path and beneficial guidance for the hearts, after Allah has made such aspects clear for His servants through the Books that He revealed to His Messengers.
Abu Al-Aliyah said that these Ayat,
""were revealed about the People of the Scripture who hid the description of Muhammad.""
Allah then states that everything curses such people for this evil act. Certainly, just as everything asks for forgiveness for the scholar, even the fish in the sea and the bird in the air, then those who hide knowledge are cursed by Allah and by the cursers.
A Hadith in the Musnad, narrated through several chains of narrators, that strengthens the overall judgment of the Hadith, states that Abu Hurayrah narrated that Allah's Messenger said:
مَنْ سُيِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَار
Whoever was asked about knowledge that one has, but he hid it, then a bridle made of fire will be tied around his mouth on the Day of Resurrection.
It is also recorded by Al-Bukhari that Abu Hurayrah said,
""If it was not for an Ayah in Allah's Book, I would not have narrated a Hadith for anyone:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى
(Verily, those who conceal the clear proofs, evidences and the guidance, which We have sent down),""
Mujahid said,
""When the earth is struck by drought, the animals say, `This is because of the sinners among the Children of Adam. May Allah curse the sinners among the Children of Adam.""'
Abu Al-Aliyah, Ar-Rabi bin Anas and Qatadah said that
وَيَلْعَنُهُمُ اللَّعِنُونَ
(and cursed by the cursers) means that;
the angels and the believers will curse them.
Moreover, a Hadith states that;
everything, including the fish in the sea, asks for forgiveness for the scholars.
The Ayah (2:159 above) states that;
those who hide the knowledge will be cursed, (in this life and) on the Day of Resurrection, by Allah, the angels, all humanity, and those who curse (including the animals) each in its own distinct way.
Allah knows best.
From this punishment, Allah excluded all who repent to Him.
إِلاَّ الَّذِينَ تَابُواْ وَأَصْلَحُواْ وَبَيَّنُواْ
Except those who repent and do righteous deeds, and openly declare (the truth which they concealed).
This Ayah refers to those who regret what they have been doing and correct their behavior and, thus, explain to the people what they have been hiding.
فَأُوْلَـيِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
These, I will accept their repentance. And I am the One Who accepts repentance, the Most Merciful.
This Ayah also indicates that those who used to call to innovation, or even disbelief, and repent to Allah, then Allah will forgive them.
Allah afterwards states that
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ
Verily, those who disbelieve, and die while they are disbelievers,
then:
أُولَيِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللّهِ وَالْمَليِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
خَالِدِينَ فِيهَا
it is they on whom is the curse of Allah and of the angels and of mankind, combined. They will abide therein (under the curse in Hell).
Therefore, they will suffer the eternal curse until the Day of Resurrection and after that in the fire of Jahannam,
where,
لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ
their punishment will neither be lightened,
Hence, the torment will not be decreased for them,
وَلَا هُمْ يُنظَرُونَ
nor will they be reprieved.
The torment will not be changed or tempered for even an hour. Rather, it is continuous and eternal. We seek refuge with Allah from this evil end.
Cursing the Disbelievers is allowed
There is no disagreement that it is lawful to curse the disbelievers.
Umar bin Al-Khattab and the Imams after him used to curse the disbelievers in their Qunut (a type of supplication) during the prayer and otherwise.
As for cursing a specific disbeliever, some scholars stated that;
it is not allowed to curse him, because we do not know how Allah will make his end.
Others said that;
it is allowed to curse individual disbelievers. For proof, they mention the story about the man who was brought to be punished repeatedly for drinking (alcohol), a man said, ""May Allah curse him! He is being brought repeatedly (to be flogged for drinking).""
Allah's Messenger said:
لَاا تَلْعَنْهُ فَإِنَّه يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَه
Do not curse him, for he loves Allah and His Messenger.
This Hadith indicates that it is allowed to curse those who do not love Allah and His Messenger.
Allah knows best.
Allah says;
وَإِلَـهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
And your Ilah (God) is One Ilah (God ـ Allah), La ilaha illa Huwa (there is none who has the right to be worshipped but He), the Most Gracious, the Most Merciful.
In this Ayah, Allah mentions that He is the only deity, and that He has no partners or equals. He is Allah, the One and Only, the Sustainer, and there is no deity worthy of worship except Him. He is the Most Gracious ـ Ar-Rahman, the Most Merciful ـ Ar-Rahim.
We explained the meanings of these two Names in the beginning of Surah Al-Fatihah.
Shahr bin Hawshab reported that Asma' bint Yazid bin As-Sakan narrated that Allah's Messenger said:
اسْمُ اللهِ الاَْعْظَمُ فِي هَاتَيْنِ الاايَتَيْنِ
Allah's Greatest Name is contained in these two Ayat:
وَإِلَـهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
And your Ilah (God) is One Ilah (God ـ Allah), La ilaha illa Huwa (there is none who has the right to be worshipped but He), the Most Gracious, the Most Merciful.
and:
الم
اللّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Alif-Lam-Mim. Allah! La ilaha illa Huwa (none has the right to be worshipped but He), Al-Haiyul-Qaiyum (the Ever Living, the One Who sustains and protects all that exists)."" (3:1-2)"
When they asked him [Muhammad may peace and salutation be upon him] to describe his Lord, the following was revealed: Your God, the One deserving of your worship, is One God, without any equal in either essence or attribute; there is no god except Him, He is the Compassionate, the Merciful.
When the mushrikin مشرکین ، (the associators) of Arabia heard the verse وَإِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ 'And your god is one God', all against their own belief, they were puzzled thinking how could there be just one single object of worship for the whole wide world. If this was a serious claim, there has to be some proof in support. That proof has been tersely encased in the present two verses.
Understanding Tauhid, the Oneness of Allah, in the wider sense:
Tauhid توحید ، the cardinal principle of Muslim faith as stated in Verse 163 has been proved repeatedly and variously, therefore, we limit ourselves at this point to a summary view of the principle as follows:
1. He is One in the state of His being, that is, there exists in the universe of His creation no entity like Him. He is without any duplicate or replica and without any equal or parallel. Such unshared and pristine is His station that He alone is deserving of being called the Wahid واحد ، the One.
2. He is One in claiming the right of being worshipped, that is, in view of the nature of His Being, the comprehensiveness of His most perfect attributes and the great charisma of His creation and its nurture, all human obedience, all ` ibadah عبادہ ، all worship has to be for Him alone.
3. He is One in being free of any conceivable composition, that is, He is free of segments and fragments, units and organs, substances and elements, atoms and particles. There is just no way He can be analyzed or divided or resolved.
4. He is One in being the anterior and the posterior, that is, He existed when nothing did and He will remain existing when nothing will. Who then, if not Him, shall be called the Wahid, the only One? (Jassas)