ٱلْأَنْبِيَاء ٣٥
- كُلُّ Every
- نَفۡسٖ soul
- ذَآئِقَةُ (will) taste
- ٱلۡمَوۡتِۗ [the] death
- وَنَبۡلُوكُم And We test you
- بِٱلشَّرِّ with [the] bad
- وَٱلۡخَيۡرِ and [the] good
- فِتۡنَةٗۖ (as) a trial
- وَإِلَيۡنَا and to Us
- تُرۡجَعُونَ you will be returned
Every soul will taste death. And We test you with evil and with good as trial; and to Us you will be returned.
Every soul shall taste death, in this world, and We will try you, We will test you, with ill and good, such as poverty and wealth, sickness and health, as an ordeal (fitnatan, an object denoting reason, in other words, for the purpose of seeing whether you will be patient and give thanks or not). And then unto Us you shall be brought back, that We may requite you.
No One has been granted Immortality in this World
Allah tells:
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ
And We granted not to any human being immortality before you;
means, O Muhammad.
الْخُلْدَ
immortality,
means, in this world.
On the contrary,
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلْـلِ وَالاِكْرَامِ
Whatsoever is on it (the earth) will perish. And the Face of your Lord full of majesty and honor will remain forever. (55:26-27)
أَفَإِن مِّتَّ
then if you die,
means, O Muhammad,
فَهُمُ الْخَالِدُونَ
would they live forever!
means, they hope that they will live forever after you, but that will not happen; everything will pass away.
So Allah says:
كُلُّ نَفْسٍ ذَايِقَةُ الْمَوْتِ
Everyone is going to taste death,
...
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
and We shall test you with evil and with good by way of trial.
Meaning, We shall test you, sometimes with difficulties and sometimes with ease, to see who will give thanks and who will be ungrateful, who will have patience and who will despair.
Ali bin Abi Talhah reported from Ibn Abbas:
وَنَبْلُوكُم
(and We shall test you) means,
We will test you,
بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
(with evil and with good by way of trial) means,
with difficulties and with times of prosperity, with health and sickness, with richness and poverty, with lawful and unlawful, obedience and sin, with guidance and misguidance.
...
وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
And to Us you will be returned.
means, and We will requite you according to your deeds
How the Idolators mocked the Prophet, Allah tells His Prophet
Allah says:
وَإِذَا رَاكَ الَّذِينَ كَفَرُوا
And when those who disbelieved see you,
meaning, the disbelievers of the Quraysh, such as Abu Jahl and his like.
إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلاَّ هُزُوًا
they take you not except for mockery,
means, they make fun of you and insult you, saying,
أَهَذَا الَّذِي يَذْكُرُ الِهَتَكُمْ
Is this the one who talks about your gods!
meaning, is this the one who insults your gods and ridicules your intelligence!
Allah says:
وَهُم بِذِكْرِ الرَّحْمَنِ هُمْ كَافِرُونَ
While they disbelieve at the mention of the Most Gracious.
meaning, they disbelieve in Allah and yet they mock the Messenger of Allah.
As Allah says:
وَإِذَا رَأَوْكَ إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلاَّ هُزُواً أَهَـذَا الَّذِى بَعَثَ اللَّهُ رَسُولاً
إِن كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ ءَالِهَتِنَا لَوْلَا أَن صَبْرَنَا عَلَيْهَا وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيلً
And when they see you, they treat you only in mockery (saying):Is this the one whom Allah has sent as a Messenger He would have nearly misled us from our gods, had it not been that we were patient and constant in their worship!
And they will know, when they see the torment, who it is that is most astray from the path! (25:41-42)
خُلِقَ الاِْنسَانُ مِنْ عَجَلٍ سَأُرِيكُمْ ايَاتِي فَلَ تَسْتَعْجِلُونِ
Man is created of haste. I will show you My Ayat. So ask Me not to hasten (them).
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
What is death?
Allah has said كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ 'Every soul has to taste death'. Here the word soul refers to the living things of the earth, who must all face death, but does not include the angels. There is a difference of opinion about whether the angels will also die or not on the Day of Judgment. Some say that every living thing will die, though momentarily, irrespective of whether they are of the earth or the skies. But others maintain that angels and hurs and ghilman of Paradise are excluded from this general rule. (Only God knows best) (Ruh ul-Ma` ani) Majority of the scholars believe that death is the departure of soul from the mortal human frame, while soul itself is a subtle ethereal living thing which is made of light and resides in human body just as fragrance resides in the rose. Ibn al-Qayyim has convincingly proved this point in his book. (Ruh ul-Ma` ani)
The term ذَائِقَةُ الْمَوْتِ means that every individual will feel the pain of death - 21:35, because considering the manner in which body and soul are conjoined together their separation should obviously entail some pain. There are some saintly persons who regard death as a deliverance from the trials and tribulations of the worldly life and a means of bringing them closer to their Supreme love, that is Allah. This pleasure does not negate the agony of death, because where the reward is high, a little pain is easily tolerated.
Worldly comforts and discomforts are a test
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
And We test you all through bad and good (situations) with a trial. - 21:35
It means that man is tested both by good things and by bad things. شَر (bad) includes unpleasant things such as illness, grief, pain, poverty etc. while خَیر (good) means desirable things, like good health, happiness, comfort and abundance. Man is subjected to these conditions in this world for test and the test is that he should show patience and endurance in the face of adversity and should offer thanks to Allah when his life is peaceful and comfortable. Wise men have said that, it is more difficult to be steadfast and consistent in offering thanks to Allah for His gifts than to persevere and show patience in difficult circumstances. Sayyidna ` Umar ؓ is reported to have said:
بُلینا بالضّراء فصبرنا و بلینا بالسّراء فلم نصبر (روح المعانی)
"We were tested by discomforts and We bore it with patience, but when we were tested by pleasures, we could not observe patience (i.e. we could not offer gratitude to Allah as was due) ". (Ruh ul-Ma'ani)
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Al-Anbiya': 34-35
Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal. Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.
Ayat 34
Allah ﷻ berfirman: “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad).” (Al-Anbiya: 34).
Yaitu di dunia ini, bahkan “semua yang ada di bumi itu akan binasa, dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26-27).
Sebagian ulama menyimpulkan dalil dari ayat ini, bahwa Khidir a.s. telah wafat dan tidak hidup sampai sekarang, karena dia adalah seorang manusia, baik ia sebagai seorang wali, atau seorang nabi atau seorang rasul, sebab Allah ﷻ telah berfirman: “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad).” (Al-Anbiya: 34).
Adapun firman Allah ﷻ: ”Maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (Al-Anbiya: 34)
Yakni mereka berharap dapat hidup sesudah kamu. Namun itu tidak akan terjadi; semuanya pasti mati. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
Ayat 35
“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Al-Anbiya: 35)
Telah diriwayatkan dari Imam Syafii, bahwa beliau mengemukakan dua bait syair berikut yang semakna dengan ayat ini, yaitu: “Banyak kalangan lelaki yang mengharapkan aku mati cepat, dan memang mati itu merupakan suatu akhir yang saya tidak menyendiri di dalamnya. Maka katakanlah kepada orang yang menginginkan hal yang berbeda dengan pendahulunya, bersiap-siaplah untuk menghadapi masa hidupnya yang baru, kematian akan tetap menjadi suatu kepastian baginya.”
Firman Allah ﷻ: “Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (Al-Anbiya: 35) Artinya, Kami benar-benar akan menguji kalian adakalanya dengan musibah dan adakalanya dengan nikmat agar Kami dapat melihat siapakah yang bersyukur dan siapakah yang ingkar, siapakah yang bersabar serta siapakah yang berputus asa (di antara kalian).
Seperti yang telah diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “Kami akan menguji kalian.” (Al-Anbiya: 35) Yakni memberikan cobaan kepada kalian.
“Dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (Al-Anbiya: 35)
Yaitu dengan kesengsaraan dan kemakmuran, dengan sehat dan sakit, dengan kaya dan miskin, dengan halal dan haram, dengan taat dan durhaka, serta dengan petunjuk dan kesesatan.
Firman Allah ﷻ: “Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (Al-Anbiya: 35)
Maka Kami akan memberikan balasan kepada kalian sesuai dengan amal perbuatan kalian.
Karena hidup manusia di dunia tidak kekal, maka ketetapan Allah berlaku bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Allah kemudian menetapkan garis bahwa hidup adalah ujian. Kami akan menguji kamu dengan dua macam ujian, keburukan dan kebaikan, sebagai cobaan untuk mengukur kualitas iman dan kesabaran manusia. Dan kamu, seluruh manusia, akan dikembalikan hanya kepada Kami untuk mempertanggungjawabkan hidup di dunia dan mendapatkan hasilnya, keridaan Allah atau murka-Nya. 36. Allah menerangkan sikap dan kelakuan orang-orang kafir terhadap Rasulullah. Dan apabila orang-orang kafir itu melihat engkau, Muhammad, kapan dan di mana saja mereka bertemu, mereka hanya memperlakukan engkau menjadi bahan ejekan. Mereka mengatakan kepada se-samanya, 'Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu, yang dihormati dan disembah oleh leluhur kita'' Mereka tidak menyadari bahwa sebenar-nya merekalah yang selayaknya menerima ejekan, karena menyembah berhala yang tidak kuasa berbuat apa pun. Sejatinya mereka orang yang ing-kar mengingat Allah Yang Maha Pengasih. Mereka menolak ajakan Rasulullah untuk beriman kepada Allah yang menciptakan mereka dan memberi hidup dan kehidupan ini.
Dalam ayat ini Allah menyatakan lebih tegas lagi, bahwa setiap mahluk-Nya yang hidup atau bernyawa pasti akan merasakan mati. Tidak satu pun yang kekal, kecuali dia sendiri, dalam hubungan ini, Allah berfirman dalam ayat yang lain:
Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. (al-Qashash/28: 88)
Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan cobaan yang ditimpakan Allah kepada manusia tidak hanya berupa hal-hal yang buruk, atau musibah yang tidak disenangi, bahkan juga ujian tersebut dapat pula berupa kebaikan atau keberuntungan. Apabila ujian atau cobaan itu berupa musibah, maka tujuannya adalah untuk menguji sikap dan keimanan manusia, apakah ia sabar dan tawakkal dalam menerima cobaan itu. Dan apabila cobaan itu berupa suatu kebaikan, maka tujuannya adalah untuk menguji sikap mental manusia, apakah ia mau bersyukur atas segala rahmat yang dilimpahkan Allah kepadanya.
Jika seseorang bersikap sabar dan tawakkal dalam menerima cobaan atau musibah, serta bersyukur kepada-Nya dalam menerima suatu kebaikan dan keberuntungan, maka dia adalah termasuk orang yang memperoleh kemenangan dan iman yang kuat serta mendapat keridaan-Nya. Sebaliknya, bila keluh kesah dan rusak imannya dalam menerima cobaan Allah, atau lupa daratan ketika menerima rahmat-Nya sehingga ia tidak bersyukur kepada-Nya, maka orang tersebut adalah termasuk golongan manusia yang merugi dan jauh dari rida Allah. Inilah yang dimaksudkan dalam firman-Nya pada ayat lain:
Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat. (al-Ma'arij/70: 19-22)
Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa bagaimana pun juga tingkah laku manusia dalam menghadapi cobaan atau dalam menerima rahmat-Nya, namun akhirnya segala persoalan kembali kepada-Nya juga. Dialah yang memberikan balasan, baik pahala maupun siksa, atau memberikan ampunan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Bukti Kekuasaan Tuhan
“Dan Kami jadikan di bumi ini peneguh-peneguh."
(pangkal ayat 31).
Yang dimaksud dengan peneguh-peneguh itu ialah gunung-gunung dan bukit-bukit. Karena gunung-gunung dan bukit-bukit benar-benar menjadi peneguh. Kalau kiranya gunung dan bukit-bukit tidak ada niscaya tidaklah ada yang akan dapat menahan angin yang senantiasa berhembus amat kerasnya. "Supaya mengokohkan mereka." Dengan adanya gunung dan bukit terhambatlah angin dan kokohlah tegak manusia, tenteram. Baik di waktu berjatan di atas bumiatau-sedang tidur nyenyak atau sedang duduk. Mereka tidak akan diterbangkan oleh angin. "Dan Kami jadikan padanya celah-celah untuk jalan jalan." Celah ialah tanah rendah di antara bukit-bukit yang tinggi.
Dari celah-celah yang terbuka sedikit itu orang dapat membuat jalan-jalan untuk dilalui menempuh jarak yang jauh dari satu negeri ke negeri lain yang diriiami manusia, jadilah dia berberituk jalan karena bekas kaki manusia yang lalu-lintas di sana. Di sana timbul pepatah yang terkenal: “Pusar jalan yang selalu ditempuh lancar kaji karena selalu diulang."
“Supaya mereka dapat petunjuk."
(ujung ayat 31).
Dengan menempuh celah-celah gunung yang mudah dilalui manusia itu, dan dari sebab jalan itu telah pusar, tidak lagi karena senantiasa dilalui' manusia maka orang tidak akan tersesat lagi, orang akan sampai kepada tempat yang dituju. Menghubungkan dl antara negeri dengan negeri. Jalan-jalan moden yang ada di seluruh dunia sekarang ini, yang dilalui oieh kendaraan bermesin, baik keretapi atau motor dan mobil, asal mula dahulunya tetap dimulai dari jalan-jalan sederhana di celah-celah bukit dahulu kala itu juga. Pengalaman-pengalaman manusia di dalam perjalanan sejarahlah yang memperbaiki jalan-jalan sampai timbul ilmu-ilmu keinsinyuran membuat jembatan panjang, membuat lobang dalam tanah untuk dijadikan jalan. Maka ujung ayat: “Supaya mereka dapat petunjuk", bukan saja petunnjuk cara kemana yang akan dituju, bahkan juga petunjuk cara bagaimana membuat jalan, sampai mencapai kemajuan sebagai sekarang ini.
“Dan Kami jadikan langit menjadi loteng yang terpelihara."
(pangkal ayat 32).
Langit menjadi loteng yang terbentang luas di atas kepala manusia. Dia selalu terpelihara, tidak jatuh menimpa. Siang hari indah disinari matahari. Malam indah pula oleh tebaran berjuta-juta bintang, atau cahaya bulan. Orang yang halus perasaannya dan cerdas akal budiriya niscaya akan tergetar dan ingat akan kekayaan dan keindahan Allah. Tetapi apalah hendak dikata. Ujung ayat membayangkan kelataian manusia: “Namun dari ayat-ayat Kami mereka berpaling jua,"
(ujung ayat 32).
Begitu indahnya langit namun hatinya tidak tergetar. Dilihatnya keindahan alam, namun perasaannya tidak langit kepada yang mencipta alam. Itulah pancaindera yang tiada berkontak dengan jiwa, dengan rasa dan akal. Itulah kemanusiaan yang kurang. Yang telah dibayangkan Tuhan pada ayat 179 Surat 7 al-A'raf, bahwa orang-orang semacam itu akan dilemparkan ke dalam neraka jahannam, karena ada hati, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat. Ada telinga, tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar. Orang-orang semacam ini sama saja dengan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka-mereka ini adalah orang yang lalai.
“Dan Dialah yang menciptakan malam dan siang dan matahari dan bulan."
(pangkal ayat 33).
Terjadi malam dan siang oleh karena bumi berputar pada sumbunya. Bila hari telah malam gelaplah permukaan bumi yang terlindung dari cahaya matahari. Bila hari telah slang timbullah terang kembali. Kejadian malam dan siang sangat sekali berhubungan dengan matahari. Diperingatkan pula bahwa matahari itu Allah juga yang menjadikan. Pergantian malam dan siang, peredaran matahari dan butan, semuanya menimbulkan perhitungan hari, sehari semalam adalah 24 jam, Edaran jalan bumi keliling matahari menimbulkan pula edaran musim yang tetap. Terdapat musim papas, malamnya pendek, siangnya panjang. Sebaliknya di musim dingin, siangnya pendek malamnya panjang. Di antara keduanya diriapat musim.kembang dan musim gugur. Perjalanan dan edaran matahari berulang kembali kepada keadaannya semula setelah 365 hari, sedang edaran bulan kurang dari itu 11 hari, yaitu 354 hari. Maka timbullah hitungan tahun syamsiah menurut edaran matahari dan tahun gamariyah menurut edaran bulan. Dengan demikian manusia pun dapat menghitung berapa umunya yang sudah terpakai dan tetap rahasia berapa lagi yang tinggal.
“Semuanya itu di landasan masing-masing dalam keadaan beredar."
(ujung ayat 33).
Yasbahun kita artikan beredar. Boleh juga diartikan berenang. Diibaratkan ruang angkasa itu adalah ruang yang kosong, lapang, terluang. Maka baik malaikat ataupun bulan, ataupun berjuta-juta bintang-bintang itu, termasuk bumi terdapat manusia hidup ini adalah beredar, laksana berenang di ruang angkasa yang luas terbentang ini. Tetapi meskipun ruang asa luas terbentang, namun semua itu, atau tiap-tiap itu adalah beredar di landasan masing-masing yang telah ditentukan Allah. Landasan kita pakai jadi makna dari falak semua beredar menuruti garis-garis yang telah ditentukan Allah, sampai-sampai kepada ukuran jarak masing-masing. Misalnya kalau edaran cepat bumi mengelilingi matahari, yang beredar laksana bola kena,sepak, datam beredar masa 365 dalam setahun dia pun berputar cepat, menimbulkan siang dan malam itu dalam 24 jam, maka ada bintang yang edarannya itu lebih lama dari itu, dan lebih jauh jaraknya. Kalau bumi mengelilingi matahari satu tahun 365 hari maka ada bintang yang mengelilingi matahari satu edaran dibanding dengan edaran bumi jadi 40 tahun.
Maka dapatlah kita umpamakan peredaran matahari, bulan dan .bintang itu di atas falak masing-masing laksana jalan raga yang dilalui lalulintas oleh kendaraan-kendaraan bermotor diberi garis putih di tengah-tengah agar pengemudi jangan melanggar garis dan mengambil jalan orang lain, Karena kalau demikian akan terjadi pelanggaran dan hancurlah alam ini seluruhnya, sebab tidak terdapat lagi -apa yang dinamai tawazun; yaitu perseimbangan.
Oleh sebab itu maka perjalanan falak yang teratur sangat teliti itu adalah satu bukti tentang pasti Ada Maha Pengatur.
Tiada Manusia yang Hidup Kekal
“Dan tiadalah Kami jadikan bagi manusia dari sebelum engkau dalam keadaan kekal."
(pangkal ayat 34).
Tegasnya, bahwa sejak manusia ada di bumi ini, sampai kepada zaman engkau lahir ke dunia, wahai utusanKu, tidaklah pernah seorang juga yang Kami jadikan kekal, tetap hidup tidak mati-mati. Tegasnya semuanya lahir ke dunia, lalu hidup beberapa waktu lamanya, sesudah itu dia pun mati. Yang kekal tidak mati-mati tidak ada.
Apa sebab ada penjelasan seperti ini?
Konon adalah di kalangan kaum Musyrikin penentang ajaran Nabi s.a.w, itu yang berharap bahwa kalau Muhammad telah mati kelak, ajarannya itu akan turut mati. Mereka menunggu-nunggu datang masanya Muhammad itu mati dan mereka akan tinggal hidup. Maka datanglah haritahan di ujung ayat: “Sebab itu jika engkau mati, apakah mereka akan kekal?"
(ujung ayat 34).
Nabi Muhammad akan mati, karena yang setiap yang bernyawa pasti mati. Dan mereka pun akan mati. Dan bila masanya kedatangan maut itu tidak pula seorang jua pun yang dapat menentukan. Bahkan musyrikin Quraisy yang mengharap ajaran Muhammad akan mati setelah Muhammad mati, sebagian besar di antara mereka mati lebih dahulu daripada Nabi Muhammad s.a.w.
Ayat ini adalah alasanya yang sangat kuat bagi menolak setengah kepercayaan orang tantang masih hidupnya Nabi Khidhir sampai kepada zaman Nabi kita Nabi Muhammad s.a.w. bahkan sampai kepada zaman kita sekarang ini. Ayat ini telah menegaskan bahwa tidak ada di kalangan manusia yang hidup sampai zaman Nabi Muhammad ditakdirkan Allah dalam keadaan Khuld, kekal, tidak mati-mati. Seorang Nabi Khidhir itu hidup di zaman Nabi Musa, yang jarak kirakira 15 abad (1500 tahun) dengan Nabi Muhammad.
Ayat ini mengajar orang berfikir memakai manthik: “Kalau engkau mati hai utusanKu, apakah mereka akan kekal?" Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa Nabi dan Rasul yang paling mulia mesti mati. Dahulu dari dia tidak ada seorang. yang kekal. Tentu tidak mungkin akan ada orang yang kekal tidak akan mati-mati sesudah Muhammad mati.
“Tiap-tiap diri pastilah merasakan mati."
(pangkal ayat 35).
Ini adatah lebih menjelaskan ayat yang sebelumnya. Tiap-tiap diri, yang disebut nafs. Diri di sebut nafs itu pasti berhenti. Berhenti bernafs, niscaya yang diberi nama nafs itu tidak ada lagi. Jelaslah bahwa nafs itu ialah hidup. Berhenti nafs berhenti hidup, artinya mati. Jalan lain tidak ada. Walaupun dia Nabi Adam, Nabi Musa, Nabi Khidhir atau Nabi Muhammad. Luar daripada itu hanya dangeng, bukan kenyataan. "Dan sesungguhnya akan Komi berikan percobaan kepada kamu dengan kesusahan dan kebaikan." Maka dijelaskanlah pada-lanjutan ayat bahwa tatkala masih bemafs sebelum mati percobaan pasti ada. Susah dan senang keduanya cobaan. Kaya atau miakin keduanya cobaan. Naik dan jatuh keduanya cobaan: “Sebagai ujian", kuatkah iman atau tidak. Cobaan-cobaan itu sebagai ujian keteguhan iman mesti ditempuh sebelum mati. Ada yang lulus dari cobaan dan ada yang gagal: “Dan kepada Kamilah kamu semua akan kembali."
Ada yang kembali dengan rasa bahagia karena lulus dalam berbagai ujian hidup dan ada yang pulang dengan hampa dan kegagalan dan jatuh dalam berbagai ujian.
Tentang percobaan dengan yang buruk dan dengan yang sebagai ujian ini. All bin Abu Thalhah meriwayatkan suatu tafsir dari Ibnu Abbas, beliau berkata: “Kadang-kadang kesusahan datang menimpa, kadang-kadang dapat kelapangan hidup;.kadang-kadang sihal, kadang-kadang sakit. Kadang-kadang ada kekayaan, kadang-kadang serba kekurangan. Kadang-kadang bertemu yang halal, kadang-kadang yang baram. Kadang-kadang terasa enak berbuat mat, kadang-kadang terlanjur berbuat maksiat. Kadang-kadang tertempuh jalan yang ditunjukkan Tuhan, kadang-kadang tersesat, Semuanya itu percobaan selama nyawa dikandung badan, sampai nanti datang masanya kembali semua kepada Allah."
Sekian salah satu uraian dari Ibnu Abbas.
Maka adalah orang seorang ganti berganti hujan dan panas menimpa dirinya. Mula-mula dia dicobai dengan penderitaan yang pahit. Di waktu itu dia tahan menderita. Kemudian nasibnya berubah, bintangnya mulai terang, langitnya mula' cerah. Hidupnya mulai senang. Pada waktu itu dia mulai tidak tahan kena cobaan.
Tuhan menjelaskan bahwa kekayaan dan kesempatan yang banyak terbuka kerapkali menyebabkan orang berbuat semau0maunya di muka bumi; sebagai tersebut di Surat 42, asy-Syura, ayat 27.
“Kalau dihamparkan Allah rezeki kepada mereka -hampa-hambanya- niscaya akan berbuat pelanggaran mereka di muka bumi."
Sebaliknya maka kemiskinan dan kesempitan hidup mudah pula membuat orang jadi durhaka kepada Tuhan. Hal ini pernah disebutkan Nabi:
“Nyarislah kemelaratan itu membawa orang jadi kafir."
Inilah yang diperingatkan oleh Tuhan dan selalu pula kita saksikan dalam kehidupan manusia. Mana-mana di antara manusia yang jiwanya tidak mendapat bimbingan agama, hidup yang tidak ada pegangan, itulah yang tidak tahan kena cobaan. Itulah yang banyak jatuh terjerembab ke dalam lobang yang penuh kemurkaan Ilahi, baik karena rezeki yang berlimpah-limpah atau karena penderitaan yang tidak tertahankan lagi.
(Tiap-tiap yang berjiwa itu akan merasakan mati) di dunia (dan Kami akan menguji kalian) mencoba kalian (dengan keburukan dan kebaikan) seperti miskin, kaya, sakit dan sehat (sebagai cobaan) kalimat ini menjadi Maf'ul Lah, maksudnya supaya Kami melihat, apakah mereka bersabar dan bersyukur ataukah tidak. (Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan) kemudian Kami akan membalas kalian.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.