Join over 4 million Quran learners from more than 180 countries
Ayah
Word by Word
الٓمٓرۚ
Alif Laam Mim Ra
تِلۡكَ
These
ءَايَٰتُ
(are) the Verses
ٱلۡكِتَٰبِۗ
(of) the Book
وَٱلَّذِيٓ
And that which
أُنزِلَ
has been revealed
إِلَيۡكَ
to you
مِن
from
رَّبِّكَ
your Lord
ٱلۡحَقُّ
(is) the truth
وَلَٰكِنَّ
but
أَكۡثَرَ
most
ٱلنَّاسِ
(of) the mankind
لَا
(do) not
يُؤۡمِنُونَ
believe
الٓمٓرۚ
Alif Laam Mim Ra
تِلۡكَ
These
ءَايَٰتُ
(are) the Verses
ٱلۡكِتَٰبِۗ
(of) the Book
وَٱلَّذِيٓ
And that which
أُنزِلَ
has been revealed
إِلَيۡكَ
to you
مِن
from
رَّبِّكَ
your Lord
ٱلۡحَقُّ
(is) the truth
وَلَٰكِنَّ
but
أَكۡثَرَ
most
ٱلنَّاسِ
(of) the mankind
لَا
(do) not
يُؤۡمِنُونَ
believe
Translation
Alif, Lām, Meem, Rā.1 These are the verses of the Book; and what has been revealed to you from your Lord is the truth, but most of the people do not believe.
Footnotes
1 - See footnote to 2:1.
Tafsir
Ar-Ra'd (the Thunder)
Meccan, except for the verse [beginning with] 'Those who disbelieve will continue to .' [second half of 31], and the verse 'And those who disbelieve will say, 'You are not sent [by God]'. Alternatively, it is Medinese, except for the two verses [sc. verse 31], 'If only it were a Qur'aan .'; it consists of 43, 44, 45 or 46 verses.
Alif laam meem raa': God knows best what He means by these [letters]. Those, these verses, are the verses of the Book, Al-Qur'an (the genitive annexation carries the meaning of [partitive] min, 'from'), and that which has been revealed to you from your Lord, namely, Al-Qur'an (this [preceding sentence] constitutes the subject, the predicate of which is [the following]), is the Truth, wherein is no doubt, but most people, that is, the people of Mecca, do not believe, that it is from God, exalted be He.
Tafsir of Surah Ar-Ra’d
The Qur'an is Allah's Kalam (Speech)
Allah said:
المر
Alif Lam-Mim Ra
We talked before, in the beginning of Surah Al-Baqarah about the meaning of the letters that appear in the beginnings of some Surahs in the Qur'an.
We stated that every Surah that starts with separate letters, affirms that the Qur'an is miraculous and is an evidence that it is a revelation from Allah, and that there is no doubt or denying in this fact. This is why Allah said next,
تِلْكَ ايَاتُ الْكِتَابِ
These are the verses of the Book,
the Qur'an, which Allah described afterwards,
وَالَّذِيَ أُنزِلَ إِلَيْكَ
and that which has been revealed unto you, (O Muhammad),
مِن رَّبِّكَ الْحَقُّ
from your Lord is the truth,
Allah said next,
وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُوْمِنُونَ
but most men believe not.
just as He said in another Ayah,
وَمَأ أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُوْمِنِينَ
And most of mankind will not believe even if you desire it eagerly. (12:103)
Allah declares that even after this clear, plain and unequivocal explanation (the Qur'an), most men will still not believe, due to their rebellion, stubbornness and hypocrisy.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Commentary
This Surah is Makki and it has a total of forty three verses. Mentioned in this Surah too there are subjects such as the truth and veracity of the Holy Qur'an, Tauhid (Oneness of Allah), Risalah (Prophethood) and answers to doubts raised about them.
The first group of letters: المر (Alif, Lam, Meem, Ra) are isolated Letters (Al-Huruf al-Muqattaat) the meaning of which are known to Allah Ta’ ala alone. The Ummah has not been informed of its meaning. It is not appropriate for the Muslim Ummah at large to indulge in investigations about them.
The first verse says that the Holy Qur'an is Divine Word, and that it is true. The word, الْكِتَابِ (Al-Kitab: The Book) means the Qur’ an, and it is possible that the expression which follows it, that is, الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ (And what has been sent down to you from your Lord) might as well mean the Qur’ an itself. But, the connective (the waw of ` atf translated as 'And' ) obviously requires that الْكِتَابِ (Al-kitab: The Book) and الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ (what has been sent down to you) should be two separate things. In that case, Al-Kitab or The Book would signify the Qur'an and (what has been sent down to you) would mean the revelation (Wahy), other than that of the Qur’ an, which has been sent down to the Holy Prophet ﷺ - because, it goes without saying, that the revelation sent to the Holy Prophet ﷺ is not restricted to the Qur'an alone. The Qur'an itself says وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ (53:3) It means: Whatever the Holy Prophet ﷺ says, he does not say on his own, out of some desire of his; instead, it is a message revealed to him from Allah Ta'ala. It proves that the orders given by the Holy Prophet ﷺ ، other than those appearing in the Qur’ an, are also no other but those sent from Allah. The only difference between the two is that the Qur’ an is recited (matluww) while the later is not (ghayr matluww). The rationale for this difference is that the meanings and the words of the Qur’ an are both from Allah Ta’ ala, while, in the case of the rules of conduct (Ahkam) given by the Holy Prophet ﷺ in Hadith - in addition to those in the Qur'an - their meanings too are, no doubt, revealed from Allah Ta’ ala, but their words are not revealed from Him. Therefore, they cannot be recited in Salah.
Thus, the verse comes to mean that the Al-Qur'an and its injunctions sent down to the Holy Prophet ﷺ are all true and in them there is no room for doubt. But, most people, due to their lack of concern and deliberation, do not come around to believe in them.
That Allah Ta` ala exists and that He is One has been emphasized in the second verse. The proof stands obvious. Look at what has been created and ponder over the matchless mastery with which everything was created. One can come to only one conclusion that their maker has abso-lute power over everything and that He controls all creations and universes as the master.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Ar-Ra'd: 1
Alif Lam Mim Ra. Ini adalah ayat-ayat Al-Kitab (Al-Qur'an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).
Pembahasan mengenai huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada permulaan surat-surat Al-Qur'an telah dikemukakan pada tafsir permulaan surat Al-Baqarah. Telah disebutkan pula bahwa setiap surat yang dimulai dengan huruf-huruf ini mengandung pengertian kemenangan bagi Al-Qur'an dan penjelasan yang mengisyaratkan bahwa penurunan Al-Qur'an dari sisi Allah adalah benar, tiada keraguan dan tiada kebimbangan padanya. Karena itulah disebutkan:
“Ini adalah ayat-ayat Al-Kitab (Al-Qur'an).” (Ar-Ra'd: 1)
Artinya, ini adalah ayat-ayat Al-Qur'an. Menurut pendapat lain adalah Taurat dan Injil, menurut Mujahid dan Qatadah. Tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan kebenarannya, bahkan pengertian itu jauh dari kebenaran.
Kemudian pada firman selanjutnya disebutkan sifat Al-Qur'an lainnya, yaitu:
“Dan Kitab yang diturunkan kepadamu.” (Ar-Ra'd: 1) hai Muhammad, “dari Tuhanmu itu adalah benar.” (Ar-Ra'd: 1) Ayat ini merupakan khabar dari Mubtada yang ada sebelumnya, yaitu firman Allah ﷻ: “Dan Kitab yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” (Ar-Ra'd: 1) Inilah tafsir yang benar yang bertentangan dengan tafsir yang dikemukakan oleh Qatadah dan Mujahid.
Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa huruf wawu yang ada dalam ayat ini adalah zaidah (tambahan) atau ataf sifat kepada sifat, seperti yang telah kami sebutkan di atas. Ibnu Jarir memperkuat pendapatnya dengan dalil ucapan seorang penyair yang mengatakan: “Kepada Raja Al-Qarm, putera Al-Hammam, si singa dalam medan pertempuran.”
Firman Allah ﷻ: “Tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).” (Ar-Ra'd: 1)
Makna ayat ini sama dengan makna yang terdapat di dalam firman-Nya dalam ayat berikut: “Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103) Dengan kata lain, sekalipun duduk perkara agama ini telah jelas dan gamblang, tetapi kebanyakan dari mereka tidaklah beriman karena perpecahan, keingkaran, dan kemunafikan yang ada di antara mereka.
Alif Laam Miim Raa'. Hanya Allah yang mengetahui maksud ungkapan
ini. Itu adalah ayat-ayat Kitab Al-Qur'an yang Allah turunkan kepada
Nabi Muhammad. Ia berisi petunjuk dan ajaran bagi umat manusia.
Dan ketahuilah bahwa Kitab yang diturunkan kepadamu, wahai Nabi
Muhammad, dari Tuhanmu itu adalah benar dari-Nya, Tuhan Yang Maha
Mengetahui; tetapi kebanyakan manusia tidak beriman kepada-Nya. Setelah pada ayat sebelumnya Allah menjelaskan bahwa Al-Qur'an
adalah benar dari-Nya, lalu pada ayat ini Allah membuktikan kebenarannya melalui keunikan penciptaan alam semesta. Hanya Allah yang
meninggikan langit tanpa tiang penyangga sebagaimana yang kamu lihat,
kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menundukkan matahari dan
bulan di bawah aturan hukum alam-Nya; masing-masing dari keduanya
beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan makhluk-Nya, baik yang di bumi maupun di langit, dan Dia menjelaskan
tanda-tanda kebesaran-Nya agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu kelak di akhirat.
Al-Qur'an adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, dan tidak mengandung hal-hal yang bisa meragukan orang terhadap kebenarannya.
Kebenaran Al-Qur'an meliputi seluruh aspek yang terkandung di dalamnya seperti hukum, syariat yang bersifat shalih fi kulli zaman wa makan (cocok untuk sepanjang zaman dan di semua tempat), bermacam-macam perumpamaan, kisah, dan petunjuknya yang harus diikuti oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kebenaran Al-Qur'an telah terbukti pada masa-masa awal Islam. Dengan berpegang teguh pada Al-Qur'an, umat Islam mampu membangun bangsa yang berbudaya tinggi dan berakhlak mulia. Al-Qur'an memotivasi manusia untuk bangkit berjuang menegakkan kebenaran, menghancurkan kemungkaran, menegakkan keadilan, dan melenyapkan kezaliman. Dengan menjalankan petunjuk Al-Qur'an umat Islam mampu menjadi bangsa yang berwibawa. Tapi ketika Al-Qur'an ditinggalkan, umat Islam lebih memilih keduniaan daripada akhirat yang kekal, dan akibat ketidakyakinan umat Islam terhadap janji-janji Allah yang termaktub dalam Al-Qur'an, umat Islam berubah menjadi bangsa yang terbelakang, terbelit kemiskinan dan kebodohan. Jika umat Islam saat ini tidak menyadari kekeliruannya dan tidak berusaha memperbaikinya, dengan cara kembali menjalankan pesan-pesan Al-Qur'an, maka umat Islam akan tetap terpuruk dalam kebodohannya. Allah tidak akan mengubah nasib mereka jika mereka tidak mengubah nasib mereka sendiri. Firman Allah ﷻ:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (ar-Rad/13: 11).
SURAH AR-RA'D
(PETIR)
SURAH KE-13, 43 AYAT, DITURUNKAN DI MEKAH
(AYAT 1 -43)
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Pengasih.
“Alif Laam Miim Roa." Telah banyak kita jelaskan tentang arti huruf di pangkal surah, dan telah kita simpulkan pendirian kita bahwa arti atau hikmah meletakkan huruf-huruf demikian di pangkal surah, Allah sajalah yang lebih mengetahui. Dan jika kita memberi arti tersendiri, asal jangan melanggar isi maksud Al-Qur'an, tidak mengapa. Tetapi jangan dipertahankan bahwa pendapat itu sajalah yang benar dan yang lain tidak. Riwayat-riwayat Ibnu Abbas-lah yang banyak memberi arti huruf-huruf itu, tetapi tidak pula dikuatkan oleh riwayat yang lain, terutama hadits-hadits yang shahih daripada Nabi Muhammad ﷺ"Ayat-ayat Kitab ini." yaitu ayat-ayat dari kitab Al-Qur'an,
“Dan yang diturunkan kepada engkau dan Tuhan engkau adalah benar."
(pangkal ayat 1)
Dalam ayat ini tersebutlah bahwa Rasulullah ﷺ itu menerima dua dari Allah, pertama wahyu yang tersebut di dalam AI-Qur'an, kedua soal-soal lain yang berkenaan dengan syari'at. Tetapi cara perincian dijelaskan oleh perbuatan Nabi. Misalnya di dalam Al-Qur'an dijelaskan kewajiban shalat, tetapi bagaimana cara, kaifiat mengerjakan shalat itu adalah mencontoh dari perbuatan Rasulullah ﷺ sendiri yang diturunkan langsung kepada beliau, misalnya dengan contoh perbuatan yang dipertontonkan oleh Jibril di hadapan beliau. Maka keduanya, yaitu ayat-ayat dalam Ai-Qur'an dan contoh perbuatan Rasulullah, kedua-duanya itu sama benarnya, dan tidaklah dapat kita mengerjakan agama yang diwahyukan di dalam Al-Qur'an dengan sempurna. Kalau contoh teladan yang dari Nabi Muhammad ﷺ itu tidak kita turuti.
"Akan tetapi kebanyakan manusia tidaklah percaya."
(ujung ayat 1)
Isi Al-Qur'an ditolaknya, apatah lagi perbuatan Rasulullah ﷺ tidak dijadikannya contoh teladan, dia. Hanya berbuat semau-maunya, itulah orang yang boleh disebut kafir. Sebab dia tidak mempunyai alasan di dalam penolakannya itu selain daripada pengaruh hawa nafsunya belaka.
Mengapa sampai manusia banyak yang tidak mau percaya?
Sebab dia tidak mau memerhatikan alam yang berada di sekitarnya dan tidak mau mengenal di mana kedudukannya, sebagai manusia, dalam gabungan dengan alam itu. Sebab itu maka ayat selanjutnya memperingatkan manusia tentang betapa kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya di alam ini.
“Allah-lah yang telah meninggikan semua langit dengan tidak bertiang yang kamu lihat akan dia."
(pangkal ayat 2)
Tinggilah sangat langit itu dan banyaklah lapis-lapisnya, sehingga tidak ada batas tempat tertumbuknya penglihatan kita, yang oleh karena sangat jauhnya, yang dapat kita lihat hanyalah warna biru belaka. Disebut Samawat, yang berarti banyak langit, dan penafsir artikan Semua Langit. Yang kadang-kadang disebut di dalam Al-Qur'an Tujuh Langit, yang menurut bahasa Arab pemakaian bilangan tujuh bukanlah tetap tujuh, tetapi tanda bahwa dia banyak. Berapakah banyak sebenarnya? Tidaklah ada manusia yang tahu. Apakah langit itu tingkat-tingkat udara di cakrawala? Tidak ada yang tahu! Apakah itu agaknya galaksi (kumpulan kekeluargaan berjuta bintang) dengan mata-hari-mataharinya sendiri-sendiri? Pun tidak ada yang tahu! Manusia belum lama tinggal di dunia ini, jika dibandingkan dengan umur dunia dan umurnya bumi dan langit, dan penyelidikan tentang alam pun masih baru, belum cukup 100.000 tahun. Malahan abad-abad terakhir ini, terutama abad kedua puluh ini, barulah permulaan mencoba menyelidiki langit yang belum lagi sempurna. Diingatkan kepada manusia bahwa langit itu terbentang demikian rupa di atas kepala kita, dan bintang-bintang menghiasinya di waktu malam dengan indahnya, namun dia melindungi kita laksana atap bagi kita, namun kita tidak melihat di mana tiangnya.
Manusia ditarik buat memerhatikan itu. Demikian kukuhnya bintang-bintang masih bercahaya, matahari masih beredar dan bulan pun demikian pula, namun dia tidak pernah runtuh sudah berjuta-juta tahun. Dan bintang-bintang itu juga yang dilihat oleh nenek-moyang kita beribu tahun yang lalu, dan bintang-bintang itu juga yang akan dilihat oleh anak cucu kita beribu-ribu tahun lagi, sesudah kita tak ada. Demikian kukuhnya, pastilah hendaknya dia bertiang, namun kita tidak pernah melihat tiang itu. Sebab kalau kita tidak melihatnya, bukanlah artinya bahwa tiang itu tidak ada.
Apakah tiang itu? Apakah barangkali kekuatan daya tarik-menarik dan perimbangan berat dan jarak di antara satu bintang dengan bintang yang lain? Mungkin itulah dia tiang itu. Misalnya ukuran jarak di antara matahari dengan bumi dan ukuran jarak antara bumi dengan bulan; mungkin itu tiangnya, dan mungkin juga yang lain, yang terkandung dalam ilmu Allah ﷻ",Kemudian Dia pun bersemayam di atas Arsy." Bagaimana semayam-Nya itu pun tidaklah kita ketahui, dan tidak perlu kita mencari berbagai tafsir, misalnya dilaksanakan dengan seorang raja yang duduk bersemayam memegang tongkat lambang kekuasaan dan bola lambang kebe-saran pada kedua belah tangannya; karena apa yang kita gambarkan itu pasti tidak sama dengan keadaan sebenarnya yang ada dalam ilmu Allah."Dan teiah Dia mudahkan matahari dan bulan."
Untuk merasakan betapa benar artinya Allah memudahkan matahari dan bulan, baiklah kita kenangkan kembali bahwasanya bumi tempatkita hidup ini hanya salah satu saja dari 11 bintang yang menjadi satelit matahari. Kalau misalnya kita diizinkan Allah berpindah sejenak kepada salah sebuah bintang di ruang angkasa luas itu dan dari sana kita melihat ke bumi, dia akan kelihatan sebagai salah satu daripada beratus bintang yang kita lihat pada malam hari itu saja. Sedang matahari adalah berjuta kali lebih besar daripada bumi. Dan bulan adalah pengiring dari bumi, jauh sangat lebih kecil daripada bumi, tetapi dia pun dipenuhi oleh gunung-gunung mencakar langit karena tingginya. Maka bumi yang kita diami ini sangatlah besarnya jika dibandingkan kepada keadaan kita. Dibandingkan dengan bumi, bolehlah kita katakan bahwa kita ini tidak ada. Jangankan mengangkat bulan, bumi atau matahari, sedangkan mengangkat sebuah batu besar yang jatuh dari tebing gunung menghambat hubungan lalu lintas jalan, kita telah mempergunakan alat-alat besar traktor atau derek, memakai berpuluh-puluh orang kuli untuk menyingkirkannya dengan susah payah. Di Bukit Asam (Tanjung Enim) dan ﷺah Lunto (Sumatera Barat), sudah berpuluh-puluh tahun orang membongkar batu-batu dengan alat-alat mesin besar dan memakai tenaga beribu-ribu manusia, namun bila dilihat dari kapal-udara, belum ada artinya yang dikerjakan manusia itu. Dengan merenungkan hal ini dapatlah kita rasakan apa artinya jika Allah memudahkan matahari dan bulan, yang niscaya termasuk juga bumi. Kita lihat sendiri betapa mudahnya matahari itu dikelilingi bumi, dan betapa mudahnya bumi itu dikelilingi bulan. Matahari yang sebesar itu hanya laksana bola kecil saja dipermainkan oleh Allah demi kekuasaan-Nya."Setiap-tiapnya berjalan menurut batas yang telah ditentukan." Tidak pernah berubah walaupun seperseribu detik. Dapat dihitung dan dapat dijamin kebenaran dan ketetapan jalannya, menurut falaknya yang tertentu. Sehingga kita insan yang diam di bumi boleh menghitung tahun, membilang bulan, siang-malam, hari ke minggu dan sampai kepada bilangan jam, bilangan menit dan detik. “Dia atur perintah." Dan semua teratur jadinya menurut perintah-Nya itu, teratur dengan disiplin yang sangat keras."Dia terangkan ayat-ayat." Termasuk dalam ayat-ayat itu adanya gerhana matahari, gerhana bulan, naiknya pasang dan surutnya, menunjukkan pertalian perjalanan bulan dengan bumi, dan adanya musim panas dan hujan di daerah khatulistiwa, atau adanya musim dingin, musim berkembang, musim panas dan musim rontok. Semuanya itu adalah ayat-ayat belaka dari firman-Nya: “Dia atur perintah." Disuruhlah manusia memperhatikan ini semuanya.
“Supaya kamu terhadap pertemuan Tuhan kamu menjadi yakin."
(ujung ayat 2)
Apa sebab karena melihat semuanya itu dan mempelajarinya, kita bisa yakin bahwa kita akan bertemu dengan Allah? Tentu saja! Cakrawala begitu luas; langit semuanya, matahari, bumi dan bulan, berjalan mudah karena perintah yang teratur dari Allah. Maka peraturan Allah itu meliputilah bagi semua makhluk. Kita manusia pun tidak lepas dan peraturan, yaitu peraturan yang berhubung dengan diri manusia sendiri dalam rangka pertalian dengan peraturan alam raya. Manusia lahir ke dunia, hidup dan kemudian mati, dan kelak berbangkit. Kita akan berkata bahwa mustahil untuk kita tidak ada peraturan; yang mengatakan mustahil itu adalah sesuatu yang ada dalam diri kita sendiri, yaitu akal kita. Dan penciptaan manusia dengan diberi akal ini pun satu peraturan yang sangat menakjubkan.
Setelah kita manusia dibawa menengadah ke atas, melihat langit, sekarang dibawa pula menekur ke bumi tempat kita hidup.
“Dan Dialah yang menghamparkan …, dan Dia jadikan padanya gunung-gunung dan sungai-sungai."
(pangkal ayat 3)
Mula-mula Allah menyatakan bahwa bumi itu dihamparkan buat kita, sehingga kita dapat tidur, membuat rumah tempat diam, membuat jalan-jalan raya dan jalan kereta api di atasnya, dan lautan sebagai bagian dari bumi dapat pula dilayari. Meskipun bumi itu bulat, namun oleh karena besarnya dan kecilnya kita manusia, hanya bumi sebagai hamparanlah yang kita rasai. Tetapi supaya syarat buat kita hidup menjadi lengkap, diciptakan Allah pula di bumi itu gunung-gunung dan sungai-sungai. Gunung-gunung dan sungai-sungai, tidaklah dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Gunung menahan angin, sebagai pulau penghambat ombak. Dan ke puncak gunung itu berkumpullah awan dan dari sebab sangat dinginnya, membekulah salju di puncaknya itu. Lantaran itu air hujan dan salju di negeri-negeri yang bersalju, turun dari puncak gunung-gunung itu dan salju mencair dengan teratur, membentuk sungai. Di daerah yang dialiri air sungai itulah manusia hidup, membuat tempat tinggal, membuat ﷺah dan ladang, mendirikan kebudayaan. Ingatlah gunung-gunung dan sungai-sungai dalam sejarah manusia sejak zaman purbakala sampai kepada zaman sekarang. Kata ahli-ahli sejarah, kebudayaan-kebudayaan umat manusia bertumbuh dengan suburnya di tepi sungai-sungai."Dan dari tiap-tiap buah-buahan, Dia jadikan padanya sepasang-sepasang." Yaitu pada bumi itu. Tumbuhnya buah-buahan dengan sepasang-sepasang, berjantan, berbetina, ialah karena mengalirnya air sungai tadi. Kadang-kadang kembang betina dan kembang jantan, dikawinkan oleh kumbang atau lebah atau rama-rama. Kadang-kadang dikawinkan oleh angin sepoi. Maka berusahalah manusia di atas bumi itu menyesuaikan dirinya dengan iklim sekelilingnya."Dia tutup malam dengan siang." Di malam hari manusia istirahat, tetapi tumbuh-tumbuhan itu tetap tumbuh, dan setelah hari siang dia bekerja, dan setelah malam dia istirahat lagi. Begitu terus-menerus. Ini semuanya disuruh manusia memerhatikan dan merenungkan, karena.
“Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda bagi kaum yang mau berpikir."
(ujung ayat 3)
Semuanya itu menjadi tanda-tanda bahwa alam ini ada yang mengemudikannya. Teratur karena ada yang mengatur. Tidak ada yang terjadi dengan kebetulan. Hanya manusia yang tidak berpikirlah yang tidak dapat merasakannya. Kita dituntun berpikir dengan teratur. Jika pada ayat cakrawala yang disuruh memperhatikan, dan di ayat 3 direndahkan sedikit, yaitu memperhatikan bumi, gunung dan sungai, sekarang di ayat 4 disuruh memperhatikan daerah yang lebih kecil lagi.
“Dan pada bumi adalah beberapa (tumpak) tanah yang … dan kebun-kebun dari anggur dan tanam-tanaman lain, dan … yang berumpun dan tidak berumpun, disiram dengan air yang satu, dan Kami lebihkan yang sebagiannya atas yang sebagian pada rasanya."
(pangkal ayat 4)
Orang-orang yang berﷺah berpiring-piring dan bertumpak-tumpak, mengerti benar kehendak ayat ini. Tumpak ﷺah di sana dan di sini, kadang-kadang sama ukurannya dan sama piring ﷺahnya, tetapi tidak sama hasil padinya, tetapi air yang mengairinya yang satu itu jua, baik air hujan atau air sungai. Padahal letaknya berhampiran bertetangga. Kebun-kebun yang ‘lain tempat orang menanam anggur dan tanam-tanaman yang lain pun demikian. Kurma dibagi orang mutu (kualitas) nya kepada tujuh macam, padahal pohonnya sama dan rupanya sama. Di Mekah di musim haji selalu penjual kurma menyanyikan kurma Madinah."Kurma Madinah ya Syekh!" Tandanya ada macam-macam kurma."Kami lebihkan yang sebagian dari yang sebagian pada rasa." Di Medan terkenal durian kampung besar. Di Jawa terkenal duku palembang. Di Bukittinggi terkenal beras ampatangkat. Kurma itu pun ada yang berumpun dan ada yang tidak berumpun, seperti juga perbedaan besar rumpun padi yang ditanam di ﷺah dengan padi yang ditanam di ladang. Perbedaan itu pun amat menakjubkan. Ada yang manis; dan yang manis itu pun berbagai ragam pula manisnya. Manis tebu lain, manis rambutan lain, manis mangga lain, berpuluh macam buah-buahan, berpuluh pula macam ragam manisnya. Demikian juga perbedaan rasa asam di waktu masih muda, atau kelatatau hambar, atau pedas sebagai lada dan sangar sebagai bawang dan ada pula yang pahit. Sama sekali itu menakjubkan.
“Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda bagi kaum yang mau menggunakan akal."
(ujung ayat 4)
Ar-Ra'd (Guruh)
(Alif laam raa) hanya Allahlah yang mengetahui maksudnya (Ini adalah) ayat-ayat ini (sebagian dari Alkitab) yakni Al-Qur'an; idhafat mengandung makna min, yaitu bermakna sebagian (Dan kitab yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu) maksudnya Al-Qur'an. Kalimat ayat ini berkedudukan menjadi mubtada sedangkan khabarnya ialah (adalah benar) tiada keraguan di dalamnya (akan tetapi kebanyakan manusia) yakni penduduk kota Mekah (tidak beriman) bahwasanya Al-Qur'an itu dari sisi Allah ﷻ
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.








