Join over 4 million Quran learners from more than 180 countries
Ayah
Word by Word
قُلۡ
Say
كُلّٞ
Each
يَعۡمَلُ
works
عَلَىٰ
on
شَاكِلَتِهِۦ
his manner
فَرَبُّكُمۡ
but your Lord
أَعۡلَمُ
(is) most knowing
بِمَنۡ
of who
هُوَ
[he]
أَهۡدَىٰ
(is) best guided
سَبِيلٗا
(in) way
قُلۡ
Say
كُلّٞ
Each
يَعۡمَلُ
works
عَلَىٰ
on
شَاكِلَتِهِۦ
his manner
فَرَبُّكُمۡ
but your Lord
أَعۡلَمُ
(is) most knowing
بِمَنۡ
of who
هُوَ
[he]
أَهۡدَىٰ
(is) best guided
سَبِيلٗا
(in) way
Translation
Say, "Each works according to his manner, but your Lord is most knowing of who is best guided in way."
Tafsir
Say: 'Everyone, [including] us and you, acts according to his [own] character, his [own] manner [of conduct], and your Lord knows best who is better guided as to the way', [as to] the path [he follows], and He will reward him [accordingly].
"
Turning away from Allah at Times of Ease and despairing at Times of Calamity
Allah tells:
وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الاِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَوُوسًا
And when We bestow Our grace on man, he turns away and becomes arrogant. And when evil touches him, he is in great despair.
Allah tells us about the weakness that is inherent in man, except for those whom He protects at both times of ease and calamity. If Allah blesses a man with wealth, good health, ease, provision and help, and he gets what he wants, he turns away from the obedience and worship of Allah, and becomes arrogant.
Mujahid said,
""(It means) he goes away from Us.""
I say, this is like the Ayah:
فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَأ إِلَى ضُرٍّ مَّسَّهُ
But when We have removed his harm from him, he passes on as if he had never invoked Us for a harm that touched him! (10:12)
and;
فَلَمَّا نَجَّـكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ
But when He brings you safe to land, you turn away. (Ayah 67)
When man is stricken with evil, which means disasters, accidents and calamities,
كَانَ يَوُوسًا
he is in great despair,
meaning that he thinks he will never have anything good again.
As Allah says,
وَلَيِنْ أَذَقْنَا الاِنْسَـنَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَيُوسٌ كَفُورٌ
وَلَيِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَأءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّيَاتُ عَنِّي إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ
إِلاَّ الَّذِينَ صَبَرُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَاتِ أُوْلَـيِكَ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
And if We give man a taste of mercy from Us, and remove it from him, verily, He is despairing, ungrateful. But if We let him taste good after evil has touched him, he is sure to say:""Ills have departed from me.""
Surely, he is exultant, and boastful. Except those who show patience and do righteous good deeds:those, theirs will be forgiveness and a great reward. (11:9-11)
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ
Say:""Each one does according to Shakilatihi...""
Ibn `Abbas said,
""According to his inclinations.""
Mujahid said,
""According to his inclinations and his nature.""
Qatadah said,
""According to his intentions.""
Ibn Zayd said,
""According to his religion.""
All these suggestions are close in meaning.
This Ayah - and Allah knows best - is a threat and a warning to the idolators, like the Ayah:
وَقُل لِّلَّذِينَ لَا يُوْمِنُونَ اعْمَلُواْ عَلَى مَكَانَتِكُمْ
And say to those who do not believe:""Act according to your ability and way."" (11:121)
So Allah says:
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلً
Say:""Each one does according to Shakilatihi, and your Lord knows best of him whose path is right.""
meaning either us or you. Everyone will be rewarded in accordance with his deeds, for nothing whatsoever is hidden from Allah."
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Commentary
Regarding the explanation of the word: شاکِلَۃ (shakilah) in verse 84: كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ (Everyone acts in his own style), several interpretations have been reported from authorities among the early righteous elders,
such as, disposition, habit, instinct, intention, way or manner. In sum, all these turn into a second nature in terms of the circumstances, habits and customs everyone lives with. Thus, what one does remains subservient to it. (Qurtubi) In this verse, human beings have been warned that they must abstain from bad surroundings, bad company and bad habits and take to the company of good people and inculcate good habits (a1-Jassas). The reason, as stated earlier, is that one's response pattern built up under the influence of surrounding, company and custom makes one do what it dictates. Imam al-Jassas has also given another meaning of 'shakilah' at this place, that of 'like.' Given this meaning, the sense of the verse would be that everyone feels comfortable with a person who is compatible with one's temperament. A good man finds another good man familiar while a wicked man feels comfortable with another wicked man whose style he follows without any qualms of conscience. An example of this behavior pattern appears in what Allah says in the Qur’ an: الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ (Evil women are for evil men - 24:26) and وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ (Good women are for good men - 24:26). It means that everyone strikes familiarity with a man or woman according to one's own temperament. In short, this too is a warning against falling into bad company and bad habits. One should really make an effort to abstain from these.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Al-Isra: 83-84
Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan membelakang dengan sikap sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. Katakanlah, "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.”
Ayat 83
Allah ﷻ menyebutkan tentang kekurangan diri manusia secara apa adanya, kecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah ﷻ dalam dua keadaan, yaitu keadaan senang dan sengsara. Karena sesungguhnya bila Allah memberinya nikmat berupa harta, kesehatan, kemenangan, rezeki, pertolongan, dan memperoleh apa yang diinginkannya, maka ia berpaling, tidak mau mengerjakan ketaatan kepada Allah, tidak mau menyembah-Nya, serta berpaling membalikkan tubuhnya. Menurut Mujahid, makna membelakang dengan sikap sombong adalah menjauh dari Allah.
Menurut kami, ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.” (Yunus: 12). “Maka tatkala Dia telah menyelamatkan kalian ke daratan, kalian berpaling.” (Al-Isra: 67)
Bahwa manusia itu apabila tertimpa malapetaka dan musibah, niscaya dia berputus asa. (Al-Isra: 83) Yakni putus harapan untuk dapat kembali normal dan putus asa untuk mendapat kebaikan sesudah kesusahannya itu, sama dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya: “Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, "Telah hilang bencana-bencana itu dariku, sungguh dia sangat gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.” (Hud: 9-11)
Ayat 84
Adapun firman Allah ﷻ: Katakanlah, "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing." (Al-Isra: 84)
Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan 'ala syakilatihi ialah menurut keahliannya masing-masing. Menurut Mujahid, makna yang di maksud ialah menurut keadaannya masing-masing. Menurut Qatadah adalah menurut niatnya masing-masing. Sedangkan Ibnu Zaid mengatakan menurut keyakinannya masing-masing. Semua definisi yang disebutkan di sini berdekatan maknanya.
Ayat ini mengandung makna ancaman terhadap orang-orang musyrik dan peringatan bagi mereka. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan Allah ﷻ dalam ayat lain, yaitu: "Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman, ‘Berbuatlah menurut kemampuan kalian’.” (Hud: 121), hingga akhir ayat. Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:
"Katakanlah, ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.’ Maka Tuhan kalian lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (Al-Isra: 84) di antara kami dan kalian, dan kelak Dia akan membalas setiap orang yang beramal sesuai dengan amal perbuatannya. Sesungguhnya tiada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.
Katakanlah wahai Nabi Muhammad, Setiap orang berbuat sesuai
dengan keadaannya masing-masing, yakni sesuai pembawaannya, caranya
dan kecenderungannya dalam mencari petunjuk dan menempuh jalan
menuju kebenaran. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih
benar jalannya dan siapa yang lebih sesat jalannya. Kepada setiap orang
dari kedua golongan itu Tuhan memberikan balasan sesuai dengan
perbuatannya. Dan mereka, yakni orang-orang kafir Mekah bertanya kepadamu wahai
Nabi Muhammad tentang roh, apakah hakikat roh itu. Katakanlah, Roh
itu termasuk urusan Tuhanku, hanya Dia yang mengetahui hakikat roh
itu dan tidaklah kamu wahai manusia diberi pengetahuan kecuali sedikit
dibandingkan dengan keluasan objek yang diketahui atau dibandingkan
dengan ilmu Allah.
Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan kepada umatnya agar mereka bekerja menurut potensi dan kecenderungan masing-masing. Semuanya dipersilakan bekerja menurut tabiat, watak, kehendak, dan kecenderungan masing-masing. Allah ﷻ sebagai Penguasa semesta alam mengetahui siapa di antara manusia yang mengikuti kebenaran dan siapa di antara mereka yang mengikuti kebatilan. Semuanya nanti akan diberi keputusan yang adil.
Allah berfirman tentang perintah bekerja:
Katakanlah (Muhammad), "Wahai kaumku! Berbuatlah menurut kedudukanmu, aku pun berbuat (demikian). Kelak kamu akan mengetahui, siapa yang akan memperoleh tempat (terbaik) di akhirat (nanti). Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung. (al-An'am/6: 135)
.
“Dan Kami turunkan di dalam Al-Qur'an itu sesuatu yang menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(pangkal ayat 82)
Tegas ayatini bahwa di dalam Al-Qur'an ada obat-obat dan rahmat bagi orang yang beriman. Banyak penyakit yang bisa disembuhkan oleh Al-Qur'an. Dan memang banyak penyakit yang menyerang jiwa manusia, dapat disembuhkan oleh ayat-ayat Al-Qur'an. Kesombongan ada-lah penyakit. Maka kalau dengan saksama dibaca ayat-ayat yang menyatakan kebesaran dan kekuasaan Ilahi, akan sembuhlah penyakit. sombong itu. Kita akan insaf bahwa kita ini hanya makhluk kecil, yang berasal dari setitik mani. Hasad atau dengki adalah penyakit. Maka kalau kita baca ayat-ayat yang menerangkan bahwa perbedaan bawaan bakat manusia tidak sama, namun sebagian tetap memerlukan yang lain, berangsurlah hilang penyakit dengki itu. Sungguh banyak penyakit jiwa dapat disembuhkan oleh ayat-ayat Al-Qur'an. Penyakit putus asa, malas, bodoh, mementingkan diri sendiri, rasa tamak, mata keranjang, dan sebagainya.
Ulama-ulama tafsir kadang-kadang menyebut juga bahwa penyakit badan pun bisa disembuhkan dengan ayat-ayat Al-Qur'an sampai ada ditulisi ayat-ayat Al-Qur'an dan digan-tungkan di tubuh. Tetapi cara yang begini sudah jauh sekali menyimpang dari tujuan ayat ini. Sungguhpun demikian diakui juga dalam ilmu tabib modern bahwa banyak juga penyakit tubuh berasal dari sakit jiwa. Timbullah ilmu pengobatan psikosomatik menyelidiki penyakit dari si sakit misalnya kekecewaan-kekecewaan, kegagalan, dan lain-lain yang kian lama kian mempengaruhi badan kasar. Bukankah karena kesusahan hati napas jadi sesak dan segala penyakit badan pun terasa. Penyakit di badan diobat dengan obat biasa. Tetapi penyakit di jiwa dengan apa diobat kalau bukan dengan resep yang mengenai jiwa pula. Sebab itu ahli psikosomatik dapat menyelidik dan mengobati penyakit pada tubuh kasar dengan terlebih dahulu mengobati kekecewaan jiwa tadi. Ahli-ahli kejiwaan Islam, seumpama Imam Ghazali, Ibnu Hazm, Ibnu Maskawaihi, Ibnu Sina, Ibnu Taimiyah, dan lain-lain banyak membicarakan ilmu thibb ar-ruhari ketabiban ruhari itu.
Ahli psikosomatik di Indonesia, yaitu Prof. Dr. Aulia, yakin bahwa apabila seorang sakit benar-benar kembali kepada ajaran agamanya, amat diharap sakitnya akan sembuh. Beliau berpendapat betapa besar pengaruh ajaran tauhid, yang mengandung ikhlas, sabar, ridha, tawakal, dan tobat, besar pengaruhnya meng-obat sakit merana jiwa seorang Muslim. Dan beliau juga amat menganjurkan berobat dengan shalat dan doa. Orang Kristen pun disuruhnya taat dalam agamanya.
Tetapi ujung ayat ini melanjutkan,
“Dan tidaklah menambah untuk orang-orang yang aniaya, selain kerugian."
(ujung ayat 82)
Orang yang aniaya ialah yang menganiaya diri sendiri sebab membiarkan jiwa terus-menerus dalam kegelapan. Penyakit jiwa mereka jadi bertambah merana, mereka tidak mau mengobat jiwa dengan Al-Qur'an, dengan si tawarsi dingin yang didatangkan dari langit. Maka pada ayat selanjutnya diterangkan gejala-gejala dari jiwa yang sakit itu, yang sangat memerlukan obat,
“Dan bila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia pun berpaling dan menjauhkan diri"
(pangkal ayat 83)
Dia berpaling dari kebenaran dan lupa kepada Yang Memberikan nikmat, bahkan sengaja dia menjauhkan diri dari jalan-jalan yang benar. Dirasanya seakan-akan agama itu akan mengikat kebebasannya. Dia hidup seperti lintah yang ke-genangan air. Dia tidak mensyukuri nikmat itu, bahkan dia bersikap seakan-akan nikmat itu adalah buah usaha dan kecerdikannya sendiri. Padahal Tuhan Allah itu mudah saja memberi dan semudah itu pula mencabut nikmatnya.
"Dan apabila menimpa akan kejahatan, dia pun sangat berputus asa."
(ujung ayat 83)
Mengapa timbul putus asa setelah keja hatan, atau sesuatu yang tidak diingini terjadi? Seumpama angin yang telah berkisar. Atau seumpama panas yang disangka akan sampai petang, rupanya hujan pun turun tengah hari. Mengapa putus asa? Betapa tidak akan putus asa? Padahal dari semula jiwanya tidak terlatih akan berhubungan dengan Khaliqnya. Putus asa adalah gelaja dari penyakit jiwa yang salah melimpah kepada dirinya itu, jiwanya kosong dari alat buat menyambut, dan setelah nikmat itu dicabut, bertambah kosong jiwa. Sehingga tidak tahu lagi apa yang akan diperbuatnya.
Ayat 83 ini bertali dengan ayat yang sebelumnya, menjadi peringatan bagi manusia agar menjaga jiwa jangan sakit. Sakit badan masih dapat diobat, sakit jiwa siapa yang tahu! Al-Qur'an inilah obat! Dia adalah laksana resep dari kehidupan. Induk obat ialah syukur ketika nikmat datang dan sabar jika cobaan datang menimpa. Begitulah jiwa baru sehat. Selamat dunia dan akhirat. Di dunia ialah hati yang terang dan kegembiraan hidup, dan di akhirat ialah nikmat karunia Allah yang berlipat ganda.
BEKERJA MENURUT BAKAT
Kemudian datanglah ayat yang selanjutnya,
“Katakanlah, “Tiap-tiap orang beramal menurut bawaannya."
(pangkal ayat 84)
Dalam ayat ini tersebut syakilatihi yang telah kita artikan bawaannya. Karena tiap-tiap manusia itu ada pembawaannya masing-masing yang telah ditentukan Allah sejak masih diguligakan dalam rahim ibunya. Pembawaan itu ada macam-macam, berbagai warna, berbagai rupa, berbagai perangai, aneka ragam, sehingga yang satu tidak serupa dengan yang lain. Iklim atau alam tempat kita dilahirkan, entah kita orang pulau entah kita orang darat. Entah orang yang hidup di pegunungan entah hidup di tepi laut. Entah di daerah khatulistiwa ataupun di negeri yang mengandung empat musim, semuanya membuat syakilah. Demikian juga lingkungan orang tua yang melahirkan, demikian juga pendidikan dan pergaulan di waktu kecil, demikian juga pengalaman dan perantauan dan perlawatan, semuanya membuat bentuk jiwa.
Dalam pada itu tidak ada manusia yang serupa, kabarnya lebih tiga ribu juta manusia dalam dunia ini di zaman sekarang, tidaklah ada yang serupa. Sampai pun bunyi suaranya tidaklah serupa. Sidik jarinya tidaklah serupa. Maka di dalam ayat ini disuruhlah manusia itu bekerja selama hidup di dunia ini menurut bawaannya masing-masing itu. Sebab itu sudah seyogianya manusia itu mengenal siapa dirinya, supaya mudah dia menempuh jalan yang mudah ditempuh oleh bawaan dirinya itu. Supaya hidupnya jangan gagal dan jiwanya jangan sakit. Dan semua amal dalam dunia ini adalah baik dan mulia, asal saja dilakukan dalam garis yang ditentukan Allah. Itu sebabnya maka lanjutan ayat berbunyi,
“Maka Tuhan kamu lebih tahu siapa dia yang telah lebih mendapat petunjuk penjalanannya."
(ujung ayat 84)
Memang Allah-lah yang lebih mengetahui ke mana jalan yang patut ditempuh dalam kita beramal, yang sesuai dengan bawaan atau yang disebut juga bakat. Oleh sebab itu maka di dalam mencari siapa sebenarnya diri
kita itu menjadi syarat mutlak kita mendekati Allah selalu, mencari ridha-Nya, melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan menghentikan apa yang dilarang-Nya. Maka dengan kepatuhan kepada Allah, Dia berjanji akan menunjuki kita jalan. (Perhatikan ayat peng-habisan dan surah al-'Ankabuut, ayat 69, dalam juz kedua puluh).
(Katakanlah, "Tiap-tiap orang) di antara kami dan kalian (berbuat menurut keadaannya masing-masing) yakni menurut caranya sendiri-sendiri (Maka Rabb kalian lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya") maka Dia akan memberi pahala kepada orang yang lebih benar jalannya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.








