Join over 4 million Quran learners from more than 180 countries
Ayah
Word by Word
أَلَا
Does not
يَعۡلَمُ
know
مَنۡ
(the One) Who
خَلَقَ
created
وَهُوَ
And He
ٱللَّطِيفُ
(is) the Subtle
ٱلۡخَبِيرُ
the All-Aware
أَلَا
Does not
يَعۡلَمُ
know
مَنۡ
(the One) Who
خَلَقَ
created
وَهُوَ
And He
ٱللَّطِيفُ
(is) the Subtle
ٱلۡخَبِيرُ
the All-Aware
Translation
Does He who created not know,1 while He is the Subtle, the Aware?
Footnotes
1 - Another accepted meaning is "Does He not know those whom He created...?"
Tafsir
Will He Who has created not know?, what you keep secret, in other words: will His knowledge of [things] be precluded by such [secret speech]? And He is the Subtle, in His knowledge, the Aware, therein.
The Reward of those Who fear their Lord unseen
Allah informs,
إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
Verily, those who fear their Lord unseen, theirs will be forgiveness and a great reward.
Allah informs of he who fears standing before his Lord, being frightened about matters between himself and Allah when he is not in the presence of other people. So he refrains from disobedience and he performs acts of obedience when no one sees him except Allah.
Allah mentions that this person will have forgiveness and a great reward. This means that his sins will be remitted and he will be rewarded abundantly.
This is similar to what has been confirmed in the Two Sahihs,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ تَعَالى فِي ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّه
There are seven people whom Allah the Exalted will shade in the shade of His Throne on the Day when there will be no shade except its shade.
Then he mentioned that among those people are:
دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ
وَرَجُلً تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتْى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُه
- A man who is tempted by a beautiful woman of high social status, but he says:`Verily, I fear Allah.'
- Another person from among them is a man who gives charity and he conceals it so that his left hand does not know what his right hand spent.
Then He says, while informing that He is aware of the innermost conscience and secrets,
وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
And whether you keep your talk secret or disclose it, verily, He is the All-Knower of what is in the breasts.
meaning, that which occurs in the hearts (ideas, thoughts, etc.)
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ
Should not He Who has created know?
This means, `doesn't the Creator know'
وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
And He is the Most Kind and Courteous, All-Aware (of everything).
Allah's Favor of subjugating the Earth to His Servants
Then Allah mentions His favor to His creation in subjugating the earth to them, and making it subservient to them. This is by His making it a stable abode and dwelling place. He placed in it mountains and caused water springs to gush forth from it. He fashioned pathways, and placed useful things in it and places fertile for the growth of fruit and vegetation. Allah says,
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الاَْرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا
He it is Who has made the earth subservient to you; so walk in the paths thereof,
meaning, travel wherever you wish throughout its regions and frequent its countryside's and all the areas of its domain in your various journeys to seek earnings and trade. And know that your efforts will not benefit you anything unless Allah makes matters easy for you.
Ibn `Abbas, Mujahid, As-Suddi and Qatadah all said that
مَنَاكِبِهَاManakibiha (its paths) means its outermost borders, its roads and its regions.
Allah continues to say,
وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ
and eat of His provision.
Thus, striving by using the means (to attain something) does not negate the necessity of depending upon Allah (At-Tawakkul).
This is similar to what Imam Ahmad recorded from `Umar bin Al-Khattab, that he heard the Messenger of Allah say,
لَوْأَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
If you would trust in Allah as He truly should be trusted in, He would surely provide for you as He provides for the birds. They set out in the morning with empty stomachs and return in the evening with full stomachs.
At-Tirmidhi, An-Nasa'i and Ibn Majah all recorded this Hadith. At-Tirmidhi said, Hasan Sahih.
So this confirms that the bird searches morning and evening for its sustenance while depending upon Allah. For He is the Subduer, the Controller and the One Who causes everything.
وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
And to Him will be the resurrection.
meaning, the place of return on the Day of Judgement.
Ibn `Abbas, Mujahid, As-Suddi and Qatadah all said that
مَنَاكِبِهَاManakibiha (its paths) means its outermost borders, its roads and its regions.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Al-Mulk: 12-15
Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui? Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.
Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan perihal orang yang takut kepada kedudukan Tuhannya terhadap apa yang ada antara dia dan Tuhannya; bilamana ia dalam kesendiriannya tanpa pengetahuan orang lain, maka ia mencegah dirinya dari perbuatan-perbuatan maksiat, dan sebaliknya mengerjakan amal-amal ketaatan, meskipun tiada orang lain yang melihatnya. Karena ia menyadari bahwa Allah melihatnya dan bahwa Allah akan memberinya ampunan dan pahala yang besar. Yakni Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dan membalasnya dengan pahala yang berlimpah.
Di dalam sebuah hadits yang terdapat di dalam kitab Shahihain telah disebutkan: Ada tujuh macam orang yang mendapat naungan Allah subhanahu wa ta’ala di bawah naungan 'Arasy-Nya di hari tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya. yang antara lain dari mereka ialah: seorang lelaki yang diajak (melakukan zina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan, lalu ia menjawab, "Sesungguhnya aku takut kepada Allah. Dan seorang lelaki yang mengeluarkan suatu sedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan oleh tangan kanannya.
Al-Hafidzh Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Talut ibnu Abbad, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Ubaid, dari Sabit, dari Anas yang mengatakan bahwa para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami bila berada di hadapanmu dalam keadaan tertentu. Dan apabila kami berpisah dari engkau, maka kami berada dalam keadaan yang lain." Rasulullah ﷺ balik bertanya, "Bagaimanakah kalian dengan Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Allah Tuhan kami, baik dalam kesendirian kami maupun dalam terang-terangan kami,." Rasulullah ﷺ bersabda: Sikap kalian yang demikian itu bukan munafik.
Tiada yang meriwayatkan hadits ini dari Sabit selain Al-Haris ibnu Ubaid menurut pengetahuan kami. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan (manusia) bahwa Dia Maha Melihat semua isi hati dan rahasia: Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (Al-Mulk: 13) Yakni segala sesuatu yang terdetik dan disimpan dalam hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui? (Al-Mulk: 14) Yaitu apakah Tuhan Yang Maha Pencipta itu tidak mengetahui? Menurut pendapat lain, apakah Allah tidak mengetahui makhluk-Nya? Makna pertamalah yang lebih utama, karena dalam firman berikutnya disebutkan: dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui. (Al-Mulk: 14) Kemudian Allah menyebutkan nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada makhluk-Nya, melalui bumi yang telah Dia tundukkan dan dimudalikan untuk mereka, dengan menjadikannya tenang dan stabil, tidak berguncang dan tidak miring, berkat gunung-gunung yang telah Dia pancangkan padanya.
Allah telah mengalirkan dari dalamnya mata air-mata air, dan menyediakan padanya jalan-jalan untuk ditempuh, serta menyediakan padanya berbagai manfaat dan tempat-tempat untuk ditanami guna keperluan pertanian. Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya. (Al-Mulk: 15) Maksudnya, berjalanlah kalian ke mana pun yang kamu kehendaki di berbagai kawasannya, serta lakukanlah perjalanan mengelilingi semua daerah dan kawasannya untuk keperluan mata pencaharian dan perniagaan. Dan ketahuilah bahwa upaya kalian tidak dapat memberi manfaat sesuatu pun bagi kalian kecuali bila Allah memudahkannya bagi kalian.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. (Al-Mulk: 15) Maka berupaya dengan menempuh sarananya tidaklah bertentangan dengan citra tawakal kepada Allah. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Haiwah, telah menceritakan kepadaku Bakar ibnu Amr; ia pernah mendengar Abdullah ibnu Hubairah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abus Sahm Al-Habsyani mengatakan bahwa ia pernah mendengar Umar ibnul Khattab mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberimu rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; burung pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang di petang hari dalam keadaan perut kenyang.
Imam At-Tirmidzi, Imam An-Nasai, dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkannya melalui hadits Ibnu Hubairah; Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Maka di dalam hadits ini dikukuhkan adanya keberangkatan di petang dan pagi hari untuk mencari rezeki disertai dengan rasa tawakalnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena Dialah Yang Menundukkan, Yang Memperjalankan, dan Yang Menjadikan penyebab adanya rezeki itu. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Al-Mulk: 15) Yakni dikembalikan kelak di hari kiamat. Ibnu Abbas, Mujahid, As-Suddi, dan Qatadah mengatakan bahwa manakibuha artinya daerah-daerah yang jauh, daerah-daerah pedalamannya, dan seluruh kawasannya.
Ibnu Abbas dan Qatadah mengatakan pula bahwa manakibuha artinya gunung-gunungnya. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Hakkam Al-Azdi, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Qatadah, dari Yunus ibnu Jubair, dari Basyir ibnu Ka'b, bahwa ia membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: maka berjalanlah di segala penjurunya. (Al-Mulk: 15) Lalu ia berkata kepada budak perempuan yang telah melahirkan anak darinya, "Jika engkau mengetahui makna manakibuha, berarti engkau merdeka." Lalu budak perempuannya itu menjawab, "Manakibuha artinya pegunungannya." Lalu Basyir ibnu Ka'b bertanya kepada Abu Darda mengenai maknanya, maka Abu Darda menjawab, "Manakibuha artinya daerah pegunungannya."".
Ayat ini masih kelanjutan sanggahan Allah terhadap sikap kaum musyrik: Apakah pantas Allah yang menciptakan semua makhluk termasuk kamu, wahai manusia, itu tidak mengetahui apa yang kamu lahirkan dan rahasiakan' Padahal Dia Mahahalus, Maha Mengetahui. Sungguh Dia pasti Maha Mengetahui segalanya. 15. Setelah ditegaskan bahwa Allah adalah Mahahalus dan Maha luas pengetahuan-Nya, kini diuraikan kembali tentang Kuasa-Nya. Dialah Allah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi untuk melakukan aneka aktifitas yang bermanfaat, maka jelajahilah di segala penjurunya, berkelanalah ke seluruh pelosoknya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya yang disediakan untuk kamu, serta bersyukurlah dengan segala karunia-Nya itu. Dan karena pada akhirnya, hanya kepada-Nyalah kamu kembali setelah dibangkitkan.
Ayat ini seakan-akan memperingatkan orang-orang musyrik yang tidak percaya akan luas dan detilnya pengetahuan Allah, bahwa Tuhan Maha Mengetahui segala isi langit dan bumi betapa pun kecilnya, betapa pun jauh disembunyikan, serta mengetahui perkataan-perkataan yang dirahasiakan. Sesungguhnya pengetahuan Allah dapat menembus dinding yang sangat tebal dan kokoh dan sesuatu yang paling tersembunyi letaknya sekalipun.
Seandainya orang-orang kafir mau menggunakan akalnya, tentu ia akan berpendapat bahwa yang menciptakan seluruh alam ini, termasuk di dalamnya bumi dengan segala isinya, adalah Allah. Pencipta itu pasti mengetahui keadaan dan sifat-sifat dari ciptaan-Nya, baik yang kecil maupun yang besar. Oleh karena itu, apa pun yang terjadi pada ciptaan-Nya, Allah mengetahuinya dengan rinci.
TAKUT KEPADA TUHAN YANG GAIB
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya dengan gaib."
(pangkal ayat 12)
Allah tidak kelihatan oleh mata, tidak terdengar oleh telinga. Tetapi Allah itu nyata kelihatan oleh mata hati kita setelah melihat beribu-ribu bukti tentang ada-Nya.
Tiap-tiap sesuatu adalah bukti Tuhanku Esa sudahlah pasti!
“Bagi mereka adalah ampunan dan pahala yang besar."
(ujung ayat 12)
Tentang apa mendapat ampunan? Ialah tentang dosa dan kesalahan membuang-buang tempoh dan umur dengan sia-sia, karena lupa akan kegunaan hidup.
Tentang apa mendapat pahala yang besar? Karena manusia telah mulai menempuh jalan baru setelah ma'rifat kepada Allah. Yaitu mencari Allah dalam afal-Nya, dalam Perbuatan-Nya.
Di pangkal ayat ada tersebut tentang takut. Timbullah pertanyaan, mengapa ada rasa takut?
Banyaklah yang ditakuti apabila tidak mengenal Allah. Terutama yang sangat ditakuti ialah kebodohan. Karena bodoh adalah induk dari segala penyakit. Tidak tahu akan kegunaan hidup di dunia. Bertambah mendalam ma'rifat orang kepada Allah, bertambahlah dia merasa takut akan terjauh dan Allah.
“Dan bisikkanlah perkataanmu atau nyaringkanlah dengan dia, sesungguhnya. Dia Maha Mengetahui apa yang terkandung dalam dada."
(ayat 13)
Artinya, ialah bahwa Allah tetap mengetahui walaupun engkau berbisik atau bersuara nyaring. Bagi Allah sama saja. Walaupun apa yang terasa dalam hatimu tidak engkau ucapkan sama sekali, namun perasaan yang terkandung dalam hatimu itu tetap juga diketahui oleh Allah. Inilah suatu peringatan bagi manusia supaya dia berhati yang tulus dan ikhlas, jangan lain di mulut lain di hati. Dan ini pun suatu peringatan agar sebutlah nama Allah itu dengan sederhana tidak perlu disorak-soraikan, sebagaimana kebanyakan dilakukan oleh ahli-ahli taﷺuf di dalam melakukan dzikir.
“Apakah tidak mengetahui Maha Pencipta?`
(pangkal ayat 14)
Inilah satu pertanyaan yang memberi kesadaran kepada manusia. Sudah dijelaskan bahwa walau kita berbisik atau bersuara nyaring, Allah pasti tahu. Masakan Tuhan Pencipta seluruh alam tidak akan tahu apa yang Dia ciptakan? Kalau disusun kembali kata-kata itu menurut susunan bahasa kita, beginilah bunyinya, ‘Apakah Allah Maha Pencipta disangka tidak akan mengetahui keadaan makhluk-Nya."
“Padahal Dia adalah Mahahalus, lagi Mahamengerti?"
(ujung ayat 14)
Dia adalah lathif, artinya Mahahalus penyelidikan-Nya dan peraturan-Nya, sehingga tungau yang kecil pun mempunyai hati jantung juga sebagai hati jantung itu pun ada pada gajah. Dan Allah pun Mahamengerti apa yang patut bagi seluruh makhluk itu. Kalau dia ikan diberilah dia insang. Kalau dia burung diberilah dia sayap. Kalau dia binatang yang hidup di alam bebas diberilah dia bulu penahan dingin. Iklim, pergantian udara, pertukaran musim dan sebagainya memengaruhi kepada hidup menurut jalannya masing-masing.
“Dialah yang menjadikan bumi itu rendah."
(pangkal ayat 15)
“Zalulan" kita artikan rendah,yaitu rendah, di bawah kaki manusia atau di bawah injakan manusia. Bagaimana pun tingginya gunung, apabila manusia mendakinya, namun puncak gunung itu terletak di bawah kaki manusia juga. “Maka berjalanlah kamu di segala penjurunya" Diumpamakanlah manusia berjalan di atas permukaan bumi sebagai berjalan di atas pundak atau bahu atau belikat bumi. Bumi yang besar diinjak bahunya oleh kita manusia. Yang tinggi hendaklah kamu daki, lurah yang dalam hendaklah kamu turuni, padang yang luas hendaklah kamu seruak, lautan yang dalam hendaklah kamu selami dan layari. Artinya bumi yang telah direndahkan untuk kamu itu kuasailah, bongkarlah rahasianya, keluarkanlah kekayaannya, galilah buminya, timbalah lautannya, tebanglah kayunya, pukatlah ikannya. “Dan makanlah daripada rezeki-Nya." Usahakanlah dengan segala daya upaya yang ada padamu. Dengan akal, pikiran dan kecerdasan. Kamu tidak boleh hanya berpangku tangan menunggu rezeki. Rezeki akan didapat menurut sekadar usaha dan perjuangan.
“Dan kepada-Nyalah akan pulang."
(ujung ayat 15)
Sebagai manusia kita dikirim Allah ke muka bumi. Dari muka bumi itu disediakan segala kelengkapan hidup kita di sini. Tidaklah kita dibiarkan bermalas-malas, menganggur dengan tidak berusaha. Muka bumi adalah rendah di bawah kaki kita. Kita akan mendapat hasil dari muka bumi ini menurut kesanggupan tenaga dan ilmu. Zaman moden disebut zaman teknologi. Kepintaran dan kecerdasan manusia telah membuka banyak rahasia yang tersembunyi. Puncak gunung yang setinggi- tingginya pun sudah dapat dinaiki dengan mudah, misalnya dengan helikopter! Tambang-tambang digali orang mengeluarkan simpanan bumi. Manusia ditakdirkan Allah bertabiat suka kepada kemajuan. Cuma satu hal tidak boleh dilupakan, yaitu bahwa sesudah hidup kita akan mati. Dan mati itu ialah kembali kepada Allah, kembali ke tempat asal, untuk mempertanggungjawabkan apa yang pernah kita perbuat di dunia ini.
“Apakah kamu merasa aman saja, terhadap Dia yang di langit?"
(pangkal ayat 16)
Artinya, tidaklah terpikir olehmu agak sejenak bahwa “Dia yang di langit" adalah yang menjamin keamananmu di atas bumi ini?
“Bahwa Dia akan menjungkirkan bumi, sehingga dia dengan tiba-tiba bergoncang?"
(ujung ayat 16)
Maksud seluruh ayat ialah memberi ingat bahwa kamu hidup di atas bumi ini dalam keadaan aman dan tenteram, tidak ada gangguan apa-apa ialah karena ada jaminan dari Allah yang bertakhta di langit artinya Yang Mahatinggi dan Luhur. Janganlah kamu lupa bahwa Yang Mahatinggi di langit itu satu waktu berkuasa mengalihkan keadaan, menukar ketentaraman menjadi jungkir balik, ketenangan menjadi kegoncangan.
“Atau apakah kamu merasa aman saja terhadap Dia yang di langit akan mengirimkan badai halimbubu kepada kamu."
(pangkal ayat 17)
Artinya, langit yang tenang, langit yang jernih dan angin berembus sepoi-sepoi basa dengan tiba-tiba bisa saja berubah menjadi badai halilintar, halimbubu yang dahsyat dengan tidak disangka-sangka.
“Maka akan tahulah kamu betapa akibat peringatan-Ku."
(ujung ayat 17)
Bahwasanya yang demikian itu mudah saja terjadi.
Orang yang sedang berlayar dalam lautan yang tenang tidak berombak, tidaklah mengira bahwa taufan besar akan datang, karena langit jernih saja, tidak ada awan kecuali sedikit di sebelah utara sekelompok kecil. Tetapi yang sekelompok kecil itulah dalam beberapa menit saja dapat mengubah membawa ribut besar. Dalam saat yang demikian manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Di saat yang demikianlah akan terasa bagaimana kecilnya dan lemahnya manusia berhadapan dengan Mahakuasa dan Perkasa Allah.
“Dan sesungguhnya telah mendustakan orang-orang yang sebelum mereka."
(pangkal ayat 18)
Kalau kiranya kaum musyrikin telah mendustakan seruan yang dibawa oleh Muhammad ﷺ di waktu surah ini turun, maka sebelum Muhammad didustakan sekarang, maka di zaman lampau nabi-nabi yang dahulu dari Nabi Muhammad pun telah didustakan pula. Semuanya diceritakan dengan terang dalam Al-Qur'an, seperti kaum Nabi Nuh mendustakan Nuh, kaum Tsamud men-dustakan Shalih, kaum Ad mendustakan Hud, Sadum dan Gamurrah mendustakan Luth dan Fir aun mendustakan Musa dan Harun, Tetapi cobalah perhatikan
“Betapa hebatnya ancaman-Ku."
(ujung ayat 18)
Semua yang menantang itu dihancurkan oleh Allah dan kebenaran yang dibawa oleh nabi-nabi dan rasul-rasul jugalah yang menang dan tegak?
(Apakah Tuhan yang telah menciptakan tidak mengetahui) apa yang kalian rahasiakan itu, yakni apakah ilmu-Nya tidak dapat menjangkau hal tersebut (sedangkan Dia Maha Halus) ilmu-Nya (lagi Maha Waspada).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.








