Join over 4 million Quran learners from more than 180 countries
Ayah
Word by Word
وَيَقُولُونَ
And they say
مَتَىٰ
When (is)
هَٰذَا
this
ٱلۡوَعۡدُ
promise
إِن
if
كُنتُمۡ
you are
صَٰدِقِينَ
truthful
وَيَقُولُونَ
And they say
مَتَىٰ
When (is)
هَٰذَا
this
ٱلۡوَعۡدُ
promise
إِن
if
كُنتُمۡ
you are
صَٰدِقِينَ
truthful
Translation
And they say, "When is this promise, if you should be truthful?"
Tafsir
And they say, 'When will this promise, of resurrection, be [fulfilled], if you are being truthful?', therein.
The Misguidance of the Idolators
Allah tells us how the idolators persisted in their misguidance and in not paying attention to the sins that they had committed in the past or what was to happen to them in the future, on the Day of Resurrection.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ
And when it is said to them:Fear of that which is before you, and that which is behind you...
Mujahid said,
This refers to sins.
Others said, it is the opposite.
لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
in order that you may receive mercy.
means, `so that, if you fear such things Allah will have mercy on you and will save you from His punishment.'
The wording implies that they would not respond. Rather that they would turn away and ignore that, as Allah says
وَمَا تَأْتِيهِم مِّنْ ايَةٍ مِّنْ ايَاتِ رَبِّهِمْ
And never came an Ayah from among the Ayat of their Lord to them,
meaning, signs of Tawhid and the truth of the Messengers,
إِلاَّ كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ
but they did turn away from it,
means, they did not accept it or benefit from it
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمْ اللَّهُ
And when it is said to them:Spend of that with which Allah has provided you,
means, when they are told to spend of that which Allah has provided to them on the poor and needy among the Muslims,
قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ امَنُوا
those who disbelieve say to those who believe,
means, about the believers who are poor,
i.e., they say to those believers who tell them to spend on the needy,
أَنُطْعِمُ مَن لَّوْ يَشَاء اللَّهُ أَطْعَمَهُ
Shall we feed those whom, if Allah willed, He (Himself) would have fed,
meaning, `those whom you are telling us to spend on, if Allah had wanted to, He would have made them independent and fed them from His provision, so we are in accordance with the will of Allah with regard to them.
إِنْ أَنتُمْ إِلاَّ فِي ضَلَلٍ مُّبِينٍ
You are only in a plain error.
means, `by telling us to do that.
The Disbelievers thought that the Day of Resurrection would never come to pass
Allah tells,
وَيَقُولُونَ
And they say:
Allah tells us how the disbelievers thought that the Day of Resurrection would never come to pass, as they said:
مَتَى هَذَا الْوَعْدُ
When will this promise be fulfilled...
يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لَا يُوْمِنُونَ بِهَا
Those who believe not therein seek to hasten it. (42:18)
إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
if you are truthful.
Allah says:
مَا يَنظُرُونَ إِلاَّ صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ
They await only but a single Sayhah which will seize them while they are disputing!
meaning, they are only waiting for a single shout which -- and Allah knows best -- will be the trumpet blast of terror when the Trumpet will be blown while the people are in their marketplaces and places of work, arguing and disputing as they usually do. While in this state, Allah will command Israfil to blow into the Trumpet, so he will sound a long note and there will be no one left on the face of the earth except he will tilt his head to listen to the sound coming from heaven. Then the people who are alive will be driven to the gathering place by a fire which will surround them on all sides.
Allah says
فَلَ يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً
Then they will not be able to make bequest,
meaning, with regard to their possessions, because the matter is more serious than that,
وَلَا إِلَى أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ
nor they will return to their family.
Numerous Hadiths and reports have been narrated about this, which we have mentioned elsewhere. After this there will be the Trumpet blast which will cause everyone who is alive to die, besides the One Who is Ever Living, Eternal. Then after that the trumpet blast of the resurrection will be sounded.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Yasin: 48-50
Dan mereka berkata, "Bilakah (terjadinya) janji ini (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?" Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya. Allah ﷻ menceritakan tentang keyakinan orang-orang kafir yang menganggap mustahil terjadinya hari kiamat. Hal ini diungkapkan melalui firman-Nya: Bilakah (terjadinya) janji ini? (Yasin: 48) Dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya: Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan. (Asy-Syura: 18) Adapun firman Allah ﷻ: Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. (Yasin: 49) Artinya, tiada yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja, dan teriakan ini hanya Allah Yang Maha Mengetahui adalah tiupan sangkakala yang pertama.
Dilakukan tiupan pada sangkakala yaitu tiupan yang mengejutkan, saat itu manusia sedang berada di dalam pasar-pasar mereka dan sedang dalam aktivitas kehidupan mereka yang saling bersaing dan bertengkar di antara sesamanya sebagaimana biasanya. Ketika mereka sedang dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Allah memerintahkan kepada Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala. Maka Malaikat Israfil melakukan tiupan yang cukup panjang; tiada seorang pun di permukaan bumi ini melainkan mendengar suara itu yang terdengar dari arah langit.
Kemudian manusia yang ada digiring menuju ke Padang Mahsyar dengan api yang mengepung mereka dari segala penjuru. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiat pun. (Yasin: 50) terhadap apa yang dimiliki oleh mereka, karena urusan yang sedang dialami oleh mereka lebih penting dari itu, dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya. (Yasin: 50) Sehubungan dengan bab ini banyak asar dan hadis yang telah kami kemukakan di tempat lain.
Setelah itu barulah terjadi tiupan kematian yang karenanya semua makhluk hidup mati semuanya selain Tuhan Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengatur makhluk-Nya. Selanjutnya terjadi tiupan kebangkitan.".
Tidak hanya mengingkari utusan Allah, orang-orang kafir itu juga mengingkari hari kebangkitan. Dan apabila dikatakan bahwa mereka kelak akan dibangkitkan dari kubur, mereka itu pun berkata dengan nada mengejek, 'Kapan janji hari kebangkitan itu terjadi jika kamu orang yang benar dalam perkataanmu tentangnya''49. Allah mengingatkan orang-orang kafir itu bahwa mereka tidak akan menunggu lama kedatangan hari kebangkitan, melainkan ha-nya menunggu satu teriakan saja, yaitu tiupan sangkakala pertama yang menghancurkan alam semesta. Suara sangkakala itu yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar karena ia datang secara tiba-tiba (Lihat pula: Surah az-Zukhruf/43: 66).
Sisi lain dari sifat-sifat jelek kaum yang ingkar itu adalah ketidakpercayaan mereka tentang akan adanya hari Kebangkitan sesudah mati. Apabila disampaikan bahwa mereka kelak akan dibangkitkan kembali sesudah mati, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka selama di dunia ini, maka mereka menjawab dengan sikap mengejek, "Bilakah janji itu akan terlaksana?" Demikian keadaan kaum yang ingkar, hati mereka tidak lagi terbuka untuk menerima kebenaran. Penyesalan mereka barulah akan timbul setelah mereka menghadapi kenyataan tentang apa yang dulunya mereka ingkari.
“Dan jika dikatakan kepada mereka,
“Takwalah kamu kepada apa yang berada di hadapanmu dan apa yang di belakang kamu “
(pangkal ayat 45)
Biasa diartikan orang takwa itu dengan takut, padahal arti takwa lebih luas dan lebih dalam dari takut. Kata-kata takut bisa ditujukan orang seperti takut kepada harimau lalu lari, takut akan kepindahan penyakit kusta lalu menjauh dari orang yang mendapat penyakit itu.
“Agar supaya kamu dirahmati."
(ujung ayat 45)
Yang di hadapan kita dan di belakang kita hendaklah kita perhatikan, kita camkan dan kita awasi. Yang di hadapan kita boleh diartikan usia kita yang akan kita tempuh; entah berapa tinggal lagi, tidaklah kita ketahui. Mungkin hari ini meninggal, mungkin setahun lagi. Tidak seorang jua pun kita yang tahu. Yang di belakang kita ialah sejarah hidup yang telah kita lalui, manakah yang lebih banyak kita kerjakan, yang baikkah atau yang buruk. Padahal yang telah terletak di belakang kita itu tidak dapat kita ulangi lagi.
“Dan tidaklah datang kepada mereka semacam ayat pun dari ayat-ayat Tuhan mereka, melainkan adalah mereka itu selalu berpaling darinya."
(ayat 46)
Ayat ini adalah sebagai jawaban dari ayat yang sebelumnya. Dia menguraikan sikap jiwa dari orang yang kafir. Adapun peringatan dari ayat Allah ﷻ yang dikemukakan kepada mereka, mereka tidak mau peduli. Mereka berpaling kepada yang lain. Malahan orang yang memberikan peringatan itu mereka musuhi. Nabi-nabi yang menyampaikan *seruan Allah secara jujur mereka musuhi. Mereka bersikap dalam hidup semaunya sendiri. Mereka tidak peduli akan nasihat.
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Nafkahkanlah dari apa yang direzekikan Allah kepada kamu."
(pangkal ayat 47)
Artinya, oleh sebab Allah telah memberimu rezeki lebih banyak, sedang sesamamu manusia ada yang lemah, ada yang tidak mempunyai kesanggupan dan kegigihan memburu harta sebagai kesanggupan yang ada pada kamu, maka berikanlah sebagian dari rezeki anugerah Allah itu kepada orang-orang yang patut ditolong, anjuran itu mereka tolak pula. Mereka tidak mau memberikan sebagian rezeki yang diberikan Allah itu agak sedikit kepada yang patut menerima."Berkatalah orang-orongyang kafir itu kepada orang-orang yang beriman, “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang kalau Allah menghendaki niscaya akan diberinya makan?"
Maka dijelaskanlah di akhir ayat,
“Tidak lain kamu ini, melainkan di dalam kesesalan yang nyata."
(ujung ayat 47)
Yaitu bahwa pendirian mereka yang demikian itu adalah pendirian yang sesat. Mereka tidak hendak mencari hubungan kasih sayang dengan sesamanya manusia. Manusia tidak hendak memedulikan nasib fakir dan miskin. Mereka menyangka dengan demikian mereka telah menempuh jalan yang benar, padahal itu adalah satu jalan tersesat.
“Dan mereka betkata, “Bilakah janji ini, jika adalah kamu orang-orang yang benar?"
(ayat 48)
Mereka menantang kepada Rasul dan orang-orang yang beriman yang selalu mengancam mereka dengan adzab bilamana hari Kiamat sudah datang kelak. Kalau Kiamat itu terjadi kelak,
“Tidaklah mereka akan menunggu melainkan satu pekikan saja."
(pangkal ayat 49)
Pekik ialah suara teriak yang sangat keras. Laksana suara sirene pada mobil pemadam kebakaran yang sedang berkejaran menung-kas memadamkan api rumah terbakar. Tetapi pekik itu demikian kerasnya, meskipun hanya sekali saja, ke seluruh penjuru bumi. Itu juga yang dikatakan serunai sangkakala yang ditiup oleh malaikat Israfil."Yang akan menyeret mereka, “ artinya yang menyebabkan mereka jadi panik, bingung, gugup, hilang akal dan tidak dapat lagi menguasai diri. Mereka telah terseret oleh pengaruh kerasnya bunyi pekik itu.
“Padahal mereka sedang bertengkar."
(ujung ayat 49)
Laksana binatang di rimba ketika kebakaran hutan, mereka telah diseret pengaruh kebakaran itu, lari ke sana kemari, tidak tahu lagi apa yang akan dikerjakan. Takut, ngeri, bingung, dan ketakutan akan mati. Padahal tadinya sedang bertengkar di pasar, di balai, di apartemen, di medan perang, ketika berebut-rebut mengejar keret api yang akan berangkat. Habis semuanya itu, berganti dengan hiruk pikuk ketakutan, karena maut telah terasa sangat mendekat.
“Maka tidaklah mereka sempat meninggalkan suatu wasiat pun."
(pangkal ayat 50)
Tidak sempat lagi membuat surat wasiat atau meninggalkan pesan wasiat untuk orang yang tinggal.
“Dan tidak pula mereka bisa pulang kepada kaum keluarganya."
(ujung ayat 50)
Sebab di mana mereka mendengarkan pekik yang dahsyat itu, di situ pula mereka akan mati. Ada yang mati karena berdesak-desak, atau mati ketakutan, atau mati berlanggar.
(Dan mereka berkata, "Bilakah terjadinya janji ini?) yakni hari berbangkit (jika kalian orang-orang yang benar?") mengenai apa yang kalian katakan.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.








