Join over 4 million Quran learners from more than 180 countries
Ayah
Word by Word
فَقَالُوٓاْ
Then they said
أَنُؤۡمِنُ
Shall we believe
لِبَشَرَيۡنِ
(in) two men
مِثۡلِنَا
like ourselves
وَقَوۡمُهُمَا
while their people
لَنَا
for us
عَٰبِدُونَ
(are) slaves
فَقَالُوٓاْ
Then they said
أَنُؤۡمِنُ
Shall we believe
لِبَشَرَيۡنِ
(in) two men
مِثۡلِنَا
like ourselves
وَقَوۡمُهُمَا
while their people
لَنَا
for us
عَٰبِدُونَ
(are) slaves
Translation
They said, "Should we believe two men like ourselves while their people are for us in servitude?"
Tafsir
And they said, 'Shall we believe two humans like ourselves, while their people are servile to us?', obedient and submissive.
The Story of Musa, Peace be upon Him; and Fir`awn
Allah tells:
ثُمَّ أَرْسَلْنَا مُوسَى وَأَخَاهُ هَارُونَ بِأيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُّبِينٍ
إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَيِهِ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا عَالِينَ
فَقَالُوا أَنُوْمِنُ لِبَشَرَيْنِ مِثْلِنَا وَقَوْمُهُمَا لَنَا عَابِدُونَ
فَكَذَّبُوهُمَا فَكَانُوا مِنَ الْمُهْلَكِينَ
وَلَقَدْ اتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ
Then We sent Musa and his brother Harun, with Our Ayat and manifest authority, to Fir`awn and his chiefs, but they behaved insolently and they were people self-exalting (by disobeying their Lord). They said:
Shall we believe in two men like ourselves, and their people are obedient to us with humility!
So, they denied them both and became of those who were destroyed. And indeed We gave Musa the Scripture, that they may be guided.
Allah tells us that He sent Musa, peace be upon him, and his brother Harun to Fir`awn and his chiefs with decisive evidence and definitive proof, but Fir`awn and his people were too arrogant to follow them and obey their commands because they were human beings, just as previous nations had denied the Message of the human Messengers. They were of a similar mentality, so Allah destroyed Fir`awn and his chiefs, drowning them all in one day. He revealed the Book to Musa, i.e., the Tawrah, in which were rulings, commands and prohibitions, after He had destroyed Fir`awn and the Egyptians and seized them with a punishment of the All-Mighty, All-Capable to carry out what He wills.
After Allah revealed the Tawrah, Allah did not destroy any nation with an overwhelming calamity; instead, He commanded the believers to fight the disbelievers, as He says:
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى الْكِتَـبَ مِن بَعْدِ مَأ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الاٍّولَى بَصَأيِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
And indeed We gave Musa -- after We had destroyed the generations of old -- the Scripture as an enlightenment for mankind, and a guidance and a mercy, that they might remember. (28:43)
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Al-Mu'minun: 45-49
Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan membawa tanda-tanda (kebesaran) Kami dan bukti yang nyata kepada Fir'aun dan pembesar-pembesar kaumnya, maka mereka ini takabur dan mereka adalah orang-orang yang sombong. Dan mereka berkata, "Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita. Maka (tetaplah) mereka mendustakan keduanya, sebab itu mereka adalah termasuk orang-orang yang dibinasakan. Dan sesungguhnya telah Kami berikan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, agar mereka (Bani Israil) mendapat petunjuk.
Ayat 45-49
Allah ﷻ menceritakan bahwa Dia telah mengutus Musa dan saudaranya Harun sebagai utusan Allah kepada Fir'aun dan kaumnya dengan membawa mukjizat-mukjizat dan hujah-hujah yang melemahkan musuh dan bukti-bukti yang jelas dan pasti. Tetapi Fir'aun dan kaumnya takabur dan sombong, mereka tidak mau mengikuti keduanya dan menolak apa yang dianjurkan oleh keduanya, hanya karena keduanya adalah manusia biasa.
Sikap Fir'aun dan kaumnya sama seperti sikap umat-umat terdahulu yang menentang rasul-rasul-Nya, hanya karena para rasul itu terdiri atas manusia, hati mereka meragukannya. Maka Allah membinasakan Fir'aun dan kaumnya, yaitu dengan menenggelamkan mereka semua dalam hari yang sama. Allah menurunkan kepada Musa kitab Taurat, yang di dalamnya terdapat hukum-hukum Allah, perintah-perintah-Nya, dan larangan-larangan-Nya. Hal ini terjadi sesudah Allah membinasakan Fir'aun dan kaumnya, dan menghukum mereka sebagai hukuman dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.
Sesudah Allah menurunkan kitab Taurat, Allah tidak lagi membinasakan suatu umat dengan pembinasaan yang menyeluruh, tetapi Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk memerangi orang-orang kafir. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat." (Al-Qashash: 43)
Maka dengan angkuh mereka berkata, 'Apakah pantas kita percaya kepada Allah Yang Maha Esa dengan membenarkan ucapan dua orang manusia seperti kita, padahal kaum mereka, yaitu Bani Israil, adalah orang-orang yang menghambakan diri secara hina kepada kita, orang Mesir' Sungguh tidak pantas!'48. Maka mereka mendustakan keduanya, yaitu Nabi Musa dan Harun, sehingga karenanya mereka termasuk orang yang dibinasakan dengan ditenggelamkan di Laut Merah.
Mereka berkata, "Apakah kita pantas percaya kepada dua orang manusia seperti kita juga? Apakah patut kita tunduk pada keduanya, padahal mereka itu adalah golongan hamba-hamba dan pembantu-pembantu yang tunduk kepada kita sebagai majikan dan tuannya?" Mereka menyamakan misi menyampaikan tugas risalah dari Allah yang berdasarkan keikhlasan, kepercayaan dan kejujuran, seperti jabatan keduniaan yang bersumber kepada kepangkatan dan kekayaan. Pandangan mereka itu juga dipegang oleh orang kafir Quraisy, sebagaimana dijelaskan dalam ayat ini:
Dan mereka (juga) berkata, "Mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu dua negeri ini (Mekah dan Taif)?" (az-Zukhruf/43: 31)
Mereka mengingkari wahyu dan kenabian Muhammad ﷺ, karena menurut jalan pikiran mereka, orang yang diangkat menjadi rasul itu hendaklah orang yang kaya dan berpengaruh. Mereka tidak mengetahui bahwa pilihan Allah untuk kerasulan itu tidak didasarkan kepada kekayaan atau kepangkatan, akan tetapi semata-mata kepada karunia Allah, yang sudah ada ketetapannya di alam azali, dan hubungannya dengan keluhuran budi pekerti, kesucian dan kejujuran serta kesayangan kepada umatnya.
Para nabi karena kesucian batin mereka tidak terpengaruh oleh alam kebendaan. Mereka menerima wahyu dengan perantaraan malaikat, dan melayani segala kepentingan umatnya. Mereka tetap berhubungan dengan Tuhan mereka. Apabila orang-orang kafir merasa aneh dan mempertanyakan mengapa Allah mengutus utusan-Nya dari kalangan manusia sendiri, maka lebih aneh dan ajaib lagi, jika dipertanyakan mengapa mereka menjadikan kayu dan batu, yang dibuat dan diukir oleh tangan mereka sendiri sebagai Tuhan. Sungguh tepat apa yang difirmankan dalam ayat:
Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (al-hajj/22: 46).
Musa Dan Harun Menghadapi Fir(aun
, Jika dahulu Nabi-nabi sebagai Nuh, Hud dan Shalih telah berhadapan langsung dengan kaumnya sendiri dan mendapat perlakuan yang sama dari pihak kaum itu masing-masing, maka tugas yang terpikul di atas pundak Nabi Musa dan saudaranya Harun adalah lipat-ganda lebih berat dari itu. Musa dan Harun memikul dua tugas yang berat. Tugas pertama ialah membebaskan kaum mereka. Bani Israil dari perbudakan dan tindasan Fir'aun dan penguasa-penguasa kerajaannya. Tugas kedua ialah menghadapi raja itu sendiri.
Amatlah susah membebaskan fikiran suatu kaum yang sudah beratus tahun biasa jiwanya tertekan. Mereka ini harus diisi terlebih dahulu dengan Tauhid
niscaya mereka akan terus menyerah saja kepada nasib dan berjiwa budak, menuhankan manusia, takut kepada segala orang berpangkat. Kaum ini sangat' menghajatkan kedatangan pemimpin yang berjiwa besar. Mereka ini tidak akan dapat dibebaskan kalau pimpinan yang membimbing mereka tidak gagah berani menghadapi Fir'aun itu sendiri. Fir'aun yang selama ini dituhankan orang, bahkan mengakui pula bahwa dia memang tuhan. Di samping Fir'aun besar adalah lagi berpuluh-puluh Fir'aun kecil, yang menjilat ke atas, menekan ke bawah. Itulah “Al-malauu" tadi. Orang-orang Inilah yang berusaha siang malam “memberhalakan" Fir'aun. Membuat khabar-khabar penting dan beranting, memuja-muja Fir'aun, memanjakan Fir'aun. Si Fir'aun merasa dirinya tuhan, si “Orang Besar" menuhankan Fir'aun. Keduanya sokong-menyokong, angkat-mengangkat. Bertambah mendekat kepada Seri Baginda, bertambah naiklah pangkat dan kedudukan, bertambah jauh dari rakyat banyak. Kemewahan dan kesenangan hidup orang besar-besar itu telah membelenggu mereka sehingga tidak dapat membebaskan diri lagi. Padahal hidup hanya ber-gantung kepada belas kasihan Seri Baginda. Dalam seberitar waktu, asal baginda berkenan bintang bIsa terang. Tetapi kalau baginda murka, seberitar waktu saja bIsa hancur lebih jatuh, sebab itu dada berdebar terus; bertambah berdekat bertambah merasa diri dalam bahaya, meskipun senang kelihatan oleh orang lain. Akan menjauh takut pula, takut akan hilang jaminan hidup. Sebab yang jauh dari Seri Baginda hidupnya melarat, dan kalau bebas berfikir selalu dicemburui. Baginda pun tahu kalau orang-orang ini tidak ada baginda tidak dapat berbuat apa-apa. Dia manusia sebagai orang-orang itu juga. Dia sendiri dalam hati sanubarinya tahu benar bahwa dia. bukan Tuhan, tetapi rakyat banyak yang melarat itu tidaklah dapat diatur dan diperitah dalam tetap taat setia, kalau baginda tidak dikatakan tuhan, dituhankan, diberhalakan.
Ke dalam suasana demikian Musa dan Harun diutus Tuhan.
Maka tidaklah heran jika mulai saja Musa membawa seruan kepada mereka, seketika pulang kembali ke Mesir dari perjalanan membuang diri ke negeri Matiyan, sambutan kepadanya dilakukan dengan sikap angkuh dan sombong."Adakah kita akan percaya kepada dua orang manusia, bukan Tuhan dan bukan Malaikat, bukan dewa, tetapi manusia? Sedangkan raja kita Fir'aun adalah putera dari Dewi lzia dan Ratu Matahari (Orizia). Dan meskipun keduanya manusia seperti kita manusianya ialah manusia kelas rendah pula. Dia dan Bani Israil, keturunan Ya'kub, yang telah beratus tahun menumpang di negeri kita, menjadi budak pelayan kita. Orang dari keturunan inikah yang akan mengajari kita?"
Dengan tegas dan terang mereka menolak kerasulan Musa dan Harun dan dengan tegang dan keras pula Musa menegakkan tugas sucinya, dengan mengemukakan mu'jizat alamat kebesaran Tuhan, namun mereka tidak juga mau tunduk, hingga akhinya mereka dibinasakan. (Tenggelam dalam lautan Outtum seketika mengejar Musa dan Harun yang menyeberangkan kaum Nabi Israil ke negeri asal mereka).
oesor aan segaia aisi Kerajaannya ituj, aan aapat Dam iaran aiaeoerangkan ke bumi asalnya, ke seberang lau1 Qulzum, akan menuju Palestina, Musa mendapat tugas yang baru pula, sambungan daripada tugas yang lama, yaitu memberi tuntunan jiwa umat yang telah dibebaskan itu. Tugas yang baru ini lebih berat pula daripada tugas yang lama.
Setelah selesai tugas melawan Fir'aun, dengan segenap Mangisian jiwa. Sebab kemerdekaan politik belum tentu sebenar-berianya kemerdekaan, sebelum kikia habis jiwa budak yang telah diwarisi beratus-ratus tahun turun-temurun. Sehingga mencapai kemerdekaan, masih saja kelihatan kesan jiwa budak.
Untuk itulah tugas kedua Nabi Musa, mengisi jiwa umatnya dengan Tauhid dan peraturan pergaulan hidup dan kemasyarakatan. Itulah Wahyu Tuhan yang diterimanya sebagai Kitab, yang bernama “Taurat".
Nabi Isa Almasih Dan Ibunya
Akhinya dalam ayat 50 itu, disebutkan pulalah Nabi Isa dan ibunya. Kedatangannya menjadi tanda bukti dari Kekuasaan dan Kesanggupan Tuhan. Dia dilahirkan oleh seorang Anak Dara yang suci, yang terdiriik sejak mulai lahir ke dunia dalam suasana kesucian. Dari anak dara itulah Isa Almasih lahir ke dunia, tidak dengan perantaraan Bapak. Untuk membuktikan bagi isi alam bahwa yang mengatur hukum “sebab akibat" menurut hitungan filsafat buatan manusia itu, adalah Tuhan sendiri. Sekali waktu Tuhan pun sanggup menunjukkan kuasa mengubah kebiasaanNya yang kita namai “sebab akibat" menurut yang biasa kita lihat itu. Di samping sebab akibat taksiran kita, ada lagi berjuta-juta sebab akibat lain, yang Tuhan memegang kunci rahasianya. Maka dilahirkan seorang putera yang suci dari seorang dara yang suci. Itulah Isa anak Maryam dan ibunya sendiri, Maryam. Diberi keduanya tempat perlindungan yang selamat aman, tinggi letaknya dan rata tanahnya, cukup mata-air yang memancarkan air yang jemih untuk minuman mereka, sampai kelak putera itu besar dan dewasa untuk menyampaikan seruan Ilahi kepada kaumnya. Itu yang dinamai Rabwah.
Jika Musa dan Harun bertugas menghadapi Fir'aun dan kelas berkuasa kerajaannya kemudian mengajar kaumnya sendiri sesudah pembebasan, maka kewajiban Isa Almasih dan tugasnya berat lagi. Yang dihartapinya ialah keturunan Israil yang telah diaeberangkan Musa dari Mesir itu. Kaum yang membanggakan diri dengan ajarannya yang lampau, tetapi telah membeku karena kenangan dan tidak sanggup mencipta karya baru. Dan jika datang Nabi baru menyambung usaha Nabi yang dahulu, mereka dustakan Nabi itu. Mereka masih saja membangga bahwa mereka umat pilihan Tuhan, padahal negeri mereka telah kehilangan kemerdekaan samasekali, karena penjajahan bangsa asing (Romawi).
penjahat dan perusuh, tetapi setengahnya lagi, setelah dia pulang kembali ke harihlrat Tuhannya, sepeninggalnya, orang mengangkatnya pula menjadi Tuhan atau anak Tuhan, atau sebagian dari Tuhan yang diausun dan tiga unsur, baru lengkap jadi satu.
Memang berat tugas Nabi-nabi itu. Itulah yang diingatkan dalam ayat-ayat ini diterangkan pula perangai manusia menghadapi seruan suci, dengan keingkaran dan keangkuhannya, dengan kesombongan dan kemewahannya. Namun setiap pendukung cita Nabi itu, tidaklah boleh menghentikan tangannya dan usahanya, menyampaikan seruan kebenaran Tuhan, sampai cerai nyawa dengan badan.
(Dan mereka berkata, "Apakah pantas kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita juga, padahal kaum mereka adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?") yakni kaum Bani Israel; mereka tunduk dan dianggap hina oleh Firaun.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.








