Join over 4 million Quran learners from more than 180 countries
Ayah
Word by Word
لِيَجۡزِيَ
So that Allah may recompense
ٱللَّهُ
So that Allah may recompense
كُلَّ
each
نَفۡسٖ
soul
مَّا
(for) what
كَسَبَتۡۚ
it earned
إِنَّ
Indeed
ٱللَّهَ
Allah
سَرِيعُ
(is) Swift
ٱلۡحِسَابِ
(in) the reckoning
لِيَجۡزِيَ
So that Allah may recompense
ٱللَّهُ
So that Allah may recompense
كُلَّ
each
نَفۡسٖ
soul
مَّا
(for) what
كَسَبَتۡۚ
it earned
إِنَّ
Indeed
ٱللَّهَ
Allah
سَرِيعُ
(is) Swift
ٱلۡحِسَابِ
(in) the reckoning
Translation
So that Allāh will recompense every soul for what it earned. Indeed, Allāh is swift in account.
Tafsir
that God may requite (li-yajziya is semantically connected to [the verb] barazoo, 'they shall come forth') every soul for what it has earned, of good and evil. Truly God is swift at reckoning - He shall reckon with all creatures in about half a day of the days of this world, as one hadeeth states to that effect.
"
The Condition of the criminals on the Day of Resurrection
Allah said,
وَتَرَى الْمُجْرِمِينَ يَوْمَيِذٍ مُّقَرَّنِينَ فِي الَاصْفَادِ
And you will see the criminals that Day, Muqarranun (bound together) in fetters.
Allah said,
يَوْمَ تُبَدَّلُ الَارْضُ غَيْرَ الَارْضِ وَالسَّمَاوَاتُ
(On the Day when the earth will be changed to another earth and so will be the heavens) `and the creations will be brought before their Lord, and you, O Muhammad, will witness the criminals who committed the crimes of Kufr and mischief,'
مُّقَرَّنِينَ
(Muqarranin),
bound together, each with his or her like, just as Allah said,
احْشُرُواْ الَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزْوَجَهُمْ
Assemble those who did wrong, together with their companions. (37:22)
وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ
And when the souls are joined with their bodies. (81:7)
وَإَذَا أُلْقُواْ مِنْهَا مَكَاناً ضَيِّقاً مُّقَرَّنِينَ دَعَوْاْ هُنَالِكَ ثُبُوراً
And when they shall be thrown into a narrow place thereof, chained together, they will exclaim therein for destruction. (25:13)
and,
وَالشَّيَـطِينَ كُلَّ بَنَّأءٍ وَغَوَّاصٍ
وَءَاخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِى الاٌّصْفَادِ
And also the Shayatin from the Jinn (including) every kind of builder and diver, and also others bound in fetters. (38:37-38)
Allah said next
سَرَابِيلُهُم مِّن قَطِرَانٍ
Their garments will be of Qatiran (pitch),
that is used to coat camels.
Qatadah commented that;
Qatiran (tar) is one of the fastest objects to catch fire.
Ibn Abbas used to say that;
the Qatiran, mentioned in the Ayah, is dissolved lead.
It is possible that;
this Ayah reads as:
سَرَابِيلُهُمْ مِنْ
قَطِرَانٍ
referring to heated lead that has reached tremendous heat, according to Mujahid, Ikrimah, Sa'id bin Jubayr Al-Hasan and Qatadah.
Allah said next,
وَتَغْشَى وُجُوهَهُمْ النَّارُ
and fire will cover their faces,
which is similar to His other statement,
تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَـلِحُونَ
The Fire will burn their faces, and therein they will grin, with displaced lips. (23:104)
Imam Ahmad recorded that Yahya bin Abi Ishaq said that Aban bin Yazid said that Yahya bin Abi Kathir said that Zayd bin Abi Salam said that Abu Malik Al-Ash`ari said that the Messenger of Allah said,
أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ
الْفَخْرُ بِالاَْحْسَابِ
وَالطَّعْنُ فِي الاْاَنْسَابِ
وَالاْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ
وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ
وَالنَّايِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَب
Four characteristics from the time of Jahiliyyah will remain in my Ummah, since they will not abandon them:
boasting about their family lineage,
discrediting family ties,
seeking rain through the stars, and
wailing for their dead.
Verily, if she who wails, dies before she repents from her behavior, she will be resurrected on the Day of Resurrection while wearing a dress of Qatiran and a cloak of mange.
Muslim collected this Hadith.
Allah said next
لِيَجْزِي اللّهُ كُلَّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ
That Allah may requite each person according to what he has earned.
meaning, on the Day of Resurrection.
Allah said in another Ayah,
لِيَجْزِىَ الَّذِينَ أَسَاءُواْ بِمَا عَمِلُواْ
That He may requite those who do evil with that which they have done. (53:31)
Allah said here,
إِنَّ اللّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Truly, Allah is swift at reckoning.
when He wills to reckon a servants of His, for He knows everything and nothing ever escapes His observation. Verily, His power over all of His creation is the same as His power over one creature,
مَّا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلاَّ كَنَفْسٍ وَحِدَةٍ
The creation of you all and the resurrection of you all are only as a single person. (31:28)
And this is why Mujahid said,
سَرِيعُ الْحِسَابِ
(swift at reckoning),
means ""keeping count.
Allah states;
هَـذَا بَلَغٌ لِّلنَّاسِ
This (Qur'an) is a Message for mankind (and a clear proof against them),
لااٌّنذِرَكُمْ بِهِ وَمَن بَلَغَ
(So) that I may therewith warn you and whomsoever it may reach. (6:19)
This Qur'an is for all mankind and the Jinns, just as Allah said in the beginning of this Surah,
الَركِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ
لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
Alif-Lam-Ra. (This is) a Book which We have revealed unto you in order that you might lead mankind out of darkness into light. (14:1)
Allah said next,
وَلِيُنذَرُواْ بِهِ
in order that they may be warned thereby,
or to receive and draw lessons from it,
وَلِيَعْلَمُواْ أَنَّمَا هُوَ إِلَـهٌ وَاحِدٌ
and that they may know that He is the only One God,
using its proofs and evidences that testify that there is no true deity except Allah,
وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ الَالْبَابِ
and that men of understanding may take heed.
meaning those who have good minds.
This is the end of the Tafsir of Surah Ibrahim, and all praise is due to Allah."
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Ibrahim: 49-51
Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu.
Pakaian mereka adalah dari aspal (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka,
Agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha Cepat hisab-Nya.
Ayat 49
Firman Allah ﷻ: “Pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain, dan (begitu pula) langit.” (Ibrahim: 48) dan semua makhluk menghadap kepada Tuhan yang, akan memberi pembalasan. Engkau Muhammad, akan melihat pada hari itu keadaan orang-orang yang berdosa, disebabkan oleh kekafiran dan kerusakan mereka.
“Diikat bersama-sama.” (Ibrahim: 49)
Yakni sebagian dari mereka diikat bersama-sama dengan sebagian yang lain menjadi satu, masing-masing dari mereka adakalanya digabungkan dengan orang-orang yang setara dengan keadaan mereka, atau adakalanya masing-masing dari mereka disatukan dengan orang yang sejenis dengan keadaan dirinya; jelasnya masing-masing golongan diikat bersama-sama dengan golongannya. Dalam ayat yang lain disebutkan melalui firman-Nya:
(Kepada malaikat diperintahkan), "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka." (Ash-Shaffat: 22)
“Dan apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh).” (At-Takwir: 7)
“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (Al-Furqan; 13)
“Dan (Kami tundukkan pula kepada Sulaiman) setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu.” (Shad: 37-38)
Al-asfad artinya belenggu-belenggu, menurut Ibnu Abbas, Sa'id ibnu Jubair, Al-A'masy, dan Abdur Rahman ibnu Zaid, dan inilah menurut dialek yang terkenal. Seorang penyair bernama Amr ibnu Kalsum dalam bait syairnya mengatakan, "Mereka menolak pakaian-pakaian dan para tawanan, dan hanya memilih raja-raja dalam keadaan terbelenggu."
Ayat 50
Firman Allah ﷻ: “Pakaian mereka adalah dari ter.” (Ibrahim: 50) Maksudnya pakaian yang dikenakan oleh ahli neraka terbuat dari ter (aspal) yang biasanya digunakan untuk mengobati penyakit kulit unta.
Qatadah mengatakan bahwa ter merupakan suatu bahan yang mudah terbakar. Lafaz qatiran dikatakan pula qatran, seperti yang dikatakan oleh seorang penyair bernama Abun Najm dalam salah satu bait syairnya: "Apabila unta itu dipoles dengan ter, ia seakan-akan bagaikan angin yang bertiup ke arah yang ditujunya (karena kepanasan)."
Ibnu Abbas mengatakan bahwa qatiran adalah tembaga yang dilebur, dan adakalanya dia membaca ayat ini dengan bacaan berikut: “Pakaian mereka adalah dari ter.” (Ibrahim: 50) Makna yang dimaksud ialah tembaga yang dilebur, kemudian panasnya telah mereda. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Said ibnu Jubair, Al-Hasan, dan Qatadah.
Firman Allah ﷻ: “Dan muka mereka ditutup oleh api neraka.” (Ibrahim: 50)
Ayat ini maknanya sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat.” (Al-Muminun: 104)
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Aban ibnu Yazid, dari Yahya ibnu Abu kasir, dari Zaid, dari Abu Salam, dari Abu Malik Al-Asy'ari yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Ada empat perkara di dalam umatku termasuk perkara Jahiliah yang masih belum mereka tinggalkan, yaitu membangga-banggakan diri dengan kedudukan, mendiskreditkan nasab (keturunan), meminta hujan melalui bintang-bintang, dan niyahah (menangis ala Jahiliah) karena ditinggal mati. Wanita yang ber-niyahah bila masih belum tobat sebelum matinya, kelak di hari kiamat dibangkitkan dengan memakai pakaian dari ter dan baju kurung dari penyakit kurap.” Hadis diketengahkan oleh Imam Muslim secara munfarid.
Di dalam hadis Al-Qasim, dari Abu Umamah r.a., disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Wanita yang ber-niyahah jika (mati dalam keadaan) belum bertobat, akan diberdirikan di tengah jalan antara surga dan neraka, pakaiannya adalah dari ter, sedangkan mukanya ditutupi oleh api neraka.”
Ayat 51
Firman Allah ﷻ: “Agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan.” (Ibrahim: 51)
Yaitu kelak di hari kiamat, seperti halnya yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang mereka kerjakan.” (An-Najm: 31), hingga akhir ayat.
Firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya Allah Maha Cepat hisab (perhitungan)-Nya” (Ibrahim: 51)
Makna ayat ini dapat ditafsirkan seperti pengertian yang terkandung di dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Telah dekat kepada manusia hari menghisab (memperhitungkan) segala amalan mereka, sedangkan mereka berada dalam lalai lagi berpaling (darinya).” (Al-Anbiya: 1)
Dapat pula ditafsirkan dengan pengertian 'dalam menghisab amal perbuatan hamba-hamba-Nya, Allah sangat cepat perhitungan-Nya, karena Dia mengetahui segala sesuatu, tiada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya, dan sesungguhnya semua makhluk menurut kekuasaan Allah sama halnya dengan seseorang dari mereka', seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya: “Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kalian (dari kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa.” (Luqman: 28)
Hal ini sama dengan inti sari dari pendapat Mujahid, bahwa makna firman-Nya: “Maha Cepat hisab-Nya.” (Ibrahim: 51) Yakni perhitungan-Nya.
Tetapi dapat pula dikatakan bahwa masing-masing dari kedua pendapat dapat dijadikan sebagai tafsirnya.
Itu semua dilakukan agar Allah terbukti memberi balasan kepada setiap
orang durhaka terhadap apa yang telah dia usahakan di dunia. Sungguh,
Allah Mahacepat perhitungan-Nya, Mahatepat, dan Mahaadil. Al-Qur'an ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia untuk
kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat; agar mereka diberi peringatan
dengannya, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha
Esa, dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran dari Al-Qur'an tersebut.
Allah ﷻ melakukan yang demikian itu pada hari kiamat adalah untuk memberi pembalasan kepada manusia terhadap apa yang pernah mereka kerjakan selama hidup di dunia. Mereka memperoleh pahala atau siksa neraka sesuai dengan perbuatan yang telah mereka lakukan. Pada hari itu, Allah ﷻ menghisab dengan cepat hamba-Nya.
“Maka sekali-kali janganlah engkau hina bahwa Allah memungkiri janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya. Sesungguhnya Atlah adalah Mahagagah, menyediakan balasan."
(ayat 47)
Allah ﷻ mempunyai peraturan yang dinamai “Sunnatullah". Dia telah mengutus rasul-rasul-Nya ke dunia membawa kebenaran dan menempuh jalan yang benar. Orang-orang yang menentang seruan rasul-rasul itu, niscaya tidak menempuh jalan yang benar. Melawan kebenaran mestilah dengan memilih jalan yang salah. Sudah mestinya bahwa yang salah tidak akan dapat bertahan lama. Sudah sewajarnya bahwa segala rencana kekufuran itu pasti gagal. Perhitungan akal yang sehat memberi kepastian bahwa kebenaran jualah yang akan menang. Cuma kadang-kadang karena pembela kebenaran itu menunggu ke menunggu, terasa bahwa kebenaran itu lama benar akan menang. Perasaan terlalu lama itu adalah karena si pejuang sangat mengharapkannya. Sebab itu Allah memastikan bahwa janji-Nya dengan rasul-rasul-Nya itu sekali-kali tidak akan dimungkiri-Nya. Allah itu Mahagagah dan Perkasa. Kalau pukulan-Nya datang, tidak ada yang dapat bangkit lagi. Dan Dia mempunyai persediaan-persediaan buat membalas. Dan pembalasan Allah itu pun adalah Sunnatullah, peraturan yang pasti.
Sesudah hidup yang sekarang ini adalah kehidupan yang kedua kali, hidup untuk memperhitungkan sikap dan tingkah laku di dunia. Penentang kebenaran yang dibawa Rasul akan dituntut pada masa itu.
“Pada hari yang akan diganti bumi ini dengan bumi lain dan semua langit pun."
(pangkal ayat 48)
Bagaimana pergantian bumi dan langit itu. Apakah bumi dan langit yang sekarang juga yang.akan diubah bentuknya karena telah berubah suasananya, ataupun dihabiskan sama sekali bumi dan langit yang sekarang dan didatangkan ganti yang baru sama sekali. Tidaklah kita ketahui. Karena itu sudah termasuk apa yang dinamai “Sam'iyat" yaitu Keterangan Allah yang wajib kita percayai.
“Dan akan tampil mereka ke hadapan Allah. Yang Esa lagi Perkasa"
(ujung ayat 48)
Berbaris berbanjirlah makhluk insani pada waktu itu. Memenuhi panggilan supaya hadir. Segala perbuatan dan amal semasa hidup. Segala pendirian terhadap Allah dan seruan rasul-rasul akan ditanyai, dan tidak ada yang dapat disembunyikan. Salah atau benar, pada waktu itulah akan terbuka.
“Dan akan engkau lihat orang-orang yang berdosa itu, pada hari itu akan terikat dengan belenggu-belenggu."
(ayat 49)
Kalau belenggu-belenggu telah terikat di leher, tanda hukuman sudah putus, karena ke-salahan sudah nyata, yaitu menentang kebenaran yang dibawa rasul-rasul. Di dalam ayat di atas tadi disebut rasul-rasul, meskipun Rasul yang ditentang itu hanya seorang. Sebab pokok ajaran sekalian Rasul hanyalah satu jua isinya, dan tidak ada perlainan. Yang berbeda hanya syari'at, yaitu peraturan-peraturan yang bukan pokok. Yaitu tiang-tiang iman, percaya kepada Allah Yang Satu, dan ujungnya sekali yaitu percaya akan hari kemudian, adalah satu dan itulah yang diserukan oleh sekalian Rasul. Oleh sebab itu, walaupun kaum musyrikin hanya menentang Nabi Muhammad ﷺ artinya ialah menentang juga kepada rasul-rasul yang lain. Maka belenggu yang akan lekat di leher karena akan dihalaukan ke neraka adalah karena satu kesalahan yang besar, menentang segala rasul. Menentang pokok ajaran yang disampaikan kepada umat manusia seluruhnya. Karena di dalam beberapa ayat sudah dijelaskan bahwasanya manusia itu pada hakikatnya adalah umat yang satu.
Selain daripada belenggu yang akan dipasangkan di leher itu, diterangkan Allah lagi pakaian yang akan mereka pakai di neraka.
"Pakaian-pakaian mereka adalah dari tembaga yang panas, dan akan ditutup muka mereka oleh api neraka."
(ayat 50)
Apakah yang demikian itu kejam? Itu bukanlah satu kekejaman, tetapi suatu balasan yang setimpal. Barulah patut disebut kejam kalau peringatan tidak didatangkan terlebih dahulu. Rasul-rasul dan nabi-nabi telah datang membawa peringatan. Kata riwayat nabi-nabi yang menerima wahyu saja tidak kurang daripada 124.000 orang banyaknya dari zaman ke zaman, sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ Di antaranya lebih daripada 300 orang yang disebut Rasul yang membawa syariat Dan kitab-kitab wahyu yang terkenal tiga buah, yaitu Taurat, Injil dan Al-Qur'an, dan ditambah lagi dengan beberapa Zabur dan ditambah lagi dengan beberapa Shuhuf. Dan pada manusia itu sendiri diberi pula alat penerima, yaitu akal. Dan akal itu menyukai yang baik dan membenci yang buruk. Rasul-rasul dan nabi-nabi dengan kitab-kitab wahyu itu memberikan keterangan dengan jelas. Membujuk, merayu dan menyeru. Mengancam dengan bahaya, memberi kabar gembira untukyangtaat. Maka kalau dimungkiri dan ditolak juga, lalu diberi hukum yang setimpal, bukankah suatu hal yang patut? Adakah itu kejam? Kalau masih juga merasakan bahwa hukum itu kejam: masuk neraka, leher dibelenggu, pakaian dari tembaga panas, meminum air mala darah campur nanah, memakan buah zaqqum. Kalau semuanya itu kejam dan mengerikan, mengapa tidak dari sekarang saja di waktu hidup ini semuanya itu dielakkan dan dijauhi, padahal jalan untuk berbuat baik itu masih terbentang?
“Karena Allah akan membalas bagi tiap-tiap diri, apa yang telah mereka usahakan."
(pangkal ayat 51)
Usaha yang baik akan dibalas dengan pahala yang baik, dan usaha yang buruk pun akan dibalas dengan yang buruk. Karena Allah itu adil.
“Sesungguhnya Allah adalah sangat cepat hitungan-Nya."
(ujung ayat 51)
Teringatlah penulis tafsir ini kepada sanggahan seorang yang katanya berpikir bebas (free thinker) dalam hal agama. Dia mengatakan bahwa ancaman-ancaman Al-Qur'an kepada orang yang berdosa itu terlalu kejam, akan di-belenggu, akan dipakaikan baju tembaga panas, akan diminumkan air mala darah bercampur nanah, akan disuruh memakan buah zaqqum yang berduri dan tidak lalu di kerongkongan, dan sebagainya, padahal menurut penyelidikan ahli-ahli ilmu jiwa, tidaklah ada manusia yang semata-mata jahat yang harus menerima hukuman sampai sedemikian kejam. Apatah lagi kalau kekal pula di neraka. Padahal hidupnya di dunia pada umumnya dan rata-rata paling tinggi hanya 70 tahun.
Oleh karena dia berkata bahwa dia adalah Free thinker, bebas berpikir, saya mintalah dia berpikir pula sebaliknya, “Bagaimana pendapatnya tentang orang yang berbuat baik, beriman dan beramal saleh, yang hidupnya di dunia pun rata-rata tidak lebih dari 70 tahun, lalu dimasukkan ke dalam surga, duduk di pundai bertatahkan ratna, minum dari mata air yang jernih, memakan buah-buahan yang serba lezat, dihibur oleh anak bidadari, dilayani oleh anak bidadara, bercengkrama dan bersukaria dan kekal di sana selama-lamanya? Adakah sepadan usianya yang paling tinggi 70 tahun itu dengan kekalnya nikmat yang diterimanya? Kalau saudara memang seorang yang berpikir bebas, mengapa tidak saudara pikirkan bahwa di samping ancaman yang kejam yang saudara katakan tiada setimpal itu, ada lagi balasan karunia, yang juga tidak setimpal? Apakah kebebasan pikiran saudara hanya mengingatkan kejamnya dan tidak bebas pikiran saudara untuk mengenangkan kasih sayang, cinta dan karunia-Nya bagi yang taat? Sedang waktu buat menentukan nasib di belakang hari itu adalah di kala hidup di dunia ini?" — Dia hanya terdiami
Kita pun mengakui bahwa di dalam diri kita itu senantiasa' terjadi peperangan yang hebat di antara cita-cita yang baik dengan kehendak hawa nafsu yang buruk. Kita pun mengerti bahwa tidak ada manusia yang semata-mata bai k dan tidak pula ada yang semata-mata buruk. Kita pun merasakan dalam diri sendiri bahwa kita pun bukanlah semata-mata jahat, dan kita pun ada mempunyai kehendak yang baik. Kalau demikian halnya, alangkah baiknya jika cita baik itu kita pupuk. Atau keburukan yang telah terlanjur kita kerjakan, lalu kita imbangi dengan berbuat baik. Pada saat Kiamat itu semuanya akan ditimbang. Niscaya kita ingin hendak-nyalah timbangan kepada yang baik lebih berat dan timbangan kepada yang buruk lebih ringan. Dan terlebih dahulu kita tanamkan pokok dari segala baik dalam jiwa kita, yaitu kepercayaan kepada Allah Yang Tunggal. Bukankah pada ayat 24 sampai 27 di atas tadi sudah dinyatakan bahwa Kalimah Thayyibah, kata yang baik adalah laksana pohon yang baik, yang uratnya terhunjam ke bumi dan dahan serta cabangnya menjulang ke langit dan berbuah terus setiap masa dengan tidak mengenal musim! Kalau pohon ini telah tumbuh dengan suburnya, maka pohon lain yang tidak berfaedah tidaklah akan berani tumbuh lagi di dekat dia, sebab dari suburnya, dialah yang menghisap udara dan mengambil cahaya matahari. Sebelum tumbuhnya subur, siangi rumput-rumput yang tumbuh di dekatnya. Kelak kalau dia sudah subur, tidak pun rumput itu disiangi, namun dia tidak akan tumbuh lagi di bawah naungan pohon yang rindang itu, sebab dia tidak mendapat udara lagi.
Di ujung ayat telah disebutkan bahwa Allah itu sangat cepat hitungan-Nya. Dia dapat menilik dan menjumlahkan perjalanan hidup hamba-Nya, yang berbuat jahat atau yang lebih banyak jahatnya dan yang berbuat baik atau lebih banyak baiknya. Dia melihat betapa hebatnya perjuangan batin kita. Kita memang takut akan ancaman-Nya. Sedangkan dikenakan belenggu dalam dunia lagi mengerikan, padahal ada juga orang yang dibelenggu hanya karena fitnah dan tuduhan palsu. Bagaimana ngerinya belenggu di neraka itu. Dan sekarang dia kita elakkan, dan Allah cepat sekali menghitung apa yang kita kerjakan dan mengumpulkan jumlahnya dan menegakkan timbangannya.
Akhirnya berfirmanlah Allah.
“Ini adalah satu peringatan bagi manusia, dan supaya diancam mereka dengan dia, dan supaya mereka tahu bahwa hanya Dialah Tuhan Yang Satu, dan supaya ingatlah orang-orang yang mempunyai pikiran halus."
(ayat 52)
Ayat ini adalah penutup surah. Untuk membuhulkan kembali di antara pangkal surah dengan ujung surah. Kalau di ayat yang pertama telah dikatakan bahwa dengan Al-Qur'an, Nabi Muhammad ﷺ sudah diperintah mengeluarkan manusia daripada gelap gulita kemusyrikan, kejahilan dan keburukan, kepada terang benderang iman dan tauhid, dalam jalan Allah Yang Gagah dan Terpuji, maka di penutupnya diperingatkan lagi, bahwa Al-Qur'an ini adalah peringatan untuk manusia, bahwa Allah, hanyalah Allah Yang Esa, tiada Allah lain. Dan yang akan lebih mengerti sehingga dia mendapat jalan yang terang itu, tidak lain hanyalah orang yang mempunyai mutu pikiran jua.
Adapun orang yang ada hati, tetapi hati yang telah membatu; ada bermata, tetapi mata yang telah membuta; ada bertelinga, tetapi telinga yang bersipekak, Jahannam jualah tempat mereka, lain tidak.
Dimulai pada hari Isnin, 3 Syawal 1384 15 Februari 1965
Selesai pada hari Ahad, 26 Syawal 1384 28 Februari 1965 Di Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta (masih dalam tahanan)
(Agar pembalasan diberikan) lafal ini bertaalluq kepada lafal barazuu (oleh Allah kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan) baik berupa kebaikan atau pun keburukan. (Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya) Dia menghisab semua makhluk selama setengah hari menurut ukuran hari dunia, demikianlah menurut penjelasan hadis.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.








