ٱلرَّعْد ٤٠
- وَإِن And whether
- مَّا (what)
- نُرِيَنَّكَ We show you
- بَعۡضَ a part
- ٱلَّذِي (of) what
- نَعِدُهُمۡ We have promised them
- أَوۡ or
- نَتَوَفَّيَنَّكَ We cause you to die
- فَإِنَّمَا so only
- عَلَيۡكَ on you
- ٱلۡبَلَٰغُ (is) the conveyance
- وَعَلَيۡنَا and on Us
- ٱلۡحِسَابُ (is) the reckoning
And whether We show you part of what We promise them or take you in death, upon you is only the [duty of] notification, and upon Us is the account.
And whether ([read as] immaa: the noon of the conditional particle in, 'whether', has been assimiliated with the extra maa) We show you a part of that which We promise them, of chastisement, during your lifetime (the response of the conditional statement has been omitted, in other words [understand it as being], fadhaak ['then so shall it be']); or We take you [to Us], before chastising them; it is for you only to convey [the Message], your duty is only to deliver [the Message], and it is for Us to do the reckoning, when they finally come to Us, whereupon We shall requite them.
"Punishment is by Allah, and the Messenger's Job is only to convey the Message
Allah said to His Messenger,
وَإِن مَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ
Whether We show you part of what We have promised them,
O Muhammad, part of the disgrace and humiliation We have promised your enemies in this life,
أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ
or cause you to die, (before that),
فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَغُ
your duty is only to convey,
We have only sent you to convey to them Allah's Message, and by doing so, you will have fulfilled the mission that was ordained on you,
وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ
and on Us is the reckoning,
their reckoning and recompense is on Us.'
Allah said in similar Ayat,
فَذَكِّرْ إِنَّمَأ أَنتَ مُذَكِّرٌ
لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُسَيْطِرٍ
إِلاَّ مَن تَوَلَّى وَكَفَرَ
فَيْعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الاٌّكْبَرَ
إِنَّ إِلَيْنَأ إِيَابَهُمْ
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ
So remind them - you are only one who reminds. You are not a dictator over them - Save the one who turns away and disbelieves. Then Allah will punish him with the greatest punishment. Verily, to Us will be their return, Then verily, for Us will be their reckoning. (88:21-26)
Allah said next
أَوَلَمْ يَرَوْاْ أَنَّا نَأْتِي الَارْضَ نَنقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا
See they not that We gradually reduce the land from its outlying borders.
Ibn Abbas commented,
""See they not that We are granting land after land to Muhammad!""
Al-Hasan and Ad-Dahhak commented that;
this Ayah refers to Muslims gaining the upper hand over idolators, just as Allah said in another Ayah,
وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِّنَ الْقُرَى
And indeed We have destroyed towns round about you. (46:27)
وَاللّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ
وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
And Allah judges, there is none to put back His judgement, and He is swift at reckoning."
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
In verse وَإِن مَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ (And if We show you some of what We promise them, or We take you back to Us), it is to comfort and assure the Holy Prophet ﷺ that he has been given the good news that the promises Allah has made to him that Islam will have the final victory and disbelief and disbelievers will be disgraced shall come to pass definitely. But, he is told, 'you should not concern yourself as to when this victory will finally come.' May be, this happens within his life time, and it is also possible that it comes after his departure from this mortal world. ` For your peace of heart, even this much is enough that you are continuously witnessing that We are causing the lands of the dis-believers to keep being sliced off their sides,' that is, these sides pass on under Muslim control whereby the land occupied by them keeps reducing in area. This causes well-being for Muslims and a day will come when the final phase of their victory shall stand completed. The command is in the very hands of Allah Ta` ala. There is no one who can avert this command. And He is the One swift at reckoning.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Ar-Ra'd: 40-41
Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebagian (azab) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanyalah menyampaikan saja, sedangkan Kamilah yang menghisab (memperhitungkan) amalan mereka.
Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia Maha Cepat hisab-Nya.
Ayat 40
Allah ﷻ berfirman kepada Rasul-Nya:
“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu.” (Ar-Ra'd: 40) hai Muhammad, sebagian dari kehinaan dan pembalasan yang telah Kami siapkan buat musuh-musuhmu di dunia.
“Atau Kami wafatkan kamu.” (Ar-Ra'd: 40) sebelum itu.
“Karena sesungguhnya tugasmu hanyalah menyampaikan saja.” (Ar-Ra'd: 40)
Yakni sesungguhnya Kami mengutusmu hanyalah untuk menyampaikan kepada mereka risalah Allah, dan engkau telah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu.
“Sedangkan Kamilah yang menghisab.” (Ar-Ra'd: 40)
Yaitu menghisab (memperhitungkan) amalan mereka dan membalasnya.
Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, tetapi orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah untuk menghisab mereka.” (Al-Gasyiyah: 21-26)
Ayat 41
Firman Allah ﷻ: “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?” (Ar-Ra'd: 41)
Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksudnya adalah 'tidakkah mereka (orang-orang kafir itu) melihat bahwa Kami memberikan kemenangan kepada Muhammad ﷺ melalui penaklukan yang dilakukannya daerah demi daerah?'. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa maksudnya 'apakah mereka tidak memperhatikan negeri yang dibinasakan itu, sedangkan di daerah yang lainnya terjadi keramaian?'.
Mujahid dan Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit), dari tepi-tepinya?” (Ar-Ra'd: 41) Yakni kerusakannya.
Menurut Al-Hasan dan Ad-Dahhak, makna yang dimaksud ialah kemenangan kaum muslim atas orang-orang musyrik.
Ibnu Abbas menurut riwayat Al-Aufi menyebutkan bahwa makna yang dimaksud adalah berkurangnya penduduk daerah itu dan berkurangnya keberkatan daerah tersebut.
Menurut Mujahid, makna yang dimaksud adalah berkurangnya jiwa, hasil buah-buahan, dan rusaknya daerah itu.
Asy-Sya'bi mengatakan, "Jika yang berkurang itu adalah daerahnya, tentulah kamu akan merasakan bahwa bumi semakin sempit bagimu. Tetapi yang berkurang ialah jiwa penduduknya dan hasil buah-buahannya." Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah. Ikrimah mengatakan, "Seandainya yang dikurangi itu adalah buminya, tentulah kamu tidak dapat menemukan suatu tempat pun buat kamu duduk (tinggal)," tetapi makna yang dimaksud ialah kematian.
Menurut suatu riwayat, Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah rusaknya daerah-daerah itu dengan kematian ulama, ahli fiqih, dan ahli kebaikannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, bahwa makna yang dimaksud ialah meninggalnya ulamanya.
Sehubungan dengan pengertian ini Al-Hafiz Ibnu Asakir telah mengatakan dalam biografi Ahmad ibnu Abdul Aziz Abul Qasim Al-Masri (seorang pemberi wejangan penduduk Asbahan) bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Talhah ibnu Asad Al-Murri di Dimasyq, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Ajari di Mekah, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Namzal syair berikut yang ia tujukan bagi dirinya sendiri: “Bumi menjadi hidup selagi orang alimnya hidup. Bilamana ada seorang alim darinya yang mati, maka matilah sebagian dari daerahnya.”
Perihalnya sama dengan bumi yang tetap hidup selagi hujan masih menyiraminya; dan jika hujan tidak menyiraminya, maka akan terjadi kerusakan pada daerah-daerahnya (yang tidak tersirami hujan).
Pendapat pertamalah yang paling utama, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah kemenangan agama Islam atas kemusyrikan daerah demi daerah.
Makna ayat ini mirip dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu.” (Al-Ahqaf: 27), hingga akhir ayat. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
Kami'Allah'Mahakuasa menetapkan atau menghapus hukum
yang Kami kehendaki sesuai kebijaksanaan Kami. Dan sungguh, jika Kami perlihatkan kepadamu, wahai Nabi Muhammad, di dunia ini sebagian dari siksaan dan balasan yang Kami ancamkan kepada mereka (orang
kafir) sebagaimana permintaan mereka, atau Kami wafatkan engkau
sebelum menyaksikan siksaan itu datang kepada mereka'namun
mereka pasti akan merasakannya'maka sesungguhnya tugasmu hanya
menyampaikan saja dakwah dan risalah yang kami titipkan kepadamu,
dan Kamilah yang akan memperhitungkan amal mereka serta balasan
yang akan mereka terima atasnya. Di antara bukti-bukti Allah melaksanakan ancaman-Nya adalah
peristiwa yang dialami oleh orang-orang kafir tersebut. Dan apakah
mereka orang-orang kafir itu tidak melihat bahwa Kami melalui hambahamba Kami yang berjihad, mendatangi dan menaklukkan daerahdaerah yang dikuasai orang yang ingkar kepada Allah, lalu Kami kurangi
daerah-daerah yang dikuasai itu sedikit demi sedikit dari tepi-tepinya'
Dan Allah menetapkan hukum menurut kehendak-Nya. Tidak ada kekuatan apa pun yang dapat menolak ketetapan-Nya bila Allah sudah menetapkannya; Dia Mahacepat lagi Mahabijaksana perhitungan-Nya.
Dalam ayat ini diterangkan bahwa ada kemungkinan Allah memberikan umur yang panjang kepada Rasulullah, sehingga beliau sempat melihat kedatangan azab yang telah dijanjikan kepada kaum kafir. Bisa juga Allah memberikan usia yang pendek sehingga Rasulullah tidak mendapat kesempatan untuk menyaksikan azab yang diturunkan-Nya itu. Tugas Rasul-Nya hanya mendakwahkan agama Islam kepada manusia. Adapun persoalan mereka mau menerima atau menolaknya adalah urusan Allah. Bagi yang menolak, azab Allah pasti akan datang, apakah disegerakan atau ditunda, adalah wewenang Allah.
“Dan jika Kami perlihatkan kepada engkau sebagian dari yang Kami janjikan kepada mereka, atau Kami matikan engkau, maka yang wajib atas engkau hanyalah menyampaikan, dan atas Kami ialah menghitung “
(ayat 40)
Jadi dapatlah dipahamkan isi ayat bahwa Allah membangkitkan semangat pada Rasul-Nya agar terus bekerja keras melakukan kewajibannya, yaitu menyampaikan seruan dan ajakan. Adapun kaum yang kafir itu pasti mendapat siksaan yang dijadikan Allah dalam dunia ini juga. Bilakah siksaan itu akan datang? Apakah sementara Nabi ﷺ masih hidup atau sesudah dia meninggal dunia? Itu bukan soal! Tegasnya, musyrikin itu pasti kalah dan Islam mesti menang. Untuk mencapai itu Muhammad ﷺ tidak usah memikirkan apakah dia akan dapat menyaksikan keruntuhan mereka dan kemenangan Islam, ataukah dia akan meninggal sebelum dia melihat itu. Dia teruskan bertabligh, menyerukan dan menyampaikan. Dan Allah pun terus pula menghitung gerak-gerik si kafir itu. Nanti akan datang waktunya, kezaliman mereka akan sampai ke puncak, dalam pada itu Islam pun kian lama kian kuat. Bila telah genap jumlahnya, tidak ada satu kekuatan yang dapat mempertahankan yang batil, dan tidak ada satu kekuatan yang dapat meng-hambat kebenaran Islam. Ukuran ini adalah di luar dari perhitungan manusia, di luar dari perhitungan apakah saya masih dapat menyaksikan atau tidak.
Islam senantiasa berjalan maju ke muka menuju kejayaan dan kemenangannya dan kaum kafir itu — lihatlah — bertambah lama bertambah menurun kekuasaan mereka.
“Dan tidaklah mereka lihat, bahwasanya Kami sedang mendatangi bumi itu. Kami susuli dia dan ujung-ujungnya."
(pangkal ayat 41)
Artinya, daerah-daerah tempat kemegahan kaum musyrikin itu kian lama kian sempit. Dari ujung-ujung bumi atau negeri yang selama ini mereka kuasai, tempat berhala-berhala berdiri dengan megahnya, berangsur-angsur walaupun dengan secara sembunyi, orang datang ke Mekah buat menyaksikan gerakan Nabi Muhammad ﷺ buat mempelajari agama yang beliau bawa. Datang orang seperti Adi bin Hatim, orang terkemuka dalam kaumnya, datang Tamim ad-Dari, orang terpandang. Dan sudah datang rombongan-rombongan dan Yatsrib (Madinah), sambil melakukan naik haji, mereka mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia dengan Muhammad ﷺ mempelajari Islam, dan telah dikirim pula mubaligh yang akan mengajarkan Al-Qur'an di Madinah. Dari saat ke sesaat kemegahan Quraisy sudah mulai terpulau. Bahkan ketika pengikut-pengikut Rasulullah yang setia berhijrah ke Habsyi, dalam dua rombongan, seruan Islam telah sampai ke sana. Najasyi (Raja) Ashhamah masuk Islam. Perutusan kaum Quraisy yang diutus menjemput mereka, telah kembali ke Mekah dengan tangan hampa. Benar pada lahir Quraisy masih kuat, tetapi pengaruh mereka kian hari kian mundur. Abu Sufyan dalam perjalanan ke Syam, telah dipanggil menghadap oleh Raja Romawi di Syam (Suria), yaitu Heraclius, dan yang baginda tanya bukan soal lain, melainkan tentang Muhammad ﷺ dan gerak agama yang dibawanya, sehingga Abu Sufyan terpaksa menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan jujur. Sebab itu maka bumi tempat tegak kaum musyrikin kian lama kian susut.
“Dan Allah menghukum, tidak ada yang akan membatalkan hukum-Nya, dan Dia adalah amal cepat perhitungan."
(ujung ayat 41)
Dan Allah menghukum. Dalam susun kata umum ialah dan sejarah berjalan terus; tidak ada satu kekuatan yang dapat menghalangi-Nya, Perhitungan Allah amat cepat jalannya. Hal-hal yang pada mulanya disangka tidak mungkin kejadian, beberapa tahun di belakang menjadi kenyataan.
Orang-orang musyrikin itu masih mencari berbagai dalih untuk menghalangi kejayaan islam, untuk menghambat bertumbuhnya ajaran Nabi, segala tipu daya telah mereka cobakan. Bagi Allah hal itu hanyalah hal yang biasa.
“Dan sesungguhnya telah menipu daya orang-orang yang sebelum mereka.''
(pangkal ayat 42)
Maka jika kaum musyrikin itu sekarang melakukan berbagai tipu daya, kaum musyrikin yang dahulu kala pun telah melakukan tipu daya pula kepada nabi-nabi dan rasul-rasul zaman itu."Tetapi bagi Allah-lah (balasan) sekalian tipu daya." Sehingga manalah mereka dapat melakukan tipu daya terhadap suatu rencana yang Allah sendiri membikinnya? Adakah Allah hendak ditipu daya? Sehingga manakah batas kekuatan manusia menipu daya Allah? Kalau Allah ditipu daya, lalu Allah membalas, siapakah yang kalah? “Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh tiap-tiap diri." Ke mana saja si penipu daya menghadapkan langkah, maka Allah telah mengetahui batas kekuatannya dan di tempat mana dia akan berhenti, dan di mana dia akan kehabisan napas.
“Dan akan mengetahuilah orang-orang yang kafir, bagi siapakah batasan akhirat itu."
(ujung ayat 42)
“Dan berkata orang-orang yang kafir itu: “Engkau ini bukan Utusan."
(pangkal ayat 43)
Inilah salah satu puncak bantahan mereka. Mereka tidak mau mengakui bahwa Nabi Muhammad itu adalah Rasul Allah. Mereka tidak hendak mempertimbangkan kebenaran yang beliau bawa, tetapi dengan sombong dan angkuh mereka menolak kerasulan beliau. Allah menyuruh menjawab perkataan yang berisi pemungkiran yang sombong itu."Katakanlah: — Wahai Utusan Kami “Cukuplah Allah sebagai saksi di antara aku dan di antara kamu." Artinya, walaupun kamu tidak mau mengaku namun aku tetap telah diangkat Allah menjadi Rasul-Nya. Kamu tidak mau menerima karena kesombongan tidaklah akan mengurangi martabatku sebagai Rasul, walaupun kamu tidak mau mengaku, namun Tuhanku mengakui aku Rasul-Nya. Walaupun kamu tidak mau percaya, namun orang-orang yang lebih tinggi pengetahuannya daripada kamu telah pula menyaksikan dan mengakui.
“Dan orang-orang yang ada di sisi mereka ilmu tentang al-Kilab."
(ujung ayat 43)
(Dan jika) asalnya lafal immaa ini terdiri daripada in syarthiyah dan maa zaidah, kemudian keduanya dijadikan satu sehingga jadilah immaa, artinya seandainya (Kami perlihatkan kepadamu sebagian apa yang Kami ancamkan kepada mereka) yaitu sebagian daripada azab-Ku sewaktu kamu masih hidup. Jawab dari in syarthiyah tidak disebutkan, lengkapnya ialah fadzaaka: itulah azab-Ku (atau Kami wafatkan kamu) sebelum orang-orang kafir itu diazab (karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja) hal itu tidak penting bagimu, tugasmu tiada lain hanya menyampaikan (sedangkan Kamilah yang menghisab amalan mereka) jika mereka telah kembali kepada Kami, maka Kami akan membalas semua amal perbuatan mereka.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.