Join over 4 million Quran learners from more than 180 countries
Ayah
Word by Word
وَأَمَّآ
But
إِذَا
when
مَا
does
ٱبۡتَلَىٰهُ
He try him
فَقَدَرَ
and restricts
عَلَيۡهِ
for him
رِزۡقَهُۥ
his provision
فَيَقُولُ
then he says
رَبِّيٓ
My Lord
أَهَٰنَنِ
(has) humiliated me
وَأَمَّآ
But
إِذَا
when
مَا
does
ٱبۡتَلَىٰهُ
He try him
فَقَدَرَ
and restricts
عَلَيۡهِ
for him
رِزۡقَهُۥ
his provision
فَيَقُولُ
then he says
رَبِّيٓ
My Lord
أَهَٰنَنِ
(has) humiliated me
Translation
But when He tries him and restricts his provision, he says, "My Lord has humiliated me."
Tafsir
But when he tests him and restricts his provision for him, he says, 'My Lord has humiliated me'.
Wealth and Poverty are both a Test and Honor or Disgrace for the Servant
فَأَمَّا الاْأِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَأهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَأهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
As for man, when his Lord tries him by giving him honor and bounties, then he says:
My Lord has honored me.
But when He tries him by straitening his means of life, he says:
My Lord has humiliated me!
Allah refutes man in his belief that if Allah gives Him abundant provisions to test him with it, it is out of His honor for him. But this is not the case, rather it is a trial and a test, as Allah says,
أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ
نُسَارِعُ لَهُمْ فِى الْخَيْرَتِ بَل لاَّ يَشْعُرُونَ
Do they think that in wealth and children with which We enlarge them. We hasten unto them with good things. Nay, but they perceive not. (23:55-56)
Likewise, from another angle, if Allah tests him and tries him by curtailing his sustenance, he believes that is because Allah is humiliating him.
As Allah says,
كَلَّا
But no!
meaning, the matter is not as he claims, neither in this nor in that. For indeed Allah gives wealth to those whom He loves as well as those whom He does not love. Likewise, He withholds sustenance from those whom He loves and those whom He does not love. The point is that Allah should be obeyed in either circumstance. If one is wealthy, he should thank Allah for that, and if he is poor, he should exercise patience.
From the Evil that the Servant does regarding Wealth
Allah said,
..
بَل لاَّ تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ
But you treat not the orphans with kindness and generosity!
This contains the command to honor him (the orphan).
Abu Dawud recorded from Sahl bin Sa`id that the Messenger of Allah said,
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّة
The guardian of the orphan and I will be like these two in Paradise.
And he put his two fingers together - the middle finger and the index finger.
وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
And urge not one another on the feeding of the Miskin!
meaning, they do not command that the poor and the needy be treated with kindness, nor do they encourage each other to do so.
وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ
And you devour the Turath,
meaning, the inheritance.
أَكْلً لَّمًّا
devouring with greed.
meaning, however they can get it, whether lawful or forbidden.
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
And you love wealth with love Jamma.
meaning, in abundance.
This increases some of them in their wickedness.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Al-Fajr: 15-20
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku menghinakanku. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, mengingkari sifat manusia yang apabila Allah meluaskan baginya dalam hal rezeki untuk mengujinya melalui rezeki itu, maka ia menganggap bahwa hal itu merupakan kemuliaan dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk dirinya. Padahal kenyataanya tidaklah demikian, bahkan sebenarnya hal itu merupakan ujian dan cobaan, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya: Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (Al-Muminun: 55-56) Demikian pula sebaliknya Allah menguji dan mencobanya dengan kesempitan rezeki, dia mengira bahwa hal itu merupakan penghinaan dari Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya. Maka disanggah oleh firman-Nya: Sekali-kali tidak (demikian). (Al-Fajr: 17) Yakni sebenarnya tidaklah seperti yang diduganya baik dalam keadaan mendapat kesukaan maupun dalam keadaan mendapat kedukaan;karena sesungguhnya Allah memberi harta kepada siapa yang disukai-Nya dan juga kepada orang yang tidak disukai-Nya, dan Dia menyempitkan rezeki terhadap orang yang disukai-Nya dan juga terhadap orang yang tidak disukai-Nya.
Dan sesungguhnya pokok pangkal permasalahan dalam hal ini bergantung kepada ketaatan yang bersangkutan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam dua keadaan tersebut. Apabila ia diberi kekayaan, hendaknya ia bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya itu; dan apabila mendapat kemiskinan, hendaknya ia bersabar dan tetap menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim. (Al-Fajr: 7) Di dalam ayat ini terkandung makna perintah untuk memuliakan anak yatim, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah ibnul Mubarak, dari Sa'id ibnu Ayyub, dari Yahya ibnu Sulaiman, dari Yazid ibnu Abu Gayyas., dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sebaik-baik rumah dikalangan kaum muslim adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik, dan seburuk-buruk rumah di kalangan kaum muslim adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang di perlakukan dengan buruk.
Kemudian Nabi ﷺ berisyarat dengan kedua jari tangannya, lalu bersabda: Aku dan orang yang menjamin anak yatim berada di dalam surga seperti ini. Abu Dawud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnus Sabah ibnu Sufyan, telah menceritakan kepada Kami Abdul Aziz (yakni Ibnu Abu Hazim), telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Sahl (yakni Ibnu Sa'id) bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Aku dan orang yang menjamin anak yatim seperti kedua jari ini di dalam surga. Yakni berdekatan, seraya mengisyaratkan kedua jarinya, yaitu telunjuk dan jari tengahnya. dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin. (Al-Fajr:18) Yaitu tidak memerintahkan orang lain untuk memberi santunan kepada orang-orang fakir dan miskin dan sebagian dari mereka tidak menganjurkan hal ini kepada sebagian yang lainnya.
dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur-adukan (yang halal dan yang haram). (Al-Fajr: 19). Yang dimaksud dengan turas ialah harta warisan, yakni memakannya tanpa mempedulikan dari arah mana dihasilkannya, baik dari cara halal maupun cara haram. dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (Al-Fajr: 20) Yakni kecintaan yang banyak; sebagian ulama mengartikannya kecintaan yang berlebihan.".
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, 'Tuhanku telah menghinakanku. ' Mereka tidak dapat memahami bahwa kefakiran dan kesusahan bukanla htolok ukur mutlak bagi kehinaan seseorang di mata Allah karena keduanya tidak lain hanyalah cobaan dari Allah. 17. Sekali-kali tidak demikian. Ketahuilah, kemuliaan seseorang tidak diukur dari kekaya annya dan kehinaan tidak dipandang dari kemiskinannya. Kemulian diukur dari ketaatan dan kehinaan adalah akibat kemaksiatan seseorang kepada Allah. Bahkan kamu tidak memuliakan, menyantuni, mengasihi, dan menolong anak yatim. Kamu biarkan mereka susah, padahal menyantuni mereka adalah amal saleh yang menjanjikan derajat tinggi di sisi Allah.
Sebaliknya, bila Allah menguji mereka dengan cara membatasi rezeki, mereka menyangka bahwa Allah telah membenci mereka. Pandangan itu tidak benar, karena Allah memberi siapa yang disukai-Nya atau tidak memberi siapa yang tidak disukai-Nya. Allah ingin menguji manusia, dan karena itu Ia menghendaki agar manusia itu selalu patuh kepada-Nya, baik dalam keadaan berkecukupan maupun kekurangan. Bila Allah memberi, maka manusia yang diberi harus bersyukur, dan bila Ia tidak memberi, manusia harus bersabar.
KALAU IMAN TAK ADA
“Maka adapun manusia itu, apabila diberi cobaan dia oleh Tuhannya, yaitu diberi-Nya dia kemuliaan dan diberi-Nya dia nikmat."
(pangkal ayat 15)
Diberi dia kekayaan atau pangkat tinggi, disegani orang dan mendapat kedudukan yang tertonjol dalam masyarakat; yang di dalam ayat itu disebutkan bahwa semuanya itu adalah cobaan.
“Maka berkatalah dia, ‘Tuhanku telah memuliaken daku.'"
(ujung ayat 15)
Mulailah dia mendabik dada, membanggakan diri, bahwa Allah telah memuliakan dia. Dia masih menyebut nama Allah, tetapi bukan dari rasa iman. Sehingga kalau kiranya datang orang minta tolong kepadanya, orang itu akan diusirnya, karena merasa bahwa dirinya telah diistimewakan Allah.
“Dan apabila Tuhannya memberikan cobaan kepadanya, yaitu dijangkakan-Nya rezekinya."
(pangkal ayat 16)
Dijangkakan, diagakkan, atau dibatasi; dapat hanya sekadar penahan jangan mati saja.
“Maka dia berkata, Tuhanku telah menghinakan daku."
(ujung ayat 16)
Di dalam ayat ini bertemu sekali lagi, bahwa kemiskinan itu pun cobaan Allah juga. Kaya cobaan, miskin pun cobaan.
(Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu Dia membatasi) atau menyempitkan (rezekinya, maka dia berkata, "Rabbku menghinaku.").
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.








