Join over 4 million Quran learners from more than 180 countries
Ayah
Word by Word
وَيَدۡعُ
And prays
ٱلۡإِنسَٰنُ
the man
بِٱلشَّرِّ
for evil
دُعَآءَهُۥ
(as) he prays
بِٱلۡخَيۡرِۖ
for the good
وَكَانَ
And is
ٱلۡإِنسَٰنُ
the man
عَجُولٗا
ever hasty
وَيَدۡعُ
And prays
ٱلۡإِنسَٰنُ
the man
بِٱلشَّرِّ
for evil
دُعَآءَهُۥ
(as) he prays
بِٱلۡخَيۡرِۖ
for the good
وَكَانَ
And is
ٱلۡإِنسَٰنُ
the man
عَجُولٗا
ever hasty
Translation
And man supplicates for evil [when angry] as he supplicates for good, and man is ever hasty.1
Footnotes
1 - i.e., impatient, emotional, and acting without forethought.
Tafsir
And man prays for ill, against himself and his family when he is frustrated, as [avidly as] he prays for good. And mankind is ever hasty, to pray against himself, without contemplating the consequence thereof.
"Praising the Qur'an
Allah praises His noble Book,
إِنَّ هَـذَا الْقُرْانَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
Verily, this Qur'an guides to that which is most just and right
Allah praises His noble Book, the Qur'an, which He revealed to His Messenger Muhammad. It directs people to the best and clearest of ways.
وَيُبَشِّرُ الْمُوْمِنِينَ
and gives good news to those who believe, (in it)
الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ
those who do righteous deeds,
in accordance with it, telling them,
أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
that they will have a great reward,
i.e., on the Day of Resurrection.
And He tells
وأَنَّ الَّذِينَ لاأَ يُوْمِنُونَ بِالاأخِرَةِ
those who do not believe in the Hereafter,
أَعْتَدْنَا
We have prepared
لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
for them is a painful torment,
i.e. on the Day of Resurrection.
As Allah says:
فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
then announce to them a painful torment. (84:24)
Man's Haste and Prayers against Himself
Allah tells;
وَيَدْعُ الاِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءهُ بِالْخَيْرِ
And man invokes (Allah) for evil as he invokes (Allah) for good and man is ever hasty.
Allah tells us about man's haste and how he sometimes prays against himself or his children or his wealth, praying for something bad to happen for them, or for them to die or be destroyed, invoking curses, etc. If Allah were to answer his prayer, he would be destroyed because of it, as Allah says:
وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ
And were Allah to hasten for mankind the evil... (10:11)
This is how it was interpreted by Ibn Abbas, Mujahid and Qatadah.
We have already discussed the Hadith:
لَاا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَاا عَلَى أَمْوَالِكُمْ أَنْ تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةَ إِجَابَةٍ يَسْتَجِيبُ فِيهَا
Do not pray against yourselves or your wealth, for that might coincide with a time when Allah answers prayers.
What makes the son of Adam do that is his anxiety and haste.
Allah says:
وَكَانَ الاِنسَانُ عَجُولاً
And man is ever hasty.
Salman Al-Farisi and Ibn Abbas mentioned the story of Adam, when he wanted to get up before his soul reached his feet.
When his soul was breathed into him, it entered his body from his head downwards. When it reached his brain he sneezed, and said,
""Al-Hamdu Lillah"" (praise be to Allah),
and Allah said, ""May your Lord have mercy on you, O Adam.""
When it reached his eyes, he opened them, and when it reached his body and limbs he started to stare at them in wonder.
He wanted to get up before it reached his feet, but he could not.
He said, ""O Lord, make it happen before night comes."""
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Perhaps, it is based on this congruity that it was said in verse 11 that man would, on occasions, pray for something in a haste, something that spells out destruction for him. If Allah Ta` ala were to answer such a prayer, he would be ruined. But, Allah Ta’ ala does not answer such prayers instantly until man himself comes to realize that his prayer was made in error and that it was fatal for him. Then, in the last sentence of this very verse, a natural weakness of man has been mentioned in the form of a standing rule - that man is, by nature, haste-prone. He keeps his sight trained on passing profit and loss and falls short on foresight and hindsight. He loves to go for the immediate gain and comfort, even if it happens to be only a little. He would not bat an eye to prefer it to the greater and more lasting gain and comfort. In short, this verse points out to a natural weakness of human beings in general.
And some authorities in Tafsir have taken this verse to be related to a particular event. The event they refer to concerns Nadr ibn Harith who had made a prayer in the heat of his hostility to Islam saying:
اللھُمَّ اِن کَانَ ھٰذَا ھوُالحَقَّ مِن عندِکَ فَاَمطِر عَلَینَا حِجارَۃً مَّنَ السَّمَآِء اَوأتنا بِعَذَاب اَلِیم
O Allah, if this [ Islam ] is the truth from You, then, rain down on us rocks from the skies or send upon us some other painful punishment.
In that case, 'al-insan' of the text would be referring to those mentioned above, or those like them.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat An-Nahl: 11
Dan manusia (seringkali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa.
Allah ﷻ menceritakan tentang sifat manusia yang tergesa-gesa dan doa yang dilakukannya dalam keadaan tertentu untuk keburukan dirinya atau anaknya atau harta bendanya. Yang dimaksud dengan keburukan ini adakalanya ingin mati, atau binasa, atau kehancuran, dan laknat serta lain sebagainya yang buruk akibatnya. Seandainya Allah mengabulkan doanya, niscaya binasalah dia. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah ﷻ dalam ayat yang lain melalui firman-Nya: “Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia.” (Yunus: 11), hingga akhir ayat.
Hal yang sama telah ditafsirkan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Janganlah kalian berdoa untuk keburukan diri kalian, jangan pula untuk keburukan harta benda kalian, karena dikhawatirkan doa kalian akan bertepatan dengan sa'atul ijabah, lalu diperkenankan bagi kalian doa itu. Sesungguhnya yang mendorong seseorang melakukan hal seperti ini hanyalah rasa kekhawatiran dan sifat ketergesa-gesaannya. Maka di dalam ayat selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya: “Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa.” (Al-Isra: 11).
Salman Al-Farisi dan Ibnu Abbas dalam bab ini telah menyebutkan kisah Nabi Adam a.s. ketika ia berniat akan bangkit berdiri sebelum roh yang ditiupkan ke dalam tubuhnya sampai ke bagian kedua kakinya. Demikian itu karena peniupan roh dimulai dari bagian kepalanya. Setelah roh sampai ke bagian otaknya, Maka Nabi Adam bersin dan mengucapkan, "Alhamdulillah (segala puji bagi Allah)", lalu dijawab oleh Allah melalui firman-Nya, "Hai Adam, Tuhanmu merahmati kamu." Setelah roh sampai pada bagian kedua matanya, maka kedua matanya terbuka, lalu mengalir ke bagian tubuhnya, dan Adam memperhatikan tubuhnya dengan penuh rasa takjub. Maka ia berupaya untuk bangkit berdiri sebelum roh sampai ke bagian kedua kakinya, tetapi ternyata ia tidak mampu bangkit, dan ia berkata, "Wahai Tuhanku, segerakanlah sebelum malam tiba.”
Dan manusia terkadang berdoa untuk kejahatan, seperti mengharapkan kematiannya, kematian anak dan keluarganya, atau untuk kehancuran harta bendanya dalam keadaan marah atau putus asa sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Allah menyatakan, Dan adalah manusia
bersifat tergesa-gesa. Sifat itulah yang menyebabkan manusia berdoa untuk kejahatan, tanpa disadari bahwa doanya itu jika dikabulkan akan
membawa kerugian bagi dirinya. Oleh karena itu, janganlah tergesagesa di dalam mengambil keputusan. Dan kami jadikan malam dan siang dan silih bergantinya keduanya
itu sebagai dua tanda untuk menunjukkan kekuasaan Kami, lalu Kami
hapuskan tanda malam, Kami hapus cahayanya sehingga terjadilah kegelapan dan engkau tidak dapat melihat segala sesuatu di sekitarmu, dan
Kami jadikan tanda siang itu terang, yakni Kami jadikan siang dapat menerangi, sehingga kamu dapat melihat segala sesuatu di sekitarmu.
Demikian itu agar kamu dapat mencari kurnia dari Tuhanmu dengan melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi kehidupanmu. Dan agar dengan kehadiran malam dan siang itu kamu mengetahui bilangan tahuntahun dan perhitungan waktu yang sangat bermanfaat bagi kehidupan
manusia. Sebagai penutup, ayat ini menyatakan, Dan segala sesuatu
yang bermanfaat bagi kehidupanmu telah Kami terangkan dengan jelas,
tidak ada sesuatu yang terlewati agar menjadi pelajaran bagimu.
Kemudian Allah ﷻ menjelaskan bahwa di antara manusia ada yang mengutuk dirinya, keturunannya, bahkan hartanya dengan sumpah serapah dan doa yang berisi keinginan-keinginan yang jelek pada saat marah, seperti doa, "Wahai Tuhan! Turunkanlah laknat kepadaku, binasakanlah aku!" Mereka mengucapkannya sebagaimana ketika berdoa kepada Allah dengan doa yang baik, agar diberikan kesehatan dan dilimpahkan keselamatan kepadanya, keturunan, dan harta bendanya.
Seandainya Allah ﷻ mengabulkan doa mereka yang jelek itu, niscaya mereka tidak bisa menghindarkan diri dari akibatnya. Akan tetapi, Allah ﷻ tidak berbuat demikian. Hal ini tidak lain hanyalah karena kasih sayang Allah yang Mahabesar. Allah ﷻ berfirman:
Dan kalau Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pasti diakhiri umur mereka. (Yunus/10: 11)
Di akhir ayat, Allah ﷻ menjelaskan bahwa manusia mempunyai sifat tergesa-gesa. Apabila ia menginginkan sesuatu sesuai kehendak hatinya, pikirannya tertutup untuk menilai apa yang diinginkannya itu, apakah bermanfaat bagi dirinya atau merugikan. Hal itu semata-mata didorong oleh sifat tergesa-gesa untuk mencapai tujuannya, tanpa dipikirkan dengan matang terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya manusia tertarik pada keadaan lahiriah dari sesuatu tanpa meneliti lebih mendalam hakikat dan rahasia dari sesuatu itu.
Dalam ayat ini terdapat sindiran terhadap orang-orang musyrik Arab yang mendustakan kebenaran Al-Qur'an, karena mereka tidak mau mempercayai adanya Hari Pembalasan. Mereka lebih menyenangi dunia yang dapat mereka nikmati langsung, daripada memikirkan janji dan ancaman yang akan mereka terima di Hari Pembalasan.
“Sesungguhnya Al-Qur'an ini menunjuki kepada jalan yang lebih lurus."
(pangkal ayat 9)
Sebab dia membawa kepada satu tujuan, yaitu Allah Yang Tunggal. Maka tujuan itu satu, tidak berbilang, jalan ke sana yang paling dekat ialah garis lurus. Garis itulah yang dipimpinnya oleh Al-Qur'an, “dan menggembirakan kepada orang-orang yang beriman, yang beramal saleh." Artinya, Ai-Qur'an itu menyampaikan pula berita gembira bagi orang yang beriman."bahwa meieka adalah pahala yang besan."
(ujung ayat 9)
Pahala kedua ialah nikmat surga di akhirat.
"Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang tidak percaya akan akhirat, Kami sediakan bagi meraka adzab yang pedih."
(ayat 10)
Niscaya begitulah timbalan yang akan diterima orang yang tidak percaya akan hari esok. Yang menyangka hidup itu hanya habis hingga ini saja, sebab itu amalnya tidak memikirkan hari depan. Yang dipikirkannya hanya yang akan enak sekarang saja. Maka lebih banyaklah perbuatan merugikan daripada menguntungkan. Di akhirat adzab pula yang akan diterimanya.
“Dan berdoalah manusia akan kejahatan sepenti doanya dengan kebaikan (jua); karena adalah manusia itu penggegas."
(ayat 11)
Penggegas artinya ialah mau terburu-buru, mau cepat saja. Dalam ayat ini dijelaskan kelemahan yang asal pada manusia, yaitu jika dia ditimpa kejahatan, kesusahan, dia amat gelisah dan tidak dapat mengendalikan diri. Dia menyumpah, mengeluh, kadang-kadang karena merasa bencana itu terlalu berat, dia minta mati saja. Demikian pula sebaliknya. Kalau mendapat kebaikan yang menggembirakan, dia sudah seperti cacing kena panas, memuji-muji diri mendabik dada. Lupa dia bahwa hidup itu adalah pergantian hujan dan panas, suka dan duka, senang dan susah.
Perangai dasar atau temperamen yang seperti ini, kalau tidak dapat dikembalikan, akan celakalah manusia. Tidak akan naik martabat hidupnya. Ini hanya dapat dikendalikan dengan iman. Sebagai contoh yang telah diberikan oleh Nabi Yusuf. Berkali-kali beliau ditimpa sengsara. Sejak dimasukkan oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur, lalu dijual sebagai budak, lalu dirayu oleh perempuan cantik dalam istana orang besar, hingga kemudian masuk penjara. Namun, tiap-tiap bencana datang, tidaklah beliau mengeluh. Sampai beliau pernah berkata, “Penjara lebih aku sukai daripada menuruti kehendak mereka." Begitu besar-besarnya cobaan, tidaklah dia meminta mati saja sebab tidak tertanggungkan lagi. Kemudian, beliau dikeluarkan dari penjara untuk memangku satu jabatan paling tinggi dalam kerajaan Mesir. Kemudian, dia dapat berdamai dengan saudara-saudaranya. Saudara-saudaranya itu bersama ayahnya, Nabi Ya'qub, dapatlah berpindah ke Mesir ke bawah lindungan payung panji kebesaran yang telah dicapai Yusuf. Setelah semua tugasnya selesai dan badan terasa mulai tua, barulah pada doanya yang terakhir (surah Yuusuf ayat 101), dia menyediakan dirinya menerima maut, tetapi mati di dalam Islam dan mohon dipertemukan kelak dengan orang-orang yang saleh.
Maka di ujung ayat yang tengah kita tafsirkan ini disindirlah sifat penggegas tergesa-gesa atau terburu nafsu. Hendaklah melatih diri mengurangi sifat itu. Di waktu susah jangan lekas cemas dan di waktu mendapat untung jangan lekas gembira dan lupa diri.
(12) Dan telah Kami jadikan malam dan siang dua tanda. Maka Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, untuk mencari karunia dari Tuhanmu, dan supaya kamu ketahui bilangan tahun-tahun dan hisab (perhitungan). Dan tiap-tiap sesuatu Kami jelaskan sejelas-jelasnya.
“Dan telah Kami jadikan malam dan siang dua tanda."
(pangkal ayat 12)
Peredaran malam dan siang adalah ayat, atau suatu tanda bukti bahwa alam ini diatur oleh Pengatur yang Mahabijaksana. Apabila kita belajar ilmu falak, akan tahulah betapa telitinya pembagian di antara siang dan malam itu. Di musim panas siang lebih panjang, di musim dingin malam pula yang lebih panjang, dan dapat dipelajari dengan saksama jam, menit, dan detik dari terbit atau terbenamnya matahari."Maka Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang." Tiap pagi dapatlah kita saksikan pergiliran malam kepada siang itu. Mulanya fajar menyingsing, itulah ujung malam dan waktu Shubuh tiba.
Kemudian berangsur terbitlah matahari, hari pun bertambah siang, dan datanglah hari yang baru dan segar."Untuk mencari karunia dari Tuhanmu." Mulailah manusia keluar dari rumahnya dan gubuknya, gedungnya, dan istananya, untuk berusaha mencari re
zeki yang tersimpan di atas permukaan bumi ini. Masing-masing mendapat sekadar yang ditentukan Allah."Dan supaya kamu ketahui bilangan tahun-tahun dan hisab (perhitungan).'' 60 menit jadi satu jam, 24 jam menjadi sehari semalam, 30 atau 31 hari jadi sebulan, 12 bulan jadi setahun. Dan orang pun menghisab sampai kepada yang sehalus-halusnya. Itulah ilmu hisab atau ilmu falak.
“Dan tiap-tiap sesuatu Kami jelas-kan sejelas-jelasnya."
(ujung ayat 12)
Dengan keterangan di ujung ayat bahwa segala sesuatu dijelaskan Aliah sampai sejelas-jelasnya, batallah jadinya teori ahli-ahli filsafat yang mengatakan bahwa Allah itu hanya me-ngatur garis besar saja, tidak mencampuri soal yang berkecil-kecil (detail).
(Dan manusia mendoa untuk kejahatan) terhadap dirinya dan keluarganya jika ia menggerutu (sebagaimana ia mendoa) sebagaimana ia berdoa untuk dirinya sendiri (untuk kebaikan. Dan adalah manusia) yang dimaksud adalah jenisnya (bersifat tergesa-gesa) di dalam mendoakan dirinya tanpa memikirkan lebih lanjut akan akibatnya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.








