Join over 4 million Quran learners from more than 180 countries
Ayah
Word by Word
وَلَمَّا
And when
جَآءَ
came
أَمۡرُنَا
Our Command
نَجَّيۡنَا
We saved
شُعَيۡبٗا
Shuaib
وَٱلَّذِينَ
and those who
ءَامَنُواْ
believed
مَعَهُۥ
with him
بِرَحۡمَةٖ
by a Mercy
مِّنَّا
from Us
وَأَخَذَتِ
And seized
ٱلَّذِينَ
those who
ظَلَمُواْ
wronged
ٱلصَّيۡحَةُ
the thunderous blast
فَأَصۡبَحُواْ
then they became
فِي
in
دِيَٰرِهِمۡ
their homes
جَٰثِمِينَ
fallen prone
وَلَمَّا
And when
جَآءَ
came
أَمۡرُنَا
Our Command
نَجَّيۡنَا
We saved
شُعَيۡبٗا
Shuaib
وَٱلَّذِينَ
and those who
ءَامَنُواْ
believed
مَعَهُۥ
with him
بِرَحۡمَةٖ
by a Mercy
مِّنَّا
from Us
وَأَخَذَتِ
And seized
ٱلَّذِينَ
those who
ظَلَمُواْ
wronged
ٱلصَّيۡحَةُ
the thunderous blast
فَأَصۡبَحُواْ
then they became
فِي
in
دِيَٰرِهِمۡ
their homes
جَٰثِمِينَ
fallen prone
Translation
And when Our command came, We saved Shuʿayb and those who believed with him, by mercy from Us. And the shriek seized those who had wronged, and they became within their homes [corpses] fallen prone
Tafsir
And when Our command came, for their destruction, We delivered Shu'ayb and those who believed with him by a mercy from Us; and the Cry seized those who were evildoers - Gabriel cried at them - and they ended up lying lifeless prostrate in their habitations, keeled over on their knees, dead,
"Shu`ayb's threatening of His People
When the Prophet of Allah, Shu`ayb, despaired of their response to him, he said,
وَيَا قَوْمِ اعْمَلُواْ عَلَى مَكَانَتِكُمْ
""O my people, Act according to your ability,
This means, ""Act according to your current ways.""
This is actually a severe threat.
إِنِّي عَامِلٌ
I am acting.
according to my way.
سَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ
You will come to know who it is on whom descends the torment that will cover him with ignominy, and who is a liar!
meaning, between me and you.
وَارْتَقِبُواْ
And watch you!
This means to wait.
إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ
I too am watching with you.
Allah then says,
وَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ امَنُواْ مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مَّنَّا
وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُواْ الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُواْ فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ
And when Our commandment came, We saved Shu`ayb and those who believed with him by a mercy from Us. And As-Sayhah(awful cry) seized the wrongdoers, and they lay (Jathimin) in their homes.
His saying Jathimin means extinct and lifeless without any movement.
Here Allah mentions that a loud cry (Sayhah) came to them.
In Surah Al-A`raf He says a severe quake (Rajfah) came to them.
In Surah Ash-Shu`ara', He said it was a torment of a cloudy day.
They were one nation upon which all of these punishments were gathered on the day of their destruction.
In each context, Allah only mentioned that which was suitable. In Surah Al-A`rafwhen they said,
لَنُخْرِجَنَّكَ يـشُعَيْبُ وَالَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَكَ مِن قَرْيَتِنَأ
We shall certainly drive you out, O Shu`ayb, and those who have believed with you from our town. (7:88)
In this verse it was suitable to mention a tremor, or quake (Rajfah). The earth in which they practiced their wrongdoing and they wanted to expel their Prophet from it, shook them.
Here, due to their disrespectful manners in speaking to their Prophet, Allah mentioned the awful cry (Sayhah) which overcame them and killed them.
In Surah Ash-Shu`ara' when they said,
فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفاً مِّنَ السَّمَأءِ إِن كُنتَ مِنَ الصَّـدِقِينَ
So cause a piece of the heaven to fall on us, if you are of the truthful! (26:187)
Allah said in response,
فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ إِنَّهُ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
So the torment of the day of Shadow seized them. Indeed that was the torment of a Great Day. (26:189)
This is from the intricate secrets and to Allah belongs all praise and much bounty forever.
Concerning the statement
كَأَن لَّمْ يَغْنَوْاْ فِيهَا
As if they had never lived there!
This means it was as if they had not lived in their homes before that.
أَلَا بُعْدًا لِّمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ
So away with Madyan as just as Thamud went away!
They (Thamud) were their neighbors and they did not live far from the homes of the people of Madyan. They were similar in their disbelief and their highway robbery. They were also both Arabs."
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Hud: 93-95
Dan (dia berkata), "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuan kalian, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kalian akan mengetahui siapa yang akan kedatangan azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kalian.”
Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.
Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaan bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Samud telah binasa.
Ayat 93
Ketika Nabi Syu'aib merasa putus asa akan sambutan kaumnya kepada seruannya, maka ia berkata kepada mereka: “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuan kalian.” (Hud: 93) Yakni menurut cara kalian. Di dalam kalimat ini terkandung ancaman yang keras.
“Sesungguhnya aku pun berbuat (pula).” (Hud: 93)
Yaitu menurut caraku sendiri.
“Kelak kalian akan mengetahui siapa yang akan kedatangan azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta.” (Hud: 93)
Yakni aku atau kaliankah?
“Dan tunggulah azab (Tuhan).” (Hud: 93)
Yakni tunggulah oleh kalian. “Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kalian.” (Hud: 93)
Ayat 94
Allah ﷻ berfirman: “Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.” (Hud: 94)
Firman Allah ﷻ: “bergelimpangan.” (Hud: 94)
Yaitu bergeletakan mati tanpa bergerak lagi.
Di dalam surat ini disebutkan bahwa azab yang menimpa mereka adalah pekikan yang mengguntur. Di dalam surat Al-A'raf disebutkan gempa yang dahsyat, sedangkan di dalam surat Asy-Syu'ara disebutkan azab pada hari mereka dinaungi oleh awan. Mereka adalah suatu umat yang berkumpul di hari mereka diazab, sehingga semuanya menerima pembalasan dari Allah. Dan sesungguhnya pada tiap-tiap konteks disebutkan hal yang sesuai dengannya.
Maka dalam surat Al-A'raf, yaitu ketika mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu, hai Syuaib, dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami.” (Al-A'raf: 88) Maka hal yang sesuai dengan konteksnya disebutkan bahwa lalu bumi mengalami gempa yang hebat yang membinasakan orang-orang yang berbuat zalim itu di dalam kotanya, karena mereka bermaksud akan mengusir Nabi mereka dari kotanya.
Dan dalam surat Hud ini disebutkan bahwa ketika mereka berbuat kurang ajar dalam ucapan mereka kepada nabinya, maka dikeluarkanlah pekikan yang mengguntur yang mencabut nyawa mereka semuanya. Di dalam surat Asy-Syu'ara disebutkan pula bahwa ketika mereka mengatakan: “Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika memang kamu orang yang benar.” (Asy-Syu'ara: 187) Maka dalam ayat selanjutnya disebutkan: “Lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar.” (Asy-Syu'ara: 189) Hal ini termasuk rahasia yang lembut maknanya, dan hanya kepada Allah-lah kami memuji dan bersyukur selama-lamanya.
Ayat 95
Firman Allah ﷻ: “Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu.” (Hud: 95)
Yakni seakan-akan sebelum itu mereka belum pernah hidup di rumah mereka.
“Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Samud telah binasa.” (Hud: 95)
Tempat tinggal orang-orang Madyan bertetangga-dengan orang-orang Samud, mereka serupa dalam hal kekufuran dan suka membegal (merampok); kedua-duanya adalah bangsa Arab.
Maka ketika keputusan atau ketetapan Kami untuk membinasakan
mereka telah datang, maka terlebih dahulu Kami selamatkan Nabi Syuaib
dan orang-orang yang beriman bersamanya dari azab itu. Orang-orang yang
beriman kepada Allah diselamatkan dengan rahmat yang besar dari Kami, sedang orang yang zalim terhadap dirinya dengan perbuatan syirik,
dibinasakan oleh suara yang mengguntur yang dapat membinasakan orang
dalam sekejap, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya atau di
negerinya karena dahsyatnya azab itu. Keberadaan kaum Nabi Syuaib yang dibinasakan Allah seolah-olah
mereka belum pernah tinggal di tempat itu, karena semua makhluk hidup
telah binasa dan bangunan tempat tinggal mereka pun telah hancur.
Ingatlah, binasalah penduduk Madyan sebagaimana kaum Samud juga telah binasa dengan suara yang mengguntur; kaum Samud dibinasakan
oleh suara yang mengguntur dari bawah, sedang penduduk Madyan
dibinasakan oleh suara yang mengguntur dari atas akibat kedurhakaan
dan kesombongan mereka.
Sudah menjadi ketetapan dan sunnah Allah bagi umat-umat yang dahulu bahwa setiap umat yang durhaka dan menolak seruan rasul-Nya akan ditimpa malapetaka dan dibinasakan kecuali orang-orang yang beriman dan patuh serta taat kepada Allah. Akhirnya siksaan dan malapetaka itu ditimpakan pula kepada penduduk Madyan dan dengan rahmat dan kasih sayang Allah, Nabi Syuaib a.s. beserta orang-orang yang beriman diselamatkan dari malapetaka berupa suara yang keras mengguntur yang menggoncangkan hati setiap orang dan menimbulkan goncangan dan gempa bumi yang maha hebat sehingga penduduk negeri itu dengan sekejap mata hilang ditelan bumi, persis seperti malapetaka yang menimpakan kaum namud, kaum Nabi Saleh a.s. yang ingkar dan durhaka pula.
“Mereka berkata, ‘Hai, Syu'aib! Tidaklah kami mengerti sebagian besar dari apa yang engkau katakan itu.
(pangkal ayat 91)
Artinya, kami tidak paham akan perkataanmu yang panjang lebar itu, tidak masuk dalam akal kami. Kami tidak bisa menerima kalau kamu disuruh menghentikan melakukan upacara agama menurut yang dipusakai dari nenek moyang. Kami pun tidak dapat mengerti kalau engkau menganjurkan kami berniaga mesti jujur. Kalau jujur, di mana akan dapat keuntungan. Engkau melarang “menangguk di air keruh", padahal kalau air tidak dikeruh terlebih dahulu, mana akan boleh menangkap ikan. Pendeknya perkataanmu itu adalah
terlalu tinggi, tidak dapat dipraktikkan di dalam kenyataan hidup dan perlombaan mencari rezeki."Dan sesungguhnya kami pandang engkau di antara kami adalah seorang yang lemah"
Seorang yang lemah!
Menurut keterangan dari Said bin Jubair, yang diterimanya dari Ibnu Abbas, demikian juga menurut suatu riwayat dari Ali bin Abi Thalib bahwa kaumnya mengatakan bahwa Nabi Syu'aib itu lemah karena matanya buta. Al-Wahidi, demikian juga Ihnu Asakir meriwayatkan, demikian juga yang diterima Syaddad bin Auf, berkata dia, berkata Rasulullah ﷺ
(93) Dan wahai kaumku! Beramallah kamu di atas pendirian kamu, sesungguhnya aku pun akan beramal. Kamu akan mengetahui kepada siapa akan datang adzab yang akan menghinakannya dan siapa dia yang pendusta. Dan tunggulah, sesungguhnya aku pun, beserta kamu, menunggu pula."
(94) Dan tatkala datanglah ketentuan Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman sertanya dengan rahmat dari Kami, dan pekiklah yang mengenai orang-orang yang zalim itu, sehingga mereka dalam rumah-rumah mereka jadi binasa.
(95) Seakan-akan mereka tidak pernah berada padanya. Suatu kebinasaan bagi Madyan, sebagaimana binasanya Tsamud.
“Menjadi buta mata Nabi Syu'aib ‘alaihis salam karena beliau selalu menangis karena cintanya kepada Allah, sampai beliau buta."
Sufyan ast-Tsauri mengatakan bahwa penglihatan Nabi Syu'aib itu lemah (dhaif). Jadi, bukan sampai buta.
Kalau riwayat ini benar, berdualah Rasulullah yang menjadi lemah penglihatannya. Ya'qub karena rindu bertemu kembali dengan putranya, Yusuf, sehingga selalu munajat kepada Allah, dan Syu'aib yang bersedih hati dalam kecintaan kepada Allah.
Tetapi as-Suddi mengatakan bahwa kaumnya mengatakan dia adalah seorang yang lemah di antara kaumnya karena hanya dia sendiri saja yang berpegang pada pendirian demikian, memusatkan aqidah kepada Allah, hidup hendaklah jujur, jangan mencurangkan sukatan dan timbangan.
Baik Nabi Syu'aib itu buta maupun penglihatan matanya lemah, namun pendapat as-Suddi yang mengatakan dia dianggap lemah oleh kaumnya karena dia hanya sendirian dalam negeri itu lebih sesuai dengan suasana. Kaumnya memandang kedudukannya (posisinya) lemah sebab dia sendirian, pengikutnya tidak banyak, penyokongnya tidak ada. Bagi mereka, tidak ada artinya suatu pendirian, suatu gagasan, atau cita-cita kalau orang yang menyerukan itu lemah ekonominya, miskin, dan tidak berpengikut. Sebab itu, mereka ber-kata selanjutnya,"Dan kalau bukanlah lantaran kaum engkau, sesungguhnya telah kami rajam engkau." Kami tidak dapat menghargai engkau betapapun seruan yang engkau bawa. Tak ada harganya semua karena engkau tergolong orang lemah. Kalau tidak segan-menyegan dengan keluarga-keluargamu yang terdekat, yang masih tetap satu pendiriannya dengan kami, sudah lama engkau kami rajam, kami timpuki dengan batu, biar engkau mampus.
“Karena tidaklah engkau ini, bagi kami, seorang yang terhormat."
(ujung ayat 91)
Sebelah mata kami tidak akan memandang kepada engkau sebab engkau orang yang tidak patut dihormati. Apa yang engkau banggakan kepada kami. Maka sesudah mereka puji dia (ayat 87), mereka akui dia sebagai seorang yang lapang dan bijaksana, sekarang (ayat 91), mereka katakan bahwa dia tidaklah seorang yang patut dihormati atau dimuliakan. Alang-kah jauh perbedaannya pendirian mereka yang dahulu dengan yang sekarang, setelah nyata bagi mereka bahwa Nabi Syu'aib telah berubah haluan.
Tetapi Nabi Syu'aib—yang sebagai mereka akui sendiri—seorang yang lapang dada dan bijaksana, telah menjawab,
“Dia berkata, ‘Apakah keluargaku itu lebih terhormat bagi kamu daripada Allah?'"
(pangkal ayat 92)
Alangkah dalamnya iman ini. Memang layak perkataan seorang rasul! Artinya, diriku ini boleh kamu pandang hina, tetapi suara yang aku bawa itulah yang aku minta diperhatikan. Bagiku sendiri, perhatikan akan sabda Allah yang aku bawa ini jauh seribu kali lebih penting daripada mengingat keluargaku. Kamu hendaklah melindungiku hanyalah karena hormat kepada keluargaku dan segan kepada mereka. Mengapa tidak kalian hargai dan kalian segani Allah yang mengutus aku ini? “Dan kamu buangkan Dia ke belakang punggung kamu?" Tidak kalian pedulikan seruan Allah yang mengutus aku, kamu buang-kan saja seruan Allah ke dalam keranjang sampah, sedangkan yang lebih kamu muliakan hanyalah keluargaku,
“Sesungguhnya, Tuhanku terhadap apa yang kamu kerjakan ini adalah meliputi"
(ujung ayat 92) Kekuasaan Allah itu adalah meliputi dan Mahaluas, seluas langit dan bumi. Segala tindakan kamu tidaklah lepas dari tilikan Allah. Kalau kamu ikuti seruan yang Allah suruh aku menyampaikannya kepada kamu, akan selamatlah kamu. Kalau tidak, kamulah yang akan celaka. Adapun keluargaku, yang kamu katakan, kamu hanya terpandang kepada mereka, maka kamu tidak merajam aku, tidaklah keluargaku itu sanggup mendatangkan mudharat atau manfaat kepada kamu.
Pada akhirnya berkatalah Nabi yang mereka tuduh lemah itu, yaitu kata-kata yang menunjukkan kekuatan batin walaupun dia dipandang lemah oleh kaumnya itu,
“Dan wahai kaumku! Beramallah kamu di atas pendirian kamu, sesungguhnya aku pun akan beramal."
(pangkal ayat 93)
Saya sudah sampaikan, namun kalian tidak juga mau surut ke jalan yang benar, tidak mau memohon ampun dan tobat, tidak mau menghentikan kecurangan kepada sesama manusia sehingga membuat rusak binasa masyarakat di atas bumi. Sekarang, seruanku telah sampai, utangku telah lepas. Kalian tak mau berhenti, terserah kalian. Boleh terus dan saya pun akan terus pula pada pendirianku. Saya tidak akan menghentikan seruan ini. Maka apabila kita sudah sama-sama meneruskan keyakinan kita dan langkah hidup kita, “Kamu akan mengetahui kepada siapa akan datang adzabyang akan menghinakannya!' Nanti akan ketahuan dengan pasti, pasti sekali, kepada siapa akan datang adzab, kepada orangyang mendurhakai Allah dan berlaku curang kepada sesamanya manusiakah, sebagai yang kamu kerjakan itu, atau kepada aku yang menjalani hidup dengan kejujuran, mendapat rezeki secara jujur, dan selalu bercita-cita berbuat baik (ayat 88)."Dan siapa dia yang pendusta" Kamukah yang berdusta dengan serba kecurangan itu atau akukah yang berdusta karena seruanku kepadamu selama ini. Nanti semuanya pasti akan jelas dan nyata,
“Dan tunggulah, dan sesungguhnya aku pun, besenta kamu, menunggu pula."
(ujung ayat 93)
Tentu saja, dengan sombongnya mereka sama-sama bersedia menunggu, namun perhi-tungan akal yang sehat, selama manusia masih mempergunakan akalnya, sudah dari jauh-jauh hari dapat memerhatikan bahwa jalan yang curang itulah yang akan gagal. Tetapi bilakah?
Tentang bila masanya, manusia tidaklah tahu! Yang menentukan waktunya ialah Allah sendiri.
“Dan tatkala datanglah ketentuan Kami."
(pangkal ayat 94)
yaitu tatkala datanglah adzab siksaan yang telah ditentukan Allah itu, “Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman sertanya dengan rahmat dari Kami." Di dalam ayat ini dapatlah kita pahami bahwasanya Allah menyelamatkan Nabi-Nya dan pengikut-nya yang sedikit itu, sebagaimana juga penyelamatan Nabi Luth, dengan dikeluarkan me-reka lebih dahulu dari daerah yang berbahaya itu."Dan pekiklah yang mengenai orang-orang yang zalim itu." Artinya, dengan tiba-tiba kedengaranlah pekik (jeritan) yang amat keras bunyinya, sehingga seakan-akan memecahkan anak telinga. Demi apabila telah terdengar pekik yang demikian dahsyatnya, tidaklah seorang juga yang tahan hidup lagi,
“Sehingga mereka dalam rumah-rumah mereka jadi binasa."
(ujung ayat 94)
Ada yang tersungkur dalam rumah, ada yang sedang di atas kendaraan tersungkur bersama kendaraannya. Di mana-mana penuh bangkai.
“Seakan-akan mereka tidak pernah berada padanya."
(pangkal ayat 95)
Melihat kepada bekas kehancuran itu tidaklah dapat dibayangkan lagi bahwa negeri itu dahulunya pernah didiami manusia. Negeri Madyan akhirnya menjadi padang belantara yang kosong dari manusia, takut orang berjalan di dekat-dekat itu, seakan-akan didiami oleh hantu belaka, yang di dalam ungkapan hikayat-hikayat Melayu kuno disebut “laksana negeri yang dialahkan garuda" atau “menjadi padang tekukur". Itulah,
“Suatu kebinasaan bagi Madyan, sebagaimana binasanya Tsamud."
(ujung ayat 95)
(Dan tatkala datang perintah Kami) yang memerintahkan supaya mereka dibinasakan (Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia sebagai rahmat dari Kami, dan orang-orang yang lalim dibinasakan oleh suatu suara yang mengguntur) malaikat Jibril mengeluarkan suara yang mengguntur terhadap mereka (lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di tempat tinggalnya) mereka mati dalam keadaan bersimpuh.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.








