{"id":6596,"date":"2019-05-13T06:04:23","date_gmt":"2019-05-13T06:04:23","guid":{"rendered":"https:\/\/www.tafsir.learn-quran.co\/blog\/?p=6596"},"modified":"2020-11-06T15:56:59","modified_gmt":"2020-11-06T15:56:59","slug":"tafsir-ijmali-juz-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/tafsir.learn-quran.co\/blog\/tafsir-ijmali-juz-2\/","title":{"rendered":"TAFSIR IJMALI JUZ 2"},"content":{"rendered":"\n<p>Pada pembahasan kali ini akan memuat materi dari Juz dua yakni dari Q.S. <a href=\"https:\/\/tafsir.learn-quran.co\/id\/surat-2-al-baqarah\/ayat-142\">Al baqarah ayat 142<\/a> sampai <a href=\"https:\/\/tafsir.learn-quran.co\/id\/surat-2-al-baqarah\/ayat-252\">ayat 252<\/a>. Awal juz kedua mengangkat isu pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis di Al-Quds menuju Ka&#8217;bah di Mekkah. Yahudi Madinah berbaris paling depan dalam mengritisi perubahan ini. Mereka yang memang tidak mempercayai konsep nasakh menuduh hal itu sebagai inkonsistensi dan sikap plin-plan. Padahal nasakh artinya Allah memang sejak awal mengetahui dan menakdirkan akan mengubah kiblat. Bukan karena ada evaluasi kebijakan, apalagi baru mengetahui efek perintah pertama. Uniknya, Yahudi lupa bahwa nasakh telah terjadi pula di ajaran Nabi Musa dan nabi-nabi Bani Israil lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi pada akhirnya,\ntetap saja ke mana pun arah kiblat bukanlah perkara esensial. Kebajikan sejati\nialah kemurnian iman, ketulusan berderma, dan kesungguhan menjalankan ibadah.\nKebajikan pun belum nyata jika tidak diiringi dengan meninggalkan dosa,\nutamanya yang terkait jiwa dan harta sesama. Karenanya, Allah wajibkan\npelaksanaan qisas untuk menjaga jiwa, perintahkan wasiat dan larang suap untuk\nmenjaga harta, syariatkan puasa untuk mengontrol keinginan buruk menzalimi jiwa\ndan harta sesama, serta titahkan haji dan umrah sebagai latihan pengorbanan\njiwa sekaligus harta.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya Dia\nperintahkan kita korbankan jiwa dan harta dalam berjuang di jalan-Nya. Jika\njiwa seseorang terbunuh dalam medan jihad, janganlah ada yang mengira ia telah\nbenar-benar mati. Sungguh ia sedang menikmati hidup sebenarnya hidup meski\norang lain tak menyadari. Jika harta seseorang habis demi menyokong perjuangan,\nmaka sungguh Allah hanya sedang meminjamnya untuk kemudian kelak Dia akan\nlunasi dengan pelipatgandaan yang banyak. Enggan berjuang berujung pada\ntersebarnya kerusakan di muka bumi. Enggan berkorban justru ibarat\nmenjerumuskan diri pada kebinasaan. Sebesar apapun kehilangan jiwa dan harta\ndalam perjuangan menegakkan Islam, bukankah tetap saja kemusyrikan lebih besar\ndan lebih parah daripada pembunuhan? <\/p>\n\n\n\n<p>Sejarah mencatat\nbahwa turunnya juz kedua ini masih di tahun-tahun awal fase Madinah. Dakwah\nmasih sangat membutuhkan perjuangan serta pengorbanan jiwa dan harta walau itu\nmemang dibenci hawa nafsu dalam diri. Tapi bukankah boleh jadi yang dibenci\njustru sebuah kebaikan serta boleh jadi yang dicinta malah sebuah keburukan?\nKhamr dan judi hanyalah dua dari sekian contoh hal yang disukai nafsu padahal\nsenoktah manfaatnya&nbsp; sirna terlebur dalam\nlautan mudaratnya. Lagipula selincah bagaimana pun seseorang lari dari\nkehilangan jiwa dalam perjuangan, ia akan ditimpa kematian pula dengan cara\nlain. Seperti ribuan penduduk sebuah kota yang lari keluar kota karena takut\nmati dari wabah tetapi sampai di luar kota justru mereka semua tetap meninggal\ndunia dengan bencana alam. Hidup itu sendiri memang penuh ujian ketakutan,\nkelaparan, sakit, dan kematian. Berbahagialah yang menghadapinya dengan sabar.<\/p>\n\n\n\n<p>Banyaknya orang tidak\nmau berkorban jiwa dan harta bukanlah penghalang perjuangan. Allah tetap mampu\ndan pasti memenangkan agama-Nya. Betapa banyak kelompok kecil, dari sisi jumlah\ndan fasilitas, mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Lihatlah Nabi\nDawud muda yang dengan tubuh kecilnya sanggup menumbangkan Jalut nan bertubuh\nbesar. Penghalang keberhasilan perjuangan sebenarnya adalah lumpur dosa\nmendurhakai nabi yang membuat kaki berat melangkah dan kecintaan berlebihan\nterhadap dunia yang membuat hati tak teguh. Bahkan air sungai Yordania yang\ndiminum berlebihan saja dapat menghentikan langkah juang mayoritas pasukan Raja\nThalut! Dapat menciutkan nyali mereka hingga berujar, \u201cKami tak kuat lagi\nmelawan Jalut dan bala tentaranya hari ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dosa kedurhakaan dan\ncinta dunia itu pulalah yang menjerumuskan pemuka agama untuk menutupi\nkebenaran dan menjual ayat-Nya dengan murah demi kepentingan sesaat. Orang awam\nyang mengikuti para pemuka agama tersebut bak tuli, bisu, dan buta karena hanya\nseperti gembalaan yang mengikuti teriakan ke mana saja. Kasihan mereka yang\nlebih menyukai tradisi leluhur daripada kebenaran Allah. Kasihan mereka yang\nmencintai tandingan selain Allah menyamai atau melebihi kecintaannya pada\nAllah. Kelak mereka pun akan sadar di akhirat. Mereka akan berlepas diri dari\npemuka agama dan leluhur yang menyesatkan mereka itu walau sudah terlambat\nsebenarnya. Demikianlah kesudahan orang yang mengikuti langkah-langkah setan.<\/p>\n\n\n\n<p>Memang takwa itulah\nkekuatan perjuangan sesungguhnya. Takwa dengan menjalankan Islam secara utuh\n(kaaffah). Takwa yang merupakan kebajikan hakiki, bukan seperti orang yang\nmenakjubkan dalam pembicaraannya tentang dunia, padahal dia adalah penentang\nyang paling keras, dia berbuat kerusakan di bumi, dia bahkan congkak apabila\ndikatakan kepadanya, \u201cBertakwalah kepada Allah.&#8221; Sedemikian urgennya takwa\nhingga Allah tutup delapan ayat dalam juz kedua ini dengan perintah takwa\nditambah pemaparan puluhan syariat, termasuk rukun Islam, yang berimplikasi\ntakwa. Takwalah sebaik-baik bekal (khairazzaad) menuju kebaikan di dunia dan\nakhirat serta perlindungan dari azab neraka.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun,\npribadi-pribadi bertakwa yang siap berkorban jiwa dan harta tersebut tidak\nmuncul begitu saja. Mereka lahir dari pasangan suami istri yang dasar pemilihan\npasangannya lebih karena iman daripada sekadar ketertarikan hati karena fisik\ndan harta. Pasutri yang visi pernikahannya adalah menegakkan ajaran Allah.\nPasutri yang bahkan hubungan romantisme mereka diniatkan sebagai ladang\nkebaikan hingga begitu memperhatikan aturan Allah terkaitnya. Pasutri yang\nbegitu memperhatikan pendidikan dan kesehatan anak mereka, termasuk agar\nmendapat ASI selama dua tahun serta tidak makan kecuali yang halal nan thayyib\n(bergizi). Pasutri yang khusyu dalam salat, berhati-hati dalam bersumpah, serta\nmembudayakan musyawarah. Pasutri yang bahkan berpisah, baik karena cerai atau\nwafat, pun dijalani dengan cara terbaik nan mengesankan sesuai bimbingan-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p>Juz kedua ini juga begitu serasi dengan kisah pembangunan Ka&#8217;bah oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di juz pertama. Berkali-kali di juz ini Allah perintahkan salat menghadap Ka&#8217;bah. Allah ungkapkan betapa bahwa sa&#8217;i antara Shafa Marwah merupakan syiar-Nya. Allah ajarkan konsep berhaji dengan tawaf, mabit, hingga wukuf. Semua itu isyarat bahwa meski saat ayat-ayat ini turun Ka&#8217;bah masih dikepung ratusan berhala dan masih menjadi pusat ritual kemusyrikan Arab, tetapi kelak engkau, wahai Nabi Muhammad, akan kembali ke sana, mengembalikan fungsinya sebagaimana dibangun mula-mula. Sebab engkaulah jawaban atas doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di depan Ka&#8217;bah dahulu sebagai nabi dari penduduk Mekkah yang membacakan Al-Qur&#8217;an beserta Sunnah serta menyucikan dan mengajari manusia. Sungguh engkau benar-benar termasuk dari para utusan-Nya. Wallahu A&#8217;lam.<\/p>\n\n\n\n<hr>\n<p>Untuk mendapatkan file dalam bentuk PDF silakan download di: <\/p>\n<p>Penulis: Nur Fajri Romadhon<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada pembahasan kali ini akan memuat materi dari Juz dua yakni dari Q.S. Al baqarah ayat 142 sampai ayat 252. Awal juz kedua mengangkat isu pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis di Al-Quds menuju Ka&#8217;bah di Mekkah. Yahudi Madinah berbaris paling &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":6597,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[2569,2571,2583],"tags":[2587,2588,2586,2591,2584,2585,2590,2589],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/tafsir.learn-quran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6596"}],"collection":[{"href":"https:\/\/tafsir.learn-quran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/tafsir.learn-quran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tafsir.learn-quran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tafsir.learn-quran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6596"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/tafsir.learn-quran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6596\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6960,"href":"https:\/\/tafsir.learn-quran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6596\/revisions\/6960"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tafsir.learn-quran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6597"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/tafsir.learn-quran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6596"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/tafsir.learn-quran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6596"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/tafsir.learn-quran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6596"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}