إِبْرَاهِيم ١٠
- قَالَتۡ Said
- رُسُلُهُمۡ their Messengers
- أَفِي Can (there) be about
- ٱللَّهِ Allah
- شَكّٞ any doubt
- فَاطِرِ (the) Creator
- ٱلسَّمَٰوَٰتِ (of) the heavens
- وَٱلۡأَرۡضِۖ and the earth
- يَدۡعُوكُمۡ He invites you
- لِيَغۡفِرَ so that He may forgive
- لَكُم for you
- مِّن [of]
- ذُنُوبِكُمۡ your sins
- وَيُؤَخِّرَكُمۡ and give you respite
- إِلَىٰٓ for
- أَجَلٖ a term
- مُّسَمّٗىۚ appointed
- قَالُوٓاْ They said
- إِنۡ Not
- أَنتُمۡ you
- إِلَّا (are) but
- بَشَرٞ a human
- مِّثۡلُنَا like us
- تُرِيدُونَ you wish
- أَن to
- تَصُدُّونَا hinder us
- عَمَّا from what
- كَانَ used to
- يَعۡبُدُ worship
- ءَابَآؤُنَا our forefathers
- فَأۡتُونَا So bring us
- بِسُلۡطَٰنٖ an authority
- مُّبِينٖ clear
Their messengers said, "Can there be doubt about Allāh, Creator of the heavens and earth? He invites you that He may forgive you of your sins, and He delays you [i.e., your death] for a specified term." They said, "You are not but men like us who wish to avert us from what our fathers were worshipping. So bring us a clear authority [i.e., evidence]."
Their messengers said, 'Can there be doubt concerning God (an interrogative meant as a denial), in other words, there can be no doubt concerning His Oneness, given the manifest proofs of it, the Originator, the Creator, of the skies and the earth? He calls you, to obedience of Him, so that He might forgive you your sins (min dhunoobikum: min is extra, since through submission [to the One God] all that may have been committed previously is forgiven (or else it [min, 'some of'] is partitive, intended to state that [forgiveness] which is due to [God's] servants) and defer you, without chastisement, to an appointed term', the term of death. They said, 'You are but mortals like us, desiring to bar us from that which our fathers used to worship, in the way of idols. So bring us a clear warrant', a manifest argument demonstrating your truthfulness.
"The Argument between the Prophets and the Disbelievers
Allah says:
قَالَتْ رُسُلُهُمْ
Their Messengers said:
Allah narrates to us the arguments that ensued between the disbelievers and their Messengers. When their nations doubted the Message of worshipping Allah alone without partners, the Messengers said,
أَفِي اللّهِ شَكٌّ
(What!) Can there be a doubt about Allah...
about His Lordship and having the exclusive right to be worshipped alone, being the only Creator of all creatures!
فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالَارْضِ
the Creator of the heavens and the earth!
Verily, none besides Allah is worthy of worship, alone without partners with Him. Most nations were, and still are, affirming the existence of the Creator, but they call upon intermediaries besides Him whom they think will benefit them or bring them closer to Allah.
Their Messengers said to them,
يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ
He calls you that He may forgive you of your sins, (in the Hereafter),
وَيُوَخِّرَكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَـمًّى
and give you respite for a term appointed,
in this worldly life.
Allah said in other Ayat,
وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُوْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ
Seek the forgiveness of your Lord, and turn to Him in repentance, that He may grant you good enjoyment, for a term appointed, and bestow His abounding grace to every owner of grace. (10:3)
However, their nations went on arguing against their Prophethood, after they had to submit to the first evidence (that Allah Alone created everything).
Disbelievers reject Prophethood because the Messengers were Humans!
Their nations said,
قَالُواْ إِنْ أَنتُمْ إِلاَّ بَشَرٌ مِّثْلُنَا
They said:""You are no more than human beings like us!
so why should we follow you just because you say so, even though we did not witness a miracle by your hands,
تُرِيدُونَ أَن تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ ابَأوُنَا
You wish to turn us away from what our fathers used to worship.
فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ
Then bring us a clear authority.
i.e. a miracle of our choice
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِن نَّحْنُ إِلاَّ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ
Their Messengers said to them:""We are no more than human beings like you...""
affirming that truly, they were only human being like their nations,
وَلَـكِنَّ اللّهَ يَمُنُّ عَلَى مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ
but Allah bestows His grace to whom He wills of His servants,
with Prophethood and Messengership which is His choice,
وَمَا كَانَ لَنَا أَن نَّأْتِيَكُم بِسُلْطَانٍ
It is not ours to bring you an authority,
according to your choice,
إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ
except by the permission of Allah,
after we beg Him and He provides us with a miracle,
وَعلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُوْمِنُونَ
And in Allah (alone) let the believers put their trust.
in all their affairs.
Their Messengers said to them next
وَمَا لَنَا أَلاَّ نَتَوَكَّلَ عَلَى اللّهِ
And why should we not put our trust in Allah,
after He had guided us to the best, most clear and plain way,
وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا
while He indeed has guided us in our ways!
وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا اذَيْتُمُونَا
And we shall certainly bear with patience all the hurt you may cause us,
such as foolish actions and abusive statements,
وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ
and in Allah (alone) let those who trust, put their trust."
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Ibrahim: 10-12
Rasul-rasul mereka berkata, "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kalian (untuk beriman) agar memberi ampunan kepada kalian dari dosa-dosa kalian dan menangguhkan (azab) kalian sampai masa yang ditentukan? Mereka berkata, "Kalian tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kalian menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami. Karena itu, datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.”
Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kalian melainkan dengan seizin Allah. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang beriman bertawakal.
Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah, padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kalian lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri."
Ayat 10
Allah ﷻ menceritakan perdebatan yang berlangsung antara orang-orang kafir dan rasul-rasul-Nya. Demikian itu karena ketika para rasul mendapat jawaban keraguan dari pihak umatnya masing-masing terhadap apa yang disampaikan oleh para rasul kepada mereka, yang intinya menyeru agar mereka menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Maka berkatalah para rasul:
“Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah.” (Ibrahim: 10)
Kalimat ini mengandung dua interpretasi, yaitu: Pertama, apakah ada keragu-raguan terhadap keberadaan-Nya. Karena sesungguhnya fitrah manusia mempersaksikan keberadaan-Nya, dan fitrah manusia telah diciptakan dalam keadaan mengakui keberadaan Allah sebagai Tuhannya.
Orang yang memiliki fitrah yang sehat pasti mengakui Allah, tetapi adakalanya fitrah manusia dijangkiti oleh penyakit keragu-raguan dan kelabilan. Maka untuk menyembuhkannya diperlukan sarana bukti (dalil) yang menunjukkan keberadaan-Nya guna melenyapkan keragu-raguan itu. Untuk itulah maka para rasul memberikan bimbingan dan petunjuk kepada mereka ke arah jalan yang menghantarkan mereka untuk dapat mengenal-Nya. Maka disebutkanlah:
“Pencipta langit dan bumi?” (Ibrahim: 10) yang Dia ciptakan dan Dia adakan tanpa contoh yang mendahuluinya.
Karena sesungguhnya bukti-bukti kejadian, penciptaan, dan pengaturan yang ada pada keduanya menunjukkan bahwa pasti ada yang membuatnya. Dialah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Pencipta segala sesuatu, Dialah Tuhan dan pemiliknya.
Kedua, sejumlah ulama mengartikan firman-Nya:
“Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah.” (Ibrahim: 10)
Yakni sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang harus disembah, padahal Dialah yang menciptakan semua yang ada; tiada yang berhak disembah selain Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Sesungguhnya sebagian besar umat manusia mengakui Tuhan Yang Maha Pencipta, tetapi mereka menyembah selain-Nya yang dipersekutukan dengan-Nya, yaitu perantara-perantara yang mereka duga dapat memberikan manfaat kepada mereka atau dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah. Para rasul mereka berkata kepada mereka:
“Dia menyeru kalian (untuk beriman) agar memberi ampunan kepada kalian dari dosa-dosa kalian.” (Ibrahim: 10)
Yakni di hari akhirat kelak.
“Dan menangguhkan (azab) kalian sampai masa yang ditentukan.” (Ibrahim: 10)
Yaitu di dunia ini.
Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
“Dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Tuhan kalian dan bertobat kepada-Nya. (Jika kalian mengerjakan yang demikian itu), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepada kalian sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (Hud: 3), hingga akhir ayat.
Kemudian setelah umat-umatnya kalah berdebat dengan para rasul mereka, maka mereka beralih alasan untuk menolak dengan cara mendebat kedudukan rasul yang disandangnya. Kesimpulan jawaban mereka disebutkan oleh firman-Nya:
“Kalian tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kami juga,” (Ibrahim: 10)
Yakni mana mungkin bagi kami mengikuti kalian hanya dengan perkataan kalian, sedangkan kami belum melihat adanya suatu mukjizat dari kalian, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya menyitir kata-kata mereka dalam firman selanjutnya:
“Karena itu, datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.” (Ibrahim: 10)
Yaitu suatu mukjizat yang kami minta dari kalian mengemukakannya.
Ayat 11
“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: ‘Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kalian’." (Ibrahim: 11)
Artinya, memang benar kami adalah manusia biasa seperti kalian.
“Akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” (Ibrahim: 11)
Yakni kerasulan dan kenabian.
“Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kalian.” (Ibrahim: 11)
Sesuai dengan apa yang kalian minta,
“Melainkan dengan izin Allah.” (Ibrahim: 11)
Yakni sesudah kami minta kepada-Nya dan Dia mengizinkan kepada kami untuk mengeluarkannya.
“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (Ibrahim: 11)
Yaitu dalam semua urusan mereka.
Ayat 12
Kemudian para rasul berkata:
“Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah.” (Ibrahim: 12) Maksudnya, apakah yang mencegah kami untuk bertawakal kepada Allah, padahal Dia telah menunjuki kami jalan yang paling lurus, paling jelas, dan paling gamblang.
“Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kalian lakukan kepada kami.” (Ibrahim: 12)
Seperti perkataan yang buruk dan perbuatan-perbuatan yang rendah.
“Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri.” (Ibrahim: 12)
Menanggapi jawaban kaumnya, rasul-rasul mereka berkata, Apakah
ada keraguan dari siapa pun yang berakal terhadap wujud dan keesaan
Allah, Pencipta langit dan bumi dalam keseimbangan yang begitu sempurna' Dia menyeru kamu agar bertauhid dan beribadah hanya kepadaNya untuk kepentinganmu sendiri, yakni agar Dia mengampuni sebagian
dosa-dosamu yang sengaja maupun tidak, dan menangguhkan siksaan-mu
sampai waktu yang ditentukan oleh-Nya. Mendengar nasihat para rasul
itu, mereka berkata, Kamu hanyalah manusia biasa seperti kami juga. Tidak ada keistimewaan apa pun dalam diri kamu yang memantaskan
kamu untuk menjadi pembimbing kami. Kamu mengaku sebagai rasul hanya karena ingin menghalangi kami menyembah apa yang dari dahulu telah diyakini dan disembah oleh nenek moyang kami, lalu kamu
mengajak kami menyembah tuhanmu. Karena itu, datangkanlah kepada
kami bukti yang nyata bahwa kamu benar utusan Allah sehingga kami
tidak lagi dapat membantahnya. Pandangan orang kafir itu sangat keliru. Mereka seolah ingin memaksakan kehendak bahwa para rasul haruslah bukan manusia biasa.
Untuk mematahkan logika ini, rasul-rasul mereka berkata kepada mereka,
Wahai kaum kami, kami memang hanyalah manusia biasa seperti kamu,
tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara
hamba-hamba-Nya. Kami adalah beberapa orang di antara mereka yang
Allah beri karunia itu. Ketahuilah, tidak pantas bagi kami untuk mendatangkan suatu bukti kepada kamu atas kuasa kami sendiri, melainkan semuanya haruslah dengan izin Allah. Dan oleh sebab itu, hanya kepada
Allah saja hendaknya orang yang beriman bertawakal dan berserah diri.
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa karena mereka menyatakan keragu-raguan terhadap apa yang disampaikan oleh para rasul kepada mereka, terutama tentang kekuasaan Allah ﷻ, maka para rasul tersebut mengatakan kepada umatnya, "Apakah patut adanya keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberikan ampunan atas segala dosa-dosamu, dan Dia telah menangguhkan siksaan terhadapmu sampai kepada suatu masa yang ditentukan-Nya ?
Sebaliknya, umat dari masing-masing rasul itu mengatakan bahwa para rasul tersebut, menurut pandangan mereka, adalah manusia biasa seperti mereka dan tidak mempunyai kelebihan apa-apa. Sebab itu, tidak ada alasan bagi mereka untuk menjadi pengikut rasul-rasul tersebut. Menurut mereka, para rasul itu sudah memalingkan mereka dari agama yang diwarisi dari nenek moyang mereka, serta menghalang-halangi mereka dari menyembah patung-patung yang menjadi sesembahan nenek moyang tersebut. Oleh karena itu, mereka meminta bukti yang nyata dari para rasul untuk menunjukkan kebenaran pengutusan mereka sebagai rasul Allah ﷻ Padahal, rasul-rasul itu telah mengemukakan mukjizat masing-masing, yang dikaruniakan Allah kepada mereka sebagai bukti kerasulannya.
“Dan (ingatlah) tatkala berkata Musa kepada kaumnya: Ingatlah olehmu akan nikmat Allah atas kamu, ketika dilepaskan-Nya kamu dan keluarga Fir'aun yang telah menyiksa kamu dengan seburuk-buruk adzab."
(pangkal ayat 6)
Di sini telah mulai dibayangkan betapa pahit penindasan yang mereka derita. Bukan saja Fir'aun sendiri yang menyiksa dan menganiaya mereka terutama lagi ialah keluarga Fir'aun, atau yang di zaman sekarang disebut orang Regime (rejim). Berlindung di bawah payung panji nama Fir'aun, maka segala kaki tangan, segala keluarga, segala pegawai, segala pembesar, yang tersebut kaum golongan Fir'aun, berleluasalah menindas mereka. Inilah salah satu sebab mengapa Musa sebelum menjadi rasul sampai membunuh orang, sebab tidak tega hatinya melihat kaumnya Bani Israil disiksa dan dihina demikian saja oleh seorang manusia biasa, yang tidak ada kelebihannya, hanyalah karena dia kaum Qibthi, artinya sekaum dengan Fir'aun. Empat ratus tahun, generasi demi generasi mereka menderita penindasan.
“Mereka sembelih anak-anak laki-laki kamu dan mereka hidupi perempuan-perempuan kamu. Sedang pada yang demikian itu adalah bencana dari Tuhan kamu, yang amat besar."
(ujung ayat 6)
Tentu dapatlah dipikirkan betapa besarnya bencana itu. Kalau anak-anak laki-laki habis disembelih, dan perempuan-perempuan dibiarkan tinggal hidup, apa latar belakang dari kekejaman itu? Niscaya bertambah kurang atau kalau boleh habislah laki-laki Bani Israil. Niscaya perempuan-perempuan yang masih tinggal jatuh miskin, dan anak-anak perempuan tidak ada jodohnya lagi. Maka mudahlah bagi seluruh laki-laki Fir'aun, mengambili perempuan-perempuan itu menjadi budak dan gundik. Niscaya kalau mereka melahirkan anak lagi, anak itu bukan lagi Bani Israil, tetapi keturunan dari kaum Fir'aun.
Maka nikmat Allah atas Bani Israil, karena dengan bimbingan Nabi Musa dan Harun, dengan izin Allah, mereka telah dapat diselamatkan meninggalkan negeri Mesir itu, dan tenggelamlah Fir'aun dengan seluruh bala tentaranya di laut ketika mereka mengejar. Hal ini disuruh mereka ingati selalu.
“Dan (ingatlah) tatkala telah memberi ingat Tuhan kamu: Sesungguhnya jikalau bersyukur kamu, akan ditambahilah untuk kamu. Dan jika kufur kamu, sesungguhnya adzab-Ku adalah sangat ngeri."
(ayat 7)
Inilah peringatan Allah kepada Bani Israil setelah mereka dibebaskan dari penindasan Fir'aun. Kebebasan itu sendiri adalah perkara besar yang wajib disyukuri. Dalam bersyukur hendaklah terus berusaha guna mengatasi kesulitan. Setelah bebas dari tindasan Fir'aun, mereka harus membangun. Jangan mengomel atas persediaan yang serba kurang, jangan mengeluh kalau belum tercapai apa yang dicita. Syukuri yang ada, maka pastilah akan ditambah Allah. Tetapi kalau hanya mengeluh, ini kurang, itu belum beres, yang itu lagi belum tercapai seakan-akan pertolongan Allah tidak juga segera datang, maka itu namanya kufur, artinya melupakan nikmat, tidak mengenal terima kasih. Orang yang demikian akan mendapat siksa yang pedih dan ngeri. Di antaranya ialah jiwanya yang merumuk karena ditimpa penyakit selalu merasa tidak puas.
Tersebut di dalam sebuah hadits,
“Sesungguhnya seorang hamba Allah akan dijauhkan Allah daripadanya rezeki karena dosa yang diperbuatnya."
Artinya, meskipun dia kelihatan kaya dengan harta yang tidak halal, namun jiwanya akan senantiasa merasa kosong, selalu merasa miskin dan kekurangan karena padanya tidak ada rasa terima kasih.
Dan tersebut pula di dalam sebuah hadits yang dirawikan oleh Imam Ahmad, dari Anas bin Malik, bahwa pernah datang kepada Nabi ﷺ seorang peminta-minta, lalu diberi oleh Nabi sebutir buah kurma. Rupanya pemberian itu tidak diterimanya dengan senang hati. Lalu datang pula seorang lagi, lalu diberi Nabi sebanyak itu pula. Maka diterimanyalah kurma pemberian itu walaupun hanya sebutir, seraya berkata, “Sebutir kurma dari Nabi ﷺ, sendiri, Subhanallah!" (tanda syukur) Melihat demikian cara penerimaan orang itu, bersabdalah Rasulullah ﷺ kepada jariyah beliau, “Kau pergi kepada Ummi Salmah (istri Rasulullah ﷺ), supaya dia berikan kepada orang ini 40 dirham."
Nabi ﷺ mendidik umatnya berterima-kasih.
“Dan telah berkata Musa: “Jika kamu kufur, kamu dan siapa-siapa yang ada di bumi ini semuanya pun, maka sesungguhnya Allah adalah (tetap) Maha Kaya, Maha Terpuji,"
(ayat 8)
Timbulnya kufur, yaitu rasa tidak puas, rasa tidak mengenal terima kasih, dan menghitung sesuatu dari segi kekurangannya saja, adalah siksa bagi jiwa sendiri. Orangnya akan memandang hidup ini dengan suram dan tidak akan ada yang dapat dikerjakannya. Maka jika kamu masih berperasaan demikian — demikian kata Musa kepada kaumnya — baik kamu ataupun manusia seisi dunia ini, maka sikap hidupnya yang serba tidak puas itu tidaklah akan mengurangi kebesaran dan kekayaan Allah. Allah akan tetap menjalankan rencana takdir-Nya menurut yang telah Dia tentukan. Dan Allah tetap terpuji, sebab bekas rahmat-Nya tetap melimpah juga, dan tetap dirasakan oleh orang yang bersyukur. Orang yang bersyukur itu merasakan nikmat jiwa menerima pemberian Allah; yang sedikit dipandang oleh orang yang kurang puas, dipandang banyak oleh orang yang bersyukur, dan mereka tidak berhenti berusaha.
Sebuah Hadits Qudsi yang dirawikan oleh Muslim dari Abu Dzar adalah penguat dari ayat ini,
“Wahai hamba-Ku! Jika kiranya kamu yang mula-mula dan kamu yang paling akhir, dan manusia kamu dan jin kamu, semuanya berhati takwa jadi satu, tidaklah, itu akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Hai hamba-Ku! Jika kamu yang mula-mula dan kamu yang paling akhir dan manusia kamu dan jin kamu semuanya bersatu hati mendurhaka, tidaklah itu akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit jua pun. Hai hamba-Ku! Jika sekiranya kamu yang mula-mula dan kamu yang paling akhir dan manusia kamu dan jin kamu semuanya sama berdiri di satu tempat ketinggian, lalu semuanya meminta kepada-Ku, lalu Aku beri masing-masing yang meminta itu, tidaklah itu akan mengurangi ke-kayaan-Ku sedikit pun, melainkan hanya laksana kurangnya sebuah jarum jika dimasukkan ke lautan." (HR Muslim)
Ayat 8 ini adalah landasan untuk menjadi perbandingan bagi kaum yang didatangi oleh Nabi Muhammad ﷺ maka janganlah umat Muhammad mengambil teladan buruk dari Bani Israil itu, yaitu tidak sabar atas cobaan dan tidak bersyukur atas nikmat. Setelah itu berfirman Allah,
“Apakah tidak datang kepadamu berita tentang orang-orang yang sebelum kamu, kaum Nuh, kaum ‘Ad, kaum Tsamud dan orang-orang yang sesudah mereka, yang tidak mengetahui siapa-siapa mereka kecuali Allah".
(pangkal ayat 9)
Tandanya bahwa umat dan kaum yang binasa itu banyak, cuma tidak semua diceritakan dalam Al-Qur'an.
“Telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan keterangan-keterangan, maka mereka tutupkan tangan mereka kepada mulut mereka dan mereka katakan: “Sesungguhnya kami tidaklah percaya kepada apa yang telah diutus kamu untuknya, dan sesungguhnya kami benar-benar dalam syak dari hal apa yang kamu serukan kepada kami itu, lagi ragu~ragu."
(ujung ayat 9)
Ini untuk meyakinkan bagi Nabi Muhammad ﷺ dan bagi umat yang setia mengikut jejak beliau, bahwasanya seruan tauhid itu di segala zaman telah ditentang. Tentangan yang sekarang ini hanya semata perulangan riwayat saja dari zaman-zaman yang lampau! Mereka menyatakan bahwa mereka syak, mereka ragu-ragu, mereka tidak yakin akan ajaran itu. Mereka tidak mau mengakui bahwa kekuasaan itu hanya pada Allah Yang Maha Esa dan Tunggal. Mereka tidak mau keyakinan atau pegangan mereka turun-temurun itu diusik-usik.
Mereka mengaku tidak percaya dan hati mereka ragu-ragu tentang Allah. Mereka tu-tupkan jari ke mulut, sebagai ibarat dari keengganan dan benci mereka akan seruan Rasul itu. Mereka memandang kedatangan rasul-rasul itu dengan jijik. Orang yang benci mendengar percakapan seseorang, ditutupnya mulutnya. Yang mereka jadikan dasar ialah bahwa mereka masih belum mendapat kepastian, mereka masih syak tentang Allah itu.
Tetapi rasul-rasul pun tidak pula mau mundur dari kewajiban yang mereka pikul.
“Berkata Rasul-rasul mereka, “Apakah kepada Allah ada syak?"
(pangkal ayat 10)
Syak atau ragu-ragu, tidak ada keyakinan, tidak ada kepastian. Maka sekarang rasul-rasul menggerakkan hati mereka supaya berpikir dengan tenang: Apakah tentang Allah itu masih juga akan syak? Padahal dia adalah “Pencipta semua langit dan bumi." Ujung seruan Rasul ini, mengingatkan mereka tentang adanya Maha Pencipta. Melihat perjalanan isi langit dan bumi itu yang sangat teratur, baik perjalanan matahari dan bulan, ataupun pergantian musim dan bintang-bintang, tidaklah dapat diragukan lagi bahwasanya semua diatur oleh Maha Pencipta itu. Maka kalau ada orang yang menyatakan dirinya syak atau ragu tentang adanya Allah, tandanya jiwa muminya sudah dikotorinya sendiri. Padahal akal itulah yang menunjukkan tentang Kebenaran Allah Pencipta itu.
Yang kedua, mungkin timbul keraguan tentang Maha Kuasanya Allah Yang Maha Tunggal itu. Mungkin mereka ragu tentang mutlaknya kuasa-Nya sendiri, tidak bersekutu dan berserikat dengan yang lain. Lantaran keraguan itulah terjadi penyembahan kepada yang selain Allah, kepada Thaghut dan berhala. Maka banyaklah orang-orang musyrikin itu pada tahap yang pertama tidak mereka ragu. Kalau ditanyakan kepada mereka siapa yang menjadikan langit dan bumi, yang menciptakan matahari dan bulan, semuanya tetap menjawab bahwa pencipta semuanya itu hanya Allah jua. Tetapi karena keraguan hati melihat yang lain, lalu mereka sembahlah berhala. Kadang-kadang mereka katakan bahwa mereka menyembah berhala itu adalah buat menyampaikan permohonan mereka kepada Allah Yang Maha Esa itu juga. Sekarang diutuslah oleh Allah itu sendiri, Allah yang tidak diragui lagi tentang ada-Nya, dan tentang Esa-Nya, diutus-Nyalah nabi-nabi dan rasul-rasul memberi tuntunan bagaimana supaya mereka itu kembali berhubungan langsung dengan Allah Yang Pengasih lagi Penyayang itu. Tidaklah manusia dijadikan-Nya lalu dibiarkan-Nya saja. Malahan sesudah manusia dijadikan, diberi akal dan diberi pula pimpinan dan bimbingan supaya selamat dan langkahnya yang salah bisa di-perbaiki. Yang dilanjutkan oleh seruan Rasul itu, “Menyeru kamu agar Dia memberi ampun kepada kamu dari dosa-dosa kamu." Sebagaimana telah dinyatakan di awal surah, dan juga dalam maksud kedatangan Nabi Musa, yaitu mengeluarkan dari gelap gulita dosa, karena kami tidak mengerti mana jalan yang akan ditempuh. Ditunjukkan jalan yang benar supaya hidup jangan tersesal. Pintu taubat senantiasa terbuka, mana yang salah akan diberi ampun dan jalan selamat bahagia akan direntangkan di muka, terang benderang, nur Ilahi: “Dan dia undurkan kamu sampai kepada suatu masayang tertentu." Artinya, Dia berikan kesempatan yang luas buat memperbaiki langkah yang salah itu, kembali kepada langkah yang benar. Masuklah, sebelum pintu ditutup.
Itulah rayuan nabi-nabi dan rasul-rasul umumnya kepada seluruh umat yang mereka datangi. Rasul-rasul selain dari mengancam dengan siksaan, adalah pula membujuk menunjukkan jalan yang benar, supaya selamat di dunia dan di akhirat.
Tetapi seruan yang demikian tulusnya yang disampaikan oleh rasul-rasul Allah tidaklah langsung diterima dengan baik oleh kaum mereka masing-masing. Malahan mereka dengan kasar, “Mereka berkata, “Tidaklah ada kamu, hanyalah manusia seperti kami juga." Tidak ada ubahnya kamu dengan kami. Sebab itu maka seruan kamu itu tidak ada harganya bagi kami. Kami tahu maksud kamu hai orang-orang yang mendakwakan dirinya rasul-rasul dari Allah, yaitu
“Kamu ingin hendak menghambat-hambat kami dari apa yang disembah oleh nenek-moyang kami. Maka bawalah kepada kami satu keterangan yang nyata."
(ujung ayat 10)
Sambutan yang demikian kasar telah meninggalkan kesan yang mendalam kepada kita betapa sulitnya mengeluarkan manusia yang telah biasa dalam gelap gulita kepada cahaya terang benderang. Mereka telah merasa senang hidup dalam kfegelapan, dan silaulah mata mereka kena cahaya matahari, sehingga rasul-rasul yang bermaksud baik untuk mereka, telah mereka pandang jahat. Mereka hanya bertahan bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah itu adalah pusaka nenek moyang yang wajib dipertahankan, sedang rasul-rasul itu menurut mereka adalah semata-mata hendak menghambat-hambat mereka dan adat-istiadat dan pusaka yang luhur dari nenek moyang itu. Niscaya mereka hendak bertahan mati-matian. Tetapi oleh karena rasul-rasul itu benar-benar bermaksud baik untuk mereka, maka perkataan-perkataan yang kasar itu telah mereka sambut dengan baik, tetapi tepat dan jitu.
“Berkata kepada mereka rasul-rasul mereka: “Tidaklah kami ini melainkan manusia seperti kamu juga."
(pangkal ayat 11)
Mereka sambut dengan baik perkataan mereka bahwa mereka, rasul-rasul itu, hanya manusia seperti mereka, tidak ada kelebihan dari mereka. Mereka akui, memang mereka manusia seperti mereka itu juga. Dalam hal sebagai sama-sama manusia, tidaklah ada kelebihan mereka."Tetapi Allah telah mengaruniai barangsiapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya." Di antara kita manusia yang sama kejadian itu, Allah telah memilih kami buat menjadi utusan-Nya dan menyampaikan seruan-Nya kepada kamu. Oleh sebab itu jika kami mengangkat suara, bukanlah itu karena kami memandai-mandai dengan kehendak sendiri saja."Dan tidaklah kami boleh mendatangkan kepada kamu sesuatu keterangan kecuali dengan izin Allah." Hanya dengan izin-Nya kami sampaikan berita ini kepada kamu. Sekarang kamu bantah, kamu tantang dan kamu tolak, namun kami akan menyampaikannya terus, betapa pun sikap kamu kepada kami, karena kami ini diperintah.
“Dan kepada Altah-lah berserah diri orang-orang yang beriman."
(ujung ayat 11)
Kata-kata seruan yang lemah-lembut, dari hati yang tulus ikhlas dan penuh cinta itu, mereka teruskan lagi,
“Bagaimana kami tidak akan berserah diri kepada Allah, padahal Dia telah memberi kami petunjuk dalam perjalanan-perjalanan kami."
(pangkal ayat 12)
Kami diberi-Nya petunjuk menempuh cahaya yang terang, dan kami merasa sedih melihat kamu masih dalam kegelapan, “Dan sungguh kami akan sabar atas gangguan kamu kepada kami." Apa pun sikap kamu kepada kami karena kegelapan paham kamu, tidaklah akan kami ambil keberatan, dan kami akan menyampaikannya terus, sampai kamu pun merasakan pula nikmat iman itu, sampai kamu mendapat ampunan dari Allah, Alangkah berbahagia kami kalau terjadi demikian.
“Dan kepada Allah bertawakal orang-orang yang bertawakal."
(ujung ayat 12)
(Berkata rasul-rasul mereka, "Apakah ada keraguan terhadap Allah) istifham di sini mengandung makna ingkar; artinya tentu saja tidak ada keraguan di dalam mentauhidkan-Nya mengingat adanya bukti-bukti yang jelas menunjukkan ke arah itu (Pencipta) yang menciptakan (langit dan bumi? Dia menyeru kalian) supaya taat kepada-Nya (untuk memberi ampunan kepada kalian dari dosa-dosa kalian) huruf min adalah huruf zaidah. Karena sesungguhnya Islam itu menghapus semua dosa yang sebelumnya. Atau huruf min itu bermakna tab`idh yang artinya sebagian daripada dosa-dosa kalian. Dimaksud untuk mengecualikan dosa-dosa yang menyangkut hak-hak hamba-hamba Allah (dan menangguhkan kalian) tanpa mengazab kalian (sampai masa yang ditentukan?") sampai kalian mati. (Mereka berkata, "Tiada lain) tidak lain (kalian adalah manusia biasa seperti kami juga. Kalian menghendaki untuk menghalang-halangi kami dari apa yang selalu disembah oleh nenek moyang kami) yaitu berhala-berhala sesembahan mereka (karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.") hujah yang jelas untuk membuktikan kebenaran kalian itu.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
- Allah's mercy precedes His wrath
- The creation of the heavens and earth
- The prophets share other human qualities
- The methods of calling to Allah
- Proofs of the existence of Allah Ta'ala
- Lifespan and provision according to decree
- The denial and rebellion of the disbelievers
- The deferment of (punishment for) disbelievers in this world