Join over 4 million Quran learners from more than 180 countries
Ayah
Word by Word
وَإِن
And indeed
كَادُواْ
they were about (to)
لَيَفۡتِنُونَكَ
tempt you away
عَنِ
from
ٱلَّذِيٓ
that which
أَوۡحَيۡنَآ
We revealed
إِلَيۡكَ
to you
لِتَفۡتَرِيَ
that you invent
عَلَيۡنَا
about Us
غَيۡرَهُۥۖ
other (than) it
وَإِذٗا
And then
لَّٱتَّخَذُوكَ
surely they would take you
خَلِيلٗا
(as) a friend
وَإِن
And indeed
كَادُواْ
they were about (to)
لَيَفۡتِنُونَكَ
tempt you away
عَنِ
from
ٱلَّذِيٓ
that which
أَوۡحَيۡنَآ
We revealed
إِلَيۡكَ
to you
لِتَفۡتَرِيَ
that you invent
عَلَيۡنَا
about Us
غَيۡرَهُۥۖ
other (than) it
وَإِذٗا
And then
لَّٱتَّخَذُوكَ
surely they would take you
خَلِيلٗا
(as) a friend
Translation
And indeed, they were about to tempt you away from that which We revealed to you in order to [make] you invent about Us something else; and then they would have taken you as a friend.
Tafsir
The following was revealed regarding the [tribe of] Thaqeef, for they had asked him [the Prophet] may peace and salutation be upon him to declare their valley inviolable and implored him [to grant them this request]: And indeed (wa-in, [the particle in is] softened) they were about to, they nearly did, beguile you away from that which We revealed to you, so that you might invent against Us [something] other than that; and then, had you done that, they would have taken you as a friend.
How the Prophet would have been punished if He had given in at all to the Disbelievers' Demands that He change some of the Revelation
Allah tells us that;
How He supported His Prophet and protected him and kept him safe from the evil plots of the wicked transgressors.
Allah is the One Who took care of him and helped him, and would not leave him to any of His creation.
He is the One Who is His Helper, Supporter and Protector, the One Who is to help him achieve victory and make His religion prevail over those who resist him and oppose him and fight him in the east and in the west.
May Allah send peace and blessings upon him until the Day of Judgement
The Reason why these Ayat were revealed
Allah said:
وَإِن كَادُواْ لَيَسْتَفِزُّونَكَ مِنَ الَارْضِ لِيُخْرِجوكَ مِنْهَا وَإِذًا لاَّ يَلْبَثُونَ خِلفَكَ إِلاَّ قَلِيلً
And verily, they were about to frighten you so much as to drive you out from the land. But in that case, they would not have stayed (therein) after you, except for a little while.
This was revealed concerning the disbelievers among the Quraysh, when they wanted to expel the Messenger of Allah from among themselves. So Allah issued a warning to them in this Ayah, telling them that if they expelled him, they would not stay in Makkah for very long after that. And this is what happened after he migrated from them when their persecution became so intense. Only a year and a half after that, Allah brought him and them together on the battlefield of Badr, without any pre-arranged appointment, and He caused him to prevail over them and defeat them, so he killed their leaders and took their families as captives.
Hence Allah said:
.
سُنَّةَ مَن قَدْ أَرْسَلْنَا
قَبْلَكَ مِن رُّسُلِنَا وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلً
A Sunnah with which We sentOur Messengers before you and you will not find any alteration in Our Sunnah.
meaning this is what We usually do to those who reject Our Messengers and persecute them by driving the Messenger out from among themselves - the punishment comes to them. If it were not for the fact that the Prophet was the Messenger of Mercy, vengeance would have come upon them such as had never been seen before in this world.
So Allah says:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ
And Allah would not punish them while you are among them. (8:33)
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Commentary
Out of the verses appearing above, the first three relate to a particular event. To determine it precisely, Tafsir Mazhari carries some relevant reports. The event which is closer and more supportive in terms of the indicators set in the Qur'an is what has been reported by Ibn Abi Hatim as based on a narrative of Sayyidna Jubayr ibn Nufayr. According to this report, some chiefs of the Quraysh of Makkah came to the Holy Prophet ﷺ and said: 'If you have been really sent to us, you should remove these poor and broken down people from around you, for sitting with such people is a matter of insult for us. If you do that, we too will become your companions and friends.' When they said this, the Holy Prophet ﷺ somewhat leaned towards the idea that he might do someth-ing like that as suggested by them in the hope that they may, perhaps, become Muslims. Thereupon, this verse was revealed.
Through this verse, the Holy Prophet ﷺ was sounded that their suggestion was a fitnah and the friendship they were talking about was also a fitnah (a trial or test or a ruse to tempt him into creating discord in his ranks). Therefore, he should not accept it. After that, the text says: Had your Lord not been particular about your grooming and fortitude, it was not too far out that you could have come somewhat closer to tilting towards their proposal.
From this verse, says Tafsir Mazhari, it is clearly understood that there was just no probability of the Holy Prophet ﷺ ever tilting towards such absurd demands from the Quraysh disbelievers. Yes, coming close to tilting, and that too within a very insignificant limit, was probable. But, by making him ma` sum (protected, infallible), Allah Ta’ ala saved him from drifting even to that limit. If we were to think about it, this verse provides a great proof of the highest moral disposition with which all prophets (علیہم السلام) were blessed. So, had there been even no shield of prophetic infallibility, still such was the natural disposition of the Prophet of Islam that tilting towards the absurd proposal of disbelievers would have never been possible for him. However, there did exist the probability of his coming somewhat closer, in an insignificant measure, towards the act of tilting - something terminated by the prophetic infallibility.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Al-Isra: 73-75
Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami, dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.
Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir saja condong sedikit kepada mereka;
Kalau terjadi demikian, sungguh Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu pula (siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.
Ayat 73-75
Allah ﷻ menceritakan tentang dukungan-Nya kepada Rasul-Nya, bahwa Dia meneguhkan pendiriannya, memeliharanya serta menyelamatkannya dari kejahatan orang-orang yang jahat dan tipu muslihat orang-orang yang durhaka. Dialah yang mengatur urusannya serta menolongnya, Dia tidak akan menyerahkannya kepada seorang pun dari kalangan makhlukNya, bahkan Dialah Penolong, Pelindung, Pemelihara, Pendukung, dan Yang memenangkan agamanya terhadap semua orang yang memusuhi dan menentangnya, baik yang ada di belahan timur maupun yang ada di belahan barat. Semoga Allah melimpahkan salam kepadanya sebanyak-banyaknya sampai hari kiamat.
Orang-orang kafir berupaya agar Nabi Muhammad mau menuruti
keinginan mereka, menyampaikan sesuatu yang lain dari apa yang diwahyukan oleh Allah. Nabi terdorong oleh harapannya yang sangat
kuat agar mereka masuk Islam, hampir saja tergoda oleh bujuk rayu
orang-orang kafir itu, akan tetapi Allah meneguhkan hatinya sehingga
keinginan orang kafir itu tidak terlaksana. Dan mereka, orang-orang kafir, hampir memalingkan engkau wahai Nabi Muhammad dari apa yang
telah Kami wahyukan kepadamu, yaitu menyangkut perintah dan larangan, janji dan ancaman yang terkandung dalam Al-Qur'an, dan menyuruhmu agar engkau mengada-ada menyampaikan sesuatu yang lain dari
apa yang termaktub dalam Al-Qur'an itu terhadap Kami; dan jika engkau berbuat demikian tentu mereka menjadikan engkau sahabat yang setia,
sebab engkau menuruti kehendaknya dan melaksanakan perintahnya. Dan sekiranya Kami tidak memperteguh hatimu, untuk menolak kehendak dan keinginan mereka niscaya engkau hampir saja condong sedikit
kepada mereka, disebabkan karena mereka berupaya sangat keras membujukmu agar engkau menyampaikan sesuatu yang lain dari apa yang
Kami wahyukan kepadamu.
Dalam ayat ini dijelaskan usaha yang dilakukan kaum musyrikin Quraisy untuk menipu Nabi Muhammad ﷺ, sehingga beliau hampir saja teperdaya, berpaling dari wahyu yang telah diterimanya dari Allah ﷻ, dan memenuhi permintaan mereka agar mengakui tuhan-tuhan mereka. Karena perlindungan Allah, Nabi tetap bisa teguh pendiriannya dalam menyebarkan dakwah, walaupun tekanan dari orang-orang Quraisy semakin hebat.
Allah mengingatkan Rasul-Nya, kalau ia mengikuti apa yang mereka kehendaki, mereka tentu akan mengambilnya sebagai sahabat atau mengangkatnya menjadi pemimpin. Mereka juga akan menyatakan di hadapan manusia bahwa Nabi ﷺ telah menyetujui dan mengakui agama mereka. Dengan demikian, Nabi ﷺ akan terjauh dari petunjuk dan bimbingan Allah ﷻ
UJIAN PERJUANGAN RASULULLAH ﷺ
Memang hebatlah perjuangan yang dihadapi oleh utusan Allah ﷺ itu. Siang dan malam kaum musyrikin yang memusuhinya itu mencari berbagai ikhtiar untuk menangkis segala ajaran Nabi dan menggagalkannya. Salah satu usaha yang mereka rencanakan ialah dengan mendekati beliau, berlaku ramah kepada beliau dan membujuk-bujuk. Karena dengan kekerasan tidak laku, mereka hendak mencoba cara lunak. Mereka minta agar celaan kepada berhala yang mereka sembah dan puja dikurangi. Sehingga pernahlah terjadi, seketika beliau thawaf keliling Ka'bah, sesampai di Hajarul Aswad (batu hitam) beliau cium batu itu menurut kebiasaan, sebagai memberi hormat. Tiba-tiba datanglah seorang di antara pemuka musyrik itu mendekati beliau dan meminta agar berhala mereka yang tertegak di dekat batu itu beliau jamah juga agak sedikit. Namun beliau tidak mau. Begitulah menurut satu riwayat dari Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan Sa'id bin Jubair.
Kalau beliau sudi memperlunak sikap agak sedikit, mereka akan sudi berkawan dan ketegangan akan dapat dikurangi.
Tetapi bagaimana sikap beliau? Senyum tetap senyum, tetapi pendirian yang pokok tidak dapat diubah walaupun sedikit. Inilah yang disindirkan Allah pada ayat selanjutnya ini,
“Dan sesungguhnya nyarislah mereka memfitnahkan engkau dari yang telah Kami wahyukan kepada engkau."
(pangkal ayat 73)
Memfitnahkan di sini ialah membujuk dan merayu, “Supaya engkau ada-adakan yang lainnya di atas nama Kami," supaya pendirian yang telah ditentukan Allah menegakkan tauhid dapat diubah agak sedikit.
“Kalau mau begitu, niscaya mereka jadikan engkau kawan."
(ujung ayat 73)
Kalau mau begitu, mereka tidak akan memusuhi engkau lagi. Tetapi habislah apa yang diperjuangkan. Padahal satu pendirian yang baru, yang ingin mengubah apa yang tetah terbiasa dipakai orang, pastilah dimusuhi.
Lalu pada ayat berikutnya Allah menjelaskan pertolongan-Nya kepada Rasul-Nya,
“Jika tidak Kami teguhkan engkau, nyanis-tah engkau condong kepada mereka agak sedikit"
(ayat 74)
Artinya dengan pertolongan Allah jualah hati Nabi Muhammad ﷺ diteguhkan.
Dengan firman Allah demikian itu dapatlah kita memahami bahwa berjuang menghadapi lawan yang bersikap secara halus dan lemah lembut kadang-kadang lebih sukar daripada menghadapi sikap mereka yang kasar. Kalau bukan Allah yang menolong, bisa saja hati Nabi Muhammad ﷺ lemah dan kendur karena sikap lunak lawan itu.
“Kalau begitu,"
(pangkal ayat 75)
Yaitu kalau jadi hati engkau condong karena sikap mereka yang lemah lembut membujuk itu."Niscaya akan Kami rasakan kepada engkau dua ganda kesusahan hidup dan dua ganda kesusahan mati." Artinya, penderitaan yang akan engkau rasai karena menurutkan bujukan halus mereka itu adzab dunia (hidup) dua kali dan adzab akhirat (mati) dua kali pula. Tegasnya bahwa tanggung jawab seorang rasul yang menerima amanah begitu berat dari Allah adalah amat besar, lipat ganda dari tanggung jawab manusia biasa. Sebagaimana disebutkan Allah juga di dalam surah al-Ahzab ayat 30, bahwa istri Rasulullah kalau berbuat suatu dosa yang keji, mereka pun ditimpa adzab siksaan Allah berlipat ganda daripada yang diterima manusia biasa."Kemudian, tidak akan engkau dapati untuk engkau terhadap Kami, seorang penolong pun."
(ujung ayat 75) Artinya Allah sangat murka kepadamu, siksaan yang akan engkau terima berganda dua kali dari yang diterima manusia biasa, dan kalau itu kejadian, yaitu Allah murka, tidak siapa-siapa pun yang dapat membela engkau berhadapan dengan Allah.
“Dan jika pun nyaris mereka halaukan engkau dari bumi, untuk mengeluarkan engkau darinya."
(pangkal ayat 76)
Ada dua macam pendapat tentang sebab turun ayat ini. Menurut Abdurrahman bin Ghanam ialah tipuan orang Yahudi di Madinah, yang menganjurkan Nabi ﷺ supaya berpindah saja dari Madinah ke Syam, sebab di Syam itulah dari zaman dahulu kala kedudukan nabi-nabi. Sebab itu maka ketika Nabi ﷺ pergi ke Peperangan Tabuk, yang sudah dekat ke Syam, sudah ada maksud beliau meneruskan perjalanan ke sana. Tetapi menurut Mujahid dan Qatadah ayat ini masih ayat Mekah, dan surah ini adalah surah Makkiyah, menerangkan sudah ada sejak semula maksud orang Quraisy hendak menghalau atau mengusir Nabi ﷺ dari bumi Mekah; biar dia pindah ke tempat lain, supaya mereka itu tidak terganggu lagi menyembah berhala mereka."Dan kalau terjadi demikian, tidaklah akan lama mereka sepeninggal engkau." Tidaklah akan lama mereka bersenang diri dan berkuasa. Sebab ajaran yang dibawa Rasulullah itu tidak akan bertambah kucut, melainkan akan kian berkembang:
“kecuali hanya sebentar."
(ujung ayat 76)
Sebentar saja, taruhlah setahun dua, niscaya akan jatuhlah pamor mereka dan runtuhlah pertahanan mereka. Sebab yang mereka pertahankan itu hanyalah yang batil.
“Jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang telah Kami utus sebelum engkau dari (kalangan) rasut-rasut Kami."
(pangkal ayat 77)
Artinya, apa yang engkau alami sekarang ini, begini juga yang dialami oleh orang-orang yang telah Kami utus sebelum engkau. Tidak ada seorang nabi pun atau rasul yang tidak menempuh kesukaran dalam perjuangan menegakkan perintah Allah di muka bumi ditantang, dikerasi, dibujuk, dan dicumbu agar berganjak dari pendirian dan berubah agak sedikit dari aqidah.
“Dan tidaklah ada pada jalan yang telah Kami tetapkan itu suatu perubahan pun."
(ujung ayat 77)
Akan menghindar dari kesulitan ini tidaklah dapat. Segala rasul utusan Allah mesti menderita yang demikian. Dibenci dan disengsarakan namun mereka tidak boleh mundur setapak jua pun. Berganjak dari pendirian sedikit saja pun artinya ialah melalaikan kewajiban. Memperturutkan kehendak mereka itu agak sedikit, berarti dosa, berarti mengubah pendirian batin. Karena sekali mereka telah diberi hati, mereka akan terus, dan pasti kepercayaan umat yang mengikutmu akan berkurang kalau engkau mundur.
Oleh sebab itu apakah jalan keluar? Datanglah ayat seterusnya.
(Dan sesungguhnya) huruf in di sini adalah bentuk takhfif daripada inna (mereka hampir) hampir-hampir saja (memalingkan kamu) menyimpangkan kamu (dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu) seandainya kamu melakukan hal itu (tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat-sahabat yang setia.).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.








