Join over 4 million Quran learners from more than 180 countries
Ayah
Word by Word
إِذَا
When
ٱلسَّمَآءُ
the sky
ٱنفَطَرَتۡ
(is) cleft asunder
إِذَا
When
ٱلسَّمَآءُ
the sky
ٱنفَطَرَتۡ
(is) cleft asunder
Translation
When the sky breaks apart
Tafsir
Al-Infitaar (the Cleaving)
Meccan, consisting of 19 verses.
When the sky is split open, [when it is] rent asunder,
Tafsir of Surah Al-Infitar
What will happen on the Day of Judgement
Allah says,
إِذَا السَّمَاء انفَطَرَتْ
When the heaven is cleft asunder (Infatarat).
meaning, it splits.
This is as Allah says,
السَّمَأءُ مُنفَطِرٌ بِهِ
Whereon the heaven will be cleft asunder (Munfatir)) (73:18)
Then Allah says,
وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انتَثَرَتْ
And when the stars Intatharat.
meaning, fallen.
وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ
And when the seas Fujjirat.
Ali bin Abi Talhah reported from Ibn Abbas that he said,
Allah will cause some of it to burst forth over other parts of it.
Al-Hasan said,
Allah will cause some parts of it to burst forth over other parts of it, and its water will go away.
Qatadah said,
Its fresh water will mix with its salt water.
وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ
And when the graves Bu`thirat.
Ibn Abbas said, searched.
As-Suddi said,
Tub`athiru means that they will be moved and those who are in them will come out.
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ
A person will know what he has sent forward and left behind.
meaning, when this happens then this will occur.
Mankind should not forget about Allah. Allah says,
يَا أَيُّهَا الاْاِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
O man!
What has made you careless about your Lord, the Most Generous?
This is a threat. It is not an attempt to get a reply as some people mistakenly think. They consider it as if the Most Generous is asking them so that they will say,
His honor deceived him (or made him careless of his Lord).
rather the meaning of this Ayah is,
O Son of Adam!
What has deceived you from your Lord, the Most Generous -- meaning the Most Great -- so that you went forth disobeying Him, and you met Him with that which was unbefitting.
This is similar to what has been reported in the Hadith,
يَقُولُ اللهُ تَعَالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ
يَا ابْنَ ادَمَ مَا غَرَّكَ بِي
يَا ابْنَ ادَمَ مَاذَا أَجَبْتَ الْمُرْسَلِينَ
Allah will say on the Day of Judgement:
O Son of Adam!
What has deceived you concerning Me?
O Son of Adam!
What was your response to the Messengers?
Al-Baghawi mentioned that Al-Kalbi and Muqatil said,
This Ayah was revealed about Al-Aswad bin Shariq who struck the Prophet and he was not punished in retaliation. So Allah revealed,
مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
(What has made you careless about your Lord, the Most Generous?)
Then Allah said,
الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ
Who created you, fashioned you perfectly, and gave you due proportion.
meaning,
`what has deceived you concerning the Most Generous Lord'
الَّذِى خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ
Who created you, fashioned you perfectly, and gave you due proportion.
meaning,
`He made you complete, straight, and perfectly balanced and proportioned in stature. He fashioned you in the best of forms and shapes.'
Imam Ahmad recorded from Busr bin Jahhash Al-Qurashi that one day the Messenger of Allah spat in his palm and placed his finger on it. Then he said,
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ ادَمَ أَنْى تُعْجِزُنِي وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ مِثْلِ هذِهِ
حَتْى إِذَا سَوَّيْتُكَ وَعَدَلْتُكَ مَشَيْتَ بَيْنَ بُرْدَيْنِ
وَلِلَْرْضِ مِنْكَ وَيِيدٌ
فَجَمَعْتَ وَمَنَعْتَ حَتْى إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ قُلْتَ
أَتَصَدَّقُ وَأَنَّى أَوَانُ الصَّدَقَةِ
Allah the Mighty and Sublime says:
O Son of Adam!
How can you escape Me when I created you from something similar to this (spit) Then I fashioned you and made your creation balanced so that you walked between the two outer garments. And the earth has a burial place for you.
So you gathered (wealth) and withheld it until your soul reached your collarbone (i.e., death comes). Then, at that time you say, `I will give charity now.' But how will there be time for charity
This Hadith has also been recorded by Ibn Majah .
Concerning Allah's statement,
فِي أَيِّ صُورَةٍ مَّا شَاء رَكَّبَكَ
In whatever form He willed, He put you together.
Mujahid said,
In which resemblance:the father, the mother, the paternal uncle, or the maternal uncle.
In the Two Sahihs it is recorded from Abu Hurayrah that a man said,
O Messenger of Allah! Verily, my wife has given birth to a black boy.
The Prophet said,
هَلْ لَكَ مِنْ إِبِلٍ
Do you have any camels?
The man said, Yes.
The Prophet then said,
فَمَا أَلْوَانُهَ
What color are they?
The man said, Red.
The Prophet said,
فَهَلْ فِيهَا مِنْ أَوْرَق
Do any of them have patches of gray?
The man said, Yes.
The Prophet asked him,
فَأَنْى أَتَاهَا ذلِك
How did this happen to them?
The man replied, It is probably an inherited genetical strain.
The Prophet then said,
وَهَذَا عَسَى أَنْ يَكُونَ نَزَعَهُ عِرْق
Likewise, this (with your son) is probably an inherited genetical strain.
Concerning Allah's statement,
كَلَّ بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ
Nay! But you deny (the Day of) Ad-Din.
meaning, `you are only compelled to oppose the Most Generous and meet Him with disobedience, by your rejection in your hearts of the Hereafter, the recompense and the reckoning.'
Concerning Allah's statement,
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ
كِرَامًا كَاتِبِينَ
يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
But verily, over you to watch you (are) Kiraman Katibin, they know all that you do.
meaning, indeed there are noble guardian angels over you, so do not meet them with evil deeds, because they write down all that you do.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Al-Infitar: 1-12
Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu, lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Bukan hanya durhaka saja, bahkan kalian mendustakan hari pembalasan.
Padahal sesungguhnya bagi kalian ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaan kalian), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaan kalian itu), mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan. Firman Allah ﷻ: Apabila langit terbelah. (Al-Infithar: 1) Yakni retak besar dan terbelah, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Langit (pun) menjadi pecah belah pada hari itu karena Allah. (Al-Muzzammil: 18) Adapun firman Allah ﷻ: dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan. (Al-Infithar: 2) Maksudnya, jatuh berguguran. dan apabila lautan dijadikan meluap. (Al-Infithar: 3) Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari lbnu Abbas, bahwa Allah meluapkan sebagian darinya dengan sebagian yang lain. Al-Hasan mengatakan bahwa Allah meluapkan sebagian darinya dengan sebagian yang lain, lalu lenyaplah airnya.
Qatadah mengatakan bahwa airnya yang tawar bercampur baur dengan airnya yang asin. Menurut Al-Kalabi, makna yang dimaksud ialah meluap. dan apabila kuburan-kuburan dibongkar. (Al-Infithar: 4) Ibnu Abbas mengatakan terbongkar. As-Suddi mengatakan bahwa kuburan-kuburan berserakan, lalu bergerak dan mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya. maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. (Al-Infithar: 5) Yakni apabila semua amal perbuatan yang terdahulu yang telah dilupakannya diketahuinya, terlebih lagi yang terakhir dilakukannya Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. (Al-Infithar: 6) Ini mengandung ancaman, tidak sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama yang mengatakan bahwa kalimat ini adalah kata tanya yang memerlukan adanya jawaban, mengingat Allah menanyakan demikian hingga ada seseorang dari juru bicara mereka menjawab, "Bahwasanya dia terperdaya oleh kemurahan-Nya." Tidaklah demikian.
melainkan makna yang dimaksud ialah "Apakah yang memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Yang Mahabesar sehingga kamu berani berbuat durhaka kepada-Nya, dan kamu balas karunia-Nya dengan perbuatan yang tidak layak terhadap-Nya." Hal yang semakna disebutkan dalam hadits yang mengatakan: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di hari kiamat, "Wahai anak Adam, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap-Ku? Wahai anak Adam, bagaimanakah jawabanmu terhadap para rasul? Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, bahwa Umar mendengar seseorang membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala: Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? (Al-Infithar: 6) Umar memberi jawaban, "Kebodohan." Ibnu Abu Hatim mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Khalaf, telah menceritakan kepada kami Yahya Al-Bakka, bahwa ia pernah mendengar Ibnu Umar membaca firman-Nya: Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. (Al-Infithar: 6) Lalu ia berkata, "Demi Allah, dia teperdaya oleh kebodohannya sendiri." Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah diriwayatkan wahai yang semisal dari Ibnu Abbas, Ar-Rabi' ibnu Khaisam, dan Al-Hasan.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. (Al-Infithar: 6) Yakni sesuatu, tiada yang memperdayakan manusia selain dari musuh bebuyutannya, yaitu setan. Al-Fudail ibnu Iyad mengatakan bahwa seandainya dikatakan kepadaku, "Apakah yang membuat kamu teperdaya (berbuat durhaka) terhadap-Ku." niscaya akan kujawab, "Tirai-tirai-Mu yang dijulurkan (menghijabi-Mu dariku)." Abu Bakar Al-Warraq mengatakan bahwa seandainya dikatakan kepadaku, "Apakah yang membuat kamu teperdaya (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?" Niscaya akan kujawab, "Aku telah teperdaya oleh kemurahan Tuhan Yang Maha Pemurah." Sebagian ulama ahli isyarah (taﷺwuf) mengatakan bahwa sesungguhnya disebutkan hanya dengan memakai lafal: terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? (Al-Infithar: 6) bukan dengan asma-asma-Nya yang lain atau sifat-sifat-Nya yang lain, tiada lain seakan-akan Allah mengajarkan manusia bagaimana cara menjawabnya.
Akan tetapi, apa yang terbayang dalam ilusi orang yang berpendapat demikian tiada faedahnya. Karena sesungguhnya pada hakikatnya dipakai kata Al-Karim, tiada lain untuk mengingatkan bahwa tidaklah pantas membalas budi terhadap Tuhan Yang Maha Pemurah dengan perbuatan-perbuatan buruk dan kedurhakaan. Al-Bagawi telah meriwayatkan dari Al-Kalabi dan Muqatil, keduanya mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al-Aswad ibnu Syuraiq yang memukul Nabi ﷺ, lalu tidak dihukum di saat itu.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? (Al-Infithar: 6) Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala Yang telah menciptakan kamu, lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. (Al-Infithar. 7) yakni apakah yang telah memperdayakan kamu berbuat durhaka terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu, lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. (Al-Infithar: 7), Yaitu yang telah menjadikanmu sempurna, tegak mempunyai tinggi yang seimbang dengan bentuk yang paling baik dan paling rapi. ". Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Jarir, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Maisarah, dari Jubair ibnu Nasir dari Bisyr ibnu Jahhasy Al-Qurasyi, bahwa di suatu hari Rasulullah ﷺ meludah pada telapak tangannya sendiri, lalu meletakkan telunjuknya pada ludahnya itu seraya bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Wahai anak Adam, mana bisa engkau selamat dari (azab)-Ku, Aku telah menciptakanmu dari sesuatu seperti ini (hina seperti ludah ini).
hingga manakala engkau telah Kusempurnakan bentukmu dan Aku jadikan engkau berdiri tegak, lalu engkau dapat berjalan dengan mengenakan sepasang kain burdahmu, sedangkan di bumi engkau telah mempunyai tempat kuburan, kemudian kamu menghimpun harta benda dan enggan memberinya. Hingga manakala roh sampai di tenggorokanmu, baru kamu katakan, "Aku akan bersedekah, maka di manakah masa untuk bersedekah (saat itu)?" Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Yazid ibnu Harun, dari Jarir ibnu Usman dengan sanad yang sama.
Guru kami Al-Hafidzh Abul Hajjaj Al-Mizzi mengatakan bahwa hal yang sama telah diikuti oleh Yahya ibnu Hamzah, dari Saur ibnu Yazid, dari Abdur Rahman ibnu Maisarah. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. (Al-Infithar: 8) Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah mirip dengan ayah, atau ibu, atau paman dari pihak ibu ataukah paman dari pihak ayah, menurut apa yang dikehendaki-Nya.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sinan Al-Fazzari, telah menceritakan kepada kami Mutahhar ibnul Haisam, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ali ibnu Rabah, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari kakekku, bahwa Nabi ﷺ pernah bertanya kepadanya, "Apakah anakmu?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, tiada lain bila aku punya anak kalau tidak laki-laki berarti perempuan." Rasulullah ﷺ bertanya, "Mirip siapakah?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, siapa lagi yang akan serupa dengannya kalau tidak mirip ayahnya berarti mirip ibunya." Maka saat itu Nabi ﷺ bersabda, "Diamlah, jangan sekali-kali kamu katakan seperti itu, sesungguhnya nutfah itu apabila telah menetap di dalam rahim, maka Allah mendatangkan kepadanya semua nasab antara dia dan Adam." Nabi ﷺ melanjutkan, "Tidakkah engkau membaca ayat berikut dalam Kitabullah, yaitu firman-Nya: 'dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. ' (Al-Infithar: 8). Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Imam Thabrani melalui hadits Mutahhar ibnul Haisam dengan sanad yang sama. Hadits ini seandainya shahih, tentulah merupakan tafsir yang menjelaskan makna ayat ini; tetapi sanadnya kurang kuat, mengingat Mutahhar ibnul Haisam, menurut Abu Sa'id ibnu Yunus disebutkan orangnya tidak terpakai hadisnya. Ibnu Hibban mengatakan bahwa Mutahhar telah meriwayatkan dari Musa ibnu Ali dan lain-lainnya hal-hal yang tidak mirip dengan hadits yang telah terbukti kesahihannya.
Akan tetapi, di dalam kitab Sahihain telah disebutkan dari Abu Hurairah: ". bahwa pernah seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku telah melahirkan anak laki-laki yang berkulit hitam." Rasulullah ﷺ balik bertanya, "Apakah engkau mempunyai ternak unta?" Lelaki itu menjawab, "Ya."Nabi ﷺ bertanya, "Apakah warna bulunya?" Lelaki itu menjawab, "Merah:" Rasulullah ﷺ bertanya, "Apakah di antaranya ada yang berbulu kelabu?" Lelaki itu menjawab, "Benar, ada." Rasulullah ﷺ bertanya, "Lalu dari manakah ia?" Lelaki itu menjawab, "Barangkali dari keturunannya yang dahulu." Rasulullah ﷺ bersabda, "Dan barangkali anakmu ini pun sama berasal dari kakek moyangnya yang dahulu." Ikrimah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. (Al-Infithar: 8) Jika Dia menghendaki, bisa saja Dia menjadikannya dalam rupa seperti kera atau seperti babi. Hal yang sama dikatakan oleh Abu Saleh sehubungan dengan makna firman-Nya: dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. (Al-Infithar: 8) Jika Dia menghendaki, bisa saja Dia menjadikannya berupa anjing atau berupa keledai, atau berupa babi.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. (Al-Infithar: 8) Demi Allah, Tuhan kita, Dia mampu melakukannya. Makna yang dimaksud dari pendapat mereka dapat disimpulkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berkuasa untuk menciptakan nutfah menjadi manusia yang buruk rupanya seperti hewan yang rupanya menjijikkan. Tetapi berkat kekuasaan-Nya dan kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya, Dia menciptakan manusia dalam bentuk yang baik, tegak, sempurna, dan indah penampilan serta rupanya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan. (Al-Infithar: 9) Yakni sesungguhnya yang mendorong kamu berani menantang Tuhan Yang Maha Pemurah dan membalas-Nya dengan perbuatan-perbuatan durhaka tiada lain karena hati kalian mendustakan adanya hari berbangkit, hari pembalasan, dan hari hisab.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Padahal sesungguhnya bagi kalian ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaan kalian), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaan itu), mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan (Al-Infithar: 10-12) Sesungguhnya pada kalian ada para malaikat pencatat amal perbuatan, mereka mulia-mulia. Maka janganlah kalian menghadapi mereka dengan amal-amal keburukan, karena sesungguhnya mereka mencatat semua amal perbuatan kalian.
Ibnu Abu Hatim mengatakan. telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Mis'ar, dari Alqamah ibnu Marsad, dari Mujahid yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Hormatilah malaikat-malaikat yang mulia pencatat amal perbuatan, mereka tidak pernah meninggalkan kalian kecuali dalam salah satu dari dua keadaan, yaitu di saat jinabah dan buang air besar.
Maka apabila seseorang dari kalian mandi, hendaklah ia memakai penutup dengan tembok penghalang atau dengan tubuh hewan untanya atau hendaklah saudaranya yang menutupinya. Al-Hafidzh Abu Bakar Al-Bazzar telah meriwayatkannya secara mausul dengan lafal yang lain. Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Usman ibnu Karamah, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Haft ibnu Sulaiman, dari Alqamah ibnu Marsad, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya Allah melarang kalian telanjang bulat, maka malulah kepada malaikat Allah yang selalu bersama kalian, yaitu malaikat-malaikat pencatat amal perbuatan yang mulia-mulia, mereka tidak pernah berpisah dari kalian kecuali di saat salah satu dari tiga keadaan, yaitu di saat sedang buang air besar, jinabah, dan mandi.
Maka apabila seseorang dari kalian mandi di tanah lapang, hendaklah ia memakai penutup dengan kainnya atan dengan tembok penghalang atan dengan badan unta kendaraannya. Kemudian Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan bahwa Hafs ibnu Sulaiman lemah hadisnya, tetapi dia telah meriwayatkan darinya dan memuat hadisnya.
Al-Hafidzh Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ziyad ibnu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Maisarah ibnu Ismail Al-Halabi, telah menceritakan kepada kami Tamam ibnu Najih, dari Al-Hasan Al-Basri, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Tiada dua malaikat yang melaporkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala apa yang telah dicatat oleh keduanya dalam sehari, lalu Allah melihat pada permulaan lembaran catatan itu dan pada akhirnya istigfar (permohonan ampunan dari orang yang bersangkutan), melainkan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Aku telah mengampuni hamba-Ku terhadap semua dosa yang ada di antara kedua sisi lembaran Catalan amalnya.
Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa Tamam ibnu Najih meriwayatkan hadits ini secara tunggal, tetapi hadisnya baik dan terpakai. Menurut hemat penulis, dia dinilai siqah oleh Ibnu Mu'in; tetapi Imam Bukhari, Abu Dzar'ah, Ibnu Abu Hatim, An-An-Nasai, dan Ibnu Adiy menilainya lemah. Bahkan Ibnu Hibban menuduhnya sebagai pemalsu hadits. Imam Ahmad mengatakan bahwa ia tidak mengenal hakikat pribadinya.
Al-Hafidzh Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Sulaiman Al-Bagdadi yang dikenal dengan sebutan Al-Falusi, telah menceritakan kepada kami Bayan ibnu Hamran, telah menceritakan kepada kami Salam, dari Mansur ibnu Zazan, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya ada malaikat-malaikat Allah yang mengenal Bani Adam menurut dugaanku disebutkan pula, dan mengenal amal perbuatan mereka Apabila mereka melihat kepada seseorang hamba yang mengerjakan amal ketaatan kepada Allah, maka mereka menceritakannya di antara sesama mereka, lalu mereka memberinya nama, dan mengatakan, "Malam ini si Fulan telah beruntung, malam ini si Fulan telah selamat.
Dan apabila mereka melihat kepada seseorang hamba yang mengerjakan perbuatan maksiat kepada Allah, maka mereka membicarakannya pula di antara sesama mereka dan memberinya nama dan mereka berkata, "Malam ini si Fulan telah binasa. Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa Salam yang ada dalam sanad hadits ini menurut dugaanku adalah Salam Al-Mada'ini, dia lemah hadisnya.".
1-4. Ada empat peristiwa besar pada hari kiamat yang disebutkan di bagian awal surah ini, dari ayat 1 s. d. 4. Dua peristiwa yang pertama terjadi di langit dan sisanya di bumi. Apabila langit yang demikian besar dan kukuh terbelah, retak, kemudian digulung. Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, keluar dari garis edarnya, dan berhamburan secara acak akibat hilangnya gaya tarik-menarik antar-benda angkasa. Dan apabila lautan dijadikan meluap, di mana batas antara satu laut dengan lainnya terbelah dan hancur sehingga air meluap. Air tawar dan asin pun menyatu, berkumpul menjadi lautan raksasa tak bertepi. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar sehingga mayat-mayat yang ada di dalamnya hidup kembali lalu berhamburan keluar tak tentu arah. 1-4. Ada empat peristiwa besar pada hari kiamat yang disebutkan di bagian awal surah ini, dari ayat 1 s. d. 4. Dua peristiwa yang pertama terjadi di langit dan sisanya di bumi. Apabila langit yang demikian besar dan kukuh terbelah, retak, kemudian digulung. Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, keluar dari garis edarnya, dan berhamburan secara acak akibat hilangnya gaya tarik-menarik antar-benda angkasa. Dan apabila lautan dijadikan meluap, di mana batas antara satu laut dengan lainnya terbelah dan hancur sehingga air meluap. Air tawar dan asin pun menyatu, berkumpul menjadi lautan raksasa tak bertepi. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar sehingga mayat-mayat yang ada di dalamnya hidup kembali lalu berhamburan keluar tak tentu arah.
Ayat-ayat ini menjelaskan kekacauan yang terjadi menjelang hari Kiamat dan kehancuran alam semesta. Gejala kehancuran alam digambarkan dengan keadaan langit yang terbelah sehingga formasi alam semesta berubah menjadi kacau. Bintang-bintang jatuh berserakan, tidak lagi pada posisinya. Padahal Allah menginformasikan bahwa matahari memiliki posisi tertentu yang menjadi pusat rotasinya, dan begitu juga dengan bulan. Firman Allah:
Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (ar-Rum/30: 50)
Fenomena lainnya adalah lautan meluap menenggelamkan semua daratan. Air tawar bercampur dengan air asin, tidak ada lagi daratan yang bisa dihuni oleh makhluk hidup apalagi air laut yang meluap menjadi panas. Sungguh bumi telah berubah, bukan lagi bumi yang biasa dikenal oleh manusia.
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa. (Ibrahim/14: 48)
Untuk telaah ilmiah Surah al-Infithar/82:1-3, lihat pula telaah ilmiah Surah al-haqqah/69: 13-16; al-Ma'arij/70: 8, dan at-Takwir/81: 1-3. Ketika terjadi proses ke arah Big Crunch itu, yaitu proses pemadatan atau penyusutan alam semesta, maka semua materi pecah kembali menjadi materi-materi fundamental seperti quark, elektron dan sebagainya, gaya-gaya seperti gaya gravitasi, elektromagnetik, nuklir kuat dan nuklir lemah mulai menyatu kembali. Langit antariksa mulai lemah karena tidak ada topangan gaya gravitasi, dan mulai menyusut/mengerut dan retak/terbelah. Saat itulah benda-benda langit, termasuk bintang-bintang yang mulai kehilangan gaya-gaya gravitasinya, bertubrukan antar sesamanya. Inilah gambaran 'bintang-bintang jatuh berserakan, karena kehilangan gaya-gaya gravitasinya, dan karena terurai kembali atau meluruh menjadi materi-materi fundamentalnya.
Menurut Bashiruddin, ketika matahari telah mencapai evolusi membengkak dan berwarna merah (red star)(lihat telaah ilmiah Surah at-Takwir/81: 1-3), maka suhu bumi akan meninggi, sampai air laut mencapai titik didihnya. Panasnya bumi oleh radiasi matahari merah ini, sangat mungkin akan mencairkan gunung-gunung es di Artik (Kutub Utara) dan benua es Antartika (Kutub Selatan), sehingga samudera akan meluap secara dahsyat, menenggelamkan banyak pulau. Air laut ini kemudian akan mendidih dan menguap dan lenyap dari bumi. Bumi menjadi tidak layak huni. Paul Davies mengatakan bahwa ketika alam semesta telah memadat sampai seper-seratus (1/100) dari luasnya yang sekarang ini, maka efek tekanannya akan mengakibatkan suhu yang meninggi sampai mencapai titik didih benda cair; dan bumi menjadi tempat yang tidak layak-huni lagi.
SURAH AL-INFITHAAR
(PECAH BELAH)
SURAH KE-82,19 AYAT, DITURUNKAN DI MEKAH
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Pengasih.
Seperti permulaan surah at-Takwiir yang telah lalu, awal surah al-Infithaar ini pun tidaklah jauh daripada itu, yaitu menggambarkan betapa dahsyatnya Hari Kiamat itu kelak.
Ayat 1
“Apabila langit telah terbelah." (ayat 1)
Artinya peredaran cakrawala tidak lagi teratur.
Ayat 2
“Dan apabila bintang-bintang telah jatuh berserak" (ayat 2)
Tidak lagi terikat oleh daya tarik antara satu dengan yang lain, yang menyebabkan hilangnya keseimbangan perjalanan alam ini.
Ayat 3
“Dan apabila lautan telah meluap-luap." (ayat 3)
Menggelegak, mendidih karena guncangan yang ada pada seluruh permukaan jagat ini.
Ayat 4
“Dan apabila kubur-kubur telah dibongkai. " (ayat 4)
Karena manusia yang berkubur dihidupkan kembali untuk menghadapi Hari Mahsyar (hari berkumpul).
Ayat 5
Di saat yang demikian, “Mengetahuilah jiwa apa yang telah pernah dikerjakannya dahulu dan dia kebijakan kemudian." (ayat 5)
Artinya mengertilah setiap diri, baik diri engkau ataupun diriku, pekerjaan dan perbuatan yang di masa hidup pernah dikerjakan, baik yang segera dikerjakan dan diamalkan, atau yang dilengahlalaikan lalu terlambat mengerjakannya, sehingga yang penting dianggap kurang penting, begitu pula sebaliknya sehingga umur pun habis.
Al-Infithaar (Terbelah)
(Apabila langit terbelah) atau menjadi belah.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.








