Join over 4 million Quran learners from more than 180 countries
Ayah
Word by Word
ٱلرَّحۡمَٰنِ
The Most Gracious
ٱلرَّحِيمِ
the Most Merciful
ٱلرَّحۡمَٰنِ
The Most Gracious
ٱلرَّحِيمِ
the Most Merciful
Translation
The Entirely Merciful, the Especially Merciful,
Tafsir
The Compassionate, the Merciful: that is to say, the One who possesses 'mercy', which means to want what is good for those who deserve it.
"Indicating Sovereignty on the Day of Judgment
Allah said next,
مَـالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
The Owner of the Day of Recompense.
Allah mentioned His sovereignty of the Day of Resurrection, but this does not negate His sovereignty over all other things. For Allah mentioned that He is the Lord of existence, including this earthly life and the Hereafter. Allah only mentioned the Day of Recompense here because on that Day, no one except Him will be able to claim ownership of anything whatsoever. On that Day, no one will be allowed to speak without His permission.
Similarly, Allah said,
يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَـيِكَةُ صَفّاً لاَّ يَتَكَلَّمُونَ إِلاَّ مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَـنُ وَقَالَ صَوَاباً
The Day that Ar-Ruh (Jibril (Gabriel) or another angel) and the angels will stand forth in rows, they will not speak except him whom the Most Gracious (Allah) allows, and he will speak what is right. (78:38)
and,
وَخَشَعَتِ الَاصْوَاتُ لِلرَّحْمَـنِ فَلَ تَسْمَعُ إِلاَّ هَمْساً
And all voices will be humbled for the Most Gracious (Allah), and nothing shall you hear but the low voice of their footsteps. (20:108)
and,
يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِىٌّ وَسَعِيدٌ
On the Day when it comes, no person shall speak except by His (Allah's) leave. Some among them will be wretched and (others) blessed. (11:105)
Ad-Dahhak said that Ibn Abbas commented,
""Allah says, `On that Day, no one owns anything that they used to own in the world.""'
The Meaning of Yawm Ad-Din
Ibn Abbas said,
""Yawm Ad-Din is the Day of Recompense for the creatures, meaning the Day of Judgment. On that Day, Allah will reckon the creation for their deeds, evil for evil, good for good, except for those whom He pardons.""
In addition, several other Companions, Tabi`in and scholars of the Salaf, said similarly, for this meaning is apparent and clear from the Ayah.
Allah is Al-Malik (King or Owner)
Allah is the True Owner (Malik) (of everything and everyone).
Allah said,
هُوَ اللَّهُ الَّذِى لَا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَـمُ
He is Allah, beside Whom La ilaha illa Huwa, the King, the Holy, the One free from all defects. (59:23)
Also, the Two Sahihs recorded Abu Hurayrah saying that the Prophet said,
أَخْنَعُ اسْمٍ عِنْدَ اللهِ رَجُلٌ تَسَمَّى بِمَلِكِ الاَْمْلَكِ وَلَا مَالِكَ إِلاَّ اللهُ
The most despicable name to Allah is a person who calls himself the king of kings, while there are no owners except Allah.
Also the Two Sahihs recorded that the Messenger of Allah said,
يَقْبِضُ اللهُ الاَْرْضَ وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ
أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوكُ الاَْرْضِ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ
On the Day of Judgement Allah will grasp the earth and fold up the heavens with His Right Hand and proclaim,
'I Am the King!
Where are the kings of the earth?
Where are the tyrants?
Where are the arrogant'?
Also, in the Glorious Qur'an;
لِّمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَحِدِ الْقَهَّارِ
Whose is the kingdom this Day? (It will be) Allah's, the One, the Irresistible. (40:16)
As for calling someone other than Allah a king in this life, then it is done as a figure of speech. For instance, Allah said,
إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا
Indeed Allah appointed Talut (Saul) as a king over you. (2:247)
and,
وَكَانَ وَرَاءَهُم مَّلِكٌ
As there was a king behind them, (18:79)
and,
إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَأءَ وَجَعَلَكُمْ مُّلُوكاً
When He made Prophets among you, and made you kings. (5:20)
Also, the Two Sahihs recorded,
مِثْلُ الْمُلُوكِ عَلَى الاَْسِرَّةِ
Just like kings reclining on their thrones.
The Meaning of Ad-Din
Ad-Din means the reckoning, the reward or punishment.
Similarly, Allah said,
يَوْمَيِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ
On that Day Allah will pay them the (Dinahum) recompense (of their deeds) in full. (24:25)
and,
أَءِنَّا لَمَدِينُونَ
Shall we indeed (be raised up) to receive reward or punishment (according to our deeds). (37:53)
A Hadith stated,
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوتِ
The wise person is he who reckons himself and works for (his life) after death.
meaning, he holds himself accountable.
Also, Umar said,
- ""Hold yourself accountable before you are held accountable,
- weigh yourselves before you are weighed, and
-be prepared for the biggest gathering before He Whose knowledge encompasses your deeds,
يَوْمَيِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنكُمْ خَافِيَةٌ
That Day shall you be brought to Judgement, not a secret of yours will be hidden. (69:18)"""
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
The second verse speaks of the Divine quality of mercy, employing two adjectives Rahman and Rahim of which are hyperbolic terms in Arabic, and respectively connote the superabundance and perfection of Divine mercy. The reference to this particular attribute in this situation is perhaps intended to be a reminder of the fact that it is not through any external compulsion or inner need or any kind of necessity whatsoever that Allah has assumed the responsibility of nurturing the whole of His creation, but in response to the demand of His own quality of mercy. If this whole universe did not exist, He would suffer no loss; if it does exist, it is no burden to Him.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.
Tafsir Surat Al-Fatihah: 3
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Firman Allah ﷻ, "ar-rahmanir rahim," keterangannya dikemukakan dalam Bab "Basmalah"; itu sudah cukup dan tidak perlu diulangi lagi. Al-Qurthubi mengatakan, sesungguhnya Allah ﷻ menyifati diri-Nya dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim sesudah firman-Nya, "rabbil 'alamina, tiada lain agar makna tarhib (peringatan) yang dikandung rabbul 'alamina dibarengi dengan makna targhib (bujukan) yang terkandung pada ar-rahmanir rahim, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya: “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih” (Al-Hijr: 49-50). Juga dalam firman Allah ﷻ yang lain, yaitu: “Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-A'raf: 165). Lafal Rabb (Tuhan) dalam ayat tersebut mengandung makna tarhib, sedangkan ar-rahmanir rahim mengandung makna targhib.
Di dalam kitab Shahih Muslim disebutkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: "Seandainya orang mukmin mengetahui apa yang ada di sisi Allah berupa siksa, niscaya tiada seorang pun yang berkeinginan kuat terhadap surga-Nya. Seandainya orang kafir mengetahui apa yang ada di sisi Allah berupa rahmat, niscaya tiada seorang pun yang berputus asa dari rahmat-Nya.
Dialah Yang Maha Pengasih, Pemilik dan sumber sifat kasih, Yang menganugerahkan segala macam karunia, baik besar maupun kecil, kepada seluruh makhluk, Maha Penyayang Yang selalu tiada henti memberi kasih dan kebaikan kepada orang-orang yang beriman.
Pada ayat dua di atas Allah ﷻ menerangkan bahwa Dia adalah Tuhan seluruh alam. Maka untuk mengingatkan hamba kepada nikmat dan karunia yang berlipat-ganda, yang telah dilimpahkan-Nya, serta sifat dan cinta kasih sayang yang abadi pada diri-Nya, diulang-Nya sekali lagi menyebut ar-Raḥmān ar-Raḥīm. Yang demikian dimaksudkan agar gambaran keganasan dan kezaliman seperti raja-raja yang dipertuan dan bersifat sewenang-wenang lenyap dari pikiran hamba.
Allah mengingatkan dalam ayat ini bahwa sifat ketuhanan Allah terhadap hamba-Nya bukanlah sifat keganasan dan kezaliman, tetapi berdasarkan cinta dan kasih sayang. Dengan demikian manusia akan mencintai Tuhannya, dan menyembah Allah dengan hati yang aman dan tenteram, bebas dari rasa takut dan gelisah. Malah dia akan mengambil pelajaran dari sifat-sifat Allah. Dia akan mendasarkan pergaulan dan tingkah lakunya terhadap manusia sesamanya, atau terhadap orang yang di bawah pimpinannya, malah terhadap binatang yang tak pandai berbicara sekalipun, atas sifat cinta dan kasih sayang itu. Karena dengan jalan demikianlah manusia akan mendapat rahmat dan karunia dari Tuhannya.
Rasulullah bersabda:
اِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ. (رواه الطبراني)
Allah hanya sayang kepada hamba-hamba-Nya yang pengasih. (Riwayat at-Ṭabrānī)
الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنُ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ اِرْحَمُوْا مَنْ فِى اْلأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِىالسَّمَاءِ. (رواه احمد وابو داود والترمذي والحاكم)
Orang-orang yang penyayang, akan disayangi oleh Allah yang Rahman Tabaraka wa Ta‘ala.(Oleh karena itu) sayangilah semua makhluk yang di bumi, niscaya semua makhluk yang di langit akan menyayangi kamu semua. (Riwayat Aḥmad, Abū Dāwud at-Tirmiżī dan al-Ḥākim).
Rasulullah bersabda:
مَنْ رَحِمَ وَلَوْ ذَبِيْحَةَ عُصْفُوْرٍ رَحِمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه البخاري)
“Siapa yang kasih sayang meskipun kepada seekor burung (pipit) yang disembelih, akan disayangi Allah pada hari Kiamat. (Riwayat al-Bukhārī)
Maksud hadis yang ketiga ialah menggunakan aturan dan tata cara pada waktu menyembelih burung, misalnya memakai pisau yang tajam. Dapat pula dipahami dari urutan kata ar-Raḥmān, ar-Raḥīm, bahwa penjagaan, pemeliharaan dan asuhan Allah terhadap seluruh alam, bukanlah karena mengharapkan sesuatu dari alam itu, tetapi semata-mata karena rahmat dan kasih sayang-Nya.
Boleh jadi ada yang terlintas dalam pikiran orang, mengapa Allah membuat peraturan dan hukum, dan menghukum orang-orang yang melanggar peraturan itu? Pikiran ini akan hilang bila diketahui bahwa peraturan dan hukum, begitu juga azab di akhirat atau di dunia yang dibuat Allah untuk hamba-Nya yang melanggar tidaklah berlawanan dengan sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karena peraturan dan hukum itu rahmat dari Allah demi untuk kebaikan manusia itu sendiri. Begitu pula azab dari Allah terhadap hamba-Nya yang melanggar peraturan dan hukum itu sesuai dengan keadilan-Nya.
Tafsir Surat Al-Fatihah: 3
“Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang."
(ayat 3)
Ayat ini menyempurnakan maksud dari ayat yang sebelumnya. Jika Allah sebagai Rabb, sebagai Pemelihara dan Pendidik bagi seluruh alam tidak lain maksud dan isi pendidikan itu, melainkan karena kasih sayang-Nya semata dan karepa murah-Nya belaka, tidaklah dalam memberikan Pemeliharaan dan Pendidikan itu menuntut keuntungan bagi diri-Nya sendiri. Bukan sebagai suatu pemerintahan mengadakan suatu pendidikan “kader" dan latihan pegawai, ialah karena mengharapkan apabila orang-orang yang dididik itu telah lepas dari pendidikan, akan dapat dipergunakan menjadi pegawai yang baik. Pemeliharaan yang Dia berikan adalah pertama karena ar-Rahman maknanya ialah bila sifat Allah Yang Rahman itu telah membekas dan berjalan ke atas hamba-Nya. Bertambah tinggi kecerdasan hamba itu, bertambah terasa olehnya betapa ar-Rahman Allah terhadap dirinya dan sifat ar-Rahim ialah sifat yang tetap pada Allah. Maka, Ar-Rahman ialah setelah sifat itu terpaksa pada hamba dan ar-Rahim ialah pada keadaannya yang tetap dan tidak pernah padam kepada Allah. Dan, keduanya itu adalah sama mengandung akan sumber kata, yaitu rahmat.
Nanti dalam berpuluh ayat dalam Al-Qur'an, kita akan bertemu keterangan betapa Rahman dan Rahim-Nya bagi seluruh makhluk, terutama bagi kita manusia. Bukankah matahari dan bulan serta bintang-bintang, semuanya itu rahmat dari Allah kepada kita? Bagaimana jadinya kita hidup di dunia kalau agak dua hari saja matahari tidak terbit? Kita manusia kadang-kadang lupa akan rahmat karena kita tidak pernah dipisahkan dari rahmat. Seumpama orang yang berdiam di kota besar yang telah teratur aliran listrik dan penerangan lampu-lampu, dan telah teratur pula pipa saluran air. Mereka baru ingat akan rahmat adanya penerangan lampu yang teratur dan aliran air yang telah masuk sampai ke dalam rumahnya itu ialah bilamana satu kali ada kerusakan di sentral listrik atau ada kebocoran pada pipa air. Di waktu semua beres, kerap dia lupa. Setelah terganggu, baru dia ingat.
Betapa besarnya Rahman dan Rahim Allah atas makhluk. Maka, bersabdalah Rasulullah ﷺ,
“Orang-orang yang ada rasa Rahim akan di-rahmati oleh Tuhan yang Rahman, yang memberikan berkat dan Mahatinggi. Sayangilah orang-orang yang di bumi supaya kamu disayangi pula oleh yang di langit." (HR Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan al-Hakim dari hadits Abdullah bin Umar)
(Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) yaitu yang mempunyai rahmat. Rahmat ialah menghendaki kebaikan bagi orang yang menerimanya.
Mengatakan: Segala puji bagi Tuhan, untuk kata yang dia katakan
Orang benar, dan Tuhan adalah yang paling, dan orang-orang manusia
Termasuk sifat-sifat baik mereka, dikatakan bahwa fulan dipuji atas berkah yang dia berikan kepada saya, dan saya memuji dia atas pengetahuan dan keberaniannya, dan terima kasih atas rahmatnya.
Dan pujian lebih umum daripada rasa terima kasih ketika dikatakan: Anda berterima kasih kepada si anu atas ilmunya, karena semua Hamed bersyukur dan tidak semua bersyukur, memuji.
Artinya : [Saba: 31], dan beliau bersabda: Lakukanlah amalan syukur [Al-Israa: 111] dengan rukun, Allah ﷻ berfirman:
Berbuatlah demi rasa syukur, karena rasa syukur adalah efek dari kerendahan hati dan kesabaran .
Sabdanya : Demi hak demi kata-katamu: Tuhan Yang Maha Penyayang, Maha Penyayang.
Dia mengangkatnya jika dia menyelesaikannya atau memperbaikinya, [7] Dar: Penguasa rumah, dan dikatakan: Penguasa benda jika dia memilikinya, dan dalam arti mengasuh dan kebenaran: reformasi:
Jadi, jadi dunia adalah dunia, dan mereka adalah dunia, dan untuk mengatakan makhluk: ini adalah orang yang adalah orang, yang adalah orang,
Tak satu pun dari mereka yang setara dengan kata-katanya, dan mereka berbeda di dunia . [8].
__________
. Dan dia menulis tajuk ?Penjelasan Sunnah? (1) di antara tanda kurung siku, kemudian turun dari aslinya dan dikoreksi dari
. ? Penjelasan Sunnah?, ?Sahih Muslim? dan ?Al-Muwatta? dan koreksi ?Dulu mereka tidak membaca? (2) di antara tanda kurung siku pada aslinya
[.....] . ? Dia turun? (3) dalam publikasi
. ? Masoud? (4) dalam publikasi
. ? Dia turun? (5) dalam publikasi
. " Alih-alih" (6) dalam publikasi
. ? The Dayaa? (7) dalam publikasi
( 8 ) Menambah publikasi .
72 - Diriwayatkan oleh Abu Dawud 887 dan Al-Hakim 1/132 dari Annab-Abbasah, dan Al-Hakim mengoreksinya sesuai dengan kondisi mereka, dan Al-Dhahabi setuju dengannya, dan ada alasan mengapa dia mengulanginya.
Nabi, semoga doa dan damai Allah besertanya, tidak disebutkan di dalamnya, dan lebih dekat, "... Muslim tidak tahu" al-Hakim dari aspek lain dari Abbas, dan dadanya
( 22 ) Menurut kelulusan saya ?Tafsir al-Shawkani? Saya paling tahu .
Maha Tinggi Dia . ? 03 (Insya Allah): 82- Mataku muncul di Surat Al-Naml
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.








