Join over 4 million Quran learners from more than 180 countries
Ayah
Word by Word
وَإِن
And if
تُطِعۡ
you obey
أَكۡثَرَ
most
مَن
of
فِي
(those) in
ٱلۡأَرۡضِ
the earth
يُضِلُّوكَ
they will mislead you
عَن
from
سَبِيلِ
(the) way
ٱللَّهِۚ
(of) Allah
إِن
Not
يَتَّبِعُونَ
they follow
إِلَّا
except
ٱلظَّنَّ
[the] assumption
وَإِنۡ
and not
هُمۡ
they (do)
إِلَّا
except
يَخۡرُصُونَ
guess
وَإِن
And if
تُطِعۡ
you obey
أَكۡثَرَ
most
مَن
of
فِي
(those) in
ٱلۡأَرۡضِ
the earth
يُضِلُّوكَ
they will mislead you
عَن
from
سَبِيلِ
(the) way
ٱللَّهِۚ
(of) Allah
إِن
Not
يَتَّبِعُونَ
they follow
إِلَّا
except
ٱلظَّنَّ
[the] assumption
وَإِنۡ
and not
هُمۡ
they (do)
إِلَّا
except
يَخۡرُصُونَ
guess
Translation
And if you obey most of those upon the earth, they will mislead you from the way of Allāh. They follow not except assumption, and they are not but misjudging.1
Footnotes
1 - Out of ignorance and blind imitation.
Tafsir
If you obey most of those on earth, that is, the disbelievers, they will lead you astray from the way of God, [from] His religion; they follow only supposition, when they dispute with you concerning [the status of] carrion, saying: 'What God has killed is more worthy of your consumption than what you kill yourselves!'; they are merely guessing, speaking falsehood in this [matter].
Most People are Misguided
Allah says;
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الَارْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ
And if you obey most of those on the earth, they will mislead you far away from Allah's path.
Allah states that most of the people of the earth, are misguided.
Allah said in other Ayat,
وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ الاٌّوَّلِينَ
And indeed most of the men of old went astray before them. (37:71)
and,
وَمَأ أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُوْمِنِينَ
And most of mankind will not believe even if you eagerly desire it. (12:103)
They are misguided, yet they have doubts about their way, and they rely on wishful thinking and delusions.
إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ
They follow nothing but conjecture, and they do nothing but lie.
Thus, they fulfill Allah's decree and decision concerning them
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَن يَضِلُّ عَن سَبِيلِهِ
Verily, your Lord! It is He Who knows best who strays from His way.
and facilitates that for him,
وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
And He knows best the rightly guided.
He facilitates that for them, all of them are facilitated for what He created them.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
In the third verse (116), Allah Ta ala tells the Holy Prophet ﷺ that the majority of the progeny of 'Adam living on the earth is in error. Let him not be overawed by this situation and let him ignore what they say or do. The Qur'an has dealt with this subject at several places. In Surah As-Saaffaat, it is said: وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ الْأَوَّلِينَ ﴿71﴾ (And truly before them, many of the ancients went astray (37:71) In Su-rah Yusuf, it is said: وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ ﴿103﴾ (And the majority of people - even if you wish - are not to be believers (12:103). The outcome is that the awe of majority customarily overwhelms an individual and he or she ends up following it. Therefore, the address made to the Holy Prophet ﷺ was:
And if you obey the majority of those on earth, they will make you lose the way of Allah. They follow nothing but whims, and they do nothing but make conjectures.'
The gist of the advice is that he should not be impressed by their numerical majority as a model to follow because they lack principles and go off the right way: At the end of the verse (117), it was said:
` Surely, your Lord knows best those who go astray from His way, and He is the best knower of those who are on the right path (consequently, as the errants shall be punished, the people of the straight path shall be rewarded).
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Al-An'am: 116-117
Dan jika engkau mengikuti (kemauan) kebanyakan orang (kafir) di bumi ini (dalam urusan agama), niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Ayat 116
Allah ﷻ memberitahukan perihal kebanyakan penduduk bumi dari kalangan Bani Adam berada dalam kesesatan. Seperti yang disebut dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:
“Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka (Quraisy) sebagian besar dari orang-orang yang dahulu.” (Ash-Shaffat: 71)
Dan firman Allah ﷻ yang mengatakan:
“Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103)
Mereka dalam kesesatannya itu tidak merasa yakin tentang diri mereka sendiri, tetapi mereka hanya menduga duga dengan kebohongan dan perkiraan yang salah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh firman-Nya:
“Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (Al-An'am: 116)
Makna lafal al-khars ialah al-hazr yang artinya mandul. Dikatakan “kharasan nakhlu” yang artinya pohon kurma itu tidak berbuah. Semuanya itu terjadi karena takdir dan kehendak Allah semata.
Ayat 117
“Dialah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya.” (Al-An'am: 117)
Yakni maka Allah memudahkan manusia itu ke arah kesesatan itu.
“Dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An'am: 117)
Maka Dia memudahkan manusia kepada petunjuk itu, dan setiap manusia itu dimudahkan untuk menempuh apa yang sengaja dia diciptakan sesuai dengan yang telah ditakdirkan untuknya (yakni setiap orang itu diciptakan menurut bakatnya masing-masing).
Setelah menjelaskan tentang kebenaran Nabi Muhammad, Allah melarangnya untuk menghiraukan musuh-musuhnya yang tidak mau tergerak untuk mengikuti petunjuk Allah. Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini yang memilih kesesatan daripada hidayah, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka yang tidak memiliki landasan yang kuat, hanya karena mengikuti hawa nafsu belaka yang terus membuai mereka, dan mereka hanyalah membuat kebohongan yang tidak sesuai dengan kenyataan Pernyataan di atas menjadi bukti kemukjizatan Al-Qur'an, karena ternyata banyak sekali manusia yang jauh dari petunjuk Allah, baik dari kalangan Ahli Kitab maupun lainnya. Hanya Allah yang mengetahui keadaan makhluk-Nya. Siapa di antara mereka yang sesat dan siapa di antara mereka yang mendapat petunjuk. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Semuanya akan mendapatkan balasan dari Allah di hari akhir kelak. Siapa yang mendapat petunjuk akan masuk surga, dan yang menolak kebenaran akan masuk neraka.
.
Jika kaum Muslimin selalu mengikuti kemauan orang-orang non Muslim, niscaya mereka berhasil menyesatkan kaum Muslimin dari jalan Allah. Oleh karena itu, Allah melarang keras mengikuti hukum-hukum selain yang diturunkan-Nya. Larangan itu diperkuat oleh kenyataan bahwa kaum musyrik hanya mengikuti persangkaan belaka dalam akidah mereka. Mereka hanya mengikuti hawa nafsu, dan selalu berdusta kepada Allah. Mereka juga menghalalkan bangkai dan hewan yang diperuntukkan bagi berhala.
Sejarah membuktikan bahwa timbulnya kesesatan pada sebagian besar manusia di dunia adalah karena mereka mengikuti hawa nafsu dan prasangka. Ahli Kitab telah meninggalkan petunjuk nabi-nabi mereka dan tersesat jauh dari kebenaran. Demikian pula para penyembah berhala telah jauh dari petunjuk nabi-nabi mereka. Nabi Muhammad diberi tahu oleh Allah tentang keadaan umat-umat terdahulu itu dan ini membuktikan kebenaran beliau sebagai Rasul.
“Apakah yang selain Allah yang akan aku mintakan jadi hakim? Padahal, Dialah yang menurunkan kitab kepada kamu dengan tenang?"
(pangkal ayat 114)
Wahyu ini bersifat pertanyaan dari Nabi Muhammad ﷺ sebagai pemikul tugas menyampaikan wahyu Ilahi kepada makhluk. Firman Allah telah turun, kitab Allah telah di-wahyukan untuk mengatur hidup manusia. Apakah mungkin bagi seorang rasul mengganti wahyu dahi dengan zukhrufal-qauli ghururanl Kata lemak manis buatan manusia yang penuh tipu dengan daya? Untuk itukah seorang rasul akan meminta keadilan dan untuk dijadikan hakim pemutus hukum?
Apakah kitab yang telah turun dengan terang dan nyata itu hendak ditukar dengan yang lain?
Pertanyaan seperti ini bernama istifham-inkari, artinya pertanyaan yang mengandung penolakan. Tegasnya, tidak mungkin bagi seorang rasul hendak meminta yang selain dari Allah jadi hakim. Sebab, segala hukum telah diturunkan oleh Allah dengan sempurna. Hukum Allah bukanlah hukum manusia, bukan kata lemak manis penuh bisa dan tipu daya.
“Sedang orang-orang yang telah Kami beri kitab itu pun tahu bahwasanya dia diturunkan dari Tuhan engkau dengan kebenaran."
Sampai pada zaman kita sekarang pun, pemuka-pemuka ilmu pengetahuan yang disebut Orientalis, yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, dalam hati kecilnya tidak dapat membantah kebenaran bahwa yang datang kepada Nabi Muhammad ﷺ itu, atau Al-Qur'an itu, memang wahyu dari Allah. Sejak beratus-ratus tahun, beberapa universitas di Eropa, di beberapa negeri yang besar-besar, bersatu usaha dengan misi dan zendirig Kristen mempelajari rahasia Islam sampai sedalam-dalamnya dan sampai sehalus-halus dan sekecil-kecilnya. Berbagai hasil penyelidikan kajian dan ilmiah telah mereka kemukakan. Mereka berusaha dengan keras hendak membuktikan bahwasanya Al-Q.ur'an itu hanyalah karangan Nabi Muhammad ﷺ saja, bukan wahyu dari Allah. Akan tetapi, setiap waktu mereka meneruskan pengajian, meneruskan penyelidikan lebih mendalam, mengadakan Islamic Studies. Menyelidiki ilmu-ilmu yang dihasilkan oleh Islam, sejak tafsirnya, ilmu jiwa dan ilmu kemasyarakatannya, dengan satu maksud, yaitu hendak membuktikan bahwa Islam itu “tidak sebuah juga", filsafat Islam hanya caplokan dari filsafat Yunani. Taﷺuf Islam hanya duplikat tiruan dari ajaran Hindu. Tetapi, untuk menghasilkan penyelidikan itu, mereka mengarang berpuluh, bahkan beratus buku-buku. Dan, banyak di antara mereka melepaskan diri pribadi dari penipuan itu, karena tertarik oleh magnit kesaksian Islam, lalu masuk Islam.
“Maka, sekali-kali janganlah engkau Jadi dari golongan orang yang ragu-ragu."
(ujung ayat 114)
Kepada Nabi Muhammad ﷺ diperingatkan bahwasanya kebenaran ajaran Allah itu tidaklah boleh diragukan lagi, walaupun segala macam percobaan pihak kafir untuk menimbulkan keraguan itu. Dan, bagi kita pendukung Muhammad ﷺ pun hilangkanlah keraguan, dengan memperdalam pengertian tentang Al-Qur'an itu sendiri, dan juga mempelajari dan mengatasi fitnah-fitnah buruk yang ditimpakan kepadanya oleh orang yang memusuhinya.
Kesimpulan tafsir pangkal dan ujung ayat ialah bahwa Nabi Muhammad ﷺ disuruh menegaskan pendirian bahwa peraturan yang akan dijunjung tingginya hanyalah peraturan dari Allah. Dia tidak akan menukar Hakim Mahatinggi, Allah, dengan hakim manusia. Dia telah ada pegangan. Segala peraturan yang datang dari manusia, betapa pun lemak manis bunyinya, indah berhias susun katanya, tidak lain daripada tipu daya belaka. Fatamorgana di padang tandus, gejala panas disangka air, padahal hanya pasir dan pasir belaka. Tentang kebenaran kitab Allah, wahyu Ilahi Al-Qur'an al-Karim, tidak usah diragukan lagi. Ahlul Kitab sendiri tidak juga dapat membantah kebenaran wahyu itu, walaupun mereka tidak mau mengikutinya karena dengki hatinya.
Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah ragu bahwa yang dibawa Jibril kepadanya itu benar-benar adalah wahyu. Namun, untuk penegasan pendirian, di dalam ayat ini Nabi Muhammad sudah dilarang bersikap ragu. Oleh karena itu, selama perjuangan di Mekah, berkali-kali Nabi Muhammad telah menjelaskan pendirian bahwa di dalam menegakkan kebenaran Ilahi itu dia tidak mengenal kompromi.
Apalah lagi ayat selanjutnya mempertegas lagi.
“Dan, telah sempurna kalimat Tuhan engkau, dalam keadaan benar dan adil."
(pangkal ayat 115)
Tentang kebenaran wahyu Ilahi itu tidak usah diragukan lagi. Kebenaran asli dari Dia dan keadilan pun dari Dia. Tidak ada hakim lain dan hukum lain yang dapat melebihi itu. Undang-undang kebenaran dan keadilan yang diwahyukan Allah adalah untuk kepentingan umat manusia, bukan untuk mempertahankan kekuasaan Allah. Sebaliknya, undang-undang ciptaan manusia, kebenaran dan keadilan yang dikarang manusia dengan susunan kata yang dihias ialah untuk kepentingan mempertahankan kedudukan golongan yang berkuasa. Undang-undang manusia dapat saja berubah kalau zaman telah berubah, sedang syari'at Ilahi tidak dapat diubah oleh manusia. Oleh sebab itu, datanglah penegasan lagi, “Sekali-kali tidak ada pengganti dari kalimat-kalimat-Nya." Salah satu arti dari kalimat ialah perkataan atau firman. Kalimat Allah ialah firman Allah. Firman Allah tidak dapat diganti dengan perkataan lain. Sebab, ucapan yang lain adalah ucapan makhluk, sedang pengetahuan dan pengalaman makhluk adalah terbatas. Ka-limat Ilahi adalah mutlak untuk segala tempat dan segala zaman.
Di dalam menegakkan pendirian ini, sejak dari langkah pertama sudah mesti berterang-terang, tidak boleh bersembunyi. Kaum musyrikin di Mekah mungkin bersedia bekerja sama dengan Islam, asal beberapa usul mereka diterima. Segala usul pun boleh dipertimbangkan kecuali satu, yaitu bahwa ada peraturan lain selain dari peraturan Allah yang akan dijalankan. Atau ada hukum lain pengganti hukum Allah, dan mencari hakim selain Hakim Allah. Sebab itu maka datanglah penutup ayat,
“Dan, Dia adalah Maha Mendengar lagi Mengetahui."
(ujung ayat 115)
Allah mendengar saat hamba-Nya mempercakapkan soal-soal kehidupan ini, baik keyakinan akan kebenaran firman Ilahi atau keraguan dan keluhan. Allah mendengar pertukaran pikiran umat manusia di dalam mencari kebenaran dan Allah pun mengetahui bagaimana percobaan manusia di dalam alam ini hendak menegakkan masyarakat yang damai, pemerintahan yang adil dan makmur. Dan, Allah pun mengetahui bahwa sejak dunia ini terkembang, manusia selalu berusaha mencari jalan kebenaran. Setengahnya, bertemulah mereka dengan jalan itu sebab taat kepada tuntunan Ilahi yang disampaikan oleh rasul-rasul dan nabi-nabi. Wahyu Ilahi bagi keselamatan manusia, lalu selamatlah mereka dunia dan akhirat. Dan, setengahnya lagi menempuh jalan yang sesat dan salah, jalan yang dimurkai. Maka, sengsaralah mereka dunia dan akhirat.
Karena Allah selalu mendengar dan mengetahui maka kita manusia pun haruslah berusaha supaya apa tindakan yang kita ambil di dalam hidup, sesuai kehendaknya dengan kehendak Allah dan diridhai oleh Allah. Bertemu hendaknya taufik dan hidayah Ilahi dengan rencana yang kita rencanakan. Karena, betapa pun hebatnya kemajuan hasil pendapat manusia, tetapi yang mutlak benar hanyalah apa yang ditentukan oleh Allah. Yang lainnya hanyalah keraguan dan kecenderungan belaka, tidak ada yang yakin dan tidak ada yang pasti. Teori lama dapat dijatuhkan oleh teori yang baru. Zaman feodalisme akan pindah ke dalam zaman borjuis, orang memujikan kemerdekaan pribadi (liberalisme) dan selalu menganjurkan kemerdekaan berusaha, kemerdekaan atas hak milik. Namun, kemudian setelah zaman feodal berganti dengan zaman borjuis, dan ternyata timbul kapitalisme, lalu timbul yang kaya terlalu kaya dan yang miskin terlalu miskin. Dicela dan dimaki orang lagi liberalisme yang dahulunya dipuja-puja itu.
Demikian juga dalam susunan pemerintahan. Satu waktu orang merasa tertekan karena tidak ada demokrasi dan yang ada hanya diktator, kekuasaan orang-seorang. Akhirnya orang pun berontak melawan kekuasaan orang-seorang itu, lalu diktator jatuh. Setelah diktator jatuh, timbullah demokrasi. Satu waktu orang pun merasa kecewa dengan demokrasi sebab kemerdekaan memilih dan dipilih hanya untuk orang yang kaya, tuan tanah, dan ahli-ahli pidato demagogi penipu. Akhirnya, orang mengutuki demokrasi lagi dan ingin datangnya seorang pemimpin yang kuat, yang bisa mengatasi keadaan. Akhirnya demokrasi dikurbankan dan kekuasaan diserahkan lagi ke tangan orang-seorang. Berbelit-belit, berbolak-balik bagai menghasta kain sarung.
Sedangkan suatu masyarakat yang ideal, yang merupakan cita-cita yang tinggi hanya tetap satu, yaitu bilamana manusia menyerahkan kekuasaan tertinggi kepada Allah dan taat kepada ketentuan Allah itu. Sebab, jika Allah mencipta dan menurunkan sesuatu peraturan, bukannya untuk kepentingan Allah atau untuk menjaga kekuasaan Allah, melainkan untuk kebahagiaan manusia itu sendiri.
Namun demikian, Allah tetap mendengar dan mengetahui usaha manusia mendekati ke-benaran dan menjauhi kebatilan.
PENDIRIAN YANG TEGAS
Jika pejuang Muslim membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan paham akan artinya, tidak dapat tidak ayat ini pasti memengaruhi sikap jiwanya.
Ayat-ayat ini tegas benar menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ harus menyatakan terus terang bahwa dia tidak akan menerima hakim lain selain Allah. Tidak menerima peraturan lain selain peraturan Allah, atau sesuatu peraturan yang disesuaikan atau yang sumbernya diambil dari hukum Allah. Ini mengenai seluruh segi kehidupan. Dia seluruhnya berpokok dari satu, yaitu kepercayaan kepada adanya Allah. Setelah mengaku tentang adanya Allah, lalu percaya akan peraturan-Nya, mengerjakan apa yang disuruh dan menghentikan atau menjauhi apa yang dilarang. Ketaatan kepada Allah adalah konsekuensi dari kepercayaan kepada Allah. Percaya saja tidak cukup. Percaya hendaklah dibuktikan dengan ketaatan sehingga tidak suatu peraturan pun yang diakui dalam dunia ini, kalau peraturan itu tidak dari Allah atau peraturan manusia yang diambil dasarnya dari apa yang diridhai oleh Allah.
Oleh karena itu, dengan sendirinya sudah terang pula kalau sekiranya kaum jahiliyyah tidak menyukai peraturan Allah. Pada zaman modern sekarang ini, pejuang-pejuang Islam yang ingin mengikuti sunnah Nabi, yang bercita-cita hendak menegakkan peraturan Allah di dalam alam ini kebanyakan dibenci oleh golongan yang tidak mengenal peraturan Allah itu. Di dalam negeri-negeri Islam sendiri, pejuang Islam dibenci dan menderita berbagai penderitaan jika dia mengemukakan keyakinan hidup, menjelaskan bahwa dia bercita-cita supaya di negerinya, peraturan dan undang-undang negeri harus diambil daripada peraturan dan undang-undang Allah.
Ayat yang selanjutnya memberikan ketegasan lagi sehingga kebimbangan pejuang Islam itu dihilangkan,
“Dan, jika engkau ikut kebanyakan orang yang di bumi ini, niscaya akan mereka sesatkan engkau daripada jalan Allah."
(pangkal ayat 116)
Ayat ini menjadi peringatan kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang hidup menegakkan
… katan atau pemerintahan. Atau filsafat, setelah negara-negara Barat rakrasa bosan karena kungkungan kaum pendeta atau perkembangan pikiran manusia, terpisahlah urusan duniawi atau pemerintahan dengan urusan agama.
Oleh sebab itu, orang berusaha agar segala macam buah pikiran manusia, filsafat, teori pemerintahan dijauhkan dari agama. Dan, bagaimana dengan agama itu sendiri?
Agama pun telah dicampuri oleh teori manusia. Misalnya, dalam agama Kristen, ajaran tauhid Nabi Isa a.s. telah diberi tafsir lain oleh Paulus sehingga dari tauhid menjadi tats-Iits, atau Trinitas. Satu ditambah dua sama dengan satu. Maka, timbullah ajaran bahwa Allah itu beranak. Timbul pula ajaran bahwa Tuhan itu ada ibunya. Sama sekali, ini adalah omong kosong. Orang Kristen tiap waktu mencari tafsiran lain daripada kepercayaan mereka agar dapat diterima orang. Dan, yang datang di belakang menerima saja apa yang diwarisi dari nenek moyang dengan tidak mengadakan pemeriksaan lagi. Malahan, timbul ajaran agar agama jangan dipikirkan.
“Sesungguhnya, Tuhan engkau. Dialah Yang Lebih Tahu, siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang Lebih Tahu siapa yang mendapat petunjuk."
(ayat 117)
(Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi) yakni orang-orang kafir (niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah) yaitu agama-Nya (sama sekali) (mereka tidak akan mau mengikuti kecuali hanya pada prasangka belaka) dalam perdebatan mereka denganmu tentang masalah bangkai, yaitu di kala mereka berkata, "Apa yang telah dibunuh oleh Allah lebih berhak untuk kamu makan daripada apa yang kamu bunuh sendiri." (dan sama sekali) tidak lain (mereka hanyalah berdusta) di dalam hal tersebut.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.








